Beautifully Painful

Beautifully Painful
83. Our Journey (2)



Cakra


Hari Senin, tanggal 30 Maret, serangkaian jadwal US dan USBN kembali berlanjut. Hingga jadwal terakhir nanti di hari Jum'at, tanggal 3 April.


Selama itu pula, ia dan Anja selalu belajar bersama. Meski tak terlalu di forsir. Semengalirnya saja. Sekedar merefresh otak dengan mengerjakan latihan soal tiap mata pelajaran yang akan diujikan esok harinya.


Karena hari Rabu malam, ketika Mama menelepon membicarakan tentang teknis empat bulanan kandungan Anja, telah mewanti-wanti.


"Titip Anja ya, Cakra. Tolong ingatkan kalau sudah mulai lupa waktu."


"Biasanya kalau besok ujian suka begadang."


"Biasa sistem SKS (sistem kebut semalam)," seloroh Mama Anja.


"Begadang nggak baik buat yang lagi hamil."


"Belajar secukupnya saja."


"Nggak usah terlalu di forsir."


"Baik, Ma."


Jadilah ia membuat target, belajar di malam hari maksimal sampai pukul 21.00 WIB. Awalnya ia sempat membatasi hingga pukul 20.00 WIB. Dengan asumsi mereka telah mengulang materi dan mengerjakan latihan soal di siang atau sore hari.


Tapi rencana tinggallah rencana. Karena di siang hingga sore hari, Anja sering terlelap dengan nyenyaknya. Dan baru bangun tidur jelang atau bahkan sesudah Ashar.


"Jam sembilan sih sama sekali belum ngantuk!" sungut Anja ketika ia menyudahi acara belajar mereka meski Anja masih bersemangat membahas latihan soal.


"Aku bisa bikin kamu langsung ngantuk," selorohnya geli sambil membereskan buku-buku dan kertas coret-coretan yang berserakan di atas meja makan.


"Cakra ih!" sebuah pukulan yang cukup keras langsung melayang mengenai lengannya.


"Kita masih bisa ngerjain beberapa soal lagi," Anja adalah Anja yang tak akan menyerah hanya karena satu bujukan.


"Nih ya, menurut kisi-kisi yang kamu buat," Anja menunjuk print out kisi-kisi soal Matematika yang dibuatnya sendiri berdasarkan perbandingan soal-soal UN dari tahun-tahun sebelumnya.


"Kita baru sampai trigonometri. Itu juga aku masih bingung."


"Barusan aku ngerjain 5 soal, cuma benar 1?!" Anja menggerutu kesal. Sementara ia masih terus membereskan meja dengan memasukkan pensil, penghapus, dan bolpoint ke dalam kotak pensil.


"Cakra ih!" lagi-lagi Anja memukul lengannya. "Kamu dengerin aku nggak sih?!"


"Dengerin....dengerin....," ia terkekeh sambil menutup kotak pensil. "Besok pagi, Ja. Habis Subuh."


"Nggak akan keburu!" sergah Anja cepat. "Banyak yang belum kita bahas."


"Nih yang belum tuh ada integral, vektor, sistem persamaan linear, transform...."


"Besok pagi," jawabnya tersenyum seraya mengusap pipi Anja.


***


Anja


Entah mengapa ia langsung menyerah jika Cakra sudah bersikap manis seperti ini. Hanya sentuhan singkat di pipi namun berhasil melambungkannya hingga ke batas cakrawala. Unbelievable.


Membuatnya buru-buru menutup buku latihan soal dan segera beranjak ke dalam kamar. Tak mempedulikan Cakra yang kerepotan membawa setumpuk buku paket dan latihan soal, bundelan kertas coret-coretan, juga kotak pensil.


Ia bahkan langsung menyembunyikan diri di balik selimut sembari memeluk Nemo. Tak melakukan aktivitas rutin sebelum tidur seperti biasanya. Yaitu menggosok gigi dan mencuci muka.


"Kamu nggak gosok gigi?" tanya Cakra dari dalam kamar mandi.


Namun ia tak menjawab karena masih sedikit kesal. Gara-gara semangat belajar yang sedang menggebu harus terhenti di tengah jalan. Membuatnya ilfeel untuk melakukan apapun. Bahkan sekedar menggosok gigi pun enggan.


"Minum vitaminnya dulu."


Ia mencibir ketika suara Cakra tiba-tiba sudah berada di dekatnya. Duduk di samping tempat tidur sembari membawa segelas air putih dan dua vitamin yang diberikan oleh dokter saat terakhir kali mereka memeriksakan kandungan.


Ia pun -lagi-lagi- menurut dengan mendudukkan diri di kepala tempat tidur. Mengamati telapak tangan Cakra dimana tersimpan satu kapsul berwarna pink dan satu lagi berbentuk kapsul lunak. Kemudian meraih keduanya. Dan meminumnya dengan dibantu oleh segelas air putih.


Lalu kembali meringkuk di bawah selimut sembari memeluk Nemo. Tak mempedulikan Cakra yang beranjak keluar kamar. Namun tak lama kemudian telah kembali. Hanya untuk meletakkan segelas air putih di atas nakas. Mempersiapkan kebutuhannya yang sering terbangun di malam hari karena kehausan.


Kini Cakra telah merebahkan diri di belakang punggungnya. Meski tanpa mengatakan apapun. Hanya hembusan angin yang meniup pertanda Cakra memang ada di belakangnya.


Keadaan tanpa saling bicara bertahan hingga beberapa saat lamanya. Sampai ia yang tak pernah menyukai kesunyian merasa bosan sendiri. Dan akhirnya membalikkan badan ke arah Cakra.


"Kamu udah tidur?" cibirnya sebal demi melihat Cakra tengah telentang dengan kedua mata terpejam.


"Hampir," gumam Cakra tanpa membuka mata. "Kenapa? Nggak bisa tidur?"


"Mau dibantuin biar cepat tidur?" seloroh Cakra yang tiba-tiba membuka mata kemudian menghadap ke arahnya. Membuat mereka kini saling berhadapan.


Namun ia hanya mencibir sebal, "Kamu ambil mata pelajaran pilihan^* apa?"


Kini gantian Cakra yang mencibir, "Masih ngurusin pelajaran?"


"Aku serius!" ia pun memukul lengan Cakra dengan kesal.


"Fisika mungkin," jawab Cakra setelah sempat terdiam. "Kamu?"


"Bingung," jawabnya sungguh-sungguh. "Di fisika banyak konsep yang belum aku pahami kalau ketemu jenis soal yang berbeda."


"Kalau gitu harus banyak latihan soal," Cakra tersenyum.


Namun ia menggelengkan kepala, "Kalau menurut kamu, aku enaknya ambil apa?"


"Kamu sukanya apa?"


"Yee!" ia menggerutu kesal. "Kamu tuh ya, tiap ditanya pasti balik nanya!"


"Iya kamu sukanya apa," ulang Cakra sambil terkekeh. "Pilih pelajaran yang paling kamu suka."


"Karena kalau udah suka, sesulit apapun tantangannya, kamu tetap punya stok semangat dan kekuatan untuk menaklukkan semua kesulitan yang ada."


"Kamu nggak akan gampang menyerah."


"Dan semua jadi lebih mudah meski awalnya terasa sulit."


Membuatnya tertawa campur mencibir, "Sok wise banget deh! Habis baca buku apa barusan?! Atau ngutip quote an siapa tuh?!"


Namun Cakra hanya tertawa. Kemudian berkata, "Pilih yang paling kamu suka."


Membuat kedua matanya menerawang.


"Fisika aku nyerah," gumamnya pelan. "Kimia lumayan. Tapi musingin juga," lanjutnya lagi.


"Tapi Biologi banyak hapalan," ia menghembuskan napas panjang. "Kemarin aja aku masih banyak salah waktu ngerjain latihan soal."


"Haaah!" ia kembali menghembuskan napas panjang. "Begini mau masuk FKG. Milih antara fisika, kimia, biologi aja pusing."


Cakra tersenyum seraya mengulurkan lengan guna meraih kepalanya, "Besok lagi mikirnya. Sekarang tidur dulu."


Namun ia justru memikirkan hal lain, sembari membetulkan letak kepala yang kini berbantalkan lengan Cakra. "Kalau SNM aku nggak lolos, bener-bener ini sih harus bekerja keras."


"Kamu pasti lolos SNM," gumam Cakra sembari mencium puncak kepalanya. "Nilai raport kamu kan bagus."


"Sotoy deh kalau nilai raport aku bagus!" sungutnya sebal. "Tuh si Dwini, Egya, Arumi, yang sama-sama ambil FKG Jakun. Nilai mereka jauuuuh di atas aku."


"Mana mereka bertiga punya medali OSN lagi. Sementara aku? Nggak punya apa-apa."


"Kamu bukannya pernah juara English Debate?" gumam Cakra seraya mengusap lengannya.


"Poinnya jauh lebih banyak medali OSN," jawabnya dengan nada pasrah.


"Kalau memang udah rezeki kamu masuk FKG lewat SNM, mau orang lain punya medali apapun atau nilai raport sebagus apapun juga nggak bakal menghalangi."


"Lagian ada 1.001 jalan menuju Roma. SNM lewat kan masih ada SBM?"


"Iya, Bapak," jawabnya dengan sebal karena nada bicara Cakra mendadak berubah seperti seorang bapak-bapak tua yang sedang menasehati cucunya.


"Nah, sekarang mendingan tidur," lanjut Cakra setengah tertawa mendengar gerutuannya. "Besok kita lanjutin lagi debat mau milih yang mana."


***


Cakra


Hari Jum'at ini adalah hari terakhir US. Dengan mata pelajaran Seni Budaya. Yang berakhir tepat pada pukul 09.00 WIB.


Namun para siswa XII belum diperbolehkan untuk pulang ke rumah masing-masing. Karena masih ada satu agenda dari sekolah yang wajib diikuti. Yaitu do'a bersama jelang UNBK.


Untuk siswa muslim, istighosah dilaksanakan di Masjid sekolah. Sementara untuk siswa lain, terbagi menjadi beberapa tempat sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Terhitung ada 5 tempat selain Masjid yang menjadi tempat pelaksanaan doa bersama. Yaitu ruang ibadah 1, 2, 3, 4, dan terakhir aula.


Sejak pukul 09.10 WIB pula, ia dan teman-teman sesama kelas XII telah berkumpul di dalam Masjid Al-Furqan.


Semua yang berjenis kelamin pria duduk di lantai 1. Yaitu para guru, kemudian siswa, terakhir orangtua murid. Sementara seluruh wanita, baik guru, siswi maupun orangtua murid, duduk di lantai 2.


Acara selanjutnya adalah sambutan-sambutan. Disampaikan oleh Kepala Sekolah, perwakilan dari pihak yayasan Pusaka Bangsa, dan terakhir perwakilan dari orangtua murid.


Usai sambutan, acara dilanjutkan dengan dzikir dan berdoa bersama. Sekaligus motivasi menyentuh jiwa yang diberikan oleh seorang pemuka agama kenamaan.


Disinilah ia mulai menyadari jika beberapa orang temannya menundukkan kepala dalam-dalam. Sementara suara isak tangis mulai terdengar dari lantai 2.


Ia sendiri hanya terpekur, sembari berdoa dalam hati, semoga masa depannya kian teraba dengan jelas. Tak lagi samar seperti sekarang ini.


Acara istighosah diakhiri dengan saling maaf memaafkan. Dimulai dari deretan para orangtua murid, bapak guru beserta tamu undangan, terakhir sesama siswa saling bersalaman.


Khusus untuk orangtua murid, mungkin hanya Mamak yang tak hadir. Selain orangtua Anja tentunya.


Karena sejak kasus tiga tahun lalu, ia tak pernah lagi mengijinkan Mamak untuk menginjakkan kaki di Pusaka Bangsa. Sudah cukup kekecewaan yang pernah ditorehkannya di hati Mamak. Takkan terulang.


Ia masih tertawa-tawa haru dan saling berpelukan dengan Gamal ketika sudut mata berhasil menangkap barisan Dipa yang mulai berjalan mendekat ke arahnya.


Dan kini ia baru selesai saling menepuk lengan dengan Faza ketika Dipa melewatinya begitu saja. Sama sekali tak melihat ke arahnya apalagi menyalami. Langsung berpelukan dengan Agung yang berdiri di sebelahnya.


Ia masih tertegun dengan sikap Dipa yang mengacuhkannya. Namun barisan tentu saja terus bergerak. Membuatnya langsung melupakan insiden yang baru saja terjadi. Kembali tenggelam saling berjabat tangan dengan teman-teman yang lain.


Dan ketika baris jabat tangan hampir habis, ia kembali tertegun ketika bersalaman dengan Aldi yang membuang muka darinya.


Bukan sikap Aldi yang membuatnya heran. Tapi beberapa luka memar di wajah Aldi yang membuatnya mengernyit heran.


Ia hampir saja melontarkan pertanyaan tentang luka yang sepertinya baru dibuat itu. Namun tertahan di tenggorokan. Baru tercerahkan ketika Agung berbisik, "Habis dihantam sama Dipa barengan anak-anak Cinema."


"Dikeroyok?" tanyanya tak mengerti.


"Pastinya," jawab Agung sambil bergidik ngeri.


Membuatnya kian paham, seberapa besar perasaan Dipa terhadap Anja. Mungkin jika malam itu Anja tak pernah masuk ke Retrouvailles. Dan tak pernah muncul di hadapannya dengan kondisi paling menyedihkan.


Mereka tetap berada di dua dunia yang berbeda. Sementara Dipa dan Anja akan menjadi pasangan paling ideal, best couple.


Namun sayang, kehadiran Anja di kehidupannya malam itu tak bisa dibatalkan. Hingga kini ia bahkan tak mampu lagi untuk sekedar melepaskan. Terlanjur mencintai dengan sepenuh hati.


Sore hari sesuai dengan waktu yang sudah dijadwalkan, ia mengantarkan Anja untuk memeriksakan kandungan ke dokter Stella.


"Tekanan darahnya cukup rendah ya," komentar dokter Stella begitu melihat catatan kesehatan di dalam buku Anja. "90/60."


"Kenapa sayang? Kecapean?"


"Seminggu ini banyak belajar di malam hari, Dok," jawabnya memberanikan diri. Sementara Anja hanya tersenyum malu.


"Begadang?"


"Enggak, Dok."


"Rutin minum vitamin dan suplemen yang kemarin saya berikan?"


"Rutin, Dok."


"Nanti di atur saja kalau sudah merasa lelah, jangan dipaksakan untuk terus belajar. Istirahat dulu."


"Baik, Dok."


"Sama asupan nutrisi diperhatikan ya. Harus banyak makanan bergizi, sayur, buah-buahan."


Ia menganggukkan kepala tanda mengerti. Sekaligus mencatat baik-baik tiap kalimat yang diucapkan oleh dokter Stella di dalam kepalanya.


"Oke....sekarang kita lihat....sudah seberapa besar baby nya....."


Meskipun ini adalah kali ketiga, namun ia tetap merasa excited. Demi melihat satu kehidupan baru yang begitu menakjubkan.


"Halo sayang?" senyum dokter Stella langsung terkembang begitu layar monitor menampilkan kehidupan di dalam rahim Anja.


"Wah, udah pintar kedip-kedip mata ya," seloroh dokter Stella. "Tahu ya kalau lagi ditengokkin?"


Sementara ia hanya bisa terpana menatap layar monitor besar dengan perasaan membuncah.


"Aku udah besar nih," lanjut dokter Stella. "26 minggu lebih 1 hari."


"Coba kita lihat, sudah setinggi apa kamu sayang?" gumam dokter Stella lagi. "Oke....panjangnya sekarang 33 cm, sementara beratnya 700 gram."


"Letak plasenta bagus, ketuban aman, sehat semuanya."


"Yang penting calon mama harus jaga kondisi. Jangan terlalu lelah. Rileks saja."


***


Anja


Ia pun mengikuti seluruh petunjuk dokter Stella. Tak lagi ngoyo dalam belajar. Yang penting sempat mereview kisi-kisi materi buatan Cakra. Kemudian mengerjakan latihan soal dan saling mengkoreksi.


Dan hari Senin, tanggal 6 April, UNBK hari pertama pun dimulai. Ia mendapat jadwal sesi pertama. Tetap mengerjakan soal UNBK di rumah dengan didampingi oleh Miss Liana. Sementara Cakra mendapat jadwal sesi ketiga di sekolah.


Hari kedua UNBK, yang menurutnya paling menegangkan. Yaitu mata pelajaran matematika. Terlebih setelah Cakra pulang ke rumah dan mereka mendiskusikan soal yang baru selesai di ujiankan.


"Yah, jawabanku salah dong?" ia hanya bisa menggelengkan kepala begitu mengetahui beberapa jawabannya jelas-jelas salah.


Hari ketiga UNBK adalah bahasa Inggris. Terus terang ia tak terlalu kesulitan. Tapi entahlah dengan hasilnya. Nanti sudah begitu percaya diri ternyata meh. Semoga saja tidak.


Dan hari ini adalah hari terakhir UNBK. Yaitu mata pelajaran pilihan. Dimana ia akhirnya memilih Biologi. Sementara Cakra tetap teguh dengan Fisika.


Finally. Meski UNBK bukan lagi syarat kelulusan yang utama. Namun target meraih nilai terbaik masih menggebu. Entah bisa tercapai atau tidak. Karena tadi begitu membuka soal biologi, ia langsung menyesal mengapa tak memilih kimia.


Ah, tapi sudahlah. Yang pasti satu fase krusial sudah terlewati. Sekarang tinggal menunggu hasil SNMPTN yang akan diumumkan 5 hari lagi.


"Kita bebaaaaas," seru Hanum gembira ketika siang ini rumahnya mendadak ramai dikunjungi oleh Hanum, Bening, Bumi, dan juga Faza.


"Sekarang....waktunya hepi hepi, Ja," seloroh Bening seraya merangkul bahunya. "Bukannya manyun terus."


"Duh, gue nyesel kenapa milih biologi. Ampun deh!" jawabnya sambil bersungut-sungut karena masih belum rela tadi sempat kesulitan menjawab beberapa soal.


Sementara Cakra yang sedang duduk mengobrol dengan Bumi dan Faza hanya melempar senyum ke arahnya begitu mendengar ia berkeluh kesah.


"Udah lewaaaat," seru Hanum yang terlalu gembira. Pastinya karena Faza mulai berani terang-terangan menunjukkan rasa. "Ngapain masih dipikirin sih, Ja?"


"Eh, ntar malam kita seru-seruan yuk," Bening menjentikkan jari karena merasa memiliki ide cemerlang.


Hanum, Bening, Bumi, dan Faza terlebih dulu pulang ke rumah masing-masing. Sebelum nanti malam kembali datang ke rumahnya untuk barbeque party sekaligus menginap.


Ia sedang memperhatikan Cakra yang baru selesai menyusun 2 buah barbeque grill portable di taman samping rumah, ketika Hanum cs muncul di teras samping dengan membawa begitu banyak barang belanjaan.


"Ya ampun, kalian bawa apa aja?" tanyanya sambil tertawa demi melihat ke hectic an Hanum dan Bening.


"Lengkap dong, say," jawab Hanum yang dibantu Bi Enok langsung membongkar belanjaan. "Kan mau party."


Ada daging, ayam, sosis, marshmallow, paprika, jagung, selada, garam, bawang merah, bawang putih, lada. Hmmm sepertinya lezat.


"Wah, olive oil kelupaan," Hanum menepuk dahi teringat sesuatu.


"Ada, Neng," jawab Bi Enok. "Di dapur, sebentar saya ambilkan."


Mereka ber enam dengan dibantu Bi Enok mulai mempersiapkan bumbu, memotong-motong, merendam daging ke dalam bumbu agar meresap. Kemudian membakarnya.


Setelah sebagian besar daging matang dan siap untuk disantap, ekor matanya sempat melihat Cakra membawa sebuah piring kosong. Kemudian mengisinya dengan hasil barbekyu.


"Ini," Cakra menyerahkan piring berisi daging yang kematangannya sempurna, paprika, dan jagung ke arahnya.


"Kata dokter Stella kemarin, boleh makan makanan yang dibakar. Asal benar-benar matang," lanjut Cakra seraya tersenyum.


"Makasih," ia balas tersenyum. Langsung melahap sepotong daging yang terasa juicy.


"Buat siapa lagi?" tanyanya heran ketika Cakra berjalan ke halaman depan rumah sembari membawa dua piring lain yang juga telah terisi penuh.


"Buat Pak Karman yang lagi jaga," jawab Cakra. "Sama Mang Jaja, Bi Enok."


Ia tersenyum mengangguk dengan hati menghangat. Yang Cakra lakukan memang hanya hal kecil dan bisa dilakukan oleh siapapun. Namun hal kecil ini mengingatkannya pada pertanyaan Teh Dara beberapa waktu lalu ketika ia sedang di rawat di Rumah Sakit.


"Gimana cara dia ngetreat orang lain? Cowok tuh, pertama kali dilihat dari cara memperlakukan orang lain. Bukan dari cara memperlakukan kamu aja."


Dan sekarang sepertinya ia sudah tahu jawabannya.


***


Keterangan :


^*. : mata pelajaran pilihan dalam UNBK untuk jurusan IPA


Istighosah. : doa memohon pertolongan kepada Allah Ta'ala