
So sorry readers tersayang, episode kali ini masih membahas tentang Sasa. Semoga tidak kecewa ya 🤗 untuk scene Anja-Cakra harap sabar menanti 🤗 haturtengkiuu 🤗
 ----------
Tama
Setelah menyelesaikan seluruh proses administrasi, tak sampai satu jam kemudian, Sasa sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah.
"Jangan memegang atau memencet bekas luka," begitu nasehat dokter Rahadi sebelum mereka meninggalkan Rumah Sakit.
"Karena amputasi ini melibatkan tulang, otot, pembuluh darah, dan pembuluh saraf."
"Luka tidak boleh basah atau terkena air agar cepat kering."
"Kalau perban basah sebelum waktu kontrol tiba, segera ganti yang baru."
"Bisa dilakukan sendiri di rumah. Atau kalau tidak, Bapak bisa mendatangi fasilitas kesehatan terdekat."
"Baik," ia mengangguk.
"Hindari juga dari debu dan kotoran," tapi rupanya masih banyak nasehat yang hendak diberikan oleh dokter Rahadi.
"Hindari jari dari gerakan yang berlebihan."
"Perbanyak konsumsi makanan kaya protein seperti telur, susu, keju, yoghurt, tempe, tahu, dada ayam, daging sapi dan makanan laut untuk mempercepat pemulihan."
"Oke Sasa cantik," dokter Rahadi beralih mendekati Sasa yang berada dalam pangkuan Pocut.
"Cepat sembuh ya...."
"Nanti ketemu sama Om tiga hari lagi untuk kontrol perban."
Sasa menganggukkan kepala sembari tangan kanannya mengangkat dua macam hadiah pemberian dari dokter Rahadi dan dokter Aldin. Plus sebuah souvernir dari pihak Rumah Sakit.
"Makasih hadiahnya, Om."
Dokter Rahadi tersenyum, "Sama-sama Sasa. Nanti di rumah rajin minum obat ya...."
"Terimakasih banyak, dokter Rahadi," ia pun berdiri dan menyalami dokter Rahadi.
"Sama-sama, Pak. Semoga putrinya lekas sembuh."
Ia hanya bisa menelan saliva mendengar ucapan dokter Rahadi. Sembari melirik Pocut yang -lagi-lagi- terlihat acuh dan tak peduli.
"Kamu tunggu di lobby," ujarnya ketika mereka telah berjalan meninggalkan ruang IGD. "Aku ambil mobil dulu."
Pocut mengangguk.
Setelah mengantarkan Pocut dan Sasa untuk duduk di ruang tunggu lobby Rumah Sakit, ia bergegas naik lift menuju ke lantai B2. Tempat dimana ia memarkirkan kendaraan.
Setelah mengantre cukup lama untuk keluar dari area parkir basement. Kini ia telah berhasil menghentikan kemudi tepat di depan pintu lobby utama.
Kemudian bergegas turun untuk meraih Sasa dari pangkuan Pocut.
"Kamu naik dulu ke dalam," ujarnya agar Pocut tak kesulitan karena harus menaiki mobil sekaligus menggendong Sasa.
Setelah Pocut duduk dengan nyaman, ia kembali menyerahkan Sasa ke pangkuan ibunya.
Sekarang mereka tengah mengantre di pintu keluar. Ketika sebuah ide random tiba-tiba melintas.
"Sasa lapar nggak?"
Dari pantulan rear vission mirror dilihatnya Sasa mengangguk sebanyak dua kali.
"Om traktir ya?" ia berkata sembari menoleh ke belakang.
"Tadi kan Sasa udah dapat hadiah dari Om dokter di Rumah Sakit. Sekarang giliran dapat hadiah dari Om karena Sa...."
"Mau, Om...Sasa mau ditraktir...."
"Maaf, sebaiknya kami langsung pulang...."
Dua jawaban berbeda terdengar dalam waktu yang bersamaan.
"Sasa lapar, Ma....Mau ditraktir sama Om...."
"Enggak, Sasa," Pocut jelas-jelas menggeleng. "Kita langsung pulang ke rumah."
"Sasa kan baru diobati sama Pak dokter. Nggak boleh pergi-pergi dulu. Nanti kalau ke...."
"Tapi Sasa lapar, Ma....," Sasa memotong kalimat Pocut sembari tangan kanannya memegangi perut. Mengekspresikan rasa lapar.
Sementara ia hanya bisa memperhatikan semua adegan tersebut dari pantulan rear vission mirror dengan hati berdebar.
"Tuh kan...perut Sasa udah bunyi minta diisi...."
"Kita bisa makan di rumah, sayang."
Sepertinya ide tentang mentraktir Sasa merupakan hal buruk. Kini ia menyesal telah melontarkannya.
"Oke Sasa....Kita ikuti apa kata Mama ya," ia buru-buru memutus perdebatan antara ibu dan anak agar tak berkepanjangan.
Ia ingat betul dengan apa yang selalu diwanti-wantikan oleh Kinan. Tentang harus kompaknya orangtua dalam berkomunikasi dengan anak.
Bagaimana pasangan harus satu suara di depan anak. Agar anak memiliki trust terhadap orangtua. Dan tidak mengalami kebingungan dalam bersikap.
"Kita makan di rumah Akung Aran saja ya," tambahnya seraya melajukan kemudi karena kendaraan di depan telah bergerak.
Tapi, tidak, tunggu sebentar.
Ia dan Pocut bahkan bukan pasangan. Apalagi orangtua yang harus kompak di depan anak.
Apa yang ada di dalam kepalamu, Tama! Makinya pada diri sendiri.
Namun apa daya, kalimat telah diucapkan. Kini ia tinggal menunggu respon yang tak kunjung datang.
Dan ketika menyempatkan untuk menoleh ke belakang sebelum kembali melajukan kemudi. Dilihatnya wajah Sasa telah penuh dengan air mata. Sementara Pocut menatapnya dengan ekspresi yang kurang nyaman.
Ia menghembuskan napas sebentar sebelum berkata, "Oke Sasa. Kita mau ke KFC atau McD nih?"
"Dua-duanya ada di dekat sini," lanjutnya seraya membuka kaca jendela untuk menyecan kartu parkir.
"Jadi kita nggak perlu pergi jauh-jauh."
"Biar Mama Sasa nggak khawatir," ia melirik sekilas ke arah rear vission mirror sebelum menggesek kartu e-toll guna membayar tarif parkir.
"Nanti Om traktir es krim di sana," lanjutnya sembari menyimpan kartu e-toll ke atas dashboard, usai menyelesaikan pembayaran tarif parkir.
"Gimana?" ia kembali menoleh ke belakang sebelum melajukan kemudi.
Terlihat Sasa mengangguk-angguk sambil tersenyum. Sementara Pocut memasang wajah murung.
***
Pocut
Tak sampai lima menit sejak mereka keluar dari Rumah Sakit, kini Mas Tama telah membelokkan kemudi ke halaman sebuah restoran cepat saji. Benar-benar jarak yang dekat. Mungkin tak sampai 1 Km.
"Mama marah sama Sasa?" tanya Sasa sambil mengusap wajahnya.
Entahlah, karena ia merasa sangat lelah sekarang.
Kejadian mengejutkan yang menimpa Sasa benar-benar tak pernah ia bayangkan. Ditambah energi yang selama dua hari ini terforsir.
Karena sibuk memasak sekaligus mempersiapkan perlengkapan akad nikah ulang Agam dan Anjani serta aqiqah Aran. Membuatnya tak memiliki waktu untuk sekedar beristirahat.
"Maafin Sasa, Ma....," Sasa masih terus mengelus pipinya.
"Karena Sasa lapar....," lanjut Sasa sembari memasang wajah memelas.
Ia mencoba tersenyum selebar mungkin meski terasa sangat sulit, "Mama nggak marah, sayang."
"Kalau kita lapar memang harus makan."
Sasa balas tersenyum lebar, "Yeee...Mama nggak marah."
"Makasih Ma."
"Sasa sayang sama Mama," Sasa memeluk lehernya erat-erat dengan sebelah tangan.
"Mama juga sayang sama Sasa."
Tepat ketika Mas Tama membuka pintu yang ada di samping kirinya.
"Ayo, Sasa....digendong sama Om lagi."
Dengan berjalan beriringan mereka memasuki restoran cepat saji. Yang malam ini suasananya cukup padat. Hingga mereka harus memperhatikan keseluruhan ruangan agar bisa menemukan tempat duduk.
"Kita duduk di sini ya," Mas Tama mendudukkan Sasa di atas sofa berwarna merah. Setelah pengunjung sebelumnya meninggalkan meja.
Disusul kehadiran pegawai restoran yang dengan cekatan membersihkan meja dari sampah dan sisa makanan yang tertinggal.
Sungguh beruntung mereka bisa memperoleh tempat duduk yang nyaman di tengah suasana restoran yang lumayan ramai.
Karena tadi ia sempat berharap, mereka kehabisan tempat duduk. Agar tak perlu ada acara makan bersama (dengan Mas Tama). Langsung dibawa pulang saja dan Sasa bisa makan di mobil.
"Sasa mau makan apa?" tanya Mas Tama dengan penuh atensi kepada Sasa.
"Adanya apa, Om?" tanya Sasa polos.
Karena ia memang belum pernah membawa ketiga anaknya untuk makan di tempat seperti ini. Yang jelas-jelas bukan gaya hidup keluarga mereka. Sudah merasa sangat puas menyantap fried chicken yang banyak dijual di pinggir jalan.
"Tuh banyak pilihannya," Mas Tama menunjuk ke depan dimana terdapat lampu neon yang berisi daftar menu yang tersedia.
"Atau Sasa mau pilih sendiri," Mas Tama menawarkan. "Ada mainannya juga."
Wajah Sasa langsung sumringah begitu mendengar kata mainan.
"Yuk kita lihat ke depan," Mas Tama menunduk untuk mengangkat Sasa ke dalam gendongan. "Biar Sasa bisa pilih sendiri mainannya."
Ia menggeleng, "Terimakasih. Tapi saya tidak lapar."
Kening Mas Tama mengernyit begitu mendengar jawaban yang diucapkannya.
"Saya pesanin kopi ya," ujar Mas Tama kemudian. "Biar nggak terlalu tegang."
Lagi-lagi ia menggeleng, "Saya nggak pernah minum kopi."
Kening Mas Tama kembali mengernyit.
"Pusing kalau minum kopi," jawabnya jujur. Karena ia memang tak pernah meminum kopi.
"Oke, kalau gitu saya pesankan yang lain," ujar Mas Tama tanpa berniat untuk menunggu jawabannya. Langsung berlalu menuju ke meja kasir.
***
Tama
"Ada tempat mainnya Om...," tunjuk Sasa ke arah Playground yang dipenuhi oleh anak-anak.
"Restorannya bagus banget," gumam Sasa sambil terus memperhatikan area Playground yang riuh dengan canda tawa anak-anak yang sedang bermain.
"Nanti Sasa boleh main dulu nggak, Om?"
Ia tersenyum, "Nanti Sasa bilang dulu ke Mama ya."
Sasa mengangguk.
Antrean pengunjung restoran yang cukup mengular membuat mereka harus menunggu lumayan lama agar bisa sampai di barisan depan. Selama itu pula Sasa asyik memperhatikan Playground dengan mata berbinar.
"Sasa mau pesan apa?" tanyanya ke arah Sasa begitu mereka berdiri di depan kasir.
Sasa berpikir sebentar sebelum akhirnya menunjuk menu anak-anak pilihannya.
"Hadiahnya silakan dipilih," pegawai kasir di depan mereka tersenyum menawarkan hadiah dari pembelian menu anak-anak.
"Ada kamera viewer, tumbler, kacamata, vacation travel tour....," lanjut pegawai kasir sembari menunjuk deretan hadiah di etalase.
Yang desain bentuk maupun gambarnya diambil dari tokoh-tokoh series film kartun yang baru rilis di bioskop akhir bulan lalu. Dengan judul A Monster Vacation.
Setelah sempat berpikir cukup lama, akhirnya Sasa memilih tumbler yang tutupnya berbentuk kepala drakula sebagai hadiah.
"Makasih, Om," ujar Sasa ketika ia mendudukkan gadis cilik itu ke atas sofa. "Udah dikasih hadiah."
"Sama-sama, Sasa," ia mengusap puncak kepala Sasa sambil tersenyum.
"Sekarang kita tunggu makanannya diantar ya," namun sebelum ia sempat mengambil duduk, Pocut lebih dulu berkata.
"Saya....ke toilet sebentar....."
Ia mengangguk.
Begitu punggung ramping Pocut menghilang di antara pengunjung yang memenuhi restoran, ia tersenyum ke arah Sasa.
"Hadiahnya mau dibuka?"
Dengan penuh semangat Sasa berusaha membuka plastik yang membungkus tumbler dengan menggunakan satu tangan. Tapi tentu saja bukan pekerjaan yang mudah.
"Sini Om bantu," ia meraih tumbler yang masih tersimpan dalam kemasan dan mulai membukanya.
"Sasa udah ngumpulin hadiah berapa banyak?" tanyanya iseng-iseng. Karena Reka paling suka mengumpulkan hadiah berupa action figure dari berbagai restoran cepat saji yang sering mereka kunjungi di saat akhir pekan.
"Hadiah apa Om?"
"Hadiah dari restoran ini," jawabnya yang telah berhasil membuka plastik. Kemudian meletakkan tumbler ke hadapan Sasa.
"Hampir tiap bulan hadiahnya ganti-ganti."
Sasa menatap matanya dengan pandangan aneh, "Sasa baru pertama kali ke sini, Om."
"Jadi belum pernah dapat hadiah."
Saat itu juga hatinya terasa nyeri.
***
Pocut
Setelah keluar dari toilet, ia segera mencuci tangan di wastafel. Karena tidak ada orang lain yang mengantre, ia pun bisa berlama-lama saat mencuci tangan. Ia bahkan sampai membilas sebanyak tiga kali karena saking gugupnya. Entah apa sebabnya. Ia pun tak mengerti.
Sambil menghela napas panjang lalu menghembuskan secara perlahan, dipandangnya wajah pucat dan kuyu dalam pantulan cermin.
Hijab yang dikenakannya bahkan terlihat sangat tak beraturan. Miring ke kanan dan ke kiri tanpa bentuk yang jelas.
Ditambah bercak noda darah Sasa yang menempel di bagian depan hijab dan juga lengan bajunya. Semakin menambah kesan berantakan yang tak terbantahkan.
Setelah berusaha merapikan hijab meski tak banyak membantu, ia buru-buru kembali ke meja bersofa merah. Karena tak ingin Sasa menunggu terlalu lama.
Namun ketika kakinya berbelok menuju tempat duduk mereka tadi, dilihatnya Mas Tama tengah bercakap-cakap dengan sepasang pria dan wanita. Membuat langkahnya berubah pelan dengan sendirinya. Sedikit ragu untuk turut bergabung.
"Itu Mama....," sorak Sasa riang ketika melihatnya dari kejauhan. Membuat niatnya untuk menunggu pasangan itu berlalu langsung buyar dalam sekejap.
"Maaf, lama....," ucapnya begitu sampai di meja sambil tersenyum kikuk.
"Tenang, Ma....makanannya juga belum datang kok," seloroh Sasa.
Sementara sepasang pria dan wanita yang tengah duduk di seberang Mas Tama langsung memperhatikannya dari atas sampai bawah dengan tatapan menyelidik.
"Wah, Tama nih....," gumam sang pria sambil menggelengkan kepala dan tertawa kecil.
"Kirain elu lagi sama Kinan," sahut sang wanita cepat dengan kening mengkerut.
"Ceritanya panjang," Mas Tama tertawa sumbang. Membuatnya semakin merasa tak enak.
"Duduk....duduk....," Mas Tama langsung berdiri karena ia tak kebagian tempat duduk. Sebab sofa di meja mereka telah dipenuhi oleh pasangan yang sampai saat ini masih menatapnya dengan ekspresi penuh tanda tanya.
"Kenalin nih....ipar gua....," sambung Mas Tama setelah ia mengambil tempat duduk yang ditawarkan oleh Mas Tama barusan.
"Ceritanya panjang gimana!" seloroh sang pria sambil terkekeh. "Jangan ngadi-ngadi lu, Tam."
"Eiya gila nih si Tama," gumam sang wanita pelan namun masih bisa didengar oleh telinganya. Dan ini semakin membuatnya gelisah.
Namun lagi-lagi Mas Tama hanya tertawa sumbang, "Ini kakak iparnya adik ipar gua."
"Duh, gimana jelasinnya nih," sambung Mas Tama seraya tergelak. "Gua jadi bingung sendiri."
"Ribet deh lu," sungut sang wanita dengan wajah yang sama sekali tak percaya.
"Pocut ini....kakaknya suami Anja," terang Mas Tama lebih jelas lagi.
"Busyet, Anja udah kawin?"
"Bukannya masih SMA?"
"Wah, nggak kabar-kabar lu!"
"Tahu gitu kita datang ya Beb."
Sang pria mengangguk setuju.
Lalu pembicaraan pun mulai mengalir dengan sendirinya. Tak sekaku seperti waktu pertama kali ia muncul tadi.
Sang wanita bahkan tersenyum ramah padanya saat mereka berpamitan, "Kita duluan ya....."
"Cepat sembuh ya sayang," ujar sang pria seraya mengusap puncak kepala Sasa.
"Dah Sasa cantik......"
"Dadah Tante....Dadah Om.....," Sasa melambaikan tangan kanan dengan riang pada pasangan yang kemudian beranjak pergi.
"Maaf....," gumamnya setelah pasangan itu menghilang di balik pintu kaca.
Mas Tama menatapnya dengan kening mengkerut, "Apa kamu selalu minta maaf begini?"
Ia balas menatap Mas Tama dengan bingung.
"Berhentilah meminta maaf untuk hal yang bukan kesalahan kamu."
Ia langsung menunduk mendengar ucapan Mas Tama. Tepat ketika seorang pegawai restoran membawa dua buah nampan sekaligus menuju ke meja mereka.
"Permisi, dengan pesanan nomor 139?" sapa pegawai restoran tersebut.
"Ya," jawab Mas Tama.
"Ini pesanannya," lanjut pegawai restoran sambil meletakkan dua buah nampan yang penuh berisi makanan ke atas meja. Sembari menyebutkan jenis makanan yang dipesan satu per satu.
"Makasih," ucap Mas Tama usai pegawai restoran selesai menyebutkan pesanan dengan tepat tanpa kurang satu pun.
"Sama-sama. Selamat menikmati."
Mas Tama langsung meletakkan menu anak-anak ke hadapan Sasa, lengkap dengan es krim yang terlihat begitu lezat.
"Strawberry cheesecake pesanan Sasa," seloroh Mas Tama yang disambut dengan senyuman lebar Sasa.
Kemudian menyimpan gelas minuman bening bertuliskan Mc Cafe ke hadapannya. Serta sepotong kue berbentuk segitiga berwarna merah dan putih yang juga terlihat sangat lezat.
"Kue sekecil ini nggak bakal bikin kamu kekenyangan," gumam Mas Tama tanpa melihat ke arahnya.
"Terimakasih," gumamnya meski dengan sangat terpaksa.
Mas Tama sendiri meletakkan cangkir putih berisi kopi yang menguarkan aroma harum.
"Ayo makan, Sasa," Mas Tama tersenyum ke arah Sasa. "Mau disuapin Mama atau Om?"
"Mama," jawab Sasa cepat.
Ia pun segera menyuapi Sasa. Karena tak ingin berlama-lama tinggal di restoran yang semakin ramai dipenuhi oleh pengunjung ini.