
Readers tersayang semuanya 🤗,
Mohon maaf terlambat up dan (again and again 🤧🤧🙏) jadwal up yang random abis 🤧.
Semoga berkenan ya readers tersayang 🤗.
Tetap jaga kesehatan dengan istirahat yang cukup 🤗
BIG HUG 🤗
Happy reading everyone 🤗
Love,
Sephinasera
-------------------------------------------
Anja
Klik!
Begitu pintu terbuka, matanya langsung disambut oleh pemandangan sebuah kamar yang luas, bernuansa elegan khas hotel berbintang, juga jendela kaca super lebar yang mengelilingi dua sisi sekaligus. Menyuguhkan panorama city view, lengkap dengan kerlip lampu yang menghampar bagai lautan bintang bercahaya. Indah sekali.
Ia hanya bisa mematung memandangi tiap sudut kamar dengan hati berdebar. Ketika terdengar suara Klik untuk yang kedua kali dari belakang punggungnya.
"Cross check pintu," seloroh Cakra tepat di telinga kirinya.
"Hhh!" dan ini membuatnya terkejut. Sebab hembusan hangat napas Cakra terasa membelai sebagian wajahnya.
Ia bahkan masih belum beranjak. Meski Cakra telah meletakkan back pack dan cooler bag ke atas meja. Lalu berjalan menuju minibar.
"Kopi atau teh, Ja?"
Ia menggeleng. Lebih memilih untuk mendekati sofa dan mendudukkan diri di sana. Lalu mengambil ponsel dari dalam sling bag. Jelas sedang mencari kesibukan agar tak terlalu salah tingkah.
Oh my, kenapa harus salah tingkah sih? rutuknya dalam hati.
Pasti karena suasana kamar yang privat. Ditambah king size bed empuk yang terlihat begitu menggoda. Membuat perutnya mendadak dipenuhi oleh tiga, empat, lima, bahkan puluhan kupu-kupu sekaligus. Yang kini sedang mengepakkan sayap secara bersamaan.
"Hhh!" dan ia kembali terkejut ketika tiba-tiba saja Cakra sudah duduk di sampingnya. Lengkap dengan melingkarkan lengan di sepanjang bahunya.
"Kok kaget sih?" Cakra tertawa kecil.
"Iih!!" ia mengendikkan bahu. Semata-mata agar rengkuhan Cakra di bahunya sedikit melonggar.
Tapi yang ada, Cakra justru semakin mengeratkan mereka berdua. Kini bahkan ditambah dengan usapan lembut di lengannya.
Ia pun (pura-pura) bertingkah sibuk dengan ponsel di tangan. Seolah ada hal penting yang sangat mendesak.
"Eh?!" ia tersentak ketika Cakra mengambil ponsel tanpa permisi. Lalu menyimpannya di atas meja.
"Abang?!" ia memberengut. "Aku kan lagi lih...."
Ucapannya terpotong di udara. Sebab kalah cepat dibanding gerakan Cakra yang telah memutar dagunya. Lalu mengubur wajah mereka berdua dalam-dalam.
Oh, tidak. Ia langsung gelagapan karena Cakra beraksi bak musafir yang sedang dilanda kehausan. Mendesak tanpa memberi kesempatan padanya untuk bertahan. Tidak sama sekali.
Ia bahkan harus menumpukan kedua tangan di leher Cakra agar tak terkulai sebab tubuhnya mendadak berubah menjadi jelly. Tak berdaya.
Kini Cakra tersenyum menatapnya. Ia pun balas memandangi mata Cakra yang berkilauan dengan napas tersengal.
"Aku belum KB," bisiknya dengan napas yang masih memburu.
Cakra tertawa meski tanpa suara, "Penting gitu?"
Ia langsung melotot kesal, "Kalau jadi gimana?!?"
Kali ini Cakra tertawa sungguhan. Dengan gerakan yang begitu halus, Cakra berusaha menyatukan kembali wajah mereka berdua.
Tapi ia berhasil menghindar lebih dulu untuk bertanya dengan penuh selidik, "Abang bawa itu kan?!"
"Itu apa?" gumam Cakra dengan suara malas sembari menyentuh lehernya.
"Ituu....," di sela-sela sentuhan Cakra ia mencoba memberi penjelasan. "Pengaman!"
"Biar nggak jadi!" serunya hampir memekik karena kini Cakra telah menenggelamkan wajah dalam-dalam di ceruk lehernya.
"Caps?" kekeh Cakra dengan bibir berkedut di sepanjang garis lehernya. "Nggak punya."
"Abang!" ia berusaha melepaskan diri dari kungkungan Cakra. "Beli dulu! Suruh room boy at...."
Namun lagi-lagi ucapannya terpotong di udara. Sebab Cakra dengan gerakan tak kentara, tiba-tiba saja telah membuatnya rebah sempurna di atas sofa.
"Abang! Jangan coba-coba!!" pekiknya antara kesal dan tak berdaya.
Tapi Cakra sama sekali tak mempedulikan protesnya. Cakra justru semakin membenamkan wajah di lekuk bahunya. Sembari menggumamkan untaian doa indah, yang selalu Cakra bisikkan tiap kali mereka hendak melakukan hal menyenangkan.
Oh, tidak.
Dalam sekejap sentuhan lembut Cakra berhasil menyentakkan kepalanya ke atas sofa. Ia pun berusaha keras agar bisa menarik napas. Namun gagal. Sebab Cakra tak lagi bisa dicegah. Kian tak terkendali. Ia bahkan tak lagi mampu menguasai diri. Tenggelam dan terbenam tanpa daya.
Kini dirinya tak mampu mengingat apapun. Kecuali perasaan meluap-luap yang begitu dirindukan. Menyatu bersama deraan gelombang menghanyutkan nan memabukkan.
Love.
-----------------------
Dewa angin puyuh ini adalah suaminya.
Oh, tidak.
Pipinya mendadak memanas jika mengingat hal memalukan tersebut.
"Sakit nggak?" bisik Cakra saat tubuhnya terasa tak lagi memiliki tulang.
Ia menggeleng.
Sebuah kecupan lembut tiba-tiba saja telah menyentuh puncak kepalanya. Hangat, dalam, dan lama. Membuat senyumnya kian terkembang.
"Awalnya takut jahitan Bu bidan sobek," ia mencoba berterus terang.
Ia jelas merasa takut. Meski akhirnya sentuhan melenakan Cakra berhasil menguapkan ketakutannya entah kemana. Namun rasa was-was masih saja menghantui. Walau ia tahu, Cakra berusaha melakukannya dengan selembut dan semanis mungkin.
Cakra terkekeh, "Emang jahitan begitu bisa sobek?"
"Ya...kali-kali aja," sahutnya asal tak mau kalah.
"Tapi belum pernah ada kasus tentang jahitan sobek akibat....," Cakra tak melanjutkan kalimat dan memilih untuk kembali mencium puncak kepalanya.
Ia menggeleng, "Tahu. Ada kasusnya atau enggak."
"Tapi bener nggak sakit kan?" Cakra mengulang pertanyaan yang sama.
Lagi-lagi ia menggeleng. Sama sekali tak menyangka jika Cakra akan mendekatkan wajah mereka berdua sembari berbisik dengan ekspresi penuh harap, "Once again (sekali lagi)?"
Cakra jelas sedang tak bertanya sungguhan. Apalagi berminat untuk menunggu jawaban darinya. Tidak sedikitpun. Karena serbuan gelombang memabukkan telah kembali menderanya. Tanpa permisi. Tanpa ampun. Bahkan tak memberinya kesempatan untuk menarik napas barang sekejap.
Wild things.
-------------------------------------
Apakah semalam mereka sempat tidur?
Entahlah.
Ia merasa terus terjaga sepanjang malam, karena Cakra benar-benar tak memberi kesempatan padanya untuk terlelap.
"Cape nggak?" bisik Cakra dengan bibir menempel di keningnya. Usai mematikan bunyi alarm, yang memang sengaja dipasang sepuluh menit sebelum waktu Subuh tiba.
Ia jelas merasa lunglai. Tapi entah mengapa, hatinya seakan diliputi oleh rasa bahagia tak terperi. Membuncah meluap-luap sampai membuat wajahnya merona akibat rasa malu yang tak mampu disembunyikan.
Dan untuk menutupi itu semua, ia memilih memukul dada Cakra seraya bergumam, "Kesel tahu!"
Cakra tertawa kecil, "Masih kuat jalan ke kamar mandi apa mesti dige...."
Ia kembali memukul dada Cakra. Kali ini lebih keras. Membuat Cakra sontak tergelak.
***
Cakra
Sejak awal ia jelas tak mampu untuk mengendalikan diri. Tidak sama sekali.
Terlebih ketika ia mendapati leher dan bahu seputih susu yang ternyata masih begitu menggoda jiwa kelelakiannya.
Baginya, Anja terasa semakin manis, begitu halus, teramat lembut, juga hangat, sekaligus memabukkan. Sungguh perpaduan sempurna bagi jiwa yang tengah dilanda dahaga.
Anja juga tak pernah menolak ketika ia meminta berkali-kali. Meski selalu diiringi dengan ancaman, "Jangan sampai jadi, Bang."
"Aran masih baby."
"Aku baru jadi maba."
"Sshhhh," ia berbisik menenangkan. "Tenang sayang, aku ahlinya."
Dan sebuah pukulan langsung mendarat di dadanya. Namun justru membuatnya kian menggebu. Sebab tahu jika ini adalah pukulan tanda sayang.
"Mau ikut ke kampus nggak?" tawarnya sebelum beranjak ke kamar mandi.
"Nanti aku ajak keliling kampus."
"Kamu bisa nunggu di kantin kalau mau."
"Atau di taman Ganapati?"
Tapi Anja yang masih tergolek lemah di atas tempat tidur menggelengkan kepala, "Cape ah. Mau tidur."
Ia tertawa, "Aku kuliah sampai jam sepuluh. Kamu mau nunggu sendirian di sini?"
Anja mengangguk.
Namun wajah cantik dan bersinar Anja seolah bagai medan magnet kuat yang kembali menariknya untuk mendekat.
"Abang?!" Anja sempat memekik tak percaya.
Namun kali ini ia jelas sedang tak memiliki rem. Tidak sama sekali. All over again (dimulai dari awal lagi).
-------------------------
Kini ia percaya 100% dengan slogan, kau mengalihkan duniaku.
Sebab ia hampir lupa waktu akibat terlena dengan titisan bidadari. Dan dipastikan terlambat masuk kelas pagi ini.
Dari tempat parkir motor yang sepagi ini antrean masuknya bahkan telah mengular, ia berjalan tergesa menuju gedung kuliah barat.
Ia pernah mengelilingi gedung kuliah barat saat sesi tur kampus OBKM. Namun ini menjadi kali pertama mendapat jadwal kelas di gedung tersebut. Kelas pagi pula. Matkul (mata kuliah) Fidas (fisika dasar) yang dosennya tepat waktu.
Ia pun mulai panik ketika tak kunjung menemukan ruang 9136. Padahal sangat yakin telah berada di lantai yang tepat.
"Ruangan enam," jawab seorang staf berkemeja putih yang ia temui. "Naik dulu satu lantai lagi. Terus turun setengah lantai. Cari ruangan enam."
Ia akhirnya berhasil masuk ke dalam kelas Fidas dengan ekspresi wajah hampir pingsan, dan lutut lemas akibat berkali-kali naik turun tangga dengan setengah berlari.
Atau lemas akibat aktivitas yang dilakukannya semalaman suntuk? Yeah.
"Karena ini pertama, saya beri toleransi," ucap dosen ketika ia meminta maaf karena terlambat.
"Mulai besok, terlambat berarti tak masuk kelas."
Ia hanya bisa menelan ludah. Segera mencari tempat duduk yang kosong agar tak ketinggalan materi terlalu jauh.
"Nyasar ya?!" ejek Adit dan Daniel bersamaan. Ketika ia mengambil duduk tepat di belakang mereka.
Tapi ia hanya tertawa sumbang. Tak berminat untuk menanggapi.
"Tumben telat?" gumam Adit yang jiwa keponya di atas rata-rata.
"Ada urusan," jawabnya singkat. Namun pikirannya justru melayang pada wajah merona Anja yang tersipu malu sepanjang malam. Haish!
"Urusan penting, Dit," timpal Daniel sok tahu. "Sampai wajah si Cakra kek habis dapat kenikmatan dunia dan seisinya. Hahahaha!"
"Sssttt!!" Adit memperingatkan Daniel agar merendahkan tawanya. Namun sedetik kemudian justru Adit yang gantian tertawa.
Ia juga ikut tertawa meski tanpa suara. Namun segera memusatkan perhatian pada dosen yang sedang menerangkan di depan. Sama sekali tak ingin ditandai di kuliah pertama Fisika dasar.
***
Anja
Sepeninggal Cakra yang setengah berlari pergi ke Kampus karena hampir terlambat, ia kembali terlelap.
Entah berapa lama ia tertidur. Meski masih merasa lelah dan ingin bermalas-malasan. Tapi mau tak mau harus cepat-cepat bangun. Sebab ASInya mulai terasa penuh dan harus segera dikeluarkan.
"Mm, Aran sayang....," gumamnya ketika bangkit dan meraih breast pump yang tersimpan di atas nakas.
"Waktunya kamu nen nih," gumamnya lagi. Tiba-tiba merasa sangat rindu dengan pipi bulat Aran. Padahal baru semalam tak bertemu.
Setelah pumping dan menyimpan ASIP ke dalam feeezer, ia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Jika dulu ia sempat terkejut ketika mendapati banyak tanda di sekujur tubuh. Kini ia justru menutup wajah di depan cermin saking malunya. Cakra benar-benar gggrrhhrrghrgrrh!!
------------------------------------------
Kini ia tengah duduk di sofa. Sembari menikmati layanan breakfast in bed dan menonton televisi berlayar lebar.
Tadi ia memilih American breakfast. Dan telah menghabiskan sepiring pancake saus strawberry, roti panggang, omelette, dan potato wedges.
Lapar? Pastinya. Sebab Cakra benar-benar menguras tenaganya tanpa ampun.
Ia bahkan menghabiskan sosis dan daging asap setelahnya. Tak ingin menyisakan sedikitpun untuk Cakra. Yang mungkin beberapa menit lagi akan pulang dari kampus.
***
Cakra
Ia melirik pergelangan tangan kanan. Hm, sepertinya masih ada waktu untuk sarapan di kantin belakang sebelum kembali ke hotel. Sebab perut kosongnya sejak masih di kelas sudah melolong minta diisi.
Tapi lagi-lagi ia bertemu dengan Adit dan Daniel yang sepertinya juga sedang kelaparan.
"Yang habis kerja bakti lagi ngecass energi," seloroh Daniel ketika ia bergabung ke meja mereka.
"Biar full power," ia menjawab sekenanya sambil melahap makanan dengan suapan besar.
Daniel dan Adit sontak mencibir.
"Gua duluan," usai makan ia langsung pamit pulang meski mereka tengah asyik membicarakan program himpunan.
"Butuh suplemen nggak nih?" seloroh Daniel yang hanya dibalas dengan tawa sumbang.
-----------------------------
Ia tersenyum lebar ketika Anja membukakan pintu kamar.
"Udah makan belum?" tanyanya seraya meraih bahu Anja.
"Tuh," Anja menunjuk pada tumpukan piring kotor di atas meja.
"Wah, habis pesta nih?" selorohnya demi melihat tak ada makanan yang tersisa.
"Habis lapar," Anja mencibir seraya mendorong dadanya agar menjauh.
Tapi ia justru makin erat merengkuh bahu Anja, "Check out dua jam lagi kan?"
Anja tak menjawab. Tapi langsung mendelik ke arahnya dengan penuh kecurigaan.
Ia yang jelas-jelas tertangkap basah punya niatan tersembunyi hanya bisa meringis sambil tertawa, "Once again?"
Mata indah Anja semakin melotot.
"Please?"
------------------------------------------
Entah kapan ia dan Anja akan bertemu lagi. Sebab jadwal kuliah dan praktikum telah padat menanti. Dan selama satu bulan ke depan, tak ada tanggal merah ataupun long weekend.
Anja juga pastinya akan disibukkan dengan jadwal kuliah. Belum kegiatan ospek fakultas setiap hari Sabtu.
Ia hanya bisa mendesah panjang jika mengingat itu semua. Jadi, waktu yang sangat berharga ini harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin bukan?
Ia menge cup puncak hidung Anja yang berkeringat usai mereka meledak bersama entah untuk yang keberapa kalinya.
Pupil mata Anja semakin membesar namun tatapan sepasang mata indah itu justru bertambah sayu.
"Kalau aku hamil gimana?"
Ia tertawa, "Bagus dong. Biar Aran punya adik."
Anja melotot.
"Enggak akan, Ja," ia berusaha menenangkan kekhawatiran Anja.
"I've done my best (aku telah melakukan yang terbaik)," bisiknya seraya mengedipkan sebelah mata.
Wajah kesal Anja perlahan berubah melembut. Kemudian tangan mungil itu terulur menyisiri rambut panjang yang jatuh menutupi keningnya.
"Abang pulang ke Jakarta kapan?"
Ia tersenyum, "As soon as possible (secepatnya)."
"Kalau udah kangen berat aku langsung pulang," sambungnya yakin.
Anja tersenyum. Kini tangan mungil itu beralih menyentuh wajahnya. Dengan satu jari menelusuri alisnya. Lalu bergerak membuat garis halus di sepanjang tulang pipi hingga ke garis cambang.
Ia mengu lum senyum menatap wajah cantik Anja yang juga sedang menatapnya.
"Kalau mau pulang kasih kabar dulu," gumam Anja sembari mengusap rahangnya dengan sebelah tangan.
"Jangan kayak kemarin selisih jalan," kali ini Anja merengut.
Ia mengangguk.
"Jangan telat makan," gumam Anja lagi.
Lagi-lagi ia mengangguk.
"Jangan lupa potong rambut."
Ia tertawa, "Botak?"
"Yang penting Abang jadi jelek," jawab Anja cepat.
Sontak membuat mereka tertawa bersama.
Kini gantian ujung jempolnya yang mengusap halus pipi Anja.
"Titip Aran."
Anja mengangguk, "Ada Mama sama Teh Cucun ini."
Ia tertawa, "Bilangin ke Aran kalau aku sayang banget sama dia."
Anja kembali mengangguk.
"Nanti aku bikin podcast khusus buat Aran."
"Cuma buat Aran?" Anja memasang ekspresi wajah merajuk.
"Neng cantik mau dibuatin lagi?"
Anja mencibir.
Ia tertawa sambil mengangguk, "Mau tentang apa?"
Anja semakin mencibir, "Bisa nggak sih kalau nggak balik nanya?!"
Ia kembali tertawa, "Surprise?"
"Terserah."
Ia tersenyum, "Jangan telat makan."
Anja mengangguk.
"Jaga kesehatan."
Lagi-lagi Anja mengangguk.
"I love you," bisiknya dengan sepenuh hati.
Anja tersenyum mengangguk.
Ia meraih ponsel di atas nakas untuk melihat jam.
"Masih ada waktu lumayan," gumamnya dengan wajah menggoda.
Tapi Anja sudah keburu melotot dan menyalak kesal, "Abang?!?!"
"Janji ini quickie (singkat)," ia menunjukkan dua jari membentuk tanda v (victory) sebagai bentuk kesungguhan.
***
Keterangan. :
Love, wild things, and you. : cinta, hal yang liar, dan kamu
Penjelasan tentang berhubungan (suami istri) di hari tasyrik (11-13 Dzulhijjah) adalah :
"Hubungan (suami istri) pada malam hari raya atau siang harinya hukumnya mubah. Dan tidak ada larangan hubungan (suami istri) kecuali ketika siang hari ramadhan (bagi yang wajib puasa), atau ketika ihram pada saat menjalankan haji atau umrah, atau ketika sang istri dalam kondisi haid atau nifas.
[Fatwa Islam, no. 38224] (sumber : konsultasisyariah.com)