
Cakra
Ia bukannya tak menyadari jika dalam kurun waktu seminggu terakhir, intensitas komunikasi dengan Anja merosot tajam. Tapi ia benar-benar tak memiliki waktu untuk sekedar memikirkannya.
Rutinitas harian benar-benar menenggelamkan diri. Diawali dengan jadwal kuliah pagi. Kadang dilanjut praktikum. Lalu disambung mengajar bimbel hingga malam.
Pulang ke rumah inginnya langsung istirahat. Disempatkan menelepon Anja, tapi tak diangkat. Kemungkinan besar Anja juga sudah tertidur kelelahan.
"Kak Cakra?"
Ia yang sedang membereskan modul usai kelas terakhir mendongak. Di depannya sudah berdiri Aqeeva dan seorang wanita cantik.
"Kenalin nih Mama aku," ucap Aqeeva sambil tersenyum.
"Halo?" wanita tersebut tersenyum.
Ia pun balas tersenyum.
"Kenalin saya Errin, Mamanya Aqeeva."
Ia membalas uluran tangan Bu Errin sambil tersenyum mengangguk, "Cakra."
"Tadi di depan saya sudah bilang ke Kang Lukman," Bu Errin menarik kursi yang ada di dekat mereka. Lalu mendudukkan diri di sana.
"Eh, saya duduk di sini, boleh ya?" Bu Errin tertawa kecil.
"Boleh, Bu. Silakan."
"Ini...saya tuh seneeeng banget, karena sejak tutornya dipegang sama Kak Cakra, nilai ulangan Aqeeva di sekolah terus meningkat."
"Alhamdulillah," gumamnya sungguh-sungguh.
"Udah gitu stabil lagi. Ya sayang ya?" Bu Errin menoleh ke arah Aqeeva yang tersenyum malu.
"Jadi, saya mau minta Kak Cakra buat ngajar privat Aqeeva di rumah."
"Biar lebih intensif gitu."
"Nggak usah jauh-jauh datang ke sini."
"Bisa kan ya?"
"Tadi saya sudah ijin sama Kang Lukman, katanya keputusan ada di tangan Kak Cakra."
Ia jelas membutuhkan pemasukan tambahan. Agar kantong yang dimiliki bisa lebih bersahabat. Sebab selain kebutuhan kuliah dan sehari-hari, ia tentu ingin memanjakan Anja dan Aran sesekali. Meski bukan dengan barang yang wah.
Dan hanya dengan membayangkan bisa memberikan sesuatu yang membuat senyum di wajah Anja merekah, berhasil memompa semangatnya hingga mendadak tumbuh berkali lipat.
Atas sepengetahuan dan persetujuan dari pihak Magna Edu, ia akhirnya resmi memiliki double job. Yaitu mengajar bimbel dan memberikan les privat di rumah Aqeeva.
"Jangan sungkan, anggap rumah sendiri," seloroh Bu Errin ketika untuk pertama kali ia datang mengajar.
Rumah megah berlantai tiga itu terlihat sepi. Hanya terdapat beberapa ekor kucing, seorang satpam yang membukakan pintu gerbang, serta seorang pekerja rumah tangga yang memberinya segelas sirup dingin dan cemilan.
"Nanti hitungannya per minggu saja ya, biar saya nggak lupa," begitu kata Bu Errin.
Ia mengangguk.
Sejak saat itu ia bahkan lupa untuk sekedar memberi kabar melalui pesan chat pada Anja. Sebab waktu 24 jam seolah berkejaran tiada henti.
Tapi ia yakin, Anja akan mengerti. Toh ia sudah menceritakan, jika mengambil kerja paruh waktu di sebuah bimbel. Hingga mengharuskannya selalu pulang malam.
---------------------------
"Ini untuk minggu pertama," ucap Bu Errin siang ini, sambil mengangsurkan sebuah amplop berwarna cokelat padanya.
Ia sebenarnya datang untuk mengajar. Tapi Bu Errin bilang, Aqeeva sedang berlatih balet. Untuk persiapan Gala Performance di sebuah gedung kesenian.
"Terimakasih, Bu."
"Sama-sama," Bu Errin terkekeh. "Saya yang harusnya berterimakasih."
"Sudah membangkitkan semangat belajar Aqeeva."
"Sejak belajar sama Kak Cakra, Aqeeva sering cerita jadi lebih memahami konsep."
"Kalau begini kan...saya jadi tenang," Bu Errin tertawa kecil.
"Sebab, bukan nilai anak yang saya kejar. Tapi pemahaman."
Ia tersenyum mengangguk.
"Oiya, maaf sebelumnya," Bu Errin kembali tertawa kecil. "Sudah punya pacar belum?"
Ia meringis.
"Ada tuh keponakan. Sama-sama maba tapi dia anak....," sambil menyebut nama sebuah kampus tetangga.
"Kapan-kapan Tante kenalin ya. Kalau pas lagi main ke sini."
"Anaknya cantik, seru, asyik lagi."
"Kayaknya bakalan cocok deh."
Ia masih meringis, lalu berkata dengan nada canggung, "Maaf, Bu, tapi saya sudah punya istri."
Bu Errin langsung melotot dengan mulut ternganga. Dan selama beberapa detik hanya bisa menatapnya dengan ekspresi serupa.
"Haduh," Bu Errin menggelengkan kepala sambil mengelus dada. "Sudah punya istri?!"
"Sudah menikah, begitu?"
Ia mengangguk.
Bu Errin masih menggelengkan kepala sambil terus mengelus dada, "Istrinya di mana sekarang? Masih kuliah juga?"
Ia tersenyum, "Masih kuliah di FKG, Bu."
Bu Errin kembali melotot dengan mulut ternganga.
-----------------------
Ia memandangi amplop cokelat yang berisi lima lembaran merah. Hasil memberi les privat selama lima hari. Cukup untuk membeli sebuah buku. Dan masih tersisa sedikit. Bisa dipakai untuk operasional hariannya pulang pergi ke kampus dan tempat bimbel.
Ia masih tercenung memandangi amplop. Maksud hati jelas tertuju ke Palasari. Sebab hari ini ia tak ada jadwal mengajar di Magna. Jadi bisa lebih leluasa melihat-lihat koleksi buku. Sekalian refreshing guna membuang kejenuhan akibat himpitan rutinitas.
Tapi sebagian besar hatinya justru tertuju ke tempat lain.
Apakah mungkin?
***
Erzal
Ia tahu pasti pesona yang dimiliki. Ia juga tahu seberapa besar para gadis menginginkannya.
Sedang bersikap tinggi hati?
Tidak. Ini kenyataan man.
Tapi seperti sudah menjadi hukum alam. Ia sama sekali tak tertarik dengan gadis manapun yang menginginkannya. Ia justru tertarik pada seseorang yang jauh di luar jangkauan.
Atau karena keunikan inilah yang membuatnya tertantang untuk menaklukkan? Jiwa petarungnya jelas teruji di sini.
Sejak pertama kali melihatnya saat registrasi administrasi, ia tahu jika gadis berkulit pucat ini begitu spesial.
Bukan. Bukan melulu tentang tampilan fisik.
Gadis berkulit pucat ini jelas cantik. Tapi bukan termasuk tipe kecantikan yang bisa membuat cowok-cowok rela untuk saling membunuh hanya demi mendapatkan perhatiannya.
Seperti ada kekuatan inner good human yang bagaikan medan magnet berhasil menariknya untuk terus mendekat.
"Kalian pacaran?" tanyanya dengan raut penasaran yang tak bisa ditutupi. Ketika Anjani pamit pergi ke toilet sebelum proses interview dilakukan.
Dipa menggeleng, "Enggak, Mas. Kita sahabatan dari kecil. Tetanggaan gitu."
Ia mengangguk mengerti.
"Lagian dia juga udah married."
Ia tertawa sumbang. Sebab ucapan Dipa membuatnya sadar jika memiliki ingatan yang cukup tajam.
"LDR an tapi. Cowoknya kuliah di Bandung."
Ya, tentu saja. Seperti yang sempat Salma bilang di kantin tadi, Anjani adalah gadis yang ia temui di lapak nasi gurih suatu hari Minggu pagi.
Ketika Salma berpura-pura mengenalkannya sebagai kekasih. Sebab cowok pujaan Salma adalah suami dari Anjani.
Definisi dari rumit.
Sekaligus menantang.
Dan ini jelas keadaan yang sempurna.
Jadi, apa yang bisa dilakukannya? Tentu saja menuntaskan rasa ingin tahu. Sampai sejauh mana ia bisa bergerak maju.
Lalu suami Anjani?
Anggap saja ini adalah resiko tertinggi dari hubungan LDR yang sedang mereka jalani.
Ia sedang mencari perkara?
Tidak juga. Lihat saja, sampai sejauh mana Anjani mampu menolak pesona yang dimilikinya.
"Sini aku bawain," ia berusaha meraih tas berwarna biru yang terlihat selalu dibawa oleh Anjani kemanapun pergi.
"Nggak usah, Mas. Makasih."
Tapi ia lebih cepat bergerak. Hingga tas yang ternyata lumayan berat itu bisa berpindah ke bahunya dalam waktu singkat.
Sambil tersenyum ia berjalan bersisian dengan Anjani. Mencoba memikirkan, kira-kira topik menarik apa yang bisa diperbincangkan selama perjalanan pulang nanti.
***
Cakra
Ia ingin memberi kejutan pada Anja.
Ia bahkan tersenyum-senyum sendiri. Demi membayangkan reaksi Anja jika melihatnya tiba-tiba muncul.
Tadi ia sempat mengecek jadwal keberangkatan kereta. Tapi sayangnya sudah terlambat. Keberangkatan berikutnya masih satu jam lagi.
Sementara untuk naik travel, ia harus turun di tempat yang cukup jauh dari rumah Anja. Sangat tidak efektif. Padahal ia ingin memberi kejutan dengan menjemput Anja ke kampus.
"Biasanya sampai rumah Maghrib," jawab Mama Anja, ketika ia menelepon menanyakan jadwal kuliah Anja hari ini.
Ia melihat pergelangan tangan kanan. Masih cukup waktu meski harus mengemudi seorang diri.
***
Anja
Sejak awal menerima tugas dari anak-anak sekelompok, perasaannya sudah tak enak. Ditambah Airin yang pulang terlebih dahulu.
Entahlah. Berdekatan dengan Erzal benar-benar membuatnya merasa tak nyaman cenderung gelisah. Hati kecilnya seolah berteriak, "Run...Anja. Ruuun!"
Tapi sudah terlambat. Sebab ia telah menyetujui tawaran Erzal.
"Seat belt?" seloroh Erzal sambil menunjuk ke arahnya.
Klik.
Namun ketika mendongak, hatinya langsung tercekat. Demi melihat kendaraan yang baru saja parkir tepat di hadapan mereka. Jenis dan merk kendaraan tersebut jelas mengingatkannya pada seseorang.
Tapi itu tak mungkin bukan?
"Udah?" Erzal kembali memastikan kesiapannya.
Namun ia tak lagi mampu menjawab. Sebab sudah hampir pingsan. Karena melihat seseorang yang baru saja keluar dari kendaraan di depan mereka.
***
Cakra
Bandung - Jakarta bisa ditempuh dalam waktu kurang dari dua jam. Luar biasa.
Ia bahkan sempat mampir ke sebuah toko florist, yang kebetulan terlewat ketika sedang menuju ke kampus Anja.
Sepanjang sisa perjalanan ia lalui dengan hati meluap dan senyum terkembang.
Kira-kira bagaimana reaksi Anja ketika melihatnya tiba-tiba muncul di kampus?
Rasanya sungguh tak sabar ingin segera melihat wajah cantik Anja terkejut lalu tertawa bahagia saat melihatnya.
Ah ya, ia jadi ingat, sudah berapa lama mereka tidak melakukan panggilan video? Sepertinya lama sekali.
Ternyata rindu itu sama sekali tak menyenangkan.
Ia masih tersenyum-senyum sendiri ketika memarkir kendaraan. Menghadap kendaraan lain yang sepertinya hendak keluar.
Namun ia tercekat saat tak sengaja melihat sosok yang duduk di samping kiri pengemudi. Jenis kaca mobil yang tak terlalu gelap jelas mampu menyuguhkan pemandangan sempurna.
Tapi Anja?
Ia buru-buru mematikan mesin dan segera keluar.
Tepat ketika sepasang mata indah yang begitu dikenalnya juga sedang terpaku menatapnya.
Tiba-tiba ia merasa benci dengan apa yang sedang terjadi.
***
Erzal
Tok! Tok!
Ia yang hendak melajukan kemudi terkejut ketika seseorang tiba-tiba mengetuk kaca pintu di sebelah kiri.
Disusul gerakan cepat Anjani yang melepaskan seat belt dengan wajah gugup.
"Kenapa?" tanyanya tak mengerti.
"Saya udah dijemput," jawab Anjani semakin gugup.
Tok! Tok! Tok!
Orang itu kembali mengetuk kaca mobilnya. Namun kali ini dengan irama ketukan yang lebih cepat.
"Maaf, Mas," Anjani terlihat gugup berkali lipat. Tengah berusaha meraih tas yang tersimpan di jok belakang.
"Sini aku ambilin," ia menghiraukan orang yang terus menerus mengetuk kaca mobilnya. Lebih memilih untuk membantu Anjani meraih tas dan barang-barang bawaan di jok belakang.
***
Cakra
Dengan kepala hampir meledak ia mengetuk kaca samping mobil tersebut berkali-kali. Berharap yang berada di dalam segera keluar.
Ia berusaha menyabar-nyabarkan diri. Tapi tangannya jelas tak terkoordinasi dengan baik. Karena tanpa peringatan apapun telah bergerak membuka handle pintu mobil tanpa permisi.
***
Anja
Ia baru berhasil meraih tote bag, tas laptop dan cooler bag yang diangsurkan oleh Erzal. Ketika pintu di samping kirinya tiba-tiba terbuka.
"Makasih, Mas," ucapnya gugup. Sebelum mengangkat kepala dan bertemu pandang dengan sepasang mata menyala milik Cakra.
Tidak.
***
Cakra
Akhirnya ia bisa melihat dengan jelas wajah Anja. Ya, benar. Ini memang Anjanya.
Rasa rindu yang membuncah membuat sorot mata penuh amarahnya tiba-tiba saja berubah melembut. Terutama ketika bertautan dengan sepasang mata indah yang selalu membuatnya kehilangan akal sehat.
Anja tak mengatakan apapun.
Ia juga diam seribu bahasa.
Namun sepasang mata mereka masih tetap saling bertautan satu sama lain.
***
Anja
Dengan dada sesak seakan terhimpit batu besar, ia terus menatap sepasang mata yang sejenak berubah melembut. Namun sedetik kemudian kembali menyala.
"Abang?" bisiknya dengan suara tercekik hampir menangis.
***
Cakra
Menurut penglihatannya, gerakan Anja keluar dari dalam mobil berjalan dalam mode lambat. Sangat lambat.
Ia bahkan hampir menarik tangan mungil itu agar segera pergi.
"Abang?"
Suara Anja terdengar seperti mau menangis. Dan ini membuat kepala mendidihnya hampir meledak.
"Eh, sori," sebuah suara mengalihkan perhatiannya dari raut murung Anja.
"Tadi Anjani nggak ada temen pulang. Jadi sekalian aja bareng."
"Don't get me wrong (jangan salah paham)."
***
Anja
Selama ini Cakra tak pernah marah padanya. Seburuk apapun perlakuannya terhadap Cakra.
Tapi kali ini berbeda. Ia jelas tak bisa menghiraukan ekspresi wajah Cakra, yang terlihat seolah ingin menelan orang hidup-hidup.
"Don't get me wrong," Erzal pastinya sedang berusaha menetralkan suasana.
Dan sebelum Cakra melakukan hal yang jauh di luar bayangan, ia buru-buru menarik lengan Cakra agar segera menjauh.
"Pulang, Abang," bisiknya dengan suara bergetar.
***
Cakra
Ia hampir tak mampu menguasai diri. Ketika sebuah telapak tangan mungil dan halus menarik lengannya agar segera menjauh dari si don't get me wrong.
Baik. It's okay. Everything under control.
Dengan kepala mendidih ia masih bisa membukakan pintu mobil untuk Anja.
Namun ketika Anja sudah berada di dalam, ia kembali merangsek ke depan.
"Masih ada lagi yang mau lo jelasin?"
***
Anja
Ia hanya bisa menutup wajah dengan kedua tangan. Ketika Cakra kembali berbicara dengan Erzal.
"Huuufft!" dan ia hanya bisa memejamkan mata erat-erat ketika Cakra memukul Erzal sekali. Begitupula sebaliknya.
End of the world.
***
Cakra
Rasanya sudah lama sekali ia tak memukul orang.
"Berani lo?!" si don't get me wrong menggeram marah lalu membalasnya.
Dan rasanya sudah lama sekali ia tak menerima pukulan.
Pedas campur pedih pastinya.
"Gue udah jelasin baik-baik!! Mau diperpanjang?!?"
Ia tak menjawab dan memilih untuk berbalik pergi.
"Pengecut lo!"
***
Anja
Ia masih menutupi wajah dengan kedua telapak tangan, ketika Cakra masuk ke dalam mobil sambil membanting pintu sekeras mungkin.
Ia bahkan masih berusaha mengatur napas, ketika Cakra meraih barang-barang yang berada di atas pangkuannya. Kemudian menyimpannya di kursi belakang.
"Nggak ada yang ketinggalan?" tanya Cakra dengan suara paling kaku yang pernah didengarnya.
Ia tak sempat menjawab. Sebab keburu Cakra menyalakan mesin dan melajukan kemudi meninggalkan tempat parkir.
--------------------------
Cakra tak mengatakan apapun.
Ia juga tak berminat untuk bersuara.
Keheningan yang tak menyenangkan benar-benar menyelimuti sepanjang perjalanan.
Sementara suara pekikan klakson dari pengemudi yang tak sabar terdengar saling bersahutan tiap kali mereka berhenti di lampu merah.
Ia hanya bisa menyandarkan kepala dengan lelah. Berharap semua ini hanyalah sebuah mimpi buruk. Dimana dalam waktu beberapa menit ke depan, ia akan terbangun dari tidur dan melihat wajah bersih Cakra yang sedang tersenyum lebar.
Tapi yang ada justru buliran air matanya berhasil lolos membasahi pipi. Ketika dari pantulan rear vision mirror, tanpa sengaja menangkap bayangan buket mawar merah yang teronggok di kursi belakang.
Oh, ya ampun.
Very bad day (hari yang sangat buruk).