Beautifully Painful

Beautifully Painful
135. Sasa Oh Sasa .... (2)



Pocut


Dengan terseok-seok ia mengikuti langkah panjang dan cepat Mas Tama. Sembari menggendong Sasa yang terus saja menangis terisak-isak.


"Sakiit Mama...."


"Sakiiiiit....."


"Huhuhuhuhu....."


"Iya, sabar ya sayang.....," bisiknya dengan air mata berlinang. Seraya mengusap lengan kanan Sasa yang melingkari leher Mas Tama.


"Mang Jaja tolong ambilin kunci mobil!" seru Mas Tama ke arah Mang Jaja yang terlihat kebingungan.


Namun sebelum Mang Jaja menyadari tugas yang harus segera dilakukan. Seseorang telah lebih dulu membukakan pintu bagian tengah mobil yang mereka tuju.


"Kakak masuk dulu," ujar orang tersebut yang ternyata adalah suami Dara.


Dengan terburu-buru ia segera mengikuti perintah Mas Sada untuk masuk ke dalam mobil. Setelah ia duduk, Mas Tama segera memindahkan Sasa dari gendongan ke atas pangkuannya.


"Sebentar," Mas Tama merogoh saku celana bagian belakang untuk mengeluarkan selembar sapu tangan warna abu.


Dengan gerakan secepat kilat Mas Tama berusaha membalut jari manis tangan kiri Sasa yang telah remuk dan mengucurkan banyak darah itu. Ia bahkan harus memejamkan mata saking tak sanggup untuk melihatnya.


"Tolong pegangin," Mas Tama meletakkan tangan kiri Sasa yang jarinya telah berbalut sapu tangan ke dalam genggamannya.


"Agak diangkat sedikit. Biar darah yang keluar nggak terlalu banyak."


Ia mengangguk-angguk tanda mengerti.


Dengan gerakan cepat Mas Tama segera menutup pintu di samping kirinya. Lalu dengan setengah berlari mengitari mobil untuk naik ke belakang kemudi.


***


Tama


Tujuan utamanya saat ini adalah Klinik milik dokter Edward yang terletak di dekat pintu masuk kompleks. Agar gadis cilik ini bisa segera mendapat pertolongan pertama.


Karena jika ia langsung pergi ke Rumah Sakit terdekat, itu akan cukup memakan waktu. Ia khawatir, gadis cilik ini akan semakin banyak kehilangan darah. Jika tak segera mendapat perawatan medis pertama dari seorang dokter.


Dan jujur saja, ia sudah berkali-kali berada dalam kondisi gawat darurat seseorang. Ia juga sudah sering melihat orang berlumuran darah. Ia bahkan pernah melepaskan tembakan (pada tersangka) karena terpaksa.


Tapi ketika melihat seorang gadis cilik menangis meraung-raung dengan jari yang telah hancur dan mengucurkan darah tanpa henti. Hatinya mendadak dilanda rasa gugup yang luar biasa.


Dipacunya mobil dengan kecepatan tinggi. Hingga dalam waktu kurang dari sepuluh menit ia telah berhasil menepikan kemudi ke deretan ruko yang terletak tak jauh dari pintu masuk kompleks.


Lalu menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah apotek. Yang menjadi bagian muka dari Klinik dokter Edward.


Dengan cepat ia segera turun dari mobil. Lalu membuka pintu kedua bagian samping. Guna meraih gadis cilik yang masih terisak-isak dari pangkuan ibunya.


Tanpa menunggu dengan setengah berlari ia langsung masuk ke dalam apotek sambil berseru, "Emergency, Mba! Emergency!"


Seorang petugas mengarahkannya untuk memasuki ruang tunggu Klinik yang berada di belakang apotek. Sementara seorang perawat berbaju putih memintanya untuk masuk ke dalam ruang tindakan yang kebetulan sedang kosong.


"Kenapa ini Pak Tama?" tanya perawat yang ternyata mengenal namanya.


"Jarinya kejepit jungkat-jungkit, Sus. Tolong segera di ambil tindakan."


"Baik...baik...."


Ia pun merebahkan gadis cilik yang terisak-isak itu ke atas tempat tidur periksa. Namun lengan si gadis cilik seolah tak mau terlepas dari lehernya.


"Wah, lumayan parah ini Pak Tama," ujar perawat yang telah memeriksa sekilas keadaan jari gadis cilik dalam gendongannya ini.


"Saya panggilkan dokter Edward dulu sebentar."


"Segera ya, Sus."


"Baik, Pak Tama."


Ia pun kembali berusaha merebahkan gadis cilik dalam gendongannya ke atas tempat tidur periksa. Namun lengan gadis cilik ini masih melingkari lehernya erat-erat.


"Sasa sayang....," suara seorang wanita tiba-tiba terdengar dari arah sebelah kanannya.


Oh ya, ia sampai lupa kalau datang ke klinik ini bersama ibu si gadis cilik.


"Turun dulu nak...."


Tanpa menoleh pun ia sudah tahu jika Pocut berbicara sembari berlinangan air mata. Getaran suaranya jelas menyiratkan ketakutan dan kekhawatiran.


"Biar diperiksa dokter...."


"Biar Sasa cepat sembuh...."


Gadis cilik ini kian mengeraskan suara tangisannya. Namun mengikuti nasehat sang ibu untuk mau diturunkan dari gendongannya.


"Sakiit bangeet Maa...," isakan gadis cilik ini membuat hatinya trenyuh.


"Iya....Mama tahu Sasa jarinya sakit...."


"Sabar ya sayang....."


"Sebentar lagi dokter datang untuk bantu sembuhkan Sasa....."


Ia hanya bisa memperhatikan interaksi menghanyutkan antara seorang ibu dengan anak perempuannya dengan hati tak karuan.


Mendadak ingatannya melayang pada Reka, putra semata wayangnya.


Kira-kira apa yang sedang dilakukan oleh Reka sekarang? Terakhir kali mereka bertemu hampir dua minggu yang lalu. Sebelum ia bertolak ke Singapura untuk merayakan lebaran di sana.


Semoga kamu baik-baik saja di sana, nak, batinnya masygul.


"Ada apa Mas Tama?!" suara tergesa dokter Edward muncul dari bagian belakang klinik. "Siapa yang emergency?"


"Ini...tolong, Dok. Kejepit mainan jungkat-jungkit."


"Ya Tuhan," dokter Edward segera memerintahkan perawat untuk menyiapkan peralatan.


Diperhatikannya Pocut terus menggenggam tangan kanan gadis cilik itu erat-erat. Sementara dokter Edward mulai melakukan pemeriksaan sekaligus pertolongan pertama.


"Sakiiit Maaa.....," rengek gadis cilik itu berulang kali.


"Iya sayang....sakit ya.....sabar ya.....," jawab Pocut dengan suara bergetar.


Dengan sigap dokter Edward dan perawat membantu membersihkan luka di jari manis gadis cilik tersebut. Mengusahakan agar darah yang mengucur sedikit berkurang.


Tapi tanpa menunggu lama dokter Edward mengatakan hal yang kurang menyenangkan padanya, "Maaf, Mas Tama...."


"Kondisi ananda cukup parah."


"Harus segera di bawa ke rumah sakit."


"Karena satu ruas jarinya telah hancur."


"Kemungkinan besar telah mengenai ujung tulang dan juga sarafnya."


***


Pocut


"Come on....come on...."


Berkali-kali Mas Tama bergumam sendiri ketika arus lalu lintas mulai tersendat. Akibat kepadatan volume kendaraan di jalur yang mereka lewati.


"****!"


Mas Tama bahkan tak ragu untuk memaki ketika jalannya terhalang oleh kendaraan lain.


DIN! DIN! DIIIIN!!!


Mas Tama juga sering membunyikan klakson ketika kendaraan di depan mereka tak mau memberi jalan.


"Jarak lima kilo ditempuh dalam waktu setengah jam!"


Kali ini Mas Tama bicara sendiri sembari matanya sesekali mengecek aplikasi navigasi lalu lintas melalui ponsel yang tersimpan di atas dashboard.


"Jakarta oh Jakarta! Macet dimana-mana!"


Ia pun berusaha mengabaikan gerutuan Mas Tama karena Sasa mulai merengek lagi. Padahal sejak pergi dari klinik, Sasa bisa duduk dengan tenang di atas pangkuannya.


"Maa...."


"Iya Sa....."


"Sakiiit lagi Maaa...."


Ia mengusap lengan Sasa lalu mencium rambut putri bungsunya itu dalam-dalam. Berusaha mentransfer kekuatan yang ia miliki pada Sasa.


"Sabar ya sayang....," bisiknya sembari menahan air mata yang kembali berlesakan ingin keluar.


"Sebentar lagi kita sampai...."


***


Tama


Setelah melalui perjalanan panjang menembus kepadatan lalu lintas yang cukup menguras emosi. Akhirnya ia berhasil menepikan kendaraan ke halaman sebuah rumah sakit yang jaraknya paling dekat dari Klinik dokter Edward.


"Aku berhenti di depan IGD," ujarnya sambil mengarahkan kemudi menuju bangunan gedung bertuliskan Instalasi Gawat Darurat.


"Kamu turun dulu."


"Langsung masuk ke dalam."


"Nanti ada dokter jaga di sana."


Dari pantulan rear vission mirror terlihat Pocut menganggukkan kepala berkali-kali.


"Aku cari parkir dulu. Nanti nyusul."


Setelah menurunkan Pocut dan putrinya tepat di depan pintu gedung IGD. Ia segera memacu kendaraannya menuju ke area parkir basement.


Sempat berputar-putar cukup lama karena kondisi area parkir lumayan penuh. Sekitar sepuluh menit kemudian barulah ia memperoleh tempat yang kosong.


"Brengsek!" makinya sambil membanting pintu.


"Nyari parkir aja susah!"


Dengan setengah berlari ia masuk ke dalam gedung rumah sakit melalui lobby belakang. Kemudian naik lift menuju ke lantai 1. Tempat dimana ruang IGD berada.


"Mas, pasien yang baru datang....anak kecil perempuan....di sebelah mana ya?" tanyanya pada seorang berpakaian hijau yang berdiri paling dekat dengan pintu masuk ruang IGD. Sedang sibuk memeriksa lembaran kertas berwarna-warni hasil rekam medik para pasien.


"Yang kejang atau luka jari tangan?"


"Luka jari tangan."


"Di belakang coba. Tadi masih di observasi oleh dokter."


"Baik, terima kasih."


Dengan langkah panjang diperiksanya satu per satu orang yang berada di dalam tirai ruang IGD.


Setelah hampir putus asa karena tak kunjung menemukan Pocut dan putrinya. Ia bisa bernapas lega ketika di tirai terakhir, terlihat Pocut sedang dalam posisi duduk sembari memeluk putrinya.


"Gimana?"


Pocut menoleh sebentar ke arahnya sebelum menjawab, "Barusan sudah diperiksa dokter."


"Untuk memastikan keadaan mau di rontgen dulu."


Ia mengangguk mengerti. Lalu berdiri mendekat ke bagian kaki tempat tidur. Memperhatikan gadis cilik malang yang masih tersedu sedan.


Ketika ia hendak kembali bertanya, tiba-tiba terdengar suara tirai dibuka dari arah luar.


Sreeeekk!!


"Permisi Pak....Bu...."


Seorang petugas berpakaian hijau menyapa mereka.


"Saya minta waktunya sebentar untuk pengisian data."


Ia mengangguk.


"Nama lengkap pasien?"


"Rumaisha....," ujar Pocut karena ia tak segera menjawab.


"Cut Rumaisha Ishak....."


"Usia?"


"Enam tahun."


"Baik, terimakasih."


"Sebentar lagi adik Rumaisha akan pergi ke ruang radiologi untuk di rontgen ya Pak, Bu."


"Nanti ada petugas yang akan membantu."


Lima menit kemudian seorang petugas yang juga berpakaian hijau masuk ke dalam tirai.


"Mari, kita pergi ke ruang radiologi sekarang."


"Mau pakai kursi roda?" tawar petugas tersebut seraya menunjuk kursi roda yang dibawanya.


Tapi ia menggeleng, "Biar saya gendong sendiri saja."


Dengan langkah cepat dan panjang, ia dan Pocut mengikuti petugas menuju ke ruang radiologi yang berada tak jauh dari IGD.


Setelah gadis cilik itu selesai di rontgen, mereka pun kembali ke ruang IGD untuk menunggu hasilnya.


"Silakan ditunggu sekitar sepuluh sampai lima belas menit."


"Nanti ada dokter yang akan menjelaskan hasilnya."


Selama menunggu kedatangan dokter, ia hanya berdiri di bagian kaki tempat tidur. Sementara Pocut terus menenangkan putrinya yang mulai merengek.


"Jari Sasa kenapa masih sakit, Ma?"


"Iya sayang....sabar ya.... obatnya lagi bekerja...."


"Rasanya kayak digigit si empuss tapi sakitnya nggak ilang ilang...."


"Sasa pernah digigit empus?"


"Gara-gara Bang Umay yang gangguin empuss. Malah Sasa yang diserang."


Dengan penuh kelembutan Pocut membelai rambut putrinya.


"Sebentar lagi sakitnya hilang....kalau obatnya udah masuk ke dalam semua...."


"Mama tahu Sasa anak yang kuat dan sabar...."


"Tapi jari Sasa nggak akan ilang kan, Ma?"


"Nggak kenapa-kenapa kan, Ma?"


Pocut menggelengkan kepala, "Iya...In syaAllah jari Sasa nggak akan kenapa-kenapa. Kan tadi sudah diperiksa sama pak dokter. Dua kali lagi."


Sreeeekk!


Suara tirai dibuka kembali terdengar.


"Selamat petang...."


"Saya dokter Hanggara yang menangani pasien."


Ia mengangguk dan berjalan mendekati dokter Hanggara.


"Dari hasil rontgen yang telah dilakukan terhadap pasien...," dokter Hanggara terlihat memeriksa catatannya sebentar. "Rumaisha....."


"Terdapat sedikit bagian ujung tulang jari manis tangan kiri yang hancur."


"Tepat di bagian ujung tulang jari yang terdapat saraf."


"Dan karena luka yang terlalu parah. Saraf sudah tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya."


"Sudah mati. Tidak bisa diatasi lagi."


"Jadi...dengan berat hati saya sampaikan...pasien Rumaisha harus diamputasi jari manisnya sepanjang satu ruas...."


"Agar infeksi tidak menjalar ke bagian tubuh yang lain."


***


Pocut


Air matanya langsung menganak sungai begitu mendengarkan penjelasan yang disampaikan oleh dokter Hanggara.


"Mama....Mama kenapa nangis...."


"Amputasi itu apa, Ma?"


"Mama jangan nangis....nanti Sasa jadi sedih...."


Ia hanya bisa menyusut sudut mata sembari mencoba tersenyum. Memperlihatkan pada Sasa jika semuanya baik-baik saja.


"Mama kok malah nangis terus sih?"


"Kan Sasa udah nggak nangis lagi."


"Sekarang gantian Mama yang nangis."


"Jangan nangis Ma....Sasa sebentar lagi pasti sembuh...."


"Kan kata Mama tadi obatnya lagi bekerja...."


"Nanti....kalau obatnya udah masuk semua....Sasa langsung sembuh...."


Bukannya memperbaiki suasana hati, ucapan Sasa justru membuat air matanya semakin berlinangan.


"Apa nggak ada second opinion, Dok?"


Ia mendengar Mas Tama berbicara dengan dokter Hanggara.


"Rumaisha ini masih kecil. Masih dalam masa pertumbuhan."


"Apa tindakan amputasi memang begitu urgent?"


"Tidak ada cara penyembuhan lain tanpa harus diamputasi?"


"Kami tentu harus memikirkan masa depan Rumaisha jika kehilangan satu ruas jarinya."


Telinganya bahkan tak sanggup lagi untuk mendengarkan pembicaraan antara Mas Tama dan dokter Hanggara. Hanya bisa menggigit bibir menahan diri agar isakan yang keluar tak terlalu keras.


"Mama....kok masih nangis, Ma?"


Rengekan dan pertanyaan Sasa semakin membuatnya tak mampu berpikir jernih. Jadi, ketika Mas Tama mendekat untuk bertanya tentang keputusannya. Apakah menyetujui tindakan amputasi jari manis tangan kiri Sasa atau tidak.


Ia hanya bisa bergumam lirih, "Saya....nggak tahu...."


"Bagaimana....baiknya saja....menurut dokter....."


Mas Tama terdengar menghela napas panjang. Kemudian Mas Tama mulai menerangkan indikasi medis apa saja yang dimungkinkan bisa terjadi jika jari manis Sasa tidak segera diamputasi. Termasuk menjelaskan dampak positif dan negatif antara diamputasi atau tidak.


"Tadi dokter bilang....ujung jari merupakan daerah pusat syaraf," ujar Mas Tama dengan penuh kehati-hatian sembari menatapnya lekat-lekat.


"Kalau nggak langsung ditangani, bisa semakin parah."


"Luka yang mengalami infeksi....juga bisa merambat ke jaringan lain yang sehat."


Ia mengangguk dengan hati tak karuan.


"Meski nanti kehilangan satu ruas jari....tapi secara keseluruhan jari masih bisa berfungsi dengan normal."


Ia hanya bisa mengusap rambut Sasa sambil sesekali menyusut sudut mata.


Mas Tama menghela napas panjang sebelum berkata pelan, "Kamu punya hak untuk menolak."


"Tapi dengan konsekuensi kesehatan yang saya sebutkan tadi."


"Sekarang kamu pikirkan baik-baik dulu...."


"Atau...mau menelepon ibu kamu mungkin? Untuk meminta pendapat?"


Ia yang benar-benar tak mampu berpikir dengan tenang hanya bisa menghela napas panjang berkali-kali. Sebelum akhirnya berkata lirih.


"Bagaimana....yang terbaik saja...."


"Karena saya....benar-benar....tidak tahu....apa yang harus dilakukan...."


Tak lama kemudian petugas wanita yang tadi mengantarkan ke ruang radiologi kembali mendatangi mereka.


"Bagaimana, Pak? Putrinya jadi diamputasi atau tidak?"


Mas Tama tak langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh petugas. Justru melihat ke arahnya sambil menghembuskan napas panjang.


Tanda sadar ia pun ikut menghembuskan napas panjang. Berharap bisa mengurangi sesak di dada.


Sembari berbisik di dalam hati bismillah, ia menganggukkan kepala ke arah Mas Tama yang masih memandanginya.


"Jadi, Sus," jawab Mas Tama dengan mata yang terus menatapnya.


"Baik," petugas tersebut menyerahkan papan berisi dokumen pada Mas Tama.


"Silakan bapak isi dan tandatangani terlebih dahulu surat persetujuan tindakan medis untuk putri Bapak."


"Nanti lima menit lagi saya kembali."


Dengan berat hati Mas Tama terlihat menerima dokumen yang diberikan oleh petugas. Lalu berjalan mendekatinya.


"Namanya....Rumaisha siapa tadi?" bisik Mas Tama yang telah menarik kursi dan mendudukkan diri di sebelahnya.


"Cut Rumaisha Ishak."


"Tempat tanggal lahir?"


"Jakarta, 21 Juni 2xxx."


Tak sampai sepuluh menit kemudian, petugas wanita yang tadi telah kembali.


"Sudah selesai diisi, Pak?"


"Sudah," jawab Mas Tama seraya bangkit untuk menyerahkan papan berisi dokumen.


"Baik, coba saya bacakan lagi ya Pak untuk memastikan...."


"Nama pasien...."


Petugas wanita tersebut mulai menyebutkan poin-poin yang tertulis di dalam surat persetujuan tindakan medis.


Sementara Mas Tama menjawab dengan kata betul atau iya atau hanya sekedar menganggukkan kepala.


"Baik, sudah terisi semua," petugas itu membolak-balik lembaran dokumen di tangannya.


"Tapi ada yang kurang belum ditandatangani...."


Mas Tama mendekat ke arah petugas wanita tersebut.


"Boleh di sebelah sini Pak Ishak....."


"Di sini juga...."


"Maaf, Sus....," sela Mas Tama. "Tapi nama saya bukan Ishak."


"Oh, maaf, saya pikir nama Bapak adalah Ishak."


"Baik....sekarang untuk yang terakhir...boleh tanda tangan di kolom yang sebelah sini Ayah Cut Rumaisha....."


***


Keterangan :


Ruang radiologi. : ruangan untuk melakukan pemeriksaan medis yang menggunakan sejumlah media, seperti sinar-X, medan magnet, gelombang suara, dan cairan radioaktif.


Jenis pemeriksaan radiologi antara lain :


Foto rontgen, fluoroskopi, USG, CT/CAT Scan, MRI Scan, PET (positron emission tomohraphy, pemeriksaan nuklir) Scan (sumber : alodokter.com)