
Anja
Sejak awal ia bahkan tak mampu mengalihkan pandangan barang sedetik pun. Pada sesosok mungil berkulit merah berambut lebat yang kini sedang telungkup di atas perutnya. Tengah di adzani dengan penuh kelembutan oleh Cakra.
Love at the first sight.
Tubuh mungil yang teramat halus namun rapuh itu terasa hangat tatkala menyentuh permukaan kulitnya. Menghantarkan panas yang menjalar hingga seluruh tubuhnya membuncah sebab rasa bahagia tak terperi.
Pun bobot tubuh mungil yang bertumpu di atas perutnya itu telah berhasil membuat mata kembali basah. Sekaligus memantik ribuan rasa tak terhingga yang menyesakkan dada.
"Pakai topi ya cakep, biar nggak dingin," seloroh Bidan Karunia seraya meletakkan topi rajut bayi berwarna putih untuk menutupi rambut lebat itu.
"Topinya keren banget lho," seloroh Bidan Karunia lagi. "Unik."
"Nenek yang buat," bisiknya sambil tersenyum.
Mamak yang kini telah berdiri di samping kirinya pun ikut tersenyum. Sambil sesekali membelai rambutnya.
"Dedenya bisa sambil dipegangi ya, biar nggak jatuh," ujar Bidan Karunia lagi.
Membuatnya memberanikan diri untuk mendekap sosok mungil yang masih saja menangis kencang hingga lengkingannya terdengar memekakkan telinga.
"Nggak apa-apa nangis, biar sehat," ujar Bidan Karunia lagi seolah mengerti isi hatinya.
"Nanti kalau sudah merasa nyaman, dedenya akan diam sendiri. Mulai mencari sumber kehidupan," pungkas Bidan Karunia.
Dengan tangan gemetaran ia terus mendekap sosok mungil itu. Sementara airmata tak berhenti meleleh membasahi pipi.
Ketika ia masih belum mampu menguasai diri, sebuah telapak tangan lain ikut membelai tubuh mungil nan rapuh di atas perutnya. Sontak membuatnya beralih memandang si pemilik tangan.
Tik! Tik! Tik!
Waktu seakan berhenti saat mata berlinangnya bersitatap dengan mata memerah Cakra. Saling bertautan seolah mereka tengah meluapkan kelegaan hati masing-masing.
Namun ketika masih saling menatap, Cakra perlahan mulai mendekatkan wajah. Kemudian mencium keningnya lembut. Lebih dalam dan lama dibanding yang Cakra lakukan beberapa saat lalu. Sembari berbisik lirih,
"Terimakasih, sayang."
Bisikan sederhana yang mampu merekahkan senyum penuh kebahagiaan.
Tangannya bahkan refleks mengusap pipi Cakra yang masih menundukkan kepala. Karena kini sedang berusaha mencium pipinya.
"Mama terhebat."
Dan bisikan kedua berhasil memancingnya untuk meremas rambut Cakra dengan penuh cinta.
Kini sosok mungil berkulit merah berambut lebat yang telungkup di atas perutnya tak lagi menangis kencang. Mulai bergerak dengan menendang, menggerakkan kaki, bahu, juga lengan.**
Sosok mungil itu terus bergerak membentur-benturkan kepala ke atas dadanya.## Sambil membuka mulut kecilnya, seolah sedang mencari sesuatu.
"Nah, kan ... sudah mulai pintar," ujar Bidan Karunia sambil membereskan peralatan.
"Go get it, boy," bisik Cakra yang kini telah duduk di sebuah kursi yang tersimpan tepat di samping tempat tidurnya.
Sembari meletakkan dagu di atas bantal. Hingga hembusan hangat napas Cakra terasa meniup-niup pipinya lembut.
"Lucu banget," gumamnya tak mampu menyembunyikan ketakjuban. Ketika kepala mungil itu terus bergerak membentur-bentur dadanya.
"Anak kita," bisik Cakra dengan bibir menempel di telinganya.
Membuat tubuhnya seolah langsung terbang ke awan. Hingga lupa diri dan tanpa rasa malu sedikitpun balas berbisik, "I love you."
"Aku tahu," Cakra kembali berbisik di telinganya dengan senyum diku lum.
Lalu sedetik kemudian Cakra mencium pipinya lembut seraya bergumam, "Love you both."
Setelah hampir satu jam, akhirnya sosok mungil berkulit merah berambut lebat itu berhasil meraih dirinya.
Dan keajaiban lain kembali terjadi di depan mata. Ketika mulut mungil itu berusaha meraih dirinya dengan penuh antusiasme.
Clap! Clap! Clap!
Membuatnya tak mampu menahan tawa seraya mengerling ke arah Cakra. Yang juga tengah takjub memandangi keajaiban yang membahagiakan.
"Like father like son," bisiknya sambil menahan tawa.
Cakra sempat tertegun sebentar. Namun sejurus kemudian balas mengerling, "Definitely!"
"Sepertinya kami punya hobi yang sama," lanjut Cakra sambil menatapnya penuh arti.
"Cakra, ih!" gerutunya sebal. Baru menyadari jika ia telah memilih padanan kalimat yang keliru.
Membuat Cakra terkekeh-kekeh senang. Namun segera menghentikan tawa begitu Mamak memberi tatapan memperingatkan.
Dan sosok mungil berkulit merah berambut lebat yang dalam sekejap telah begitu dicintainya itu, berhasil mencecapinya selama beberapa menit.
"Pinter dedenya," Bidan Karunia mengacungkan dua jempol dengan antusias.
"Memang ASInya sudah keluar ya, Bu?" tanyanya ingin tahu.
"Biasanya belum," Bidan Karunia tersenyum menenangkan.
"Tapi ... proses IMD akan merangsang colostrum cepat keluar, melatih pu ting agar mudah diraih, dan mempercepat produksi ASI."
"Biasanya di hari ketiga, ASI sudah lancar," pungkas Bidan Karunia.
Ia tersenyum mengangguk. Seraya terus mengusap kepala mungil berambut lebat itu.
Sementara Cakra membelai rambutnya, sembari menatapnya dan menyunggingkan senyum bahagia.
"Nanti lagi ya ...." akhirnya Bidan Karunia meraih sosok mungil di atas dadanya.
"Sekarang biar dedenya pakai baju dulu."
Dengan berat hati, ia terpaksa melepas dekapan pada sosok mungil itu.
"Jangan lama-lama ya, Bu," ujarnya merasa tak rela.
"Wooo lah, padahal dede bayi ganteng mau ibu ajak makan baso dulu di pasar. Gimana, boleh nggak?" seloroh Bidan Karunia yang langsung disambut gelak tawa semua orang.
"Tenang Mba Anjani, nggak akan kemana-mana kok. Nanti habis ini bisa dipeluk lagi," Bidan Karunia tersenyum lebar karena telah berhasil menggodanya.
Kini di dalam ruang perawatan tinggal mereka bertiga. Cakra yang tengah membelai rambutnya. Serta Mamak yang mengusap tangannya perlahan.
"Makasih banyak, Mak," bisiknya ke arah Mamak.
Kalau bukan karena dukungan dari Mamak, mungkin ia takkan pernah bisa melalui hal semenakjubkan ini dalam nuansa penuh penerimaan.
-------
Karena tanpa seorangpun tahu, ketika Mamak tiba-tiba menggenggam erat tangannya dengan mata berkaca-kaca. Mamak membisikkan kalimat sakti yang berhasil memancing daya juangnya.
"Tak ada melahirkan anak yang tak sakit, Anjani."
"Mau normal, mau caesar, semuanya pasti terasa sakit."
"Mungkin secara ilmu medis, ada obat atau perawatan eksklusif yang mampu meminimalisir rasa sakit."
"Tapi tetap saja, rasa sakit itu pasti ada."
"Anjani sayang anak Mamak....."
Di sini ia mulai tak kuasa menahan linangan airmata.
"Kalau nanti rasa sakit itu datang, sabar saja ya nak."
"Hadapi saja."
"Karena ini adalah jalan mulia yang harus dihadapi oleh seorang ibu."
"Semua ibu yang akan melahirkan tanpa kecuali."
"Siapapun. Dimanapun."
"Mungkin nanti Anjani ada keinginan untuk berteriak atau marah ketika rasa sakit datang."
"Itu karena kita terlalu fokus pada rasa sakit."
"Membuat sakit yang dirasa seakan bertambah terus tiada habisnya."
"Tapi meski kita berteriak sekuat apapun. Takkan mampu mengurangi rasa sakit, Anjani."
"Tidak sedikitpun."
"Justru akan bertambah-tambah."
"Lalu tenaga kita akan habis sebelum waktunya."
"Itu akan merugikan kita."
Kini Mamak mulai menyeka airmatanya yang menganak sungai. Lalu menggenggam tangannya erat-erat seolah ingin memberi kekuatan.
"Terima saja rasa sakit itu."
"Sabar...ikhlas....banyak mengucap doa....berdzikir...."
"Itu akan membuat proses persalinan terasa lebih cepat."
"Dan rasa sakit segera menghilang."
Ia pun buru-buru menyusut hidung akibat tangis berkepanjangan. Lalu menatap Mamak dalam-dalam.
"Aku sayang sama Mamak."
"Maafin aku, Mak, selama ini belum bisa berbakti."
Mamak langsung meraih bahunya. Lalu mereka bertangisan bersama.
"Mamak juga sayang sama Anjani."
"Sayang sekali."
Kemudian Mamak mengusap punggungnya lembut. Sembari berbisik,
"Yang lebih berhak mendapat permintaan maaf dari Anjani itu Mama Anjani sendiri."
"Bukan Mamak."
-------
Mamak menggenggam erat-erat tangannya sambil tersenyum, "Terimakasih banyak Anjani, sudah melahirkan cucu untuk Mamak."
"Semoga cepat pulih ya, nak. Cepat sehat."
Cakra yang sedang membelai rambutnya ikut-ikutan tersenyum simpul, "Episode nangis-nangisnya masih berlanjut nih?"
"Stok airmata kamu kayaknya tak terhingga ya? Dari tadi nggak habis-habis," lanjut Cakra sambil menyeringai.
BUG!
Ia pun buru-buru memukul dada Cakra sambil bersungut kesal, "Mak, Cak...eh Agam nih! Gangguin orang melulu kerjaannya!"
"Ngeselin!"
Sontak membuat Cakra tergelak. Namun langsung terdiam begitu Mamak menegur, "Agam!"
Ia pun mencibir penuh kemenangan ke arah Cakra yang sedang tertawa tanpa suara. Bertepatan dengan munculnya Kak Pocut di depan pintu ruang perawatan.
"Kak....," serunya senang.
"Anjani sudah melahirkan?" tanya Kak Pocut heran sambil bergegas memasuki ruangan.
"Tadi kata Agam sehabis Ashar?" lanjut Kak Pocut tak mengerti.
"Makanya aku cepat-cepat kemari biar gantian jaga sama Mak."
"Orang udah brojol duluan," seloroh Cakra. "Nggak usah nunggu Ashar."
"Alhamdulillahirabbil'alamiin," Kak Pocut langsung mengucap syukur sambil memeluknya yang masih berbaring.
"Gangsar ya Anjani?"
"Berkat doa semua orang yang menyayangi Anjani," ralat Mamak balas tersenyum.
"Alhamdulillah," Kak Pocut lagi-lagi mengucap syukur.
"Sekarang bayinya di mana?" Kak Pocut mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
"Lagi sama Bu Bidan," Mamak yang menjawab. "Sebentar lagi dibawa kemari."
"Oh," Kak Pocut menganggukkan kepala.
Kemudian mulai membongkar isi tas yang dibawanya.
"Anjani lapar nggak? Ini kakak bawa ayam tangkap sama baso sama....."
"Kakak bawa baso?" tanyanya antusias.
"Iya," Kak Pocut mengangguk. "Tadi sekalian beli perlengkapan bayi. Mampir sebentar ke gerobaknya Mas Warno."
"Anjani mau?"
"Nanti kakak hangatin dulu, ikut di dapur Bu Bidan."
"Mau....mau...," ia menganggukkan kepala berkali-kali dengan gembira.
Rasa lelah usai proses persalinan membuatnya merasa begitu lapar.
Namun sebelum Kak Pocut beranjak keluar, Bidan Karunia telah lebih dulu masuk ke dalam ruang perawatan sambil menggendong bayi.
Iya, bayinya.
Buah cintanya.
"Ini nih jagoan kita sudah makin cakep, sudah pakai baju," seloroh Bidan Karunia sambil tersenyum lebar.
Membuat Cakra dengan cekatan segera membantunya untuk duduk. Lalu mengganjal punggungnya dengan dua buah bantal.
"Enakan?" tanya Cakra.
Ia mengangguk. "Enak."
"Wah, ada Pocut di sini?" tanya Bidan Karunia begitu melihat Kak Pocut.
"Iya, Bu. Lama tak bertemu. Apakabar Bu Bidan?" sapa Kak Pocut sambil tersenyum.
"Alhamdulillah, baik," jawab Bidan Karunia. "Cuma makin tua saja sekarang."
"Ah, ibu masih muda kok....," Kak Pocut menggelengkan kepala tanda tak setuju.
Lalu Bu Bidan, Kak Pocut dan Mamak tertawa bersama.
"Ini nih dedenya....," lanjut Bidan Karunia seraya menunjukkan sesosok mungil berpipi bulat yang kini telah dibedong rapi. Dan berselimut rajut warna putih buatan Mamak.
"MasyaAllah," seru Kak Pocut begitu melihat wajah mungil yang kini telah berada dalam buaian Mamak.
"Tampan sekali kamu, sayang," ujar Kak Pocut dengan mata berbinar. "Rambutnya juga lebat."
"Seperti Mamanya, rambutnya hitam dan lebat," timpal Cakra sumringah.
"Pastinya. Papa Mamanya ganteng dan cantik, wajar kalau dedenya juga ganteng," seloroh Bidan Karunia yang ikut menatap wajah mungil menggemaskan itu dengan mata berbinar.
Membuatnya semakin merasa tak sabar untuk segera menggendong sang buah hati.
Dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Mamak seolah bisa memahami isi hatinya. Segera menyerahkan sosok mungil berbalut selimut warna putih itu padanya.
***
Cakra
Ia tak henti-hentinya memandangi bayi mungil yang sedang berada dalam buaian Anja. Ketika Anja bersungut ke arahnya dengan wajah tak rela.
"Kenapa mirip kamu?"
Sontak semua orang yang ada di dalam ruang perawatan tertawa mendengar kalimat yang diucapkan Anja.
"Ya mirip Papanya kan, ganteng," seloroh Bidan Karunia sambil menyerahkan sebuah buku padanya.
"Ini buku kesehatan ibu dan bayi," terang Bidan Karunia.
"Surat keterangan lahir saya selipkan di dalam. Untuk keperluan membuat akta kelahiran," lanjut Bidan Karunia.
"Terimakasih banyak, Bu," ia tersenyum mengangguk.
"Sama-sama, Gam," Bidan Karunia menepuk bahunya.
"Selamat ya, sudah jadi Papa."
"Sekarang tinggal pemulihan untuk Mba Anjaninya."
"Besok pagi sudah bisa pulang ke rumah."
Sepeninggal Bidan Karunia ke luar ruangan, ia segera membuka buku bersampul warna pink itu dengan antusias.
Dan semakin antusias begitu menemukan lembar berisi cap kaki bayi beserta keterangannya.
PERSALINAN
RUMAH BERSALIN : Bidan Karunia Sejati
TANGGAL. : 4 Juli 2xxx
JAM. : 13.40 WIB
JENIS PERSALINAN : Spontan Kepala
[ Cap Dua Kaki Bayi ]
LAKI-LAKI
3,000 Gram
50 Cm
APGAR 8 | 10
Lingkar Kepala 37 Cm
Ia masih membaca keterangan lain yang tertulis di dalam buku, ketika telinganya mendengar Mamak berkata,
"Anjani, Mamak pulang dulu ya."
"Mau lihat anak-anak di rumah sendirian."
"Sekarang Anjani ditemani Kak Pocut."
"Iya, Mak," Anja tersenyum mengangguk. "Makasih banyak udah menemani."
Mamak tersenyum mengangguk.
"Kalau gitu aku ikut pulang, Mak," ujarnya cepat.
"Aku pulang dulu ya, Ja," lanjutnya sambil mendekati Anja.
"Kenapa pulang?" Anja mengernyit.
"Anterin Mamak. Sekalian mau nyuci kain bekas lahiran," ujarnya sambil menunjuk bungkusan plastik putih berisi kain bekas persalinan yang tergeletak di atas lantai.
"Mumpung cuaca panas."
"Nanti habis Ashar aku ke sini lagi."
Anja menganggukkan kepala tanda setuju.
Ia tentu harus menghitung waktu dengan cermat. Karena nanti malam harus tetap berangkat kerja.
Usai menyelesaikan semua cucian bekas proses persalinan. Ia pun bersiap kembali menemani Anja di ruang perawatan. Sekalian membawa seragam dan sepatu kerja. Karena nanti malam ia berencana akan berangkat dari tempat Bidan Karunia.
Begitu melihatnya muncul di ruang perawatan, Kak Pocut langsung pulang. Hingga kini tinggal mereka berdua.
Oh, salah. Bertiga dengan bayi mereka yang tengah berada dalam buaian Anja.
"Dari tadi digendong terus, Ja?" tanyanya heran.
Anja mengangguk.
"Nggak pegel?"
Anja menggeleng.
"Sini gantian aku yang gendong."
Anja langsung mengernyit, "Jangan! Aku masih pingin gendong."
Ia hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum. Kemudian memilih mendudukkan diri di atas tempat tidur. Tepat di belakang Anja. Dadanya bahkan melekat sempurna di punggung Anja.
"Kamu nggak cape dari tadi begini?" bisiknya sambil menyimpan dagu di bahu Anja.
"Belum tidur?" tanyanya lagi.
Anja menggeleng seraya berkata, "Bener kata Mamak. Kita bisa langsung lupa rasa sakit waktu melahirkan begitu lihat bayi yang baru lahir."
Ia merangkum bahu Anja lembut. Lalu mengusapnya perlahan.
"Dia lucu ya?" lanjut Anja sambil terus memandangi bayi yang tengah tertidur nyenyak.
Ia mengangguk setuju.
"Kata Bu Bidan, tiap dua jam sekali harus kita bangunin."
"Kenapa?" tanyanya tak mengerti.
"Karena bayi perlu disusui tiap dua sampai tiga jam sekali. Agar kebutuhan kalorinya terpenuhi."
"Oh," ia mengangguk. "Berarti kamu harus pasang alarm."
"Ah, nggak usah," Anja mencibir. "Aku ingat kok dia terakhir bangun jam berapa."
Ia hanya tersenyum sembari mengusap pipi bulat dalam buaian Anja.
"Kamu lapar nggak?"
Anja menggeleng, "Udah makan ayam tangkap yang dibawain sama Kak Pocut."
"Nanti kalau lapar, aku kupasin telor," ujarnya sambil mengarahkan jari telunjuk ke atas meja.
"Tadi Mamak rebusin telor banyak buat kamu."
"Katanya bagus buat yang habis melahirkan."
"Iya, nanti," Anja mengangguk dengan kepala terus menunduk. Memandangi bayi mungil yang masih terlelap.
"Tadi begitu kamu melahirkan, aku langsung nelepon Mama sama Teh Dara," ujarnya lagi.
"Kasih kabar kalau kamu udah melahirkan jam dua kurang."
"Lebih cepat dari perkiraan bidan di waktu Ashar."
Sontak membuat Anja mendongak menatapnya, "Aku mau nelepon Mama sekarang."
***
Keterangan :
**. : stimulasi ini akan membantu rahim berkontraksi sehingga mempercepat penyembuhan pasca melahirkan (sumber : kumparan.com)
##. : membentur-benturkan kepala ke dada ibu, merupakan stimulasi yang menyerupai pijatan pada payu dara ibu. Yang dapat merangsang kelenjar ASI.
Colostrum. : zat berbentuk cairan pertama yang keluar setelah melahirkan, sebelum ASI yang sebenarnya muncul. Zat ini mengandung protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, dan protein (antibodi) yang melawan bibit penyakit seperti bakteri dan virus (sumber : hellosehat.com).