Beautifully Painful

Beautifully Painful
37. Don't Wanna Cry



Anja


Ia sama sekali tak mendengarkan ucapan Teh Dara dan terus mengelus boneka Nemo sambil pikirannya berkelana entah kemana, ketika seseorang tiba-tiba memanggil namanya, "Anja...."


Jenis suara berat dan dalam yang sangat khas membuat kepalanya menoleh dan mendapati Cakra telah berdiri di depan pintu sambil tersenyum kikuk.


"Katanya kamu ngedrop....," ujar Cakra sambil berjalan mendekat.


Secara keseluruhan penampilan Cakra terlihat sehat dan bugar. Tak ada luka menganga yang menimbulkan cacat fisik, seperti yang selalu ditakutkannya selama tiga hari belakangan ini. Cakra bahkan terlihat semakin fresh dengan potongan rambut baru yang lebih pendek dan rapi.


"Maaf, baru bisa jenguk sekarang," lanjut Cakra yang kini telah berdiri di hadapannya, dengan tangan kanan menenteng tas belanja warna hijau bergambar bola dunia bertuliskan Reduce, Reuse, Go Green yang bisa diperoleh dengan mudah hampir di tiap Supermarket, persis seperti tas belanja yang sering dibawa Bi Enok ketika hendak berbelanja ke Pasar tradisional.


"Gimana keadaan kamu sekarang?" Cakra tersenyum sambil meletakkan tas belanja warna hijau tersebut ke atas meja.


"Semoga udah baikan," Cakra masih tersenyum.


Membuat matanya yang telah memanas sejak awal kemunculan Cakra di depan pintu, kini makin merebak berkaca-kaca. Bahkan dalam sekejap telah dipenuhi genangan air yang siap tumpah kapan saja. Hingga mengaburkan pandangan yang membuat tampilan Cakra menjadi berbayang. Kini, seperti ada tiga orang Cakra sekaligus yang sedang menatapnya dalam-dalam.


"Anja?"


Ia masih sempat mendengar ungkapan keheranan Cakra sebelum tangisnya pecah tanpa prolog apapun, disusul gerakan cepat sebuah lengan kokoh yang merengkuh bahunya lembut. Menenggelamkannya dalam pelukan hangat yang menentramkan.


"It's fine....," bisik Cakra sambil mengusap kepalanya perlahan. "I'm here...."


Bisikan Cakra sontak membuat isakannya semakin menjadi. Sesenggukan dengan air mata berlinang sambil berkali-kali memukuli dada Cakra karena lega campur kesal.


Ingin rasanya ia berteriak menumpahkan kemarahan, "Lo kemana aja dua hari kemarin?!"


"Di chat nggak terkirim! Di telpon nggak ada nada sambung!"


"Lain kali kalau mau ngilang bilang dulu!!"


"Jangan bikin orang khawatir!!"


Tapi tak satupun yang terucap. Bibirnya hanya mampu sesenggukan sambil tangannya terus memukuli dada Cakra.


Entah berapa lama waktu yang dihabiskannya untuk meluapkan kelegaan sekaligus kekesalan. Menenggelamkan diri dalam pelukan menenangkan disertai usapan lembut di belakang kepala.


Ketika merasa pipinya mulai menghangat, karena terlalu lama bersandar dalam dekapan Cakra. Sementara air mata telah mengering, berganti dengan kulit wajah yang terasa pedih dan kaku akibat terlalu lama menangis. Membuatnya perlahan mulai melepaskan diri sambil menunduk berusaha menyembunyikan pipi yang panas terbakar karena rasa malu.


Menyadari dirinya tak lagi berderai air mata, Cakra mengambil tisu yang ada di atas nakas untuk kemudian menyusut sudut matanya, "Udah puas nangisnya?"


"Sampai bengkak gini, nangisin siapa sih?" seloroh Cakra yang kini beralih menyusut ujung hidungnya.


"Nggak ngeledek bisa nggak sih?!" sungutnya kesal kembali memukuli dada Cakra yang terkekeh senang.


"Aku tuh datang kesini pingin lihat kamu senyum, bukannya nangis," bisik Cakra yang kali ini mengambil tisu basah untuk mengusap kedua pipinya.


Membuatnya kembali bersungut-sungut, "Kamu kemana aja sih?!"


"Di chat nggak terkirim!"


"Di telepon nggak ada nada sambung!"


"Kusuruh Mang Jaja ke rumah kamu, katanya lagi pergi seminggu?!"


"Pergi kemana lama amat?!"


"Kamu diculik sama reserse reserse itu?!"


"Dibawa sama mereka kemana buat digebukin?!"


"Ini luka baru?!" tanyanya tak mampu menyembunyikan rasa cemas sambil menunjuk memar di sudut bibir Cakra yang berwarna kebiruan. Jelas luka memar baru.


"Mas Tama yang ngelakuin ini?! Iya?!"


Tapi Cakra menggeleng, "Ini kan luka lama waktu hari Minggu kemarin."


Namun ia buru-buru mencibir, "Yang katanya anak berandalan tapi nggak jago bohong!"


Membuat Cakra tergelak, "Bohong gimana?!" sambil -jelas terlihat pura-pura- menyibukkan diri dengan memeriksa isi tas belanja warna hijau yang tersimpan di atas meja.


"Kamu," sungutnya semakin kesal. Sambil sesekali napasnya tersedu sedan akibat menangis lumayan lama tadi.


"Barusan bohong!" lanjutnya kesal sambil memperhatikan gerak gerik Cakra yang kaku. Seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Jelas terlihat.


"Kamu dibawa kemana sama anak buah Mas Tama?! Digebukinnya dimana?!"


"Trus sekarang tiba-tiba bisa ada disini kenapa? Kabur?!"


Namun Cakra hanya tersenyum samar, tak berminat menanggapi kekesalannya.


"Aku lupa ngasih tahu kamu, kalau hari Rabu kemarin tuh, ada event di JCC yang bikin aku harus nginap di venue sama anak-anak buat nyetting tempat."


Alasan aneh yang diberikan Cakra membuatnya semakin memberengut kesal, tak mau percaya begitu saja, "Event apa?! Kok mendadak?!"


"Mana hari sekolah lagi!" kernyitnya heran.


"Jadi, selama ini kamu sering bolos sekolah gara-gara ikut event di luar?!"


"Kamu lebih mentingin kerjaan part time daripada sekolah?!"


Cakra menganggukkan kepala. Membuat intuisi detektifnya semakin menjadi. Tak mau begitu saja menelan mentah-mentah alasan absurd yang diberikan Cakra.


"Tapi kalau lagi event, kenapa ponsel kamu malah nggak bisa dihubungi?!" sergahnya ingin tahu.


"Harusnya ponsel stand by dong buat komunikasi sama team kamu?!" lanjutnya sambil mengkerut.


Membuat Cakra menghela napas panjang kemudian berkata dengan nada canggung, "Ponselku sempat mati nggak bisa nyala gara-gara jatuh ke bak mandi."


"Jadi selama event megang HT."


"Tapi kan....," ia ingin terus mengkonfrontir, namun kalimatnya terpotong di udara karena Cakra keburu menyahut.


"Eh, kamu udah makan belum?" sergah Cakra jelas berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


"Tadi Mamak masak bubur kanji rumbi (bubur khas Aceh) khusus buat kamu," Cakra tersenyum sembari mengambil rantang yang terbuat dari bahan aluminium berwarna putih dengan hiasan gambar ayam jago di sisinya dari dalam tas belanja Go Green warna hijau.


Kemudian membuka dan meletakkan rantang tepat di hadapannya, yang dalam sekejap berhasil menguarkan aroma harum rempah dan bawang goreng ke seluruh ruangan.


"Masih hangat nih," Cakra tersenyum. "Makan ya?" tawar Cakra sungguh-sungguh dengan mata melirik kearah menu makanan miliknya yang disediakan oleh pihak rumah sakit masih dalam keadaan utuh, sama sekali belum tersentuh.


"Aku suapin?" Cakra mulai menyendok bubur yang penampilannya sangat menggugah selera itu.


"Mau minum dulu," jawabnya sambil berusaha meraih gelas yang tersimpan di atas nakas. Namun sebelum tangannya berhasil menjangkau, Cakra telah lebih dulu mengambil gelas tersebut kemudian meminumkan padanya.


"Jangan kebanyakan," protesnya usai minum demi melihat Cakra menyendok bubur terlalu banyak untuk sekali suapan. "Perutku masih nggak enak."


Cakra mengangguk sembari mengurangi isi sendok, "Segini kebanyakan nggak?"


Namun ia tak menjawab, karena telah membuka mulut siap menerima suapan dari Cakra. Satu, dua, lima, entah berapa suapan bubur Kanji Rumbi buatan Mamak yang terasa sangat lezat di lidah ini berhasil dilahapnya.


"Udah," ujarnya ketika perut terasa kenyang.


"Wah, tinggal dikit lagi nih?" Cakra kembali berusaha menyuapinya sesendok bubur. "Empat suap lagi."


Namun ia menggeleng, "Kenyang. Nanti malah muntah."


Cakra mengangguk mengerti untuk kemudian di luar dugaan menghabiskan sisa bubur yang tak habis dimakannya hanya dalam dua kali suapan.


"Udah habis," ujar Cakra tersenyum puas sambil memperlihatkan rantang yang isinya telah licin tandas.


"Suka nggak?"


Ia mengangguk, "Suka. Makasih udah dibawain."


"Anak pintar," Cakra tersenyum senang sembari mengusap puncak kepalanya lembut. Kemudian beralih membereskan rantang bekas bubur tadi dan memasukkannya kembali ke dalam tas belanja.


"Wah, sampai lupa," gumam Cakra tiba-tiba.


"Apa?!" tanyanya heran.


"Aku nggak tahu kalau kamu suka banget sama Nemo yang diambil dari pasar Malam," seloroh Cakra sambil menunjuk boneka Nemo yang kini sedang dipeluknya.


"Ini aku bawa lagi," Cakra mengambil sesuatu dari dalam tas belanja. "Buat temen Nemo."


"Grizzly We Bare Bears," seloroh Cakra sembari mengangkat sebuah boneka beruang warna cokelat yang lucu. Dialah, Grizzly, pemimpin tertua dan de facto dari tiga bersaudara We Bare Bears.


"Tahu nggak, kalau Grizzly tuh makhluk yang mudah mencintai, tapi nggak jago bersosialisasi. Persis siapa coba?" kali ini Cakra terkekeh.


"Persis kamu?" cibirnya saat menerima Grizzly dari tangan Cakra dengan senyum terkembang. "Makasih."


"Grizzly temani Anja ya!" ujar Cakra kearah Grizzly seolah benar bisa diajak bicara.


"Jangan sampai tuan putri kita yang satu ini sedih trus nangis nangis lagi," lanjut Cakra sembari mengacungkan telunjuk kearah Grizzly.


"Kan ngeledek lagi!" sungutnya kesal sambil memukul lengan Cakra. "Kamu sekali aja nggak ngeledek kenapa sih?!"


Cakra terkekeh sambil menggeleng, "Siapa yang ngeledek. Emang bener kan kamu itu tuan putri yang semua-mua bi...."


"Eh! Udah deh!" ia kembali memukul lengan Cakra. "Daripada ngeledekin aku nggak habis habis, mending bahas yang tadi belum selesai."


"Kamu dibawa Mas Tama kemana dua hari kemarin?! Dihajar dimana sampai bonyok begitu tuh muka?!"


Membuat Cakra menghela napas kemudian bergumam pelan, "Udah dibilang ada event di JCC. Makanya bisa bawain Grizzly buat nemenin kamu sama Nemo."


"Bohong!"


"Nggak percaya?"


"Enggak!"


Cakra mengangkat bahu, "Ya udah kalau nggak percaya."


"Idih?!" cibirnya sebal.


"Aku emang ketemu sama Mas Tama, tapi nggak digebukin kok."


"Iya!" sungutnya semakin tak percaya. "Karena yang gebukin kamu bukan Mas Tama, tapi anak buahnya! Hayo?!"


Cakra tersenyum sambil menggeleng, "Jangan suudzon sama kakak kamu sendiri dong."


"Siapa yang suudzon?!" salaknya cepat. "Emang kenyataan kan?! Kamu nggak usah nutup-nutupin deh! Aku tahu banget cara Mas Tama nyelesaiin masalah. Nggak jauh-jauh dar...."


"Aku cuma diajak ngobrol sama Mas Sada," potong Cakra cepat.


"Mas Sada di Jakarta?!" kernyitnya heran. "Kenapa nggak kesini?!"


Cakra hanya mengangkat bahu.


"Kamu sama Mas Sada ngobrol apa aja?!" ia semakin mengernyit penasaran.


"Ngobrol kapan waktu yang tepat buat ngelamar kamu trus..."


"Serius dong!" ia buru-buru memukul dada Cakra sambil merengut.


"Lho, ini lagi serius," Cakra ikut merengut, namun sedetik kemudian terkekeh.


"Nyebelin!" ia masih merengut sambil membuang muka.


"Intinya, aku udah ngobrol ke Mas Sada bakal bertanggungjawab."


Membuatnya menatap mata Cakra mencoba mencari kesungguhan disana, "Trus kata Mas Sada gimana?"


"Tunggu kabar katanya," jawab Cakra sambil tersenyum.


"Gitu doang?!" tanyanya tak percaya.


Cakra mengangguk.


"Kamu nggak ditanya-tanya tentang rencana ke depannya nanti gimana? Sekolah kita misalnya?"


Cakra menggeleng sembari mengusap pipinya lembut, "Sekarang kamu nggak perlu khawatir lagi. Yang penting...," sambil menunjuk kearah perutnya. "Lahir dengan sehat."


"Habis itu terserah kamu," kini Cakra tersenyum samar. "Aku bakal ikutin semua keinginan kamu."


"Kamu mau tetap kuliah dan jadi dokter gigi kan?"


"Then go get them."


"Jangan sampai kami berdua jadi penghalang buat kamu."


Namun gumaman pelan Cakra justru mengusik relung hatinya. Menimbulkan rasa pedih yang tak terdefinisikan. Membuncahkan rasa sakit yang entah berasal darimana.


Karena kalimat Cakra terdengar seperti kabar burung bahwa ia adalah jenis makhluk berdarah dingin yang tak memiliki perasaan, tak mempunyai hati, dan tak pernah mau mengerti.


Membuat kedua matanya kembali memanas. Sungguh ia tak ingin menjadi orang dengan definisi tersebut. Namun fakta berkata lain. Ia jelas-jelas tak menginginkan semua kekacauan ini, dan masih menggenggam asa meraih cita. Dengan kata lain, semua ucapan Cakra benar adanya.


"Jangan sampai kami berdua jadi penghalang buat kamu."


"Jangan sampai kami berdua jadi penghalang buat kamu."


Ucapan terakhir Cakra terus terngiang memenuhi tiap ruang di dalam diri, kembali menimbulkan genangan di pelupuk mata. Membuatnya buru-buru memutuskan untuk beringsut turun dari tempat tidur.


"Mau kemana?" tanya Cakra heran, yang dengan sigap langsung membantu memegangi kantung infus karena ia keburu turun dari tempat tidur.


"Toilet," jawabnya dengan suara serak sembari mencoba mengambil kantung infus dari tangan Cakra. "Biar aku sendiri."


Namun Cakra menolak, "Mau bawa standarnya nggak?" tawar Cakra.


"Nggak usah, nanti di dalam juga ada," kini ia makin khawatir tak bisa menahan genangan air yang telah berlesakan di pelupuk mata.


Cakra pun mengikuti langkahnya menuju toilet sambil membantu membawakan kantung cairan infus miliknya.


"Tunggu disini!" salaknya sambil -pura-pura- melotot ketika Cakra bermaksud ikut melangkah masuk ke dalam Toilet.


"Iya...iya...," Cakra tertawa kecil sembari menyerahkan kantung cairan infus padanya. "Simpan di atas kepala. Jangan sam...."


"Udah tahu!!" gerutunya sebal -namun terus menunduk menyembunyikan mata yang penuh kaca- buru-buru menutup pintu toilet. Namun masih sempat mendengar kekehan Cakra.


***


Dipa


Brengsek!


Ada keperluan apa Cakra dengan Anja hingga ia harus menunggu di luar selama ini?!


"Sebentar ya, Dip," Teh Dara berusaha mengajaknya mengobrol. "Biar mereka bicara berdua. Nanti kalau udah beres, baru kita masuk."


"Kamu kok pagi-pagi udah kesini? Emang nggak masuk sekolah?"


"Kelas XII bukannya lagi banyak intensifikasi jelang UN? Anja suka curhat kalau sekarang pelajaran semakin ba...."


Namun ia sama sekali tak bisa memperhatikan satu pun ucapan Teh Dara. Pikirannya terfokus pada, apa yang sedang Cakra lakukan terhadap Anja di dalam sana?! Karena ketika ia pertama datang, mereka berdua bahkan sedang berpelukan.


Berpelukan?! What the hell?!


Setelah info random dari Aldi yang sempat melihat Cakra masuk ke sebuah hotel bersama cewek yang sangat mirip dengan Anja. Kemudian insiden di year end film project. Disusul jaket yang dipakai Anja sama persis dengan yang dimiliki Cakra. Lalu sekarang mereka berdua berpelukan dengan Teh Dara yang bertindak sebagai penjaga pintu agar ia tak langsung masuk tadi?!?


Damned!!


Suasana hati yang sedang kacau karena pengkhianatan Tiara, kini bertambah buruk demi melihat Anja nya dipeluk sembarangan oleh cowok sejenis Cakra. Semua hal menjengkelkan ini mendorongnya ingin segera memasuki room perawatan Anja.


Jadi, ketika Teh Dara berjalan menjauh dari sofa tunggu untuk menerima telepon, "Bentar ya, Dip. Kamu tunggu disini. Nanti kita masuk sama-sama."


Jelas menjadi kesempatan emas bagi dirinya untuk memasuki ruang perawatan Anja tanpa menghiraukan permintaan Teh Dara. Matanya langsung mendapati Cakra tengah berdiri di depan pintu Toilet. Sementara Anja sama sekali tak terlihat.


"Dimana Anja?!" bentaknya marah kearah Cakra yang terkejut melihat kemunculannya.


"Lo ngapain disini?!" sebelum Cakra sempat menjawab ia kembali membentak.


"Bukan urusan lo!" desis Cakra sinis yang membuatnya semakin naik pitam.


"Brengsek!" dengan gerakan cepat ia meraih kerah baju Cakra dan mendesaknya ke dinding Toilet. "Gue nanya, lo tinggal jawab! Nggak usah belagu!!"


***


Anja


Air matanya langsung luruh begitu ia menutup pintu Toilet, sembari tak habis pikir mengapa bisa menangis lagi. Padahal orang yang dikhawatirkannya telah muncul di depan mata dalam keadaan baik-baik saja. Iya, Cakra. Tapi pertemuannya dengan Cakra tak membuat suasana menjadi lebih menyenangkan, justru makin membuat hatinya mengharu biru.


"Jangan sampai kami berdua jadi penghalang buat kamu."


"Jangan sampai kami berdua jadi penghalang buat kamu."


Gumaman Cakra dengan sorot mata sayu kembali berputar mengelilingi kepalanya. Menyudutkan relung hati ke dalam himpitan rasa bersalah.


"Aku sangat membenci keadaan ini," bisiknya dalam hati sambil terisak.


Setelah dirasa puas, ia segera mencuci muka untuk menghilangkan sisa air mata. Namun gagal. Karena kedua mata dan hidungnya justru semakin memerah, jelas mendefinisikan orang yang baru saja menangis.


Beralasan tak ingin membuat Cakra curiga karena menunggu terlalu lama, ia memutuskan untuk segera keluar dari toilet meski dengan hidung memerah. Namun, baru saja membuka pintu, matanya melihat pemandangan yang sangat mengecewakan. Dimana tangan kiri Cakra tengah mengunci tubuh Dipa di satu sisi tembok, sementara tangan kanan memukul wajah Dipa dengan sekuat tenaga.


Telak!


"CAKRA!!?" pekiknya marah.


Tapi yang terdengar bukan hanya pekikan kemarahannya saja, karena ada suara orang lain di dalam ruangan.


"Cakra?!?"


Itu jelas suara Mama, yang kini telah berdiri di depan pintu masuk bersama Teh Dara dan Bunda Dipa.


***


Keterangan :


Kanji Rumbi. : sejenis bubur dengan cita rasa unik yang berasal dari Aceh. Mirip dengan bubur ayam. Berbahan utama beras dan rempah-rempah dengan tambahan seperti udang, potongan daging, wortel, juga kentang.