Beautifully Painful

Beautifully Painful
67. Bertualang Bersamamu



Cakra


Setelah puas mengamati diorama kehidupan bintang, tiba-tiba Anja menarik tangannya menuju teater kecil yang tengah menayangkan film dokumenter tentang NASA. Namun karena seluruh bangku yang tersedia telah dipenuhi oleh anak-anak sekolah, Anja kembali menarik tangannya menuju ke tempat lain.


"Weekend malah penuh bocah sama anak sekolah," gumam Anja ketika mereka melangkah keluar dari Exhibition Hall kemudian memasuki sepasang pintu kaca yang terbuka lebar. Dimana terdapat ruangan panjang yang unik menyerupai lorong. Dengan di sebelah kanan kiri nya terpampang lukisan 12 zodiak dan ragam foto astronomi berikut penjelasannya.


Namun sebelum ia ikut mengomentari kehirukpikukan suasana di Planetarium, Anja lebih dulu berkata, "The first, Aries...," seraya menunjuk lukisan berbentuk kepala domba.


"Leo," sahutnya mantap seraya matanya mulai menelusuri deretan lukisan untuk menemukan gambar kepala singa.


"Kamu Leo?" cibir Anja. "Tuh di sana!" sembari menunjuk lukisan bergambar kepala singa dengan elemen api.


Membuatnya tersenyum penuh arti, "Kita sama-sama elemen api."


Tapi Anja hanya mencibir, "Makanya kamu sering ngeselin! Kalau ngomong nggak pernah ada filter!"


"Nggak kebalik tuh?" selorohnya seraya mengu lum senyum. "Yang suka marah-marah siapa?"


Kali ini Anja mendesis sebal. Yang justru memancingnya untuk terkekeh. Meski begitu Anja sama sekali tak terlihat tertarik untuk meladeni. Lebih memilih tetap asyik memperhatikan gambar-gambar galaksi beserta penjelasannya.


"Aku udah sering banget ke sini," gumam Anja. "Tapi nggak pernah bosan."


"Iyalah," jawabnya seraya tersenyum. "Dari TK, SD, SMP....kalau nggak ke Planetarium, TMII, Keong Mas, Lubang Buaya, Monas, sampai hapal di luar kepala," selorohnya demi mengingat tempat-tempat yang sering dikunjungi bersama teman sekelas dan bapak ibu guru sejak duduk di bangku TK hingga SMP.


Namun Anja lagi-lagi tak menanggapi selorohannya. Tetap khusyu memandangi lukisan gambar-gambar galaksi tapi dengan tatapan menerawang.


"Dulu waktu masih SD, hampir sebulan sekali Papa ngajak aku ke sini cuma berdua," gumam Anja hampir tak terdengar oleh telinganya.


"Biasanya hari Sabtu persis kayak sekarang."


Ia hanya berdiri mematung di belakang punggung Anja yang diam tak bergerak di depan lukisan galaksi. Berusaha menjadi pendengar yang baik.


"Karena kalau hari Sabtu, semua udah punya acara masing-masing."


"Mama ngontrol ke pabrik," lanjut Anja. "Apalagi waktu itu pabrik masih lumayan baru. Belum se settle sekarang."


"Mas Tama waktu itu udah nggak di rumah. Lagi tugas di....," Anja menghentikan kalimatnya sejenak dan terlihat berpikir mengingat sesuatu.


"Malang," gumam Anja. "Terus Mas Sada di Bandung."


"Jadi Papa selalu ngajak aku tiap pergi kemana-mana. Kata Papa buat jadi pengawal," kali ini Anja tertawa kecil.


Ia pun ikut tersenyum membayangkan seberapa dekat dan hangat hubungan antara Anja dan Papanya.


"Biasanya, begitu Mama berangkat ke pabrik, kami juga langsung jalan."


"Pertama sarapan Burcik (bubur Cikini) dulu," ujar Anja sembari beranjak ke lukisan yang lain. Ia pun mengikuti setiap langkah Anja dari belakang.


"Papa pasti pesan bubur telur porsi besar topping lengkap."


"Udah gitu masih nambah sate telur puyuh sama sate ati ampela lagi," Anja tersenyum mungkin karena mengingat kebiasaan Papanya. Ia bahkan bisa menangkap rasa rindu yang terpancar begitu jelas dari tatapan menerawang Anja. Hmm, bisa dipastikan jika Anja adalah daddy's lil girl.


"Kalau kamu pesannya apa?" ia mendadak ingin tahu. Karena pengetahuan pribadi tentang Anja yang dipunyainya benar-benar masih minimalis.


"Aku?" Anja menoleh ke arahnya.


Ia mengangguk.


"Aku nggak terlalu suka bubur telur," Anja mengangkat bahu. "Rasanya aneh lihat telur mentah di atas bubur."


Ia pun tersenyum.


"Jadi cukup pesan bubur putih sama topping suwiran ayam."


"Itu doang?" tanyanya heran. "Nggak pakai apa-apa lagi?"


Mana enak makan bubur ayam hanya dengan topping suwiran ayam. Tanpa lada bubuk, kecap, cakwe, sambal dan emping tentu saja.


Hmm, rupanya selera makan Anja agak sedikit berbeda dengan orang kebanyakan. Setelah baso kuah bening tanpa saos kecap, sekarang bubur ayam hanya dengan topping suwiran ayam. Benar-benar unik.


"Aku sukanya bubur ayam kuah kuning yang sering dimasak Mama," jawab Anja dengan mimik serius. "Kalau Burcik kan nggak ada kuahnya."


"Oh," ia pun menganggukkan kepala tanda mengerti.


"Tapi kalau lagi nggak pingin makan bubur aku pesan martabak telur," lanjut Anja lagi. "Sama roti canai."


"Roti canainya enak," kali ini Anja tersenyum ke arahnya. Ia pun balas tersenyum.


"Apalagi pas masih hangat, terus gula pasirnya meleleh di atas roti, mmm....," kedua mata Anja terpejam mungkin sedang membayangkan kelezatan roti canai favoritnya


"Bikin pecah di mulut," gumam Anja kemudian.


Ingatannya pun mulai mencatat baik-baik makanan kesukaan Anja. Setelah baso, kini ada martabak telur dan roti canai. Noted.


"Biasanya Papa makan bubur sambil ngobrol sama temannya," Anja kembali bernostalgia.


"Tapi temannya aneh, tiap kita makan ganti-ganti orangnya. Ngobrol juga bisa sampai satu jam. Bosan banget!"


"Cepu ya?" tebaknya benar-benar ingin tahu.


Pertanyaan spontannya membuat Anja tertawa, "Kayaknya. Tapi berani banget nggak sih kalau memang cepu, ngobrol di tempat umum begitu?"


Namun ia hanya mengangkat bahu tak mengerti.


"Mungkin emang beneran teman Papa," Anja ikut mengangkat bahu.


"Habis itu biasanya Papa ngajak aku ke toko roti Tan Ek Tjoan," lanjut Anja melanjutkan kisah. "Buat bekal nunggu di Planetarium."


Ia merespon dengan menganggukkan kepala.


"Di sana aku pilih donat meses cokelat, roti kismis, sama roti moka."


Ingatannya kembali mencatat baik-baik semua yang diucapkan Anja.


"Tapi sekarang yang di sini udah tutup," ujar Anja menyayangkan. "Pindah ke Ciputat."


"Habis dari toko roti, baru deh ke sini," Anja tersenyum menyudahi cerita nostalgia bersama Papanya.


"Pasti langsung masuk ke teater bintang, nggak harus antre tiket?" selorohnya seraya tersenyum simpul. "Patas."


"Iya dong," jawab Anja cepat. "Antre tiket is so yesteryear."


Membuatnya sontak tergelak.


"Eh, di masa dunia serba digital kayak sekarang ini malah antre tiket bareng sama kamu," Anja mencibir ke arahnya.


Membuatnya kembali tergelak.


"Ngomong-ngomong tentang makanan....," Anja memegang perut buncitnya yang tak kentara karena tertutup oleh outer yang sedang dipakai. "Jadi lapar nih."


Ia pun melihat pergelangan tangan kanan, 09.20 WIB. Kemudian menganggukkan kepala, "Masih banyak waktu. Kamu mau makan di mana?"


Anja mengerutkan dahi sambil cemberut, "Aku kan udah janji mau traktir kamu gado-gado kalau kita jadi pergi ke Planetarium. Lupa?!"


Ia pun tersenyum, "Ingat kok...ingat....sumpah," sambil mengacungkan dua jari membentuk huruf v, victory, hanya agar Anja tak meradang.


"Kamu tunggu di sini," ujarnya begitu mereka sampai di lobby. "Aku ambil mobil dulu."


"Ngapain ambil mobil?" Anja mengernyit.


"Lho, kita naik apa ke tempat gado-gado?!" tanyanya tak mengerti.


"Jalan kaki aja deh," jawab Anja cepat. "Dekat ini. Daripada mesti keluar masuk mobil. Nanti susah nyari parkir lagi."


Meski sedikit meragukan niat Anja untuk berjalan kaki, namun ia tetap mengikuti kemauan Anja.


"Kalau cape nggak harus digendong kan?" selorohnya begitu mereka berjalan ke arah selatan menuju Jl. Cikini Raya.


Namun Anja sama sekali tak tertarik untuk menanggapi selorohannya. Tetap berjalan dengan tatapan jauh ke depan. Membuatnya buru-buru mengejar langkah kaki Anja. Kemudian meraih tangan mungil itu untuk menggandengnya.


Ia bahkan seringkali harus meraih bahu Anja ketika melewati sisi jalan yang trotoarnya sedang direvitalisasi. Tak lebih agar Anja terlindungi dari kendaraan yang lewat, sekaligus terhindar dari material pekerjaan trotoar yang belum selesai pengerjaannya.


Akhirnya, setelah berjalan selama hampir kurang lebih 10 menit, Anja mengajaknya untuk berbelok ke kanan, menuju Jl. Cikini IV. Dan tak jauh dari pertigaan, sampailah mereka di sebuah kedai kecil, dengan papan berwarna hitam di atasnya bertuliskan Gado-gado Cikini.


Anja memesan seporsi gado-gado saja dan segelas air jeruk hangat, sementara ia gado-gado lontong dan es soda susu.


"Nasi rames sama lontong cap go meh nya juga enak," promosi Anja ketika mereka tengah menunggu makanan yang dipesan datang.


"Asinan sama mie ayamnya juga enak," lanjut Anja lagi.


"Enak semua dong?" selorohnya.


Anja hanya menganggukkan kepala. Sementara ia memilih untuk memperhatikan sekeliling. Ruangan terbuka seluas kurang lebih 5x5 M2 ini hanya memuat kapasitas kurang dari 50 kursi yang 80% nya bahkan telah terisi penuh.


Rupanya banyak orang kelaparan di pagi jelang siang hari ini. Namun meski dipadati pengunjung, suasana tak terlalu panas karena terdapat AC. Sementara di sepanjang sisi jalan yang membentang di depan kedai gado-gado, telah dipenuhi oleh deretan kendaraan pengunjung yang parkir.


Tak harus menunggu lama, pesanan mereka pun datang. Di hadapannya kini telah tersaji sepiring gado-gado yang berisi telur rebus, tahu goreng, kentang kukus yang digoreng, lontong pulen, berbagai sayur yang segar, lengkap dengan emping dan kerupuk udang. Benar-benar terlihat lezat menggoda.


"Terima kasih traktirannya, Anja," gumamnya pelan sebelum memulai suapan yang pertama.


Anja hanya tersenyum simpul dengan mulut penuh karena sedang mengunyah gado-gado.


Dari kedai gado-gado mereka kembali berjalan kaki ke Planetarium. Dimana kedatangan mereka langsung disambut oleh antrean panjang di depan loket.


Ia terlebih dahulu mengantar Anja untuk duduk di sebuah kursi kosong, sebelum ikut bergabung ke dalam antrean.


Akhirnya setelah berdiri mengular selama hampir setengah jam lamanya, dua lembar tiket berwarna hijau muda berhasil ia peroleh.


Sempat melipir sebentar ke Masjid untuk menunaikan ibadah sholat Dzuhur. Selanjutnya mereka kembali antre untuk naik menuju ke lantai dua, tempat dimana ruang pertunjukan teater bintang berada.


Hawa udara yang lumayan dingin langsung menyambut mereka begitu memasuki ruang pertunjukan. Dengan kursi yang sebagian besar telah terisi oleh pengunjung. Untung ia segera berhasil menemukan dua kursi kosong yang tepat bersebelahan di bagian tengah agak ke belakang.


Namun meski sebagian besar kursi telah terisi, mereka masih harus menunggu waktu pertunjukan yang jadwalnya baru akan berlangsung 15 menit ke depan.


"Kamu kedinginan?" tanyanya demi melihat Anja beberapa kali berusaha merapatkan outer ke depan dada.


"Emang kamu enggak?" Anja balik bertanya sembari mencibir memperhatikan penampilannya.


Ia hanya tertawa. Kaos oblong dan kemeja lengan pendek yang dikenakannya memang tak cukup tebal untuk menghalau rasa dingin yang menyelimuti ruang pertunjukan. Namun ia tak sampai menggigil kedinginan.


"Mau pakai kemejaku?" tawarnya sungguh-sungguh.


Namun Anja menolak, "Nggak usah, makasih."


"Serius ini," ia bermaksud melepas kemeja.


"Nanti malah kamu yang kedinginan!" sungut Anja dengan mata melotot. "Udah, nggak usah. Ada outer ini."


"Biasanya pakai baju doang juga nggak terasa dingin. Ini aneh aja tiba-tiba jadi dingin begini," lanjut Anja yang kembali mengeratkan outer ke depan dada.


Membuatnya tiba-tiba memiliki ide cemerlang lain yaitu, "Gini aja biar nggak terlalu kedinginan," ujarnya -pura-pura- sambil lalu seraya meraih dan menggenggam tangan Anja.


Anja sempat terperanjat menatapnya. Sebelum akhirnya tersenyum dengan wajah memerah. Sama sekali tak berusaha melepas genggaman tangannya.


Well done, Anja, kita bertualang bersama, gumamnya dalam hati penuh sukacita.


Tepat pukul 13.30 WIB lampu-lampu mulai dipadamkan. Ruang pertunjukan menjadi gelap gulita tanpa ada cahaya apapun. Ia pun berinisiatif untuk kian erat menggenggam tangan Anja.


Hingga akhirnya muncul bintang-bintang di layar yang terletak di atas kepala. Disusul oleh sebuah suara empuk bak penyiar radio ataupun MC handal, mulai memberi penjelasan tentang apa saja yang sedang ditampilkan pada layar.


Awalnya hanya ilustrasi langit malam, dengan beberapa bintang yang bermunculan. Seakan mereka sedang berjalan di antara bintang-bintang tersebut.


Meski ia sudah beberapa kali menonton teater bintang bersama rombongan teman-teman sekolah, namun kali ini terasa berbeda. Lebih mendebarkan sekaligus menakjubkan. Karena ia menonton sembari menggenggam tangan mungil yang dingin berkeringat. Tangan Anja nya tersayang.


Lamunannya buyar ketika suasana di dalam ruang pertunjukan mendadak riuh dan dipenuhi tepuk tangan sebagian besar pengunjung. Saat layar di atas kepala menunjukan kondisi langit pada ribuan tahun silam. Sebelum tercemari oleh polusi udara dan polusi cahaya. Terlihat begitu indah.


Kini langit di atas kepala kembali dipenuhi oleh ribuan bintang yang berkelap-kelip. Membuat mereka seolah benar-benar sedang berada di bawah indahnya langit malam.


Memicu euforia penuh suka cita yang memenuhi sekaligus menghangatkan keseluruhan ruang hati. Kemudian meluap hingga memantik rasa bahagia yang karena saking indahnya hingga tak lagi mampu terdefinisikan.


Kepalanya refleks menengok ke samping bersamaan waktunya dengan Anja yang juga tengah melihat ke arahnya. Paras jelita bak pualam itu terlihat begitu merona bahagia. Memancing instingnya untuk bergerak mendekat.


Dan tanpa harus menunggu, ia pun mulai menyatukan wajah mereka berdua. Merasakan betapa manis aroma Anja yang seolah tiada habisnya. Meski telah berkali-kali dirasainya.


Mereka seakan tengah menyatukan diri di bawah indahnya langit malam yang dipenuhi oleh kelip bintang. Begitu menakjubkan. Alangkah indahnya.


Namun ketika ia semakin mendesak, Anja justru melepaskan diri.


"Nanti kita dimarahi orang," bisik Anja dengan suara gugup campur khawatir.


Membuatnya tersenyum bahagia kemudian mencium sekilas puncak kepala Anja. Dan kembali menegakkan duduk seperti semula. Namun diikuti dengan pandangan menuduh dari orang yang duduk di sekitar mereka. Semua mata orang-orang tersebut seolah berkata sengit, "Woi! Jangan mesum di sini woi!!"


Namun ia hanya tersenyum simpul menanggapi protes tak langsung mereka. Karena untung saja yang duduk di sekitar adalah sekumpulan orang dewasa. Tak satupun terdapat anak kecil atau anak sekolah di bawah umur. Membuatnya sedikit bernapas lega.


Ia pun terus menggenggam tangan Anja dan berusaha kembali memusatkan konsentrasi pada layar di atas kepala. Bertepatan dengan munculnya rasi-rasi bintang yang merupakan sumber dari zodiak-zodiak yang ada. Diikuti oleh penjelasan tentang rasi-rasi bintang tersebut.


Dan ketika MC mulai membahas nama-nama bintang yang paling terang dari setiap rasi. Anja berbisik lirih, "Rigel dari rasi Orion."


"Rigel Orion?" ia balik bertanya.


"Bagus kan?" Anja tersenyum dengan mata berbinar.


"Aldebaran dari rasi Taurus," gumamnya setelah mendengar MC menyebut nama salah satu bintang paling terang adalah Aldebaran.


"Aldebaran bagus juga," Anja kian berbinar.


"Eltanin, bintang raksasa jingga, paling cerah di rasi Draco," lanjutnya setelah mereka sempat terdiam beberapa lama.


"Eltanin...Aldebaran.....," Anja mengangguk dengan mata yang terus saja berbinar. Membuatnya ingin kembali menerkam. Ah ya, tapi tentu harus ditahan kuat-kuat agar tak terjadi masalah dengan orang-orang yang duduk di sekeliling mereka.


Tahan, Cakra! Tahan!


"Kalau laki-laki," ujarnya dengan penuh percaya diri. Seolah mereka memang sedang membicarakan hal yang sama.


"Kalau baby girl?" kerlingnya ke arah Anja yang tengah menatap layar di atas kepala dengan pandangan takjub.


"Adara, bintang ganda dari rasi Canis Major," jawab Anja yakin. Berarti mereka memang sedang membicarakan hal yang sama. Very good.


"Nanti namanya sama dengan Teh Dara dong," selorohnya spontan.


"Oh iya ya," Anja tertawa seraya menatapnya.


"Bellatrix dari rasi Orion," gumamnya sambil menaikkan alis.


Namun Anja menggelengkan kepala, "Anka dari rasi Phoenix. Lucu kan?"


"Atau....," ia berpikir sejenak. "Aludra dari rasi Canis Major."


Anja tersenyum menatapnya, "Aludra lucu banget."


Percakapan menyenangkan nan indah ini membuatnya kian erat menggenggam Anja. Namun karena pembahasan tentang rasi bintang telah usai, mereka pun tak lagi saling berkata. Masing-masing kembali memusatkan perhatian pada layar. Meski di dalam hati telah tersimpan deretan nama indah. Aldebaran, Eltanin, Anka, Aludra. Membuatnya tersenyum-senyum sendiri.


Dan ketika ia mulai mengembalikan konsentrasi terhadap layar di atas kepala, dengan tangan tetap saling menggenggam. Ternyata pembahasan MC telah beralih pada penjelasan tentang planet-planet yang mengelilingi matahari serta galaksi bimasakti.


Bersama-sama mereka menyaksikan pemandangan luar angkasa yang begitu indah juga menakjubkan. Seolah sedang bertualang hanya berdua Anja mengelilingi keajaiban alam semesta. Menembus semua keterbatasan. Membuatnya benar-benar merasa sebagai butiran debu di semesta yang begitu luas, besar, dan tak seluruhnya bisa terdefinisikan ini.


Lalu adegan yang menurutnya paling seru adalah ketika bintang-bintang di layar berputar hingga membuat mereka semua seolah sedang melakukan perjalanan di luar angkasa dengan kursi yang bergerak dan juga berputar sendiri. Sontak berhasil membuatnya saling melempar tawa dengan Anja.


Ternyata sesederhana ini yang namanya bahagia, batinnya dengan hati meluap sembari menengok ke samping, dimana Anja telah kembali menengadahkan kepala dengan mata berbinar, menikmati gambar yang disajikan oleh layar.


***


Keterangan :


Cepu. : informan kepolisian