Beautifully Painful

Beautifully Painful
76. Runtuhnya Langit Biru



Anja


Hari Senin ini adalah kali ketiga dilaksanakannya Simulasi UNBK tingkat SMA. Sesuai dengan jadwal resmi yang dikeluarkan oleh Kemdikbud. Setelah dua jadwal simulasi pertama dan kedua yang dilakukan pada bulan Oktober tahun lalu serta bulan Januari kemarin.


Ia mendapat jadwal di sesi pertama. Yaitu pukul 07.00 sampai dengan pukul 08.30.


Sementara Cakra, sesuai dengan nomor urut ujian. Yang dibuat berdasarkan NISN (Nomor Induk Siswa Nasional) mengacu pada nomor urut absensi kelas yang diawali dengan huruf T. Mendapat jadwal di sesi terakhir yaitu sesi ketiga. Pada pukul 11.00 sampai 12.30.


Membuat waktu keberangkatan mereka ke sekolah berbeda. Ia berangkat terlebih dahulu dengan diantar oleh Pak Cipto yang telah kembali masuk dan bekerja. Sedangkan Cakra berangkat lebih siang sesuai dengan jadwal simulasi.


Dan jadwal simulasi UNBK hari pertama adalah matematika.


Meski hanya bersifat simulasi, namun nilai yang dihasilkan nantinya tetap akan dikoreksi dan menjadi bahan pertimbangan bagi sekolah tentang kemampuan para siswa.


Ia baru saja turun dari mobil setelah memberi pesan pada Pak Cipto agar tetap menunggu di sekolah. Karena jam 08.30, para siswa yang telah menyelesaikan simulasi sesi pertama, diperbolehkan langsung pulang ke rumah masing-masing. Ketika beberapa siswa yang kebetulan berada di tempat parkir, memegang sebuah selebaran seraya memandanginya dengan tatapan aneh.


Namun ia hanya mengangkat bahu tak peduli. Tetap melanjutkan langkah menuju ruang Lab komputer 2. Tempat dimana simulasi UNBK untuk siswa kelas IPA2 dilaksanakan.


Dari kejauhan matanya telah menangkap sejumlah anak IPA2 yang sedang duduk menunggu di sepanjang selasar depan lab. Termasuk Bening.


"Anjaaa....," Bening langsung menghampiri kemudian memeluknya.


"Lo belajar nggak semalam?" todong Bening yang mengajaknya untuk duduk di bangku kosong.


Ia menggelengkan kepala dan tersenyum simpul. Tak berniat menjawab. Karena semalam, ia sama sekali tak belajar saking terlalu sibuknya bermain-main dengan Cakra. Yeah.


"Sama dong," sergah Bening sambil merengut.


"Mau belajar asa mager banget tahu nggak?!" lanjut Bening lagi.


"Ya....meski ini cuma simulasi. Yang ketiga kali lagi. Tapi tetep nervous. Kamu ngerasa gitu juga nggak?"


Ia menganggukkan kepala. Matanya menatap Bening, tapi pikirannya justru mengembara kemana-mana. Teringat akan kejadian setelah Subuh. Ketika wajah Cakra setengah menunduk karena sedang mengerjakan soal matematika untuknya.


Momen langka yang menyuguhkan pemandangan paling melenakan. Karena membuat pikirannya langsung terfokus pada visual paling menawan hati. Sama sekali tak mempedulikan soal tentang persamaan kuadrat yang sedang diterangkan oleh Cakra. Hmm.


"Eh, kemarin habis kita pada pergi, lo nggak apa-apa kan?" kali ini Bening sengaja memelankan suara sambil melirik kanan kiri khawatir ada orang lain yang mendengar.


"Biasa aja. Kenapa gitu?" tanyanya heran.


"Si Aldi parah banget," bisik Bening lagi. "Dia bener-bener nggak terima lihat Cakra di rumah elo!"


"Kalau kata gue nih ya, si Aldi masih berharap banyak ke elo," gumam Bening sembari mengecilkan suara. Hingga hampir tak terdengar.


"Kayak ngerasa terhina banget bisa kalah set sama Cakra," kali ini Bening menggelengkan kepala.


Namun ia hanya mengangkat bahu. Karena sosok Aldi sama sekali tak pernah masuk dalam kuadran hidupnya. Pernyataan cinta Aldi waktu kelas X dulu baginya hanya ungkapan cinta monyet sesaat. Yang akan pupus seiring berjalannya waktu.


"Kenapa sih gue heran deh, anak-anak di sini tuh kayaknya najis banget kalau sampai kalah sama Cakra," bisik Bening lagi dengan berapi-api.


"Maksudnya?" tanyanya tak mengerti.


"Kayak yang hina banget si Cakra. Iya nggak sih?" Bening bukannya menjawab malah balik bertanya.


"Padahal apa salah Cakra coba?! Petantang petenteng juga enggak. Malah terkesan nolep (no life, tak ada kehidupan)."


Namun ia hanya mengangkat bahu tak mengerti.


"Apa karena Cakra bukan someone tapi punya modal bagus? Jadi anak-anak pada jealous?!" Bening seperti biasa memiliki analisanya tersendiri.


Tapi lagi-lagi ia mengangkat bahu karena benar-benar tak mengerti.


"Intinya sirik tanda tak mampu. Betul?" Bening mengambil kesimpulan.


Kali ini ia tertawa kecil sambil menggelengkan kepala.


"Eh, tahu nggak lo si Aldi ngajak anak-anak kemana habis dari rumah lo?"


Ia menggelengkan kepala.


"Clubbing. Ampun deh," Bening memutar bola mata.


Ia hanya meringis, "Clubbing bukannya hal biasa di kalangan anak-anak PB?"


"Bagi cowok emang biasa," sahut Bening cepat. "Tapi yang nggak biasa itu mereka ketemu siapa coba di klub?"


"Siapa?" ia jadi ikut penasaran.


"Tiara!" jawab Bening setengah berbisik. "Sama Nigel."


"Membuktikan bahwa gossip selingkuh dari Dipa gara-gara kepentok Nigel benar adanya gaes," gumam Bening seraya menggelengkan kepala.


Dan sebelum ia sempat berkomentar karena terkejut, Bening telah lebih dulu melanjutkan, "Heran deh sama cewek macam Tiara."


"Udah bener jalan sama Dipa yang calon dokter, masa depan cerah. Eh, malah main api sama Nigel yang.....," Bening mengkerut tak melanjutkan kalimat.


"Yang apa?" tanyanya tak mengerti.


"Ya berapa lama sih kemampuan seseorang bisa bertahan di dunia showbiz seni peran?" Bening balik bertanya.


"Terbatas waktu, Ja," lanjut Bening sebelum ia sempat menimpali. "Bukan profesi long term yang mengandalkan kemampuan akademis."


"Salah strategi tuh si Tiara," cibir Bening penuh kepuasan. "Mamam tuh pacar artis."


"Eh, kenapa jadi gue yang nyolot padahal elonya aja santai kek di pantai?" kali ini Bening mencibir ke arahnya yang hanya bisa menggelengkan kepala sambil tertawa kecil.


Dan tepat pukul 06.45 WIB, Fur Elise mulai berkumandang memenuhi udara seantero sekolah. Menandakan jika mereka sudah diperbolehkan untuk memasuki ruang simulasi.


Setelah mendengarkan kata pengantar, penjelasan singkat tentang jalannya simulasi UNBK ketiga, serta tata tertib selama simulasi berlangsung yang disampaikan oleh guru pengawas. Para peserta simulasi kemudian mulai menandatangani daftar hadir yang telah diedarkan.


Akhirnya pada pukul 07.00 WIB, Fur Elise kembali terdengar. Tanda bahwa simulasi UNBK telah dimulai. Seluruh peserta simulasi di ruang Lab komputer 2 pun mulai sibuk mengerjakan soal Matematika dengan sebaik-baiknya.


Entah karena soal simulasi yang tergolong mudah, atau memang anak-anak IPA2 canggih-canggih semua. Karena setengah jam sebelum waktu yang disediakan habis, anak-anak telah banyak yang selesai mengerjakan.


Kecuali dirinya. Masih tersisa beberapa soal yang belum bisa ia kerjakan. Yaitu soal tentang fungsi interval, barisan geometri, dan trigonometri. Sepertinya ia harus banyak bertanya pada Cakra tentang tiga bab ini. Karena sama sekali belum menguasai jika tipe soalnya berubah.


Dan ketika guru pengawas mengingatkan jika lima menit ke depan waktu habis. Ia telah berhasil mengerjakan seluruh soal. Meski tak terlalu yakin dengan hasilnya.


Ia menjadi siswa terakhir yang keluar dari ruang Lab komputer 2. Dan langsung menjumpai wajah cemas Bening yang telah menunggunya di depan pintu keluar.


"Kenapa?" tanyanya heran sambil mencangklong tas yang baru saja diambil dari loker. Tempat dimana seluruh peserta simulasi menyimpan tas dan juga buku-bukunya.


"Lo pulang sama siapa?" tanya Bening dengan suara cemas.


"Pak Cipto," jawabnya sambil mengernyit. "Kenapa?"


"Ya udah, lo buruan pulang," Bening menarik tangannya agar segera beranjak dari selasar Lab komputer 2.


"Ih, kenapa sih mesti tarik tarik?!" protesnya sedikit kesal karena cengkeraman tangan Bening terlalu erat hingga menyakiti tangannya.


Tapi Bening tak peduli. Terus saja menariknya agar segera berlalu dari Lab komputer 2 menuju ke tempat parkir. Yang harus melewati sederet Lab komputer dan Lab bahasa yang dipenuhi oleh peserta simulasi. Baik dari sesi pertama yang baru saja usai. Maupun sesi kedua yang sebentar lagi akan dimulai.


Ia masih berusaha keras memprotes kelakuan aneh Bening yang menariknya tanpa ampun. Ketika tiba-tiba semua orang yang sedang berada di depan selasar Lab komputer 4, masing-masing memegang sebuah selebaran sambil memandanginya dengan tatapan aneh.


Sebagian besar tersenyum simpul. Bahkan ada yang tertawa kecil. Hanya satu dua yang menatapnya iba. Sontak membuat keningnya mengernyit heran. Ada apa nih?


Tapi ia masih tak terlalu peduli. Berusaha untuk mengabaikan. Namun keingintahuannya kembali muncul ketika sekelompok cewek IPA4 yang tengah duduk di sepanjang selasar, mulai berbisik-bisik sembari tertawa kecil memandanginya.


"Ini ada apa sih?" tanyanya benar-benar tak mengerti.


Namun Bening tak mengatakan sepatah kata pun. Terus saja menarik paksa tangannya.


"Bening!" di depan Lab komputer 6 ia tak tahan lagi. Dan menghentakkan tangan dengan kesal.


"Apa-apaan sih?!" tanyanya mulai marah.


Bening sudah membuka mulut hendak menjawab, namun kalah cepat dengan selorohan anak-anak yang tengah berdiri di sepanjang selasar Lab komputer 6. Ruang dimana anak-anak kelas IPA6 akan melakukan simulasi UNBK.


"Wah, tokcer juga si Cakra, Ja."


"Nggak nyangka lo mau sama Cakra, Ja."


"Anja...Anja....udah berapa bulan? Hahahaha....."


"Sayang ih, cakep-cakep jatuh ke pelukan berandal."


"Pesona badboy tak terbantahkan gaes."


"Kalah set nih gua sama Cakra."


"Anja...Anja....gimana rasanya Cakra? Mantap nggak? Hahahaha....."


Ia yang awalnya sempat tak mengerti maksud dari selorohan anak-anak IPA6 mendadak terkesiap. Terlebih ketika seorang cewek menyerahkan selembar pamflet padanya.


Lembaran kertas HVS berwarna pink itu berisi foto dirinya mengenakan seragam sekolah. Tapi sudah diedit sedemikian rupa hingga menonjolkan bagian perut yang membesar layaknya orang hamil 9 bulan. Dengan caption penuh tendensi berbunyi,


..."Sayang, aku hamil...."...


Sontak membuat jantungnya berhenti berdetak. Dengan Bening yang tiba-tiba bergerak cepat merebut pamflet tersebut dari tangannya. Kemudian merobek-robek dengan penuh amarah. Lalu membuangnya ke tempat sampah.


"KALIAN KURANG KERJAAN BANGET SIH!" teriak Bening dengan suara bergetar hampir menangis.


Kini semua memandang ke arahnya dengan tatapan mengejek. Semua orang bahkan saling berbisik sambil menertawakannya.


Langit yang sebenarnya dalam kondisi cerah, kini mendadak gelap akibat tertutup oleh arak-arakan awan tebal. Petir pun mulai menyambar. Disusul hujan deras yang tiba-tiba turun membasahi seluruh tubuhnya.


Ini hanya halusinasi.


Ini sama sekali tak nyata.


Tapi suara bisikan dan tawa orang-orang justru makin jelas terdengar.


"Gila, nggak nyangka si Anja hamil duluan."


"Kok mau sama Cakra sih?"


"Cakra menang banyak nih. Hahahaha....."


"Wajah boleh deh anak baik-baik, tapi kelakuan durjana. Hahahaha......"


"Dasar cewek muna."


"Masih punya nyali datang ke sekolah."


"Dasar nggak tahu malu!"


Dan badai tak terduga ini semakin lengkap dengan kemunculan sekelompok siswa kelas X dan XI dari arah Lab bahasa. Berbaris rapi sambil membawa spanduk yang terbuat dari kertas berukuran besar berwarna-warni. Dengan tulisan,


...TAK ADA TOLERANSI...


...UNTUK KEBOBROKAN MORAL...


...TUJUAN PENDIDIKAN ADALAH MENDIDIK...


...PUSAKA BANGSA ADALAH SEKOLAH...


...YANG MENJUNJUNG TINGGI INTEGRITAS MORAL...


...SANKSI TEGAS UNTUK PELAJAR HAMIL...


...PUSAKA BANGSA MEMILIKI PAKTA INTEGRITAS...


...SISWI HAMIL SEHARUSNYA DILARANG IKUT UN...


...KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH SISWA PB...


...PERATURAN HARUS DITEGAKKAN...


...JANGAN KARENA ANAK JENDERAL...


...JADI KEBAL HUKUM...


...MENDESAK SEKOLAH UNTUK SEGERA...


...MENGELUARKAN SISWI HAMIL...


Petir yang sedari tadi menyambar-nyambar sontak membuat langit di atasnya runtuh. Menimpanya tanpa ampun hingga hanya menyisakan rasa sakit dan air mata yang tak lagi terbendung.


"ANJA!!"


Telinganya masih bisa mendengar suara Bening yang berteriak penuh kecemasan. Namun langkahnya keburu menjauh. Berusaha secepat mungkin meninggalkan selasar yang mendadak berubah menjadi arena penghakiman massal.


Menyudutkannya tanpa ampun. Menjungkalkannya hingga jatuh ke dalam palung laut terdalam. Hanya menyisakan rasa sakit dan luka menganga yang membuatnya habis tak bersisa.


Terhempas. Terbuang. Untuk binasa.


Itulah dirinya sekarang.


***


Dipa


Ia baru saja keluar dari ruang kesiswaan. Usai berkonsultasi dengan psikolog sekolah dan guru BK tentang strategi selanjutnya jika gagal lolos SNMPTN.


Ketika hiruk pikuk sekelompok siswa yang dikenalinya sebagai kelas X dan XI memenuhi selasar yang memanjang di depan ruang kepala sekolah. Berjarak kurang lebih 20 meter, tepat segaris dari tempatnya berdiri saat ini.


Sekelompok siswa tersebut berbaris rapi tanpa membuat keributan. Sambil membawa kertas berukuran besar yang memiliki tampilan warna-warni. Kemudian mengangkat kertas tersebut tinggi-tinggi agar mampu menarik perhatian banyak orang.


Ia sempat berpikir itu adalah demo tentang kenaikan biaya daftar ulang tahun depan. Dan berniat untuk berbalik pergi menuju tempat parkir.


Namun urung begitu menyadari terdapat sosok Aldi dan Tiara diantara kerumunan pendemo tersebut.


"Brengsek!" makinya sambil berjalan mendekat. Guna menuntaskan rasa ingin tahu sekaligus mengurangi kekhawatiran. Karena jika tebakannya benar, saat ini mereka sedang....


Matanya langsung nyalang membaca tiap baris tulisan yang tertera besar-besar dengan warna mencolok.


...TAK ADA TOLERANSI...


...UNTUK KEBOBROKAN MORAL...


...SANKSI TEGAS UNTUK PELAJAR HAMIL...


...SISWI HAMIL SEHARUSNYA DILARANG IKUT UN...


Sudah cukup tiga tulisan yang sempat terbaca. Langsung memacu langkah panjangnya untuk merangsek maju memasuki barisan. Kemudian mendorong bahu Aldi yang sedang bercakap dengan Tiara.


"Eh, Dip," Aldi tersenyum lebar.


"Lo mau gabung? Kita mesti menegakk...."


BUG!


Tanpa basa-basi tangannya langsung meninju Aldi yang terlempar ke belakang. Saking kerasnya pukulan yang baru saja dilayangkan.


"Eh, Dip! Apa-apaan nih?!" Tiara berteriak marah sambil mendorong bahunya.


Barisan yang semula teratur dan rapi mendadak tercerai berai. Dalam sekejap telah berubah menjadi lingkaran besar yang mengelilinginya. Seolah membentuk arena pertempuran bagi dirinya.


"Bang sa t lo, Dip!" Aldi yang sudah pulih dari pukulan merangsek maju.


"Dengar!" Aldi masih berusaha menggunakan komunikasi verbal dengannya.


"Anak nggak guna kayak Cakra, sampai bisa ngehamilin Anja. Itu ma....."


BUG!


Tanpa ampun ia kembali melayangkan pukulan. Kali ini berhasil memecahkan pembuluh darah di hidung Aldi.


BUG!


Aldi jelas tak mau kalah. Meski sambil terhuyung namun berhasil mendaratkan satu pukulan telak di rahangnya.


"Brengsek!" makinya marah sambil menarik kerah seragam Aldi.


"Lo kalau marah sama Cakra, kenapa justru ngancurin Anja hah?!?" geramnya benar-benar marah.


Namun sebelum Aldi menjawab, Tiara lebih dulu mendorong bahunya dengan cukup keras.


"Apa-apaan sih, Dip?!" bentak Tiara marah.


"Kita lagi menegakkan keadilan di sini!" lanjut Tiara meradang.


Tapi ia sama sekali tak mempedulikan omong kosong Tiara yang pastinya berbalut hasad terhadap Anja. Lebih memilih untuk kembali melayangkan pukulan ke arah Aldi. Meski itu berarti ia harus menyenggol Tiara hingga terjatuh.


BUG!


Aldi terjengkang, begitu juga dengan Tiara.


Membuat seisi lingkaran gaduh. Beberapa cowok kelas XI bahkan telah menahan tubuhnya secara bersamaan.


"Kak Dipa! Jangan mukul cewek dong!"


"Nggak banget sih mukul cewek!"


"Pelanggaran ini mukul cewek!"


"Kak Tiara nggak apa-apa kan?" beberapa anak sigap membantu Tiara untuk berdiri.


Yang dimanfaatkan dengan baik olehnya untuk melepaskan diri dari cengkeraman anak-anak kelas XI.


"Dengar, Tir!" ia mengarahkan telunjuk tepat ke depan wajah Tiara yang mulai pias.


"Gue nggak pernah maafin lo untuk yang satu ini!" gumamnya dengan mata menyala.


Pengkhianatan Tiara padanya jelas satu kesalahan besar yang sangat melukai hatinya. Tapi Tiara menyakiti Anja? Ini menjadi hal yang takkan pernah termaafkan. Tak akan pernah.


"Dan lo, Al!" ia kembali mendorong bahu Aldi dengan penuh emosi.


"Kejadian ini menegaskan bahwa kita sama sekali nggak pernah berteman!" ujarnya dengan gigi gemeletuk.


"Siapa juga yang mau temenan sama lo!" jawab Aldi sinis balas mendorong bahunya hingga terlempar ke belakang.


Tapi ia tak peduli. Karena sudut matanya menangkap bayangan sekuriti sekolah dan beberapa orang guru berlari tergopoh-gopoh menghampiri mereka.


"Oke!" untuk yang terakhir kali sebelum sekuriti dan beberapa guru mendekat, ia mengacungkan tangan.


"Kita musuh!" gumamnya yakin seraya berbalik pergi meninggalkan kerumunan.