Beautifully Painful

Beautifully Painful
111. New Mom



Cakra


Minggu, 5 Juli 2xxx


Dari pabrik ia langsung pulang ke rumah untuk menyimpan motor GL Pro nya. Kemarin ia memang sengaja mengambil motor sendiri. Bukan motor matic milik keluarga Anja yang akhir-akhir ini sering dipakainya.


Rumah dalam keadaan sepi dan kosong. Tak ada seorangpun di dalam. Namun ia tetap bisa masuk. Karena sudah menjadi kesepakatan dari dulu, siapapun yang meninggalkan rumah dalam keadaan kosong. Akan menyimpan kunci di bawah pot bunga melati yang ada di teras.


Setelah membereskan barang yang hendak dibawa pulang ke rumah Anja, ia kembali mengunci pintu dan segera pergi menuju ke rumah Bidan Karunia.


Dimana suasana riuh tengah mengerumuni tempat tidur Anja. Ada Mamak, Kak Pocut, Cing Ella, ibu-ibu para tetangga sekitaran rumah. Tak ketinggalan pula Icad, Umay, dan Sasa yang sedang saling berbisik sambil tertawa-tawa.


"Cakep banget anak lu, Gam!"


"Jago nih bikin adonannye."


"Ini sih cetakannye yang bagus."


Lalu gelak tawa para ibu-ibu pun menggema memenuhi seisi ruangan. Sementara ia hanya bisa tersipu malu.


Untung saja ruang perawatan sedang tak ada pasien selain Anja. Karena pasien yang semalam akhirnya harus dirujuk ke Rumah Sakit. Akibat pembukaan yang tak kunjung bertambah. Padahal sang ibu sudah keburu kehabisan tenaga karena terus berteriak kesakitan.


Mamak, Kak Pocut, dan para ibu-ibu masih terus bersenda gurau. Mengagumi sosok mungil berbau harum khas bayi yang kini tengah terlelap dalam buaian Anja.


Sembari mengobrolkan tentang mengapa bayi harus memakai gurita. Apakah bayi perlu dibedong atau tidak. Hingga petuah ibu-ibu agar Anja mengikuti perawatan tradisional paska melahirkan.


"Kalau di kite namanya mapas," ujar Mpok Ainur yang asli keturunan Betawi.


"Banyak makan sayuran ye, Neng. Biar sehat."


"Abis ntu perut dilumuri pakai laos ame jahe." **


"Terus dibebat gurita selama tiga bulan."


"Sayur bening ame aer kacang ijo tanpa santan bagus buat si Neng Mak," Mpok Ainur mengacungkan jempol ke arah Mamak.


"Lebih bagus lagi kalau mau minum jamu ketumbar."


Membuatnya tak bisa menahan tawa demi medapati kerutan di wajah Anja usai mendengar celotehan Mpok Ainur tentang jamu ketumbar.


"Kalau di Jawa dibantu sama minum jamu, Mpok. Biar cepat pulih," sambung Bu Endang, istri Pak RT.


"Macam-macam jamunya. Ada jamu kunyit asam, beras kencur, jamu daun pepaya, sama ramuan jahe dan kayu manis." ##


"Ada yang udah paketan. Namanya jamu paket bersalin yang dikonsumsi selama 40 hari pasca melahirkan."


"Sepaket isinya lengkap. Ada pil jamu, pilis, tapel, parem."


"Wah, sama di kami juga ada parem sama pilis," seru Kak Pocut riang. ®®


"Sebenarnya budaya tradisional kita itu hampir mirip satu sama lain ya," ujar Cing Ella diiringi anggukan setuju dari semua yang ada di sana.


"Nanti kalau si Neng mau pijat pulen legit, bisa ke Nyak aye Mak," imbuh Mpok Ainur semangat.


"Biar kenceng semua.....balik lagi kayak perawan gitu," lanjut Mpok Ainur sambil mengerling ke arahnya. Disusul cekikikan para ibu-ibu.


"Ye nggak, Gam?"


Ia yang berpura-pura tak mendengar pembicaraan menjurus ibu-ibu hanya bisa meringis malu dengan wajah merah padam.


Setelah ibu-ibu pamit pulang. Ia pun segera membereskan barang-barang dan menemui Bidan Karunia untuk menyelesaikan administrasi.


"Kemarin buku kesehatan ibu dan anak sudah saya kasih ya?"


"Sudah, Bu."


"Di dalam buku itu isinya lengkap termasuk jadwal pemberian vaksin (imunisasi)."


Ia mengangguk mengerti.


"Kemarin Ade Aran sudah dapat vaksin Hepatitis B."


"Nanti sebelum pulang kita beri vaksin polio dulu."


Lalu dengan nada sungkan ia bertanya, "Jadi, berapa biayanya, Bu?"


Bidan Karunia menatapnya tak percaya.


"Gam, Gam!" kini Bidan Karunia menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Kamu ini seperti sama siapa saja."


"Sudah, nggak usah."


"Tapi, Bu...."


"Sudaaah," Bidan Karunia mengibaskan tangan. "Simpan saja uangnya untuk keperluan pasca melahirkan."


"Punya anak itu perlu biaya yang tak sedikit, Gam," nada suara Bidan Karunia terdengar sangat serius.


"Ibu sudah merasakannya sendiri."


"Ibu malah seneng dapat kesempatan ini."


"Membantu Mba Anjani melahirkan."


"Mana Mba Anjaninya juga sabar banget. Nggak sekalipun teriak-teriak waktu kontraksi."


"Padahal masih muda dan baru pertama kali melahirkan," Bidan Karunia tersenyum seraya mengacungkan jempol. "Salut."


"Tapi ibu sudah mengeluarkan tena...."


"Gam," Bidan Karunia memotong ucapannya sambil menggelengkan kepala.


"Ibu berterimakasih dulu kamu mengajari Tamim anak ibu."


"Sampai Tamim bisa memiliki konsep belajar yang efektif karena belajar sama kamu."


"Bisa masuk SMA negeri."


"Sampai sekarang kuliah di FK."


"Itu karena Tamim memang cerdas, Bu," sanggahnya sungguh-sungguh. "Bukan karena say...."


"Gam," Bidan Karunia kembali memotong ucapannya.


"Ibu nggak bisa membalas semua yang pernah kamu lakukan untuk Tamim."


"Ibu cuma bisa bantu begini."


"Jadi, sudah ya. Nggak usah kita bahas lagi."


"Minggu depan kalau berkenan, ibu mau melakukan kunjungan nifas ke rumah," Bidan Karunia bahkan langsung mengganti topik pembicaraan.


"Kunjungan rutin untuk semua pasien yang melahirkan di tempat ibu."


"Gunanya untuk memeriksa keadaan ibu pasca melahirkan. Juga kesehatan bayi."


"Nanti bulan depan atau kalau sudah 40 hari, Ade Aran kontrol ke sini lagi."


"Atau ke tempat lain juga boleh."


"Gimana baiknya saja."


"Untuk divaksin Hepatitis B yang kedua."


"Sekaligus KB untuk Mba Anjani."


"Tadi pagi waktu saya ngobrol sama Mba Anjani, katanya masih belum tahu mau memakai KB jenis apa."


"Mau yang hormonal atau dipasang IUD."


"Mungkin nanti bisa dibicarakan berdua dulu."


Setelah berkali-kali mengucapkan banyak terimakasih pada Bidan Karunia. Karena telah berbaik hati membebaskan seluruh biaya melahirkan Anja. Kini ia telah mengarahkan kemudi untuk pulang ke rumah Anja.


"Yah Bit Yah Bit, aku punya nama baru lho," seru Sasa riang yang duduk di sampingnya tengah dipangku oleh Kak Pocut.


Sementara Anja duduk di tengah bersama Mamak yang menggendong Aran. Sedangkan Icad dan Umay duduk di kursi paling belakang.


"Mau tahu nggaaak?" seloroh Sasa sambil tersenyum senang.


"Apa?" tanyanya sambil menepikan kemudi ke depan gang menuju rumahnya. Untuk menurunkan Kak Pocut, Icad, Umay dan Sasa yang tak ikut pulang ke rumah Anja.


"Ayo...ayo....kita turun....," Kak Pocut mulai berkemas.


Namun Sasa masih ingin memamerkan nama barunya pada semua orang.


"Namaku sekarang ada tiga. Sasa, adik, terus.....," ujar Sasa dengan wajah berseri.


"Popoya!" lanjut Sasa setengah berteriak.


"Kalau aku jadi Cutngoh," seru Umay yang sedang turun dari dalam mobil. Tak mau kalah.


"Kalau Abang Icad jadi Cutbang," seru Sasa lagi. "Yeeey, nama kita jadi banyak."


Ia tersenyum sambil mengusap puncak kepala Sasa, "Jangan lupa ya, minggu depan popoya jenguk adik Aran pas aqiqah."


Sasa menganggukkan kepala berkali-kali. "Iya. Nanti kami bertiga beli kado dulu untuk adik Aran."


"Tak usah kado," ia menggeleng tak setuju. "Kedatangan Popoya, Cutbang, sama Cutngoh udah bikin adik Aran bahagia."


***


Ia menunggu Cakra yang tengah membantu Mamak turun dari mobil. Lalu membuka payung, dan mengantar Mamak yang tengah menggendong Aran sampai ke teras. Dimana Teh Dara, Mas Sada, Arka, Yasa dan Lana telah menunggu.


"Hello cutest baby....welcome homeee......"


Ia masih sempat mendengar seruan Teh Dara menyambut kedatangan Aran. Juga teriakan riang Arka dan Yasa. Dan kegemasan Lana yang ingin ikut menggendong Aran.


"Mau gendong baby....mau gendong baby....," rengek Lana berkali-kali.


Ketika Cakra tiba-tiba telah membuka pintu yang tepat berada di sampingnya. Lalu mengulurkan tangan untuk membantunya menuruni mobil dengan sangat perlahan.


"Wah, ini nih mommy keren kita," seloroh Teh Dara begitu melihatnya turun dari mobil.


Ia hanya tersenyum malu.


Dan Teh Dara pun merangkul bahu Mamak untuk bersama-sama memasuki ruang tamu. Dengan Lana yang melompat-lompat kegirangan.


Sementara ia disambut oleh Mas Sada yang langsung merengkuhnya. Membuat Cakra segera berbalik pergi untuk merapikan posisi kendaraan.


Kini ia tengah duduk di atas tempat tidur. Memperhatikan Mamak yang sedang membuat ramuan dari daun peugaga, daun pacar (gaca), dan un seumpung (urang-aring) untuk diminum olehnya.


Sementara Aran tertidur pulas. Dan Cakra sedari tadi belum masuk ke kamar. Mungkin sedang mengobrol dengan Teh Dara dan Mas Sada di ruang tengah.


"Sampai kapan begini, Mak?" tanyanya sambil mengernyit memperhatikan gelas yang disodorkan oleh Mamak.


Dan pertanyaannya membuat Mamak tertawa, "Kenapa Anjani?"


"Nggak enak," kernyitnya sambil menutup hidung. Lalu dengan gerakan cepat segera menyesap habis air ramuan di dalam gelas.


"Ramuan ini untuk diminum selama tiga hari," jawab Mamak seraya meminta kembali gelas kosong dari tangannya.


"Nanti mulai hari keempat, Anjani minum ramuan lain yang rasanya lebih enak," lanjut Mamak sembari berdiri untuk menyimpan gelas kotor di dapur.


"Ramuan lain?" tanyanya tak percaya.


Sepertinya ia harus segera menyetok segunung ASI mood booster yang lezat-lezat seperti cerita Teh Dara semalam. Untuk mendistrak pikiran dari ramuan pahit yang rasanya terlampau aneh di lidah.


Namun meski begitu, ia menurut saja pada semua perkataan Mamak. Karena ingin segera pulih dan kembali beraktivitas normal seperti biasa.


Termasuk menyantap sebutir telur rebus tiap dua jam sekali. Dan makan berlauk sayur daun katuk buatan Mamak.


Ia juga tak menolak ketika Mamak mengolesi perutnya dengan parem. Lalu memasang bengkung yang luar biasa panjangnya.


"Kalau Anjani merasa tak nyaman, nanti kita lepas saja," ujar Mamak usai memasang bengkung mengelilingi tubuhnya.


"Tak harus kaku tak boleh dilepas."


Kemudian Mamak juga mengoleskan pilis (bedak dingin) berwarna hitam di dahinya.


"Anjani istirahat saja," Mamak tersenyum.


"Tak apa tidur di siang hari. Daripada nanti malamnya lelah."


Ia mengangguk dan mulai membaringkan tubuh di sisi Aran yang masih terlelap. Mengira Mamak juga akan ikut beristirahat.


Namun ia keliru. Karena ternyata kesibukan Mamak belum selesai.


Kini Mamak tengah menumbuk buah berbentuk bulat yang membuatnya penasaran.


"Apa itu Mak?"


Mamak melihat ke arahnya. Mungkin mengira jika ia telah tertidur.


"Ini manjakani," jawab Mamak sambil tersenyum.


"Nanti dioles di bekas luka ya, nak."


Malam harinya Bi Enok dan Mang Jaja pulang dari Cihideung. Membawa berkardus-kardus oleh-oleh khas dataran Sunda. Sambil Bi Enok terus-terusan bergumam memandangi Aran yang tengah terlelap.


"Gusti nu Agung, kasep pisan Neng."


Sementara Cakra tetap berangkat bekerja seperti biasa. Dan masih mendapat jadwal di shift ketiga.


Sedangkan Mamak dan Teh Dara bergantian menemaninya bangun di malam hari. Untuk menyusui Aran yang seolah selalu lapar.


Tangisan Aran bahkan melengking dengan kencangnya ketika ia terlambat bangun akibat terlalu mengantuk. Sampai harus berkali-kali dibangunkan oleh Mamak atau Teh Dara.


"Ja....Anja....," Teh Dara mengusap lengannya lembut.


"Bangun, Ja. Aran mau nen tuh."


Dan di malam kedua resmi menjadi seorang ibu, ia terkejut mendapati perilaku Aran.


"Aduh," pekiknya cukup keras.


"Kenapa?" tanya Teh Dara cemas.


"Ini ku kok sakit ya, Teh?" ringisnya sambil menunjuk pu ting yang sedang dihisap dengan rakus oleh Aran.


"Masa bayi umur dua hari udah bisa gigit sih, Teh?" tanyanya tak mengerti.


Namun Teh Dara hanya tersenyum, "Kayaknya kamu mulai lecet deh."


"Biasa kalau pertama kadang suka lecet."


"Teteh juga dulu begitu."


"Nanti sering dioles pakai zaitun atau tea tree oil ya, Ja."


"Atau mau beli salepnya juga ada."


"Tapi tea tree oil juga udah mengandung antiseptik sih."


"Aduh....," ia kembali meringis ketika ritme isapan Aran menjadi lebih kencang.


"Ganti nen yang sebelah, Ja, khawatir lecetnya nambah," saran Teh Dara membuatnya memindah posisi Aran ke sebelah kiri.


"Besok bilang ke Cakra, buat bantuin kamu ngobati lecet ini."


"Biar Cakra yang olesin tea tree oil sambil agak dipijit di daerah sekitar itu."


"Biar nggak bengkak."


"Kalau perlu suruh Cakra all out bantuinnya."


"Nggak cuma dipijat. Tapi yang lain juga....."


"Pasti Cakra mau," seloroh Teh Dara seraya mengedipkan sebelah mata.


Ia yang awalnya tak mengerti maksud dari kalimat yang diucapkan Teh Dara mendadak mencibir sebal dengan pipi memanas karena merasa malu sendiri.


"Ih, Teteh ih!"


Namun Teh Dara justru tersenyum penuh arti.


***


Keterangan :


Mapas. : upacara masyarakat Betawi yang dilakukan apabila ada seorang ibu yang baru melahirkan.


Pada upacara ini, si ibu yang baru melahirkan diharuskan memakan “sayur papasan” yang isinya terdiri dari berbagai macam sayur mayur agar si ibu tetap sehat, demikian juga bayi yang baru dilahirkannya (sumber : tussadiahhalima.wordpress.com)


**. : rangkaian perawatan tradisional Betawi untuk ibu pasca melahirkan


##. : rangkaian perawatan tradisional Jawa untuk ibu pasca melahirkan


®®. : rangkaian perawatan tradisional Aceh untuk ibu pasca melahirkan


Pilis : teksturnya berupa bubuk padat, umumnya mengandung ganthi, kencur, kunyit, mint dan kenanga.


Pilis berfungsi melancarkan peredaran darah di kepala, mengurangi pusing, mencegah naiknya darah putih ke kepala, baik untuk kesehatan mata. Cara menggunakannya larutkan 1 butir pilis dengan sedikit air hangat sampai mengental, lalu tempelkan pada dahi, diamkan sampai kering.


Pilis punya efek rasa dingin di dahi dan aromanya bisa membuat Mama relaks (sumber : popmama.com)


Tapel : berupa bubuk padat kering terbuat dari tepung beras, kencur, adas, pulosari, bangle, klabet jahe, dan kayu manis.


Fungsinya untuk mengecilkan, mengencangkan dan menghangatkan perut Mama pasca melahirkan, bahkan bisa menghilangkan selulit.


Gunakan tapel dicampur dengan air kapur sirih dan perasan jeruk nipis, balurkan di perut, lalu gunakan gurita/bengkung/stagen (sumber : popmama.com)


Parem. : manfaat yang didapatkan saat menggunakan parem, yaitu peredaran darah menjadi lancar, menguatkan ginjal, melancarkan ASI, menghilangkan pegal-pegal, dan membuat lebih fresh.


Parem digunakan pada tangan, kaki, dan betis dengan cara dibalurkan. Setelah kering bersihkan dengan air hangat agar hasilnya semakin maksimal (sumber : popmama.com)


Pijat pulen legit : oleh masyarakat Betawi disebut pijat 'kembali perawan' karena semua otot yang kendor setelah melahirkan dikencangkan.


Memfokuskan pemijatan pada daerah panggul hingga daerah sekitar kewanitaan sang ibu


Popoya. : panggilan untuk kakak perempuan (bahasa Aceh)


Cutbang. : panggilan untuk kakak laki-laki (bahasa Aceh)


Cutngoh. : panggilan untuk kakak laki-laki (bahasa Aceh)


Sumber ttg Aceh : Readers tersayang yang asli Aceh 🤗 Teurimong gaseh Mam sudah menjadi narasumber 🤗


##jika ada kekeliruan penulisan atau kesalahan dalam menerjemahkan tahapan adat, feel free untuk PC author ya readers tersayang 🤗 dengan senang hati akan author revisi