
Anja
Ia telah mendownload jadwal Imsakiyah Ramadhan tahun ini. Dan memasang alarm tepat pukul 03.00 WIB. Karena ingin menemani Cakra bersantap sahur di hari pertama. Meski ia tak ikut berpuasa. Mengikuti rekomendasi yang diberikan oleh dokter Stella.
Namun ia terbangun karena ada sesuatu yang dingin dan lembut menyentuh kelopak matanya. Seseorang pasti sedang menciumnya saat ini.
"Mmhhh....," perlahan ia mulai membuka mata yang terasa berat. Ketika sesuatu yang dingin namun lembut itu beralih menyentuh pipinya.
"Jam berapa ini?" tanyanya malas karena masih sangat mengantuk.
"Sebentar lagi Subuh," bisik Cakra tepat di telinganya. Membuat hembusan napas hangat terasa menggelitik daun telinganya.
"HAH?!?" ia mendadak terduduk.
"Eh, hati-hati!" Cakra ikut terkejut karena ia mendadak bangun dan langsung duduk.
"Bahaya lho, bangun tidur langsung duduk," gumam Cakra dengan tatapan tak setuju.
Dilihatnya Cakra sudah rapi memakai sarung dan baju Koko. Sementara dua jarum jam Mickey Mouse menunjukkan pukul 04.10 WIB. Dan sayup-sayup mulai terdengar bersahutan pemberitahuan waktu imsak dari speaker Masjid.
"Udah imsak?" tanyanya tak percaya.
Cakra hanya tersenyum.
"Kenapa nggak bangunin aku?!?" ia langsung memukul dada Cakra.
"Kamu kan nggak puasa."
"Tapi mau nemenin kamu sahur!" salaknya sebal karena niat menemani Cakra bersantap sahur gagal total.
"Masih ada besok," jawab Cakra enteng sambil mengusap pipinya.
Lalu berkata dengan wajah jahil, "Sebelum adzan Subuh masih boleh kan?" gumam Cakra seraya mendekatkan wajah mereka berdua.
"Kamu bukannya udah wudhu!" sungutnya tersipu malu. Sambil menyentuh bibir yang terasa panas membara.
"Habis ini mau wudhu lagi," jawab Cakra dengan senyum terkembang.
Setelah Cakra berangkat ke Masjid, ia berjalan ke ruang makan. Dimana Bi Enok tengah merapikan meja.
"Neng mau makan sekarang?" tawar Bi Enok. "Nanti saya siapkan."
Ia menggelengkan kepala. Lebih tertarik untuk menanyakan hal lain seperti, "Tadi Cakra sahur sama apa, Bi?"
"Sama ayam goreng, Neng," jawab Bi Enok menunjuk beberapa potong sisa ayam goreng yang tersimpan di atas meja.
"Bibi tawarin mau dimasakkin apa. Adennya nggak mau. Katanya sama yang ada aja," imbuh Bi Enok.
Ia tersenyum mengangguk, "Ya udah, makasih Bi."
Jam 05.00 WIB Cakra sudah rapi memakai baju seragam warna putih-putih. Dengan logo tulisan nama perusahaan berwarna merah di dada sebelah kiri.
"Man in uniform," selorohnya sambil merapikan kerah kemeja seragam Cakra yang terlipat ke dalam.
"Man in uniform kelas proletar," jawab Cakra sambil tertawa.
"Ish!" ia langsung memukul dada Cakra dengan kesal. "Bisa nggak sih ngomongnya yang enak?!"
"Nggak menjurus ke hal-hal seperti itu!" sungutnya sambil melotot.
Dan tepat jam 05.20 WIB untuk yang pertama kalinya, Cakra telah siap berangkat bekerja di tempat baru.
"Jangan lupa makan," ujar Cakra sambil mengusap pipinya.
"Iya."
"Mau dibawain apa pulangnya?"
Ia tertawa mendengar pertanyaan Cakra, "Kebalik! Harusnya aku yang nanya. Kamu mau buka puasa sama apa?"
Cakra ikut tertawa.
"Kamu pulang jam berapa?"
"Selesai shift jam empat. Mungkin sampai rumah jam lima an."
Ia menganggukkan kepala, "Hati-hati ya."
Sebelum menaiki motor yang telah dipanaskan, Cakra menyempatkan diri untuk mengecup keningnya sekilas.
***
Cakra
Ini adalah hari pertama ia resmi bekerja di PT AxHM. Masih berstatus training. Didampingi langsung oleh checkman Bang Nugie yang sering mengingatkan mereka untuk menjaga konsentrasi.
Setelah turun langsung di lapangan begini, baru terasa efek dari training semi militer selama 5 hari di Cileungsi.
Karena dengan menjadi seorang operator produksi, mereka diharuskan memiliki ketahanan fisik yang prima dan juga mental yang kuat.
Bayangkan saja, mereka harus berdiri selama 8 jam. Sambil melakukan pekerjaan yang membutuhkan tenaga, kecepatan tangan, sekaligus konsentrasi.
Dan semua jobdesk yang mereka kerjakan harus sesuai dengan SOP (standard operasional prosedur) yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Tanpa meloloskan produk cacat atau NG (not good) dan zero error (nol kesalahan).
Terlebih hari pertama mereka bekerja bertepatan dengan hari pertama puasa. Membuat mereka memiliki dua proses adaptasi sekaligus yang harus dijalani dalam satu waktu.
Yaitu beradaptasi dengan ritme kerja cepat dalam kondisi berdiri sepanjang waktu. Sekaligus menahan lapar dan haus.
Namun semua ini ia jalani dengan senang hati. Demi mengingat jumlah rupiah yang kelak bisa diperolehnya setiap tanggal 15 dan 28.
Everything i do, do it for you.
***
Anja
Hari-hari selanjutnya ia tak mau kecolongan lagi. Dan memutuskan untuk memasang beberapa alarm sekaligus. Mulai dari alarm ponsel, jam weker, hingga jam LED digital yang sengaja ia simpan di atas nakas.
Tit! Tit! Tit! Tiritiiiiiiittttttt!
"Ja?" suara Cakra terdengar berat dan parau. "Kamu pasang alarm jam berapa?"
Tit! Tit! Tit! Tiritiiiiiiittttttt!
"Hah?" ia terbangun dari tidur dengan bingung karena mendengar suara alarm yang tak kunjung berhenti.
Tit! Tit! Tit! Tiritiiiiiiittttttt!
"Emang sekarang jam berapa?" tanyanya tak mengerti karena suasana kamar terlalu temaram. Matanya jelas tak mampu menangkap bayangan jarum di jam Mickey Mouse.
Sementara lengan Cakra tengah melewati wajahnya. Bermaksud meraih jam LED digital yang tersimpan di atas nakas.
Menghembuskan angin lembut sekaligus meruarkan aroma maskulin yang kini telah menjadi favoritnya.
Tit! Tit! Tit! Tiritiiiiiiittttttt!
"Ya ampun!" ia langsung menepuk jidat begitu melihat angka yang muncul di layar LED. Baru menyadari jika telah salah memasang alarm.
Tit! Tit! Tit! Tiritiiiiiiittttttt!
"Sori...sori....," ia meringis malu sambil memperhatikan Cakra yang sedang kerepotan mematikan alarm pada jam digital.
"Salah setting," desisnya merasa tak enak telah memasang waktu alarm yang salah.
"Harusnya jam 3 malah kepencet jam 1," sambungnya sambil tetap meringis.
Namun Cakra justru tersenyum sambil mendekatkan wajah mereka berdua seraya berbisik, "Tak ada waktu yang terbuang sia-sia."
"Hah?" ia mengernyit tak mengerti. "Maksudnya?"
Dengan tanpa berkata apapun, Cakra telah menenggelamkan diri padanya.
"Cakra?"
Lalu yang selanjutnya terjadi, sudah bisa ditebak bukan?
Dan seminggu pertama bekerja di Sunter, Cakra selalu pulang membawa oleh-oleh untuk mereka semua.
Ya. Oleh-oleh makanan bukan diperuntukkan bagi dirinya seorang. Tapi juga untuk Bi Enok, Mang Jaja, Pak Cipto, dan sekuriti yang sedang bertugas.
Hal kecil dan sangat biasa. Hanya jajanan senilai seribu dua ribu rupiah. Tak harus berpangkat atau berpunya untuk bisa membelinya. Semua orang bahkan bisa. Namun justru hal kecil dan sederhana seperti ini yang berhasil membuat hatinya meleleh berkali-kali.
Seingatnya Cakra pernah membawa pulang pastel isi ayam suwir yang lezat. Juga sostel favoritnya. Lalu roti sisir krim yang empuk. Kue Ape. Hingga klepon dan kueku yang tak kalah lezat.
"Kamu dapat dari mana jajanan begini?" tanyanya heran tiap kali Cakra membawa pulang jajanan yang berbeda.
"Tiap ada jualan sepi, aku berhenti," jawab Cakra sambil tertawa.
"Kok malah pilih yang sepi?" tanyanya heran. Tak mengerti jalan pikiran Cakra.
"Biasanya orang kan pilih jualan yang rame. Karena udah terbukti rasanya enak. Makanya banyak yang beli kan?" lanjutnya dengan kening mengkerut.
"Kasihan, Ja, yang sepi pembeli," jawab Cakra sambil tersenyum. "Masalah enak nggak enak itu urusan belakangan."
Tapi ia mendadak berpikir, "Tapi setiap jajanan yang kamu bawa, rasanya enak kok."
"Enak banget malah," tambahnya yakin. "Apalagi pas kamu bawain aku pastel isi ayam suwir sama apa tuh...."
Ia harus mengingat sebentar, "Oh ya! Klepon sama kueku. Enaaak banget asli."
Cakra semakin tersenyum lebar sembari mengacak puncak kepalanya lembut. Membuatnya balas menatap mata Cakra dengan pandangan penuh kekaguman.
Sungguh prinsip yang sederhana. Tapi lagi-lagi mampu melumerkan harinya.
"Besok mau dibawain apa lagi?" kini Cakra justru balik bertanya.
Dan tiap sore jelang berbuka puasa pula, mereka berdua menyempatkan diri berkeliling ke pemukiman padat penduduk semi permanen yang tak layak huni.
Guna membagi-bagikan box berisi makanan untuk berbuka puasa kepada orang-orang yang membutuhkan. Sebagai pembayaran fidyahnya karena tak ikut menjalankan ibadah puasa sebab sedang mengandung.
"Masuk jam empat, pulang jam dua belas malam."
"Nggak bisa bagiin fidyah lagi."
"Kecuali mau dirapel dari sekarang."
"Oke," ia tersenyum mengangguk. "Nggak apa-apa. Biar aku minta tolong Mang Jaja sama Pak Cipto buat bagiin."
"Kamu juga jadwal periksa ke dokter Stella jadi dua minggu sekali kan sekarang?" Cakra terlihat mengernyit mengingat sesuatu. "Kita bisa periksa pagi-pagi nggak? Biar aku bisa nganterin kamu."
"Soalnya Sabtu Minggu ada overtime kejar target," lanjut Cakra. "Sayang kalau nggak diambil."
Ia mencoba berpikir sebentar, "Kalau nggak salah dokter Stella ada jadwal praktek pagi."
Jawaban yang diberikannya sontak membuat Cakra tersenyum lega.
***
Cakra
Minggu ketiga bekerja, ia mendapat shift kedua. Yaitu jam 16.00 - 00.00 WIB.
Jadi ketika sebagian besar orang berlomba-lomba ingin cepat sampai di rumah untuk berbuka puasa bersama keluarga. Ia justru baru berangkat menuju ke tempat kerja.
Dan pengalaman pertama bekerja di shift kedua, menyadarkannya tentang betapa penting menjaga daya tahan dan kesehatan tubuh. Agar dapat bekerja secara optimal.
Karena ia harus bekerja sambil begadang menahan rasa kantuk. Sekaligus melawan kelelahan yang luar biasa. Terlebih ia bekerja di jam-jam ketika metabolisme tubuh seharusnya sedang beristirahat.
Beberapa rekannya di line kadang harus menepi sejenak. Merebahkan diri barang lima sampai sepuluh menit. Hanya beralaskan kardus bekas diantara tumpukan spare part dan mesin robot.
Bukti nyata jika yang diperlukan dari mereka sebagai seorang operator produksi adalah tenaga dan kemampuan fisik.
Mungkin dua faktor ini pula yang menjadi alasan utama mengapa mereka hanya berstatus sebagai pegawai kontrak.
Dengan waktu kontrak kerja yang tak berlangsung lama. Maksimal adalah 2 tahun. Melalui sistem perpanjangan kontrak setelah 1 tahun.
Meski Mas Abeng Foreman sempat menyampaikan, jika kinerja dan attitude mereka dianggap baik oleh perusahaan. Ada kemungkinan untuk diangkat menjadi pegawai tetap.
Walau kesempatannya memang kecil dan jarang terjadi. Karena perusahaan selalu menginginkan tenaga kerja baru yang masih fresh.
Begitulah. Pengalaman baru bekerja sepanjang malam membuat minggu pertamanya menjalani shift kedua dengan sedikit terseok-seok.
Sampai-sampai Anja mengkhawatirkan keadaannya, "Kamu kayaknya udah perlu minum doping deh atau suplemen."
"Nggak apa-apa, Ja," ia mencoba tersenyum sambil melemparkan punggung ke sandaran sofa. Ketika dini hari ini ia baru sampai di rumah jelang waktu sahur.
"Ini karena belum terbiasa."
"Ditambah lagi bulan puasa."
"Jadi kerasanya double."
"Nanti lama-lama juga biasa."
Namun keesokan hari, setiap sahur Anja selalu menyiapkan segelas air hangat dicampur madu untuknya.
"Kata Teh Dara, Mas Sada rutin konsumsi madu dicampur air hangat setiap hari," ujar Anja sambil menyerahkan segelas air madu hangat padanya.
"Tuh, lihat kan, Mas Sada segitu bugarnya," seloroh Anja.
"Habisin!" perintah Anja sambil mendelik.
Ia hanya tertawa sambil menyesap habis air madu hangat buatan Anja. Terasa sangat nikmat bukan meminum buatan istri sendiri?
"Perlu suplemen lain nggak?" tanya Anja lagi dengan wajah ingin tahu. "Vitamin C dosis tinggi mau?"
"Nggak usah, Ja. Makasih," ia menggelengkan kepala. "Air madu udah cukup."
***
Anja
Meski Lebaran tinggal 10 hari lagi, namun Cakra tetap bekerja setiap hari. Bahkan di hari Sabtu dan Minggu Cakra tetap masuk kerja. Dengan alasan,
"Lumayan uang overtime nya, Ja."
"Buat beli baju lebaran," seloroh Cakra jelas sedang bercanda.
"Baju lebaran," cibirnya sambil tertawa. "Emangnya aku anak kecil!"
"Kalau pas lebaran aku masih masuk kerja, uang overtime nya lumayan, Ja," lanjut Cakra dengan wajah lebih serius.
"Lebih besar dari uang transportasi sebulan," imbuh Cakra dengan wajah penuh harap.
Tapi ia langsung melotot sembari memukuli lengan Cakra dengan kesal, "Apa-apaan kerja pas lebaran?!"
"Kayak nggak punya keluarga aja!"
"Nggak mau!"
"Aku nggak mau sendirian pas Lebaran!"
Dan kesibukan Cakra bekerja praktis membuatnya hanya bisa bengong seharian di rumah. Pernah memang, beberapa kali Hanum-Faza dan Bening-Bumi main ke rumah. Lalu ia diajak jalan. Ceritanya ngabuburit bareng.
Tapi rasanya tak semenyenangkan seperti yang dibayangkan. Terlebih ia pergi tanpa Cakra. Dan sedang tak menjalankan puasa.
Jadi, ngabuburit sembari berburu takjil hits terasa kurang afdhol baginya.
Seminggu sebelum Lebaran, Mas Tama meneleponnya. Hanya untuk memberitahu jika Mas Tama dan Mas Sada sekeluarga akan berhari raya di Singapura. Menemani Papa dan Mama.
"Kamu di Jakarta sendiri nggak apa-apa ya, Ja?"
"Bi Enok sama Mang Jaja sengaja nggak pulang ke Cihideung buat nemenin kamu."
"Nanti aku minta Pak Cipto sekeluarga nginep di rumah biar kamu nggak terlalu kesepian."
"Nggak apa-apa, Mas. Nggak usah repot-repot."
"Aku hari pertama Lebaran juga langsung pergi ke rumah Cakra."
"Nggak usah nyuruh Pak Cipto nginep. Kasihan lagi Lebaran."
Malamnya gantian Teh Dara yang melakukan panggilan video call.
"Cakra belum pulang? Kok sepi?"
"Lagi shift malam, Teh. Pulangnya jam satuan."
"Jam satu malam?!"
"Iya."
"Mas...Mas...," Teh Dara justru memanggil Mas Sada yang terlihat sedang duduk di samping Teh Dara sambil membaca buku.
"Cakra kalau shift malam pulang jam 1 dini hari tuh. Apa nggak riskan?"
Kemudian ia mulai mendengar Teh Dara dan Mas Sada membicarakan Cakra. Bahkan beberapa kali Teh Dara terlihat mengungkapkan kekhawatirannya. Tetapi ditanggapi dengan nada santai oleh Mas Sada.
"Namanya laki kan. No pain no gain," begitu seloroh Mas Sada.
"Teh!" serunya sambil tertawa. Berusaha memotong obrolan Teh Dara dan Mas Sada.
"Ngomongin orang tuh di belakang jangan di depan!"
"Aduh, sori, Ja," Teh Dara ikut tertawa. "Tapi aman kan , Ja? Kondisi Cakra dengan jam kerja seperti itu?"
"Aman, Teh. Alhamdulillah."
"Owalah, makanya kemarin kamu tanya tentang suplemen ya? Karena Cakra sering dapat shift malam?"
"Iya, Teh."
Selebihnya Teh Dara memberi tahu, jika mereka sekeluarga akan merayakan Lebaran di Singapura.
"Sekalian nunggu hasil MRA (magnetic resonance angiogram) dan CTA (computed tomography angiogram) Papa yang terakhir. Semoga bagus biar bisa cepat pulang."
"Karena Mama ingin banget pulang ke Jakarta sebelum kamu melahirkan, Ja."
"Mama nggak mau ketinggalan momen kelahiran cucu ke lima."
"Iya, Teh. Aku juga pinginnya lahiran ditemani Mama," ujarnya sedih. "Udah kangen banget."
"Ini lagi diatur-atur ya, sayang."
"Biar pas waktunya."
"Perawatan Papa di sana tuntas. Terus Mama bisa nemenin kamu."
"Asyiiik. Beneran ya Teh?"
"Kamu pilih jadwal lahiran tanggal 11 kan?"
"Diusahakan sebelum tanggal 9, Mama sama Papa udah pulang ke Jakarta."
***
Keterangan :
Imsakiyah Ramadhan. : (yang selama ini umum di kenal oleh masyarakat) adalah waktu yang terletak beberapa menit sebelum adzan Subuh berkumandang. Atau batas akhir waktu sahur bagi yang berpuasa.
Ngabuburit. : kegiatan menunggu waktu berbuka puasa.
Secara asal-usul menurut kamus bahasa Sunda yang diterbitkan oleh LBSS (Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda), ngabuburit diambil dari kalimat 'ngalantung ngadagoan burit'. Yang artinya bersantai-santai sambil menunggu waktu sore.
MRA. : suatu prosedur yang menggunakan komputer sebagai elemen utama untuk diagnosa medan magnet. Untuk melihat posisi sumbatan atau mengetahui pembuluh darah mana yang tersumbat (sumber : terpercaya).
CTA. : prosedur yang melibatkan pencitraan sinar-X dan suntikan cairan berwarna untuk mengetahui gambaran pembuluh darah di otak (sumber : terpercaya).