Beautifully Painful

Beautifully Painful
147. Sampai Jumpa di Lain Hari



Readers tersayang πŸ€—,


Mohon maaf atas ketidaknyamanannya dua hari kemarin πŸ€§πŸ™


sebab author lagi rada riweuh ini 🀧 (butuh liburan euy 🀧)


Hari Minggu, bukannya up bab baru malah nulis pengumuman segede gaban 🀭


Hari Senin zonk nggak ada update apa-apa 🀧


Maafkan ya readers tersayang πŸ€—


BIG HUG πŸ€—


Β ------------


Cakra


Ia masih bekerja seperti biasa. Dengan mengikuti setiap jadwal over time yang ditawarkan. Tanpa pernah ingin mengambil jatah libur barang satu hari pun.


Bahkan jadwal mengantar Sasa pergi kontrol ke dokter, dilakukannya pada malam hari sepulang dari bekerja.


"Bagus," ucap dokter Rahadi ketika untuk yang kedua kalinya mengganti perban Sasa.


"Lukanya sudah mulai mengering."


"Tiga atau empat hari lagi sudah bisa dibuka perbannya."


"Terimakasih, Om," ujar Sasa. Yang kali ini tak lagi bersembunyi di balik ketiak Kak Pocut, ketika dokter Rahadi mengganti perban.


"Sama-sama, Sasa. Semoga lekas sembuh ya."


Namun ia tak lagi membelokkan kemudi ke restoran cepat saji. Sebab sebelum berangkat, Kak Pocut sudah mewanti-wanti padanya agar tak mengajak Sasa ke sana lagi.


"Ini bukan gaya hidup kita, Gam."


"Tapi Kak...."


"Kau mau membuatku pusing kalau sewaktu-waktu Sasa merengek minta pergi ke tempat-tempat seperti itu lagi?!"


Ia akhirnya menyetujui keinginan Kak Pocut. Namun berjanji pada diri sendiri, tetap akan memenuhi permintaan Mas Tama. Dengan mengajak Sasa pergi ke restoran cepat saji di lain waktu.


Selain tugas mengantar Sasa kontrol ke dokter, ia juga mulai berusaha melengkapi persyaratan untuk pengisian data camaba. Sebab ada banyak jenis dokumen yang harus di scan untuk dilampirkan.


Terlebih ia akan melakukan pengajuan permohonan beasiswa UKT (uang kuliah tunggal). Makin banyak pula persyaratan yang harus disertakan.


"Nah...gitu dong....," Anja tersenyum penuh kemenangan. Sambil meletakkan dagu di atas bahu kanannya. Ikut memperhatikan layar laptop yang kini tengah menampilkan laman www.pmb.ganapati.ac.id.


"Tuh kan," sungut Anja ketika mereka sama-sama membaca poin tentang harus melampirkan Surat keterangan bebas buta warna asli dari dokter spesialis mata.


"Kalau kamu ngisi datanya mepet, nggak bakalan keburu ngurus yang kayak ini nih."


Ia pun berjanji di dalam hati, akan segera pergi ke dokter spesialis mata. Dan pulang ke rumah untuk mengambil kekurangan dokumen yang disyaratkan. Agar ketika pengajuan resignnya di acc, ia bisa segera menyelesaikan registrasi online.


***


Sore ini, ketika ia sedang mengantre keluar usai shift pertama, Bang Nugie tiba-tiba memintanya untuk ikut ke lantai dua.


"Pengajuan resign lu udah di acc," ujar Bang Nugie begitu mereka duduk di ruang makan lantai dua.


Ia tersenyum mengangguk, "Terimakasih, Bang."


"Lu masih masuk kerja sampai tanggal 20," terang Bang Nugie.


"Tanggal 21 udah off."


"Untuk urusan administrasi bisa diselesaikan tanggal 23 di kantor Pegangsaan," lanjut Bang Nugie.


"Bareng sama anak-anak lain yang udah habis kontrak."


Ia mengangguk mengerti, "Baik, Bang."


"Jadi....," Bang Nugie mengulurkan tangan kanan.


Ia pun segera menyambut uluran tangan Bang Nugie.


"Sampai tanggal 20."


"Sampai tanggal 20," jawabnya mengulang kalimat yang diucapkan oleh Bang Nugie.


"Terimakasih sudah bergabung bersama kami di AxHM."


Ia mengangguk.


"Semoga sukses kuliahnya."


"Aamiin," jawabnya gugup. "Terimakasih banyak, Bang."


"Jangan lupa sama teman-teman di sini," seloroh Bang Nugie. "Kalau suatu saat ketemu di jalan masih ingat kan?"


"Ingat, Bang, ingat," ucapnya cepat sambil menghembuskan napas lega.


Malam harinya, dengan ditemani Anja yang terus menyunggingkan senyum dari telinga ke telinga. Ia kembali membuka laman www.pmb.ganapati.ac.id.


Untuk melakukan pengisian data camaba. Termasuk mengisi data pengajuan permohonan beasiswa UKT (uang kuliah tunggal). Menjadi hal yang paling penting. Sebab ia tak ingin menggantungkan diri pada keluarga Anja. Dan mendapatkan beasiswa UKT, jelas jalan keluar yang terbaik.


Setelah yakin seluruh kolom yang tersedia telah diisi dengan benar. Kini ia mulai mengunggah hasil scan dokumen yang disyaratkan.


"Bismillah....," gumamnya sebelum mengklik send.


"Alhamdulillah....akhirnya....beres juga," seru Anja riang. Dengan nada suara yang terdengar amat lega. Ketika ia berhasil mengklik send dan mendapatkan balasan pemberitahuan jika data yang ia kirimkan telah berhasil.


"Bandung, i'm coming....," seloroh Anja sembari menenggelamkan wajah dalam-dalam di balik punggungnya.


Ia pun ikut tersenyum lega. Dengan mata menerawang pada layar laptop. Yang masih menampilkan laman pendaftaran mahasiswa baru.


Masa depan kini mulai terbentang di hadapannya. Meski jalan menuju ke sana masih teramat samar. Bahkan sedikit gelap, misterius, dan pastinya bukan jalan yang mudah untuk dilalui.


Entah hal apa saja yang akan ia temui di depan sana. Apakah berbagai kemudahan yang melenakan. Atau justru banyaknya ujian dan kesulitan.


Namun satu yang pasti. Ia bertekad di dalam hati. Bahwa apapun yang terjadi, tantangan sebesar apapun yang kelak akan dihadapi, dan sesulit apapun keadaan yang harus dilewati. Ia akan tetap menggenggam erat tangan Anja. Takkan pernah melepaskan walau barang sejenak.


Anja dan Aran. Harus tetap ada di sampingnya. Sampai mereka sama-sama mencapai garis finish.


Meski ia yakin itu sama sekali bukan hal yang mudah.


"Kamu senang?" tanyanya sambil menoleh ke belakang punggung. Dimana Anja masih menenggelamkan wajah dalam-dalam.


"Seneeeeeng bangeet," jawab Anja dengan suara yang kurang jelas. Sebab wajah yang tenggelam di punggungnya.


"Akhirnya kamu jadi kuliah," kini Anja telah mengangkat kepala. Lalu meletakkan dagu di atas bahu kanannya.


"Makasih Cakra....."


Ia hanya tersenyum sambil menghembuskan napas panjang.


"Kamunya sendiri seneng nggak?" Anja menolehkan wajah ke arahnya. Hingga hembusan napas hangat terasa meniup-niup rahangnya.


Ia hanya mengangkat bahu. Memang benar-benar tak tahu harus merasa senang atau tidak dengan semua ini.


"Ck!!" jawaban yang diberikannya sontak membuat Anja mendecak sebal. "Kamu tuh ya....kalau ditanya pasti nggak pernah jelas jawabannya."


Ia tertawa dengan mata terus menerawang pada layar laptop.


"Mungkin banyakan nggak senengnya," jawabnya seraya menoleh ke arah Anja. Hingga wajah mereka kini hanya berjarak beberapa inci.


Ia sempat menyentuhkan diri meski hanya sekilas. Merasai keharuman yang terasa begitu menghangatkan sekaligus melenakan.


"Kenapa banyakan nggak senengnya?" tanya Anja penasaran. Setelah ia kembali menekuri layar laptop.


"Karena kita tinggalnya bakal jauhan," jawabnya masygul.


"Nggak bisa lihat kamu dan Aran tiap hari...."


"Oke. Kita video call an tiap hari," sahut Anja cepat.


"Tapi kita bakalan nggak bisa....," ia meraih tangan Anja lalu menggenggamnya erat-erat. "Begini nih."


"Seminggu masih bisa ditolerir," sambung Anja lagi.


Jawaban yang diberikan Anja, membuatnya perlahan menarik tangan berkulit halus yang kini tengah digenggamnya. Membuat Anja yang sedang setengah duduk sambil memeluknya mendadak berdiri.


Kesempatan ini ia pergunakan untuk mendorong kursi sedikit lebih ke belakang. Berusaha memberi jarak dengan meja belajar.


Setelah yakin space yang tersedia bisa memberikan kenyamanan, ia segera menarik Anja hingga bisa duduk di atas pangkuannya.


"Cakra?" Anja yang terheran-heran dengan perilaku impulsifnya terlihat bersemu merah sebab tersipu.


Sekarang gantian dirinya yang menenggelamkan wajah dalam-dalam pada tubuh Anja.


"Aku boleh minta sesuatu?" bisiknya dengan wajah menempel di tubuh Anja.


"Cakra, ihh!" tapi Anja buru-buru mendorongnya agar menjauh. Lalu menatapnya dengan wajah menyala.


"Jangan macem-macem!" desis Anja sambil mendelik.


"Bukaaan....," ia jadi tertawa melihat reaksi Anja. "Bukan minta itu...."


"Terus?" Anja masih mendelik.


Ia kembali menggenggam tangan Anja. Kali ini lebih erat.


"Apapun yang terjadi di sepanjang perjalanan yang akan kita lewati....," ia sedikit menengadah untuk menatap manik Anja.


"Aku ingin kita tetap bergandengan tangan seperti ini...."


Dua bola mata indah yang awalnya mendelik marah kini berangsur sirna. Lalu berubah melembut. Sejurus kemudian justru telah digenangi oleh kaca.


"Sekarang kita memang bahagia satu sama lain," lanjutnya sembari terus menatap manik yang berkaca-kaca itu.


"Tapi hidup selalu berubah," lanjutnya dengan mata mereka yang tetap saling bertautan.


"Mungkin aku yang berubah."


"Atau kamu."


"Atau kita berdua sama-sama berubah."


"Atau justru keadaan yang berubah."


"Tak memihak pada kita."


Dengan air mata menggenang, Anja mengusap rahangnya lembut. Sementara tangan yang lain masih tetap saling menggenggam.


"Kamu harus ingetin aku kalau aku mulai berubah," gumam Anja hampir tak terdengar.


"Kamu juga tetap di sampingku meski aku berubah," jawabnya sungguh-sungguh.


Sambil menggigit bibir dan air mata yang mulai berlinangan, Anja menganggukkan kepala berkali-kali.


"Kita tetap sama-sama sampai akhir?" ia tersenyum sembari menyusut air mata di pipi Anja.


Namun Anja tak menjawab. Justru menghambur ke dalam rengkuhannya.


"Aku sayang kamu," bisik Anja disela isakan.


"Aku juga sayang sama kamu," jawabnya cepat. "Sayang banget."


Mereka tetap saling merengkuh. Dalam. Lama. Seolah sedang memberitahu isi hati masing-masing. Meski tanpa sepatah kata pun yang terucap.


Sekaligus berusaha saling menenangkan. Sama-sama mengisyaratkan jika semua akan baik-baik saja. Jika mereka tetap akan bergandengan tangan sampai kapanpun. Tanpa ada yang berusaha untuk melepaskan. Sesulit apapun jalan yang harus mereka lewati kelak.


Setelah yakin dengan isi hati masing-masing. Anja mulai menegakkan punggung. Kemudian tersenyum menatapnya.


Ia pun balas tersenyum sembari menyusut sudut mata Anja sembari berkata, "Sama ada satu lagi...."


"Apa?" Anja tertawa di sela sisa sedu sedan.


"Aku antar kamu regis."


Anja mengernyit.


"Jadwal regisku tanggal 29. Masih ada waktu."


Anja makin mengernyit.


"Ja?" ia balas mengernyit.


Anja tak menjawab. Namun kembali menghambur ke dalam rengkuhannya.


"Iya deh....iya deh....," jawaban Anja membuatnya tersenyum.


Sementara dari arah tempat tidur, mulai terdengar suara rengekan Aran. Yang lambat laun berubah menjadi tangis yang teramat kencang. Membuat mereka berdua sama-sama tertawa. Tawa penuh kelegaan.


"Aran sayang, mau ikut ngobrol juga ya....," seloroh Anja yang langsung menghampiri Aran. Lalu segera mengASIhinya.


Ia pun tersenyum sambil menghembuskan napas lega. Memandangi dua karunia terindah. Yang dalam beberapa hari ke depan, sudah tak bisa dilihat dan disentuhnya lagi setiap saat.


***


Hari ini adalah hari terakhir ia bekerja di Sunter.


Dan sorenya, begitu keluar shift pertama, ia langsung berpamitan pada seluruh teman-temannya di line yang sama. Termasuk dengan Bang Nugie, Mas Abeng, juga Pak Veby.


"Wah, sukses di luar bro!" ujar teman-temannya ketika mereka saling bersalaman.


"Nanti bisa-bisa, lu balik ke sini lagi udah jadi atasan gua, Cak," seloroh Bang Nugie yang diiyakan oleh Mas Abeng.


"Kayaknya si Cakra nih calon calon begitu, Gie," seloroh Mas Abeng membuat mereka semua tergelak.


Benar-benar acara perpisahan yang jauh dari air mata maupun kesedihan.


Setelah acara pamit dan saling bermaafan selesai, ia dan trio Sunter langsung menuju ke sebuah kedai kopi yang berada di lower ground ITC. Hanya berjarak sepelemparan batu dari AxHM.


Sambil menunggu pesanan datang, ia mengeluarkan tiga buah amplop yang dibawanya dari rumah.


"Apaan nih?" tanya Sarip begitu menerima amplop.


"Whoaaa, an jiiim....mantu jenderal tampil beda," seloroh Theo. "Perpisahan dirayakan sama makan-makan....udah terlalu biasa man."


"Tapi perpisahan bagi-bagi THR. Itu baru luar biasa," lanjut Theo diikuti gelak tawa mereka semua.


"Bukan THR," ralatnya cepat. "Ini titipan dari istri gua."


"Makasih banyak waktu aqiqah udah datang ke rumah, kata istri gua," lanjutnya sambil tersenyum demi melihat kening Sarip yang berlipat-lipat ketika mengeluarkan isi amplop.


"Nuhun pisan, Cak," ucap Sidik yang juga penasaran dan mulai membuka isi amplop.


"Privilege post card....," gumam Sarip ketika membaca tulisan yang tertera di atas selembar kertas eksklusif.


"Wah, bahasa Inggris euy," sungut Sidik setelah melihat isi amplop.


"Nyesel gua dulu sekolah cuma sampai gerbang doang," lanjut Sidik dengan wajah tak berminat. "Jadi nggak ngerti ini maksudnya apa kan?"


Ia hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Sidik dan Sarip. Yang lipatan di keningnya semakin bertambah.


"Ah, kalian," gerutu Theo melihat kecengoan dua temannya. "Nih gua bacain nih."


"Semarak 15 tahun Selera Persada," Theo mulai membacakan sederet tulisan di dalam kertas.


Namun sejurus kemudian Theo mendadak terdiam, "Gua juga nggak ngerti yang kalimat panjangnya."


"Jiah!" Sidik terbahak.


"Intinya nih....," sergah Theo cepat. Sebab sudah kadung jumawa bisa membaca tulisan berbahasa Inggris.


"Kita dapat voucher makan di seluruh jaringan restoran Selera Persada yang ada di Jakarta."


"Dengan limit total....," Theo membelalakkan mata sebelum kembali melanjutkan. "Lima ratus ribu rupiah...."


"Beneran mantu sultan nih nggak kaleng-kaleng," seru Sidik sambil menggelengkan kepala.


"Bukan dari gua....," ia balas menggelengkan kepala. "Inisiatif dari istri gua sendiri itu."


"Thanks banget bro," Theo menepuk bahunya dengan cukup keras. "Gua jadi punya jalan buat mengambil hati calon papa mertua."


"Jiah!" Sidik mencibir.


"Nuhun pisan, Cak," lanjut Sidik sambil tertawa lebar. "Nanti kalau libur kerja, gua bakal ajak Ema (ibu), Bapa jeung (sama) adek ke Jakarta."


"Jalan-jalan keliling kota naik busway, ntar makannya di restoran....ahay.....keren kan...."


Ia tersenyum mengangguk. Namun sedikit heran dengan tingkah Sarip yang sedari tadi diam tak bersuara.


Tingkah tak biasa yang membuat mereka bertiga hanya bisa saling berpandangan sambil mengangkat bahu. Membiarkan Sarip tenggelam dalam pikirannya sendiri.


Begitu pesanan datang, mereka pun langsung melahap roti kedai Janji Hati yang terkenal lezat. Ditemani oleh segelas kopi panas dengan pilihan rasa sesuai selera masing-masing. Benar-benar acara perpisahan yang menyenangkan. Jauh dari aroma kesedihan.


"Mungkin bagi kalian ini cuma perpisahan," suara Sarip tiba-tiba memecah canda tawa mereka bertiga.


"Tapi bagi gua....ini adalah akhir dari perjalanan yang bahkan tak pernah dimulai...."


"Bang ke lu!" Theo yang sedang menyesap kopi langsung tersedak. Untung tak sampai menyembur keluar.


"An jir!" Sidik menggelengkan kepala tak mengerti. "Kumat lu?!""


Ia yang hampir tertawa diurungkan demi melihat wajah serius Sarip.


"Ya....lu bertiga tahu sendiri....," Sarip berkata dengan wajah yang sangat meyakinkan.


"Gua lagi ada misi penting. Untuk masa depan. Yang berkaitan sama elu, Cak."


Ia menunjuk dada sendiri sambil mengernyitkan dahi tak mengerti.


"Kalau elu nya resign, gua nggak punya kesempatan lagi buat ngepoin bidadari berbaju put...."


"Buahahahaha!!!!"


Tawa mereka bertiga sontak meledak bahkan sebelum Sarip menyelesaikan kalimatnya. Membuat beberapa orang di sekitar meja yang mereka tempati menoleh dengan penuh rasa ingin tahu.


"Bangun anak muda!" Theo menepuk-nepuk bahu Sarip. "Kalau ngimpi jangan terlalu tinggi. Nanti kalau jatuh, sakitnya cuiiii."


"Masih keinget sama insiden kuah rendang legend lu?!" cibir Sidik seraya menggelengkan kepala.


"Alaaah...sirik aja lu berdua!" Sarip balas mencibir. "Dasar nggak bisa lihat orang seneng!"


Ia tersenyum sambil menyuap potongan roti yang terakhir, "Kan gua yang pindah. Bukan Bening."


"Bening masih di sekitaran Jakarta," lanjutnya di tengah kunyahan.


"Samperin aja ke kampus kapan-kapan."


Theo kembali menepuk bahu Sarip, "Samperin ke kampus tuh."


"Siapa takut?!" Sarip membusungkan dada.


"Udahlah cari gebetan lain," Sidik mengibaskan tangan tak setuju. "Yang lebih mudah terjangkau."


Ia hanya tersenyum melihat ketiga temannya terus saja berdebat. Saling mempertahankan pendapat masing-masing yang sama sekali bukan hal prinsip. Tanpa ada seorangpun mau mengalah.


Benar-benar acara perpisahan yang aneh.


Lain daripada yang lain.


***


Hari ini ia datang ke kantor AxHM yang terletak di Jl. Pegangsaan. Untuk mengembalikan wearpack yang diterimanya saat penandatanganan kontrak kerja beberapa waktu lalu.


Dua stel pakaian kerja, topi, dan sepatu sudah terbungkus rapi di dalam plastik. Sementara id card masih dipegangnya.


Dari area parkir motor ia berjalan menuju ke gedung D. Tempat dimana serah terima akan dilaksanakan.


Bersama dengannya ada sekitar puluhan orang. Sama-sama berjalan menuju gedung D. Sepertinya orang-orang yang telah habis masa kontraknya.


Begitu masuk ke dalam gedung, mereka diarahkan untuk langsung menuju ke lantai dua. Suasana yang hampir mirip seperti di lantai dua AxHM Sunter. Sama-sama berfungsi sebagai ruang makan.


Seorang petugas meminta mereka untuk menandatangani daftar hadir terlebih dahulu. Lalu mempersilakan mereka untuk menunggu.


Dan di lantai dua ini, ternyata sudah lebih banyak orang. Ia pun memilih untuk duduk di sebuah kursi yang kosong. Sedikit terpisah dari yang lain. Karena memang tak seorangpun yang dikenalnya.


Ia sempat menunggu selama hampir setengah jam. Sebelum akhirnya nama Teuku Cakradonya Ishak dipanggil untuk naik ke lantai tiga.


Ada sekitar lima meja dengan masing-masing petugas di baliknya.


Ia kembali diminta untuk menandatangani lembaran daftar hadir sebanyak tiga lembar. Lalu acara serah terima pun dimulai.


Ia menyerahkan bungkusan plastik berisi wearpack lengkap termasuk sepatu. Dan id card di atasnya.


Setelah di cek kelengkapan barang yang dikembalikannya. Petugas menyerahkan sebuah amplop cokelat berukuran kertas A4. Dan....selesai sudah sampai di sini. Ia bukan lagi seorang operator produksi PT AxHM.


Sebelum meninggalkan meja petugas ia sempatkan untuk tersenyum dan mengucapkan terimakasih.


"Nanti sering-sering cek link yang ada di dalam," ucap petugas sebelum ia sempat beranjak.


"Nama-nama yang di recall (dipanggil ulang) untuk penawaran kontrak baru ada di sana semua," lanjut petugas lagi.


"Baik, Pak," ia kembali mengangguk. "Terimakasih banyak."


Ia segera berbalik dan melangkah pergi. Meninggalkan satu episode hidup pernah menjadi seorang pekerja pabrik.


Suka dan duka selama dua bulan menjadi seorang operator produksi, tentu akan diingatnya baik-baik. Sungguh pengalaman berharga.


Tanpa sadar ia kembali tersenyum ketika kakinya telah sampai di lantai satu. Kemudian melangkah keluar dari gedung.


Dihirupnya napas dalam-dalam. Merasakan udara jelang siang yang cenderung kering juga panas. Berusaha memenuhi seluruh rongga dada dengan asa yang membuncah.


Mempersiapkan diri untuk langkah selanjutnya.


***


Β NOTE πŸ€—


Bagi readers tersayang yang ingin bergabung dengan GC (group chat) Sephinasera πŸ€— Password nya adalah dengan menyebutkan nama lengkap ibu kandung Cakra di pintu masuk GC (bukan di komen ya readers tersayang πŸ€—) --udah kayak mau ngurus rekening di bank aja pakai nama ibu kandung πŸ˜πŸ™ˆπŸ€—--


Sampai bertemu di GC readers tersayang πŸ€—


With love,


Sephinasera


Β -------------