
Sada
Air mata Papa tak terbendung lagi begitu menyelesaikan kalimat terakhir.
Sementara Mama, sejak pertengahan kisah telah lebih dulu memeluk Papa sembari terus menangis.
Sedangkan ia, hanya bisa menundukkan kepala dalam-dalam.
Tak pernah mengira, jika Papa yang terkadang masih mengalami disorientasi ruang dan waktu. Namun ternyata mampu mengingat masa lalu dengan begitu gamblang.
Seperti sebuah keajaiban?
Atau karena semua cerita terpendam ini, sebenarnya telah tersimpan di alam bawah sadar sejak lama?
Jadi, meskipun kondisi fisik dan psikis Papa mengalami penurunan akibat dari serangan stroke yang dialami. Namun daya ingat tentang hal-hal yang tersimpan di alam bawah sadar masih tetap terjaga.
Mungkinkah?
Entahlah.
Ia jelas akan menanyakan fenomena ini kepada dokter Misbah.
Dan ketika ia melirik ke samping, Mas Tama terlihat memejamkan mata sambil memijit kening dengan rahang mengeras.
"Akhirnya Papa merasakan seperti apa yang Hamzah rasakan," ucap Papa di sela isakan seraya melepas kacamata.
"Anak perempuan yang paling Papa sayangi, harus menikah sebelum waktunya untuk menutupi aib....."
Dengan air mata berderai Mama mengusap punggung Papa perlahan.
"Sepertinya semua yang diucapkan Hamzah pagi itu terkabul," lanjut Papa lagi dengan suara getir.
"Karena meski Anja mengalami hal seperti ini...."
"Nasib Anja masih jauh lebih baik di bandingkan dengan apa yang dialami Cut Sarah...."
Mama kembali mengeratkan pelukan pada Papa seraya berbisik lirih, "Sudah, Pa...."
Namun rupanya Papa masih belum selesai. Karena Papa kembali berujar, "Hanya tak pernah menyangka....."
Suara Papa terdengar semakin emosional.
"Jika orang yang menodai Anja adalah anak Hamzah....."
"Pa....," suara Mama terdengar memohon.
"Benar....," Papa menggelengkan kepala. "Jika balasan dari keburukan hanyalah keburukan pula."
"Meski belasan tahun kemudian...."
"Jangan harap kita bisa bersembunyi dari kesalahan yang telah diperbuat."
"Sudah, Pa....," bisik Mama yang kembali terisak.
"Dia akan terus mengejar, bahkan sampai ke liang lahat sekalipun...."
"Mama nggak kuat lagi dengarnya....," ujar Mama seraya memeluk Papa. Meminta agar Papa tak lagi menyalahkan diri sendiri terhadap apa yang menimpa Anja.
Papa yang juga masih berlinangan air mata segera mengeratkan pelukan pada Mama. Membuat isakan Mama semakin keras terdengar.
Kini suasana ruang perpustakaan mendadak sunyi. Hanya sedu sedan sisa isak tangis Mama yang sayup-sayup masih terdengar.
Sedangkan ia dan Mas Tama masih sama-sama terdiam. Menjadi pilihan terbaik karena mereka benar-benar terkejut dengan rahasia masa lalu yang baru saja Papa ungkapkan.
Kisah menyedihkan yang tak pernah mereka duga. Karena selama ini, ia bahkan mungkin Mas Tama selalu menyangka. Jika Papa dan Hamzah Ishak adalah dua musuh bebuyutan yang saling berseberangan.
Tak seorangpun bisa mengira, jika sejatinya Papa dan Hamzah Ishak adalah dua sahabat karib. Yang terpaksa harus saling berhadapan karena keadaan.
Dari kisah panjang ini ia mulai paham. Dari mana asal muasal karakter kuat dan tangguh yang dimiliki Cakra. Kepribadian unik yang selalu didengungkan oleh Dara, tiap kali kemarahannya terhadap Cakra muncul di permukaan.
Ya, sudah pasti berasal dari darah pejuang seorang Hamzah Ishak. Yang mengalir deras di nadi remaja tanggung itu. Tak terbantahkan lagi.
"Panggil anaknya ke sini," ujar Papa setelah berhasil menguasai diri. Sedangkan Mama masih berusaha menyusut sisa air mata.
"Papa mau bicara sama dia."
Mas Tama menghembuskan napas panjang sembari melirik arloji dan berkata, "Jam segini palingan udah berangkat, Pa."
Kening Papa mengernyit, "Berangkat ke mana?"
"Kerja."
"Kerja apa malam-malam begini?"
Mas Tama kembali menghembuskan napas panjang.
"Kerja di mana?" tanya Papa dengan kening mengkerut.
"Axtra."
"Axtra?" Papa balik bertanya dengan kening yang semakin mengkerut.
Untuk yang ke sekian kalinya Mas Tama menghembuskan napas panjang, "Axtra Sunter. Pabrik."
"Cakra kerja di pabrik?" lagi-lagi Papa kembali bertanya.
Mas Tama hanya menganggukkan kepala.
"Anak itu kerja di pabrik untuk menghidupi anak dan cucu Papa?!"
Mas Tama kembali menganggukkan kepala tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Gimana bisa?" suara Papa mendadak meninggi.
"Ma?" Papa menengok ke arah Mama. "Dia nggak disuruh ngantor di Selera Persada?!"
Mama yang tak lagi menangis buru-buru meraih tangan Papa dan menggenggamnya erat-erat.
"Cakra juga nggak pernah pakai kartu yang Mama berikan."
Kalimat yang diucapkan Mama membuat dirinya dan Mas Tama melihat ke arah Mama secara bersamaan.
"Nol. Nggak ada pemakaian sama sekali," lanjut Mama sembari tersenyum.
"Bahkan kartu yang dipegang Anja juga nggak ada pemakaian."
"Kecuali kartu debit punya Anja," Mama masih tersenyum. "Itu juga masih dalam batas wajar."
"Nggak jauh berbeda pengeluarannya seperti waktu Anja masih sendiri."
Di luar dugaan, Papa justru tersenyum sembari menggelengkan kepala begitu mendengar penuturan Mama. Lalu berkata dengan nada yang bagi telinganya terdengar seperti pujian.
"Dia benar-benar anak Hamzah."
"Dia persis seperti Hamzah."
***
Cakra
Semalam usai melakukan pembicaraan di ruang perpustakaan dengan Mama Anja, Mas Tama dan Mas Sada. Ia langsung menghubungi Kak Pocut. Untuk memberitahu tentang rencana pernikahan ulangnya dengan Anja esok hari.
Tanpa bertanya Kak Pocut segera menyerahkan ponsel pada Mamak. Dan tanpa bertanya pula Mamak langsung mengiyakan.
"Bisakah besok datang semua, Mak?" tanyanya penuh harap. Karena ia ingin pernikahannya kali ini dihadiri oleh orang-orang terdekat.
"Bisa."
Jawaban Mamak membuatnya tersenyum lega.
Dan sepulang dari shift ketiga di Sunter, ia langsung tancap gas menuju ke ITC Cempaka Mas. Karena benar-benar have no idea. Harus membeli mahar apa untuk pernikahannya kali ini. Sementara uang yang ia miliki di dalam dompet sudah sangat menipis.
"WOII!" teriak Sarip dan Theo berbarengan ketika ia melewati mereka yang masih berjalan menuju motor masing-masing.
"SHARE LOC JANGAN LUPA!!"
Teriakan Sarip masih terdengar meski ia telah melaju meninggalkan mereka berdua. Ia pun mengacungkan jempol tinggi-tinggi sebagai jawabannya.
Setelah memarkir motor di tempat parkir ITC yang masih sepi dan cenderung kosong, ia segera menuju ke lantai dasar. Tempat dimana banyak terdapat toko emas.
Tapi ia harus kecewa, karena sederetan toko emas masih tertutup rapat. Belum ada satupun yang buka.
Ya tentu saja, ini baru jam 8 pagi. Normalnya aktivitas di pertokoan adalah jam 10 ke atas bukan?
Namun ia tak patah semangat. Didekatinya seorang ibu paruh baya yang baru akan membuka kunci pintu kiosnya. Bermaksud untuk bertanya. Karena malu bertanya sesat di jalan.
"Coba ke lantai 1," jawab ibu itu. "Di blok G ada toko emas yang bukanya jam 8 pagi."
"Makasih, Bu," ia tersenyum mengangguk. Segera melesat ke lantai 1.
Dan karena sebagian besar toko masih tutup. Maka mencari toko emas yang sudah buka bukanlah hal yang sulit.
Tapi sayang, barang yang dicarinya tidak ada.
"Kalau mau beli logam mulia Antam 24 karat di sini, harus pesan dulu buat dicetak," jawab pegawai toko.
"Kecuali yang ukuran 5 gram ke atas sih ready."
"Beli yang 5 gram aja sekalian, Bang," seloroh pegawai toko sambil tersenyum. "Jatuhnya lebih murah lho dibanding beli gram yang kecil."
Ia hanya meringis.
"Buat siapa sih, Bang?" kerling pegawai toko emas itu lagi. "Kerajinan amat pagi-pagi udah cari emas Antam."
Ia kembali meringis, "Kalau gitu makasih ya Mba."
Lalu beranjak pergi. Ia mungkin harus kembali ke lanta...
"Eh, Bang! Bang!" teriak pegawai toko emas memanggilnya.
"Coba ke pegadaian," ujar pegawai toko emas ketika ia menoleh.
"Di sana stok emas Antam nya lebih lengkap."
"Pegadaian ya?" ia balik bertanya.
"Di lantai dasar," pegawai toko emas menunjukkan jarinya ke lantai bawah.
"Oh ya," ia tersenyum senang. "Makasih banyak, Mba."
Ia pun kembali turun ke lantai dasar. Dan tanpa kesulitan berarti langsung bisa menemukan kantor pegadaian. Yang berada di antara deretan toko.
Setelah mengambil nomor antrian dan menunggu sekitar 10 menit. Barulah nomor antriannya dipanggil. Ia pun bisa menghadap Mba-mba kasir.
Namun sayang, ia kembali tak bisa memperoleh jenis ukuran yang diinginkan.
"Untuk saat ini, stok emas Antam yang kami miliki untuk satuan berat terendah adalah 1 gram."
"Yang 1 gram saja," seloroh Mba kasir seraya tersenyum.
Ia hanya meringis malu.
"Mas bisa membuka tabungan emas."
"Caranya sangat mudah. Bisa dimulai dengan pembelian terkecil 0,01 gram."
"Syaratnya hanya dengan menyerahkan identitas yang masih berlaku."
Ia meringis, tersenyum, dan menggeleng sekaligus, "Terima kasih. Tapi saya ingin yang cash saja Mba."
"Baik," Mba kasir tersenyum mengangguk.
"Kalau memang tetap ingin membeli yang beratnya 0,5 gram, Mas bisa langsung mendatangi UBPP (Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian) di Pulogadung."
"Atau Butik Antam di TB Simatupang."
"Di sana stok emas cetakannya lebih lengkap."
"Untuk ukuran kecil juga biasanya selalu tersedia."
"Nggak ada yang jaraknya lebih dekat, Mba?" ia mengernyit.
Mba kasir tersenyum, "Di Pegadaian Galeri 24 juga bisa. Di sana stoknya selalu lengkap."
Setelah mengecek jarak tempuh dan kondisi lalu lintas melalui aplikasi ponsel, ia memutuskan untuk mendatangi Pegadaian Galeri 24.
Dan bisa bernapas lega karena barang yang diinginkannya tersedia. Yaitu logam mulia emas 24 karat seberat 0,5 gram. Untuk mahar pernikahannya kali ini.
Ia pun bisa tersenyum lega di sepanjang perjalanan pulang menuju ke rumah Anja.
***
Mamak Cakra
Semalam usai Agam menelepon, memberitahukan tentang pernikahan ulang yang akan dilakukan esok hari. Ia langsung mencari-cari letak kotak kaleng bekas biskuit yang tersimpan di lemari bagian bawah.
Kotak kaleng berbentuk persegi panjang yang telah berkarat di sana-sini itu merupakan bekas kaleng biskuit entah tahun berapa. Karena sudah lama ia tak pernah menjumpai lagi merk biskuit tersebut beredar di pasaran.
Dengan tangan gemetaran ia lalu mencoba membuka penutup kaleng. Yang terasa cukup kuat dan keras. Sepertinya sejumlah karat di sana-sini telah membuat penutup kaleng melekat erat. Hingga sulit untuk dilepaskan.
Namun dengan satu tarikan yang cukup kuat, ia akhirnya berhasil membuka penutup kaleng tersebut.
Dan air matanya pun mulai berjatuhan setetes demi setetes. Hingga tak terasa tiba-tiba saja sudah mengalir deras. Ketika tangannya mulai memeriksa isi kaleng satu per satu.
-------
..........Flashback..........
Sejujurnya ia tak pernah menyetujui langkah yang diambil oleh Cutbang.
Karena baginya, melawan pemerintahan yang sah bukanlah hal yang dibenarkan. Apapun alasannya. Termasuk perlakuan buruk dan jauh dari keadilan yang mereka terima. Terutama dalam kasus tragis Cut Sarah.
"Tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya," begitu Cutbang selalu memberinya penghiburan.
"Kami bukanlah sedang berbuat keji."
"Kami hanya ingin terciptanya keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Aceh."
"Karena kita harus menjadi tuan rumah di tanoh keuneubak, indatu moyang (tanah leluhur, warisan nenek moyang)."
Cutbang juga sempat mengajak Teungku Imum untuk ikut serta ke dalam Gerakan Nasional Merdeka. Namun Teungku Imum menolak.
"Biarlah aku menjadi guru mengaji saja untuk anak-anak," begitu dalih Teungku Imum.
"Kalau aku pergi, siapa yang akan mengajar mereka?"
Lalu Teungku Imum tersenyum seraya menepuk bahu Cutbang, "Cita-cita kita sama, Hamzah."
"Menginginkan keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat."
"Tapi cara kita berbeda."
"Menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar (mengajak pada kebaikan, mencegah keburukan) itu bisa diibaratkan saat kita hendak menanam bibit padi di sawah."
"Harus ada yang membajak, mengairi, menebar benih padi, dan lainnya."
"Mungkin memang sudah bagiannya jika kau harus membajak sawah."
"Bekerja keras penuh peluh dan keringat."
"Sementara aku bagian menabur benih padi."
"Tak perlu sampai berkeringat dan berlelah-lelah seperti membajak sawah."
Teungku Imum kembali tersenyum seraya berkata dengan sungguh-sungguh, "Pesanku hanya satu."
"Luruskan niat."
"Karena setiap perbuatan itu tergantung dari niatnya."
"Jangan sampai niat baik dan keinginan mulia yang kau miliki, justru membawa pada petaka dan kehancuran."
"Naudzubilahimindzalik (Kami berlindung kepada Allah SWT dari perkara yang buruk)."
Ternyata itulah malam terakhir ia bisa bertemu dengan Teungku Imum. Karena beberapa hari kemudian, terdengar kabar jika Teungku Imum ditangkap oleh para tentara. Karena dituduh telah bergabung dengan GNM dan menjadi mata-mata.
Sambil menggendong ketiga anaknya, Cut Kak Aminah berurai air mata berlari ke rumah mereka. Menceritakan bagaimana para tentara memperlakukan Teungku Imum.
"Hatiku sakit melihat Abang diperlakukan seperti itu," isak Cut Kak Aminah berkali-kali.
Ia bisa melihat dengan jelas nyala api kemarahan di kedua mata Cutbang.
"Cutbang...," ia berusaha mencegah. Tapi Cutbang tak bergeming.
Malam itu juga Cutbang bersama kelompoknya yang berjumlah sekitar 20 orang menyerang Markas Koramil Idi Rayeuk. ©©
Dari jarak kurang lebih 100 M sebelah utara Koramil. Cutbang menembakkan senjata Stream C 90. Yang berhasil menghantam atap markas Koramil. Melukai puluhan orang. Dan salah satu yang terluka adalah Teungku Imum. Dimana kaki sebelah kanan terkena serpihan peluru.
Membuat Teungku Imum harus digotong keluar dan dibawa ke Puskesmas untuk mendapatkan perawatan.
"Ikutlah bersamaku," Cutbang bahkan sampai memohon.
Tapi Teungku Imum tetap menggelengkan kepala.
"Kalau Abang tetap di sini, besok tentara akan datang dan menangkap Abang lagi!"
"Apalagi sekarang mereka telah tahu siapa aku."
"Abang bisa disiksa!"
Teungku Imum hanya tersenyum, "Tak apa. Akan aku jelaskan pada mereka."
"Tentara pasti paham bila aku tak bersalah."
Dan benar saja, keesokan hari ia kembali mendengar berita, jika Teungku Imum telah ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara.
Entah bagaimana nasib Cut Kak Aminah dan ketiga anaknya. Karena sejak malam itu juga, ia telah pergi meninggalkan rumah. Mengikuti kemana pun Cutbang pergi.
Hidup terlunta-lunta keluar masuk gampong. Singgah dari satu hutan ke hutan lain. Menyeberangi sungai, rawa, hutan bakau. Menetap dari satu bukit ke bukit yang lain. Guna menghindari sergapan para tentara dan pasukannya.
Namun setelah hampir satu bulan mereka hidup dalam pelarian, dicekam kekhawatiran dan suasana penuh keterbatasan. Justru membuat keberaniannya perlahan mulai tumbuh. Ia bahkan Is yang baru menginjak usia 6 tahun, dengan cepat mampu menyesuaikan diri dengan keadaan.
Terlebih ketika ia mengetahui, jika Cutbang ternyata sangat dicintai oleh masyarakat.
Karena dalam setiap operasi penyerangan, Cutbang dan kelompoknya selalu berusaha agar jangan sampai melukai warga sipil. Ataupun merusak bangunan umum yang menguasai hajat hidup orang banyak.
Tidak sekalipun.
Sasaran Cutbang adalah tentara, polisi, dan aparat pemerintahan.
Selain itu, Cutbang juga sering membagi rezeki kepada penduduk gampong yang mereka lewati ketika sedang mengungsi atau dalam pelarian. Hingga terdengar kabar dari mulut ke mulut, jika Cutbang mendapat julukan Robinhood-nya Aceh. ®®
Ini pula yang membuat Cutbang selalu dijaga oleh masyarakat. Sehingga tempat persembunyian mereka tak pernah terendus oleh tentara.
Namun dini hari ini, ketika ia tengah mengerjakan shalat tahajud. Terdengar suara rentetan tembakan di kejauhan.
"Tentara sudah semakin dekat!" seru Latif dengan wajah pias. "Cut Da harus bersiap jika sewaktu-waktu kita pergi."
Ia mengangguk tanda mengerti. Mulai mengemasi barang-barang yang jumlahnya tak begitu banyak. Hanya beberapa lembar baju dan sedikit makanan untuk di perjalanan.
Setelah yakin semua beres dan tak ada yang tertinggal. Ia mendekati Is yang tengah terlelap.
Hatinya selalu menghangat tiap kali memandangi wajah kanak-kanak Is yang masih polos. Ia pun kemudian mengulurkan tangan untuk mengusap rambut putranya itu.
Di usia yang sekarang, Is seharusnya sudah masuk sekolah Taman Kanak-kanak. Bermain dan bergembira bersama teman-temannya.
Bukannya keluar masuk hutan dan selalu hidup dalam kekhawatiran seperti ini.
Ia masih mengusap rambut Is seraya menggumamkan do'a-do'a terbaik. Ketika tiba-tiba Cutbang masuk ke dalam gubuk dengan wajah kaku.
"Apa kita harus pergi?" tanyanya cemas.
Cutbang menggeleng. "Belum."
"Para tentara sudah dipukul mundur," lanjut Cutbang.
"Kita masih punya waktu sampai Subuh."
"Sebelum mereka mengirim pasukan yang jumlahnya lebih banyak lagi."
Ia mengangguk tanda mengerti. Tak pernah menduga Cutbang akan meraihnya sembari berbisik, "Lon lake meuah (aku minta maaf)...."
"Membawamu dan Is dalam keadaan seperti ini."
Ia mencoba tersenyum menenangkan. Namun tak pernah menyangka ucapan Cutbang selanjutnya.
"Lon ka kutimbak jih (aku sudah menembaknya)."
"Soe (siapa)?" tanyanya tak mengerti.
"Lon ka kutimbak Setyo (aku sudah menembak Setyo)."
--------
***
Keterangan :
**. : aku minta maaf
©©. : sebagian terinspirasi dan disadur dari artikel yang dimuat di tni.mil.id
Senjata Stream C 90 : senjata penghancur jenis roket
®®. : sebagian terinspirasi dan dikutip dari 86news.co
Ucapan terimakasih tak terhingga untuk Mom Siska 🤗 readers tersayang yang asli Aceh 🤗 Teurimong gaseh Mam sudah menjadi narasumber 🤗 terutama dalam menterjemahkan bahasa Aceh 🤗 BIG HUG 🤗
##jika ada kekeliruan penulisan atau kesalahan dalam menerjemahkan realita sejarah dan kepangkatan dalam kepolisian, feel free untuk PC author ya readers tersayang 🤗 dengan senang hati akan author revisi