
Anja
Usai sholat Isya, Mamak masih duduk di dalam bilik untuk membaca Al-Qur'an. Sementara Kak Pocut pamit bertandang ke rumah tetangga yang minggu depan hendak mengadakan hajatan resepsi pernikahan.
"Kalau di kampung begini, Anjani," seloroh Kak Pocut. "Tiap mau ada yang hajatan, ibu-ibu sekampung pasti ngumpul buat bagi-bagi tugas."
"Jadi panitia gitu, Kak?" tebaknya sambil tersenyum.
Tapi Kak Pocut justru tertawa, "Bukan panitia lah, terlalu keren itu. Ini cuma bantu-bantu masak."
Sepeninggal Kak Pocut ke rumah tetangga, ia kembali bermain boneka Barbie dengan Sasa. Sambil sesekali memperhatikan Cakra yang sedang membantu Umay merakit Lego Star Wars. Juga melirik gambar yang tengah dibuat oleh Icad.
"Lagi gambar siapa Cad?" tanyanya ingin tahu sambil menunjuk kertas yang sedang digambari Icad. "Kayak kenal."
"Kak Anja sama Yah Bit," jawab Icad sembari terus asyik menggambar.
Membuatnya tersenyum senang, "Wah, mau dong sering-sering digambar sama kamu, Cad."
"Kenapa?" Tapi justru Cakra yang bertanya seraya memanjangkan leher berusaha melihat gambar yang tengah dibuat oleh Icad.
"Jadi cantik kalau di gambar," jawabnya sungguh-sungguh.
Di luar dugaan, Cakra dan Icad tiba-tiba berkata secara bersamaan, "Emang aslinya cantik."
Membuatnya mencibir seraya memutar bola mata. Tapi Cakra malah membalasnya dengan senyuman penuh arti.
"Nona Anja, Nona Sasa sudah selesai membuat black forest nya nih," seru Sasa memutus tatapan intens Cakra terhadapnya. Meninggalkan rasa panas di kedua pipi bahkan hingga menjalar ke telinga. Unbelievable.
"Jadi...sekarang kita bisa mulai acara minum teh bersamanya," sambung Sasa seraya menghidangkan satu slice black forest serta secangkir teh ke hadapannya.
"Oh, terima kasih Nona Sasa," jawabnya sambil memasang senyum lebar. "Wow, black forest nya terlihat lezat. Aku coba ya."
"Silahkan Nona Anja," jawab Sasa dengan senyum yang tak kalah lebar.
Ketika ia tengah menyantap black forest buatan Sasa, lamat-lamat telinganya mendengar suara tawa tertahan. Jelas itu Cakra. Pasti karena melihat tingkah konyolnya bermain rumah-rumahan Barbie dengan Sasa.
"Udah beres," ucap Icad seraya menyerahkan lembaran kertas yang sejak tadi digambarinya. "Buat Kak Anja."
Ia pun tersenyum senang menerima kertas bergambar sketsa hitam putih dari tangan Icad.
"Bagus banget, Cad," pujinya sungguh-sungguh.
Siapapun pasti tak menyangka jika sketsa yang sedemikian indah ini adalah hasil karya anak kelas 6 SD. Kemampuan Icad dalam memvisualisasikan objek manusia ke dalam gambar sungguh luar biasa. Bukan sekedar gambar sketsa mentah. Tapi lengkap dengan teknik tebal tipis, arsiran yang menghasilkan bayangan, juga detail yang membuat gambar seolah hidup.
"Mana lihat?" Cakra rupanya juga ingin tahu.
Ia pun mengangkat kertas gambar sketsa Icad agak ke atas, agar Cakra bisa leluasa melihatnya.
"Bagus banget kan?" ia memberi pertanyaan retoris. "Ini sih calon arsitek besar," lanjutnya dengan mimik serius.
"Iya, bagus, Cad," komentar Cakra sambil menggelengkan kepala dengan decak kagum.
"Cita-citaku memang mau jadi arsitek," ujar Icad dengan senyum terkembang. "Seperti Ayah Neswan."
"Siapa ayah Neswan?" tanyanya tak mengerti.
"Ayahnya Kak Salma," jawab Icad cepat. "Bisa bangun jembatan, jalan tol, gedung tinggi...."
"Pak Neswan bukan arsitek, Cad," ralat Cakra. "Beliau kebetulan kerjanya di Kementerian PUPR yang mengurusi infrastruktur seperti pembangunan jembatan dan lain-lain."
"Dulu kuliahnya di teknik sipil, bukan arsitektur," lanjut Cakra berusaha menerangkan.
"Oh, begitu ya?" Icad mengernyit tanda berpikir.
Namun sejurus kemudian menggelengkan kepala, "Nggak ah, Icad tetap mau jadi arsitek. Biar bisa desain rumah sendiri yang baguuuus buat Mama dan Nenek."
Ia tersenyum mengangguk, "Aamiin, Cad. Aamiin."
"Kelak kamu akan jadi arsitek yang hebat," sambungnya dengan penuh kesungguhan sembari mengangkat lembaran kertas sketsa, "Ini buat Kak Anja?"
Icad menganggukkan kepala.
"Makasih, Icad," ia tersenyum lebar. "Nanti Kak Anja kasih pigura terus di pajang biar semua orang tahu betapa jagonya Icad menggambar."
Icad tertawa senang seraya terus menganggukkan kepala tanda setuju. Bertepatan dengan keluarnya Mamak dari dalam bilik. Berjalan menuju lemari buffet kayu tempat menyimpan puluhan piagam dan medali milik Cakra.
Ternyata Mamak bermaksud mengambil satu kaleng bekas biskuit berbentuk kotak. Kemudian beralih duduk di kursi rotan yang berada di dekatnya.
Dan karena Sasa tengah asyik bicara sendiri dengan para Barbie, ia pun bangkit dan mendudukkan diri di sebelah Mamak.
"Mau buat apa, Mak?" tanyanya ingin tahu ketika Mamak mulai mengeluarkan isi kaleng biskuit.
Ada sejumlah batang panjang berwarna kuning keemasan yang meruncing di salah satu ujungnya, jarum, benang berwarna-warni, juga korek api.
"Cari kegiatan," jawab Mamak seraya terkekeh.
Ia masih ingin bertanya namun keburu terpotong karena suara teriakan Umay, "Jadi, yeeeee!" yang kegirangan karena Lego Star Wars nya telah berhasil dirakit menjadi pesawat luar angkasa menyerupai bentuk Millenium Falcon, pesawat ikonik yang dikendarai oleh Han Solo.
"Keren kan, Nek?" Umay memamerkan Lego nya kepada Mamak dengan gaya seolah-olah sedang terbang di luar angkasa.
Nenek tersenyum mengangguk, "Sudah bilang terima kasih ke Ma Bit (bibi) belum?"
"Udah doong," jawab Umay cepat yang kini tengah memamerkan Lego rakitannya ke arah Sasa.
"Bagus kan, Sa?"
"Iya, bagus," jawab Sasa dengan mata berbinar.
Ia tersenyum memandangi tingkah Umay dan Sasa yang sedang kegirangan ketika terdengar suara orang memanggil dari arah teras depan rumah.
"Gam, oi!"
"Assalamu'alaikum!"
Disusul munculnya beberapa orang sekaligus di depan pintu.
"Mak?" empat orang cowok seusia Cakra menyapa Mamak dengan menganggukkan kepala.
Mamak pun balas mengangguk, "Lama kalian nggak kesini?"
"Biasa Mak, sibuk," seloroh salah satu di antara mereka berempat.
"Agam kali yang nggak pernah di rumah Mak," sergah yang lain.
"Iya, kita sih ada di sini terus," tambah yang berdiri paling belakang.
"Kita mau ajak Agam keluar ini Mak," ujar yang berbadan paling besar.
"Weiiis, lagi ada cewek lu, Gam?" tanya satu-satunya cowok yang memakai sweater begitu menyadari keberadaannya di ruang tamu.
Membuat empat orang tersebut langsung melihat ke arahnya dengan tatapan ingin tahu.
"Ini istri Agam," jawab Mamak sembari mengusap bahunya pelan.
"HAH?!" empat orang di depan pintu langsung terlolong tak percaya.
"Bini elu, Gam?!?"
"Kapan kawinnya?!"
"Kirain masih jalan sama Salma lu?!"
Sontak membuat Cakra langsung bangkit guna menghampiri teman-temannya di depan pintu. Dan sebelum menghilang di balik pintu, Cakra lebih dulu berkata,
"Aku keluar dulu," seraya mengerling ke arahnya. Namun ia pura-pura tak melihat.
Dan begitu Cakra sampai di depan pintu, empat orang tersebut langsung mengerumuni. Ada yang menepuk bahu, memukul lengan, bahkan mendorong punggung Cakra.
"Udah kawin lu?!"
"Nggak bilang-bilang!"
"Sombong lu!"
Kemudian mereka menghilang di balik pintu. Dengan selorohan dan ledekan yang masih terdengar riuh rendah dari arah teras. Namun perlahan suara mulai bergerak menjauh. Hingga kini tak terdengar lagi.
"Itu teman-teman SD nya Agam," terang Mamak yang kini tengah membersihkan batang panjang berwarna kuning keemasan dengan selembar kain.
"Anak-anak kampung sini," lanjut Mamak lagi.
Ia pun ber oh panjang tanda mengerti. Kemudian kembali memusatkan perhatian pada kesibukan yang tengah dilakukan oleh Mamak.
"Mau buat apa Mak?" tanyanya ingin tahu. "Mau merajut ya?"
Ia memang belum pernah merajut. Tapi demi melihat Mamak memilih benang. Dan mencermati benda panjang berwarna kuning keemasan. Ia bisa menebak jika Mamak akan merajut.
Mamak menganggukkan kepala sambil tersenyum, "Mumpung masih panjang waktunya. Jadi bisa dicicil."
"Dicicil gimana maksudnya, Mak?" ia kembali bertanya tak mengerti.
"Buat ini," Mamak tersenyum seraya mengusap perutnya.
"Dulu waktu Icad, Umay, sama Sasa lahir...Mamak yang buatkan mereka selimut, jaket, sama sepatu."
Matanya mendadak berbinar, "Serius Mak?"
Mamak menganggukkan kepala, "Buat anaknya si Agam juga nanti Mamak buatkan."
"Ini baru mau mulai."
"Anjani mau dibuatkan apa dulu?"
"Selimut? Sepatu? Atau jaket?"
Namun ia tak mampu untuk menjawab. Hanya bisa membelalakkan mata dengan wajah memanas karena hampir menangis.
Ternyata orang-orang di sekitar begitu menyayangi makhluk kecil yang kini tengah bersemayam di dalam perutnya. Terkhusus dua calon nenek. Mamak dan Mama.
Padahal ia sendiri, yang notabene adalah ibu dari makhluk kecil tersebut. Masih sangat acuh dan tak terlalu mempedulikan. Bahkan jarang memikirkannya.
Hidupnya masih saja dipenuhi oleh kehidupan sekolah. Lalu hasrat ingin membeli apa atau makan apa atau pergi kemana. Bahkan marah-marah kepada Cakra. Meski cowok itu tak melakukan kesalahan apapun. Sungguh calon ibu yang sangat aneh dan membingungkan bukan?
Jadi kini, ketika Mamak hendak merajut untuk makhluk kecil di dalam perutnya, ia pun ingin ikut membantu. Meski ujung-ujungnya malah merecoki. Karena Mamak harus menerangkan tiap kali ia bertanya ingin tahu.
"Ini namanya hakpen," jawab Mamak seraya mengangkat benda panjang berwarna kuning keemasan yang sedang di pegang.
"Alat utama untuk merajut," lanjut Mamak.
"Ukurannya macam-macam," Mamak menunjukkan padanya sejumlah hakpen yang tersimpan di dalam kaleng biskuit.
"Kita tinggal pilih mau buat rajutan yang seperti apa."
"Pola kecil yang rapat, atau besar dan jarang."
"Nanti disesuaikan sama ukuran hakpen."
"Anjani mau buat apa dulu?"
Ia tersenyum sambil berpikir keras, "Sepatu Mak."
Sepatu berukuran lebih kecil dibanding selimut atau jaket. Jadi kemungkinan besar cara pembuatannya lebih sederhana. Sebagai pemula yang ingin belajar, ia tentu harus mulai dari yang sederhana terlebih dahulu.
"Mau warna apa?" tanya Mamak lagi.
Tapi ia menggelengkan kepala tak mengerti. Karena dokter bahkan belum memberitahu jenis kelamin makhluk kecil di dalam perutnya. Jadi,
"Putih aja, Mak," jawabnya sambil tersenyum. Putih adalah warna netral, apapun jenis kelaminnya kelak.
Mamak pun memilih benang berwarna putih, kemudian mulai membuat simpul. Mengaitkannya ke hakpen. Dan wuss wuss wuss, dalam sekejap dua tangan Mamak bergerak makin cepat seolah sedang menari dengan benang dan hakpen sebagai medianya. Luar biasa. Ia bahkan hanya bisa terbengong-bengong melihat kelincahan gerak tangan Mamak.
Gerakan -yang menurutnya- begitu rumit sekaligus membingungkan. Yaitu menusuk, mengait, memasukkan benang, mengait lagi, lalu menarik, mengaitkan kembali, begitu seterusnya hingga membentuk simpul yang tak terputus.
Semua gerak tangan rumit dan membingungkan itu bisa Mamak lakukan tanpa cela sambil bercakap-cakap dengannya, menjawab pertanyaan Sasa bahkan mungkin saja dengan mata tertutup. Yang akan menahbiskan Mamak sebagai suhu of merajut.
Dan keasyikannya memperhatikan Mamak merajut sambil bercerita tentang banyak hal, membuat waktu menjadi tak terasa.
Hingga tiba-tiba saja Kak Pocut sudah muncul di depan pintu, pulang dari rumah tetangga dengan membawa sepiring camilan. Sementara Icad, Umay, dan Sasa tengah saling bercanda sekaligus bertengkar di kamar mandi. Sedang menggosok gigi sebagai persiapan untuk tidur.
Namun masih ada satu yang kurang, yaitu Cakra yang belum juga kembali.
"Kita teruskan besok saja ya, nak," ucap Mamak yang mulai membereskan peralatan merajutnya. "Sudah larut."
Ia mengangguk setuju. Sambil membantu membereskan benang yang tercecer.
"Si Agam kemana?" tanya Kak Pocut yang sedang menghanduki Sasa usai menggosok gigi.
"Tadi disamperin Andri sama teman-temannya nggak tahu kemana," jawab Mamak yang telah beranjak ke depan lemari buffet kayu, hendak menyimpan kaleng biskuit berisi peralatan merajut.
"Anjani tidur saja dulu," ujar Kak Pocut ke arahnya. "Sebentar lagi juga Agam pulang."
Ia menganggukkan kepala dan berjalan memasuki kamar yang tadi disebut sebagai 'kamarnya Agam'. Terletak di pinggir, paling dekat dengan pintu keluar.
Sementara Kak Pocut dan anak-anaknya terlihat memasuki kamar yang berada di tengah. Di antara kamar Cakra dan bilik untuk beribadah. Sedangkan kamar Mamak mungkin yang ada di paling belakang, bersebelahan dengan dapur.
Dan ini menjadi kali pertama ia memasuki kamar Cakra. Karena sejak sore tadi praktis ia hanya duduk-duduk di ruang tamu dan dapur. Jadi, matanya pun mulai menyapu keseluruhan isi kamar.
Berukuran kurang lebih sekitar 3x3 M, kamar Cakra terlihat rapi dengan daya tarik utama rak buku yang menghabiskan hampir satu sisi dinding sendiri.
Rak yang terbuat dari kayu berplitur dengan penampilan sedikit kusam serta dibuat dengan cara seadanya itu berisi berbagai macam buku berukuran tebal.
Dan satu deret buku yang berada tepat segaris di depan matanya antara lain berjudul Pengantar Matematika, Matematika Dasar, Kalkulus, Dasar-dasar Metode Matematika, Aljabar, Matematika Universitas, Matematika Fisika, Fisika Dasar, Kimia Dasar, Hand out Olimpiade Sains Nasional.
Matanya mendadak berkunang-kunang membaca semua judul-judul tersebut.
"Ngebosenin banget," cibirnya seraya mengalihkan pandangan ke rak paling atas. Dimana terdapat Integral, Diferensial Parsial, Analisis Vektor, dan masih banyak lagi buku serupa berlogo Ganapati press.
"Nggak ada novel? Komik?" sungutnya sambil mengangkat bahu. Sama sekali tak tertarik untuk melihat lebih dalam keseluruhan isi rak buku Cakra. Karena membaca sebagian judulnya saja sudah membuat kepalanya mendadak pening.
Dari rak buku ia beralih ke meja yang berisi jam weker namun telah mati. Jarumnya sama sekali tak bergerak. Sepertinya karena kehabisan batere.
Juga terdapat bekas kaleng susu yang dilubangi di bagian atas tutupnya. Membuatnya mengernyit dan tertarik ingin tahu. Kemudian mencoba mengangkat kaleng tersebut. Terasa lumayan berat dengan bunyi kencleng koin di dalamnya.
"Oh, celengan," gumamnya mengangguk mengerti.
Selain jam weker dan celengan, praktis tak ada barang lain di atas meja yang menarik perhatiannya lagi. Karena tak ada yang terlihat aneh. Hanya -lagi-lagi- kaleng bekas berisi bolpen, pensil, penggaris. Lalu beberapa buku tulis pelajaran sekolah. Serta kursi lipat yang di atasnya tersampir kain sarung.
"Benar-benar membosankan," cibirnya yang kini beralih memperhatikan tempat tidur milik Cakra.
Tempat tidur yang terbuat dari kayu itu hanya berjarak sekitar 10 cm dari atas lantai. Di atasnya terdapat kasur busa yang bahkan tak lagi empuk ketika ia mendudukinya. Dua buah bantal, satu buah guling, dan selimut berwarna cokelat.
Selain benda-benda tersebut, hanya ada lemari pakaian, juga gantungan baju di belakang pintu. Tak ada lagi barang lainnya.
Dan untuk memenuhi rasa ingin tahu, dibukanya pintu lemari kayu berwarna cokelat kusam itu. Terdapat dua rak di bagian atas, serta gantungan baju di bawahnya. Dengan sejumlah pakaian yang terlipat rapi sesuai peruntukkan. Satu deret celana panjang, celana jeans, kemeja, kaos, juga baju dalam.
"Palingan Kak Pocut yang beresin," cibirnya dengan mimik tak percaya. "Nggak mungkin kamu yang beresin sendiri sampai serapi ini kan?"
Setelah merasa puas menelusuri tiap sudut lemari, ia pun berniat menutup kembali. Namun terhenti tatkala matanya tertarik melihat sebuah kemeja warna putih yang tersimpan di baris paling atas.
Dengan tanpa ekspektasi di tariknya kemeja tersebut. Warna putihnya masih bersih dan kainnya sedikit kaku. Sepertinya kemeja baru yang jarang dipakai.
Refleks diciumnya kemeja tersebut. Hmm, harum aroma maskulin Cakra.