Beautifully Painful

Beautifully Painful
134. Sasa Oh Sasa ....



Tama


Sore jelang petang ini, sebagian besar tamu satu persatu mulai beranjak pulang meninggalkan acara. Hanya tersisa beberapa saudara dekat dan kerabat. Termasuk lima orang karibnya.


Trio konglomerat muda Rajas, Wisak, dan Armand. Lalu Prasbuana yang menyempatkan diri ikut bergabung. Sebelum besok bertolak ke Sidney, untuk kembali bekerja. Dan juga Riyadh, yang sengaja datang dari Bandung.


Acara keluarga seperti ini jelas menjadi salah satu kesempatan emas bagi mereka berenam untuk berkumpul. Karena di hari-hari biasa, semua sibuk dengan rutinitas hidup dan urusan masing-masing. Terpisahkan jarak, ruang, waktu. Beda kota tempat tinggal bahkan negara.


"Be careful, man," Armand mengisap rokok dalam-dalam lalu menghembuskan asap putih melalui hidung.


Membuat udara di sekeliling mereka berenam berubah menjadi pekat. Karena hampir semuanya sedang merokok. Kecuali Riyadh tentunya.


"Beritanya udah kecium sama media."


"Mesti gerak cepat dan punya team yang solid."


"Paling nggak, lu udah nyiapin dana unlimited buat handle ini semua."


Armand, duda keren dengan satu anak. Tipikal yang selalu memberi solusi pada siapapun diantara mereka berenam. Bahkan tanpa diminta. Sometimes terasa sedikit menyebalkan. Karena terkesan ikut campur.


"Mind your own business, Man!" begitu Rajas seringkali mengatakan ketika Armand sudah too much.


Namun sayangnya, mereka berlima harus mengakui, jika solusi yang ditawarkan oleh Armand secara cuma-cuma seringkali useful and always work.


Kini Rajas yang sedang diajak bicara oleh Armand hanya tertawa sumbang. Lebih memilih untuk menghembuskan asap putih ke udara.


"Yugo yang handle."


Armand mengangguk setuju, "Dia emang paling jago manuver sana sini."


"On the right hand."


Seperti yang mereka ketahui dalam circle terbatas, perusahaan milik keluarga Rajas selama puluhan tahun telah menjadi pemain tunggal dalam bisnis timah dari hulu ke hilir. Menjadi penguasa tahta oligarki.


Dan Rajas sebagai pemegang pucuk pimpinan tertinggi di kerajaan bisnis milik keluarganya, mempunyai kekuasaan penuh untuk mengatur perusahaan penambangan timah mana saja yang bisa beroperasi dan mana yang harus dimatikan.


Bekerja sama dengan penguasa dan pengusaha daerah yang kotor, selama beberapa tahun terakhir Rajas telah mematikan sejumlah perusahaan penambangan timah yang tak sejalan.


Mencetak ribuan pengangguran baru. Dan memicu gelombang protes di sana-sini.


Berita terakhir yang santer beredar di media adalah, sejumlah aktivis lingkungan hidup dan advokat pemerhati kesejahteraan masyarakat. Telah membentuk wadah bernama Forum Rakyat Pro Demokrasi (FRPD) untuk memediasi kepentingan warga dengan pemerintah.


FRPD bahkan telah mengirimkan surat resmi kepada Kementerian ESDM (energi dan sumber daya mineral) selaku regulator terkait sektor minerba (pertambangan mineral dan batu bara). Untuk menyelidiki sekaligus menindak praktek oligopoli dalam penguasaan bisnis timah.


"Cantik."


Namun gumaman nyeleneh Wisak tiba-tiba melintas di telinganya. Membuyarkan pembicaraan serius tentang masalah yang tengah membelit Rajas.


Hal ini membuatnya segera melempar pandangan ke arah lain. Berpura-pura tak pernah melakukan tuduhan implisit yang dilontarkan oleh Wisak.


Padahal sedari tadi, sudut matanya selalu fokus mencuri-curi pandang ke arah kakak ipar Cakra. Yang sedang duduk di salah satu meja paling depan. Tengah mengobrol bersama Dara, Om Raka, dan Shaina, yang kali ini duduk manis diantara mereka bertiga. Tanpa insiden apapun.


"Mantra...," Prasbuana ikut berkomentar. "Mantap terasa...."


"Siapa?" Rajas tertarik ingin tahu. Sembari menghembuskan asap putih keluar dari hidung.


"Arah jam 2," Wisak mendesis seperti orang sedang kepedasan.


"Bro....Sampai bikin Tama tak berkedip...," sambung Prasbuana sambil terkekeh.


"Cantik alami," lanjut Wisak lagi. "First impression... yeah, she's magic."


Ia hanya tersenyum kecut. Memilih untuk acuh. Berpura-pura tak terpengaruh dengan penjabaran Wisak tentang Pocut.


Diantara mereka berenam, memang Wisak yang terkenal paling frontal dalam menilai bahkan menggaet wanita. Status Wisak sebagai bujangan yang independen secara finansial, jelas menjadi faktor pendukung utama menjalani kehidupan sebagai womanizer level dewa.


"Jarang-jarang di Jakarta bisa nemuin jenis cewek macam itu," Prasbuana menganggukkan kepala tanda setuju.


"Macam itu gimana?" Armand jadi ikut tertarik untuk memperhatikan Pocut.


"Original tanpa sentuhan klinik kecantikan modern," jawab Prasbuana yakin.


"Semua properti masih alami. Asli karunia dari Tuhan," lanjut Prasbuana lagi dengan gaya menyebalkan.


"Wah, tipe lu banget tuh," Armand mengangguk setuju sambil menunjuk ke arahnya. "Lu addict sama segala sesuatu yang natural kan?"


Ia kembali berpura-pura tak mendengar ucapan Prasbuana dan Armand. Lebih memilih untuk menggerus batang rokok yang telah memendek ke dalam asbak.


"80," gumam Riyadh yang kini juga ikut memperhatikan Pocut.


"Pelit banget lu, Ri!" sungut Prasbuana tak menyetujui penilaian yang diberikan oleh Riyadh. "85 masih masuk lah. Cakep gitu."


"Meski kurang terawat memang," lanjut Prasbuana cepat. "Jelas nggak pernah nyium bau salon tuh cewek."


"90," ralat Wisak. "No debate."


"85," sahut Armand yakin. "Karena gua yakin dia udah pernah turun mesin. Jelas bukan virgin."


"90 buat yang virgin," tambah Armand lagi.


"Dasar brengsek!" makinya sambil tertawa sumbang. "Gua beneran lagi duduk sama sekelompok ba ji ngan nih."


"Termasuk elu!" Wisak tergelak.


"Ngasih penilaian macem mau milih di etalase red district. Brengsek!" makinya tak percaya.


"Om om genit," Prasbuana tertawa.


"Partner of life lah, kita kan single," elak Wisak.


"Kalau Armand sama Rajas baru tuh disebut sugar daddy apa gadun."


"Lagi bahas siapa sih?" Rajas yang terkenal paling selektif dalam memilih wanita ikut penasaran.


"Ipar gua," jawabnya berlagak acuh. Padahal mulai merasa terancam dengan penilaian teman-temannya.


Seketika itu juga Wisak langsung terbahak.


"Off limit (terlarang), bro," Riyadh yang sedari tadi lebih banyak diam langsung menggelengkan kepala tanda tak setuju.


Kali ini ia sepakat dengan Riyadh. Pocut memang off limit baginya. Terlebih, ia masih terikat tali pernikahan yang sah dengan Kinan.


Ah, sial. Kenapa jadi berpikir sejauh ini? Padahal ia dan Pocut baru bertemu sebanyak dua kali. Tapi otaknya bahkan sudah memikirkan hal yang bukan bukan.


Menggelikan.


Sama sekali bukan hal yang bagus.


"Justru itu yang kita cari," Wisak, seperti biasa menjadi racun bagi mereka berlima.


"Memicu adrenalin, menantang bahaya," Wisak terkekeh. "Menggairahkan pastinya."


"Paket lengkap," kini Wisak sembari mengacungkan jempol dengan ekspresi wajah menyebalkan.


"Lu bukannya masih sama Kinan?" Riyadh mengernyit.


Ia mengangguk lemah.


"Selesaiin dulu lah urusan sama Kinan, sebelum main-main sama yang lain."


Riyadh memang selalu menjadi yang paling waras di antara mereka berenam. Pastinya setelah mengalami kehidupan asmara yang cukup rumit. Seperti pepatah bilang, pengalaman adalah guru yang terbaik.


"Tapi gua pastikan lu udah dapat rival sepadan," Wisak kembali mendesis.


"Belum apa-apa udah ada rival segala," Prasbuana tertawa sumbang.


"Tuh," Wisak menunjuk ke arah Pocut dengan menggunakan dagu.


"Om om yang duduk di sana dari tadi jelas-jelas...."


Kalimat Wisak terpotong oleh suara teriakan anak-anak disusul jerit tangis di belakang punggung mereka.


"Eh, busyet, anak-anak pada kenapa tuh?" Prasbuana langsung berdiri untuk melihat keadaan.


Ia pun ikut berdiri memperhatikan taman di belakang mereka. Dimana terdapat seperangkat mainan anak-anak. Mulai dari ayunan, jungkat jungkit, sampai perosotan.


Beberapa anak kecil terlihat berkumpul mengelilingi papan jungkat-jungkit. Sementara Arka berlari menuju ke arahnya dengan wajah pias.


"PAKDE TAMA!!" seru Arka dengan napas tersengal.


"Ada....yang...kejepit....mainan....."


"Tangannya....nggak bisa....lepas....."


Seketika itu juga ia langsung berlari menghambur ke area permainan. Menyeruak diantara kerumunan anak-anak kecil yang sedang berteriak ketakutan. Mengelilingi seorang gadis kecil yang tengah menangis dan menjerit kesakitan. Sebab salah satu jarinya terhimpit celah kecil di poros tengah permainan jungkat-jungkit.


***


Pocut


Acara halal bihalal dan syukuran telah selesai beberapa saat lalu. Suasana di bawah tenda megah kini telah sepi ditinggalkan oleh para tamu. Hanya tersisa beberapa orang kerabat dan teman dekat.


Mamak masih berbincang-bincang dengan Papa dan Mama Anjani di ruang tengah. Anjani tadi tengah mengASIhi Aran di dalam kamar ditemani oleh para sepupu. Sementara Agam beberapa menit yang lalu pamit pergi mengantarkan bingkisan pada gurunya. Sedangkan anak-anak masih asyik bermain-main di taman.


Acara kumpul keluarga seperti ini jelas menjadi hal baru bagi ketiga anaknya. Menjadi yang pertama bahkan. Tak heran jika Sasa dan Umay sejak kemarin terlihat begitu riang gembira. Karena bisa bertemu dengan banyak teman-teman usia sebaya.


Benar-benar pengalaman yang menyenangkan bagi anak-anak.


Kini ia tengah duduk mengelilingi salah satu meja. Bersama Dara, Pak Raka, juga Shaina cantik. Yang sedari pagi bersikap sangat manis. Jauh berbeda dibanding hari kemarin.


Shaina lebih tenang dan memiliki keasyikan sendiri. Seperti yang dilakukan saat ini, Shaina tengah sibuk menggambar.


"Gambarnya bagus banget sayang," ujarnya sungguh-sungguh sambil mengusap kepala Shaina. Tapi Shaina langsung bergerak menghindar, menolak untuk disentuh.


"Keren, Om, gambar Shaina," Dara mengacungkan jempol melihat Shaina yang sedang menggambar pemandangan di daerah pegunungan.


Gambar yang sangat detail dan rinci. Termasuk adanya sekawanan burung kecil yang beterbangan di atas hamparan sawah.


"Les biola nya masih jalan, Om?" tanya Dara ke arah Pak Raka yang sedang memperhatikan layar ponsel.


"Masih," Pak Raka mengangguk. "Shaina paling suka les biola sama menggambar."


Sebelum Dara kembali berkata, Pak Raka telah lebih dulu meletakkan ponsel di atas meja lalu disorongkan ke arahnya.


"Ini omzet bulan Ramadhan kemarin," ujar Pak Raka seraya tersenyum. "Jauh melebihi target."


"Wah, resep Mamak ya Om?" tanya Dara dengan mata berbinar. "Keren...keren....."


"Yap," Pak Raka mengangguk. "Next lewat triwulan pertama, kita seriusi project selanjutnya."


"Wah, mainannya udah project nih," seloroh Dara.


Membuat mereka bertiga tertawa.


"Saya gimana baiknya menurut Pak Raka," jawabnya singkat. Karena memang kesukaannya hanyalah memasak. Sama sekali tak memahami tentang seluk beluk bisnis kuliner dan segala printilannya.


"Jadi siap ya untuk challenge selanjutnya," Pak Raka tersenyum penuh arti.


Selanjutnya obrolan kembali didominasi oleh Dara dan Pak Raka tentang progress Shaina. Ia pun hanya menjadi pendengar setia. Sembari memperhatikan Shaina yang kini mulai mewarnai gambar.


Dari tempat duduknya saat ini pula, bisa terlihat dengan jelas, sosok Mas Tama yang tengah berbincang bersama teman-temannya. Di tengah kepulan asap rokok sembari sesekali diselingi tawa.


Terlihat begitu santai dan enjoy. Jauh dari kesan dingin dan kaku seperti yang dirasakannya ketika mereka pertama kali bertemu.


Setengah harian tadi bahkan Mas Tama banyak mengajaknya mengobrol. Membicarakan tentang filosofi tradisi yang baru saja dilakukan saat acara syukuran aqiqah Aran. Sekaligus menanyakan banyak hal tentang tradisi Aceh lainnya.


Ia menghela napas panjang dan segera mengalihkan perhatian dari sosok Mas Tama di kejauhan. Kembali memperhatikan Shaina yang belum juga selesai mewarnai. Sementara Dara dan Pak Raka masih terlibat perbincangan cukup serius. Tentang sejumlah terapi yang sedang dijalani oleh Shaina.


Tapi beberapa waktu kemudian, ketika Shaina hampir menyelesaikan gambarnya dengan sempurna. Icad berlari menghambur ke arahnya sambil berteriak panik.


"MA! MA!"


"Kenapa? Ada apa?!" tanyanya ikut panik begitu melihat ekspresi wajah Icad yang ketakutan.


"Sasa.....Sasa.....," jawab Icad dengan napas terengah-engah.


"Sasa kenapa?!?" tanyanya bertambah panik.


"Kenapa, Cad?" Dara turut mengalihkan perhatian ke arah Icad.


"Sasa....Sasa jarinya kejepit....."


"Kejepit apa?!" ia segera berdiri. Dengan cepat kedua matanya mulai menelusuri seisi tenda. Berusaha mencari keberadaan Sasa. Tapi Sasa tak terlihat di manapun.


Icad tak menjawab. Langsung menarik tangannya. Dengan setengah berlari menyeretnya menuju area permainan anak-anak di halaman belakang.


"Sasa tangannya kejepit jungkat-jungkit," ujar Icad setelah mereka sampai di depan permainan jungkat-jungkit yang tengah dikerumuni oleh anak-anak itu.


"Kejepit gimana?!?!" tanyanya sambil menyeruak kerumunan.


Dilihatnya dua orang pria tengah berusaha melepaskan jari Sasa dari jepitan poros tengah jungkat-jungkit.


"Yuko sama Ayaka lagi main jungkat-jungkit...," terang Icad dengan napas memburu.


"Terus mainan Sasa jatuh ke bawah."


"Mau diambil....."


"Tapi Sasa nggak bilang-bilang....."


"Jadi Yuko sama Ayaka tetep asyik main...."


Ia tak lagi mendengarkan penjelasan Icad. Buru-buru menghambur ke arah Sasa yang sedang menjerit kesakitan.


"MAMAAAA!!!!"


"SAKIIIIIT!!!!"


"AAAAAA!!!!"


Tanpa berkata apapun dengan gemetaran ia segera meraih Sasa ke dalam pelukan. Sementara Mas Tama dan seorang temannya masih berusaha melepaskan jari Sasa.


"Tarik aja tarik!!"


"Nggak bisa! Ini nyangkut!!"


"PRAS!! WOII!! BANTUIN!!"


"Belum bisa dilepas?!?" empat orang pria dewasa sekaligus tiba-tiba menyeruak di antara mereka.


"Gila!! Darahnya banyak banget!!"


"Just shut the fucking up your fucking mouth!!"


"Easy....easy...."


"Tenang...tenang....Malah jadi kita yang emosi?"


"Asli patah ini...."


"Lu bisa diem nggak?!"


"MAMAAAA!!!!!"


"AAAAAA!!"


"Iya sayang.....iya sayang....," ia berusaha menenangkan Sasa yang terus menjerit kesakitan karena satu jarinya masih terjepit dan belum berhasil terlepas.


"Sabar sayang..... sebentar lagi....."


"Sasa kuat....Sasa kuat....."


"Buru ambil tang!!"


"Ini mesti direnggangin sedikit biar bisa ditarik keluar."


"Bro...bro...langsung tarik aja...."


"Tarik aja gimana?! Bisa patah ntar!!"


"Geserin dulu sedikit....hadap ke samping....nah, gitu...."


"Nggak bisa! Ini udah masuk setengah ke dalam!"


"Harus dibongkar dulu baru bisa lepas!"


"AAAAAA!!"


"SAKIIIIIT!!!"


Sasa kembali menjerit kesakitan di sela isak tangis.


"Iya....maaf ya sayang....," seorang pria mengusap puncak kepala Sasa. Tepat ketika jari Sasa berhasil terlepas dari celah kecil di tengah poros.


"Alhamdulillah.....," terdengar gumaman lega dari seorang pria yang berjongkok di sampingnya.


"Tam! Tam!!" teriak seseorang. "Buru bawa ke rumah sakit!!"


Ia yang masih memeluk dan membelai rambut Sasa tersentak kaget ketika seseorang tiba-tiba meraih Sasa lalu menggendongnya.


"Kita ke rumah sakit sekarang!!"


Ia yang masih gemetaran buru-buru bangkit dan mengikuti langkah panjang Mas Tama yang tengah menggendong Sasa menuju ke halaman depan.


***


Keterangan :


Oligarki. : adalah bentuk pemerintahan yang kekuasaan politiknya secara efektif dipegang oleh kelompok elit kecil dari masyarakat.


Dibedakan menurut kekayaan, keluarga, atau militer. Istilah ini berasal dari kata dalam bahasa Yunani untuk "sedikit" dan "memerintah" (sumber : Wikipedia)


Atau struktur kekuasaan dimana kekuasaan efektif berada di tangan segelintir orang.


Oligopoli. : yaitu keadaan pasar dengan suatu komoditas yang hanya dikuasai oleh beberapa perusahaan saja (sumber : Wikipedia)


Adanya larangan perjanjian oligopoli karena menciptakan persaingan usaha tidak sehat dan tidak sesuai dengan tujuan diadakan persaingan usaha yang sehat, yaitu untuk memberikan kesempatan yang sama bagi semua pelaku usaha.