Beautifully Painful

Beautifully Painful
114. "Bukan ini yang Kuinginkan"



Cakra


Ia sedang menyusut sisa tangis Anja. Ketika tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk lalu terbuka dari arah luar. Diikuti munculnya wajah Teh Dara dengan senyum terkembang.


"Cakra, ada tamu di depan. Kita kenalan dulu yuk."


"Eh, ada apa nih kok nangis?" Teh Dara membuka pintu kamar menjadi lebih lebar. Lalu menatap dirinya dan Anja secara bergantian dengan penuh rasa ingin tahu.


"Ja?"


"Anja diterima di FKG Jakun, Teh," Hanum mencoba memberi informasi.


"Oya?" mata Teh Dara membulat. "Alhamdulillahirabbil'alamiin."


Tangannya yang sedang menyusut airmata di pipi Anja dengan tissue, kini menggantung di udara karena Anja keburu menghambur ke arah Teh Dara.


"Selamat mommy cantik," Teh Dara mengusap punggung Anja sambil tersenyum lebar.


"You deserves it all."


Tanpa disadari bibirnya menyunggingkan senyum penuh kelegaan. Karena dengan diterimanya Anja di FKG Jakun, satu fase sulit mereka terlampaui.


Dan permohonan sangatnya selama bersimpuh di tiap penghujung malam sunyi dan senyap telah terkabul. Sekaligus menegaskan bahwa keberadaannya dan Aran di sisi Anja, tak menjadi penghalang Anja untuk menggapai cita-cita.


"Eh, yuk ke depan yuk," seru Teh Dara yang masih merangkum bahu Anja.


"Ada siapa Teh?" Anja mengernyit sambil menyusut hidung yang berair akibat menangis. Membuatnya mengulurkan beberapa lembar tissue ke arah Anja.


"Ada Om Laksmana sama Om Baldan sekeluarga," jawab Teh Dara.


"Yuk, mereka pingin kenalan sama kamu, Cak."


"Belum pernah ketemu kan?"


Ia tersenyum mengangguk. Lalu berjalan mengekori Teh Dara yang telah melangkah terlebih dahulu.


"Ja, nanti nyusul ya," kerling Teh Dara sebelum benar-benar meninggalkan kamar.


Kini Teh Dara menggamit lengannya setengah menyeret ke arah ruang tamu. Lalu tersenyum lebar pada semua yang duduk di sana.


"Ini nih yang ditunggu dari tadi," seloroh Teh Dara membuatnya tersenyum malu.


"Cakra, suaminya Anja."


"Wah, sini sini. Kenalan dulu," ujar seorang pria paruh baya bertubuh tegap yang memiliki garis wajah sangat mirip dengan Mama Anja.


"Perlu di ospek dulu nggak nih," seloroh pria paruh baya lain yang sedang berbincang dengan Mas Sada.


"Ketemu sama Anja di mana nak?" tanya seorang wanita cantik dengan gaya classy.


"Biasa....satu sekolah, Tante," Teh Dara yang menjawab sambil tersenyum-senyum.


Ia pun menghampiri seluruh tamu untuk menyalami mereka satu per satu.


"Kisah kasih di sekolah dong jadinya," seloroh wanita paruh baya lain yang berpenampilan elegan khas ibu pejabat.


Ia hanya menganggukkan kepala dengan sopan sambil tersipu.


"Saya Omnya Anja," seru pria paruh baya yang sedang berbincang dengan Mas Sada.


"Panggil saja Om Baldan."


"Baik, Om," ia tersenyum mengangguk.


"Adiknya Mama Anja. Pas di bawahnya," lanjut Om Baldan.


"Kalau yang itu," Om Baldan menunjuk pria bertubuh tegap yang memiliki wajah sangat mirip dengan Mama Anja.


"Adik bungsu Mama Anja. Namanya Om Laksmana."


"Om," ia menyalami Om Laksmana sambil mengangguk sopan.


"Kuliah di mana?" tanya Om Laksmana.


"Kerja, Om."


"Wah, hebat. Udah kerja. Dimana?" mata Om Laksmana membulat menatapnya tak percaya.


Namun sebelum ia menjawab, Teh Dara lebih dulu bersuara. "Cakra sama Anja sama-sama baru lulus SMA, Om Laks."


"Lho, kok bisa udah kerja ini gimana?"


"Kemarin nggak ikut SBM atau ujian masuk mandiri?" Om Baldan ikut menyahut.


"SBM ikut, Om."


"Dapat di mana?"


Ia tertawa malu, "Belum sempat lihat pengumumannya, Om."


"Lho, kok bisa?!"


Ia menggaruk kepala yang tak gatal, "Kemarin sibuk mengurusi persalinan Aran, Om."


"Owalah."


"Kalau Anja dapat FKG Jakun," seru Teh Dara dengan muka berseri.


"Seriously?!" seru Mas Sada dengan wajah berbinar.


Teh Dara menganggukkan kepala berkali-kali sembari tersenyum.


"Wah, beneran jadi dokter gigi nih si anak manja," seloroh Om Baldan turut senang.


"Anaknya Wa Eka juga masuk ke Jakun," ujar wanita bergaya classy. "Nggak tahu jurusan apa."


"Lho, bukannya lagi pendidikan pilot?" sergah wanita bergaya elegan.


"Yang pilot kakaknya. Ini bungsunya Wa Eka lho, yang kemarin sempat ikut pertukaran pelajar ke Amerika."


"Oh, Altaf ya?"


"Nah iya, Altaf."


"Dipa nya Om Hartadi masuk ke mana?" tanya Om Baldan membuatnya tercekat.


"Dipa sih lolos pakai nilai raport, Om," Mas Sada yang menjawab.


"Udah duluan? Jadi ambil FKU?"


Mas Sada mengangguk.


"Wah, calon-calon dokter masa depan nih. Merawat kami-kami yang mulai jadi kaken kaken," seloroh Om Laksmana diiringi gelak tawa semua.


Kecuali dirinya yang hanya bisa meringis bingung. Duduk di antara orang-orang yang ramai memperbincangkan siapa kuliah di mana dan siapa bekerja di mana.


Pastinya di tempat-tempat hebat yang belum pernah ia kunjungi sekalipun.


"Anaknya Pakde Warman kemarin baru diangkat jadi corporate secretary.....," seru Om Baldan seraya menyebut nama Bank Syariah terbesar di Indonesia.


"Weiss, masih muda udah jadi petinggi."


"Kariernya melesat."


"Si itu....," Om Laksmana menyebut satu nama. "Lebih muda dari anaknya Pakde Warman. Udah jadi division head....," seraya menyebut nama perusahaan multinasional produsen barang rumah tangga terbesar ketiga di dunia. Setelah B&G dan Mestle.


Yang ia tahu logonya banyak tercantum di produk makanan, minuman, juga perawatan tubuh.


"Wah, anak muda jaman sekarang nggak kaleng-kaleng."


Teh Dara yang duduk tepat di sampingnya berkali-kali menepuk bahunya seraya tersenyum menenangkan.


"Cakra tadi katanya udah kerja. Bisa kerja di mana lulusan SMA?" Om Laksmana tiba-tiba melempar pertanyaan padanya.


Sontak membuat semua mata melihat ke arahnya.


Dengan sedikit gugup ia berusaha menjawab. Namun Teh Dara lebih dulu bersuara.


"Di Axtra, Om."


"Lho, lulusan SMA dapat bagian apa di Axtra? Staf?"


Ia harus menelan ludah berkali-kali dalam waktu singkat sebelum berkata dengan suara tak meyakinkan.


"Operator produksi, Om. Saya kerja di pabriknya Axtra yang di Sunter."


***


Anja


Ia mengantar Hanum dan Bening pulang melalui teras samping.


"Hari Jum'at jangan lupa ya."


"Beres," Hanum mengacungkan jempol.


"Ajak Faza sama Bumi."


"Okeeeh," kini giliran Bening mengangkat dua jempol.


"Agung sekalian, Han," ia teringat sesuatu. "Sama anak-anak IPA2 yang lain."


"Wah, Agung nggak tahu nih," Hanum menggeleng. "Denger-denger udah berangkat ke Jogja."


"Tapi ntar gue calling si Agung," ralat Hanum. "Siapa tahu masih di sini."


"Thanks, Han," ia mengangguk setuju.


"Dah Anjaaaa.....," Hanum dan Bening sama-sama melambaikan tangan ke arahnya sebelum melangkah menuju halaman depan.


Ia pun balas melambai. Lalu dengan riang berjalan menuju ke ruang tamu. Dimana gelak tawa dan suara obrolan terdengar begitu hangat menyenangkan.


"Wah, ini dia nih....," seru Om Baldan begitu melihat kemunculannya di ruang tamu.


"Anjaaaa......"


Ia tersipu seraya menghampiri Om Baldan untuk bersalaman. Juga Om Laksmana, Tante Chia, dan Tante Mieke.


Kemudian mendudukkan diri di antara Cakra dan Teh Dara. Dengan tangan menggamit lengan Cakra erat-erat. Membuat Cakra menatapnya heran. Namun ia hanya tersenyum simpul.


"Anja habis melahirkan malah jadi makin makin cantiknya," seloroh Tante Mieke.


"Auranya keluar semua ya, Ja," Tante Chia ikut menimpali.


"Keren ini, Tante," ujar Teh Dara setengah memeluknya. "Lahirannya normal nggak ditungguin."


"Oya?"


"Ditungguin sama Cakra dan ibu mertuanya aja berdua," jawab Teh Dara menjelaskan.


"Dari keluarga kita semua nggak ada yang nungguin."


"Rencana awalnya tanggal 11," Mas Sada ikut angkat bicara. "Udah diatur semua buat tanggal segitu."


"Eh, keburu lahir duluan."


"Mana baby nya nggak di bawa ke sini?"


"Lagi bobo, Tante," jawabnya sembari kian mengeratkan diri pada lengan Cakra.


Lalu pembicaraan pun kembali mengalir. Lebih banyak didominasi oleh obrolan dan selorohan Om juga Tante. Serta Mas Sada dan Teh Dara yang ikut menimpali.


Sementara ia dan Cakra hanya menjadi pendengar. Sesekali saja menjawab pertanyaan yang dilontarkan. Selebihnya ia hanya saling melempar senyum dengan Cakra.


"Kenapa?" tanya Cakra curiga. Mungkin karena melihatnya terus mengu lum senyum.


"Lagi happy," jawabnya sambil lalu.


"Lebih dari itu," bisiknya dengan gaya misterius.


"Berarti ada yang lain?" Cakra mengernyit.


"Iyap."


"Apa?"


"Rahasia....."


Cakra hanya tertawa kecil seraya menggelengkan kepala.


***


Cakra


Mereka semua baru saja usai menyantap hidangan bersama. Kebetulan yang menyenangkan, karena Mamak dan Bi Enok telah menyelesaikan misi memasak ayam tangkap, gulai peukasam dan asam udeung.


Yang akhirnya menjadi menu utama makan bersama kali ini. Dan langsung memanen pujian dari hampir semua orang yang melahap masakan hasil karya Mamak dan Bi Enok dengan antusias.


"Enak banget ini."


"Siapa yang masak, Ra?"


"Pastinya ibu mertua Anja ya Ja," jawab Teh Dara dengan wajah sumringah.


Kini para pria (kecuali dirinya) telah berpindah tempat ke teras samping. Menikmati suasana jelang sore sembari berkelakar dan merokok.


Sementara para wanita masih berkumpul di meja makan. Dengan Mamak sebagai pusat perhatian. Karena semua orang ingin bertanya dengan antusias tentang resep dan cara memasak tiga hidangan yang baru saja mereka santap.


Ketika tiba-tiba Anja menarik tangannya agar masuk ke dalam kamar.


"Kenapa?" tanyanya setengah tertawa.


Anja terus saja menarik tangannya untuk duduk di atas tempat tidur. Kemudian dengan gerakan tak terduga, tiba-tiba Anja telah mendudukkan diri di atas pangkuannya.


"Ja?" ia tersenyum namun sambil mengernyit.


"Thanks to tutor spesialkuu....," bisik Anja seraya mendekatkan wajah mereka berdua.


Membuatnya tergeragap karena tak menyangka Anja berani memancingnya terlebih dahulu.


Namun ia tentu hanya bisa bersikap pasif karena mereka takkan kemana-mana. Cukup hanya dengan mendekatkan wajah mereka berdua. Tak lebih.


If you know what i mean.


"Karena kamu....," Anja menautkan mata mereka berdua lekat-lekat sembari mengalungkan tangan ke lehernya.


"Aku jadi paham konsep integral."


"Bisa ngerjain soal yang tingkat kesulitannya...."


"Beuh. Pasti langsung bikin aku angkat tangan sebelum belajar bareng kamu."


"Terus....," Anja kembali mendekatkan wajah mereka berdua.


Tolonglah, Ja. Jangan menyiksa dengan melakukan hal yang begitu memancing.


"Kelahiran Aran....."


Anja menghembuskan napas panjang hingga angin hangat terasa meniup-niup wajahnya.


Kemudian Anja menatap matanya lekat-lekat. Membuat mereka seolah tengah saling menyelami kedalaman hati masing-masing.


"Kamu hebat.....," bisik Anja membuatnya menggelengkan kepala.


"Suami terbaik...."


Ia kembali menggelengkan kepala.


"Ayah paling keren...."


Ia tetap menggelengkan kepala.


"Aku bangga sama kamu....."


Ia pun langsung merengkuh Anja.


"Kamu yang hebat.....," bisiknya tepat di telinga Anja.


"Aku dan Aran bangga berkali lipat sama kamu...."


Anja mengeratkan lengan yang mengelilingi punggungnya.


"Kamu mau janji?"


"Apa?"


"Janji sama aku...."


"Tentang?"


"Kamu kuliah."


Ia hanya menghembuskan napas panjang. Tak mampu menjawab apapun.


"Apapun yang terjadi kamu harus kuliah."


"Aku udah kerja, Ja."


"Jangan pusing soal biaya."


"Aku baru tanda tangan kontrak sebulan lalu."


"Kamu nggak boleh menyia-nyiakan kesempatan."


"Aku pasti kuliah, Ja," gumamnya dengan nada paling tak meyakinkan. "Tapi nggak tahu kapan."


"Aku nggak akan lepas sebelum kamu janji," gumam Anja sembari mengeratkan dekapan.


"Ja....," ia jelas tak setuju.


"Abang...."


Ia terkekeh mendengar sebutan baru Anja untuknya.


"Kamu lagi merayu...."


"Emang."


Ia kembali terkekeh.


"Nggak akan mempan," selorohnya berpura-pura.


"Kalau ini....," Anja tiba-tiba melonggarkan pelukan hanya untuk menyatukan wajah mereka berdua. Dalam dan lama. Benar-benar menguji ketahanannya.


"Belum cukup," gelengnya dengan senyum diku lum.


"Mau yang lebih?" Anja mengerling sembari membuka kancing paling atas.


"Ja?" ia sontak tertawa.


"Apapun akan kulakukan biar kamu mau berjanji," sungut Anja yang kini telah berhasil membuka tiga kancing teratas.


Membuatnya menggelengkan kepala karena hal yang seharusnya tersembunyi kini terpampang nyata tepat di hadapan.


Oh, tidak.


"Kalau biasanya kamu cuma bantu mijat biar nggak lecet waktu di nen Aran....."


"Sekarang kamu bisa melakukan hal lain....," Anja menaik turunkan alis menggodanya.


Sontak ia kembali tertawa. Kali ini lengkap dengan menggelengkan kepala. Tak pernah menyangka jika Anja bisa nekat menggodanya se all out ini.


"Kenapa kamu mau aku kuliah?" kali ini ia bertanya serius. Setelah membantu mengancingkan kembali baju Anja. Agar konsentrasinya tak terpengaruhi oleh pemandangan yang sangat menggiurkan.


"Karena kamu harus kuliah."


"Itu bukan alasan," ia menggeleng.


"Lagian aku sekarang udah kerja."


"Sampai kapan?" Anja mengkerut.


Ia menghela napas sebelum menjawab, "Aku usahakan untuk nabung."


"Itu bukan jawaban," kini giliran Anja mencibir.


"Kuliah butuh biaya besar, Ja."


"Aku udah bilang dari awal," Anja merajuk. "Kamu nggak perlu khawatir soal biaya."


"Aku nggak mau merepotkan orang lain."


"Kamu nggak ngerepotin siapa-siapa!" suara Anja mulai meninggi.


Kemudian Anja mengulurkan tangan ke arah nakas untuk mengambil ponsel. Membuka layarnya. Mencari sesuatu. Lalu memperlihatkan layar ponsel padanya.


"Janji ya...kamu harus kuliah," bisik Anja dengan wajah memohon. Sebelum ia membaca tulisan yang tertera di dalam layar ponsel.


Dimana ia kembali melihat laman warna putih dengan kop berwarna biru bertuliskan.


 -------


Laman Resmi


SBMPTN 2xxx


Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri


PENGUMUMAN HASIL SELEKSI SBMPTN 2xxx


Nomor peserta. : 118 - 3000 - 14255


Nama. : Teuku Cakradonya Ishak


Tanggal lahir. : 11 - 08 - 19xx


Selamat! Anda dinyatakan lulus SBMPTN 2xxx di


PTN. : 332 - Kampus Ganapati, Bandung


Program Studi. : 3321073 - Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI)


Persyaratan pendaftaran ulang calon mahasiswa baru dapat dilihat di sini


Anda dapat mencetak kembali Kartu Tanda Peserta SBMPTN 2xxx di sini


UNDUH SK PESERTA LULUS SBMPTN 2xxx (PDF)


 -------


"Bukan ini yang kuinginkan," batinnya dengan hati mencelos.


***


Keterangan :


Gulai Peukasam. : gulai khas Aceh yang terbuat dari daging durian yang telah diasamkan (atau kalau tidak ada daging durian saja), berisi sayuran (dan udang) dengan rasa sedikit asam, pedas, gurih, dan manis


Asam Udeung. : masakan khas Aceh yang terbuat dari udang rebus yang dirajang kecil dan dibumbui dengan bumbu-bumbu bercita rasa asam dan pedas. Di salah satu rumah makan Aceh di Jakarta, asam udeung populer dengan sebutan sambal ganja.


Sumber ttg Aceh : Readers tersayang yang asli Aceh 🤗 Teurimong gaseh Mam sudah bersedia menjadi narasumber 🤗


##jika ada kekeliruan penulisan atau kesalahan dalam menerjemahkan masakan khas Aceh, feel free untuk PC author ya readers tersayang 🤗 dengan senang hati akan author revisi