Beautifully Painful

Beautifully Painful
174. Life Must Go On



Readers tersayang semuanya 🤗,


Apakabarnya hari ini? Semoga senantiasa berada dalam limpahan kesehatan dan kebahagiaan, aamiin.


Readers tersayang,


Tanpa mengurangi rasa hormat....sini BIG HUG dulu semuanya 🤗🤗🤗


Seperti yang sempat author posting di Chapter "Ucapan Terimakasih 💕" dan chapter pengumuman sebelumnya, bahwasanya...nganu...errrr...ampun Bang Jago 🙈 tolong tenang dulu semuanya yaaa 🙈🤧....


Dengan berat hati author sampaikan, Beautifully Painful akan End di akhir minggu ini.


Tenang...tenang....Big hug lagi siniiiih 🤗🤗


Ibarat kita mau resign, kan mesti ada spare waktu 🤗 jadi H-2 cukup ya readers tersayang, author mau tak mau harus menginformasikan tentang End nya BP 🤗. Biar nggak kaget gitu 🤗.


Oiya, dulu BP rencana End di episode 150an 🙈😁. Ternyata molor sampai episode 170an 🤗. Jadi, sudah lebih dari cukup kita membersamai kisah kasih Anja-Cakra 🤗.


Pastinya akan ada banyak hal yang belum terjawab. Juga masalah yang belum terselesaikan. Atau hal mengganjal lainnya 😇.


Tapi, bukankah memang begitulah hidup adanya?


Tak semua bisa kita peroleh jawabannya saat ini juga.


Mungkin besok, lusa, tahun depan, atau bahkan sampai waktu berakhir, sama sekali belum kita temukan jawabannya.


(jurus ngeles 🤭 🏃🏃🏃)


Selamat menikmati sesi terakhir kebersamaan dengan Anja-Cakra 🤗


Mohon doanya bisa End dengan baik dan lancar 🤗


Setelah End, author minta ijin liburan dulu yaa 😇


Usai liburan, barulah kita mengawal kisah kasih Pak Pici duren sawit favorit kita semua 😁🤗


Haturtengkiuu dan BIIIIG HUUUUG 🤗🤗🤗


With love 🤗,


Sephinasera.


##mohon maaf untuk komentar atau pertanyaan baik di NT maupun sosmed belum bisa dijawab dan dibalas satu per satu, dikarenakan keterbatasan waktu 🙏


In syaAllah setelah BP End, author langsung patroli dan menjawab komen yang masuk 🤗.


Semoga berkenan 🤗.


-------------------------------- 


Cakra


Ia pulang ke Bandung dengan hati berbunga. Penuh diliputi oleh rasa hangat dan kebahagiaan yang meluap-luap.


Bersama berkardus-kardus stok persediaan makanan yang dibawakan Mama Anja. Ia melajukan kemudi meninggalkan lambaian tangan dari sesosok cantik pemilik hatinya.


"Jangan lupa mampir dulu ke Mamak," begitu kata Anja ketika ia sedang berganti baju usai mandi.


"Mumpung Abang lagi di sini kan."


"Ntar keburu tugas kuliah seabrek nggak bisa sering-sering pulang."


Ia tersenyum seraya mengecup kening Anja sekilas. (Dulunya) Cewek berisik yang memiliki hobi memukul dan berbicara dengan nada membentak ini ternyata memiliki hati selembut sutera.


Dari rumah Anja ia melajukan kemudi menuju rumahnya sendiri. Setengah jam dirasa cukup untuk sekedar melepas rindu. Karena hari ini ia ada jadwal kelas di jam 10 pagi.


"Ini dari Tante Anja nih," ia menyerahkan paper bag titipan dari Anja pada Sasa.


Tapi Sasa justru berlari keluar teras dan celingukan mencari-cari sesuatu, "Dekgam mana Yah Bit? Nggak ikut?"


Ia tertawa, "Nggak, Sa."


"Yaaah," Sasa terlihat kecewa. "Padahal aku mau ngasih lihat mainan baru ke Dekgam."


"Mainan apa?" ia tersenyum sambil mengusap puncak kepala Sasa. "Sini Yah Bit lihat."


Sasa langsung berlari masuk ke dalam kamar. Sambil menunggu, ia meletakkan paper bag titipan dari Anja. Kemudian mendudukkan diri di kursi.


Bersamaan dengan Mamak yang muncul sambil membawa nampan. Lalu meletakkan nampan yang berisi segelas teh manis hangat dan sepiring ubi rebus ke atas meja.


Sementara dari arah dapur terdengar suara spatula beradu dengan wajan. Diikuti bau harum khas rempah. Diiringi teriakan Icad dan Umay yang tengah bertengkar karena berebut kamar mandi.


"Sudah sarapan?" Mamak mengambil duduk di sebelahnya.


Ia mengangguk. Tadi ia sempat makan setangkup roti bakar hangat di rumah Anja.


Namun meski begitu, diambilnya sepotong ubi yang ternyata masih hangat suam-suam kuku. Lalu memakannya.


"Aku cuma sebentar di sini."


Mamak mengangguk, "Langsung ke Bandung?"


"Iya. Ada kuliah pagi."


Mamak beranjak dari duduk, "Bawa makanan ya, untuk teman nasi."


Mulutnya sudah setengah terbuka hendak menolak. Sebab Mama Anja telah membekali dua box penuh makanan matang. Kalau Mamak juga membekalinya, bisa dipastikan stok makanannya akan berlebih.


Tapi karena Mamak sudah berjalan ke dapur. Ia akhirnya berseru, "Sedikit saja, Mak. Khawatir nggak kemakan."


"Ini Yah Bit," Sasa muncul dari dalam kamar sambil membawa dua kotak plastik kecil bekas pembungkus sereal.


"Slime pelangiii," ucap Sasa dengan wajah memancarkan rasa bangga. "Aku buat sendiri Yah Bit."


"Wah?" ia membelalakkan mata demi melihat slime berwarna pelangi yang ditunjukkan oleh Sasa.


"Bagus," ia mengacungkan jempol. "Keren...keren."


"Sasa?" Kak Pocut muncul dari arah dapur. "Waktunya mandi. Terus berangkat sekolah."


Sasa menggeleng, "Nanti, Ma. Sasa mau main slime dulu sama Yah Bit."


Kak Pocut lalu mengambil duduk di sebelahnya, "Kata Mak mau langsung ke Bandung?"


Ia mengangguk, "Memang nggak ada rencana pulang. Kemarin kebetulan ada waktu luang. Jadi langsung kemari."


Kak Pocut manggut-manggut. Kemudian beralih pada Sasa yang sedang memainkan slime, "Ayo, Sasa. Nanti terlambat."


"Mandi duluuu," ia tertawa sambil mengucek rambut Sasa.


Dengan berat hati, akhirnya Sasa mau meninggalkan slime. Lalu beranjak mengekori Kak Pocut. Yang sudah lebih dulu pergi ke kamar mandi.


"Titip slime aku, Yah Bit. Jangan sampai dicuri sama Bang Umay!" seru Sasa sebelum menghilang di balik pintu dapur.


"Enak aja nyuri?!" sungut Umay yang baru keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk. "Siapa nyuri?!"


"Kemarin hayoo?!?" Sasa tak mau kalah. "Waktu slime Sasa tiba-tiba hilang, ternyata diambil sama Abang?!"


"Itu sih bukan nyuri, Sa," Umay menggeleng tak setuju. "Cuma mindahin doang dibilang nyuri. Idih?!"


"Sasa?" suara Kak Pocut terdengar memanggil. "Ayo mandi."


Ia pura-pura menjitak kepala Umay yang lewat di sebelahnya. Sementara Umay hanya tertawa-tawa sambil menghindar.


Dan ketika ubi potongan terakhir sukses masuk ke mulutnya, Mamak muncul dari dapur sambil membawa dua kotak makanan.


"Wah, jangan banyak-banyak, Mak," ia mengernyit melihat Mamak memasukkan dua kotak makanan tersebut ke dalam sebuah kantung plastik.


"Ajak teman-temanmu makan," Mamak menyimpan kantung plastik berisi kotak makanan ke atas meja.


"Pasti banyak anak rantau di sana."


Ia semakin mengernyit. Siapa kira-kira yang bisa diajak makan. Kebanyakan teman yang dikenalnya jelas orang berada. Bukan mahasiswa dari kalangan pas pas an seperti dirinya.


Ia masih memikirkan tentang teman yang akan diajak makan bersama, ketika Mamak terlihat gelisah sambil sesekali menengok ke arah dapur.


"Beberapa waktu lalu, ada Kakak Anjani datang kemari," ucap Mamak setengah berbisik.


"Oh, Mas Tama?" ia balik bertanya seraya menyesap teh manis hangat.


"Kau tahu?" Mamak melihatnya dengan penuh selidik.


Ia mengangguk, "Iya. Mas Tama nelepon aku nanyain tentang Sasa."


"Kupikir cuma nanya doang. Nggak akan ke sini."


Mamak menghela napas panjang. Dan ini berhasil memancing kecurigaaannya.


"Kenapa gitu, Mak? Apa ada yang salah?"


"Tak apa-apa," Mamak masih tersenyum. "Mungkin hanya kekhawatiran tak berdasar."


Ia semakin mengernyit. Tapi tak berniat untuk memperpanjang. Sebab ada hal penting lain yang juga harus ditanyakan langsung kepada Mamak.


"Semalam Papa Anja ngasih aku ini, Mak," ia meraih buku bersampul cokelat yang tadi dimasukkan ke dalam paper bag titipan dari Anja untuk Sasa.


Mamak mengambil buku bersampul cokelat dari tangannya dengan wajah murung.


"Cut Sarah itu siapa, Mak?" tanyanya benar-benar ingin tahu.


"Terus ada surat dari Ayah juga di dalam," tunjuknya pada buku bersampul cokelat yang berada dalam genggaman Mamak.


"Pak Setyo cerita apa tentang buku ini?"


Ia mengangkat bahu, "Nggak cerita apa-apa."


"Kata Papa Anja ceritanya panjang. Jadi kapan-kapan saja kalau ada waktu."


Mamak menghela napas yang di telinganya terdengar begitu berat. Lalu menghembuskan dengan cepat, "Tunggu sebentar."


***


Mamak


Dengan berat hati, ia kembali mencari kotak kaleng bekas biskuit yang tersimpan di lemari bagian bawah. Dimana posisi kaleng agak susah dijangkau. Karena memang sengaja ia simpan di bagian terdalam.


Kini kotak kaleng berbentuk persegi panjang yang telah berkarat di sana-sini telah berhasil diraih. Dengan tangan gemetaran, ia coba membuka penutup kaleng. Yang terasa semakin alot dan keras. Kian sulit untuk dilepaskan.


Ia bahkan harus mengerahkan sedikit tenaga dengan satu tarikan yang cukup kuat, hingga akhirnya berhasil membuka penutup kaleng.


Namun ia harus menghela napas dalam-dalam terlebih dahulu, sebelum memberanikan diri mengambil dua barang yang memang sejak lama ingin ia berikan pada Agam. Hanya sedang menunggu waktu yang tepat.


Dan sekarang adalah waktu yang tepat.


***


Cakra


Ia tengah bercanda dengan Icad dan Umay. Yang sama-sama sedang memakai sepatu.


Diiringi suara rengekan Sasa yang meringis kesakitan. Sebab rambut kusutnya sedang di sisiri oleh Kak Pocut. Ketika Mamak keluar dari kamar lalu duduk di sebelahnya


"Adududuh....," rengek Sasa. "Sakit, Maa."


"Makanya, nanti sepulang sekolah...kita potong rambut ya," Kak Pocut berusaha menenangkan Sasa yang terus merengek.


Tapi Sasa menggeleng keras-keras, "Nggak mau! Nanti nggak kayak princess lagi."


"Princess kok rambutnya kusut," cibir Umay yang kini sedang melahap sepotong ubi rebus hangat.


"Biarin, yeee!!" Sasa meleletkan lidah membalas cibiran Umay.


"Nanti siang kalau Sasa mau potong rambut, pulang sekolah kita mampir ke tokonya Bang Ahmad buat beli es krim," bujuk Kak Pocut sambil memasangkan jepitan di rambut Sasa.


"Aku titip ya, Ma," Umay mengangkat tangan. "Es krim yang ada taburan kacangnya di luar."


Kak Pocut hanya berdehem menanggapi Umay. Sementara beberapa anak berseragam SMP terdengar memanggil-manggil nama Icad dari depan rumah.


"CAD! Ayo, berangkat!!"


Icad yang juga sedang melahap ubi rebus langsung memasukkan potongan terakhir ke dalam mulut dengan tergesa. Lalu menghampiri Kak Pocut dan Mamak untuk mencium tangan.


"Nanti pulang sekolah, mampir ke keude dulu, Bang," ucap Kak Pocut yang dijawab dengan anggukan oleh Icad.


Ketika Icad bermaksud meraih tangannya, ia telah lebih dulu menjitak kepala Icad.


"Udah punya cewek belum?" selorohnya. Yang langsung disambut suara protes Kak Pocut.


"Ah, masih kecil. Belajar dulu yang benar!"


Ia tertawa karena Kak Pocut memelototinya. Lalu menyambut uluran tangan Icad yang telah ia selipkan selembar uang.


Icad sempat mengernyit dan terlihat ingin menolak. Tapi ia buru-buru meletakkan telunjuk di depan bibir. Meminta agar Icad tak membuka rahasia.


"Buat jajan," ucapnya tanpa suara, sebab tak ingin terdengar oleh Mamak dan Kak Pocut.


Icad mengangguk, "Makasih, Yah Bit."


"Tuh, dengerin apa kata Mama," ujarnya dengan gaya sok tahu. Pura-pura tak terjadi apapun. "Jangan tepe (tebar pesona) tepe sama cewek."


Tapi Icad sama sekali tak menghiraukan candaan yang dilontarkannya. Langsung melesat keluar menemui teman-teman yang sedari tadi menunggu.


"Hati-hati di jalan," seru Kak Pocut ketika Umay dan Sasa menyusul pamit untuk pergi ke sekolah.


"Jaga adikmu, May!" imbuh Kak Pocut. "Gandeng tangannya kalau mau menyeberang jalan."


"Jangan ditinggalin!"


Ia juga sempat menyelipkan selembar uang ke dalam saku Umay dan Sasa. Tentu saja tanpa sepengetahuan Kak Pocut dan Mamak.


Begitu Umay dan Sasa menghilang di balik tikungan, Kak Pocut langsung menatapnya tajam.


"Kau ini masih saja memanjakan anak-anak."


Ia hanya meringis sebab ulahnya menyelipkan uang ternyata ketahuan.


Tapi Kak Pocut tak membahasnya lagi. Langsung berlalu menuju ke dapur. Sebab sebentar lagi waktunya berangkat ke keude.


Setelah punggung Kak Pocut menghilang di balik pintu dapur, Mamak mengangsurkan sebuah buku bersampul merah yang cukup tebal padanya.


"Buku sampul cokelat biar Pak Setyo saja yang cerita," Mamak jelas sedang memaksakan diri untuk tersenyum saat menatap matanya


"Kalau buku merah ini," Mamak menatapnya dengan ekspresi wajah murung. "Titipan dari Ayahmu."


Ia mengambil buku tebal bersampul merah yang diulurkan oleh Mamak.


"Dulu Ayahmu sempat berpesan, agar memberikan buku ini pada Is dan Agam jika telah dewasa."


"Is sudah sering membacanya," kali ini senyum di wajah Mamak terlihat lebih lepas.


"Sekarang giliranmu."


Ia menatap buku tebal bersampul merah yang kini berada dalam genggaman dengan penuh tanda tanya.


"Baca saja dulu," Mamak masih tersenyum menatapnya. "Baca semuanya sampai paham."


"Kapan-kapan kalau pulang kemari lagi, baru kita bicarakan."


------------------------ 


Ia terlebih dahulu mengantarkan Kak Pocut ke keude.


"Kak," ia jadi ingin mengorek informasi dari Kak Pocut. "Pernah baca buku Ayah yang bersampul merah?"


Kak Pocut menggeleng, "Pernah lihat bukunya, tapi tak pernah baca."


"Almarhum Bang Is saja yang dulu sering membacanya."


Ia mengangguk tanda mengerti.


Ia juga sempat membantu menurunkan barang-barang bawaan Kak Pocut, lalu menatanya di keude. Setelah semua beres, barulah ia pamit untuk pulang ke Bandung.


Namun sebelum melajukan kemudi, ia ingin menuntaskan rasa penasaran pada buku tebal bersampul merah pemberian Mamak.


Dengan kening mengkerut, dibukanya lembaran pertama yang telah menguning.


Aroma khas kertas buku yang cukup lembab sebab tak dibuka dalam waktu lama, langsung meruar tajam menghampiri indera penciumannya.


Idi Rayeuk, Juni 1981


Begitu tulisan tangan pertama yang dibacanya. Terletak di sebelah kanan atas kertas buku. Menyusul di bawahnya sederet tulisan lain. Yang beberapa di antara hurufnya mulai menghilang dan agak sulit untuk dibaca.


Dengan kening yang semakin mengkerut, ia kembali membuka lembar kedua dan seterusnya secara acak. Beberapa lembar kertas kedapatan saling menempel satu sama lain dan agak sulit untuk dilepaskan.


Tapi yang membuatnya terkejut adalah, ketika selembar foto terjatuh dari selipan buku di lembaran belakang.


Dipungutnya foto cetakan lama yang sudah dihiasi jamur putih di beberapa bagian. Namun masih bisa menampakkan wajah-wajah di dalam foto dengan cukup jelas.


Dipandanginya foto yang bergambar sepasang pengantin di atas pelaminan. Dengan seorang pria berseragam polisi lengkap yang berdiri di sebelah mempelai pria.


Siapa kiranya gerangan sepasang pengantin itu belum bisa ia pastikan. Meski hatinya sempat tercekat. Saat menyadari, jika wajah sang mempelai pria bagai pinang dibelah dua dengannya.


***


Keterangan :


Life must go on : hidup harus terus berjalan