
Anja
Cakra memang yang terbaik. Bahkan jika ia tak berlebihan, Cakra sudah lebih dari pantas untuk masuk ke dalam jajaran para perumus kisi-kisi soal ujian yang ada di bimbel-bimbel ternama.
Terbukti, persiapan perang mereka menuju SBMPTN UTBK yang akan digelar kurang dari tiga minggu ke depan benar-benar maksimal. Ia bahkan hanya bisa melongo waktu pertama kali mengetahui Cakra membuat pemetaan waktu yang super duper lengkap terhitung dari hari ini sampai H-1.
"Pendaftar SBMPTN FKG Jakun tahun lalu hampir seribu orang. Dengan daya tampung 36," terang Cakra ketika sedang menempelkan kertas A3 berisi time line road to SBMPTN di dinding kamarnya.
"Itu berarti persentase keketatan untuk masuk ke sana sekitar 5 koma sekian persen," lanjut Cakra lagi.
"Daya saingnya cukup tinggi, Ja."
"Kamu harus siap tempur."
Time line special design by hubby -ehm, ia tersenyum-senyum sendiri di bagian yang ini- dengan print tinta warna-warni itu berisi jadwal belajar harian, jadwal review materi/konsep teori, latihan soal, evaluasi, try out dari aplikasi belajar online yang banyak bertebaran, sekaligus mengerjakan soal UTBK tahun-tahun sebelumnya. The whole world isn't it?
Ia pun dengan penuh kesungguhan berusaha belajar secara mandiri tiap kali Cakra sedang bekerja. Agar cita-citanya masuk FKG Jakun bisa tercapai. Ia tentu tak boleh gagal untuk yang kedua kalinya. Kali ini harus bisa!
Dan Cakra, meski ia tahu betul tak terlalu antusias dengan SBMPTN ini. Namun tetap mensupportnya dengan sepenuh hati.
Cakra bahkan mengajukan permohonan secara resmi ke HRD Retrouvailles agar bisa selalu mengambil shift pagi selama tiga minggu ke depan.
"Team service nya welcome semua," ujar Cakra kemarin, usai mengajukan permohonan shift pagi.
"Mau tukeran shift kalau aku pas kebagian sore," lanjut Cakra dengan wajah sumringah.
"Nama teman-teman kamu di team service siapa aja?" ia mendadak memiliki ide.
Hidup bersama dengan Cakra selama hampir satu bulan rupanya telah berhasil mengajarkannya kelembutan hati untuk senantiasa berbuat kebaikan.
"Kenapa?" Cakra mengernyit heran.
"Biar aku minta voucher ke Tante Iren buat mereka."
"Voucher?" Cakra makin mengernyit heran.
"Enakan voucher dari Raja Raos apa Dapur Mitoha?" ia justru balik bertanya. "Fleksibel kok. Bisa dine in apa take away. Tinggal pilih."
Namun Cakra hanya menatapnya tak mengerti.
"Yaa, sebagai ucapan terima kasih," ia mencibir karena Cakra tak juga menanggapi perkataannya.
"Karena mereka mau gantian shift sama kamu. Jadi kamu bisa belajar sama ak....Cakra ih!" ia buru-buru memukul dada Cakra yang tiba-tiba menci um pipinya.
"Neng Anja baik sekali," seloroh Cakra membuatnya makin mencibir.
Sambil berusaha menata degup jantung yang tak beraturan akibat gerakan tak terduga Cakra barusan, ia pun pura-pura menyalak galak, "Seorang satu juta cukup?! Atau kurang?"
Kini giliran Cakra yang melotot ke arahnya, "Satu juta?! Mau nraktir orang sekampung?!"
Jadi, pagi hingga siang hari ia akan belajar sendiri. Mengerjakan latihan soal yang telah disiapkan oleh Cakra. Meski pada kenyataannya ia lebih sering tertidur karena selalu saja mengantuk tiap kali berhadapan dengan setumpuk soal latihan.
Sstt, jangan bilang-bilang ke Cakra ya.
Kemudian sekitar jam lima an sore, Cakra tiba di rumah. Istirahat sebentar, makan, kepotong waktu Maghrib. Baru setelah itu mereka belajar bersama.
Biasanya Cakra akan memulai sesi belajar mereka dengan menjelaskan konsep melalui mind mapping yang -tentu saja- Cakra buat sendiri.
Temanya spesial by request. Yaitu materi-materi yang belum terlalu dikuasainya. Terutama jika soal-soal materi tersebut mulai bervariasi. Biasanya ia akan ambyar dengan sendirinya.
Jadi ritual bersama Cakra setelah mind mapping adalah mengerjakan latihan soal. Kemudian review materi secara lebih detail. Latihan soal lagi. Review lagi. Latihan soal lagi. Begitu seterusnya sampai mata mulai berkunang-kunang tiap kali melihat variasi soal yang makin sulit.
Namun Cakra tak pernah lupa waktu. Tiap jam 21.00 WIB teng, pasti sudah membereskan semua buku dan kertas yang berserakan di atas meja makan hasil proses belajar mereka. Tak peduli meski ia merengek meminta mengerjakan beberapa soal lagi karena merasa belum mengantuk.
Tapi Cakra tak pernah bergeming. Tetap saja memintanya untuk tidur tepat waktu. Meski ia merajuk bahkan memberengut marah.
"Kasihan kamu dibawa belajar terus," gumam Cakra malam ini ketika ia hampir terlelap. Dengan telapak tangan besar dan hangat yang mengusap perutnya.
Ia yang sudah terlalu mengantuk sama sekali tak mempedulikan Cakra yang beranjak pergi. Namun tak lama kemudian kembali duduk di sampingnya sembari mendekatkan wajah ke perutnya untuk membaca Al-Qur'an.
Hmmm, membuat perjalanan menuju lelapnya kian sempurna dengan sayup-sayup suara bacaan Al-Qur'an yang dilantunkan oleh Cakra.
Sejak malam itu pula ia jadi mengetahui ritual Cakra sebelum tidur. Pertama, jika mereka tak melakukan apapun, maka Cakra akan mengambil wudhu untuk kemudian membaca Al-Qur'an sembari mengusap-usap perutnya.
Ugh, sungguh situasi yang sangat menyenangkan hatinya. Terlelap dengan ditemani oleh suara orang mengaji. Sembari sebuah telapak tangan besar dan lebar mengusap-usap perutnya dengan lembut.
Membuat lelapnya kian cepat dan makin menjadi. Tidur nyenyak hingga esok hari sekaligus mendapatkan mimpi yang paling indah.
Namun jika mereka melakukan sesuatu yang menyenangkan, maka Cakra akan bicara sendiri di depan perutnya seperti orang gila. Lalu memutar Mozart hingga alunannya memenuhi udara seluruh langit-langit kamarnya.
"Kemarin dokter Stella bilang, janin udah bisa bereaksi terhadap irama apapun di sekitarnya," ujar Cakra ketika ia menertawakan ulah Cakra yang sering bicara sendiri di depan perutnya.
"Aku ingin dia tahu kalau aku sayang sama dia," gumam Cakra dengan kepala tertunduk.
Membuat hatinya sedikit trenyuh. Ya, meski Cakra tak pernah sekalipun bercerita mengenai ayahnya. Namun berita tentang bagaimana ayah Cakra meregang nyawa setelah kisah hidup yang fenomenal sebagai -yang dicap- pemberontak. Paling tidak membentuk pribadi Cakra yang merindukan seorang ayah.
"Sayangan mana sama ibunya?" ia mencoba berseloroh saking tak memiliki ide untuk menghibur Cakra yang tiba-tiba berwajah keruh.
Tapi rupanya ini adalah keputusan keliru. Karena Cakra justru langsung meraihnya ke dalam rengkuhan hingga ia menjadi susah untuk bernapas.
"Cakra ih!" ia bahkan harus memukuli punggung Cakra berkali-kali agar melepaskan rengkuhan yang membuatnya makin sesak napas.
"Aku sayang kamu, Ja," gumam Cakra seraya menenggelamkan wajah dalam-dalam ke sulur rambutnya.
"Iya tahu...tahu!" jawabnya cepat sambil terus memukuli punggung Cakra. "Lepasin ih!"
***
Irwin Labodas -Wakasek Bidang Kesiswaan SMA Pusaka Bangsa-
Hari ini, tanggal 2 Mei, adalah hari yang paling ditunggu oleh seluruh siswa kelas XII di SMA Pusaka Bangsa. Yaitu pengumuman kelulusan.
Acara yang dihadiri oleh seluruh siswa kelas XII beserta orangtua masing-masing ini berlangsung di Aula sekolah. Sebelum nanti malam diadakan prom night graduation party di sebuah ballroom gedung pertemuan mewah berarsitektur khas Yunani. Yang berada di kawasan Dharmawangsa, Jakarta Selatan.
Sejak pagi hari, ia telah mengawasi beberapa guru yang bertugas. Dengan dibantu oleh anak-anak OSIS yang didapuk menjadi panitia pelepasan siswa tahun ini mempersiapkan seluruh keperluan hingga detail terkecil.
Kini, tepat pukul 09.00 WIB, seluruh siswa beserta para orangtua telah memenuhi ruangan Aula untuk mengikuti serangkaian acara pelepasan.
Dari tempat duduknya di barisan para guru, ia bisa mendengar dengan jelas, ketika MC memanggil nama lulusan terbaik tahun ini yang jatuh kepada,
"Ananda Adipati Megantara, dari kelas XII IPA1."
"Putra dari Bapak Brigjen Pol (purnawirawan) Hartadi Megantara dan Ibu Rita Aryasa ini...."
"Telah menyelesaikan pendidikan selama tiga tahun di Pusaka Bangsa dengan prestasi yang sangat gemilang."
"Selain berhasil membawa team basket putra Pusaka Bangsa menjadi runner-up di kejuaraan bola basket paling bergengsi se DKI Jakarta, yaitu HSBL Championship Series."
"Ananda Adipati Megantara juga telah mencatatkan namanya sebagai calon mahasiswa baru di Fakultas Kedokteran Umum Kampus Jakun melalui seleksi SNMPTN jalur undangan."
"Mari kita sambut bersama, lulusan terbaik tahun ajaran ini SMA Pusaka Bangsa. Ananda Adipati Megantara....."
Serta merta tepuk tangan bergemuruh memenuhi udara di seantero Aula. Membuatnya ikut bertepuk tangan. Sembari menyaksikan proses penyematan selempang kebanggaan berwarna hitam dengan benang bersulam emas yang bertuliskan Lulusan Terbaik Tahun 2xxx oleh Kepala Sekolah.
Kemudian dilanjutkan dengan penyerahan plakat lulusan terbaik. Kali ini oleh Ketua Yayasan Pusaka Bangsa. Saling berjabat tangan. Dan terakhir speech dari lulusan terbaik juga orangtua.
Dengan berdiri di atas podium, Adipati mulai memberikan kata sambutan. Ketika dari tempat duduknya bisa terlihat dengan jelas deretaan kursi kelas XII IPA6. Dimana kursi baris terakhir duduk seorang siswa yang cukup menarik perhatian karena penampilan fisik yang lumayan mencolok.
Siswa itu adalah Teuku Cakradonya Ishak. Siswa berwajah tampan seperti layaknya anak hasil pernikahan campuran.
Setelah sebelumnya hanya sering mendengar sepak terjang Cakradonya melalui beberapa rapat di dewan guru. Yang sebagian besar berisi keluhan tentang perilaku tak terpuji siswa tampan tersebut.
Ia yang tak pernah menangani atau mengajar langsung Cakradonya hanya bisa menjadi pendengar setia rapat-rapat bertegangan tinggi itu. Tak pernah sekalipun berusaha memberi saran tentang hukuman yang setimpal untuk diberikan.
Atau sekedar membela karena merasa iba seperti yang sering dilakukan oleh Mr. Sofyan, guru Matematika senior di Pusaka Bangsa.
"Dia itu siswa cerdas! Punya masa depan dengan kualitas otaknya!"
"Tidak seharusnya kita singkirkan sedemikian rupa hanya karena permintaan orang berpengaruh!"
Begitu seringkali Mr. Sofyan berseru di tengah ruang rapat dengan muka berapi-api tanpa ada seorang pun yang bersedia mendukung pendapatnya.
Dan alur serupa terus berlangsung hampir sepanjang tahun Cakradonya menuntut ilmu di Pusaka Bangsa. Kasus - rapat - sanksi. Selalu berulang seperti lingkaran setan.
Ia sampai terheran-heran, entah terbuat dari apa hati anak belasan tahun itu. Karena masih mampu bertahan di tengah lingkungan yang sama sekali tak menginginkannya.
Namun sejak ia mengampu jabatan menjadi Wakasek Bidang Kesiswaan, lambat laun kisah yang sebenarnya mulai terkuak.
Berawal dari ketidaksengajaannya melihat file lama tentang data siswa. Termasuk riwayat nilai, prestasi yang pernah ditorehkan, hingga kasus pelanggaran disiplin. Ia sepertinya mulai sependapat dengan Mr. Sofyan. Meski tak berani terang-terangan.
Ditambah kenyataan mengejutkan yang baru diketahuinya sekitar satu setengah bulan lalu. Ketika terjadi kesalahpahaman di sekolah hingga berujung pada kasus perundungan terhadap salah satu siswi.
Jika ternyata Cakradonya telah menikah dengan siswi yang menjadi korban perundungan tersebut. Pernikahan dadakan akibat perbuatan kenakalan remaja yang keburu membuahkan hasil.
Siswi tersebut bernama Anjani Prameswari. Putri bungsu mantan Wakapolri yang lebih dikenal sebagai salah satu donatur tetap di Yayasan Pusaka Bangsa.
Hingga kasus perundungan terhadap Anjani berhasil membuat Kepala Sekolah murka. Akibat miss komunikasi yang sempat terjadi antara sekolah dengan pihak yayasan.
Sekaligus ancaman dari wali Anjani, yang merupakan seorang perwira menengah Kepolisan. Jika keluarga mereka akan menarik posisi sebagai donatur tetap Pusaka Bangsa.
Dan puncaknya adalah beberapa hari lalu. Ketika rilis resmi dari Kemdikbud tentang nilai hasil UNBK keluar. Dirinya makin sependapat dengan Mr. Sofyan. Jika Cakradonya ternyata memang siswa cerdas yang mendapat perlakuan tak adil dari tempatnya menuntut ilmu.
Sungguh sangat disayangkan. Karena nilai yang dirilis oleh Kemdikbud jelas-jelas menunjukkan jika siswa bernama Teuku Cakradonya Ishak adalah peraih nilai UNBK tertinggi se Jakarta Barat.
Sekaligus mencatatkan diri dalam sejarah Pusaka Bangsa. Menjadi siswa yang pertama kali berhasil menempati peringkat terbaik kedua nilai UNBK bidang penjurusan IPA se Provinsi DKI Jakarta dengan rata-rata nilai 99.50.
Selisih 0.50 poin dengan peringkat pertama yang memiliki rata-rata nilai sempurna alias 100. Yang berhasil diraih oleh salah satu siswa SMA Negeri di Jakarta Selatan.
Cakradonya berhasil meraih nilai sempurna yaitu 100. Untuk mata pelajaran Matematika, Fisika, dan Bahasa Inggris. Sementara mata pelajaran Bahasa Indonesia memperoleh nilai 98. Jauh mengungguli Adipati Megantara yang mencatatkan rata-rata nilai 89.50.
Namun karena track record buruk Cakradonya selama 4 tahun menuntut ilmu di Pusaka Bangsa. Rapat dewan guru akhirnya memutuskan untuk menyerahkan gelar lulusan terbaik tahun ini kepada Adipati Megantara. Siswa kesayangan hampir semua guru di Pusaka Bangsa.
"Sekali lagi saya sampaikankan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya atas bimbingan Bapak Ibu guru selama ini....," sementara itu di atas podium, Adipati masih belum menyelesaikan sepatah dua patah kata sambutan sebagai lulusan terbaik tahun ini.
Kini, setelah seluruh rangkaian acara pelepasan siswa berakhir. Ia tengah membereskan beberapa pekerjaan yang sempat tertunda di ruangannya.
Ketika tak sengaja menangkap sekelebatan bayangan Cakradonya memasuki ruang Pak Guztaman, Waka Bidang Kurikulum yang terletak tepat di seberang ruangannya.
"Lagi ngurus apa?" tanyanya ke arah Cakradonya yang tengah duduk di kursi tunggu. Sementara Pak Guztaman sedang berkoordinasi dengan KaTU (kepala Tata Usaha).
"Mau ambil SKHUN, Pak."
"Buat apa buru-buru di ambil?" tanyanya benar-benar ingin tahu. "Daftar sekolah kedinasan?"
"Untuk daftar kerja, Pak."
"Kalau sudah selesai, saya tunggu di ruangan," ujarnya ketika melihat Pak Guztaman telah selesai berkoordinasi dengan KaTU.
***
Cakra
Rupanya ia menjadi siswa pertama sekaligus satu-satunya yang berniat mengambil SKHUN usai acara pelepasan siswa di Aula.
Hingga harus menunggu beberapa saat lamanya karena Waka Bid Kurikulum harus berkoordinasi terlebih dahulu dengan KaTU.
Dan hampir 45 menit kemudian, barulah ia berhasil memperoleh selembar kertas berkop surat logo Kemdikbud berdampingan dengan logo Pusaka Bangsa yang selama ini diimpikannya.
Selembar kertas sakti yang bisa berfungsi sebagai pass card baginya dalam mencari pekerjaan yang lebih menjanjikan. Sebelum ijazah kelulusan SMA yang asli keluar.
Tapi ia tak bisa langsung pulang. Karena Pak Irwin Wakasek Kesiswaan, telah memintanya untuk menemui beliau di ruang Kesiswaan.
"Masuk!"
Sebelum ia sempat mengetuk pintu kaca ruang Kesiswaan, seseorang telah memintanya untuk memasuki ruangan.
"Duduk."
Ia pun menurut untuk duduk di hadapan Pak Irwin yang terlihat sedang serius memperhatikan layar laptop sambil mengetik sesuatu.
"Sebelumnya saya ucapkan selamat," ujar Pak Irwin seraya mengulurkan tangan mengajak bersalaman.
"Berhasil meraih nilai UNBK terbaik kedua se DKI Jakarta."
Ia pun tersenyum mengangguk sambil menjabat tangan Pak Irwin, "Terima kasih, Pak."
"SKHUN mau buat daftar ke mana?" tanya Pak Irwin to the point. "Nggak coba kuliah? Ikut SBM nggak?"
Ia harus menelan ludah sebelum menjawab, "SBM ikut, Pak. Tapi untuk formalitas saja."
"Kalau SKHUN mau saya pakai untuk daftar kerja di salah satu pabrik otomotif."
"Kenapa hanya formalitas?" Pak Irwin menyipitkan mata tak mengerti. "Pilihannya mana?"
"STEI Ganapati sama Matematika Jakun, Pak."
"Pasti bisa!" suara keras Pak Irwin sedikit mengejutkannya. "Saya yakin pasti kamu masuk."
"Kenapa malah mau kerja? Pabrik otomotif apa? Axtra?"
Ia menganggukkan kepala, "Betul, Pak. Axtra sedang membuka banyak lowongan untuk lulusan SMA."
"Sayang kalau kerja tapi nggak kuliah," Pak Irwin kembali menyipitkan mata.
"Saya pasti kuliah, Pak," jawabnya sedikit ragu. "Tapi mungkin tahun depan. Ambil kelas karyawan."
"Sekarang saya niatkan untuk bekerja dulu. Karena saya harus....," ia mendadak terdiam karena merasa tak enak untuk melanjutkan kalimat.
Pak Irwin juga sempat terdiam selama beberapa saat. Sebelum kembali berkata dengan suara berat, "Oke, mungkin ini tak banyak membantu. Karena sekarang, proses perekrutan dilakukan secara online."
"Tapi, akan tetap saya buatkan surat rekomendasi."
"Nanti ketika interview, langsung serahkan ke HRDnya," lanjut Pak Irwin yang langsung mendial telepon ekstensi.
Dan mulai berbicara di telepon, "Bu Adel, tolong kirimkan file format rekomendasi sekolah untuk siswa ke email saya."
"Iya, sekarang."
"Saya tunggu."
"Terima kasih."
Begitu meletakkan gagang telepon, Pak Irwin kembali berkata, "Kalau belum di rotasi, salah satu staf HRD Axtra dulu teman sekolah saya."
"Semoga dengan surat rekomendasi ini, kamu bisa dapat nilai plus dan diterima bekerja di Axtra. Sesuai dengan kapabilitas yang kamu miliki."