Beautifully Painful

Beautifully Painful
73. Kau Buatku Jatuh Hati



Cakra


Dengan setengah berlari ia segera menghampiri Anja yang sedang duduk di depan gerbang SD ketika melihat Salma menyerahkan sebuah bungkusan berwarna biru. Khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Bagaimanapun juga, Anja tipikal gadis yang tak mudah ditebak. Terkadang bersikap manis, namun sedetik kemudian bisa berubah menjadi macan.


Ia tentu tak ingin terjadi keributan di tempat umum antara Anja dan Salma. Berlebihan memang. Tapi lebih baik mencegah bukan?


"Sal," ia sempatkan berbasa-basi sambil menelan ludah.


Tapi Salma hanya menganggukkan kepala tanpa ekspresi. Kemudian beranjak pergi memasuki halaman sekolah dengan mulut terkunci rapat-rapat.


"Nih," Anja langsung menyerahkan bungkusan berpita biru padanya. "Kado dari Salma."


Ia terpaksa menerima bungkusan tersebut seraya tersenyum pahit, "Nggak dibuka?"


Tapi Anja hanya mengangkat bahu, "Buka aja sendiri sama kamu."


Membuatnya mendudukkan diri di sebelah Anja. Sembari memperhatikan kepadatan di ruas jalan. Dimana pengunjung pasar kaget masih saja banyak yang berlalu lalang meski matahari telah lebih dari sepenggalah. Kian terik karena jelang tengah hari.


Mereka berdua tetap saling berdiam diri. Ia terus saja memandangi jalanan, sementara Anja memperhatikan layar ponsel. Tak ada yang berniat untuk membuka pembicaraan terlebih dahulu.


"Gam, duluan ya!" teriak Cing Anwar yang melewati mereka sambil mendorong gerobak berisi perlengkapan lapak milik Kak Pocut.


"Iya, Cing. Makasih banyak udah dibantuin," jawabnya seraya menganggukkan kepala.


Begitu Cing Anwar berlalu, ia pun berkata sambil mengangkat bungkusan berpita biru, "Mau dibuka sekarang?"


Tapi Anja menggelengkan kepala.


"Nggak pingin tahu isinya?" ujarnya seraya berseloroh.


Namun Anja kembali menggelengkan kepala, "Dilihat dari bentuknya juga udah ketebak lah."


"Apa?" tantangnya ingin tahu.


Kali ini Anja mendelik sambil bersungut-sungut, "Pasti buku lah. Apalagi? Mau taruhan?!"


Ia tergelak sambil menimbang-nimbang bungkusan berpita biru tersebut. Kemudian berkata, "Nggak pingin tahu buku tentang apa? Siapa tahu buku tent...."


"Enggak!" potong Anja cepat sembari melotot. "Paling juga buku-buku membosankan. Seperti yang ada di rak buku kamu!"


Ia pun menggelengkan kepala sambil terus tertawa.


"Lagian nanti di dalam pasti ada tulisan from Salma with love," cibir Anja dengan mulut mengerucut. "Males!"


***


Anja


Sebelum pulang ke rumah, Cakra terlebih dahulu mengajaknya untuk mengelilingi pasar kaget.


"Belum pernah lihat pasar kaget kampung kan?" seloroh Cakra setelah menitipkan sepeda di halaman SD.


"Pasti beda jauh sama pa...."


"Eh!" ia buru-buru menghentikan langkah dengan menyentakkan sebelah kaki.


"Udah deh," gerutunya sebal. "Nggak usah bahas hal-hal kayak gini bisa nggak sih?!?"


"Bikin mood orang hilang aja!" sungutnya kesal.


"Iya, Ja, sori...sori....," Cakra meringis menatapnya sambil berusaha merengkuh bahunya. "Bercanda."


"Bercanda hal-hal kayak gini tuh sama sekali nggak lucu tahu!" sungutnya masih kesal. Meski tak menolak bahunya direngkuh sedemikian rupa oleh Cakra.


"Aku kan cuma mau ngasih tahu perbedaan ant...."


"Udah...udah!" ia buru-buru memotong kalimat Cakra.


"Jadi ngajak jalan apa mau terus berantem nih?!" ancamnya sambil mendelik.


Membuat Cakra mengeratkan rengkuhan di bahunya seraya berkata, "Kita jalan....kita jalan...."


Meskipun hanya pasar kaget minggu pagi setingkat Kelurahan, tapi jumlah pedagang dan jenis barang yang diperjual belikan tak kalah beragamnya dengan yang ada di Car Free Day.


Mulai dari camilan hingga makanan berat, alat tulis, aksesoris, pakaian, sandal, sepatu, perabot rumah tangga, bahkan obat dan jamu. Semua ada di sini.


Ia masih melihat-lihat aneka jenis barang yang dijual, ketika kakinya mendadak berhenti di lapak yang menjual perlengkapan bayi.


Ada selimut, baju, topi, sepatu. Semua terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Ia bahkan tertarik untuk meraih sebuah topi pilot bayi berwarna cokelat yang sedang dipajang.


Topi lucu dengan aksen kacamata di dahi dan menutup hingga telinga ini terbuat dari bahan beludru yang halus dan lembut. Terasa nyaman di kulit ketika disentuh.


Ia masih memperhatikan detail topi model pilot itu ketika seseorang merengkuh bahunya.


"Kamu mau?"


Ia mendongak bertepatan dengan Cakra yang tersenyum menatapnya.


"Buat adeknya, Neng," ujar Abang penjual sambil tersenyum sumringah.


"Ya! Dibeli! Dibeli! Dibeli!" Abang penjual pun berteriak menawarkan dagangannya dengan penuh semangat.


"Sayang anak! Sayang anak! Sayang anak!"


"Itu model terbaru. Lagi hits," tambah si Abang lagi.


"Goban doang," si Abang penjual makin semangat. "Bahannya bagus. Adem. Nggak bakal gerah."


Ia masih memperhatikan detail topi pilot tersebut sambil tersenyum-senyum sendiri ketika si Abang penjual kembali berkata, "Adeknya cowok apa cewek, Neng?"


"Kalau buat anak cewek ada yang warna merah sama pink," lanjut si Abang semakin bersemangat.


Namun tak tahu mengapa, ketertarikannya mendadak menguap entah kemana. Sambil mengangkat bahu ia pun berusaha mengembalikan topi tersebut ke tempat semula.


"Kenapa?" tanya Cakra heran. "Kamu mau warna lain?"


Ia menggelengkan kepala dan segera berlalu dari lapak perlengkapan bayi. Membuat Cakra buru-buru berterima kasih pada si Abang penjual, "Makasih, Bang."


Kemudian berusaha menjajari langkahnya. "Kenapa nggak jadi?"


Ia hanya mengangkat bahu. "Emang tadi cuma pingin lihat doang," jawabnya sambil lalu.


Cakra tak berkomentar dan hanya menganggukkan kepala meski dengan wajah bingung. Mereka pun kembali melanjutkan langkah menyusuri deretan lapak penjual pasar kaget.


Melewati penjual obat yang dengan semangat 45 mendemonstrasikan kelebihan produknya.


"Jadi Bapak ibu semua, Abang adek....obat ini sudah teruji secara klinis oleh laboratorium."


"Bisa dicek di situs BPOM. Di sana ada nama obat yang kami jual ini."


"Nomor registrasinya sama dengan nomor yang tertera dalam kemasan."


"Marketingnya keren banget," bisiknya sungguh-sungguh demi mendengar penjelasan detail yang diucapkan oleh penjual obat.


Namun Cakra hanya terkekeh sembari mengeratkan rengkuhan di bahunya.


Dari lapak penjual obat, mereka kini melewati sekelompok pengamen yang sedang menyanyikan Dari Mata nya Jaz. Dengan menggunakan bermacam alat musik.


Dua orang masing-masing memegang ukulele, seorang menggawangi jimbe, dan yang terakhir menggesek biola dengan penuh penghayatan.


'Dari matamu, matamu


Kumulai jatuh cinta


Kumelihat, melihat


Ada bayangnya


Dari mata


Kau buatku jatuh


Jatuh terus, jatuh ke hati.'


(Jaz, Dari Mata)


Saking terpesonanya dengan penampilan para pengamen tersebut, menggerakkan tangannya untuk menyimpan beberapa lembaran rupiah ke dalam kotak yang telah disediakan.


"Makasih, Gam!" seru si pemegang Ukulele seketika.


Membuatnya menoleh ke arah Cakra dengan wajah curiga, "Kalian saling kenal?!"


"Mereka anak kampung sebelah. Teman main waktu kecil," jawab Cakra seraya melambaikan tangan sebagai tanda berpamitan pada para pengamen tersebut.


"Ih!" ia pun buru-buru mencubit lengan Cakra. "Tahu gitu tadi request lagu!"


"Mana suaranya keren banget lagi! Biolanya apalagi!" gerutunya karena telah melewatkan kesempatan request lagu.


"Oh, kamu mau request?" Cakra meringis menyadari ketidakpekaannya. "Bisa aja sih. Yuk...."


Namun ia keburu memberengut, "Basi! Udah lewat!"


Cakra hanya menggelengkan kepala seraya terkekeh. "Kamu kalau pingin sesuatu bilang dong. Memangnya aku paranormal bisa menebak isi hati seseorang. Ya, meskipun orang itu kamu...."


Ia hanya memutar bola mata sembari mencibir. Sementara Cakra kembali mengeratkan pelukan di bahunya.


Tak lama kemudian sampailah mereka di ujung pasar kaget. Yang berada tepat di depan halaman kantor Kelurahan. Membuat mereka segera menyeberang jalan untuk melihat-lihat lapak di sisi yang lain. Sekaligus berjalan pulang untuk mengambil sepeda yang Cakra titipkan di halaman SD.


Mulai dari frame, miniatur mobil-mobilan dan sepeda motor, hingga huruf kayu dan custom nama kayu dalam bentuk hati yang cantik.


"Ini berapa, Bang?" tanyanya seraya mengambil sebuah frame berukuran A4.


"Dua puluh lima," jawab Abang penjual yang sedang mengukir sebuah nama.


"Buat gambarnya Icad," gumamnya lebih ke diri sendiri.


Namun Cakra sempat mendengar ucapannya dan menganggukkan kepala tanda setuju.


"Ini bagus, Ja," tiba-tiba saja Cakra telah meraih sebuah frame berfurnish yang cantik. "Bisa digantung, bisa di berdiriin."


Ia pun mengambil frame dari tangan Cakra. Kemudian membandingkan dengan pilihan pertamanya tadi.


"Ini berapa, Bang?" tanyanya sembari menunjukkan frame pilihan Cakra.


"Sama, Neng. Dua puluh lima."


"Semua ini dua puluh lima an?" tanyanya ingin tahu.


"Iya, semua ukuran A4 harganya dua puluh lima. Kalau yang 3R lima belas ribu."


"Oh," ia menganggukkan kepala tanda mengerti.


Cukup lama ia menimbang-nimbang hendak membeli frame yang mana. Karena sedang menyesuaikan dengan suasana kamarnya agar matching.


Dan ketika akhirnya memutuskan untuk membeli frame pilihan Cakra, bersamaan waktunya dengan Abang penjual yang menyerahkan custom nama ke arah Cakra.


"Kamu beli apa?" ia menggelengkan kepala sambil tertawa demi melihat barang yang tadi diserahkan oleh Abang penjual.


"Ini," Cakra tersenyum lebar dengan penuh kebanggaan. Memperlihatkan custom nama dalam bentuk hati berbunyi,


Anjađź’—Cakra


"Garing!" sungutnya sambil memutar bola mata. Dan buru-buru berjalan mendahului Cakra agar tak kentara jika sedang tersipu. Saking senangnya melihat custom nama yang dibeli Cakra. Hingga membuat pipinya terasa panas.


Dan perjalanan pulang dari pasar kaget tak selamanya mereka lalui menggunakan sepeda. Hanya ketika menyusuri jalan raya saja. Karena begitu sampai di mulut gang, ia meminta turun untuk kemudian memilih berjalan kaki.


"Gangnya sempit, banyak anak-anak lari-larian. Enakan jalan kaki," jawabnya ketika Cakra bertanya keheranan.


Begitu sampai di teras rumah Cakra, ia langsung mendapati Sasa tengah bermain Barbie dengan dua orang temannya.


"Kak Anjaaa," sapa Sasa riang.


Ia pun tersenyum lebar sambil mengusap kepala Sasa. Mengikuti Cakra yang telah lebih dulu masuk ke dalam rumah. Yang langsung disambut oleh Kak Pocut dengan,


"Makan dulu, Anjani. Dari pagi belum makan nasi kan?"


Usai makan ia duduk-duduk di ruang tamu memperhatikan Mamak yang sedang menyelesaikan rajutan sepatu bayi untuknya.


"Kalau jadi hari ini, nanti bisa dibawa pulang sama Anjani," gumam Mamak sembari tangannya terus bergerak aktif di antara hakpen dan benang.


Ia pun menganggukkan kepala dan tersenyum senang.


"Besok-besok kalau ujian udah selesai, ajari aku merajut ya, Mak," ujarnya dengan mimik serius. "Nanti biar bisa buat rajutan sendiri."


Mamak menganggukkan kepala, "Iya, nanti Mamak ajari."


"Kalau sekarang nggak keburu, Mak," ia memberi alasan. "Mana susah lagi."


Mamak tersenyum menatapnya, "Nggak ada yang susah selama kita mau belajar."


Sementara Cakra tengah bermain bola dengan Ichad dan Umay di pekarangan kosong depan rumah.


"GOOOLLL!!" teriak Cakra kegirangan.


Namun langsung diprotes oleh Icad dan Umay berbarengan, "Nggak sah! Nggak sah!"


"Bolanya udah keluar garis duluan!!"


"Ulang! Ulang!"


Setelah sholat Dhuhur ia bahkan terkantuk-kantuk di bilik. Menyandarkan punggung ke dinding dengan ditemani hembusan kipas angin.


Sementara Mamak dan Kak Pocut terdengar kembali sibuk di dapur. Karena ada pesanan ayam untuk diambil nanti sore.


Ketika ia mulai terlelap, seseorang tiba-tiba berbisik di telinganya, "Tidurnya di kamar."


Dengan mata setengah terpejam ia pun melepas mukena. Kemudian berjalan ke kamar dengan dibimbing oleh Cakra.


"Cape ya?"


Ia masih sempat mendengar suara Cakra berbisik di telinganya. Namun kantuk yang menggelayut benar-benar tak bisa diajak kompromi. Dalam sekejap telah membawanya terbang menuju ke alam mimpi.


***


Cakra


Ia tersenyum menatap Anja yang sedang tertidur nyenyak. Dengan lelehan keringat membasahi sepanjang garis pipi hingga leher. Membuatnya meraih tissue untuk mengelap keringat yang membanjiri wajah menawan hingga ke leher jenjang itu.


Kondisi cuaca siang ini memang cukup terik. Apalagi rumahnya tak memiliki AC. Sementara kipas angin gantung yang ada di dalam kamarnya sama sekali tak bisa berbuat banyak untuk menciptakan kesejukan. Tak heran jika Anja sampai harus bersimbah keringat.


Ia pun berinisiatif untuk mengambil kipas angin duduk dari ruang tamu. Kemudian memencet tombol tingkat kecepatan angin ke angka 3 atau paling maksimal. Hingga kualitas hembusan angin yang keluar adalah yang paling kencang. Semata-mata agar Anja tak terlalu merasa kegerahan.


Ia masih memandangi wajah Anja yang terlelap dengan mulut setengah terbuka. Mengagumi betapa indahnya makhluk ciptaan Tuhan. Paras menawan dengan senyum mempesona. Namun memiliki sikap teguh pendirian cenderung ngeyel yang terkadang membuatnya ingin menyerah saja.


Perlahan telunjuknya mulai menelusuri garis pipi Anja. Masih tirus seperti pertama kali mereka bertemu. Namun tak sekurus hari-hari kemarin dengan tulang pipi menonjol.


Kali ini wajah Anja terlihat lebih segar dengan rona yang menggoda. Memancingnya untuk tak sekedar menelusuri pipi sehalus kulit bayi itu. Tapi juga mengusapnya melalui ujung jari.


Ia masih berpikir keras apakah mencium seseorang yang sedang terlelap termasuk tindak kecurangan atau tidak, ketika ponsel Anja yang tersimpan di atas meja menggelepar-gelepar tanda ada panggilan masuk.


Dengan terpaksa ia pun mengalihkan pandangan dari wajah memikat Anja untuk kemudian bangkit dan berjalan ke arah meja.


Teh Dara Calling


Ia masih mengernyitkan dahi ketika layar ponsel mendadak mati. Tanda panggilan telah berakhir.


Namun sedetik kemudian layar kembali menyala. Dengan menampilkan nama yang sama.


Teh Dara Calling


Ia memperhatikan layar ponsel dan wajah Anja yang yang masih saja pulas secara bergantian. Apakah harus membangunkan Anja? Mungkin ada hal penting yang ingin disampaikan Teh Dara.


Ia masih berdiri termangu dengan bimbang. Ketika layar ponsel Anja mendadak mati. Namun sejurus kemudian terdengar pintu kamar diketuk.


"Gam!"


Itu suara Kak Pocut.


"Ya, Kak?"


"Ini ponselmu dari tadi bunyi."


Kepalanya menyembul keluar bersamaan dengan Kak Pocut yang mengarahkan ponsel miliknya dengan layar menyala karena terdapat panggilan masuk.


Mas Sada Calling


Waduh!


"Makasih, Kak," ia buru-buru meraih ponsel dari tangan Kak Pocut dan segera mengangkatnya.


"Halo Mas?" jawabnya dengan gugup.


Namun suara di seberang sana mendadak hening. Sejurus kemudian barulah terdengar suara riang,


"Halo, Cakra? Apakabar?"


Ini jelas suara Teh Dara.


"B-baik, Teh. Ada yang bisa dibantu, Teh?" tanyanya masih saja gugup.


"Ini....kita teh udah di rumah. Tapi kalian malah nggak ada."


"Kira-kira bisa ketemuan nggak ya?"


"Mas udah kangen banget nih sama kalian."


Kemudian terdengar tawa tertahan di seberang sana.


"B-bisa, Teh. Bisa," jawabnya cepat.


"Oh, syukur deh," suara Teh Dara terdengar lega.


"Tapi bisa sebelum jam lima nggak ya, Cak? Soalnya kita mau balik ke Jogja jam enam."


***


Keterangan :


Djembe/jimbe : merupakan alat musik pukul yang dimainkan dengan cara memukul menggunakan jari atau telapak tangan.


Badan jimbe umumnya terbuat dari kayu yang dipahat menggunakan mesin atau secara tradisional menggunakan pahat tangan dengan bentuk menyerupai cawan atau piala (sumber : Wikipedia).