Beautifully Painful

Beautifully Painful
153. Welcome to The Club



Cakra


Ini adalah pagi hari pertamanya tinggal di Bandung. Sebagai penanda jika perjalanan baru sebentar lagi akan dimulai.


Are you ready (apakah kau siap)? batinnya sambil menghela napas panjang.


Dan tempat pertama yang dicarinya setelah menetap di Bandung adalah,


"Masjid paling dekat di mana, Mang?" tanyanya pada Mang Ujang yang sedang berada di bagian belakang rumah.


"Den?" Mang Ujang mengernyit. "Mau ke Masjid?"


Ia mengangguk. Sejurus kemudian dari kejauhan mulai terdengar suara adzan Subuh saling bersahutan.


"Harus pakai motor, Den, kalau dari sini," jawab Mang Ujang. "Lumayan jauh dan jalannya naik turun."


Ia akhirnya (mau tak mau) mengeluarkan motor yang menurut Mang Ujang semalam merupakan titipan dari Mas Tama.


Dan begitu keluar dari garasi, udara sejuk khas pagi hari yang cukup menggigit langsung menyambutnya. Termasuk angin sepoi yang berhembus menerpa wajah. Membuatnya buru-buru berbalik kembali masuk ke dalam rumah.


"Nggak jadi, Den?" tanya Mang Ujang heran.


"Dingin banget," ia tertawa. "Mau ambil jaket."


Mang Ujang hanya manggut-manggut melihatnya masuk ke dalam kamar.


Benar kata Anja, Bandung dingin. Jika di Jakarta ia tak memerlukan jaket saat pergi ke Masjid di waktu Subuh. Maka di sini berbeda. Sebab tanpa jaket, ia bisa dipastikan akan menggigil kedinginan.


"Biar saya antar, Den," Mang Ujang yang kini telah memakai sarung dan jaket memberi penawaran. "Belum tahu Masjidnya ada di sebelah mana kan?"


Betul juga. Ia pun kembali tertawa.


Tak lama kemudian Mang Ujang telah melajukan motor menuju ke sebuah masjid yang berada di dalam kompleks perumahan ini, yaitu Masjid Al Fath.


Dan di sepanjang perjalanan, ia berusaha mengingat baik-baik rute jalan menuju ke Masjid.


"Ada berapa pintu gerbang, Mang?" tanyanya ketika melihat tak jauh dari Masjid, terdapat pintu gerbang yang ditutup oleh portal.


"Pintu gerbang yang ini cuma dibuka tiap pagi sama sore aja, Den," jawab Mang Ujang. "Itu juga cuma di jam-jam tertentu."


Ia mengangguk, "Berarti pintu gerbang utama yang saya lewat semalam?"


"Leres pisan (betul sekali)," Mang Ujang mengacungkan jempol.


Jumlah jama'ah yang mengikuti sholat Subuh tak jauh berbeda seperti di Jakarta. Hanya terdapat satu shaf. Terdiri dari sekitar sepuluh sampai dua belas orang.


Tapi yang membuatnya terkejut adalah, ketika salam kedua, ia baru menyadari jika pria yang sholat tepat di sebelah kirinya adalah mantan kepala daerah tertinggi di Jawa Barat.


"Bapak Gubernur periode lalu memang rumahnya di sini, Den," jawab Mang Ujang terkekeh, ketika ia menanyakan tentang apa yang baru saja dilihat.


"Oh," ia manggut-manggut. Sambil terus memperhatikan bapak mantan kepala daerah yang masih duduk menghadap ke arah kiblat. Sepertinya sedang menyelesaikan dzikir pagi.


***


Tama


Begitu tahu Cakra diterima di Bandung, ia dan Sada langsung membicarakannya. Meski Papa sudah mengatakan pada mereka berdua jika,


"Papa yang tanggung semua biayanya."


Tapi ia tak mungkin hanya berpangku tangan.


Sementara Sada jelas-jelas telah berkontribusi banyak pada kelahiran Aran dan prosesi aqiqah. Jadi, ia memilih untuk melakukan hal yang lain.


"Di rumah ada motor nggak?" ia sampai lupa keadaan rumah di Bandung. Saking jarangnya berkunjung ke sana.


"Palingan motor yang dipakai Mang Ujang," jawab Sada.


"Cuma satu?"


"Kemungkinan besar."


"Kalau gitu aku yang beli motor."


"Very smooth (sangat halus)," gumam Sada dengan wajah mengejek.


"Sekali mendayung...dua pulau terlampaui," lanjut Sada semakin mengejek.


"Pegang dulu adik ipar...otomatis Kakak ipar....," Sada tak melanjutkan kalimat. Tapi justru mengerakkan tangan kanan seolah sedang menangkap sesuatu.


"Key to her heart (kunci menuju hatinya)....," sambung Sada sembari tergelak dengan penuh kepuasan.


Sada jelas salah sangka. Ini benar-benar tak ada hubungannya dengan orang lain ataupun maksud terselubung. Ia hanya ingin membantu. That's it, that's all (hanya itu, itu saja -tak lebih-).


Tapi kalau keputusannya ini bisa melembutkan hati seseorang, yeah...itu adalah bonus.


Dan pagi ini ia sudah berpakaian rapi. Siap pergi ke kantor. Namun masih duduk merokok di teras. Ditemani oleh secangkir kopi buatan sendiri. Sembari menunggu mesin mobil yang tengah dipanaskan.


"Assalamualaikum, Mas," suara nyaring Yu Adah terdengar bersamaan dengan pintu pagar yang terbuka.


"Waalaikumsalam," jawabnya seraya menggerus batang rokok yang masih panjang ke dalam asbak. Lalu menyempatkan untuk menyesap cangkir kopi. Sebelum akhirnya berdiri bersiap untuk pergi.


Beginilah rutinitasnya hampir setiap pagi. Termangu di teras seorang diri. Menunggu kedatangan Yu Adah yang akan membereskan rumah sekaligus memasak.


"Hari ini saya lembur, Yu," ucapnya sebelum masuk ke dalam mobil. "Nggak usah masak."


Yu Adah mengernyit sambil mengangkat keresek putih di tangan kanan, "Woo...lah piye ( jadi gimana). Saya sudah terlanjur belanja, Mas."


"Buat Yu Adah saja," jawabnya cepat sambil lalu.


Yu Adah masih mengernyit. Sebelum akhirnya berkata, "Saya ungkep saja ayamnya ya, Mas. Nanti disimpan di kulkas."


"Biar kalau Mas Tama mau makan tinggal nggoreng."


Ia hanya mengangkat alis. Lalu buru-buru masuk ke dalam mobil.


"Berangkat dulu, Yu," ucapnya sambil melambaikan tangan ke arah Yu Adah yang masih terbengong-bengong di samping carport.


Benar-benar lucu, batinnya antara geli campur miris. Kebanyakan pria akan berpamitan pada istri dan anaknya ketika hendak berangkat bekerja. Tapi ia justru melambaikan tangan pada pekerja rumah tangganya. Benar-benar antimainstream.


Ia masih menertawakan diri sendiri ketika ponsel yang tersimpan di samping kirinya bergetar tanda ada panggilan masuk.


Cakra Calling


Ia segera meraih airpods dan memakainya.


"Ya!"


"Apakabar, Mas?"


Suara Cakra jelas tak bisa menyembunyikan rasa gugup.


"Baik," jawabnya singkat. Meski langsung diralat dalam hati, honestly...very badly (sejujurnya... mengenaskan).


"Saya....," kini suara Cakra terdengar ragu-ragu. "Maksud saya...titipan motor dari Ma...."


"Pakai aja," jawabnya cepat. "STNK udah ada?"


"Tapi....," Cakra kembali terdiam. Namun sejurus kemudian kembali berkata, "STNKnya jadi sekitar dua minggu lagi, Mas."


"Ada surat jalannya?"


"Ada."


"Ok," ujarnya sambil memperhatikan keadaan lalu lintas yang tergolong ramai lancar.


"Ada lagi?" tanyanya seraya menghentikan laju kemudi sebab lampu lalu lintas menunjukkan warna merah.


Helaan napas panjang terdengar jelas dari seberang. Disusul suara Cakra yang mengatakan, "Saya pinjam motornya dulu, Mas. Terima kasih."


"Bukan pinjam," ralatnya sambil terus memperhatikan lampu lalu lintas.


"Motor itu buat kamu."


***


Cakra


Ia menatap layar ponsel yang telah mati sebab diputus terlebih dahulu oleh Mas Tama.


Sempat tertegun sebentar sebelum akhirnya buru-buru mengemasi berkas yang akan dibawa untuk melakukan registrasi.


"Sarapan dulu, Den," ucap Teh Juju begitu ia keluar dari dalam kamar.


"Makasih, Teh," ia tersenyum mengangguk. Lalu segera menyantap nasi goreng di atas meja yang masih mengepulkan asap panas.


"Mau bekel, Den?" tawar Teh Juju sambil memperlihatkan kotak bekal.


"Ada ayam goreng dan nasi putih."


Ia menggeleng, "Makasih, Teh. Nggak usah."


"Jangan sampai telat makan. Nanti bisa sakit."


Ia tersenyum, "Enggak, Teh. Ini baru mau daftar ulang. Belum kuliah."


"Dzuhur juga udah selesai," lanjutnya seraya meraih segelas air putih. Lalu meneguknya sampai licin tandas.


"Oh, muhun (baik)...mangga (silakan)," Teh Juju menganggukkan kepala berkali-kali.


Ia pun segera menyambar ransel yang berisi file holder berkas persyaratan untuk registrasi. Lalu berpamitan pada Teh Juju dan beranjak keluar.


"Nggak bawa motor, Den?" sapa Mang Ujang yang sedang menyirami tanaman dengan keheranan. Ketika ia keluar dari pintu garasi hanya berlenggang kangkung.


"Saya naik ojek dulu, Mang," jawabnya sambil mengecek aplikasi ojek online.


"Belum hapal jalan," lanjutnya seraya terkekeh.


"Aduh, kalau gitu biar diantar sama saya aja, Den," Mang Ujang buru-buru menghentikan kegiatannya menyiram tanaman.


Tapi ia menggeleng, "Makasih, Mang. Biar saya naik ojek aja."


Tak harus menunggu lama, ojek online yang dipesannya telah merapat di depan pintu gerbang rumah.


"Mas Cakra?" sapa pengemudi ojek online.


Ia mengangguk, "Iya."


Dan perjalanan pertama dari rumah menuju ke Sabupa ia lalui sambil memperhatikan kiri kanan. Berusaha merekam dan mengingat baik-baik rute jalan menuju ke kampus.


Ia turun di pintu gerbang Sabupa. Kemudian melanjutkan dengan berjalan kaki. Bersama puluhan orang berseragam SMA lainnya.


Mereka melewati deretan stand berpenampilan menarik. Yang dijaga oleh panitia kakak tingkat berjaket warna-warni. Mungkin sesuai dengan identitas masing-masing fakultas. Dimana di hari yang sepagi ini telah ramai dikerumuni oleh pengunjung.


Ia langsung mengantre untuk masuk ke dalam gedung. Tak terlalu padat. Sebab di jam delapan ini, hanya Sekolah Teknik Elektro dan Informatika saja yang dijadwalkan melakukan daftar ulang.


Di pintu masuk ia mendapatkan nomor antrean. Lalu diminta untuk menunggu giliran.


Ia mengambil duduk di tempat yang kosong. Sama sekali tak ada teman bicara. Sebab belum ada satupun orang yang dikenalnya.


Ia pun memilih untuk meraih ponsel. Lalu mengetik pesan chat pada Anja.


Cakra. : 'Selamat pagi, istriku.'


Ia tersenyum-senyum sendiri ketika mengetikkan huruf demi huruf. Tapi sejurus kemudian segera dihapusnya kalimat tersebut. Diganti dengan,


Cakra. : 'Udah bangun, Ja?'


Ia mengernyit sebentar. Lalu kembali menghapus chat yang kedua. Lebih memilih untuk mengetikkan,


Cakra. : 'Lagi apa, Ja?'


Cakra. : 'Miss you much (sangat merindukanmu).'


Namun ketika masih menunggu jawaban dari Anja, nomor antreannya telah dipanggil oleh petugas.


Ia pun segera menghampiri meja ke sepuluh dari sekian banyak meja yang tersedia untuk daftar ulang.


Kemudian menyerahkan semua berkas.


"Sudah lengkap," ucap petugas usai memeriksa seluruh berkasnya.


"Mau mengajukan beasiswa UKT (uang kuliah tunggal)?" tanya petugas ke arahnya.


"Iya, Pak."


"Nanti begitu menyelesaikan proses daftar ulang, langsung datang ke Badan Kemahasiswaan untuk memverifikasi sekaligus validasi berkas," ujar petugas sambil menunjuk ke deretan meja yang terdapat di sebelah kanan mereka.


"Baik, Pak."


Setelah urusan pengecekan berkas selesai. Ia diminta untuk melakukan pengisian data induk mahasiswa. Agar bisa masuk ke dalam Sistem Informasi Akademik Ganapati sekaligus mengaktivasi akun GNA (Ganapati Network Account). Satu-satunya akun yang bisa digunakan untuk mengakses seluruh layanan yang ada pada jaringan kampus Ganapati.


Lalu diambil pasfoto untuk KTM (Kartu Tanda Mahasiswa).


Dan terakhir, ia memperoleh selembar surat keterangan telah menyelesaikan proses registrasi administrasi. Untuk ditukarkan dengan Jamal (jaket almamater).


Sebelum antre mengambil KTM dan Jamal, ia memilih untuk mendatangi petugas di Badan Kemahasiswaan terlebih dahulu. Agar bisa segera mengurus beasiswa UKT.


Verifikasi berkas persyaratan beasiswa UKT juga berjalan lancar. Sebab ia memang telah mempersiapkan seluruh berkas persyaratan dengan cermat.


"Sudah lengkap semua," petugas menganggukkan kepala.


"Tinggal menunggu pengumuman tanggal 11 Agustus," lanjut petugas.


"Akan diinformasikan melalui email."


"Bisa dicek juga di laman website."


Setelah mengucapkan terimakasih, ia segera bergabung dengan antrean yang akan mengambil KTM.


Sementara Jamal diambil di stand Keluarga Mahasiswa yang berada di halaman gedung Sabupa.


Ia baru melangkah keluar dari ruangan auditorium. Ketika beberapa orang yang berdiri di sederet meja tak jauh dari pintu keluar, berseru secara hampir bersamaan.


"Maba FITB (fakultas ilmu dan teknologi kebumian) come here (kemari)!"


"FTSL (fakultas teknik sipil dan lingkungan)...FTSL."


"STEI (sekolah teknik elektro dan informatika) sebelah sini!"


Ia ingat, jika hari ini memang jadwal registrasi administrasi tiga fakultas tersebut.


Dan beberapa orang yang juga baru keluar dari auditorium terlihat langsung menghampiri meja bertuliskan STEI. Sementara meja FITB dan FTSL telah lebih dulu dikerumuni oleh yang lain.


"Tulis nama dan nomor telepon," ujar seorang yang berdiri di balik meja bertuliskan STEI.


"Termasuk Line, WA, sosmed," seloroh orang tersebut.


"Id Line aja cukup," ralat orang tersebut berubah serius. "Untuk di invite ke grup maba STEI."


Ia ikut mengantre untuk menuliskan data diri. Sementara orang dibalik meja dan yang telah selesai mencatatkan nama, kembali saling bercakap-cakap.


"Oya, kenalin, aku Adit," ujar orang di balik meja.


"Kalau gua Daniel," sambung orang yang berdiri di sebelah Adit.


"Kakak tingkat ya?" tanya dua cewek yang baru saja membubuhkan nomor Line di depan antreannya.


"Bukan," jawab Adit. "Kita berdua sama-sama maba kok."


"Kebetulan kita berdua alumni SNM (SNMPTN)," imbuh Daniel. "Jadi udah regis dan kenal duluan."


Adit, Daniel, dua cewek dan beberapa orang sekaligus masih asyik mengobrol ketika ia selesai menuliskan nama beserta nomor telepon. Berniat segera beranjak pulang. Sama sekali tak berminat untuk turut bergabung dalam perbincangan yang sepertinya seru itu.


Tapi urung karena ada yang berkata, "Kita rencana mau ada gathering habis Gladi Bersih."


Ia mendongak setelah meletakkan bolpoint ke atas meja.


"Ini sekalian oprec (open recruitment) panitia. Siapa tahu kamu berminat."


"Oya, kenalin, aku Adit," ujar orang tersebut seraya mengulurkan tangan.


"Cakra."


"Gatheringnya nanti gabung sama kakak tingkat," lanjut Adit menginformasikan.


"Ada semacam seminar gitu lah dari kakak tingkat yang udah lulus maupun yang masih studi di sini."


"Tujuannya biar kita tahu, apa yang akan kita hadapi setelah masuk ke STEI."


"Terus terang kita masih kekurangan panitia."


"Mungkin kamu berminat?"


Jujur, ia sama sekali tak berminat. Niatnya datang ke Bandung adalah untuk menuntut ilmu di bangku kuliah. Bukan untuk mengikuti kegiatan ekstra kampus atau aktif berorganisasi.


Tapi...tawaran Adit sepertinya menarik. Tak ada salahnya mencoba bukan?


"Waktu di SMA gua bukan anak organisatoris," ia tertawa sumbang.


"Nggak masalah," Adit ikut tertawa. "Kita di sini semua sama-sama belajar."


"Dan ini jelas akan menjadi kepanitiaan angkatan kita yang pertama," lanjut Adit terlihat begitu meyakinkan.


Setelah sempat berpikir sejenak, ia akhirnya memberi persetujuan, "Oke."


"Gua ikut."


Adit tersenyum senang, "Welcome to the club."