
Anja
Pertunjukan teater bintang pun akhirnya usai. Ditandai dengan matinya layar yang terletak di atas kepala. Disusul lampu-lampu yang menyala hingga ruang pertunjukan kembali terang benderang.
Namun Cakra bergeming. Tetap duduk seraya menggenggam erat tangannya. Sama sekali tak terlihat niatan untuk menyudahi. Membuatnya berusaha melepaskan diri karena para pengunjung di sekitar mereka telah berdiri dari kursi masing-masing dan mulai mengantre untuk beranjak keluar.
"Kita tunggu dulu," ujar Cakra yang kian mengeratkan genggaman. "Kalau sekarang masih desak-desakan."
Ia pun menurut. Karena memang ruang pertunjukan masih dipadati oleh antrean pengunjung yang hendak keluar.
Selama menunggu, Cakra hanya berdiam diri dengan punggung menyandar ke kursi. Begitu juga dirinya. Dengan tangan tetap saling menggenggam, seolah mereka tengah melakukan percakapan intens dengan tanpa mengatakan sepatah katapun. Ibarat teknik berkomunikasi tingkat tinggi yang hanya melalui sentuhan namun tetap memahami isi pikiran masing-masing.
Dan di tengah suasana hati yang penuh oleh luapan kebahagiaan, sesekali ia membasahi bibir yang terasa panas dan bengkak. Akibat dari perlakuan impulsif Cakra di pertengahan show tadi.
Dan demi mengingat hal tersebut, sontak membuat wajahnya memanas sekaligus memerah karena tersipu malu. Yang benar saja kissing di tengah pertunjukan teater bintang dengan background pemandangan indah alam semesta. Sungguh kenangan yang takkan pernah terlupakan.
"Yuk."
Lamunannya buyar ketika Cakra mendadak berdiri. Selayang pandang matanya mendapati ruang pertunjukan telah berangsur sepi. Hanya terdapat satu dua orang yang mungkin seperti mereka, sengaja memilih keluar ruangan di saat terakhir agar tak harus berdesakan dengan pengunjung yang lain.
"Nanti malam jadi kan?" tanya Cakra begitu mereka keluar dari ruang pertunjukan teater bintang. Dan mendapati begitu banyak pamflet berisi pengumuman tentang peneropongan umum gerhana bulan sebagian.
Ia hanya mengangkat bahu, "Kalau nggak cape."
"Kemarin semangat," seloroh Cakra. "Kenapa sekarang jadi loyo?"
Ia hanya mencibir, "Nggak tahu nih sampai sekarang kok badan jadi terasa makin pegal ya?"
Namun Cakra tak menanggapi, hanya mengu lum senyum sembari meraih selembar pamflet.
"Registrasinya mulai jam 8 malam," gumam Cakra sambil membaca isi pamflet.
"Masih banyak waktu. Siapa tahu kamu berubah pikiran. Jadi semangat lagi ke sini," sambung Cakra tersenyum menatapnya.
"Terus untuk pegal-pegal kamu," Cakra menghentikan kalimat sejenak. "Nanti sampai rumah langsung istirahat biar hilang pegalnya."
Namun ia hanya mengangkat bahu tak peduli. Terus berjalan sembari bergandengan tangan menuju pintu keluar. Menyusuri halaman parkir yang dipenuhi oleh kendaraan.
"Langsung pulang ke rumah?" tanya Cakra begitu melajukan kemudi keluar dari area parkir Planetarium.
Tapi ia menggelengkan kepala seraya menyebut tujuan selanjutnya, yaitu sebuah Mall yang terletak di bilangan Bundaran HI.
"Mau beli mainan?" selidik Cakra dengan nada tak setuju. "Mainan yang kamu bawa udah sebanyak itu. Lebih dari cukup."
"Nggak juga," jawabnya cepat. "Tujuan utama mau ke Grand Hyatt ambil kue pesanan Mama."
"Terus habis itu....," ia mengerling ke arah Cakra yang sedang konsentrasi dengan kondisi jalanan yang lumayan padat.
"Baru deh mampir beli mainan," lanjutnya sambil menahan tawa guna menggoda Cakra.
Namun Cakra tak menanggapi keisengannya, justru mengerutkan kening lalu bertanya heran, "Mama kamu pesan kue?"
"Iyap."
"Buat siapa?" tanya Cakra lagi masih dengan nada keheranan.
"Buat ke rumah kamu."
Cakra makin mengernyit.
"Waktu Mama telepon kamu malam-malam tuh...Mama bilang mau kirim bingkisan buat Mamak," ia pun memberi jawaban yang lebih panjang. "Cuma belum tahu kapan."
"Terus tadi pagi waktu Mama video call ngucapin selamat ulang tahun, Mama bilang kalau dua hari lalu udah pesanin kue buat Mamak."
"Tadinya mau dikirim pakai Ojek online."
"Cuma aku bilang ke Mama, kalau siang ini kita ada rencana mau ke rumah kamu."
"Jadi ya sekalian aja diambil sendiri."
"Nggak perlu pakai Ojek online."
"Mumpung mereka lagi ngadain pameran di Grand Hyatt. Jadi kita nggak harus jauh-jauh ke MKG (Mall Kelapa Gading)."
***
Cakra
Arus lalu lintas yang lumayan padat membuat laju kendaraan mereka cukup tersendat. Hingga jarak sejauh 2 km lebih yang harus ditempuh, baru bisa dicapai dalam kurun waktu hampir satu jam.
"Mmm...," Anja tersenyum menatapnya. "Kita keliling dulu ya. Ambil kuenya pas mau pulang."
"Tadi katanya pegal-pegal?" ia tertawa tak mengerti. "Begitu sampai Mall jadi semangat 45."
"Bawel ah!" Anja balas mencibir.
Dan dari tempat parkir mereka langsung menuju ke lantai 3, dimana terdapat beberapa gerai mainan anak terkemuka.
"Tuh kan, lagi ada diskon sampai 70%," seru Anja kegirangan begitu mereka memasuki gerai pertama.
"Aku tuh udah lama banget lagi nggak kesini," imbuh Anja yang langsung menghambur ke etalase yang terletak paling dekat dengan pintu masuk bertuliskan Cmiggle di atasnya.
"Lucu kan?" Anja mendekatkan sebuah kotak pensil berwarna pink dengan desain mencolok ke arahnya.
"Dipakai Sasa pasti lucu nih," gumam Anja yang kembali mendekatkan sebuah kotak pensil berwarna bling bling ke arahnya. "Lucu banget kan?"
Namun ia tak berkomentar apapun. Hanya berjalan mengekori Anja yang kini tengah nyalang menelusuri seluruh isi etalase.
"Ya ampuuun, ini yang terbaru," pekik Anja antusias seraya mengambil sebuah botol minum -lagi-lagi berwarna pink bling-bling- lalu mendekatkan ke arahnya.
Dan lima belas menit kemudian entah sudah berapa kali Anja memekik girang di setiap etalase mainan yang mereka singgahi.
"Ya ampuun, lucu bangeeet."
"Ih, keren tahu nggak?"
"Yang ini bagus kan?"
"Wah, ini keluaran terbaru lucuuu...."
Anja mendadak berubah menjadi lapar mata meski belum sampai taraf shopaholic. Karena belum ada satupun barang yang di pilih untuk di beli. Hanya dilihat, dipuji, dipegang, selanjutnya ditinggalkan begitu saja.
"Diskon 70% aja harganya masih segini," gumamnya tak habis pikir ketika melihat label harga dimana tertera jumlah rupiah sebanyak tiga kali lipat dari pendapatan hariannya di tempat Bang Fahri.
"Mending beli di pasar Gembrong, Ja," lanjutnya yang kembali terkejut ketika memeriksa label harga dari jenis barang yang berbeda. Namun sama-sama berharga selangit.
"Sama-sama mainan. Murah lagi."
"Toh nanti juga lama-lama bakalan usang dimakan waktu trus jadi sam...."
"Eh!" Anja memukul lengannya sambil melotot.
"Pah....," ia menuntaskan kalimat yang terpotong barusan sekaligus mengaduh.
"Berisik amat sih!" salak Anja dengan wajah kesal. "Jangan rusak mood shopping aku!"
"Aku juga bakalan bayar sendiri! Nggak minta ke kamu!"
Ia pun terdiam. Kembali mengikuti kemana pun langkah Anja menuju. Namun setelah beberapa menit terdiam, ia tak lagi tahan untuk terus berdiam diri. Kembali berkomentar ketika Anja tengah berdiri termangu di depan sederet lego.
"Mainan yang kamu bawa di mobil itu udah banyak banget, Ja."
"Sasa, Umay, bahkan Icad, pasti seneng banget dapat mainan sebanyak itu. Masih bagus-bagus pula."
"Nggak perlu beli yang baru."
Namun Anja telah lebih dulu memilih.
"Buat Icad," seraya menunjukkan satu box water color pencils yang jika dibuka ternyata bertingkat tiga.
"Umay," kali ini Anja menunjukkan sekotak Lego Star Wars.
"Sama Sasa," Anja tersenyum lebar sambil menyorongkan boneka Barbie ke depan wajahnya.
Dari Mall mereka langsung menuju ke Grand Cafe yang hanya berjarak sepelemparan batu. Tanpa ragu sedikitpun Anja melangkah membelah ruangan Cafe yang lumayan ramai dipadati pengunjung.
Ketika ia hendak bertanya apakah Anja tak salah tempat, matanya sekilas membaca tulisan yang tertera di backdrop dan beberapa hiasan gantung yang memenuhi ruangan Cafe berbunyi Jakarta Dessert Week. Tepat disaat seseorang berjas hitam menyambut Anja.
"Anja?" sapa orang tersebut ramah. "Ditungguin dari tadi."
"Macet, Om Piet."
Orang berjas hitam yang dipanggil Om Piet itu terkekeh, "Nggak apa-apa. Ditungguin kok."
"Oya, apakabar Papa? Katanya masih di Singapura?"
"Iya, masih pemulihan, Om. Doakan ya."
"Pasti didoakan cepat sembuh."
"Makasih, Om."
"Wah, datang sama siapa nih?" kali ini Om Piet mengerling ke arahnya.
"Biasa berdua Dipa. Sekarang udah ganti yang baru nih?" seloroh Om Piet yang memberi tatapan menggoda pada Anja.
Membuat Anja mencibir sambil menarik lengannya, "Kenalin nih, Cakra."
"Cakra, ini Om Piet. Om Piet, ini Cakra."
Ia pun berjabat tangan dengan orang yang bernama Om Piet itu.
Kemudian Om Piet mengangsurkan dua box berwarna putih yang cukup besar serta sebuah paper bag warna cokelat. Membuatnya berinisiatif untuk segera menyambut barang-barang tersebut.
"Makasih, Om," Anja berterimakasih. "Udah beres sama Mama kan, Om?"
Om Piet menganggukkan kepala, "Beres semuanya."
"Oya, di dalam ada titipan dari Ci Sissy," lanjut Om Piet seraya menunjuk paper bag warna cokelat yang tengah dipegangnya.
"Wah, apaan Om?" mata Anja membulat gembira.
"Wah, makasih banyak, Om," kedua bola mata Anja kian membulat sebagai tanda antusias.
"Semoga suka ya. Ditunggu orderannya," seloroh Om Piet.
"Iya...iya....," Anja tertawa senang. "Salam buat Ci Sissy sama anak-anak ya Om. Lama ih nggak ketemu."
"Iya, nanti disampaikan," Om Piet mengangguk. "Kalau Tama sama Sada lagi di rumah, suruh mampir lah."
"Mereka berdua sibuk terus, Om," jawab Anja seraya mencibir. "Jarang pulang ke rumah."
Setelah berbasa-basi sebentar, Anja pun pamit pergi. Sekilas dari kertas print out yang dipegang Anja, matanya sempat menangkap tulisan Lapis legit Harlie. Dengan jumlah rupiah yang menyamai gaji bulanannya ketika ia masuk selama 31 hari berturut-turut di Retrouvailles.
"Mama beli kue semahal itu," ia tak lagi dapat menahan diri untuk tak mengatakan hal ini kepada Anja ketika mulai melajukan kemudi keluar dari tempat parkir.
"Salah satu kue favorit Mama kalau ngasih bingkisan ke orang," jawab Anja sambil lalu.
"Kalau nggak Harlie ya Kopaka."
"Aku paling suka yang Almond. Enak, lembut, nggak berminyak."
Ia hanya menghela napas. Nominal pembelian kue lapis legit pemberian Mama Anja jelas sebanding dengan biaya hidup seluruh keluarganya selama dua minggu penuh.
"Semoga Mamak suka ya," Anja tersenyum menatapnya. Tertangkap pengharapan yang besar di sana.
"Kebetulan banget Om Piet lagi ada event di Grand Hyatt, jadi kita nggak harus jauh-jauh ambil ke Kelapa Gading atau pakai Ojek Online," lanjut Anja masih dengan mata berbinar.
Membuatnya menganggukkan kepala, "Suka...," gumamnya pelan. "Mamak pasti suka kue dari Mama kamu."
Perjalanan dari Grand Hyatt menuju ke rumahnya di sore hari benar-benar padat merayap. Hingga jarak sejauh hampir 11 km harus mereka tempuh selama dua jam lebih.
Anja bahkan telah terlelap sejak mereka masih terjebak kemacetan di daerah Cideng Barat. Dan masih saja nyenyak ketika ia selesai memarkir kendaraan di pekarangan kosong milik H. Murod yang memang sengaja disewakan pada pemilik kendaraan di RW tempat tinggalnya yang tak mempunyai lahan parkir.
Dengan tak mematikan mesin dan AC ia pun keluar untuk menemui Ucup, anak H. Murod yang mengelola lahan parkir dadakan ini.
"Eh, Gam!" sapa Ucup yang berusia sekitar dua tahun di atasnya, namun sudah menikah dan memiliki anak. Ah ya, ia juga kini telah menikah dan hampir memiliki anak. Sama berarti, batinnya sambil mengusap tengkuk dengan perasaan aneh.
"Kirain siapa!" Ucup tertawa menyambutnya. "Apa kabar lu! Nggak pernah ngumpul sama anak-anak!"
Ia meringis tanpa bermaksud menjawab pertanyaan Ucup, "Makin sehat aja lu, Cup!" selorohnya sembari menepuk bahu Ucup.
"Ya, gua sih gini-gini aje," Ucup tertawa menjawab selorohannya.
"Keren," tunjuk Ucup ke arah mobil Anja. "Keluaran terbaru tuh."
Ia kembali meringis sembari bergumam pelan, "Punya mertua."
"Sumpah lu?!" Ucup melotot kaget. "Kapan kawin?!?"
"Si Salma dikemanain?!?"
Namun sebelum Ucup bertanya lebih lanjut, ia pun buru-buru menyampaikan maksud dan tujuan, "Masih ada tempat lowong nggak nih? Gua titip semalam sampai besok."
"Beres! Ada...ada...."
"Segini?" ia mengeluarkan lembaran biru.
"Ah elah, gampang, besok aja! Kayak sama siapa aja lu!" Ucup menolak uang pemberiannya. Tapi ia buru-buru memasukkan lembaran biru tersebut ke saku kemeja yang dikenakan Ucup.
"Kurangnya besok," ujarnya berniat kembali ke mobil.
"Gaya sekarang lu, Gam!" Ucup terkekeh.
Namun ia hanya melambaikan tangan dan berbalik pergi, "Tengkiu, Cup."
"Yo, sama sama!" Ucup masih terkekeh.
***
Anja
Ia tersenyum senang memandangi Icad, Umay, dan Sasa yang kegirangan mendapat mainan baru. Terutama Icad, yang langsung mengucapkan terima kasih padanya dengan santun.
"Makasih banyak, Kak. Aku bakal tambah semangat ngegambarnya."
Sasa bahkan memeluknya erat-erat, "Makasih banyak, Kak Anja. Aku sayaaaang sama Kak Anja."
"Jangan makasih sama Kakak," jawabnya seraya mengusap kepala Sasa.
"Makasihnya sama Kakak yang satu lagi dong," ujarnya seraya menunjuk Cakra yang tengah sibuk memasukkan box berisi mainan ke dalam rumah.
"Kan yang beliin mainan kakak itu bukan kakak yang ini," lanjutnya yakin.
Meski Icad, Umay, dan Sasa memandangnya tak percaya, mereka bertiga tetap menghambur ke arah Cakra yang masih disibukkan dengan box berisi mainan.
"Makasih Yah Bit," koor mereka bertiga serempak ke arah Cakra yang hanya terbengong-bengong tak mengerti.
"Makasih apaan?!?" tanya Cakra heran. Namun ia pura-pura tak mendengarnya.
Tak lama berselang, ketika ia tengah asyik bermain rumah-rumahan Barbie dengan Sasa, Kak Pocut dan Mamak pulang dari keude.
Ia pun langsung bangkit untuk menyalami Mamak. Namun Mamak keburu memeluknya erat.
"Apakabar, nak? Sehat?" tanya Mamak dengan wajah berbinar.
"Masih nggak doyan makan? Kok jadi tambah kurus begini?"
"Sekarang Mamak buatkan makanan ya."
"Lagi hamil harus banyak makan, biar nggak kurus begini."
"Memang dia perawakannya begitu, Mak," ujar Cakra menengahi. "Bukan karena nggak doyan makan."
Namun Mamak bersikeras, "Mau dimasakin apa sama Mamak, nak?"
"Ayam tangkap? Apa manok masak puteh?"
"Nanti malam tidur di sini kan?"
Kak Pocut juga memeluknya sampai hampir menangis. Karena ini kali pertama mereka bertemu setelah ia resmi menikah dengan Cakra.
"Kalau Agam bertingkah, bilang ke Kakak," bisik Kak Pocut dengan suara bergetar yang membuatnya tersenyum malu.
Dan demi melihat Mamak juga Kak Pocut hanya sempat beristirahat sebentar untuk kemudian mulai sibuk memasak di dapur. Ia pun ikut beranjak mendekat. Meski semua orang melarang dan menyuruhnya tetap duduk bermain bersama Sasa.
"Biar aku aja, Kak," ujarnya ketika Kak Pocut mulai mengupas bawang merah dan bawang putih.
"Nanti nangis lagi," seloroh Cakra yang ikut duduk di lantai dapur tepat di belakangnya.
Tapi ia hanya mencibir tak menghiraukan selorohan Cakra. Dan benar saja, bawang merah keempat sudah berhasil membuat matanya berair.
"Dibilang juga apa," gerutu Cakra seraya menyusut matanya dengan tissue.
Namun ia tak jera. Ketika melihat Mamak mulai mengulek bumbu, ia pun tertarik untuk mencoba.
"Memangnya bisa?" tanya Mamak sambil menggelengkan kepala.
"Ngulek doang bisa Mak," jawabnya sok tahu.
Tapi pada kenyataannya jauh panggang dari api. Sudah lewat lima menit ia mencoba mengulek, yang ada justru bawang merah, bawang putih, dan bumbu dapur lain yang ada di dalam cobek berloncatan keluar satu per satu. Membuat waktunya habis hanya untuk memunguti kembali.
"Bukan begitu," Cakra terkekeh melihat caranya mengulek.
"Pakai engkel nih," Cakra meraih tangannya untuk memberi contoh.
"Kekuatan ada di pergelangan tangan. Bukan lengan," Cakra mengulek dengan masih menumpuk tangan mereka berdua. Membuat sekujur tubuhnya seperti tersengat aliran listrik karena sentuhan hangat yang berasal dari telapak tangan Cakra ke punggung tangannya.
"Kalau kaku begini pakai lengan, kapan selesainya?" seloroh Cakra seraya menoleh ke arahnya tepat ketika ia juga sedang memperhatikan wajah Cakra.
Selama sepersekian detik dunia seakan berhenti berputar. Suara kompor dan air mendidih, suara pisau beradu dengan talenan, juga suara keributan di ruang tamu antara Umay dan Sasa tiba-tiba menghilang hingga kini hanya ada mereka berdua di tengah padang rumput yang begitu luas seperti dalam kisah Little house on the prairie. Lengkap dengan desau angin sepoi-sepoi yang membuat suasana kian mendayu.
Namun ketika wajah mereka hanya tinggal berjarak beberapa inci untuk saling menyentuh, sebuah suara batuk yang cukup keras mengagetkan mereka berdua.
"Agam!" kali ini lengkap dengan suara menggelegar Kak Pocut.
Membuat mereka berdua buru-buru memisahkan diri dengan tergesa. Kini wajahnya pasti sudah merah padam saking malunya. Tapi Cakra malah tertawa cengengesan, sama sekali tak terlihat malu.
"Tolong isi ember dengan air," perintah Kak Pocut kemudian. Membuat Cakra segera bangkit namun sambil tersenyum penuh arti ke arahnya. Ish!
Akhirnya begitu semua matang, mereka pun makan malam dengan menu yang kini telah menjadi favoritnya, manok (ayam) masak puteh buatan Mamak yang kelezatannya tiada tandingan. Ia bahkan sampai menambah nasi sebanyak dua kali.
"Nggak jadi pergi nih?" tanya Cakra usai mereka berdua selesai mencuci piring dan peralatan bekas makan seraya menunjukkan pergelangan tangan kanan, jam 19.11 WIB.
"Kalau mau masih keburu," Cakra tersenyum lembut menatapnya.
Namun ia menggelengkan kepala, "Nggak ah, di sini aja. Mager."
Setelah itu Cakra pamit pergi ke langgar untuk menunaikan sholat Isya. Sementara ia sholat di rumah bersama Mamak dan Kak Pocut.
Usai sholat Mamak memeluknya lumayan lama ketika ia mengulurkan tangan hendak salam. Mamak bahkan perlahan mulai mengusap punggungnya lembut.
"Anjani yang sabar menghadapi Agam ya."
Ia tersenyum mengangguk.
"Agam masih seperti anak kecil, keras kepala, adatnya juga keras."
Ia kembali menganggukkan kepala.
"Anjani juga yang sabar menghadapi kehamilan."
Kali ini matanya mulai memanas.
"Kalau rasa mulai nggak enak, pegal, cape," Mamak melepas pelukan untuk kemudian menggenggam tangannya.
"Banyak-banyak berdoa dan beristighfar."
Ia terpaksa menundukkan kepala karena tak ingin Mamak melihat matanya telah berkaca-kaca.
"Mamak doakan ibu dan bayi semuanya sehat, lancar, dimudahkan," gumam Mamak dengan suara bergetar seraya mengusap perutnya.