
Anja
Ia masih memijiti pinggang sendiri yang dijalari rasa panas ketika Mamak muncul di depan pintu.
"Mamak kesini?" tanyanya heran.
Mamak tersenyum sembari meletakkan tote bag warna hijau andalan di bagian kaki tempat tidur. Tas bertuliskan reduce, reuse, recycle yang beberapa kali pernah dibawa oleh Cakra ketika menjenguknya dulu.
"Anjani belum makan?" Mamak memperhatikan isi nampan yang tersimpan di atas meja masih utuh.
"Nggak lapar, Mak," ia menggelengkan kepala sebagai tanda tak berminat.
"Hari ini belum makan nasi kan?"
"Udah makan surabi, Mak."
"Kalau begitu sekarang makan nasi ya," bujuk Mamak sambil tersenyum.
"Sedikit saja tak apa," Mamak mulai membuka tisu makan yang membungkus sendok dan garpu.
"Biar perut ada isinya."
"Tak kosong."
Ia mengangguk lemah. Sedari tadi sebenarnya lumayan lapar. Apalagi usai menahan rasa mulas dan pegal yang tiba-tiba muncul. Tenaga seolah habis tak bersisa.
Tapi ia sama sekali tak memiliki napsu makan. Inginnya segera meminum obat yang bisa menghilangkan rasa mulas dan panas di pinggang. Adakah?
"Pakai sop dan ayam ya," kini Mamak telah menyendokkan kuah sop ke dalam piring. Lalu memotong-motong ayam goreng.
Lagi-lagi ia mengangguk lemah. Dan menurut saja ketika Mamak mulai menyuapinya.
Satu suap. Dua suap.
Ternyata ia memang benar-benar lapar. Karena tanpa terasa, nasi di dalam piring bahkan telah habis tak bersisa.
"Sopnya masih. Mau dihabiskan?" tawar Mamak.
Kali ini ia menggelengkan kepala, "Kenyang."
Mamak menyimpan piring kosong ke atas nampan. Kemudian mengangsurkan segelas air putih dengan sedotan untuk diminumnya.
"Makasih, Mak," ia tersenyum karena merasa lebih bertenaga.
Mamak balas tersenyum. Kemudian beranjak untuk mengambil kursi lipat yang tersimpan di sudut ruangan. Meletakkan di samping tempat tidur. Lalu mendudukinya.
"Kenapa aku nggak disuruh pulang, Mak?" tanyanya tak mengerti. "Malah disuruh tunggu di sini."
"Padahal di sini juga nggak dikasih obat sama sekali."
Mamak tersenyum seraya meraih tangannya dan menggenggam erat. "Anjani ingat cerita Mamak tadi pagi?"
Ia mengernyit tak mengerti, "Cerita yang mana, Mak? Tadi pagi ceritanya panjang."
"Cerita waktu Mamak melahirkan Agam."
Ia mengangguk.
"Cerita tentang ibu sebagai sabdo pandito ratu."
Lagi-lagi ia mengangguk.
Mamak menghela napas panjang sebelum akhirnya berkata, "Mamak bangga dengan Anjani."
"Setelah menikah dengan Agam, Anjani bisa beradaptasi dengan keluarga kami yang sangat sederhana."
"Kehidupan yang jauh berbeda dengan yang biasa Anjani jalani selama ini."
Kini ia kembali mengernyit. Tak bisa memahami maksud dari kalimat yang diucapkan oleh Mamak.
Kemudian Mamak mengusap tangannya lembut. "Terimakasih nak, sudah menerima Agam apa adanya."
Ia menatap wajah Mamak yang berubah mendung dan berkaca-kaca. Membuat pikirannya mendadak dipenuhi oleh hal-hal mengerikan. Yang bahkan selama ini tak pernah terpikirkan olehnya.
***
Cakra
Setelah berbincang dengan Bidan Karunia, ia segera menghubungi nomor ponsel Teh Dara.
"Ada mobil ambulance ready dan drivernya, Teh."
"Kondisi darurat langsung dirujuk ke Rumah Sakit....," ia menyebut nama Rumah Sakit milik pemerintah yang berada tak jauh dari wilayah mereka.
"Jaraknya sekitar 5 Km. Bisa ditempuh maksimal 30 menit."
"Bagus," suara Teh Dara terdengar lega.
"Fasilitas di bidan lengkap? Ada alat resusitasi, inkubator dan lain-lain?"
"Ada, Teh."
Tadi sekilas Bidan Karunia sempat menerangkan peralatan apa saja yang dimiliki sekaligus fungsinya.
"Bagus," kali ini suara Teh Dara terdengar semakin lega.
"Cakra, tadi aku udah ngobrol sama Mas."
"Kalau memang fasilitas di bidan lengkap dan rute darurat ke Rumah Sakit aman."
"Anja biar melahirkan di bidan saja, Cak."
"Lebih safety. Daripada kalian harus pindah ke Rumah Sakit di saat bukaan enam hampir tujuh seperti sekarang."
"Atau malah udah nambah jadi bukaan delapan?"
"Sekarang tinggal kamu. Bisa handle Anja nggak?"
"Karena dari kemarin kalau kita teleponan, Anja bilangnya nggak mau sakit dan pilih Caesar terus."
"Tolong titip Anja ya, Cak."
"Gimana baiknya menurut kamu cara ngasih tahu Anja tentang ini."
"Karena kamu yang lebih paham."
"Yang penting ibu dan bayi sama-sama sehat selamat."
"Aku sama Mas nanti pulang ke Jakarta naik pesawat yang jam tiga."
"Oke, Cakra."
"Baik-baik kalian di sana ya."
"Oya, sebentar lagi Mama mau nelepon Anja katanya."
"Tapi tunggu, sekarang Mama masih ngobrol sama dokter yang menangani Papa."
"Nanti aku telepon lagi."
"Baik, Teh," ia menutup sambungan telepon dengan perasaan berkecamuk tak karuan.
Bagaimana cara memberitahu Anja jika sebentar lagi akan melahirkan?
Di bidan. Dan secara normal.
Saat ini juga ia merasa seseorang telah mendorong tubuhnya hingga ke bibir jurang. Tanpa jembatan penghubung dengan dataran terdekat. Sekaligus telah ditunggu oleh puluhan mulut binatang buas yang menganga lebar di dasar jurang. Menantikan kejatuhannya. Scary things ever.
Dengan langkah gontai ia berjalan menuju ruang perawatan. Meskipun ia sama sekali belum tahu, akan mengatakan apa pada Anja. Namun kakinya telah lebih dulu memasuki ruangan. Dimana Anja tengah berpelukan dengan Mamak.
"Ja?" panggilnya cemas.
Sontak membuat Anja melepas pelukan. Lalu dengan wajah penuh air mata bergumam lirih, "Aku mau nelepon Mama."
Ia pun mengangguk. Dengan tangan gemetaran segera dirogohnya saku untuk mengambil ponsel.
Tak dinyana bertepatan dengan sebuah telepon masuk. Dimana caller id menunjukkan nama Teh Dara.
"Iya, Teh?" ia terlebih dahulu menerima sambungan telepon.
"Anja mana? Mama mau bicara."
Ia pun segera mengulurkan ponsel ke arah Anja, "Ini Mama."
***
Anja
Ia segera menyusut hidung dan airmata yang membasahi pipinya. Lalu dengan tangan gemetar menerima uluran ponsel dari tangan Cakra.
"Halo, Ma?" suaranya mendadak tersendat.
Dan sebelum Mama menjawab, airmatanya telah menganak sungai.
***
Mama Anja
Selama mendampingi Papa dirawat di Rumah Sakit, dokter yang menangani rutin menjadwalkan pemeriksaan laboratorium. Seperti fungsi agregasit trombosit, fibrinogen, profil lemak serta MRA.
Dan dari hasil tes lab terakhir menunjukkan jika pembuluh darah Papa sudah bebas dari sumbatan. Fisioterapi serta terapi wicara yang dijalani Papa juga telah menunjukkan hasil yang cukup signifikan.
Saat ini Papa sudah bisa beraktivitas dengan normal. Meski pergerakannya harus secara perlahan. Papa juga sudah bisa berbicara dengan cukup jelas. Meski untuk menjalin pembicaraan masih ada sedikit jeda. Tak langsung merespon seperti pada umumnya.
Hingga akhirnya dokter memberi acc untuk melanjutkan perawatan Papa di rumah. Dengan tetap rutin mengikuti fisioterapi sekaligus terapi wicara.
Sungguh kabar yang sangat membahagiakan. Setelah 4 bulan lebih perjuangan menuju kesembuhan Papa, akhirnya mereka akan berkumpul lagi menjadi keluarga utuh.
Bersama Anjanya tersayang. Putri kecilnya yang paling ayu. Yang sebelum ia bertolak ke Singapura justru mendapat masalah besar hingga harus menikah muda.
"Perkiraan dokter pertengahan Juli, Ma," begitu informasi dari Tama ketika mengunjunginya di Singapura.
"Kalau begitu tolong kamu komunikasikan sama dokter. Bisa diusahakan nggak kalau Papa pulang ke Jakarta awal Juli."
"Mama ingin mendampingi Anja waktu lahiran."
Semua telah dirancang dengan skenario terbaik. Tiket telah disiapkan. Ia bahkan telah menimbun banyak perlengkapan bayi, pernik lucu dan bermacam mainan yang environmental friendly sekaligus terbuat dari bahan organik yang aman untuk bayi.
Hasil dari melepas kejenuhan dengan mengelilingi pusat perbelanjaan. Bersama Dara jika menantunya itu sedang berkunjung kemari.
Tapi manusia hanyalah perencana ulung. Sementara hasil sudah ditetapkan oleh pemilik alam semesta.
Jadi, ketika tiba-tiba Dara mendekat hanya untuk memegang tangannya dengan wajah pias. Berbisik lirih jika Anja sudah bukaan enam.
Maka yang bisa dilakukan hanyalah berdoa.
Memampukan Anja menghadapi rasa sakit antara hidup dan mati.
Mengikhlaskan hati Anja karena semua tak berjalan sesuai rencana.
Juga menyelamatkan Anja dan bayinya dalam keadaan terbaik sekaligus sehat wal'afiat.
Tapi ia tentu ingin berbicara langsung dengan Anjanya tersayang. Ingin membisikkan langsung doa terindah pada anak bungsunya itu. Agar Anja bisa melewati semua ini dengan baik.
"Halo, Ma?"
Suara Anja tersendat. Dan sebelum ia sempat menjawab, tangis Anja telah pecah lebih dulu.
"Maafin Anja, Ma."
"Maafin Anja."
Isak Anja berulangkali. Membuat air matanya ikut luruh tak terbendung.
"Maafin Anja selama ini sering mengecewakan Mama."
"Anja sayang sama Mama."
"Tolong maafin Anja, Ma."
"Anja takut."
***
Mamak Cakra
Ia mengusap-usap punggung menantunya yang sedang berlinang air mata melakukan video call dengan sang Mama.
Semula hanya sambungan telepon biasa. Namun karena Anjani tak bisa menjawab apapun. Hanya menangis dan terus menangis. Membuat sang Mama berinisiatif untuk mengubah sambungan telepon menjadi video call.
"Mama sayang sama Anja."
"Sayang sekali."
Begitu suara bergetar campur isak tangis tertahan dari dalam layar ponsel yang dipegangi oleh Agam. Sementara Anjani masih terus berderai airmata. Dan ia sebisa mungkin membantu menenangkan dengan terus mengusap punggung menantunya itu.
"Mama yang minta maaf sayang, nggak bisa menemani Anja di sana."
"Anja kuat ya sayang."
"Mama yakin Anja bisa."
"Anja adalah anak Mama yang paling kuat."
"Mama yakin Anja mampu."
Ia masih terus mengusap punggung yang berguncang keras akibat isak tangis itu. Sementara Agam memilih membuang pandangan ke arah lain dengan mata memerah. Pastinya tak sanggup melihat istri yang begitu dikasihi terlihat sangat menyesal dan ketakutan.
Namun di sisi lain ia tahu, jika anak bungsunya itu kini sedang mengambil pelajaran paling berharga tentang jalan kehidupan yang dipilihnya sendiri. Secara sadar meniti jalan yang keliru.
Dan inilah satu dari banyak puncak konflik akibat perbuatan penuh lumpur dosa yang sengaja dipilih. Tentunya jauh dari kata menyenangkan. Yang ada hanyalah penyesalan, kesakitan, ketakutan, dan ketakberdayaan.
"Mama doakan semoga semuanya lancar."
Begitu suara yang terdengar dari layar ponsel.
"Anja sehat. Bayinya sehat. Tak kurang suatu apa."
***
Cakra
Tangannya kembali gemetaran ketika memasukkan ponsel ke dalam saku. Sementara Anja masih terus terisak dengan Mamak yang mengusap-usap punggung Anja.
"Anjani harus simpan tenaga," bisik Mamak namun masih bisa ia dengar.
"Setelah ini mau makan atau minum apa? Biar Agam yang cari," lanjut Mamak lembut.
Sementara dari kejauhan sayup-sayup terdengar suara adzan Dzuhur berkumandang.
"Anjani mau makan sama ayam tangkap? Nanti biar Pocut bawakan kemari," sambung Mamak sembari terus mengelus punggung Anja.
Tapi Anja menggelengkan kepala tanda tak ingin makan apapun.
Membuatnya segera meraih tissue untuk menyusut airmata di pipi Anja. Ia bahkan harus mengambil tiga lembar tissue sekaligus saking derasnya airmata yang mengalir di pipi Anja.
Suasana mendadak hening. Hanya terdengar sisa sedu sedan Anja dengan napas memburu. Namun sejurus kemudian Mamak bersuara,
"Anjani, Mak mau sholat Dzuhur sebentar," ujar Mamak seraya mengeratkan genggaman di tangan Anja.
"Biar mendoakannya lebih afdhol."
"Nanti Mamak kemari lagi."
Anja mengangguk lemah.
"Nanti bilang sama Agam. Anjani mau makan apa. Biar dicarikan," lanjut Mamak sebelum pergi meninggalkan ruangan.
"Kamu mau makan apa?" tanyanya sambil menyusut hidung Anja dengan tissue.
Tapi diluar dugaan. Anja justru memukul dadanya.
"Kamu jahat!" salak Anja marah.
"Kenapa nggak bilang dari tadi kalau aku udah mau melahirkan?!?"
Ia hanya bisa meringis. Tak tahu harus menjawab apa.
"Kenapa mesti sembunyi-sembunyi di belakangku?!?" salak Anja lagi kali ini sambil memukuli dadanya berkali-kali.
Well, kalau sudah memukul-mukul dadanya begini, berarti Anja telah kembali ke setelan awal. Sudah bisa ia raih tanpa khawatir timbul kesalahpahaman.
"Maafin aku," bisiknya sambil merengkuh Anja yang masih memukuli dadanya. Lalu mencium kening sehalus sutera itu dalam dan lama.
Kini Anja tak lagi memukuli dadanya. Karena telah kembali terisak dalam rengkuhannya.
"Aku nggak mau kamu takut," bisiknya dengan bibir masih menempel di kening Anja.
"Aku tadi.....belum nemuin kalimat yang pas buat ngasih tahu kamu."
Isak di dadanya semakin keras terdengar.
"Maafin aku," ulangnya sungguh-sungguh. "Cuma bisa bawa kamu bersalin di tempat bidan. Bukan di rumah sakit impian."
"Aku tahu kamu kuat."
"Aku tahu kamu bisa."
"Aku tahu....kalau kamu bakalan jadi Mama yang terhebat."
"Nanti akan aku ceritakan ke anak kita. Gimana perjuangan kamu waktu melahirkan dia."
"Dia pasti bangga bisa lahir dari Mama seperti kamu, Ja."
Entah kekuatan darimana yang membuatnya bisa mengucapkan kalimat sepanjang itu. Karena kini bahkan matanya mulai basah.
Ia tak lagi mengatakan apapun. Karena memang tak bisa lagi berkata.
Dengan lembut diusapnya tengkuk Anja. Mencoba mentransfer sisa kekuatan yang dimiliki. Membuat Anja makin menenggelamkan wajah dalam-dalam.
"Wah, maaf mengganggu ya, Gam.....," seloroh Bidan Karunia yang tiba-tiba muncul di depan pintu. Dengan kedua tangan telah mengenakan sarung tangan steril. Diikuti oleh Ceu Mar di belakangnya.
"Sekarang waktunya PD (periksa dalam)...."
Ia pun tersenyum mengangguk. Kemudian segera menyusut mata dan hidung Anja dengan tissue.
"Boleh berbaring," Ceu Mar mulai memberi instruksi. "Pelan aja nggak apa-apa."
Ia pun membantu Anja untuk berbaring.
"Seperti tadi ya," ujar Bidan Karunia sembari bersiap.
"Kaki dilipat....dan membuka...."
"Cakep....," Bidan Karunia tersenyum senang karena Anja melakukan instruksi dengan baik.
"Rileks....tenang....tahan napas.....," ujar Bidan Karunia sembari menyeka Anja dengan kain kassa.
"Lemes aja....lemes....jangan kaku.....," imbuh Bidan Karunia yang telah siap.
"Hhhh!"
Ia sempat mendengar Anja terkesiap. Namun sejurus kemudian Bidan Karunia kembali bersuara dengan nada riang.
"Sudah bukaan 8."
"Bagus."
"Wah, ini dede bayinya pasti udah nggak sabar nih mau ketemu sama Papa Mamanya yang cakep-cakep," seloroh Bidan Karunia sembari melepas sarung tangan karet. Lalu disimpan dalam wadah sampah. Sekaligus mencuci tangan di wastafel.
"Sebentar lagi....kita tunggu sampai bukaannya lengkap ya," ujar Bidan Karunia seraya menyeka tangan yang basah dengan handuk.
"Bisa sambil jalan-jalan kalau mau."
"Bisa membantu mempercepat pembukaan."
"Tapi kalau mau tetap tiduran juga nggak apa-apa."
"Sekalian menyimpan tenaga."
***
Keterangan :
Alat resusitasi. : merupakan penyelamat pada kondisi darurat dimana pasien mengalami gagal pernapasan atau gangguan aliran darah
Fungsi agregasit trombosit : pemeriksaan lanjutan bagi penderita stroke
Fibrinogen. : atau faktor I adalah protein yang diproduksi secara alami di plasma darah dan berperan penting dalam proses pembekuan darah.
Pemeriksaan fibrinogen bagi pasien yang mengkonsumsi obat-obatan pengencer darah (sumber : alodokter.com)
Profil lemak. : analisis lipoprotein yang dapat mengukur kadar darah dari jumlah kolesterol, LDL kolesterol, HDL kolesterol, dan trigliserida. Tes kolesterol termasuk pada panel lipid yang terdiri dari total kolesterol, HDL, LDL, dan trigliserida (sumber : halodoc.com)
Environmental friendly : ramah lingkungan
Yang juga menjadi sumber untuk bertanya tentang tes bagi pasien stroke. : readers tersayang yang berprofesi sebagai laboran medis. Haturtengkiuu Mam 🤗