
Anja
Sejak malam prom ketika anak-anak menyambangi rumahnya. Lalu mereka seru-seruan bersama dan baru pulang ke rumah masing-masing esok pagi. Praktis ia tak lagi stripping belajar seperti hari-hari sebelumnya.
Cakra hanya mengajaknya untuk sama-sama mereview beberapa konsep materi yang belum terlalu dikuasai. Sambil sesekali mengerjakan latihan soal dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi.
Selebihnya, Cakra meminta dengan sangat agar ia lebih banyak santai dan beristirahat saja guna mempersiapkan fisik dan mental jelang hari H.
"PG (passing grade) kamu waktu terakhir kali kita mengerjakan try out udah di atas 65%. Lebih dari cukup untuk masuk ke FKG Jakun," begitu kilah Cakra ketika ia bertanya-tanya, mengapa mereka tak lagi belajar seserius hari kemarin.
H-1, Cakra sempat mengingatkannya untuk meminta do'a restu pada Mama. Agar ia bisa mengikuti dan mengerjakan seluruh soal ujian SBMPTN dengan baik.
"Kamu nyuruh-nyuruh, sendirinya gimana?!" sungutnya sebal usai mengakhiri pembicaraan di telepon dengan Mama.
"Udah minta do'a restu ke Mamak belum?!" karena ia sangat yakin jika Cakra sama sekali belum menelepon Mamak.
Namun Cakra hanya tersenyum simpul mendengar pertanyaan yang dilontarkannya. Seraya berkata dengan nada santai, "Nanti malam. Kalau jam segini Mamak masih di keude."
"Kebanyakan alasan!" sungutnya sebal. "Sini, biar aku aja yang nelepon!" lanjutnya sembari mendial nomor ponsel Kak Pocut.
Tapi yang ada justru ia yang mengobrol panjang lebar dengan Kak Pocut. Sementara Cakra malah asyik menyiram tanaman di taman samping rumah.
"Agam mau ikut ujian?" suara Kak Pocut terdengar sedikit terkejut. "Ujian masuk kuliah?!"
"Iya, Kak," jawabnya sambil tersenyum. "Doakan kami berdua bisa mengerjakan soal-soal ujian dengan baik ya, Kak."
"Sama-sama diterima di Jakun."
"Agam berubah pikiran?" suara Kak Pocut kian menyelidik. "Mau kuliah bukannya kerja?"
"Oh," kini ia tertawa. "Kan baru mau ujian, Kak. Belum tentu juga diterima."
"Eh, maksudnya, banyak saingan dalam memperebutkan kursi yang sama," ia pun buru-buru meralat ucapan karena merasa telah mengatakan kalimat penuh pesimisme yang unfaedah.
"Kalau diterima sih pasti ingin banget, Kak," lanjutnya dengan penuh kesungguhan. "Doakan ya, Kak."
Kak Pocut sempat terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya berkata dengan sedikit ragu, "Semoga Anjani dan Agam bisa mengikuti ujian dengan baik."
"Aamiin," ia pun segera mengaminkan.
"Dan lulus di tempat yang diinginkan," lanjut Kak Pocut kemudian.
"Aamiin. Oiya Kak, Mamak ada?" ia juga ingin meminta doa restu pada ibu mertuanya yang selalu memiliki lisan penuh makna itu. Namun,
"Masih di keude," jawab Kak Pocut. "Anjani mau bicara sama Mamak? Nanti Kakak kesa...."
"Oh, kalau begitu nanti malam aku telepon lagi, Kak," ujarnya cepat karena tak ingin merepotkan Kak Pocut yang harus pergi ke keude hanya untuk memanggilkan Mamak.
Dan akhirnya, ia dan Kak Pocut asyik membicarakan banyak hal lain. Mulai dari Sasa dan Umay yang semakin betah di rumah karena sekarang banyak mainan. Icad yang tengah menanti pengumuman kelulusan SD.
Hingga kunjungan Mamak dan Kak Pocut ke Raja Raos dan Dapur Mitoha setelah menandatangani MoU kerjasama dengan PT Selera Persada terkait peluncuran produk baru makanan khas Aceh di bulan Ramadhan mendatang.
"Kakak jadi deg-degan ini Anjani, apa para pengunjung restoran akan menyukai resep buatan Mamak?" suara Kak Pocut terdengar bimbang.
"Pasti suka, Kak. Masakan buatan Mamak kan terkenal paling lezat se kecamatan," ujarnya dengan penuh keyakinan.
Membuat Kak Pocut tertawa seraya bergumam pelan, "Semoga kami tidak mencederai kepercayaan yang telah diberikan oleh Mama Anjani."
Malam harinya, ia sampai terkantuk-kantuk ketika menunggui Cakra yang tengah menelepon Mamak. Entah sedang membicarakan apa karena Cakra hanya sesekali menjawab dengan tiga kalimat singkat yang diucapkan berulangkali.
"Nyo (iya)."
"H'an (enggak)."
"Ka (sudah)."
"Mamak bilang apa?" tanyanya ingin tahu ketika Cakra menutup telepon. Kemudian berjalan menghampirinya yang sudah setengah tertidur.
Namun Cakra sama sekali tak menjawab. Hanya mencium keningnya sekilas seraya bergumam, "Tidur yang nyenyak, besok kita berangkat pagi."
Dan hari ini, Selasa, 5 Mei menjadi hari yang paling dinanti sejak rilis pengumuman hasil seleksi SNMPTN keluar hampir tiga minggu lalu.
Yaitu the real battle. Alias pelaksanaan CBT (computer based test) atau lebih dikenal dengan SBMPTN UTBK.
Mereka sama-sama mengikuti ujian di Kampus Jakun Depok. Ia mendapat tempat di Gedung B RIK (Rumpun Ilmu Kesehatan). Sementara Cakra di Gedung H Departemen Geografi FMIPA.
Jarak masing-masing tempat ujian yang tak terlalu jauh dan berada di lokasi yang sama memudahkan mereka untuk berangkat bersama tanpa harus ditemani oleh Pak Cipto.
Dan selepas Shubuh, kendaraan yang dikemudikan Cakra telah meluncur di jalan raya. Sengaja berangkat lebih pagi agar tak harus terjebak macet. Karena ribuan orang bisa dipastikan sedang menuju tempat yang sama yaitu Kampus Jakun Depok guna mengikuti SBMPTN.
Mereka bahkan terpaksa sarapan di jalan. Ia makan terlebih dahulu. Nasi ulam hangat buatan Bi Enok lengkap dengan ayam bakar madu yang menggoda.
Setelah merasa kenyang, barulah ia berniat untuk menyuapi Cakra yang tengah mengemudi. Meski Cakra menggelengkan kepala, "Aku sarapan di sana nanti."
Tapi ia memaksa, "Mana sempat sarapan sendiri. Makan sekarang!" gerutunya yang tak penah menyukai penolakan. Apalagi jika berasal dari ehm...Cakra.
Mereka sempat terjebak kemacetan di jalan akses Jakun. Tepat di depan Kampus Gundar. Akibat adanya penumpukan kendaraan karena lampu lalu lintas tak berfungsi. Membuat pengendara saling serobot tanpa ada satu pun petugas yang terlihat mengatur arus lalu lintas.
Hingga dari perkiraan waktu tempuh normal sekitar 60 menit. Akhirnya berhasil mereka lalui dalam jangka waktu kurang lebih satu setengah jam. Luar biasa. Padahal mereka telah berangkat sepagi mungkin. Namun rupanya semua orang memikirkan hal yang sama.
Setelah sempat tersesat arah karena tampilan beberapa gedung RIK yang mirip satu sama lain. Cakra memutuskan untuk mengantarkannya sampai ke depan ruang ujian yang terletak di lantai 3.
Meski ia sempat menolak dan meyakinkan jika bisa mencari ruang ujiannya sendiri. Namun Cakra tetap bersikeras.
"Nanti malah nyasar lagi?" Cakra menggelengkan kepala tak setuju dan tetap meraih tangannya hingga mereka sampai di depan ruang ujiannya. Yaitu sepasang pintu warna cokelat bertuliskan B304.
"Tunggu di sini sampai aku datang," ujar Cakra seraya mencium puncak kepalanya sekilas. Sebelum akhirnya menghilang di balik pintu lift.
Sementara ia hanya bisa tersenyum-senyum sendiri sambil menunduk malu karena beberapa pasang mata yang sempat melihat perlakuan Cakra terhadapnya, kini tengah menatap dengan penuh rasa ingin tahu.
Termasuk beberapa orangtua yang sedang mengantarkan putra putrinya mengikuti ujian SBMPTN. Memperhatikan dirinya dengan intens terutama di bagian perut. Meski ia telah memakai cardigan untuk menutupi agar tak menarik perhatian.
Dan sembari menunggu saat ujian tiba, ia pun mengisi waktu dengan membuka kembali handout buatan Cakra yang berisi konsep-konsep penting pelajaran matematika, fisika, kimia, juga biologi.
Hand out sederhana yang terbuat dari selembar kertas folio itu bisa dilipat menjadi bagian terkecil hingga bisa masuk ke dalam saku.
Berisi tulisan tangan Cakra tentang beberapa konsep yang menurutnya termasuk sulit dan sedikit rumit. Namun berhasil diterjemahkan oleh Cakra dengan baik hingga memudahkannya untuk lebih cepat memahami materi.
Ia masih membaca tentang integral ketika seseorang mendudukkan diri di sebelahnya sambil menyapa riang,
"Hai, lo di ruang ini juga?" tanya orang tersebut seraya menunjuk pintu berwarna cokelat tepat di hadapan mereka.
"Iya," ia tersenyum mengangguk. "Kalau elo?"
Orang tersebut juga menganggukkan kepala, "Sama berarti. Oya, kenalin, gue Wynne."
"Anja," jawabnya seraya membalas ajakan berjabat tangan.
"Lo dari mana? Gue dari Highreach," lanjut Wynne sembari menyebutkan nama sebuah sekolah internasional di bilangan Jakarta Selatan.
"Pusaka Bangsa," jawabnya yang tersenyum senang karena memiliki teman bicara. Sedikit banyak bisa menetralisir rasa nervous selama menunggu waktu ujian tiba sekitar 25 menit ke depan.
"Oh, Pusaka Bangsa yang dapat nilai UTBK tertinggi setelah anak Sman...?" tebak Wynne kali ini sambil menyebut nama sebuah SMA Negeri yang juga terletak di Jakarta Selatan.
Ia tersenyum mengangguk sambil berkata dalam hati, "Itu suami gue lho. Keren kan keren?"
Tapi keriaannya langsung terhenti begitu Wynne dengan wajah tanpa dosa bertanya dengan ringannya, "Eh, no hurt feeling ya. Lo lagi hamil atau sakit sih? Kok perutnya gede gitu?"
"Kalau lagi hamil memang boleh ya ikut SBM?" lanjut Wynne lagi sambil menatapnya penuh selidik.
Membuatnya tiba-tiba ingin menghilangkan diri sendiri menggunakan jubah gaib tembus pandang milik Harry Potter. Atau segera enyah sejauh mungkin ke tempat paling tak terjangkau sekalipun.
Karena kini, beberapa orang yang tengah berdiri di sekitar mereka mulai ikut memperhatikan perutnya dengan penuh rasa ingin tahu.
***
Cakra
Ia baru sampai di lantai 4 gedung H melalui tangga. Dan masih tersengal-sengal hampir kehabisan napas ketika pintu ruang ujiannya telah terbuka lebar. Dengan dua orang petugas yang sedang meminta para peserta untuk segera memasuki ruangan.
Selebihnya ia merasa sedang melayang di udara. Nothing to lose. Mengerjakan tiap nomor soal semampunya tanpa ambisi sedikitpun.
Karena kepalanya justru dipenuhi oleh sederet kalimat yang diucapkan Mamak semalam.
"Harus bisa berpikiran jauh ke depan."
"Jangan sampai kau menelantarkan apa yang sudah menjadi tanggung jawab."
"Jangan terus-terusan merepotkan keluarga mertua."
Banyak sebenarnya ucapan Mamak. Namun hanya itu yang terus terngiang memenuhi kepala bahkan hingga saat ini ia tengah menghadapi layar komputer yang menampilkan sederet soal TKD (Tes Kemampuan Dasar) Saintek.
Namun selain ucapan Mamak, juga ada hal lain yang turut memenuhi kepalanya. Yaitu sebuah email masuk berisi balasan dari Axtra Homda Motor yang berbunyi,
Sdr. Teungku Cakradonya Ishak,
Recruitment AxHM mengucapkan terima kasih atas pengajuan aplikasi Anda kepada PT Axtra Homda Motor.
Selamat karena data anda memenuhi kualifikasi kami. Kami akan segera proses lamaran anda dan silakan menunggu informasi jadwal tes berikutnya melalui email/sms.
Terima kasih untuk perhatiannya.
Best Regards,
Recruitment PT Axtra Homda Motor
Jl. Laksda Yos Sudarso, Sunter 11
Jakarta
021-6528000 / 021-6520002
Email yang bahkan belum sempat diceritakannya pada Anja. Karena tak ingin Anja merasa sedih jika mengetahui kenyataan bahwa ia lebih menaruh harapan besar terhadap hasil lamaran pekerjaan dibanding euforia SBMPTN.
Balasan email tersebut otomatis membuatnya kian tekun berdoa. Sembari berharap semoga informasi jadwal tes dari AxHM bisa diperoleh dalam waktu dekat. Sama sekali tak memikirkan secara serius soal-soal SBMPTN yang ada di depan mata.
Begitu waktu yang disediakan untuk mengerjakan soal-soal TKD Saintek usai. Para peserta ujian bisa beristirahat sejenak selama 30 menit.
Yang dimanfaatkannya untuk mengobrol dengan Bening dan beberapa anak Pusaka Bangsa lain. Karena mereka kebetulan sama-sama mendapat ruang ujian di gedung H.
"Asli soal-soalnya berkali lipat lebih sulit dibanding soal UNBK!" keluh Bening yang langsung diiyakan oleh semua orang.
"Alamat mesti ngejar Simak (seleksi masuk) nih kalau masih kepingin pakai jaket kuning," seloroh Adam anak IPA5. Namun sambil menggelengkan kepala dengan wajah pasrah.
Dan tepat pukul 09.45 WIB, ia beserta seluruh peserta ujian lain kembali memasuki ruangan untuk mengerjakan soal-soal TKPA (Tes Kemampuan Potensi Akademik).
Tapi lagi-lagi otaknya tak bisa untuk diajak berkonsentrasi. Karena kepalanya justru makin dipenuhi oleh kalimat penuh harapan berbunyi silakan menunggu informasi jadwal tes berikutnya. Yang seolah terus berputar mengelilingi kepalanya tanpa henti.
Baru pada pukul 12.45 WIB, setelah sempat terjebak antrean kendaraan yang cukup panjang dan mengular di pintu keluar FMIPA. Sampailah ia di koridor lantai 3 gedung B RIK.
Berusaha mencari-cari keberadaan Anja dalam suasana yang masih cukup ramai. Karena para peserta ujian Soshum dan Campuran masih harus mengikuti ujian TKD (Tes Kemampuan Dasar) Soshum pada pukul 13.15 WIB nanti.
Akhirnya setelah memutari koridor sebanyak dua kali, ia pun berhasil menemukan sosok mungil Anja yang tengah duduk seorang diri di salah satu sisi koridor.
"Ja?" ujarnya cemas demi melihat wajah murung Anja.
"Kamu kelamaan nunggu?"
Namun Anja hanya menggelengkan kepala. Kemudian buru-buru menarik lengannya agar segera pergi meninggalkan koridor.
***
Anja
Usai mengikuti SBMPTN yang berlangsung jauh dari kata menyenangkan. Karena sepanjang waktu ujian berlangsung, sebagian besar peserta memiliki rasa ingin tahu yang cukup besar dengan keadaan perutnya meski telah tertutup oleh cardigan.
Hingga pertanyaan bernada tak mengenakkan seperti, "Lo hamil?"
Atau sekelompok orang yang saling berbisik satu sama lain. Kemudian memandang ke arahnya dengan tatapan aneh. Menjadi hal yang mau tak mau harus dihadapinya selama hampir 5 jam berada di tempat ujian.
Namun meski Cakra bertanya berkali-kali dengan nada penuh kecemasan, "Kamu sakit, Ja?"
Mungkin karena melihat wajahnya yang mendadak pucat pasi. Tapi ia memilih untuk menggelengkan kepala dan berkata, "Aku mau beli es krim."
Daripada harus membahas hal yang membuatnya merasa kotor dan tak berharga. Karena ia ingin mengikuti saran Teh Dara untuk berusaha enjoy dan happy walau apapun yang harus dihadapi.
"Kalau lagi hamil tuh, harus banyak seneng-seneng, happy-happy, biar aura positif mengelilingi kita. Jadi baby nya juga happy di dalam perut, tumbuh sehat, kuat....."
Dan setelah SBMPTN, praktis ia tak memiliki kesibukan yang berarti. Sehari-hari hanya dihabiskannya untuk santai-santai di rumah. Makan, tidur, nonton, sosmed an. Begitu terus sembari menunggu Cakra pulang kerja dari Retrouvailles.
Meski anak-anak lain sibuk mempersiapkan diri untuk mengikuti Simak Jakun. Atau seleksi mandiri yang diselenggarakan oleh sederet PTS bonafide. Sebagai batu pijakan jika tak lolos SBMPTN.
Namun ia sama sekali tak tertarik. Bahkan ajakan Mas Sada untuk mengikuti Utul (ujian tulis) Kampus Biru. Tak dihiraukannya.
"FKG Kampus Biru nggak terlalu jauh jaraknya dari rumah Mas lho, Ja," seloroh Mas Sada ketika mereka melakukan video call beberapa waktu lalu.
Tapi ia hanya menjawab singkat setengah menggerutu, "Mau muntah aku Mas, lihat soal-soal ujian."
Yang langsung disambut gelak tawa Mas Sada.
"Kalau memang nggak lolos tahun ini, ya udah sih," ujarnya ketika layar ponsel berganti menampakkan wajah Teh Dara.
"Aku coba lagi tahun depan."
"Iya, sayang," Teh Dara mengacungkan jempol tanda setuju. "Teteh setuju."
"Mendingan kita bahas acara tujuh bulanan kamu," lanjut Teh Dara yang membuatnya terbelalak heran.
"Tujuh bulanan?! Bukannya kemarin aku baru empat bulanan?!" tanyanya tak mengerti.
"Kemarin kan empat bulanan yang terlewat," Teh Dara tersenyum menenangkan. "Kalau sekarang tujuh bulanan yang tepat waktu."
Namun sebelum rencana tujuh bulanannya matang. Tepat seminggu setelah pelaksanaan SBMPTN, Cakra tiba-tiba pulang dari Retrouvailles dengan wajah ceria.
"Kenapa senyum-senyum?" tanyanya tak mengerti tapi sambil tertawa demi melihat ekspresi berlebihan Cakra yang tiba-tiba menciumi pipinya.
"Wish me luck," jawab Cakra seraya memperlihatkan layar ponsel yang menampilkan email berbunyi,
----------
Sdr. Teungku Cakradonya Ishak,
Kami dari HRD PT Axtra Homda Motor mengundang Anda untuk mengikuti psikotest pada :
Hari/Tanggal. : Kamis, 14 Mei 2xxx
Pukul. : 08.00 WIB
Tempat. : Ruang Pertemuan PT Axtra Homda
Motor
Jl. Laksda Yos Sudarso, Sunter 11
Jakarta
021-6528000 / 021-6520002
Harap berpakaian rapi, tidak mengenakan celana jeans, dan harus bersepatu. Serta membawa berkas lamaran lengkap.
Mohon konfirmasi kehadiran paling lambat hari ini pukul 14.00 WIB. Melalui nomor 021-6528000 Ext 115.
Best Regards,
Recruitment PT Axtra Homda Motor
Jl. Laksda Yos Sudarso, Sunter 11
Jakarta
021-6528000 / 021-6520002
----------