Beautifully Painful

Beautifully Painful
57. Love Has No Reason (2)



Anja


Dini hari ia mendadak terjaga dari tidur karena tenggorokannya terasa kering dan haus. Namun ketika hendak bangun untuk mengambil gelas di atas nakas,


"Aaaaa?!?"


Ia hampir menjerit saking kagetnya karena telah menyentuh kepala seseorang.


Namun sedetik kemudian hanya bisa menutup mulut dengan kedua tangan begitu mendapati kepala yang kini terkulai di sisi tempat tidurnya adalah milik Cakra.


"Kok bisa?" gumamnya heran sembari memperhatikan Cakra yang sedang terlelap meski dengan posisi setengah duduk dan terlihat sangat tak nyaman itu.


Membuat ingatannya kembali melayang pada kejadian semalam. Dimana ia merasa kesal setengah mati karena Cakra tak kunjung pulang ke rumah. Sedangkan ia selalu tak bisa tidur jika belum mendengar suara Cakra.


Ah, ya, sialan memang! Hei, dengar dulu!


Bukan begitu ceritanya! Sumpah, ini bukan dirinya! Entah perbuatan siapa hingga ia bisa senaif ini. Seperti seseorang yang lain sedang berada di dalam dirinya. Dengan begitu berkuasa mengambil alih pikiran dan keseluruhan kinerja tubuhnya. Nyata namun tak kasat mata.


Membingungkan? Memang, ia sendiri juga bingung. Tak habis mengerti penjelasan ilmiah paling masuk akal seperti apa yang bisa menjawab masalah susah tidur yang dideritanya jika belum mendengar suara Cakra.


Ya ampun, yang benar saja. Ia bahkan tak peduli Cakra pulang ke rumah atau tidak. Errr, sebentar, sungguh tak peduli, Anja?


Ah ya, tentu saja ia peduli! Puas?! batinnya merasa kesal dengan suara-suara yang berputar tiada henti di dalam kepalanya. Seolah seluruh fungsi tubuh sedang berkolaborasi menyudutkan dirinya.


Sembari memutar bola mata ia pun beringsut secara perlahan untuk meraih gelas di atas nakas. Benar-benar perlahan karena khawatir Cakra akan terbangun akibat gerakan yang dilakukannya.


Setelah menghabiskan setengah isi gelas, ia kembali merebahkan diri di atas tempat tidur. Seraya tak lepas memperhatikan Cakra yang terlelap begitu pulas. Pemandangan indah yang berhasil menerbangkan rasa kantuk entah kemana.


Lamat-lamat diperhatikannya Cakra dengan kesungguhan hati. Wajah bersih berhiaskan alis tebal dan hidung runcing sempurna itu terlihat lelah. Sontak membuat hatinya mencelos demi menyadari selama ini sering memperlakukan Cakra dengan buruk. Padahal Cakra hampir selalu bersikap baik dengan menuruti seluruh keinginannya.


Termasuk keinginan absurdnya untuk dibacakan cerita menjelang tidur. Menyebalkan bukan?


Tapi tentu saja, Cakra memang harus bersikap baik padanya. Mutlak absolut tanpa bisa ditawar. Alasan utama pastinya karena ketidaksengajaan bo doh -Namun menyenangkan. Stop it, Anja!- yang mereka lakukan malam itu, hingga tanpa sadar Cakra telah menitipkan seorang makhluk hidup di dalam perutnya. Sesuatu yang terus bertumbuh dan hampir merenggut kegemilangan masa depan, batinnya seraya mengelus perut yang terasa kian membesar.


Matanya masih memperhatikan Cakra yang terlelap dengan napas teratur, ketika sebuah benda berhasil menarik perhatiannya. Kotak berbentuk persegi panjang warna hitam yang tersimpan tak jauh dari punggung tangan lebar, besar, dengan jemari panjang-panjang milik Cakra. Yaitu ponsel.


Dengan penuh kehati-hatian diraihnya ponsel berwarna hitam tersebut. Sejenis ponsel sejuta umat keluaran beberapa tahun lalu. Sangat out of date pastinya dibanding ponsel bermata tiga generasi terbaru yang dimilikinya.


Sejurus kemudian hatinya kembali mencelos demi melihat kondisi ponsel Cakra. LCD yang sudah retak di sana-sini. Casing yang pastinya imitasi bukan original, itu juga sudah gompal di beberapa ujungnya. Bisa dipastikan jika ponsel ini terjatuh menghantam lantai, akan langsung wassalam alias tak berfungsi lagi alias rusak berat bahkan mungkin saja mati total untuk selamanya. Sungguh mengenaskan, batinnya iba.


Perlahan diusapnya layar ponsel berukuran sekitar 5 inci tersebut, sembari matanya kembali melirik wajah Cakra yang terlihat tetap tenang berada di alam mimpi.


"Sebenarnya kamu kerja siang malam buat siapa?" gumamnya penuh iba. "Sampai barang pribadimu bisa sejelek ini."


Dengan didasari rasa penasaran yang begitu tinggi, jarinya refleks menekan tombol power di sisi kanan ponsel. Seketika berhasil membuat layar menyala. Dan wallpaper yang terpampang membuat matanya sontak memanas.


Wallpaper tersebut berupa foto dirinya bersama Mama dan Mamak usai akad nikah. Entah darimana Cakra bisa memperoleh foto tersebut. Karena ia bahkan tak menyimpan satu pun foto pernikahan di dalam ponselnya. Ya, tentu saja, karena tak ingin rahasia pernikahannya terbongkar oleh Hanum dan Bening. Yang sering seenaknya meminjam ponsel tanpa meminta ijin terlebih dahulu.


Kemarin memang Teh Dara sempat mengiriminya email dengan lampiran drive berjudul Anjađź’—Cakra wedding. Namun ia baru sempat membaca isi emailnya, belum pernah sekalipun berusaha membuka isi drive. Hmm, mungkin besok ia bisa mencoba untuk membukanya.


Perlahan jarinya bergerak mengusap layar retak yang menampilkan gambar wajahnya itu. Kemudian beralih memandangi Cakra yang tetap terlelap, sama sekali tak terusik dengan perilaku memata-matainya. Membuat hasratnya semakin menggebu, untuk mencari tahu lebih dalam tentang apa saja yang tersimpan di dalam ponsel milik Cakra.


Namun sayang seribu sayang, ponsel Cakra terkunci alias memiliki password. Yang tentu saja tak diketahuinya. Awalnya ia hendak gambling mengetikkan beberapa angka, tapi segera diurungkan. Lebih memilih untuk menyimpan kembali ponsel di sebelah telapak tangan lebar dan besar milik si empunya.


Selang beberapa menit, ia masih saja memandangi wajah bersih yang telah membuat hatinya mencelos berkali-kali itu. Berhasil menuntun kesadaran diri jika mulai esok ia berjanji akan bersikap lebih baik lagi terhadap Cakra. Tak membentak-bentak atau berlaku seenaknya seperti yang selama ini dilakukan.


Akan lebih menghargai keberadaan Cakra di sekitar, karena ia jelas membutuhkan suara Cakra untuk membuatnya terlelap. Sungguh keinginan aneh yang menyebalkan sekaligus memalukan.


Mungkin ia harus bertanya pada Teh Dara tentang diagnosa penyakit aneh yang sedang dialaminya ini. Karena sebagai seorang psikolog klinis, Teh Dara pastinya memiliki referensi ilmiah yang mumpuni. Mungkin bisa sedikit membantu kegundahan hati tak berdasarnya tatkala ingin mengamuk ketika Cakra tak kunjung pulang ke rumah.


Perlahan namun pasti, bibirnya mulai menyunggingkan seulas senyum demi menatap wajah bersih yang terasa sangat menentramkan hati itu. Bersamaan dengan datangnya rasa kantuk yang mulai melanda. Menerbangkan kesadarannya ke awang-awang untuk kemudian memilih menyerah dengan menutup kedua mata yang terasa melayang-layang menuju ke alam mimpi.


Dimana Cakra telah menyambutnya dengan senyum terkembang dan uluran tangan terbuka,


"Anja, you and me against the world?"


Ia tak menjawab tapi langsung menubruk dada Cakra, "Yes, absolutely."


Membuatnya tertidur dengan senyum merekah. Namun ketika terbangun di pagi hari, tak lagi mendapati wajah bersih milik Cakra tertidur di sebelahnya. Bed cover bekas tumpuan kepala Cakra semalam bahkan terasa dingin. Menjelaskan dengan singkat jika Cakra telah cukup lama pergi dari kamarnya.


"Neng, tadi Den Cakra pesen, katanya Aden pulang dulu ke rumah," begitu sambutan Bi Enok begitu melihatnya keluar dari dalam kamar sudah memakai seragam sekolah.


"Kenapa pulang ke rumah?" tanyanya heran seraya buru-buru mengambil ponsel yang tanpa diperiksa terlebih dahulu telah ia masukkan ke dalam tas sekolah.


"Ada saudara Aden yang meninggal katanya," jawab Bi Enok dengan wajah menyesal.


Membuatnya buru-buru membuka layar ponsel. Dan benar saja, ada 2 unread messages dari Cakra.


Cakra. : 'Aku pulang ke rumah dulu.'


Cakra. : 'Babe Syafi'i meninggal dini hari tadi.'


Ia menghembuskan napas panjang sambil mendudukkan diri di meja makan. Dimana Bi Enok telah menyiapkan sepiring telor orak-arik dan kentang panggang yang aromanya harum menggoda.


"Pak Cipto juga ijin, Neng," imbuh Bi Enok yang kini tengah menyiapkan segelas susu untuknya.


Yang segera dijawab dengan gelengan kepala, "Aku nggak minum susu, Bi."


"Masih enek, Neng?" tanya Bi Enok prihatin.


Ia mengangguk untuk kemudian bertanya, "Pak Cipto ijin kenapa?"


"Tadi Subuh pulang ke Rangkas. Dapat telepon kalau ibunya yang opname di rumah sakit ngedrop terus masuk ICU."


"Kritis katanya, Neng," Bi Enok kembali memasang wajah menyesal.


Membuatnya kehilangan selera makan. Dalam sepagi ini telah mendengar dua berita menyedihkan. Meski ia baru pertama kali bertemu dengan Babe Syafi'i di hari pernikahannya kemarin. Dan lupa-lupa ingat dengan wajah Ibunya Pak Cipto. Namun berita duka dan jatuh sakitnya seseorang hampir selalu menimbulkan efek kurang menyenangkan bagi siapapun yang mendengarnya.


"Kalau air jahe mau, Neng?" tanya Bi Enok membuyarkan lamunannya.


"Jahe?" tanyanya linglung.


"Atau air lemon?"


"Lemon?" lagi-lagi ia balik bertanya dengan wajah bingung.


"Iya," jawab Bi Enok sambil tersenyum. "Kemarin Den Cakra bilang ke saya, kalau Eneng nggak mau minum susu, coba tawarin air jahe atau perasan lemon."


"Cakra bilang begitu?" tanyanya heran. Namun sedetik kemudian ia terkejut karena teringat sesuatu. "Cakra?"


"Iya, Den Cakra yang bilang."


Bi Enok mengangguk.


"Pak Cipto juga pulang ke Rangkas?"


Lagi-lagi Bi Enok mengangguk.


"Terus saya berangkat sekolah sama siapa?!?" pekiknya kaget sembari melihat pergelangan tangan kiri yang kini telah menunjukkan pukul 06.03 WIB. Memastikan jika dalam waktu kurang dari setengah jam ke depan, bel masuk sekolah akan berbunyi. Ampun!


"Mang Jaja lagi saya suruh ke pasar, Neng," ujar Bi Enok pasrah.


Terpaksa ia harus naik Taxi atau Taxi online. Dan memesan Taxi online di rush hour seperti ini jelas tak mudah. Karena banyak orang yang juga tengah memesan dalam waktu bersamaan.


"Lho, Neng?" tegur Bi Enok heran. "Nggak jadi sarapan?!"


"Nggak sempat," jawabnya sambil buru-buru mencangklong tas. "Keburu telat."


Karena terlambat masuk sekolah di Pusaka Bangsa adalah tragedi yang paling dihindari oleh hampir seluruh siswa. Ya, karena jika kalian terlambat meski dengan alasan paling make sense sekalipun, tetap akan mendapat hukuman setimpal. Yang pastinya akan membuat kapok siapapun yang coba-coba terlambat.


"Semua ini semata-mata untuk mendisiplinkan para peserta didik," begitu propaganda yang seringkali diucapkan Kepala Sekolah Pusaka Bangsa di setiap kesempatan.


"Agar kalian tumbuh menjadi generasi muda yang menghargai waktu."


"Menjadi generasi tangguh penerus cita-cita bangsa, yang memiliki disiplin tinggi!"


"Karena....tiada prestasi tanpa disiplin!"


Yang harus seluruh siswa ulangi dengan suara lantang, "TIADA PRESTASI TANPA DISIPLIN!"


Sambil mengeluh karena propaganda Kepala Sekolah terus terngiang di telinga, ia berjalan cepat menuju pintu gerbang.


Sejak kelas X hingga hari kemarin, ia tak pernah sekalipun terlambat datang ke sekolah. Namun kali ini, jangan sampai menjadi keterlambatan pertamanya di saat sudah hampir menjadi alumni. Tak boleh terjadi!


"Pak Wardi," panggilnya ke sekuriti yang kebagian berjaga di depan gerbang rumahnya pagi ini.


"Ya, Neng?"


"Tolong pesenin Glue Bird dong atau Taxi online pakai aplikasi di ponsel Pak Wardi," ujarnya dengan napas memburu karena takut terlambat.


"Lho, kenapa?" Pak Wardi justru balik bertanya keheranan.


"Nggak usah banyak nanya!" sungutnya kesal. "Buruan pesanin sebelum saya telat ke sekolah!"


"Oh, iya, Neng," jawab Pak Wardi gugup. "Siap, Neng."


"Ini saya udah pesan dari tadi tapi belum ada yang ambil," gerutunya sambil memperhatikan layar ponsel.


"Motor atau mobil, Neng?" tanya Pak Wardi yang kini telah berkonsentrasi dengan ponselnya.


"Mobil, Pak!" jawabnya ketus. "Namanya juga Taxi online!"


"Saya nggak mau naik motor! Ntar seragam jadi bau apek lagi kena asap knalpot!"


"Siap, Neng! Siap!" jawab Pak Wardi tangkas. "Ini saya pesankan."


"Pesanin Glue Bird aja deh, Pak," tiba-tiba ia berubah pikiran. "Biasanya suka cepat."


"Ini saya udah terlanjur pesan Taxi online soalnya. Ntar siapa yang duluan," imbuhnya cepat.


"Baik, Neng. Baik," Pak Wardi menganggukkan kepala tanda mengerti.


"Eh, tapi Pak Wardi tahu alamat sekolah saya kan?" tanyanya sekedar memastikan. Jangan sampai Pak Wardi salah memasukkan alamat sekolahnya di aplikasi. Bisa berabe. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Sudahlah mau telat, pakai salah alamat segala. Amit-amit!


"Tahu, Neng," Pak Wardi mengangguk. "Pusaka Bangsa yang di Kebon Jeruk kan?"


Ia mengangguk.


Lima menit kemudian ia mulai tak sabar. "Udah ada driver yang ambil belum, Pak?" tanyanya semakin gugup demi melihat jarum jam semakin mendekati injury time.


"Belum, Neng," Pak Wardi menggelengkan kepala.


"Aduh," ia mulai menggerutu panjang pendek.


Saat itulah pintu gerbang di seberang rumahnya terbuka. Disusul dengan keluarnya kendaraan yang sangat familiar.


"Ja?" sapa pengemudi mobil yang telah membuka kaca jendela lebar-lebar. Tak lain dan tak bukan adalah Dipa.


"Belum berangkat?" tanya Dipa heran.


Ia menggelengkan kepala, "Belum."


"Pak Cipto kemana?" tanya Dipa lagi yang kini telah menghentikan mobil tepat di depan gerbang rumahnya, kemudian turun menghampiri.


"Pulang ke Rangkas."


"Trus si itu kemana?!" Dipa kembali bertanya dengan wajah malas sembari mengeraskan rahang. Jelas memperlihatkan ketidaksukaan.


"Cakra lagi pulang ke rumah dulu," jawabnya lirih.


"Ya udah, bareng sama gue aja."


Tentu tak ada alasan baginya untuk menolak tawaran Dipa. Daripada harus menunggu kedatangan Glue Bird atau Taxi Online yang sama sekali belum pasti. Nanti malah ujung-ujungnya ia harus terlambat sampai di sekolah. Big NO!


Tapi begitu ia mendudukkan diri di sebelah kiri Dipa, Pak Wardi berteriak memanggil namanya, "Neng Anja, pesanan diterima."


"Cancel aja deh, Pak!" jawabnya cepat sembari melongokkan kepala dari balik jendela. Sementara Dipa telah menekan gas hingga mobil mulai melaju.


"Lo kalau ada yang genting kayak gini, jangan ragu kasih tahu gue, Ja," gumam Dipa yang kini tengah melajukan kemudi menuju pintu gerbang kompleks.


"Gue pasti bakalan bantu lo."


"Iya, Dip," ia tersenyum kaku. "Sori jadi ngerepotin. Gue baru tahu kalau Pak Cipto pulang tuh barusan banget. Jadi sama sekali nggak ada persiapan."


"Mana Mang Jaja juga lagi ke Pasar," imbuhnya seraya menggelengkan kepala.


"Ngerepotin gimana, Ja," Dipa tersenyum sembari mengerling kearahnya. "Kita berdua kan bukan orang lain."


"Gue akan selalu ada kapanpun dan dimanapun saat lo butuh bantuan," lanjut Dipa masih tersenyum.


Ia tersenyum mengangguk, "Makasih banyak, Dip."