Beautifully Painful

Beautifully Painful
81. It's Us, Against The Entire World (3)



Anja


Malam hari Mas Sada menelepon. Hanya untuk mengatakan jika ia tak perlu mengkhawatirkan apapun. Terlebih tentang kejadian hari ini di sekolah.


"Cakra mana? Mas mau ngomong sama dia," begitu kata Mas Sada sebelum memutus sambungan telepon.


Dan dari sofa ruang tengah, ia memperhatikan Cakra yang tengah berjalan mondar-mandir sembari menerima telepon dari Mas Sada dengan wajah gelisah.


"Iya, Mas."


"Baik."


"Ngerti."


"Bisa."


Entah apa yang dibicarakan oleh Mas Sada di telepon, hingga beberapa kali dahi Cakra mengernyit sebelum akhirnya menjawab dengan suara ragu.


"Mas Sada bilang apa?" tanyanya ingin tahu begitu Cakra mengembalikan ponsel.


"Mas Sada sama Mas Tama lagi lobby pihak sekolah, biar kamu nggak perlu ikut ujian susulan."


"Hah?" ia tak mengerti. "Bukannya urusan ujian udah beres? Dan aku juga udah setuju buat ikut susulan?"


"Meskipun ujian susulan, tapi kita harus tetap datang ke sekolah, Ja."


"Terus?"


"Mas Sada sama Mas Tama berpendapat, setelah kejadian hari ini, kamu sebaiknya nggak usah datang ke sekolah lagi."


"Jadi kamu tetap mengikuti ujian sesuai jadwal. Tapi di rumah."


Ia masih mengernyit tak mengerti.


"Terus Mas Sada bilang, respon dari sekolah katanya mau dirapatkan dulu oleh dewan guru."


"Sekalian minta waktu untuk pengajuan ijin ke Diknas, tentang siswa yang akan mengikuti UNBK di luar lingkungan sekolah."


Ia tahu betul, seberapa besar keinginan Mas Tama dan Mas Sada untuk selalu berusaha melindungi dirinya. Terhitung sejak ia masih kecil belum bisa melakukan apapun selain menangis. Hingga sekarang sudah sebesar ini.


Kasus MBA nya dengan Cakra menjadi bukti nyata. Jika apapun bisa dilakukan oleh dua kakaknya itu. Dengan dalih menjaga dan melindungi adik tersayang. Dan ia tahu pasti hal seperti ini akan terus berulang.


Entah sampai kapan. Mungkin seumur hidupnya. Mas Tama dan Mas Sada selalu menganggap jika ia adalah adik kecil yang harus selalu dijaga dan dilindungi.


"Kalau kamu?" tanyanya ke arah Cakra. Ketika mereka telah merebahkan diri bersiap untuk tidur. "Ujian di rumah juga kan?"


Cakra tersenyum dengan telunjuk yang bergerak menelusuri sepanjang garis pipinya. Sentuhan ringan yang kembali memancing gelenyar menyenangkan di sekujur tubuhnya meski mereka baru saja usai.


"Aku nggak dalam keadaan force majeur," jawab Cakra tenang.


Membuatnya mengernyit, "Jadi kamu ujiannya tetap di sekolah? Kita nggak bareng dong?!"


"Kalau gitu aku tetap ikut ujian susulan. Biar kita bisa bareng," lanjutnya cepat.


Tapi Cakra menggelengkan kepala sembari terus menelusuri pipinya dengan ujung jari. "Surat pengajuan udah masuk ke Diknas. Tinggal nunggu di acc."


"Kenapa cuma namaku yang diajukan?" tanyanya masih tak mengerti.


"Harusnya kamu juga punya hak buat ikut ujian di luar lingkungan sekolah."


"Memangnya kamu masih mau datang ke sekolah setelah....setelah....," ia tak mampu melanjutkan kalimat karena keburu berkaca-kaca. Kembali teringat kejadian tadi siang. Yang jika berputar di dalam kepala langsung menyulut rasa marah sekaligus malu.


Namun Cakra justru tersenyum, "Aku tetap harus ke sekolah buat ambil motor, Ja."


"Bukan itu!" dengan kesal dipukulnya dada Cakra. Antara ingin menangis campur tertawa mendengar jawaban menyebalkan Cakra.


"Aku bakalan baik-baik aja, Ja," jawab Cakra kali ini sungguh-sungguh.


"Datang ke sekolah, ikut ujian sama teman-teman, sama sekali nggak masalah."


Jawaban penuh keyakinan Cakra sontak membuatnya menggigit bibir guna menahan tangis.


Ya, tentu, ia tahu. Semua hal mengerikan yang terjadi hari ini sama sekali bukan masalah besar bagi seorang Cakradonya. Toh Cakra bahkan sudah pernah mengalami hal yang lebih menyakitkan di Pusaka Bangsa. Dan masih bisa bertahan sampai sekarang.


Tapi mengetahui kenyataan jika dalam kasus ini, Mas Tama dan Mas Sada hanya memperjuangkan dirinya. Tak mempedulikan kondisi psikis Cakra sama sekali. Berhasil membuat relung hati mendadak hampa.


Sekaligus merasa sedih karena keadaan menjadi kian benderang. Jika dua kakak kesayangannya itu belum sepenuhnya bisa menerima keberadaan Cakra di sisinya.


"Jadi, besok aku tetap ke sekolah," lanjut Cakra seraya tersenyum. "Buat ikut simulasi sekalian ambil motor."


"Kamu mau titip salam buat siapa?" kali ini Cakra tersenyum menggoda. "Aldi atau Tiara?"


Namun ia justru kembali memukul dada Cakra. Tapi kali ini sambil memberengut kesal.


Keesokan hari ia hanya berdiam diri di rumah. Sementara Cakra tetap berangkat ke sekolah sesuai dengan jadwal simulasi yang harus diikuti.


Dan sekitar jam 09.30, ketika ia sedang menikmati semangkuk bubur kacang hijau buatan Bi Enok, Bening dan Bumi datang ke rumah.


Bening bahkan langsung memeluknya sambil berurai air mata, "Syukurlah, Ja, kalau elo nggak kenapa-napa."


"Asli kemarin gue takut banget pas lo belum ketemu."


"Si Dipa, Bumi, Faza, Agung, nyariin elo ke semua ruangan. Tapi tetep nggak bisa nemuin elo."


"Lo kemana sih, Ja?"


"Mana si Cakra datang telat lagi."


"Ya ampun, horrible nightmare."


Dari Bening pula ia tahu jika hari ini, orangtua Aldi, Tiara, dan Nigel dipanggil ke sekolah. Guna menghadiri rapat dengar pendapat dengan pihak sekolah. Sekaligus memutuskan sanksi apa yang akan diberikan.


"Paling sebentar lagi mereka diantar pihak sekolah bakalan datang ke rumah elo, Ja," sungut Bening dengan ekspresi wajah tak suka.


"Buat mediasi sama seremonial minta maaf."


"Kalau kata gue nih, Ja. Jangan mau ketemu sama mereka!"


"Enak aja udah bikin satu sekolah heboh, cuma diselesaikan sama materai 6.000 dan permintaan maaf!"


"Never ever!"


Dan apa yang diucapkan Bening menjadi kenyataan. Karena keesokan hari, setelah Cakra berangkat ke sekolah untuk mengikuti simulasi hari terakhir. Mas Sada meneleponnya.


"Kamu mau ketemu sama mereka nggak?"


"Kalau nggak juga nggak apa-apa."


Entah karena masih marah atau merasa sangat dipermalukan oleh Tiara cs. Dengan berat hati ia pun memutuskan untuk menolak kehadiran mereka di rumahnya.


Ia merasa takkan sanggup untuk bertemu muka dengan orang-orang yang tega membuat meme menjijikkan tentang dirinya. Karena mungkin ia akan kembali menangis dan merasa bersedih. Untuk kemudian menyalahkan diri sendiri.


"Nggak apa-apa, sayang," begitu kata Teh Dara yang langsung melakukan panggilan video call dengan dirinya usai telepon dari Mas Sada berakhir.


"It's okey, kalau kamu merasa belum mau ketemu sama mereka."


"Itu hak kamu, sayang."


"Bukan berarti menjadikan kita manusia pendendam yang nggak mau memaafkan."


"Karena setiap orang memiliki waktunya masing-masing untuk menyembuhkan luka."


"Teteh tahu kalau sebenarnya kamu sudah memaafkan."


Hingga seremonial permintaan maaf akhirnya hanya dilakukan di ruang rapat sekolah. Dengan disaksikan oleh kepala sekolah, pihak yayasan, komite sekolah, serta orangtua masing-masing. Sementara kehadirannya diwakili oleh Cakra.


Iya, Cakra. Berandal sekolah yang dulunya ia pandang sebelah mata itu ternyata pribadi tangguh yang sanggup melakukan semua hal untuknya.


Dengan seremonial ini pula, kasus perundungan terhadap dirinya dinyatakan selesai oleh semua pihak. Case closed.


Sedangkan untuk sanksi bagi para pelaku, pihak sekolah masih menangguhkan. Karena tiga siswa yang menjadi pencetus ide perundungan, berstatus sebagai siswa kelas XII. Yang sedang mengikuti serangkaian kegiatan dalam rangka ujian kelulusan.


"Tapi kami berjanji pasti akan ada sanksi yang tegas dari sekolah," begitu sambutan yang diberikan oleh kepala sekolah. Seperti yang ia lihat di situs laman resmi Pusaka Bangsa.


"Hanya masalah waktu saja."


Dan sore ini, ketika ia baru bangun tidur, menemukan Cakra tengah duduk di meja makan. Sedang mengetik di depan laptop warna hitam edisi lama keluaran hampir 4 tahun yang lalu. Pastinya laptop fasilitas dari sekolah. Ketika Cakra pertama kali masuk menjadi siswa baru di Pusaka Bangsa.


Namun beberapa kali Cakra terlihat mengerutkan dahi. Dan ketika ia mencoba untuk mengintip ke arah layar, ternyata akibat fungsi operasi laptop yang sudah tak terlalu prima. Sering nge lag yang ujung-ujungnya menghambat proses pengetikan.


Membuat ingatannya melayang pada malam di hari ulang tahunnya. Ketika Cakra menolak mentah-mentah permintaannya untuk memakai ponsel dan laptop baru hadiah dari Mas Tama dan Mas Sada untuknya.


"Laptop dan ponselku masih bisa dipakai," begitu alasan Cakra.


Padahal bukannya apa-apa. Semua murni karena ia tak terlalu membutuhkan barang-barang tersebut. Karena sudah lebih dulu memiliki barang dengan merk dan tipe yang sama. Sayang kan kalau tak ada yang memakainya. Hanya akan tersimpan di sudut kamar hingga berdebu.


Dan kasus double barang seperti ini memang sering terjadi. Ketika Mas Tama atau Mas Sada memberinya hadiah produk teknologi digital terbaru. Yang sebenarnya sudah ia miliki.


Sepertinya Mas Tama dan Mas Sada tak kunjung paham, jika ia termasuk remaja yang up to date dalam hal teknologi. Karena setiap merk buah tergigit meluncurkan produk terbaru, ia pasti akan langsung membelinya.


Kini kepalanya masih dipenuhi oleh pikiran tentang bagaimana membujuk Cakra agar mau memakai ponsel dan laptop terbaru hadiah dari Mas-masnya. Ketika Cakra beranjak untuk masuk ke dalam kamar.


Namun tak lama kemudian kembali keluar dengan membawa dua lembar kertas berukuran A3 yang telah selesai di print.


"Apaan nih?" tanyanya tak mengerti ketika Cakra meletakkan selembar kertas A3 di hadapannya.


"Our Journey?" tanpa menunggu jawaban dari Cakra, ia telah lebih dulu membaca judul yang tertera besar-besar di bagian atas kertas.


"Maksudnya?" tanyanya masih tak mengerti.


Di sana tertera jadwal rangkaian ujian yang akan mereka lalui. Mulai dari USBN, UNBK, hingga hari pengumuman kelulusan SMA. Lengkap dengan waktu, tempat, dan mata pelajaran yang akan diujikan.


"Rajin amat?" cibirnya sembari tersenyum. Sekedar menutupi kekagumannya akan ke well organized an Cakra. Yang sama sekali tak terpikirkan olehnya untuk membuat milestone sedetail ini hingga waktu pengumuman kelulusan dua bulan yang akan datang.


"Our mapping life," lanjut Cakra dengan wajah penuh kepuasan.


Membuatnya kembali tersenyum dengan kening berkerut.


"Kamu tahu, Ja, pembalasan apa yang paling sempurna?"


"Apaan tuh?" ia terus saja tersenyum sembari menggelengkan kepala karena tak juga mengerti maksud Cakra.


"Success is the best revenge," Cakra menjawab sendiri pertanyaannya dengan penuh keyakinan.


"Itu semua orang juga tahu," kali ini ia mencibir.


"Dan ini jalan kita menuju ke sana," lanjut Cakra semakin yakin.


Membuatnya kembali memperhatikan tulisan yang tertera di dalam kertas A3. Namun kali ini dengan lebih seksama.


Selain jadwal ujian lengkap, di sana juga tertulis waktu pengumuman SNMPTN, pendaftaran SBMPTN, kelulusan SMA, hingga Simak (seleksi masuk) Kampus Jakun. Dan yang paling membuat matanya melotot adalah due date kelahiran bayi mereka.


"It's us, against the world," Cakra mengulurkan tangan sembari tersenyum.


Namun matanya justru berkaca-kaca. Karena ucapan Cakra membuat hatinya langsung meleleh tanpa ampun. Terlebih saat ia mendapati nyala di kedua mata Cakra.


Nyala yang selama ini padam. Nyala yang selama ini coba ia kobarkan namun tak berhasil jua. Nyala yang membuat Cakra menjadi lebih hidup. Takkan lagi menyerah pada keadaan. Sesulit apapun itu.


"Kok malah nangis, Ja?" kini giliran Cakra yang tak mengerti.


"Aku salah ngomong ya?"


"Aku minta maaf kal...."


Namun ia buru-buru menggelengkan kepala keras-keras. Karena Cakra sama sekali tak mengatakan hal yang salah. Cakra justru sedang membuat hatinya membuncah diliputi kebahagiaan.


Dan dari mata berairnya yang cukup menghalangi pandangan. Ia segera meletakkan telunjuk di antara time line yang tertera di atas kertas.


"Ini ada yang kurang," ujarnya setelah menyusut hidung.


"Yang mana?" Cakra ikut mencondongkan badan berusaha melihat apa yang sedang ditunjukkan olehnya.


"Pendaftaran SBMPTN," jawabnya dengan suara serak. "Belum ada nama kamu."


"Kamu juga harus daftar SBMPTN!"


"Enggak, Ja, aku har...."


Tapi ia buru-buru memotong ucapan Cakra, "Enggak ada tapi!"


"Tadi katanya us against the world!" kini ia tak lagi menangis. Mulai bersungut-sungut karena Cakra kembali keras kepala.


"Kalau aku gagal SNM, kita bakalan daftar SBMPTN sama-sama!" lanjutnya cepat tanpa memberikan kesempatan pada Cakra yang sudah setengah membuka mulut untuk menyanggah.


"Deal?!" pungkasnya seraya mengacungkan jari kelingking ke arah Cakra.


Tapi Cakra justru hanya mematung. Tak langsung menyambut uluran kelingkingnya.


"Success is the best revenge!" ujarnya dengan mimik mengkerut karena Cakra masih saja diam tanpa ekspresi.


"Ya ampun Cakra," kini ia menarik uluran jari kelingkingnya dengan kesal.


"Daftar doang nggak ada salahnya kan?!


"Kenapa mesti seberat ini?!"


"Ini daftar juga belum! Seolah-olah kamu lagi bingung mau ambil yang di Jakun apa Ganapati?! Please deh!" gerutunya tak mampu menyembunyikan rasa kesal.


Nyala di kedua mata Cakra yang memenuhi relung hatinya mendadak sirna dalam sekejap.


"Trus maksudnya success is the best revenge apa?!"


"Kita berdua bisa lulus dengan nilai terbaik, Ja," Cakra akhirnya bersuara.


"Itu belum sukses," jawabnya yakin. "Sukses itu, kamu, kita, sama-sama kuliah di tempat yang diinginkan."


Tapi Cakra justru menghela napas panjang.


"Daftar doang Cakra," sungutnya tak habis pikir. "Bukan berarti kamu keterima kan?"


"Namanya juga nyoba!"


"Ge-er banget deh kalau kamu pasti keterima! Sampai daftar aja mesti mikir seribu kali!"


Ia masih bersungut-sungut sambil menggerutu ketika Cakra menatap matanya dalam-dalam. Sembari berkata, "Daftar doang?"


"Daftar doang!" jawabnya yakin. "Terus ikut test! Gitu aja mesti pusing sih?!?"


Cakra tersenyum, "Oke, deal!" kali ini Cakra langsung menautkan jari kelingking mereka berdua.