Beautifully Painful

Beautifully Painful
161. Unforgettable Moments



Hari Pertama


Cakra


Ia baru pulang dari Masjid dan tengah berganti baju. Ketika ponsel yang tersimpan di atas meja belajar menggelepar tanda ada panggilan masuk.


Anja Calling


Dengan masih mengancingkan kemeja seragam SMA, ia pun menyentuh lingkaran berwarna hijau untuk mengangkat panggilan video dari Anja.


"Good morniiiiiing, anak SMA....," seru Anja riang.


Ia hanya tertawa mendengar sapaan riang Anja.


"Pagi, Ja," jawabnya dengan senyum diku lum. Sembari memastikan jika ia telah mengaitkan seluruh kancing kemeja dengan benar.


"Pagi juga Aran," sapanya demi melihat Anja tengah mengASIhi Aran.


Aran yang sedang mencecap dengan rakus mendadak melepaskan diri begitu mendengar sapaannya.


"Hmmm," Anja mencibir. "Aran hapal banget deh sama suara Abang."


Ia terkekeh, "Hai, boy! Lihat sini!"


Tapi Aran terlihat tak berminat untuk mengikuti permintaannya. Justru kembali melahap sumber kehidupan lalu kembali mencecapnya dengan ekspresi yang bertambah rakus.


Dan perilaku bayi laki-laki tersayangnya itu berhasil membuatnya tergelak, "Aran...Aran...."


"Aran kayaknya tahu deh kalau aku mau di ospek," Anja kembali mencibir. "Feeling so good."


"Dari jam tiga udah bangun, gila!" lanjut Anja seraya menggelengkan kepala.


"Jam tiga?" ia ikut mengernyit. "Kamu nggak tidur dong?"


"Yap!" Anja mengangguk mantap. "Dan sampai sekarang Aran belum bobo lagi. Ampun deh."


"Untung ada Teh Cucun tidur di sini," kini Anja mengarahkan layar ponsel pada Teh Cucun yang sedang duduk di salah satu sisi tempat tidur dengan wajah mengantuk.


"Jadi aku bisa cek ricek lagi OKKJ Kit yang mau dibawa hari ini," lanjut Anja yang kali ini sambil tersenyum.


"Makasih banyak, Teh Cucun," ujarnya dengan suara yang sedikit dikeraskan agar bisa terdengar oleh Teh Cucun.


"Sami-sami, Den," meski berwajah mengantuk, Teh Cucun masih bisa menjawabnya.


"Jalan jam berapa?" tanyanya sambil melihat pergelangan tangan kanan.


"Habis Aran selesai nen, langsung berangkat."


Dan begitu Anja menutup panggilan video, ia segera memeriksa perlengkapan yang wajib dibawa saat OBKM (Orientasi Belajar Keluarga Mahasiswa). Dari barang keperluan pribadi sampai ponco dan name tag.


Setelah yakin semuanya lengkap dan tak ada yang tertinggal. Ia pun buru-buru meraih ransel kemudian keluar menuju ke ruang makan.


"Sarapan dulu, Den," sapa Teh Juju yang telah menyiapkan sarapan.


"Nuhun (terimakasih), Teh," ia langsung mendudukkan diri dan bersiap untuk makan.


Sebab kegiatan OBKM yang kabarnya banyak diisi dengan berjalan kaki, jelas memerlukan ketahanan stamina fisik yang prima. Dan sarapan bisa menjadi salah satu pondasinya.


Ia melirik pergelangan tangan kanan, jam 04.55 WIB.


Sambil terus menyuap dan mengunyah sarapan, ia pun mencoba mendial nomor Anja.


Dan langsung tertawa ketika layar ponsel memperlihatkan Anja yang kini sudah duduk di dalam mobil. Mengenakan kemeja warna putih dengan rambut diikat ekor kuda.


"Udah jalan?"


"Udah," jawab Anja. "Abang baru sarapan?!"


Ia mengangguk, "Kamu udah sarapan belum?"


Anja meringis sambil memperlihatkan kotak bekal yang tersimpan di atas pangkuan. Dengan isi yang tinggal tersisa setengahnya.


Ia tersenyum sambil mengacungkan jempol, "Sarapan yang banyak, Neng cantik. Biar setrong."


Anja balas tertawa sambil menyuap sesendok makanan ke dalam mulut.


"Ospek Kit sama Cooler bag aman?" ia mencoba mengingatkan.


Anja mengangguk dengan mulut penuh mengunyah makanan, "Aman semua."


"Termasuk ini nih," sambung Anja seraya menunjukkan kartu bertali kuning yang menggantung di leher. Bertuliskan,


...Klinik Satelit Jakun...


...Kartu Batas Aktivitas Fisik...


Nama. : Anjani Prameswari


NPM. : 0218010437


Fakultas. : Kedokteran Gigi


Dokter yang memberikan : dr. Al Fathiya


Ia kembali tersenyum demi melihat kartu yang ditunjukkan oleh Anja. Lalu mengangguk seraya mengacungkan jempol.


"Oya, aku berangkat bareng Dipa, nih," ujar Anja seraya mengarahkan layar ponsel ke kursi sebelah. Dimana Dipa tengah duduk dan terlihat sedang berbicara melalui ponsel.


Ia tersenyum. Sementara Dipa mengangkat tangan sebagai tanda sapaan.


"Sekalian," lanjut Anja. "Daripada bawa mobil masing-masing. Yang ada malah ribet karena pasti akses jalan keluar masuk ke Kampus macet."


Lagi-lagi ia mengacungkan jempol. Kali ini sebagai ungkapan persetujuan.


Bahkan, tanpa Anja memberi penjelasan pun ia tak ada niatan untuk bertanya. Mengapa harus berangkat bersama dengan Dipa.


Sebab baginya, Dipa tak lagi menjadi ancaman. Meski bukan berarti mereka telah berteman.


"Buru sarapannya," cibir Anja. "Ntar telat lagi."


Ia tertawa sembari berseloroh, "Setra Duta - Garaga (Gelanggang Olah Raga Ganapati) santai lah."


"Paling macet pas mau masuk Garaga sama hese (susah) nyari parkir."


Anja tertawa sambil menggelengkan kepala, "Udah fasih bahasa Sunda nih?"


"Harus dong," ia mengangguk mantap. "Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung."


 -----------------------------------------


Jam 06.00 WIB adalah batas waktu close gate (penutupan gerbang) memasuki area Garaga. Dimana suara riuh dari dalam lapangan langsung terdengar ketika ia berjalan dari parkiran kendaraan roda dua menuju ke tempat opening ceremony.


"Selamat datang adik-adik semua


Masuk Ganapati belum tahu apa-apa


Mau nambah wawasan


Mencari jodoh idaman."


Begitu yel-yel yang diserukan oleh puluhan panitia berkaos kuning di tengah-tengah lapangan. Yang langsung disambut tepuk tangan riuh dari para maba.


"Langsung cari keluarga kamu," ucap seorang panitia berkaos hitam.


Mungkin karena melihatnya sedikit kebingungan hendak masuk ke barisan yang sebelah mana. Sebab semua maba terlihat sama, karena seluruhnya mengenakan Jamal (jaket almamater) berwarna biru tua.


"Name tag dipakai," ujar panitia berkaos hitam lainnya. Ketika ia tengah menyisir sisi lapangan guna mencari barisan keluarganya. Yaitu keluarga 151.


Ia pun buru-buru mengeluarkan name tag dari dalam ransel. Kemudian memakainya.


Sementara di tengah lapangan, para panitia berkaos kuning masih terus menyerukan yel-yel dengan penuh semangat.


"Selamat datang adik-adik semua


Masuk ke Ganapati itu luar biasa


Karena sekali kita teman


Selamanya tetap teman"


Ia masih mencari-cari barisan keluarga 151, ketika sebuah tangan terlihat melambai ke arahnya dari kejauhan.


Dan langsung tertawa begitu mengetahui jika itu adalah Adit.


***


Anja


"Sini biar gue bawa sendiri," ia berusaha meraih cooler bag yang menggantung di bahu kiri Dipa. Ketika mereka tengah berjalan kaki dari parkiran kendaraan roda empat menuju ke tempat presensi maba. Dibawah pengawasan puluhan panitia berjaket kuning yang tersebar di banyak titik.


"Biar," namun Dipa lebih dulu menghindar. "Biar gue yang bawa."


Ia hanya meringis. Tak ingin menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Dipa.


Dan di sekitar mereka terdapat ratusan maba lain yang juga mengenakan dress code serupa. Yaitu kemeja warna putih dan celana panjang/rok warna hitam. Sama-sama tengah berjalan kaki menuju ke tempat presensi Fakultas.


"Siniin," ia kembali meminta cooler bag dari tangan Dipa.


Ketika mereka tengah mengantre di barisan yang mengular menuju meja Fakultas masing-masing.


Namun Dipa bersikukuh untuk tetap membawa cooler bag, "Nanti kalau udah sampai Balairung, gue kasih ke elo."


"Lumayan jauh soalnya," lanjut Dipa. "Ntar elo keburu pingsan lagi bawa barang segini banyaknya. Mana berat lagi."


Ia hanya mencibir.


Dari tempat presensi, mereka diarahkan oleh panitia untuk berjalan kaki menuju ke Balairung. Dan begitu sampai di pintu masuk, Dipa akhirnya bersedia menyerahkan cooler bag padanya.


"Thanks, Dip."


"Nanti pulangnya tunggu gue," jawab Dipa. "Biar kita jalan bareng ke parkiran."


"Tuh tas seberat itu biar gue yang bawa," lanjut Dipa sambil menunjuk ke arah cooler bag yang baru saja dipegangnya.


Kini ia telah duduk di antara deretan para maba FKG. Tengah menanti dimulainya opening ceremony OKKJ. Sembari saling menyapa ke sebelah kanan dan kiri.


Beberapa nama dan wajah sudah sempat dikenalnya ketika mengikuti serangkaian Kamaru (kegiatan mahasiswa baru) beberapa hari lalu. Diantaranya adalah Airin dan Nesa, yang kini duduk tepat di sampingnya. Feeling mengatakan, jika mereka bertiga akan berteman baik.


***


Cakra


Opening ceremony OBKM dimulai dengan parade dari seluruh massa himpunan yang ada di Ganapati. Dengan penampilan dan atribut yang menarik serta unik. Parade massa himpunan seolah menjadi upacara sambutan yang meriah bagi para maba.


Lalu disusul dengan penampilan dari unit rumpun seni dan budaya di atas panggung utama. Sambutan dari Rektor, beberapa pejabat terkait dan Presiden KM (keluarga mahasiswa). Dilanjutkan dengan acara inti, yaitu pembukaan kegiatan OBKM oleh Rektor.


Dan pengucapan salam Ganapati oleh seluruh maba secara bersamaan, dibawah komando Nata sebagai Presiden KM. Menjadi penanda jika opening ceremony telah berakhir. Bersamaan dengan pelepasan burung merpati yang dilakukan oleh para panitia OBKM di tengah lapangan.


***


Anja


Penampilan dari beberapa maba terpilih menjadi awal dari rangkaian opening ceremony OKKJ. Salah satunya adalah Dipa. Yang duduk di balik piano, mengiringi seorang maba cantik menyanyikan You Are The Reason nya Calum Scott.


"Gila! Keren abiiis," gumam Airin dan Nesa hampir bersamaan. Ketika Dipa dan maba cantik mengakhiri tampilan mereka. Yang langsung disambut gemuruh tepuk tangan seisi Balairung.


"Kayaknya dia anak FKU deh," sambung Dewi yang duduk di depan mereka.


"Yang cowok apa cewek?" tanya Nayshila ingin tahu.


"Cowok lah. Dia cute bangeeet nggak sih," jawab Dewi yang masih memandangi panggung dengan mata berbinar. Meski Dipa dan maba cantik telah undur diri. Dan kini telah berganti dengan penampilan lain.


"Beneran pemain piano tadi anak FKU?" Airin rupanya tertarik dengan obrolan Dewi dan Nayshila.


"Kalau nggak salah ingat, gue pernah bareng waktu Welmab (welcoming mahasiswa baru) anak SNM," Dewi menoleh ke belakang. "Cowok piano itu seingat gue ada di stand nya FKU."


Well Dipa, batinnya sambil tersenyum demi mendengar keantusiasan teman-temannya.


Sebentar lagi, lo bakal jadi most wanted to die for nya cewek-cewek RIK (Rumpun Ilmu Kesehatan) nih.


***


Cakra


Sekitar jam 09.30 WIB, ketika matahari mulai terik menyengat kulit. Panitia mengarahkan mereka untuk beranjak dari Garaga menuju ke lapangan Sipil dan Seni rupa untuk mengikuti sesi selanjutnya, yaitu kegiatan mentoring.


"Halo semua, perkenalkan, nama gue Keanu Al-Ghazali dari Teknik Mesin," sapa Keanu, mentor keluarga 151 ketika mereka telah duduk melingkar di lapangan Seni Rupa.


"Gue Yura Uno dari Biologi."


"Gue Edelweiss dari Arsitektur."


"Kami bertiga yang akan mendampingi kalian selama masa OBKM."


Usai Keanu menjelaskan sedikit narasi seputar kegiatan OBKM, mereka pun dipersilakan untuk saling memperkenalkan diri masing-masing.


Namun ia tak dapat langsung mengingat semua nama. Sebab keluarga 151 berjumlah 25 orang maba yang berasal dari berbagai Fakultas. Selain Adit tentunya, yang telah ia kenal sejak jauh hari sebelumnya.


Dan dari 24 anggota keluarga 151, 25 orang termasuk dirinya. Hanya beberapa maba yang sempat ia ingat namanya. Itupun karena duduk bersebelahan.


Mereka adalah Saliha dari FMIPA (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam), Flacynthia dari FSRD (Fakultas Seni Rupa dan Desain), Reges dari FTMD (Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara), lalu Mario dari FTI (Fakultas Teknologi Industri).


"Kita di sini mau sharing," Keanu mulai membuka forum. "Tentang tanggung jawab terhadap keluarga, masyarakat, juga bangsa dan negara."


Kemudian secara bergantian, Keanu, Yura, dan Edelweiss mulai memaparkan pemikiran masing-masing tentang tema diskusi kali ini.


"Kalian bisa langsung menginterupsi, menyanggah, atau bahkan berbeda pendapat dengan apa yang kami sampaikan," Keanu menggarisbawahi.


"It's okay," lanjut Keanu. "Jangan ragu. Berbeda pendapat itu bukanlah sebuah kesalahan."


"Hanya satu pesan gue," Keanu menatap mereka satu per satu. "Kalian harus tahu cara mainnya."


Kalimat yang diucapkan oleh Keanu membuat mereka berdua puluh lima mengernyit penuh rasa ingin tahu.


"Adab sebelum ilmu, ilmu sebelum amal."


"Perbedaan pendapat pasti ada, tapi tolong... sampaikan dengan cara yang beradab."


"Sesuai dengan predikat kalian sebagai kaum terpelajar."


"Tak harus meninggikan diri untuk melegitimasi pendapat pribadi," lanjut Keanu. "Apalagi dengan merendahkan yang lain."


"BIG NO!"


"Are you ready, guys (apakah kalian siap)?"


"Yes! Yes! Yes!" jawab mereka berdua puluh lima serempak.


***


Anja


Usai opening ceremony, ia harus berpisah dengan teman-teman Maba FKG. Untuk bergabung di tim 51. Bersama 24 orang lainnya dari Fakultas yang berbeda. Mengikuti rangkaian kegiatan OKKJ hari pertama dengan penuh semangat.


"Hai, guys," sapa seorang mentor berjaket kuning pada mereka semua yang telah duduk melingkar di lantai Balairung.


"Kami bertiga akan menjadi mentor kalian selama tiga hari ke depan."


"Perkenalkan, nama gue Reza Rosario dari Fakultas Hukum."


"Gue Rizky Nugraha dari Vokasi."


"Dan gue Cahaya Gemintang dari Geografi. Panggil saja Aya."


"Kita di sini feel free kalau ada yang mau disampaikan," lanjut Reza. "Udah nggak jaman ragu-ragu atau malu seperti masa-masa kita masih di SMA."


"Ungkapkan, sampaikan, harus mulai membiasakan diri bagaimana berdinamika di Kampus."


"Sebab malu bertanya se sad di jalan," seloroh Rizky membuat mereka semua tersenyum simpul.


"Oke, kita mulai dari sharing tentang tugas kemarin," Reza mulai membuka forum. "Ada yang merasa keberatan atau bahkan tak mengerjakan?"


Beberapa orang mulai angkat bicara. Menjelaskan beberapa kendala tentang seabrek tugas Kamaru, terutama tugas OKKJ yang sangat spesifik.


Ketika ia mulai merasa, jika sesuatu telah penuh. Dan ini membuatnya sangat tak nyaman. Sebab harus segera dikeluarkan. Karena jika tidak, mungkin akan merembes kemana-mana meski ia telah mengenakan breast pad.


Tadi sebelum seluruh anggota tim 51 duduk melingkar, ia sempat mendekati Kak Aya sebagai satu-satunya mentor perempuan. Memperlihatkan kartu batas aktivitas fisik yang dikenakannya sembari berbisik, "Maaf, Kak, mungkin saya perlu waktu ke toilet setiap dua jam sekali."


Aya mengiyakan dan tak bertanya lebih lanjut. Mengapa ia setiap dua jam sekali harus pergi ke toilet. Mungkin karena kartu batas aktivitas fisik yang dimilikinya.


"Oke," Aya mengangguk. "Tapi harus ijin dulu ke salah satu di antara kami bertiga."


"Baik, Kak."


Dan sekarang menjadi waktu dimana ia harus segera pergi ke toilet.


"Oke," Reza yang sedang menjelaskan tentang analisis SWOT (Strength, Weakness, opportunities, threats) memberinya ijin untuk pergi ke toilet.


"Sori, siapa nama lo?" sambung Reza sebelum ia sempat beranjak.


"Anjani."


"Oke Anjani, pastikan lo nggak ketinggalan esensi dari diskusi kita kali ini."


"Segera tanyakan sama teman lo tentang apa saja yang kami diskusikan selama lo pergi ke toilet."


"Siap, Kak."


Dengan tergesa dan setengah berlari ia berjalan menuju ke toilet. Sangat berharap belum terlambat. Sebab kini ia merasa, baju bagian atas telah basah.


"Anjani?! Mau ke mana?!" sapa seseorang yang tak sempat dilihatnya, karena keburu berbelok masuk ke toilet.