Beautifully Painful

Beautifully Painful
163. Semua Karena Cinta



Cakra


Namun sebelum maba dibubarkan, tiga kepanitiaan dalam OBKM lebih dulu memberikan salam perpisahan melalui yel-yel keren. Mulai dari keamanan, medik, dan terakhir adalah para mentor.


"KANG KEANNNN!!!" pekik seluruh maba cewek di keluarga 151. Demi melihat Keanu yang berdiri di barisan paling depan hendak memberi aba-aba.


"NGGAK KELIHATAN!!" teriak maba cewek dari keluarga lainnya.


"NAIK KE PANGGUNG, KANG KEAN!!" seru Reges yang berdiri di antara dirinya dan Adit.


"Ah elah!!" sungut Adit karena teriakan Reges benar-benar memekakkan telinga.


"Sori! Sori!" Reges tertawa dengan wajah tanpa dosa.


Sementara teriakan yang meminta Keanu untuk naik ke atas panggung, kian santer terdengar.


"Ssssttttt!! Ssssttttt!!"


"Cicing (diam). Cicing (diam)."


"MENTOR! TUNJUKKAN PESONAMU!" seruan Keanu menjadi aba-aba bagi sekitar 400an lebih mentor yang telah menempatkan diri di tengah lapangan.


"HAI, MABA!"


"KAMI MENTOR DI SINI!"


"YANG AKAN MENDAMPINGI. DARI PAGI SAMPAI MALAM!"


"HAI, MABA!"


"SERAHKAN SEMUA KE MENTOR!"


"MENTORNYA KECE-KECE! MABANYA PASTI OKE!"


"HATI MABA BAHAGIA, MABA CERDAS, MANTAP JIWA!"


Kemudian diselingi oleh atraksi tepuk tangan, yang membuat seisi lapangan bergemuruh karena sorak sorai.


"MENTOOOOR!!" teriak Keanu.


"HANYA UNTUK MABA!" jawab seluruh mentor yang berada di tengah lapangan.


Dan yel perpisahan dari panitia mentor, menjadi penghujung OBKM yang manis bagi mereka semua.


"Cakra, Cak!" seru seseorang dari balik punggungnya. Ketika ia yang tak sengaja berpapasan dengan Faza, tengah mengobrol sambil berjalan menuju ke tempat parkir.


"Ya?" ia menoleh dan mendapati Adit sedang setengah berlari menuju ke arahnya.


"Kamu pulang ke arah mana?" tanya Adit. "Bawa kendaraan kan?"


Ia mengangguk, "Kenapa?"


"Bisa tolong anterin Ayu pulang nggak?"


"Dia tinggalnya Babakan Jeruk. Kalau kamu, lewat mana?"


"Babakan Jeruk?" ia mengernyit.


"Daerah belakang hotel Vio, Pasteur," jawab Adit.


Ia masih mengernyit, "Bisa sih, lewat Pasteur. Tapi...."


"Oke, kalau gitu gua duluan," Faza menepuk bahunya. "Ntar kapan-kapan diusahain deh mampir ke tempat lo."


Ia mengacungkan jempol ke arah Faza, "Sip! Ditunggu!"


Ketika ia dan Adit masih memperhatikan kepergian Faza, seseorang tiba-tiba menepuk punggung Adit dengan lumayan keras.


"Dit!"


"Gue jadinya pulang bareng Rio."


"Dia rumahnya Cibogo ternyata. Mayan searah," seloroh Ayu dengan senyum lebar.


"Oh," Adit mengangguk. "Oke deh."


"Kita duluan ya," ucap Rio yang berdiri di belakang Ayu. Berlalu sembari melambaikan tangan ke arah mereka berdua.


"Aku pulangnya ke Cisitu, nggak mungkin nyempal ke Pasteur kan?" Adit memberi alasan.


Ia hanya tertawa.


"Kamu tinggal di Pasteur?" tanya Adit saat mereka kembali melangkah menuju ke tempat parkir.


Ia menggeleng. "Sekitaran Sarijadi."


Adit manggut-manggut.


Ia sempat berpikir sebelum kembali berkata, "Dit, honestly (sejujurnya), gua nggak buka ojekan buat cewek. Sorry."


Adit sempat mengernyit sebentar, lalu tergelak, "I know...i know...."


Kini gantian dirinya yang mengernyit. Sementara tempat parkir sudah berada di depan mata.


"Jadi, cewek kamu anak mana?" Adit melihat ke arahnya sambil menyeringai.


"Jakun."


"Mantap jiwa," Adit mengangguk. Namun dengan ekspresi masih menyeringai.


"Dan dia bukan cewek gua," jawabnya dengan mata menerawang. Memandangi tempat parkir yang hiruk pikuk oleh suara orang berbicara beserta deru mesin motor.


"Tapi bini gua," lanjutnya seraya menyunggingkan seulas senyum.


Sontak membuat Adit kembali tergelak, "Sa ae."


Namun ia buru-buru menyergah, "Serius gua."


Kini giliran Adit yang melongo melihat ke arahnya.


"Dan gua udah punya anak satu," lanjutnya sambil terus tersenyum.


"Cowok. Namanya Aran."


Yang berhasil membuat Adit semakin melongo.


***


Anja


Agenda hari ketiga setelah menyerahkan kartu absen bertuliskan "Datang" di halaman depan Balairung, adalah program maba cinta kampus. Di mana para maba akan diajak mengelilingi hutan dan danau yang sangat luas. Untuk membersihkan lingkungan dari sampah. Guna menyukseskan program green campus.


Para maba juga akan melepaskan burung di hutan, dan juga ikan di danau. Serta diberi pengetahuan tentang do's (harus dilakukan) and don't (tidak boleh) jika suatu saat terjadi kebakaran.


Kemudian para maba kembali diarahkan untuk memasuki Balairung. Guna mengikuti kegiatan gladi resik paduan suara. Yang akan ditampilkan pada acara graduasi (wisuda) dan penerimaan mahasiswa baru.


Ada hampir lebih dari 15 judul lagu yang mereka nyanyikan ketika gladi resik. Mulai dari Hymne Jakun, satu lagu berbahasa latin, dan beberapa lagu wajib nasional lainnya.


"Kulepas dikau pahlawan


Kurelakan dikau berjuang


Demi keagungan negara


Kanda pergi ke medan jaya


Bila kanda teringat


Ingatlah adik seorang"


(Titiek Puspa, Pantang Mundur)


Lalu acara puncak OKKJ ditutup dengan sesi OKKJ talks dan parade maba.


Untuk tahun ini, speaker yang diundang oleh panitia adalah seorang konglomerat muda. Yang berhasil meraih kesuksesan di berbagai bidang dalam usia yang masih teramat muda.


"Mari kita sambut tamu kehormatan kita kali ini...Bang Rajas Rafsanjani," seru Erzal yang didapuk menjadi moderator.


Begitu seorang pria berkemeja batik naik ke atas podium, suasana seisi Balairung langsung pecah. Diikuti kilatan blitz yang menyala dari segala penjuru.


"Ya ampun Bang Rajas....," gumam hampir semua orang yang duduk di sekitarnya.


Sementara ia hanya menatap ke arah podium sambil mengernyit. Sebab sudah terlalu sering melihat penampakan Rajas jika sedang bertandang ke rumahnya.


"Lo kok santai aja sik, Ja?" Azizah melihat ke arahnya tak mengerti. Sebab ketika hampir semua orang mengarahkan kamera ponsel ke podium, ia justru mengetik pesan chat untuk Cakra.


"Nggak doyan dia," seloroh Nuri. "Udah punya laki sendiri yang lebih kece."


Azizah mencibir. Sementara ia tertawa seraya mengangkat bahu.


Selain Rajas, main speaker lainnya adalah seorang menteri yang juga merupakan alumnus Jakun.


Jelang petang, serangkaian acara OKKJ selama tiga hari akhirnya resmi ditutup usai parade maba.


 ------------------------------------


Ia menatap Cakra yang kini tengah tersenyum. Ketika di malam yang telah larut ini, mereka kembali melakukan panggilan video.


"Cape, Neng?"


Ia mengangguk, "Banget."


"Tulang kayaknya mau rontok," imbuhnya setengah mencibir.


Cakra terkekeh.


Dan kejadian serupa ketika melakukan panggilan video pun terulang. Yaitu dimana mereka hanya saling berdiam diri dengan mata yang terus bertautan.


"Abang belum bisa pulang ya?"


Cakra menatapnya dengan wajah menyesal, "Besok ada tes TOEFL."


Ia menghembuskan napas panjang.


"Terus pengenalan kegiatan kuliah dari LTDB (Lembaga Tahap Dasar Bersama)," lanjut Cakra.


"Ketemu dosen wali."


"Ngurus administrasi beasiswa UKT."


"Open house unit."


"Jadi...kapan kita ketemuannya?" desis mereka berdua hampir bersamaan.


Sejurus kemudian Cakra tersenyum kecut, "Idul Adha aku usahain pulang."


Ia kembali mencibir, "Harus."


***


Cakra


Ia pikir usai OBKM bisa pulang sebentar ke Jakarta. Namun rupanya jadwal yang lumayan padat telah menunggu.


Mulai dari tes TOEFL, mengurus administratif beasiswa UKT, pengenalan kuliah oleh LTDB. Sampai jadwal bertemu dengan dosen wali. Hingga mengikuti inaugurasi (pelantikan) ketua himpunan, unit, dan kabinet KM.


Seperti sore ini, usai mengikuti sesi pengenalan kuliah yang diselenggarakan oleh LTDB, ia dan 400an maba satu angkatan berkumpul di Amphitheater Gedung Kuliah Barat. Guna melakukan pertemuan pertama forum angkatan.


"Pertama-tama, kita akan menentukan ketua himpunan," ucap Daniel di hadapan mereka semua.


Ia yang sedang asyik berkirim pesan chat dengan Anja, terkejut ketika seseorang meneriakkan namanya menjadi salah satu kandidat Kahim (ketua himpunan).


"Wah, jangan gua," elaknya spontan.


Tapi tak seorangpun yang menggubris keberatannya. Bersama Daniel, Adit dan Reges, mereka diwajibkan untuk melakukan promosi dan sosialisasi proker (program kerja) jika terpilih menjadi Kahim.


Selain Kahim, mereka juga melakukan pemilihan Ketang (ketua angkatan). Yang secara aklamasi memilih,


"Adiiiiit!!!" seru hampir semua orang dengan semangat 45. Termasuk dirinya.


Adit yang kebetulan duduk di sebelahnya menggeleng tak setuju, "Guys, yang bener aja mau nemplokin kerjaan segitu banyaknya ke aku?"


"You deserve, Dit," seru orang-orang. Sama sekali tak mempedulikan keberatan Adit. "You deserve."


Dan dari serangkaian kegiatan pasca OBKM yang paling ditunggu-tunggu adalah Open House Unit. Yaitu pameran dari seluruh unit yang terdapat di Ganapati. Di mana sekitar 80an lebih unit mendirikan booth mereka masing-masing. Sekaligus membuka pendaftaran bagi para maba.


Pagi-pagi ia sudah berkumpul kembali bersama seluruh anggota keluarga 151 dan ketiga mentor. Sebelum mengikuti serangkaian acara seru Open House yang berlangsung sehari penuh.


Puncaknya adalah parade dari seluruh unit yang ada di depan Boulevard. Dilanjutkan closing performance. Yang mengundang beberapa bintang tamu sekaligus. Termasuk band paling hits dari ibukota.


Dan dari puluhan Unit menarik yang ditampilkan. Ia hanya memilih satu, yaitu Liga Film. Sesuai dengan kecenderungan yang dimilikinya sejak SMA. Berharap di masa kuliah ini bisa semakin terasah.


***


Anja


Kegiatan pasca OKKJ ternyata justru bertambah padat. Sederet jadwal telah menunggu. Tanpa ada satu sesi yang bisa terlewatkan.


Ia bahkan tak bisa ikut mengantar Aran untuk melakukan vaksin yang kedua. Hingga akhirnya Bidan Karunia yang diundang untuk datang ke rumah.


Itu pun ia tak ikut mendampingi Aran saat proses vaksinasi dilakukan. Sebab full seharian mengikuti kegiatan kampus.


"Nanti kita janjian lagi dengan Bu Bidan," hibur Mama ketika malam ini ia baru pulang dari kampus.


"Kamu juga harus periksa di masa akhir nifas kan?"


Ia meringis. Sampai lupa jika dua hari lalu ia sudah bersih sempurna.


"Bu bidan tadi nanya, mau pakai KB apa?" tanya Mama setengah menyelidik. "Biar disiapkan."


Ia hanya mengernyit bingung, "Menurut Mama apa?"


Mama terkekeh, "Ya kamu sayang, yang menentukan mau pakai KB apa."


"Senyamannya aja."


Ia hanya mengangkat bahu. Mungkin sudah waktunya ia harus menelepon shoulder to cry on (bahu untuk bersandar dan menangis) nya, yaitu Teh Dara. Untuk berkonsultasi tentang masalah per KB an.


"Cakra pulang kapan?" tanya Mama dengan wajah penuh rasa ingin tahu.


Ia kembali mengangkat bahu, "Nggak tahu, Ma."


"Udah mulai kuliah soalnya."


"Cepet amat?" Mama mengernyit. "Kamu bukannya masih orientasi kegiatan kampus?"


Ia mencibir, "Kalau di tempat Abang kan beda, Ma. Mereka ada tahap dasar gitu deh di semester awal."


"Kemarin aja Abang udah masuk kelas," lanjutnya mengingat percakapan terakhir mereka melalui panggilan video.


"Udah pembagian silabus kuliah gitu-gitu deh."


"Oh," gumam Mama dengan ekspresi wajah sedang memikirkan sesuatu.


"Tapi Idul Adha bisa pulang ke sini?" tanya Mama ingin tahu.


"Tahu deh, Ma," lagi-lagi ia mengangkat bahu. "Abang libur cuma sehari itu doang pas tanggal merah."


"Sehari sebelum dan sesudah Idul Adha malahan ada kelas pagi katanya."


"Baru masuk kuliah kok udah sibuk banget begitu?" gumam Mama dengan kening mengkerut.


Sementara ia hanya menghembuskan napas dengan wajah sebal. Sebab pertemuannya dengan Cakra bisa dipastikan akan semakin molor.


***


Cakra


Tadi pagi ia baru mengikuti pre test TDB (Tahap Dasar Bersama). Tujuannya adalah untuk mengetahui metode pembelajaran yang tepat.


"Udah nggak usah pada belajar," seloroh Rio. "Ntar malah disusahin lagi soal-soalnya."


Siangnya ia berkumpul bersama maba lain yang memilih unit Liga Film. Sebagai bentuk perkenalan awal. Sebelum nantinya mereka wajib mengikuti beberapa tahapan. Hingga akhirnya bisa resmi menjadi anggota unit.


Usai mengikuti kegiatan di Liga film, ia telah ditunggu oleh Daniel, Adit, dan juga Reges. Yang mengajaknya untuk berkumpul di Magna Books & Cafe.


"Gua mundur," ujarnya yakin. Ketika mereka tengah membahas tentang forum angkatan dan pemilihan Kahim.


"Gua cuma mau fokus kuliah," lanjutnya semakin yakin. "Nggak minat ikut banyak kegiatan."


"Coba dulu napa?" Daniel berusaha meyakinkannya.


Namun ia tetap bergeming. Tujuannya pergi ke Bandung jelas untuk menimba ilmu di bangku kuliah. Lulus secepat mungkin. Agar bisa memperoleh pekerjaan yang lebih menjanjikan demi masa depan.


Bukan sebagai ajang pencarian jati diri atau sekedar aktualisasi peran yang lebih luas.


"Udah jadi bapak dia," seloroh Adit. "Mikirnya beda."


Sementara Daniel dan Reges langsung melihat ke arahnya dengan pandangan, for sure?


Tak terasa, perbincangan mereka di Magna Books & Cafe berlangsung hingga petang hari.


"Sekalian gua traktir deh yang lagi puasa," gumam Daniel dan Reges hampir bersamaan. Pada dirinya dan juga Adit. Yang memang sedang menjalankan puasa Arafah.


Ia dan Adit tersenyum secara bersamaan pula. Mungkin sama-sama merasakan hal yang tak terdefinisikan. Sebab Daniel dan Reges berbeda keyakinan dengan mereka.


"Gaspol lah," seloroh Adit setengah bercanda.


"Makasih, Dan, Reg," gumamnya sebelum mulai memesan hidangan untuk berbuka.


 ---------------------------


Mereka terus bercakap memperbincangkan banyak hal. Jelas menjadi satu hal yang lumayan baru baginya. Sebab ketika SMA, ia sama sekali tak memiliki 'teman' di sekolah. Bahkan untuk sekedar saling bercanda membahas hal random yang tak penting.


Dan di sepanjang perjalanan pulang dari Magna menuju ke rumah, sayup-sayup telinganya mendengar suara takbir yang berkumandang. Menelusup hingga ke dasar sanubari. Menimbulkan perasaan sunyi yang tiba-tiba menyelimuti. Sekaligus mendatangkan suasana hampa yang cukup mengganggu.


Allaahu Akbar Allaahu Akbar Allaahu Akbar


Laa Ilaaha Illallaahu Wallaahu Akbar


Allaahu Akbar Walillaahilhamd


"Den," sapa Mang Ujang ketika ia memasukkan motor ke dalam garasi.


"Barusan ada telepon dari Neng Anja."


"Oya?" ia mengernyit. "Kenapa katanya, Mang?"


"Neng Anjanya enggak pesan apa-apa, Den," jawab Mang Ujang. "Cuma nanyain Den Cakra ada di rumah atau enggak?"


"Oh," ia mengangguk. "Nuhun, Mang."


Setelah memposisikan motor di dalam garasi, ia pun buru-buru mengambil ponsel di dalam saku.


5 Missed Calls


Wah, ternyata Anja juga menelpon ke ponselnya. Apakah ada yang penting?


Ia segera mendial nomor Anja.


Namun yang terdengar hanya nada sambung tanpa sekalipun diangkat.


Begitu pula ketika ia kembali menghubungi nomor Anja untuk yang ke sekian kalinya. Hanya terdengar nada sambung, lalu putus dengan sendirinya sebab tak kunjung diangkat.


Sementara dari kejauhan, sayup-sayup masih terus terdengar suara takbir saling bersahutan.


Allaahu Akbar Allaahu Akbar Allaahu Akbar


Laa Ilaaha Illallaahu Wallaahu Akbar


Allaahu Akbar Walillaahilhamd


Ia memandang ke arah jam dinding besar yang berdiri gagah di ruang tengah dengan masygul. Dan tiba-tiba saja di dalam pikirannya melintas sebuah rencana yang menyenangkan.


"Mang?" ia menghampiri Mang Ujang yang sedang duduk-duduk di halaman belakang.


"Ya Den?"


"Sekarang saya mau pulang ke Jakarta."


"Mendadak, Den?" Teh Juju menatapnya tak mengerti.


Ia mengusap tengkuk sambil meringis, "Udah nggak kuat nahan kangen, Teh."


***


Keterangan :


Puasa Arafah. : puasa sunah yang dilaksanakan pada hari Arafah, yakni pada tanggal 9 Dzulhijjah. yaitu hari pada saat jama'ah haji melakukan wukuf di padang Arafah


##Ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya untuk Kak Aldian Alfaridz, yang telah bersedia meluangkan waktu menjadi narasumber all about Ganapati now. Makasih banyak, Kak 👍🙏