Beautifully Painful

Beautifully Painful
64. You and Me Against The World (2)



Dipa


Ia bahkan telah mempersiapkan kado ulang tahun spesial untuk Anja sejak seminggu yang lalu. Sesaat setelah mendapati Tiara selingkuh. Dan mulai menyadari jika ia sebenarnya mencintai Anja. Hanya saja selama ini masih tertutup ego dan lebih memilih untuk menafikkannya.


Jelas langkah yang sangat keliru. Karena ketika ia tersesat, Cakra masuk dengan tanpa permisi dan langsung merenggut Anja nya menuju ke pelaminan. Sungguh ritme yang tak terduga, mengejutkan sekaligus sangat disesalinya.


Tapi, selalu ada harapan bukan? Nothing's impossible. Pasti masih ada jalan. Dan ini salah satunya. Ulang tahun Anja.


Sejak sore, Hanum dan Bening bahkan sudah meneleponnya memberitahu tentang surprise party untuk Anja. Tapi petang hingga malam hari, ia harus menemani Ayah bertamu ke rumah Pakde Puguh. Dan baru kembali lumayan larut. Membuatnya terlebih dulu mengirim pesan chat kepada Bening agar tak menunggu kedatangannya.


Dipa. : 'Gue ke sana jelang 00.00.'


Bening : 'Oke.'


Sempat bermalas-malasan sebentar, jam 23.20 ia pun mulai beranjak pergi ke rumah Anja. Sama sekali tak pernah mengira akan menjumpai banyak kendaraan terparkir di halaman rumah Anja.


Satu, dua,....total ada lima mobil yang terparkir. Dengan satu yang ia hapal betul di luar kepala, mobil milik Yasser.


"Kenapa Yasser bisa ada di sini?" gumamnya heran.


Kebingungannya terjawab begitu memasuki ruang tamu, dimana anak-anak tengah berkumpul. Ia baru akan menyapa Faza yang duduk di paling pinggir, ketika tiba-tiba terdengar teriakan histeris dari ruangan dalam.


"AAAAA?!?!?"


Semua yang ada di ruang tamu mendadak terkesiap. Bumi dan Faza bahkan langsung berlari ke dalam menghampiri arah suara.


"KENAPA LO ADA DI SINI?!?"


Teriakan kedua kembali terdengar. Sontak membuat semua yang ada di ruang tamu menghambur ke dalam dengan cemas. Termasuk dirinya.


"SATPAAAAAM!!!!"


Dilihatnya Hanum berteriak panik dengan wajah pucat di depan pintu kamar Anja. Namun suasana ruang tengah yang cukup temaram membuatnya tak bisa melihat dengan jelas siapa sosok jangkung di depan pintu kamar Anja yang membuat Hanum histeris bak melihat hantu.


"Ada apa nih ribut-ribut?" tanyanya heran seraya menyipitkan mata memperhatikan sosok yang berdiri di depan pintu kamar Anja. Oh, well.


"Owalah, Neng Hanum," Bi Enok bersuara penuh kelegaan. "Kirain ada apa. Ini kan Den Cakra."


"DEN CAKRA?!?" koor anak-anak serempak dengan wajah bingung.


"Suami Neng Anja," imbuh Bi Enok seraya tersenyum.


"SUAMI?!?!"


Sontak membuat semua mata keluar dari tempatnya. Lengkap dengan mulut yang menganga lebar-lebar. Bening bahkan hampir terjatuh jika tak segera ditangkap oleh Bumi. Sedangkan Cakra hanya bisa termangu sembari mengusap tengkuk dengan gelisah.


Ia hampir terbahak karena akhirnya rahasia Cakra terbongkar. Namun sejurus kemudian perasaan penuh suka citanya tiba-tiba berubah haluan demi mendapati wajah mungil Anja yang pucat seperti mayat hidup.


"EH!" diluar dugaan Aldi merangsek maju. "Suami gimana maksud lo?!?" sembari menarik kerah baju Cakra. Sementara Yasser dan Marshall mulai ikut-ikutan memasang badan di belakang Aldi.


"Aduh, Aden....," pekik Bi Enok tak kalah histeris dibanding teriakan Hanum tadi. "Teu kenging gelut didieu (tidak boleh berkelahi di sini)...."


"JAWAB?!?" Aldi yang masih mencengkeram kerah baju Cakra dengan kasar mendorong ke belakang hingga punggung Cakra menghantam pintu kamar dimana Anja berdiri di baliknya.


"Den...Den...Den....," Mang Jaja ikutan panik. "Sepertinya ini ada kesalah pahaman?!"


Ia harus menggelengkan kepala dan menarik pangkal hidung sekeras mungkin karena merasa marah pada diri sendiri. Ketika tanpa sadar telah menarik lengan Aldi agar melepas cengkeraman pada Cakra.


"It's okay," gumamnya dengan dada penuh sesak.


"APA?!?" Aldi terbeliak menatapnya. "BERCANDA LO?!"


"Balik ke depan," gumamnya lagi seraya menarik Yasser dan Marshall agar segera berbalik pergi.


"NGGAK BISA!" Aldi masih terbelalak menatapnya kemudian dalam sekejap kembali menarik kerah baju Cakra.


"Lo mesti jelasin semua!!" geram Aldi yang lagi-lagi mendorong punggung Cakra hingga menghantam pintu.


"Gue jelasin," jawab Cakra dengan kedua tangan terangkat keatas. "Gue jelasin."


"Bang sa t lo!" umpat Aldi dengan wajah memerah saking marahnya.


Namun ia kembali menyela, "Balik ke depan!"


"Apa sih Dip?!?" gerutu Aldi gusar.


"Gue bilang balik ke depan!" ujarnya dengan dada hampir meledak karena perasaan yang campur aduk tak karuan.


Tapi semua orang bahkan masih terpaku di tempatnya.


"BALIK KE DEPAN SEMUA!!!" kali ini ia tak lagi bisa menahan diri. Menatap nyalang semua yang ada di sana kecuali Anja dan Cakra.


Mang Jaja dan Bi Enok bahkan sampai terpana melihatnya berteriak dengan begitu emosional. Mungkin merasa heran karena selama ini ia selalu bersikap penuh sopan santun.


Karena sesungguhnya, saat ini ia sedang benar-benar meluapkan kemarahan yang terpendam sejak seminggu lalu. Sejak kali pertama mendapati Cakra memeluk Anja dari balik pintu ruang perawatan Rumah Sakit. Dan sejak Teh Dara mencegahnya masuk ke ruang perawatan Anja dengan alasan, "Biar mereka bicara berdua."


Damned!


Siapa elo Cakra sampai bikin gue harus menunggu di luar sementara elo peluk-peluk Anja?!? Dasar bang sa t!!


"Balik, Al!" Faza berinisiatif untuk merangkul Aldi agar menjauh dari Cakra. Tapi Aldi justru memberontak.


"Balik semua!" kali ini Agung ikut membantu memobilisasi anak-anak agar segera berlalu.


Namun karena Aldi tetap bersikeras berada di sana membuatnya menarik paksa lengan Aldi agar menjauh.


"Balik sekarang!" desisnya marah. "Ini bukan urusan lo!"


Karena terkadang, rasa sakit justru memancing empati kita untuk bangkit dan memimpin di depan. Daripada mengikuti dorongan menggebu sebab amarah.


Seperti saat ini, awalnya sangat bernafsu untuk mempermalukan Cakra di depan semua orang. Tapi demi melihat wajah Anja yang seperti mayat hidup saking ketakutannya, hati kecil mendadak berontak.


What you do, literally becomes you, Dipa. Then, do the best. Bukankah kamu mencintai Anja? Jika iya, tunjukkan dengan cara terbaik. Itu jauh lebih bermartabat dibanding harus menabur garam di atas luka yang bahkan masih menganga.


***


Anja


Ia hampir tak bisa bernapas. Dengan gelisah di tautkannya jari jemari hingga membentuk suatu jalinan. Lalu dilepas. Namun sedetik kemudian mulai menautkan kembali. Begitu seterusnya dibawah tatapan tajam Hanum dan Bening yang seolah ingin menelannya hidup-hidup.


"Kamu mau aku yang jelasin ke mereka?" bisik Cakra yang duduk di sebelahnya. Mungkin merasa cemas karena sedari tadi ia hanya berdiam diri.


Namun ia menggelengkan kepala.


"Kamu mau aku keluar?" bisik Cakra lagi.


Kali ini ia mengernyit. Khawatir jika Cakra keluar akan terjadi hal yang tidak diinginkan.


Tapi Cakra tersenyum seraya menganggukkan kepala seolah menenangkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja.


Dan begitu Cakra beranjak ke luar, Hanum langsung memeluknya sambil berurai air mata, "Kamu kenapa, Ja?"


"Kalau ada apa-apa tuh bilang sama kita berdua," imbuh Bening yang segera mengikuti jejak Hanum untuk memeluknya.


Namun kalimat yang diucapkan Hanum dan Bening justru membuat matanya memanas. Dan sejurus kemudian mulai berlinangan. Kini mereka bertiga bahkan saling bertangisan bersama.


"Waktu lo bilang Arin sama Siera lihat cewek mirip gue masuk ke Retrouvailles....," gumamnya lirih membuka forum penghakiman dengan suara gugup campur isakan.


"Gue mau bilang kalau itu memang gue....."


"Ja?" Bening makin mengeratkan pelukannya.


"Waktu lo bilang kalau Aldi lihat Cakra masuk ke hotel melati....."


Ia menelan ludah sebentar untuk memberanikan diri.


"Gue mau ngaku kalau cewek yang bareng Cakra itu beneran gue....."


"Anja....," Hanum kian terisak.


"T-tapi....gue nggak berani," sambungnya dengan air mata berderai.


"G-gue takut lo berdua bakal menjauh kalau tahu gue sama Cakra.....gue sama Cakra.....," ia tak sanggup menyelesaikan kalimat karena keburu terisak.


"Anja....," Hanum mengikuti jejak Bening mengeratkan pelukan. "Kita nggak akan menjauh hanya gara-gara lo dekat sama Cakra."


"Emang kita apaan?" imbuh Bening sembari menggelengkan kepala. "Kita sahabat, Ja."


"Iya," tambah Hanum yang melepas pelukan untuk meraih tissue di atas nakas. Kemudian menyeka air mata yang membanjiri kedua pipinya.


"Lo berhak dekat sama siapa saja," lanjut Hanum yakin. "Bahkan Cakra sekalipun."


"Iya, Ja," Bening menganggukkan kepala. "Datangnya cinta kan nggak bisa diduga. Kita berdua nggak boleh dong ngatur-ngatur lo buat suka atau cinta sama siapa. Itu hak asasi tiap orang, Ja. Termasuk gue....Bening...."


Ia tersenyum kaku mendengar jawaban Hanum dan Bening sembari menyeka ingus akibat menangis dengan tissue. Kemudian berkata pelan, "Tapi Cakra?"


Hanum menganggukkan kepala yakin, "Kita berdua bakal dukung siapapun pilihan elo, Ja."


"Eh, gue belum pernah cerita ya?" Bening mengerutkan dahi tanda berpikir.


"Cerita apa?" Hanum menyahut.


"Bumi bilang, kalau Cakra itu sebenarnya nggak seburuk seperti cerita yang beredar."


"Maksudnya?" kini gantian Hanum yang mengernyit.


"Ya....Cakra cuma korban konspirasi beberapa orang termasuk kakel (kakak kelas) berprestasi."


Hanum menggelengkan kepala, "Gue masih nggak ngerti."


Membuat Bening menggaruk kepala yang pastinya tak gatal, kemudian bergumam pelan, "Gimana cara ngomongnya ya?"


"Gue udah tahu," sahutnya cepat.


"Hah?!" kedua bola mata Bening membulat. "Lo udah tahu cerita tentang Cakra?! Dari siapa?"


"Faza," jawabnya sembari menundukkan kepala.


"Syukur deh kalau lo udah tahu," ujar Bening penuh kelegaan.


"Kalian pada ngomongin cerita yang mana sih?!" sungut Hanum yang sepertinya masih belum paham. "Kok gue sama sekali belum tahu?!"


"Spill dong," lanjut Hanum penasaran.


"Oh," tapi Hanum masih saja mengkerut. "Gossip Cakra ngamuk trus lempar kursi sampai kaca ruang guru hancur, bukannya itu benar?"


"Iya, benar," Bening menganggukkan kepala. "Cuma masalahnya, apa yang melatarbelakangi Cakra ngamuk di ruang guru. Itu intinya."


Namun demi melihat Hanum yang masih memasang wajah bingung, Bening kembali berkata, "Nanti gue ceritain detailnya. Sekarang yang penting.....happy birthday Anja, yeaaaayyyy.....," sembari menunjuk jam Mickey Mouse yang menunjukkan tepat pukul 00.00.


"Ya ampun, sampai kelewat tuh kan," sungut Hanum yang bergerak untuk memeluknya seraya berbisik, "Happy birthday, Anja. May all your dream will come true."


"Aamiin....," ia tersenyum membalas pelukan Hanum. "Makasih kalian berdua....."


"Ah, nggak seru banget deh," gerutu Bening. "Padahal gue udah nyiapin spesial surprise buat elo. Tapi gagal total begini."


"Ini udah spesial surprise," ujarnya yakin. "Spesial banget sampai bikin gue shock."


"Lagian lo kesambet apa sampai bawa anak segitu banyak??" kali ini ia setengah kesal. "Bukannya biasa cuma bertiga sama Dipa?!?"


"Ya....gue kan mau bikin perayaan paling spesial di tahun terakhir kebersamaan kita," Bening beralasan.


"Eh, nggak tahunya....malah elo yang ngasih surprise ke kita," sahut Hanum cepat.


"Bener-bener surprise," Bening menggelengkan kepala tak menyangka.


"Hah!" Hanum menghembuskan napas lega. "Masih nggak kebayang gue lihat Cakra keluar dari kamar lo. Kayak lagi mimpi."


"Mana ada orang mimpi teriak sekenceng itu?!" sungut Bening jelas tak percaya. "Bikin orang kaget aja!"


"Ya itu kan refleks alami," Hanum mencibir berusaha membela diri.


"Eh, tapi lo masih ingat yang dibilang Bi Enok nggak tadi?" Bening mendadak teringat sesuatu.


Tapi Hanum menggelengkan kepala, "Bilang apa emang Bi Enok?"


"Kalau Den Cakra itu suaminya Neng Anja," jawab Bening yakin.


Inilah saatnya, sesi utama forum penghakiman segera dimulai.


"Hah?! Suami gimana maksud lo?!" mata Hanum terbelalak. "Ja?"


Dengan gugup diulurkannya punggung tangan kiri ke depan. Memperlihatkan cincin cantik pemberian Cakra yang tersemat di jari manisnya.


"Cincin?" Hanum dan Bening bergumam secara bersamaan.


"Ja?" Bening menatapnya curiga. "Jangan bilang kalau elo....."


Ia buru-buru menganggukkan kepala sebelum keberaniannya sirna.


"Anja?!?" Hanum langsung meraih tangannya dan menggenggam erat.


Ia masih menganggukkan kepala sembari berbisik lirih, "G-gue udah nikah sama Cakra."


"ANJA?!?!" kali ini Hanum dan Bening memekik secara bersamaan.


"G-gue.....," ia harus menelan ludah berkali-kali sebelum melanjutkan kalimat dengan suara tercekik, "G-gue h-hamil...."


Mereka bertiga kembali bertangisan. Hanum dan Bening bahkan tak melepas pelukan selama mereka terisak bersama. Sekaligus tak mengatakan apapun. Benar-benar berpelukan dan saling menangisi satu sama lain. Hingga pipinya kaku karena lelehan air mata, lehernya juga menjadi sakit dan suaranya serak akibat terlalu lama sesenggukan.


"Lo kenapa nggak cerita ke kita berdua, Ja?" Hanum memandangnya dengan tatapan penuh penyesalan.


"Lo strong banget nge keep semua ini sendiri," Bening menggenggam erat tangannya.


Ia hanya tersenyum sembari menganggukkan kepala. Perasaannya kini lega luar biasa. Seolah seluruh beban luruh dalam sekejap. Ternyata benar kata pepatah, jika kejujuran adalah kunci dari ketenangan hati.


"Itu karena gue punya Mama dan Teh Dara," gumamnya dengan mata menerawang. "Juga Cakra....."


"Awalnya gue mau aborsi."


"Ja?!


"Anja?!?"


"Gue nggak mau punya bayi di umur delapan belas tahun!"


Hanum buru-buru bergerak untuk memeluknya.


"Sebentar lagi kita ujian, Han."


"Iya, Ja....iya...."


"Gue mau lulus SMA. Gue lagi nunggu pengumuman SNM. Gue mau kuliah. Gue mau jadi dokter gigi!"


Bening mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.


"Gue masih cinta sama Dipa.....," gumamnya pelan. "Dan gue nggak mau punya anak dari berandal macam Cakra."


"Ja....," Hanum mengusap punggungnya lembut.


"Ini tuh cuma hasil perbuatan iseng waktu gue lagi marah sama Dipa, marah sama semua orang karena malu ditolak Dipa di depan umum, marah sama diri sendiri!"


Bening kian erat menggenggam tangannya.


"Tapi waktu gue udah di ruang operasi mau aborsi," matanya kembali menerawang. "Tiba-tiba gue gemetaran nggak jelas."


"Sampai nggak tahu kenapa tiba-tiba gue udah pergi dari klinik aborsi."


"Terus gue ke rumah Cakra.....," kali ini ia menundukkan kepala.


"Lihat semua medali dan piagam OSN punya dia...."


"Ya ampuun," Bening terkesiap. "Jadi benar Cakra anak OSN?"


"Disambut baik sama ibu dan keluarganya....," setetes air mata kembali membasahi pipi yang baru saja mengering.


"Gue emang bo doh! Gue bahkan nggak pernah nyangka apa yang kami lakukan malam itu bakalan jadi masalah serumit ini...."


"L-lo dikerjain sama Cakra?" tanya Bening hati-hati.


Namun ia buru-buru menggelengkan kepala, "Enggak. Gue sendiri yang cari masalah."


"Maksudnya?" Bening tak mengerti.


Tapi kali ini ia tak berminat memberi penjelasan. Sungguh sangat memalukan jika ia menceritakan secara detail kebo dohan yang dilakukannya malam itu.


"Habis itu kakak gue tahu keadaan gue pas bokap gue masuk Rumah Sakit....," ia memilih melanjutkan kisah.


"Ya ampun....," Hanum yang tak lagi memeluknya menggelengkan kepala dengan wajah iba. "Waktu elo bolos sekolah, Ja?"


Ia mengangguk, "Terus gue lihat Cakra hampir mati digebukin sama Mas Sada...."


Hanum dan Bening serempak menggelengkan kepala sembari menatapnya iba.


"Habis itu Cakra dipukuli lagi sama reserse suruhan Mas Tama...."


Kali ini Hanum dan Bening menghela napas panjang.


"Terus Mama tahu..."


"Mama bilang kami harus menikah."


Hanum dan Bening menganggukkan kepala tanda setuju. Sejurus kemudian Hanum kembali memeluknya, "Ja...apapun yang terjadi....gue tetep sayang sama elo, Ja."


"Iya, Ja," Bening ikut memeluknya. "Gue dukung semua keputusan elo, Ja."


"Kita bertiga tetap sahabat...," Hanum tersenyum mengangguk.


"Sahabat selamanya....," imbuh Bening ikut tersenyum.


"Gue mau jadi aunty," mata Hanum mendadak berbinar.


"Gue juga," Bening menatap antusias.


Ia tersenyum dengan mata berkaca-kaca, "Makasih kalian berdua mau dengerin cerita gue...."


"Kalian....nggak malu kan temenan sama gue yang....MBA....," ujarnya sembari menyusut hidung.


"Ya ampun, Ja," Hanum mencibir. "Bisa-bisanya lo nuduh kita begitu."


"Iya," sungut Bening tak terima. "Lagian elo jadi begini kan karena accident...bukan disengaja...."


Hanum menganggukkan kepala tanda sepakat, "Iya, Ja. Elo juga kan nggak pernah aneh-aneh. Seumur hidup nge crush in Dipa. Mana sempat mikirin cowok lain."


"Bener banget. Cakra aja yang beruntung," sahut Bening cepat. "Beruntung banget malah."


"Ibarat dapat durian runtuh," seloroh Hanum.


"Super jackpot!" sambar Bening tak kalah cepat.


Membuatnya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Ternyata, membuat pengakuan tak semengerikan yang dipikirkannya. Selama ini ia selalu ketakutan ketika saatnya tiba. Ketika semua orang akhirnya mengetahui keadaannya.


Tapi kini semua sudah menjadi terang benderang. Ia tak lagi harus menyembunyikan diri. Meski konsekuensinya mungkin akan ada beberapa orang yang melabelinya dengan stigma negatif. Satu yang pasti, dukungan penuh cinta dan kasih sayang tanpa pamrih dari orang-orang terdekat berhasil memberinya kekuatan luar biasa untuk terus menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab.


"Jadi...setelah semua ini....," Bening terdiam lebih dulu sebelum menyelesaikan kalimatnya. "Sekarang lo udah ngelupain Dipa dan....."


"Cinta sama Cakra?"


Ia mengerutkan dahi tanda tak setuju dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Bening.


"Sumpah image Cakra berubah 180° di mata gue, Ja," gumam Hanum dengan mata berbinar. "Dia gentle banget nggak sih mau tanggung jawab?!"


"Ck!" sungutnya sebal. "Biasa aja."


"Gantengnya jadi nambah berkali lipat," sambung Hanum dengan mata menerawang.


"Eh, iya, gue baru sadar begitu tadi lihat Cakra pakai baju rumahan, ternyata aura nya keluar banget," imbuh Bening sungguh-sungguh. "Sampai luber tumpah-tumpah...."


"Kalian ngomong apa sih!" sungutnya semakin sebal.


"Jadi....kapan lo mulai jatuh cinta sama Cakra?" Bening menatapnya penuh rasa ingin tahu.


"Kapan, Ja?" Hanum meraih tangannya dengan tatapan penuh harap.


Tapi ia mendadak kehilangan selera. Dan memilih untuk menggerutu sebal, "Kalian nggak pada pulang ke rumah apa? Gue ngantuk nih mau tidur!"