
Tama
Tepat pukul 09.50 WIB, ia baru saja selesai mengikuti apel pagi. Kegiatan rutin tiap hari Senin yang wajib diikuti oleh seluruh personel Polda Jatim ini dilaksanakan di Lapangan Upacara Mapolda. Dengan dipimpin langsung oleh Kapolda.
Setelahnya, ia sempat berkoordinasi sebentar dengan Kabag Wassidik Ditreskrimum (Kepala Bagian Pengawasan dan Penyidikan) tentang Lapju (Laporan Kemajuan) penanganan perkara kasus dugaan penggunaan ijazah palsu oleh ketua DPRD salah satu Kabupaten yang ada di Jatim.
"Ini sudah terlalu lama," gelengnya tak percaya.
"Panggil penyidiknya ke sini," lanjutnya cepat. "Biar kita tahu kendalanya dimana."
"Baik, Pak."
Kemudian segera bergegas menuju meeting room yang berada di lantai 3 Gedung Patuh (Proaktif, Amanah, Tegas, Unggul, dan Humanis). Yang posisinya terletak tepat di belakang gedung Tri Brata (ruang kerja Kapolda dan Wakapolda).
Guna mengikuti rapat internal terbatas dengan Wakapolda dan PJU (Pejabat Utama) Polda Jatim. Dengan agenda pembahasan utama tentang kesiapan jajaran kepolisian dalam melakukan reformasi internal dan birokrasi.
Kini ia tengah berjalan menuju lobby gedung, sembari bercakap-cakap dengan Huda, Direskrimsus (Direktur Reserse Kriminal Khusus) Polda Jatim.
Membicarakan tentang kasus carding (pembobolan kartu kredit) yang kini sedang ditangani oleh tim Ditreskrimsus. Kasus yang acap kali terjadi, namun kali ini cukup menyita perhatian publik. Karena melibatkan dua selebgram ternama ibukota.
Huda menceritakan tentang bagaimana pengembangan kasus yang telah dilakukan oleh tim penyidik subdit siber. Hingga berhasil membekuk empat tersangka utama. Sekaligus menjaring banyak nama publik figur lain yang tak kalah tenar.
"Wah, kon dulinane artis saiki (mainannya artis nih sekarang)," selorohnya tanpa tendensi apapun. Hanya sekedar jokes belaka.
Tapi Huda justru menepuk bahunya keras sambil terbahak, "Aku wis tuwo, dudu levele artis (aku sudah tua, bukan levelnya artis)."
"Kon iku isih patut (harusnya kamu itu masih pantas)," lanjut Huda yakin. "Sikat, bro!"
Ia hanya menggelengkan kepala sambil ikut terbahak, "Bojoku arep di deleh ndi (istriku mau ditaruh di mana)."
"Lho, isih nduwe bojo ta pean (lho, kamu masih punya istri)?" seloroh Huda yang makin keras tawanya.
"Nduwe bojo tapi koyo bujangan (punya istri tapi seperti bujangan)," lanjut Huda jelas penuh tendensi.
"Sing ndi ta bojomu (yang mana istrimu)? Kok aku gak tau eroh (kok aku tak pernah lihat)," seloroh Huda dengan gaya menyebalkan.
"Gowo rene (bawa sini)," tantang Huda semakin berada di atas angin karena ia hanya diam sambil tersenyum kecut.
"Gak iso ta (nggak bisa kan)," volume tawa Huda kini bahkan sudah melampaui level tertinggi. Membuat beberapa orang menengok ke arah mereka dengan penuh rasa ingin tahu.
Namun ia hanya tertawa sumbang. Sama sekali tak berminat untuk melayani jokes Huda tentang kehidupan pernikahannya yang memang rumit.
Lebih memilih untuk segera memasuki meeting room karena sebagian besar peserta rapat sudah duduk menunggu di tempat masing-masing.
Dan rapat internal terbatas bersama Wakapolda, baru selesai bertepatan dengan berkumandangmya adzan Dzuhur. Kemudian dilanjutkan dengan acara makan siang bersama.
Meski beberapa rekannya sesama PJU masih terlibat obrolan serius di meeting room. Namun ia memutuskan untuk segera kembali ke ruang kerjanya yang berada di gedung Direktorat Reserse Kriminal Umum. Karena telah memiliki agenda rapat dengan jajaran Kabag (Kepala bagian) dan Kasubag (kepala sub bagian) yang ada di Ditreskrimum.
Tapi, baru juga berjalan melangkahkan kaki menyusuri koridor untuk menuju ruang kerjanya. Dari belakang punggung terdengar seseorang meneriakkan namanya.
"Mas! Mas Tama!"
"Ada apa?" tanyanya heran demi melihat Erik setengah berlari menuju ke arahnya.
"Tadi ada tiga telepon masuk ke ruangan Mas Tama," jawab Erik sembari kerepotan membawa setumpuk berkas kasus yang sedang mereka tangani.
"Dari?" keningnya mengernyit. Karena hanya segelintir orang yang mengetahui nomor telepon di ruangannya. Dan sebagian besar adalah keluarga.
"Tiga-tiganya dari sekolah Pusaka Bangsa, Jakarta."
"Katanya penting."
***
Cakra
Anja hanya memandangnya sambil mengangkat bahu ketika ia memperlihatkan layar ponsel yang menunjukkan nama Mas Tama sebagai si penelepon. Kembali asyik menjilati sisa lelehan cokelat yang masih menempel di stik es krim. Sama sekali tak mempedulikan kekhawatirannya.
Akhirnya dengan sedikit gugup, disentuhnya gambar gagang telepon berwarna hijau sebagai tanda untuk menerima panggilan.
"Halo, Mas?" sapanya sembari menelan ludah. Mencoba bersiap dengan apa yang akan dihadapi.
"Kamu lagi di mana?" suara tegas Mas Tama di seberang sana jelas sedang tak ingin berbasa-basi. Benar-benar to the point.
"Di....," ia kembali harus menelan ludah sebelum memberitahukan keberadaannya saat ini.
"Anja sama kamu?!" kejar Mas Tama tanpa ingin menunggu jawaban darinya.
"A-ada, Mas."
"Bagus," suara Mas Tama terdengar sangat lega.
"Barusan Pak Gunawan (Kepala Sekolah SMA Pusaka Bangsa) ngasih tahu tentang kejadian di sekolah," lanjut Mas Tama diikuti hembusan napas panjang.
"I-iya, Mas," ia lagi-lagi harus menelan ludah.
"Memang ada sedikit miss komunikasi di sini," sambung Mas Tama yang kali ini suaranya terdengar menyesalkan.
"Tapi nanti ada pihak dari sekolah yang mau datang ke rumah buat meng-clear-kan semuanya."
"Tolong kamu temui mereka."
"Dengarkan saja apa yang disampaikan."
"B-baik, Mas."
"Sekarang Anja nya mana?"
"Aku mau ngomong sebentar."
Ia pun buru-buru mengangsurkan ponsel ke arah Anja yang sedang meminum air mineral.
"Halo Mas?" ujar Anja setelah menerima ponsel darinya.
Dan selama hampir lima belas menit lamanya, ia hanya bisa tersenyum menyaksikan ekspresi Anja ketika menerima telepon dari Mas Tama.
Awalnya, Anja yang menceritakan kronologi kejadian mengerikan di sekolah terlihat seperti ingin menangis. Tapi tak lama kemudian berubah cemberut.
Lantas merajuk. Lalu terdiam lama seraya menganggukkan kepala. Mungkin karena sedang mendengarkan nasehat yang disampaikan oleh Mas Tama.
Membuatnya memilih untuk menyibukkan diri dengan memakan crackers yang tadi dipilih Anja di minimarket. Namun ketika mulutnya tengah penuh mengunyah crackers, Anja justru kembali mengangsurkan ponsel yang masih menyala ke arahnya.
Ia bahkan harus segera menelan crackers yang belum sepenuhnya selesai dikunyah. Sampai menjadikannya terbatuk-batuk ketika bongkahan besar crackers meluncur melewati kerongkongan tanpa permisi. Membuatnya buru-buru meraih botol air mineral kemudian menyesapnya untuk menghentikan batuk.
"Iya, Mas?"
"Tolong titip Anja."
"Ikuti aja semua keinginan dia."
"Kalau ada apa-apa atau masih miss sama pihak sekolah, bisa langsung hubungi aku."
"Kalau ponselku mati, berarti lagi di lapangan."
"Jangan pernah nunggu."
"Oke?"
Ia baru hendak menyanggupi permintaan Mas Tama, ketika sambungan telepon mendadak diputus secara sepihak dari seberang sana.
Tapi ia justru tersenyum. Sama sekali tak ambil pusing dengan sikap Mas Tama. Karena kini kepalanya telah dipenuhi oleh kalimat yang membuat dadanya membuncah saking bahagianya.
"Tolong titip Anja."
Hanya sederet kalimat sederhana yang pastinya sangat biasa diucapkan oleh semua orang. Tapi karena yang mengucapkan ini adalah Mas Tama. Secara personal terhadap dirinya. Seketika berubah menjadi sarat makna. Terasa begitu dalam.
Jadi, apakah ini berarti, keberadaannya mulai bisa diterima oleh dua pilar kokoh keluarga Anja?
Bisakah ia merasa sedikit lega sekarang?
Atau semua penerimaan ini hanya bersifat fana?
Mengira oase padahal hanya fatamorgana?
***
Anja
Cakra memesan Taxi Online untuk mengantarkan mereka berdua pulang ke rumah. Dan sepanjang perjalanan, ia hanya bisa termenung dengan mata menerawang. Sampai-sampai tak menyadari jika sejak awal Cakra menggenggam erat tangannya.
Seolah sedang memastikan jika mereka berdua akan baik-baik saja. Bahwa seburuk apapun rintangan yang menghadang, akan mampu mereka lalui jika selalu bersama. Semenyakitkan apapun itu.
Ia pun menoleh ke arah Cakra yang juga sedang memandangnya. Berusaha mencari kekuatan di sepasang mata tajam itu.
Dan ketika mereka berdua sama-sama saling melempar senyum. Keseluruhan hatinya mendadak menghangat. Demi menyadari jika ada seorang asing yang bahkan tak pernah ada dalam alur kehidupannya selama ini. Namun tiba-tiba muncul dan dalam sekejap telah menjelma menjadi sosok yang begitu berarti.
Ia masih saling memandang dengan Cakra, ketika pengemudi Taxi menepikan kendaraan di depan pintu gerbang rumahnya. Mengharuskan mereka untuk menyudahi momen.
Ia keluar dari dalam Taxi terlebih dahulu. Sementara Cakra masih membayar ongkosnya. Ketika Pak Wardi membuka pintu gerbang rumah. Hingga bisa memperlihatkan seseorang yang tengah duduk menunggu di kursi teras.
"Lo nggak apa-apa kan, Ja?" tanya Dipa dengan wajah cemas begitu ia sampai di teras.
Membuatnya menganggukkan kepala seraya mencoba untuk tersenyum. Sementara Cakra hanya berdiri mematung di belakangnya. Posisi yang sangat aneh hingga membuat suasana dingin dan kaku mendadak menyeruak di seantero udara.
"Gue keliling sekolahan nyari elo," lanjut Dipa dengan suara bergetar.
"Dari ujung ke ujung."
"Takut lo kenapa-napa."
"Tapi tetap aja gue nggak bisa nemuin keberadaan elo."
"Elo sebenarnya kemana, Ja?"
"Dua kali lo kena masalah hampir mirip kayak gini. Dua-duanya juga gue nggak berhasil nemuin elo."
"G-gue....lari ke belakang sekolah," jawabnya seraya menundukkan kepala. Merasa tak tega melihat mendung di wajah Dipa.
"Ada gudang tua di sana," lanjutnya lagi meski sadar ini sama sekali tak penting. Hanya ingin mengenyahkan rasa iba terhadap Dipa yang tiba-tiba muncul dan membuatnya merasa bersalah.
"Dia yang nemuin elo?" tanya Dipa dengan rahang mengeras.
"Dia?" ia mengernyit sebentar sebelum akhirnya paham. "Cakra maksud lo?" Dengan bodohnya ia justru balik bertanya.
Namun Dipa diam tak menjawab.
"Iya," gumamnya hampir tak terdengar. "Cakra yang nemuin gue," lanjutnya cepat dengan nada sedikit gugup karena rasa bersalah terhadap Dipa kini bahkan semakin menjadi.
"Dua kali lo kena masalah yang hampir mirip. Dua-duanya juga ketemu sama dia," kini tatapan Dipa semakin penuh luka.
Sontak membuat kepalanya tertunduk. Tak berani menghadang sendu di wajah Dipa. Sementara Cakra yang berdiri di belakang punggungnya mulai gelisah. Sungguh situasi yang tak mengenakkan hati.
"Tapi gue seneng karena ternyata lo baik-baik aja," kalimat yang Dipa ucapkan terdengar begitu tulus.
"Dan gue pastiin, mereka yang bikin lo sedih bakalan terima akibatnya," imbuh Dipa dengan rahang mengeras.
Kemudian pergi begitu saja. Melewatinya dan Cakra tanpa mengatakan sepatah katapun. Namun meninggalkan rasa trenyuh yang teramat menyentuh hati.
Hingga beberapa waktu ia bahkan masih berdiri mematung sembari memikirkan ucapan sekaligus membayangkan wajah sendu Dipa.
Ketika tiba-tiba Cakra meraih tangannya dan menariknya agar segera masuk ke dalam rumah. Membuatnya sadar jika semua yang berhubungan dengan Dipa sejatinya sudah terlewat jauh di belakang. Meninggalkan sejumput sesal yang sama sekali tak berguna.
Jelang sore hari, datanglah perwakilan dari pihak sekolah. Yang diwakili oleh Pak Irwin sebagai Wakasek bidang Kesiswaan. Bu Yelly sebagai salah satu anggota team psikolog Pusaka Bangsa. Dan Miss Liana sebagai walikelasnya.
Ia akhirnya bersedia menemui beliau bertiga karena alasan sopan santun. Padahal hatinya masih sedikit kesal jika mengingat miss komunikasi yang terjadi antara pihak yayasan dan sekolah tentang status pernikahan dan kondisi fisiknya. Hingga memicu protes dari beberapa siswa yang lumayan menakutkan hatinya hari ini.
Juga penanganan demo yang terkesan lambat dan jauh dari kata profesional. Sampai yang paling mengherankan adalah bisa beredar luasnya selebaran penuh tendensi tentang dirinya. Yang notabene sama sekali tak berhubungan dengan urusan akademik.
Juga penempelan poster penuh hasutan di titik-titik strategis sekolah. Yang seharusnya tak bisa terjadi jika peran controlling dari pihak sekolah dijalankan dengan baik.
"Kami mewakili sekolah, memohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi," begitu Pak Irwin membuka pembicaraan.
"Kesibukan akhir tahun pelajaran dan tekanan tinggi jelang kelulusan juga kenaikan kelas membuat kami lalai dalam mengawasi para siswa."
Ia dan Cakra yang duduk bersebelahan hanya diam mendengarkan semua penjelasan yang disampaikan secara bergantian oleh Pak Irwin, Bu Yelly juga Miss Liana. Dengan tangan yang saling menggenggam erat. Berusaha memberi kekuatan pada masing-masing.
"Para siswa yang menjadi pemicu keributan pasti akan kami tindak tegas," terang Pak Irwin.
"Dan sesuai dengan peraturan yang dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan, tentang hak mengikuti UN bagi seluruh siswa. Bagaimanapun keadaannya. Akan kami tegakkan."
"Kalian tidak perlu khawatir, karena masih bisa mengikuti seluruh rangkaian ujian hingga kelulusan nanti."
"Hanya saja, untuk pelaksanaan mungkin agak sedikit berbeda."
"Demi kemaslahatan bersama. Agar tak menarik perhatian ataupun memicu keributan antar siswa."
"Dan agar lebih bisa konsentrasi dalam mengerjakan soal ujian."
"Ananda Anjani akan mengikuti ujian sesuai dengan jadwal ujian susulan."
Ia pun menganggukkan kepala tanda setuju. Walau setelah kejadian hari ini, ia merasa benci dan sangat malas untuk datang ke sekolah. Namun serangkaian ujian jelang kelulusan tetaplah harus ia jalani. Agar bisa lulus SMA dengan baik dan tepat pada waktunya. Seperti yang selalu diinginkannya selama ini.
"Nanti kami kirim jadwal ujian susulan melalui email," Pak Irwin kembali angkat bicara. "Mohon di cek. Dan kalau ada yang mau ditanyakan bisa langsung ke Miss Liana sebagai wali kelas."
"Semoga ini semua bisa meng clear-kan permasalahan yang ada."
"Nah, untuk ananda Cakradonya. Kami beri pilihan. Mau mengikuti ujian seperti yang telah dijadwalkan bersama siswa lain. Atau ikut ujian susulan seperti ananda Anjani?"
***
Keterangan :
Lapju. : merupakan laporan kemajuan hasil dari penyelidikan, yang dibuat oleh penyidik dalam menangani suatu perkara.