
Cakra
Ia melipat tangan, lalu meletakkan dagu di atas meja belajar. Memandangi Anja yang tengah mengASIhi Aran melalui layar ponsel.
"Pipi Aran tambah bulet ya, Ja?"
Anja tertawa, "Masa sih? Sama aja ah."
"Badannya juga tambah besar," sambungnya lagi.
"Jangan-jangan nanti aku pulang, Aran udah bisa jalan lagi," kali ini ia jelas sedang bercanda.
Sontak membuat tawa Anja semakin keras, "Ngaco ah!"
"Tangan sama kaki Aran kelihatan makin berisi," tapi yang satu ini ia serius. Tangan Aran terlihat semakin bulat. Sementara kaki Aran yang tak pernah berhenti menendang jelas kian mon tok.
"Kamu baru juga pergi dua hari," Anja tertawa kecil. "Kayak udah setahun nggak ketemu."
"Dua hari rasa setahun," gumamnya sembari menghembuskan napas panjang.
Anja tersenyum menatapnya, "Gimana tadi, ngumpul panitia lancar?"
Ia mengangguk.
"Kamu masuk team mana?"
"Acara."
Anja mencibir, "Banyakan yang masuk di acara?"
Ia menghitung sebentar, "Tujuh sampai delapan orang mungkin."
"Gimana sih, masa team sendiri nggak hapal?!" Anja semakin mencibir.
Ia tertawa, "Ada dua orang yang belum bisa ngumpul kemarin."
Anja mendecak, "Namanya siapa aja?"
"Nama siapa?" ia mengernyit tak mengerti.
"Nama orang-orang di team kamu lah! Siapa lagi!"
Ia tergelak, "Mau diabsen, Neng?"
Anja makin mendecak.
Ia coba mengingat, "Haqi, Amar, Gagat...."
Ia menggaruk kepala yang tak gatal sebab agak lupa nama-nama anggota di team acara.
"Cowok semua?"
"Ada ceweknya. Rania sama A...."
"Enough (cukup)," sela Anja cepat.
Ia kembali tertawa.
Anja masih mengASIhi Aran. Yang suara cecapannya bahkan terdengar hingga menembus layar ponsel. Sementara ia tersenyum-senyum sendiri memperhatikan dua pemilik hatinya itu.
Ia hanya diam sembari terus memandangi Anja. Yang kini sedang memposisikan Aran untuk bersendawa.
Setelah yakin Aran telah menyelesaikan sendawa, kemudian Anja membaringkan Aran ke atas tempat tidur. Menyelimuti dengan kain halus. Lalu memposisikan diri agar bisa menatap layar ponsel berhadapan dengannya.
"Aran bobo?"
Anja mengangguk, "Kalau udah kenyang pasti langsung bobo."
Ia tersenyum, "Interview beres?"
Kali ini gantian Anja yang mengangguk, "Besok tinggal bikin video kenalan sama kating."
"Besok pergi lagi?"
Anja merengut, "Ya...mau nggak mau."
"Sama Dipa?"
Anja mengangguk, "Siapa lagi."
"Eh, ada hotnews (berita hangat) lho," sepasang bola mata indah itu tiba-tiba berbinar.
Ia hanya mengangkat alis.
"Guess what (coba tebak)?"
Ia tertawa sambil menggelengkan kepala.
"Dipa has a crush with (tertarik dengan)...."
Anja jelas sengaja menggantung kalimat. Dan ini membuatnya kembali tertawa.
"You?" tebaknya di antara tawa sumbang.
Anja langsung memberengut mendengar tebakannya, "Bukaaaan! Ih, kamu!"
"Terus siapa dong?" ia masih tertawa sumbang.
"Salma!" jawab Anja cepat.
Ia mengernyit sebentar, sejurus kemudian menggelengkan kepala sambil tersenyum tak mengerti.
"Mereka cocok kan?" senyum Anja semakin lebar. "Gimana menurut kamu?"
"They deserves to be happy (mereka pantas untuk bahagia)," gumam Anja sambil terus menyunggingkan senyum.
Dengan tanpa berpikir ia mengangguk setuju.
Dipa dan Salma?
Ia menggelengkan kepala demi mengingat hal ini. Bukti nyata jika alur kehidupan tak seorangpun bisa menebak. Dengan siapa dunia kita akan saling bertautan. Dan bagaimana semua yang dirasa mustahil, ternyata semudah membalik telapak tangan.
--------------------
Ia baru pulang dari Masjid usai mengikuti sholat Shubuh berjamaah, ketika mendapati Mang Ujang sedang mengurus sederet tanaman hias di taman samping.
Setelah menyimpan motor, ia ikut bergabung dengan Mang Ujang.
"Den?" sapa Mang Ujang terkejut. Ketika ia tengah memilih ranting pohon pepaya madu yang daunnya telah mati. Memetik ranting yang mengering dan mengumpulkannya di satu tempat.
"Sebentar lagi panen nih, Mang," jawabnya sambil terus memetik ranting yang daunnya telah menguning.
"Muhun (iya), Den. Panen pertama."
"Jenis pepaya madu ini ya, Mang?"
"Muhun," jawab Mang Ujang. "Ini teh nggak sengaja nanamnya."
"Ambil bibit di mana, Mang?"
"Bukan saya, Den. Tapi Mas Sada," sergah Mang Ujang yang kini sedang menyirami tanaman bunga.
"Tiap mampir ke rumah sini sama anak-anaknya selalu belanja buah-buahan banyak."
"Mungkin nggak sengaja nyebar biji pepaya di halaman depan."
"Langsung jadi."
"Ku Mamang we diberesan (sama Mamang dirapikan)."
"Dipakaiin polibag."
"Sampai nggak muat lagi. Terus dipindah ke sebelah sini."
Ia manggut-manggut, "Subur, Mang. Keren."
"Kayaknya nancepin pohon di sini langsung jadi ya, Mang?" selorohnya.
Mang Ujang ikut terbahak.
"Kalau jambu kristal punya Papa ya, Mang?" tebaknya ketika melihat pohon jambu kristal.
"Muhun (betul)," Mang Ujang mengiyakan. "Jambu, melon, sama strawberry Bapak yang nanam."
"Dulu juga ada pohon anggur, Den. Favoritnya ibu," lanjut Mang Ujang.
"Menjalar sampai ke batang-batang baja ringan yang sengaja dipasang."
"Halaman jadi teduh ada atapnya," imbuh Mang Ujang seraya menunjukkan di mana tempat pohon anggur dulu pernah berada.
"Tapi kena hama," suara Mang Ujang terdengar menyayangkan. "Daunnya berjamur."
"Terus, lama-lama nggak kuat sama uletnya euy. Lebih-lebih daripada alpukat di halaman belakang."
"Akhirnya dibabat semua. Diganti strawberry sama Bapak."
Kini ia telah menyelesaikan memilih ranting yang kering. Berniat untuk membuangnya ke bak sampah yang terletak di depan rumah.
"Wios ku Mamang (biar sama Mamang), Den," Mang Ujang berusah mencegahnya.
"Mau dibakar dulu, Mang?"
"Henteu (enggak)."
"Ya sudah biar sama saya aja," tukasnya sembari memasukkan ranting-ranting kering tersebut ke dalam keranjang sampah. Namun Mang Ujang justru tergopoh-gopoh ikut membantunya.
Lalu mereka berdua menggotong keranjang sampah ke depan rumah.
Kemudian memasukkan ranting kering dan dedaunan yang telah menguning ke dalam bak sampah bercat warna hijau. Yang bertuliskan sampah organik.
Saat itulah Mang Ujang menyapa seseorang.
"Jogging, Pak Dimas?"
"Iya nih, Mang," jawab seorang pria. Yang sedang berjalan kaki bersama seorang wanita dan gadis cilik.
Pria tersebut mengernyit ketika melihatnya. Lalu bertanya pada Mang Ujang, "Menantu baru Pak Setyo, Mang?"
"Muhun (betul), Pak."
Ia tersenyum mengangguk sebagai bentuk sopan santun pada sepasang suami istri tersebut. Lalu melambaikan tangan pada gadis cilik yang sedang menatapnya lekat-lekat.
"Ini Pak Dimas yang tinggal di sebelah, Den," terang Mang Ujang.
"Maaf, tangan saya kotor," selorohnya karena tak bisa berjabat tangan.
Pak Dimas hanya tertawa, "Kapan datang ke Bandung?"
"Hampir seminggu lalu, Pak."
"Betah di sini ya?"
Ia hanya tertawa. Lalu memutuskan untuk jongkok agar bisa sejajar dengan gadis cilik yang terus menatapnya tanpa jeda.
"Siapa namanya?"
"Mayla," jawab gadis cilik tersebut sambil berlari lalu menyembunyikan diri di balik kaki ibunya.
"Namanya Mayra," ralat Pak Dimas.
Ia tersenyum mengangguk. Dan kembali berdiri.
"Yuk ah, Mang Ujang, tipayun (duluan)," Pak Dimas melambaikan tangan sambil tersenyum ke arahnya, "Mari."
"Silakan, Pak," ia balas tersenyum dan mengangguk. "Dadah Mayra...."
Mayra tersipu malu. Namun bersedia membalas lambaian tangannya. Bahkan sampai keluarga kecil itu menghilang di balik tikungan.
Dan sepeninggal Pak Dimas, istri, juga putrinya, ia masih sempat membantu Mang Ujang menyiram puluhan pot tanaman hias. Sebelum bersiap-siap untuk mengikuti acara gladi bersih peresmian maba di Sabupa.
-----------------------
Ia sempat kesulitan untuk mencari tempat parkir. Namun bisa bernapas lega setelah berhasil menemukan satu tempat kosong yang sedikit tersembunyi. Sebab terhalang oleh sebuah motor ber cc besar.
Di pintu masuk auditorium, beberapa orang petugas membagikan selebaran berisi run down acara gladi bersih dan peresmian. Sekaligus memberi petunjuk tentang pembagian tempat duduk berdasarkan Fakultas.
Dan begitu masuk ke dalam, sebagian besar maba sudah menduduki kursi yang tersedia. Suasana auditorium juga berdengung cenderung bising. Sebab saking banyaknya orang yang saling berbicara satu sama lain.
Ia segera menuju ke deretan kursi dimana terdapat tulisan STEI. Lalu mengambil duduk di tempat yang kosong.
"Weii, Cakra!"
Kebetulan yang mengherankan ia duduk tepat di sebelah Adit dan Zyan. Mereka pun akhirnya mengobrol tentang persiapan gathering. Bersama dengan Daniel, Amar, dan Haqi yang duduk di deretan belakang.
Tepat pukul 08.00 WIB acara gladi bersih resmi dibuka oleh seorang petugas. Dengan layar besar di panggung yang memperlihatkan tulisan,
...Gladi Bersih...
...Peresmian Penerimaan Mahasiswa Baru...
...Tahun Akademik 2xxx/2xxx...
...Ganapati, Bandung...
"Selamat datang putra-putri terbaik bangsa di Kampus kebanggaan!" begitu sambutan yang pertama kali diucapkan oleh petugas. Hingga membuat gedung Sabupa riuh rendah oleh suara tepuk tangan yang menggema.
Usai beberapa sambutan yang disampaikan oleh perwakilan dari pihak rektorat dan Ditmawa (Direktorat Kemahasiswaan). Petugas kembali mengambil alih acara.
Menjelaskan secara detail tiap sesi acara yang akan mereka lalui saat peresmian nanti. Serta apa saja yang harus mereka lakukan. Salah satunya adalah mengucap janji mahasiswa Ganapati.
"Tolong diperhatikan baik-baik. Karena saya tidak akan mengulang."
"Meski hanya gladi bersih, tapi kita coba bersikap seperti seorang mahasiswa sungguhan."
Suasana riuh kembali terdengar. Terutama berasal dari tempat duduk di bagian tribun. Entah Fakultas apa ia pun tak tahu. Sejak awal acara konsisten dengan keriuhan dibanding Fakultas yang lain.
"Karena sesudah acara besok, barulah anda semua resmi menjadi mahasiswa Ganapati."
"Kalau sekarang...belum sah jadi mahasiswa."
"Jadi, tolong kerjasamanya."
Acara gladi bersih berjalan dengan lancar. Tepat tengah hari, seluruh run down acara peresmian maba akhirnya tuntas dibahas. Menandai jika gladi bersih telah usai.
Namun mereka yang tergabung dalam panitia gathering tak langsung pulang ke rumah masing-masing. Sebab harus mulai mempersiapkan tempat untuk pelaksanaan gathering nanti sore.
Dari Sabupa ia dan team acara langsung menuju ke sebuah gedung pertemuan yang terletak Jalan Banda. Tempat berlangsungnya acara gathering.
Haqi yang selalu merasa lapar mengajak mereka makan terlebih dahulu. Tapi Gagat menolak, "Pan aya konsumsi untuk panitia?"
Mereka akhirnya langsung menuju hall di lantai 8. Dimana Daniel, Adit, dan beberapa panitia yang lain telah sampai lebih dulu.
Benar saja, anak-anak konsumsi telah menyediakan nasi box untuk seluruh panitia. Sambil menyantap nasi box, ia mulai mereview kesiapan team acara.
Haqi, Rania, dan Ayu bagian membuat broadcast message tentang pelaksanaan gathering. Untuk di posting di sosmed resmi angkatan mereka dan Line Grup telah menyelesaikan tugasnya.
Amar, Gagat, dan Zyan bagian teknis acara telah memastikan semua kelengkapan. Mulai dari screen, sound system, spanduk, sampai detail peralatan yang diperlukan untuk games dan ice breaking.
Sedangkan ia dan Awal bagian mengontak pembicara. Yang kesemuanya dipastikan siap untuk hadir.
-------------------
Ia baru kembali dari Musholla. Ketika pintu masuk ke dalam hall yang disewa oleh panitia telah dipenuhi oleh anak-anak STEI yang akan mengikuti gathering.
Wajah-wajah yang terlihat tak kalah sumringah seperti saat gladi bersih tadi. Sebab gathering ini jelas menjadi wadah menyenangkan untuk mengenal sekaligus berkumpul dengan teman seangkatan juga sefakultas. Sebelum mereka disibukkan oleh rangkaian kegiatan mahasiswa baru dan perkuliahan semester awal.
Kini Zyan dan Amar telah tampil di atas panggung. Mencoba mengkondisikan suasana agar acara bisa segera dimulai.
Ia pun kembali memeriksa daftar nama speaker yang diundang.
Ida Bagus Yoga, Teknik Elektro
Djalu Faisal, Teknik Informatika
M. Fathan, Teknik Tenaga Listrik
Haidar Ali, Teknik Telekomunikasi
Lukman, Teknik Biomedika
Siti Fayza, Sistem dan Teknologi Informasi
Gerry Nadapdap, Alumni
Pranata Kusuma, Presiden KM
Enam dari delapan speaker yang diundang. Dipastikan sudah hadir dan duduk manis di kursi deretan depan.
Mereka mewakili kating berprestasi dari seluruh program studi yang ada di STEI.
Sementara dua speaker lainnya masih belum memberikan konfirmasi terakhir. Yaitu seorang alumni dan Presiden KM (Keluarga Mahasiswa) Ganapati yang masih tercatat sebagai mahasiswa tingkat akhir Teknik Informatika.
"Siapa belum datang?" Adit meminta konfirmasi darinya. Sebab acara sudah dimulai. Dan duet Zyan Amar sedang memberi games pembukaan.
"Bang Gerry sama Kak Nata," jawabnya sambil memperhatikan layar ponsel. Sebab ada notifikasi pesan yang baru masuk.
"Oh, ini nih. Ada jawaban dari Kak Nata," ia berseru gembira.
"Katanya baru selesai rakor di Kampus Nangor. Baru mau otw."
"Oke," Adit mengangguk. "Kalau Bang Gerry barusan nge Line, ada meeting mendadak di Lumina. Mungkin rada telat."
"Tapi it's okay, Bang Gerry pasti datang," lanjut Adit cepat. "Kita simpan di akhir acara sama Kak Nata."
Ia mengangguk setuju. Lalu segera menulis pesan pada Zyan dan Amar yang sedang memandu peserta gathering melakukan ice breaking.
Cakra. : 'Ada rotasi, guys. Bang Gerry sama Kak Nata di akhirkan.'
Cakra. : 'Kita maksimalkan dulu speaker yang ada.'
Zyan. : 'Ok.'
Amar. : 'Ok.'
------------------------
"Panitia salah ngundang speaker nih," seloroh orang yang sedang duduk di atas panggung.
Ketika ia tengah serius mendengarkan penuturan dari Dio di kursi paling belakang. Yang tadi datang bersama dengan Gerry. Dan diperkenalkan oleh Adit dengan rasa bangga yang tak bisa ditutupi sebagai,
"Kenalin nih, kakel (kakak kelas) gue."
"Harusnya bukan gua yang diundang," lanjut orang di atas panggung yang ternyata adalah Gerry.
"Menurut info, Abang jelas dedengkotnya anak IF (informatika)," Zyan balas berseloroh.
"Siapa nih yang kasih info, nggak valid banget," Gerry tertawa.
"Yang dedengkot IF tuh sekarang lagi duduk di belakang," Gerry jelas menunjuk ke arah Dio.
"Mas!" Adit langsung tergelak. "Bang Gerry kebiasaan."
Dio hanya tertawa sambil membetulkan letak kacamata tanpa bingkai yang sedang dipakai.
"Sini, Yo!" seru Gerry tanpa ragu. "Elu nih yang harusnya ngasih pembekalan buat adek adek."
Dio masih tertawa sambil menggelengkan kepala.
"Maju, Mas," Adit jelas berada di pihak Gerry. "Biar kita para maba makin semangat."
"Mas kita yang satu ini, udah malang melintang di kompetisi internasional. Tak diragukan lagi," Gerry masih saja cuap-cuap di atas panggung.
"Minggu depan udah cabut ke US (United States, Amerika)," lanjut Gerry. "MIT man...."
Suara tepuk tangan mendadak bergemuruh memenuhi seluruh ruangan. Beberapa bahkan bersuit-suit.
"Beasiswa penuh. Siapa yang kepengin MIT?!?" Gerry mengarahkan microphone pada audiens.
Hampir semua orang berteriak "Mauuuuu!" sambil mengangkat tangan tinggi-tinggi.
Suasana seisi hall mendadak riuh rendah oleh suara teriakan penuh semangat dan tepuk tangan.
"Ya, inilah Dio Kamadibrata," Gerry jelas terang-terangan menunjuk kepada Dio. Sementara sebagian orang mulai menengok ke arah mereka dengan penuh rasa ingin tahu.
"Panggung ini jelas milik anda!" seru Gerry dengan nada suara bombastis.
Dio masih menggelengkan kepala seraya kembali membetulkan letak kacamata. Sebelum akhirnya berdiri dan berkata padanya juga Adit,
"Gerry hobi banget nodong."
Adit terbahak. Sementara ia hanya tersenyum.
Sedangkan di atas panggung, Gerry semakin menjadi. Tengah berusaha mengomandoi audiens untuk memanggil nama Dio secara bersamaan.
"Dio! Dio! Dio!!"
Dio akhirnya maju ke depan. Sembari terus menggelengkan kepala. Dengan tangan kanan menunjuk-nunjuk ke arah Gerry yang tersenyum penuh kemenangan.
"Keluarkan semua senjata pamungkas lu, Yo!" seloroh Gerry ketika Dio naik ke atas panggung. Dan bersalaman dengan seluruh speaker yang duduk di sana.
"Nggak fair ini main tembak langsung," Dio yang telah memegang microphone kembali menggelengkan kepala.
Sontak membuat seluruh speaker yang duduk di atas panggung berucap serupa, "Ikhlas, Mas. Kita semua ikhlas...."
Gerry kian terbahak. Sementara Dio lagi-lagi membetulkan letak kacamata.
"Gua mesti ngomong apa nih?" Dio mendadak tertawa karena menjadi pusat perhatian.
"Ngomong sesuka lu dah, Yo!" jawab Gerry penuh semangat. "Semua omongan yang keluar dari mulut lu tuh bisa jadi ilmu."
"Too much ini....too much....," Dio tertawa sumbang.
Zyan dan Amar akhirnya mengambil alih suasana yang riuh rendah. Mempersilakan Dio untuk memberi sedikit pengantar. Sebelum nanti diadakan sesi tanya jawab.
"Dia orang paling keren yang pernah gue kenal," gumam Adit saat puluhan tangan terangkat secara bersamaan ketika sesi tanya jawab baru dibuka.
Ia mengangguk setuju.
Meski baru mengenal Dio sejak beberapa menit lalu. Dan hanya sempat mengobrol sebentar di belakang.
Tapi demi mendengar penuturan Dio di atas panggung, ia jelas setuju dengan pendapat Adit. Bahwa Dio pastinya salah satu alumni yang keren.
***
Note author :
BIG HUG #timdio 🤗
Ceritanya ini sebelum Dio cabut ke US ya readers tersayang 🤗
***
Intermezzo :
Readers tersayang 🤗,
Pak Dimas adalah tokoh utama yang ada di novel teman saya, author Bubu.id dengan judul Takdir Cinta Lyra.
Dipersilakan berkunjung jika berkenan 🤗
Cakra kita semua 🤗 muncul di Takdir Cinta Lyra Bab 149 dan 150 🤗
***
##Ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya untuk Kak Aldian Alfaridz, yang telah bersedia meluangkan waktu menjadi narasumber all about Ganapati now. Makasih banyak, Kak 👍🙏