Beautifully Painful

Beautifully Painful
58. Love Has No Reason (3)



Anja


Mungkin keputusan impulsifnya untuk berangkat sekolah bersama dengan Dipa adalah pilihan yang keliru. Karena entah mengapa perasaannya menjadi kurang nyaman setelahnya. Padahal di waktu normal, ia akan sangat senang jika bisa berdua saja bersama Dipa. Tapi sekarang?


"Begitu, Ja?" Dipa mengerling kearahnya sembari tersenyum.


Sementara ia hanya mengangguk-angguk dengan wajah bingung karena tak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh Dipa.


"Lo ngelamun ya?" tegur Dipa demi melihat wajah tak meyakinkannya.


"Enggak kok," elaknya sembari buru-buru memasang wajah 'oh, gue paham apa yang lo omongin barusan.'


Membuat Dipa tersenyum dan mulai melanjutkan kembali cerita seru yang baru saja terinterupsi. Tapi lagi-lagi pikirannya seolah enggan untuk diajak berkonsentrasi mendengarkan kalimat-kalimat yang diucapkan Dipa dengan antusiasme tinggi. Kepala dan hatinya justru dipenuhi oleh wajah bersih beralis tebal yang semalam terlelap di sampingnya. Oh, My God! Another part membingungkan lainnya. What happened with me? batinnya gundah.


Ia pun memutuskan untuk berusaha keras memasang telinga baik-baik guna mendengarkan Dipa yang sedang bercerita dengan gaya atraktif. Sembari membuang jauh-jauh bayangan wajah Cakra yang sepagi ini telah berhasil mendistrak pikirannya sedemikian rupa.


Lambat laun tekadnya mulai berhasil. Kini ia telah larut dalam kisah lucu yang sedang diceritakan oleh Dipa. Membuatnya harus menutup mulut dengan kedua tangan agar tak terlalu keras tertawa.


Namun sama sekali tak pernah menyangka, jika tawanya bersama Dipa hanyalah jeda waktu menghitung mundur untuk menuju hal tak terduga lain. Karena ketika mobil Dipa tengah melaju melewati deretan ruko berisi pertokoan, kantor, dan bank, matanya justru menangkap pemandangan yang sangat mengejutkan.


Awalnya ia tak yakin, namun ransel hitam yang sedikit familiar menjadi penanda, jika sesosok jangkung berseragam SMA yang kini tengah mendorong motor di sisi sebelah kiri jalan adalah Cakra.


"My God?" ia melotot tak percaya.


Kepalanya bahkan sampai berputar 180° hanya sekedar ingin memastikan jika penglihatannya tak keliru.


Iya, benar. Cowok berjaket navy dengan ransel hitam di bahu sebelah kiri itu benar-benar Cakra.


Refleks matanya melihat pergelangan tangan kiri, 06.20 WIB. 10 menit lagi bel masuk akan berbunyi. Sementara jarak yang masih harus ditempuh menuju ke sekolah mereka sekitar 1,5 km lagi. Tak mungkin Cakra bisa sampai tepat waktu di gerbang utama. Pasti terlambat. Oh, tidak!


"Makasih, Dip," ujarnya cepat begitu Dipa menghentikan mobil tepat di depan pintu masuk sekolah. Memberinya kesempatan untuk turun terlebih dahulu agar tak terlalu jauh berjalan kaki dari tempat parkir kendaraan roda 4 menuju ke kelasnya yang memang berjarak lumayan. Bisa bikin ngos-ngosan jika melewatinya.


"Anytime, Ja. Anytime....," Dipa tersenyum penuh arti.


Dengan tergesa ia buru-buru memasuki halaman sekolah. Melangkah panjang-panjang melewati beberapa siswa yang berjalan lambat karena sedang bercakap-cakap.


"Ecieee yang berangkat sekolah bareng crush," menjadi kalimat sambutan pertama yang diterimanya begitu memasuki ruang kelas XII IPA2.


"Gimana...gimana....one step closer dooong," seloroh Hanum sembari menaik turunkan alis.


Sementara Bening yang pertama kali menyambutnya langsung tersenyum sumringah, "Kayaknya weekend nanti bakalan ada yang ngedate nih."


"Hasyeeeek," Hanum makin berbinar.


Namun ia hanya meringis, sama sekali tak berminat menanggapi selorohan Hanum dan Bening. Karena kepalanya justru dipenuhi oleh bayangan seseorang yang sedang mendorong motor di tepi jalan.


Ya ampun, batinnya gelisah sambil sesekali melihat ke arah lapangan basket yang menjadi jalan satu-satunya dari gerbang utama menuju kelas XII IPA6, kelasnya Cakra.


Kegelisahannya semakin menjadi tatkala suara instrumental piano Fur Elise nya Beethoven mulai mengalun selama 1 menit melalui sistem audio kelasnya sebagai tanda bel masuk sekolah.


"Bukannya hepi kok malah suntuk sih?" tanya Bening heran begitu mereka mulai mendiami tempat duduk masing-masing.


"Iya ih, aneh deh?" tambah Hanum ikut nimbrung.


"Lo lagi ada masalah?" As always, Bening selalu menjadi yang paling jeli.


"Nggak kok...gue nggak papa," jawabnya sambil meringis. "Cuma kurang tidur jadi rada pusing."


Percakapan mereka harus terpotong karena Miss Priskila, guru Fisika mereka, telah memasuki ruangan kelas.


"GOOD MORNING, MISS PRISKILA!" seru anak-anak serempak setelah mendapat aba-aba dari Agung, ketua kelas XII IPA2.


"Morning, everyone. How are you today?"


Namun ia sama sekali tak bisa berkonsentrasi mengikuti jam intensifikasi pertama ini. Pembahasan soal-soal fisika yang disampaikan dengan gamblang oleh Miss Priskila bahkan tak mampu menembus neuron dalam otaknya. Karena telah lebih dulu dipenuhi oleh sederet pertanyaan yang mengganggu seperti,


"Kenapa Cakra harus mendorong motornya?"


"Mungkinkah karena mogok?"


"Sudah sampai mana Cakra sekarang?"


"Hampir sampai di sekolah atau masih jauh?"


"Apakah keterlambatan Cakra masih dalam waktu toleransi atau justru sudah lewat jauh?"


"My God, Cakra?"


"Semoga kamu baik-baik saja."


"Ya, Anjani!" suara menggelegar Miss Priskila berhasil mengejutkannya sekaligus membuyarkan lamunan tentang Cakra.


Ia harus melirik ke sebelah kiri dimana tempat duduk Hanum berada. Berusaha mencari clue tentang alasan Miss Priskila memanggil namanya.


"Kerjakan soal nomor 5," bisik Hanum sembari menunjuk soal nomor 5.


Dengan tergeragap ia buru-buru maju ke depan kelas untuk menulis jawaban soal di white board, sembari dalam hati membaca soal yang dimaksud,


Dua buah roda A dan B dengan jumlah gigi berturut-turut 20 dan 50 diletakkan bersinggungan sehingga masing-masing roda gigi berpasangan. Jika roda A berputar 50 kali dalam satu sekon, kecepatan anguler roda B adalah?


Untung soal yang harus dikerjakannya tak terlalu sulit. Dengan cepat ia menulis diketahui, ditanyakan, dan jawaban di white board.


"20 kali per sekon, Miss," jawabnya penuh kelegaan.


"Bagus," Miss Priskila tersenyum. "Lain kali jangan melamun saat pelajaran."


Namun nasehat Miss Priskila sama sekali tak diindahkan. Terlebih ketika ia sedang berjalan menuju tempat duduknya kembali, tak sengaja melihat pemandangan di luar kelas melalui jendela kaca besar yang mengelilingi ruangan. Tepat segaris ke arah lapangan basket. Dimana beberapa siswa yang terlambat masuk sekolah sedang diberi pengarahan oleh guru piket. Salah satunya adalah sesosok punggung berjaket navy yang amat dikenalnya. Cakra.


Maka sepanjang sisa jam intensifikasi materi Fisika, otaknya sama sekali tak bisa berkonsentrasi. Kepalanya justru dipenuhi oleh beragam pertanyaan. Tentang bagaimana nasib Cakra setelah terlambat. Jenis hukuman seperti apakah yang akan diterima Cakra. Dan lain sebagainya.


Sungguh aneh tapi nyata. Mengapa ia mendadak cemas memikirkan orang lain hingga gelisah seperti ini. Oh, ralat, bukan orang lain. Tapi suaminya. Hell yeah.


Membuatnya buru-buru pergi ke luar kelas begitu bel tanda istirahat pertama berdentang.


"Ja! Ja! Mau kemana?" teriak Hanum heran. "Tungguin gue!"


"Gue ada perlu sebentar ke....," ia harus berpikir sebentar. "Ke ruang guru."


"Ngapain?" tanya Bening curiga yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelahnya.


"E...itu....barusan disuruh sama Miss Priskila ke ruang guru," jawabnya belepotan.


"Kalian duluan aja!" ujarnya buru-buru melangkah pergi. "Ntar gue nyusul!"


"Jangan lupa pesenin baso ya!" pungkasnya sebelum menghilang di balik pintu keluar.


Dengan tergesa ia pun berjalan menuju kelas XII IPA6.


"Eh, Anja?" sapa cowok-cowok IPA6 yang sepagi ini sudah duduk berderet di sepanjang selasar.


"Cari siapa, Ja?"


"Aldinya lagi ke kantin tuh."


"Susulin aja, ntar juga ketemu."


Namun ia hanya meringis kaku. Lebih memilih untuk mendekati Gamal, cowok berkacamata sekaligus ketua kelas IPA6 yang duduk paling dekat dengan tempatnya berdiri. Daripada harus meladeni segerombolan cowok kurang kerjaan yang haus akan perhatian. Ampun deh.


"Mal!" sapanya sembari meringis malu.


"Eh, Ja?" Gamal membetulkan letak kacamata begitu melihatnya menyapa.


"Mm....," ia harus menelan ludah sebanyak beberapa kali sebelum akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. "Cakra mana?"


Gamal sempat mengernyit sebentar mendengar pertanyaan yang dilontarkannya. Mungkin sama sekali tak menyangka jika seorang Anjani sengaja datang ke IPA6 hanya untuk mencari Cakra.


"Dari jam pertama belum masuk kelas," jawab Gamal masih dengan mimik heran.


"Kenapa?" tanyanya -pura-pura- mengernyit.


"Palingan juga telat. Udah biasa dia sih."


Membuatnya kembali menelan ludah, "Jadi sekarang Cakra dimana?"


"Lagi ngerjain hukuman kali," jawab Gamal sambil mengangkat bahu. "Tanya aja ke ruang piket. Hukuman keterlambatan tiap bulan ganti soalnya."


"Kadang phisically kayak bersihin toilet se sekolahan, atau beresin Aula yang segede ballroom. Mam pus nggak tuh," Gamal bergidik ngeri.


"Tapi bulan lalu berubah jadi hukuman mentally, kayak disuruh ngerjain soal untuk subject tertentu yang nilainya drop ata...."


"Oke sip, Mal," potongnya cepat. "Thank you ya!" ujarnya sembari melambaikan tangan dan berjalan dengan tergesa menuju ruang piket yang terletak di bagian depan, dekat pintu masuk sekolah.


Dengan membuang rasa malu ia pun memberanikan diri untuk membuka pintu kaca itu.


"Pagi, Pak?" sapanya pada Pak Mukti yang hari ini bertugas sebagai guru piket.


"Eh, Anjani?" Pak Mukti yang pastinya tahu siapa dirinya tersenyum ramah. "Masuk."


"Ada yang bisa dibantu?" tanya Pak Mukti setelah ia mendudukkan diri di kursi yang telah disediakan.


"Begini Pak," ia kembali harus memutar otak agar tak terlalu kentara.


"Saya....maksudnya saya dan teman-teman sekelompok...mm...kami sedang melakukan penelitian tentang....," Ayo ide datanglah, batinnya gugup.


"Korelasi antara siswa yang sering terlambat dengan prestasi di sekolah," ujarnya berusaha keras terlihat meyakinkan.


"Wah, sudah mau UN masih ada project?" tanya Pak Mukti heran.


"Oh, iya, Pak," ia tertawa sumbang. "Jadi begini, ini menjadi project terakhir kami sebelum kelulusan nanti."


"Kamu bukannya anak IPA? Kenapa project nya malah berbau Sosiologi?" Pak Mukti jelas sudah teruji menjadi guru piket. Telah menghadapi berbagai macam karakter siswa dari yang jujur apa adanya sampai yang licin seperti belut alias lihai berbohong. Seperti dirinya saat ini. Ppfft.


"Nanti di SBMPTN juga kan anak IPA boleh ambil Soshum. Begitu jika sebaliknya, anak IPS boleh ambil saintek," berbohong benar-benar sudah menjadi jalan ninjanya hari ini.


"Hitung-hitung latihan linjur (lintas jurusan), Pak," pungkasnya dengan mimik yang diusahakan lebih meyakinkan. "Biar kalau kuliah nanti nggak kaget."


"Oh, ya...ya...," Pak Mukti menganggukkan kepala tanda mafhum. "Bagus...bagus!"


"Jadi apa yang bisa saya bantu?"


Menurut informasi yang disampaikan oleh Pak Mukti, hari ini hukuman bagi siswa yang terlambat adalah phisically. Yaitu membersihkan toilet, membereskan ruang guru, merapikan Aula. Termasuk membantu pustakawan membersihkan dan membereskan ratusan buku di Perpustakaan.


"Terkhusus untuk beberapa siswa yang memiliki catatan merah di sekolah, hukumannya dua kali lipat," terang Pak Mukti sembari tersenyum penuh kemenangan.


"Selain hukuman fisik, mereka juga dilarang mengikuti pelajaran hari ini."


Salah satunya sudah pasti adalah Cakra. Entahlah, mungkin catatan merah Cakra di sekolah takkan pernah bisa terhapus saking banyaknya. Abadi selamanya.


"Hari ini ada beberapa siswa kelas XII yang terlambat," ujar Pak Mukti lagi.


"Kami para dewan guru sungguh sangat menyesalkan," Pak Mukti menggelengkan kepala. "Sudah mau lulus tapi masih saja belum bisa mentaati peraturan paling mendasar sekolah."


"Mereka semua ditugaskan untuk membersihkan Aula," pungkas Pak Mukti akhirnya memberi informasi yang sangat dibutuhkan saat ini.


Setelah mengucapkan banyak terima kasih, ia pun bergegas menuju Aula yang berada di sayap timur area sekolah. Berjarak lumayan jauh dari ruang kelasnya.


Namun untung tak bisa diraih, malang tak dapat ditolak. Baru juga sampai di depan deretan Laboratorium Pengetahuan Alam, instrumental piano Fur Elise nya Beethoven telah berdentang melalui audio yang tersebar di seluruh penjuru sekolah. Sebagai tanda waktu istirahat pertama telah usai.


Saking penasarannya, ia memutuskan untuk tetap melanjutkan langkah menuju Aula yang tinggal sepelemparan batu. Dan benar saja, dari dinding yang seluruhnya dikelilingi oleh kaca, terlihat Cakra dan beberapa anak lain sedang membersihkan ruangan Aula sambil sesekali bercanda.


Baiklah, kini ia bisa sedikit tenang karena telah melihat kondisi Cakra yang baik-baik saja. Dan memilih untuk segera berbalik pergi menuju ke kelasnya. Seraya berjanji dalam hati, di jam istirahat kedua nanti, ia akan menemui Cakra.


"Ih!" gerutu Hanum begitu melihatnya muncul di dalam kelas. "Lo kemana aja sih, Ja?!"


"Katanya ke ruang guru tapi pas kita susulin kesana kok nggak ada?" kernyit Bening as usual, curigation.


"Baso kamu sampai dingin tahu!" sungut Hanum kesal.


"Ya ampun?!" ia buru-buru menepuk jidat. "Tadi gue pesen baso ke elo ya, Han?"


"Aduh, sori sori....," ia pun buru-buru meminta maaf pada Hanum yang masih saja cemberut. "Gue beneran lupa kalau udah pesen baso."


"Malah keasyikan ngobrol sama Pak Mukti...errr.....," kini gantian ia yang menggerutu karena telah keceplosan.


"Jadi bener kan lo nggak ke ruang guru?!" Bening langsung merespon. "Tapi malah ketemu Pak Mukti bukannya Miss Priskila?!"


"Ada urusan apa sama Pak Mukti, Ja?"


Namun pertolongan memang terkadang selalu datang di akhir. Tepat ketika ekspresi wajah Bening dan Hanum seolah ingin mengulitinya hidup-hidup, di depan pintu muncul Mr. Sofyan, guru Matematika mereka. Selamat....selamat....batinnya lega.


Dan intensifikasi Matematika menjadi sasaran ketakbisa konsentrasiannya yang kedua setelah Fisika tadi. Karena kepalanya dipenuhi oleh pikiran tentang Cakra, Cakra, dan Cakra. Ggrgrrgrhrhrhr!


Kenapa ia bisa jadi sebo doh ini sih? Hampir seharian memikirkan orang lain....rrrrr.....yeah, bukan orang lain sebenarnya. Aduh, bagaimana cara menjelaskan semua keanehan ini? Have no idea.


Dan 2 jam intensifikasi Matematika menjadi siksaan paling nyata. Waktu terasa berjalan begitu lambat. Hingga ketika Fur Elise kembali terdengar, ia langsung menghambur ke Aula. Tak mempedulikan Hanum dan Bening yang memanggil-manggil namanya.


"Lho, kok sepi?" tanyanya heran begitu mendapati Aula sudah rapi jali sekaligus kosong melompong. Hanya ada Pak Tamsis, penjaga sekolah yang sedang mengunci pintu Aula.


"Anak-anak yang tadi bersih-bersih di sini, pada kemana Pak?"


"Oh, Neng Anja ketinggalan," jawab Pak Tamsis.


"Ketinggalan kenapa?"


"Yang dihukum buat bersih-bersih sudah selesai dari tadi."


"Oh," membuatnya langsung cemberut. Udah cape-cape kesini juga, malah nggak ketemu, sungutnya sebal.


"Terus sekarang pada kemana anaknya, Pak?"


"Tadi katanya mau pada makan di kantin. Kelaparan soaln...."


"Oke, Pak Tamsis," potongnya cepat. "Makasih Pak."


"Owalah, Neng...Neng....," Pak Tamsis menggelengkan kepala. "Orang belum selesai ngomong malah langsung pergi."


Namun ia telah keburu berjalan menjauh, sama sekali tak mendengar lanjutan kalimat yang diucapkan oleh Pak Tamsis.


Sementara kantin di jam istirahat kedua jelas menjadi tempat paling dituju bagi hampir kebanyakan siswa. Kebutuhan biologis paling mendasar alias rasa lapar dan haus adalah sebab utamanya.


Namun di tengah suasana hiruk pikuk, ia belum juga berhasil menemukan sosok Cakra diantara ratusan siswa berseragam yang memenuhi kantin. Ia justru bertemu dengan,


"Ja, kok bengong?" sapa Dipa seraya tersenyum lebar.


"Oh...eh...," jawabnya gelagapan. "Eng...ini...lagi nyariin anak-anak. Pada kemana ya?" lagi dan lagi ia harus berbohong.


"Lho, Hanum sama Bening bukannya lagi pada duduk-duduk di gazebo?" sergah Dipa heran.


"Iya gitu?" ia jadi bingung sendiri. Pasti mereka berdua tengah duduk santai menikmati semilir angin siang hari di gazebo favorit.


"Kok lo jadi bingung gini sih, Ja?" tanya Dipa dengan mimik curiga. "Mending makan aja yuk. Gue traktir."


"Lo mau baso atau yang lain?" tawar Dipa.


Tapi ia menggeleng, "Enggak, Dip, makasih. Gue masih kenyang."


"Oh," wajah Dipa terlihat kecewa. "Ya udah. Besok-besok aja kita makan bareng. Udah lama kan kita nggak jajan bareng di kantin?"


Ia tertawa sumbang, "Iya, Dip. Iya...."


"Eh," namun sebelum ia melangkah pergi, Dipa masih sempat menahan lengannya.


"Pulang sekolah, bareng ya?" Dipa tersenyum. "Ntar gue samperin ke kelas."


Ia yang tak memiliki alternatif jawaban apapun hanya bisa menganggukkan kepala.


"Oke, siiip!" Dipa mengacungkan jempol dengan mata berbinar, kemudian melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan.


Setelah Dipa bergabung dengan teman-temannya, ia buru-buru menghampiri showcase cooler terdekat untuk mengambil sebotol air mineral juga minuman isotonik. Dan ketika sedang menunggu uang kembalian, matanya berhasil menangkap sekelebatan sosok Juna yang sedang duduk di meja paling ujung. Juna anak XII IPS1 yang tadi sempat dilihatnya ikut membersihkan Aula bersama Cakra.


"Ngng, Jun," ia pun memberanikan diri menghampiri Juna yang duduk menyendiri.


"Hai, Ja?" kening Juna mengernyit heran. Pastinya terasa aneh karena tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba ia mendekat dan menyapa.


Sementara sudut matanya menangkap tatapan curiga Dipa dari kejauhan demi melihatnya menghampiri Juna.


"Nyari gue?" tanya Juna to the point.


"Lihat Cakra nggak?"


Juna terlihat berpikir sebentar, sebelum akhirnya menjawab, "Tadi dari Aula mau ke Perpus katanya."


Ia tersenyum mengangguk, "Makasih."


"Eh, Ja!" cegah Juna ketika ia sudah berbalik pergi.


"Kenapa?"


Juna tersenyum samar, "Kalian lagi pedekate?"


Kini gantian ia yang mengernyit tak mengerti.


"Tadi habis kita dijemur di lapangan basket, pas mau jalan ke Aula, Cakra belok ke IPA2 dulu."


"Cuma buat mastiin lo hari ini masuk sekolah atau enggak."


"Sssttt!" ia buru-buru menyentuhkan telunjuk ke depan bibir. Mencoba memberi peringatan agar volume suara Juna tak terlalu keras. Khawatir ada banyak telinga yang bisa mendengar percakapan mereka.


"Kalau emang lagi pedekate feel free aja sih, kenapa mesti kucing-kucingan?" seloroh Juna dengan wajah menggoda.


"Ada teknologi namanya ponsel," lanjut Juna seraya tertawa. "Kenapa mesti saling stalking begini?"


"Off the record!" desisnya sebal sembari melotot dan buru-buru beranjak pergi. Namun sebelum benar-benar menjauh, telinganya masih sempat mendengar Juna berkata,


"Rahasia aman di tangan gue, Ja. Asal cocok harganya," disusul suara tawa. Membuatnya melangkah panjang-panjang agar secepat mungkin bisa meninggalkan kantin menuju Perpustakaan.


Dan udara dingin yang menyejukkan langsung menyambut kehadirannya begitu memasuki Perpustakaan. Setelah menyentuhkan jempol kanan ke dalam mesin absensi sebagai tanda masuk, matanya langsung memeriksa layar monitor besar yang terletak di bagian depan meja resepsionis.


Layar monitor tersebut memberikan informasi menyeluruh tentang siswa yang memanfaatkan ruangan tertentu di dalam Perpustakaan. Membuatnya tak harus mencari Cakra secara manual dengan meneliti satu persatu siswa yang ada di dalam. Sangat tidak efektif untuk gedung seluas ratusan meter persegi dan setinggi dua lantai.


Ruang Baca - zonk


Ruang Diskusi - zonk


Ruang Audio visual - Teuku Cakradonya Ishak/XII IPA6


Ia pun tersenyum mengangguk begitu menemukan apa yang dicari. Ternyata Cakra menjadi satu-satunya siswa yang memakai ruang audio siang ini. Baiklah, here we go.


Dengan tanpa permisi ia langsung memasuki pintu kaca yang membatasi selasar Perpustakaan dengan ruang audio visual. Dan mendapati Cakra tengah duduk di depan salah satu flat panel dengan mengenakan headset microphone.


"Anja?" kedua bola mata Cakra jelas menyiratkan keterkejutan begitu melihatnya memasuki ruangan.


Sembari mencibir campur tersenyum malu perlahan ia mulai mendekat kearah meja Cakra. Dan berjalan dengan diiringi tatapan tajam si wajah bersih itu, membuat kedua kakinya seolah terhisap masuk ke dalam karpet warna merah yang membentang di seantero ruang audio visual. Gugup. Sangat gugup.


Benar-benar menyebalkan, batinnya malu.


"Bisa sampai sini?" tanya Cakra heran sembari melepas headset.


Seraya terus mencibir ia meletakkan sebotol minuman isotonik yang tadi sengaja dibelinya di kantin ke atas meja persis di depan Cakra.


"Nih!" ujarnya dengan wajah seperti kepiting rebus. "Buat yang habis dihukum."