Beautifully Painful

Beautifully Painful
136. Sasa Oh Sasa .... (3)



Maafkan author terlambat up ya readers tersayang 🤗


Oiya, Beautifully Painful Anja-Cakra belum End....masih on going....dan 2 episode kemarin yang menceritakan tentang Mas Tama bukan sekuel.


Semua kisah tentang Sasa ini masih ada keterkaitan dengan acara aqiqah baby Aran tersayang 🤗


So, untuk yang kangen dengan interaksi Anja-Cakra 🤗 tunggu ya...as soon as possible 🤗 kita selesaikan hari aqiqah dulu 🤗.


with love,


Sephinasera 🤗


---------- 


Tama


Ia sempat tertegun sebentar saat mendengar sebutan petugas wanita itu untuknya.


Ayah Cut Rumaisha?


Namun tak seorangpun menyadari kekeliruan ini.


Sekilas dilihatnya Pocut sedang membelai rambut putrinya dengan air mata berlinang. Membuat sejurus lintasan tentang sebutan Ayah baginya sedikit mengusik hati.


Tapi ia buru-buru membuyarkan lamunan. Dan memutuskan untuk segera menandatangani kolom yang dimaksud tanpa banyak bicara.


"Terimakasih," ucap petugas saat menerima surat persetujuan tindakan medis yang telah selesai di tanda tangani olehnya.


"Sekarang, mari ikut saya menemui dokter bedah yang akan melakukan tindakan operasi."


"Saya bilang dulu ke....," ia menunjuk ke arah Pocut dengan gerik sungkan.


"Oh, silakan. Khawatir nanti Ibu nyari ya Pak," petugas tersenyum mengangguk sebelum ia sempat menyelesaikan kalimat.


"Nanti kalau sudah, Bapak bisa langsung menemui dokter Rahadi di depan."


"Baik, Sus."


Setelah petugas berpakaian hijau keluar dari dalam tirai, ia mendekati Pocut yang masih membelai rambut putrinya.


"Aku...mau ketemu dokter dulu...."


Wajah penuh air mata Pocut menoleh ke arahnya. Lalu dengan gugup berkata, "Maaf....tadi waktu mau ke sini, saya nggak sempat bawa dompet. Jadi...."


Ia mengernyit dan menggeleng sekaligus, "Bukan itu."


"Operasi ini pasti perlu biaya. Saya....."


Ia kembali menggelengkan kepala tanda tak setuju, "Jangan khawatirkan tentang biaya."


"Kecelakaan ini terjadi di rumah kami."


"Jadi pasti akan kami pertanggungjawabkan."


"Tapi....," Pocut hendak menyanggah ucapannya. Namun ia keburu melanjutkan kalimat.


"Yang penting kamu dampingi.....," dengan tangan kanan menunjuk ke arah gadis cilik yang kini kembali merengek.


"Mama....kapan kita pulang, Ma...."


"Aku mau pulang, Ma...."


"Iya sayang....sebentar lagi ya....."


Setelah berhasil menenangkan putrinya, Pocut menjawab lirih, "Rumaisha....panggilannya Sasa....."


Ia mengangguk, "Kamu dampingi Sasa. Aku ketemu dokter dulu."


Tanpa menunggu jawaban dari Pocut, ia pun segera beranjak keluar dari tirai menuju ke bagian depan ruang IGD.


"Saya mau ketemu dengan dokter Rahadi," ujarnya pada petugas yang berdiri di balik meja.


"Orangtua dari pasien Rumaisha?" seorang pria berpakaian biru-biru yang berdiri tak jauh dari petugas langsung mendekat.


"Iya, betul," jawabnya dengan mulut kaku.


"Saya Rahadi," pria tersebut menarik kursi yang berada di balik meja. "Silakan duduk."


Ia pun segera menarik kursi yang berada dalam jangkauan terdekat.


"Tadi dokter Hanggara sudah menjelaskan tentang hasil rontgen dan tindakan medis yang harus dilakukan?"


"Sudah, Dok."


"Baik," dokter Rahadi kembali mengeluarkan hasil rontgen Sasa ke hadapannya.


"Di sini bisa kita lihat," dokter Rahadi menunjuk pada hasil rontgen Sasa.


"Ujung jari pasien mengalami luka yang cukup parah."


"Mengenai tulang dan ujung syaraf."


"Merusak jaringan dan tidak bisa diatasi lagi."


"Jadi, pilihan utama adalah diamputasi."


[ Untuk kenyamanan bersama, gambar ilustrasi luka yang dialami oleh Sasa, author simpan di footnote. Jika kurang berkenan bisa skip skip next ya readers tersayang 🤗 ]


"Sepanjang satu ruas.....di zona satu dan dua....," dokter Rahadi menunjuk bagian ruas jari yang akan diamputasi.


Ia mengangguk mengerti.


"Namun karena pasien masih anak-anak. Kita perlu mempertimbangkan dampak psikologis yang dimungkinkan timbul pasca operasi."


"Disini saya tekankan, pasien sangat membutuhkan pendampingan dari kedua orang tua."


Ia kembali mengangguk meski tak terlalu yakin.


"Jadi, jika operasi berjalan lancar. Dan luka pasca operasi tidak mengalami kontaminasi, tidak timbul infeksi, juga tidak terjadi sepsis...."


"Maka pasien bisa sembuh total dalam jangka waktu satu sampai dua bulan."


"Selama kurun waktu pemulihan tersebut, kami berharap pasien mendapat pendampingan yang maksimal dari orang-orang terdekat."


Setelah mendengarkan seluruh penjelasan yang disampaikan oleh dokter Rahadi, lalu menyelesaikan urusan administrasi, ia bergegas kembali ke ruang IGD.


Dimana seorang pria berpakaian biru tengah berbicara dengan Sasa. Sementara dua orang perawat terlihat sibuk mempersiapkan peralatan operasi yang akan digunakan.


"Halo...siapa namanya sayang?"


"Sasa."


"Sasa....kenalan dong sama Om Aldin."


"Om Aldin dokter ya?" tanya Sasa ingin tahu.


"Bisa jadi," dokter (anestesi) Aldin terkekeh.


"Om boleh pinjam tangan Sasa sebentar nggak?"


"Biar diobati sama Om Rahadi...," dokter Aldin menunjuk ke arah dokter Rahadi yang sedang mempersiapkan diri.


"Hai, Sasa?" sapa dokter Rahadi. "Kami pinjam tangan kiri Sasa sebentar ya."


"Nggak lama kok," lanjut dokter Aldin lagi.


Sasa menganggukkan kepala tanda setuju.


"Tangan Sasa kenapa sayang? Kok bisa luka begini?"


Sasa hanya mengkerut. Tak menjawab pertanyaan dokter Aldin.


"Sakit ya?"


Sasa mengangguk sebanyak dua kali.


"Sekarang Om bantu obati ya, biar tangan Sasa nggak sakit lagi...biar cepat sembuh."


Sasa kembali mengangguk.


"Selama Om pinjam tangan Sasa...."


"Sasa jangan banyak bergerak ya...."


"Kita sambil cerita-cerita....."


"Sasa bisa sambil lihat ke Om, atau ke Mama....atau Papa....," ujar dokter Aldin sembari menoleh ke arahnya.


"Sasa nggak punya Papa, Om....."


Dokter Aldin terkekeh mendengar ucapan penuh kepolosan Sasa.


Selama mengobrol itu pula, dokter Aldin mempersiapkan tindakan anestesi yang akan dilakukan terhadap Sasa.


"Oh iya....Om lupa....," dokter Aldin masih terkekeh. "Sasa nggak punya Papa, tapi punyanya Ayah kan? Atau Daddy? Abi? Abah?"


"Ayah," jawab Sasa lirih.


"Nah, Ayah....sini Ayah....bisa berdiri dekat Sasa....," dokter Aldin kembali melihat ke arahnya.


Ia hanya bisa menelan saliva untuk menetralisir kegugupan. Karena Pocut juga tetap bergeming. Terus membelai rambut Sasa. Sama sekali tak mempedulikan sekitar. Termasuk kalimat yang diucapkan oleh dokter Aldin barusan.


Membuatnya memutuskan untuk segera melangkah mendekati tempat tidur. Berdiri di sebelah Pocut, yang masih menggenggam tangan kanan Sasa. Sembari terus membelai rambut putrinya itu dengan penuh kasih sayang.


"Sasa...Sasa udah sekolah belum?" dokter Aldin kembali bertanya.


Sementara dokter Rahadi telah bersiap di samping dokter Aldin. Dengan seorang perawat yang sedang memposisikan tangan kiri Sasa sedemikian rupa agar tak bisa banyak bergerak.


"Udah."


"Kelas berapa?"


"Sa.....Aduh!" Sasa tiba-tiba memekik. Membuatnya dan Pocut menghela napas secara bersamaan. Karena mengetahui jika proses anestesi sedang berlangsung.


"Tangan Sasa diapain, Om? Kok sakit sih?"


Dengan cekatan Pocut menenangkan Sasa yang mulai merengek dan hampir menangis. Sepertinya suntik obat bius yang sedang dilakukan oleh dokter Aldin terasa menyakitkan bagi Sasa.


"Ah, masa?" dokter Aldin tertawa kecil. "Digigit semut deh kayaknya."


"Sakit, Ma....," Sasa terus merengek.


"Iya....sabar ya sayang....," gumam Pocut seraya membelai rambut Sasa.


"Biar diobati sama Pak dokter....," lanjut Pocut dengan suara gemetaran.


"Sasa sayang.... tangannya tenang ya....jangan bergerak....," dokter Aldin kembali mengingatkan.


"Sakit, Om. Kayak ditusuk jarum gede...," rengek Sasa.


Membuat Dokter Aldin tersenyum penuh arti, "Kalau sekarang.....masih terasa sakit nggak?"


Sasa terlihat berpikir sebentar. Sementara dokter Aldin telah menyelesaikan suntikan anestesinya.


"Udah nggak ada jarumnya lagi, Om," jawab Sasa polos.


"Bagus," dokter Aldin kembali tersenyum. "Om bilang juga cuma digigit semut dikiiit."


Sementara ia dan Pocut lagi-lagi menghela napas panjang.


"Oiya....Sasa kelas berapa tadi?" dokter Aldin kembali mengalihkan perhatian Sasa dari tangan kirinya.


"Wah, keren udah kelas satu. Temennya banyak nggak?"


"Banyaaak."


"Siapa aja coba, kasih tahu Om nama teman-teman Sasa?"


"Bang Icad...Bang Umay...."


"Sasa temenan sama Abang-abang?!" mata dokter Aldin mendadak membulat dengan gaya dibuat-buat.


Membuat Sasa terkikik sendiri. "Itu nama Abang Sasa, Om."


"Oh....," dokter Aldin ikut tertawa. "Kirain...."


"Kalau teman sekolah Sasa siapa aja namanya?"


Selama Sasa disibukkan untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh dokter Aldin, efek dari bius lokal yang tadi disuntikkan mulai bekerja.


"Sasa tangannya udah terasa panas belum?" tanya dokter Rahadi.


Sasa mengangguk.


"Kalau gitu, tangannya boleh Om cubit ya....," seloroh dokter Rahadi lagi. "Sakit nggak?"


Sasa menggeleng.


Jawaban yang diberikan oleh Sasa membuat Dokter Rahadi menganggukkan kepala dengan wajah puas. Kemudian mulai bersiap untuk melakukan operasi.


"Kalau Sasa paling suka pelajaran apa?" dokter Aldin kembali bertanya.


"Matematikaaaa....," jawab Sasa cepat.


"Wah, Sasa kereeen...," dokter Aldin mengacungkan dua jempol sekaligus.


"Suka matematika alasannya apa?"


"Karena Bu gurunya baiiiiik dan cantiiiiik...," jawab Sasa sambil terkekeh-kekeh.


"Wah, kita sama dong. Om juga suka pelajaran yang bu gurunya cantik," seloroh dokter Aldin membuat dua perawat yang sedang membantu dokter Rahadi tersenyum-senyum simpul.


Dokter Aldin masih menyibukkan Sasa dengan berbagai pertanyaan. Sementara ia mulai memperhatikan baik-baik proses amputasi yang akan dilakukan.


Pertama-tama, dokter Rahadi mulai menggunting jari Sasa yang terluka, lalu memotong jaringan yang telah rusak, dan mengambil tulangnya.


Dokter Rahadi kemudian menusuk jari Sasa yang telah diamputasi dengan jarum, menutup luka bagian dalam sebanyak enam jahitan, luka bagian luar sebanyak delapan jahitan. Hingga luka tertutup sempurna. Menempel di ujungnya meski tanpa kuku.


Terakhir, dokter Rahadi menutupi ujung jari manis tangan kiri Sasa dengan perban agar tidak infeksi.


"Selesai deh.....," seloroh dokter Aldin begitu menyadari dokter Rahadi telah menyelesaikan tugasnya.


"Wah, Sasa bener-bener anak yang pemberani," kali ini dokter Aldin kembali mengacungkan dua jempol sekaligus.


Membuat Sasa terkekeh-kekeh senang mendengar ucapan dokter Aldin.


"Karena Sasa udah jadi anak baik dan pemberani....," dokter Aldin tersenyum penuh arti. "Om kasih hadiah."


"Mau?"


Sasa menganggukkan kepala berkali-kali dengan mata berbinar.


"Oke deh, Sasa mau hadiah apa dari Om?"


Sasa menggelengkan kepala, "Mama bilang....kita nggak boleh minta-minta sama orang lain."


Dokter Aldin tergelak. "Wah, Mama Sasa benar. Keren ya Mama Sasa."


"Tapi ini kan bukan Sasa yang minta. Om yang menawarkan."


Lagi-lagi Sasa menggelengkan kepala.


"Nanti Sasa dapat dua hadiah ya...," dokter Rahadi yang telah menyelesaikan operasi ikut bergabung dalam pembicaraan.


"Dari Om Aldin sama Om Rahadi."


Sasa menganggukkan kepala berkali-kali sambil tertawa-tawa senang.


***


Cakra


Ia sedang mengobrol dengan Pak Imam di ruang Satreskrim Polres Metro, ketika ponsel yang tersimpan di dalam saku bergetar tanda ada panggilan masuk.


"Maaf, Pak. Saya angkat telepon sebentar," ia segera meminta ijin untuk keluar ruangan begitu melihat caller id yang muncul di layar ponsel adalah nama Anja.


"Silakan....Silakan....," Pak Imam mengangguk.


"Halo, Ja?"


"Kamu...lagi di mana?"


"Masih di....Polres...."


"Lho, ngapain ke Polres? Bukannya mau ke rumah Pak Irwin?"


"Pak Irwin sama Mr. Sofyan udah tadi."


"Kenapa, Ja?"


"Buruan pulang. Tadi Sasa tangannya kejepit. Sekarang lagi dibawa ke rumah sakit."


"Sasa kejepit?" ia mengernyit tak mengerti.


"Rumah sakit?"


Tapi Anja keburu memutus sambungan telepon.


Dengan perasaan bingung dan hati yang masih bertanya-tanya, ia pun segera pamit pulang pada Pak Imam.


Setelah sebelumnya menitipkan dua kotak kue untuk dibagikan kepada para penghuni sel. Meski Bang Naim, Bang Bendot dan beberapa orang yang sempat satu sel dengannya dulu. Sebagian besar sudah tidak ditahan di Polres.


Karena menurut informasi yang diberikan oleh Pak Imam, beberapa tahanan teman sel nya dulu ada yang telah bebas bersyarat. Ada pula yang dipindahkan ke Rutan Cipinang. Guna menjalani masa hukuman yang telah diputuskan oleh Pengadilan.


Dan sebelum mengarahkan kemudi keluar dari halaman parkir Polres, ia menyempatkan untuk menghubungi Kak Pocut.


Tapi panggilannya tak pernah diangkat. Hanya terdengar nada sambung lalu terputus dengan sendirinya.


Membuatnya memutuskan untuk segera pulang ke rumah Anja. Sembari berharap, tidak terjadi hal-hal yang buruk dengan Sasa.


***


Anja


Ia tengah mengASIhi Aran di dalam kamar. Sementara Mamak yang memilih untuk melaksanakan ibadah sholat Maghrib di kamarnya daripada di ruang sholat, masih duduk di atas sajadah dan tetap bergeming.


Membuatnya merasa sedih. Karena di hari bahagia keluarga kecilnya, Kak Pocut dan Sasa justru mendapat musibah.


Saat kejadian, ia sedang asyik bercanda dengan para sepupu di dalam kamar. Ketika terdengar suara gaduh dari arah halaman belakang.


Mereka yang di dalam kamar pun penasaran dan segera menghambur keluar. Tepat disaat Mas Tama dengan setengah berlari menggendong Sasa yang menangis kencang melewati halaman samping.


Ia bahkan bisa melihat dengan jelas darah yang mengucur dari jari sebelah kiri milik Sasa.


Di belakang Mas Tama kemudian menyusul Kak Pocut. Yang berjalan tersandung-sandung karena mengikuti langkah panjang dan gerak cepat Mas Tama.


Saat itu juga Papa meminta Mang Jaja mencari orang atau tukang untuk membongkar mainan jungkat-jungkit. Agar tak memakan korban lagi.


"Mamak tinggal di sini dulu ya," begitu kata Teh Dara kepada Mamak beberapa saat lalu.


"Sasa masih mendapat perawatan dari dokter."


"Dan kemungkinan besar pulangnya ke sini lagi."


"Karena jarak dari rumah sakit ke sini lebih dekat."


"Bagaimana baiknya saja, nak," jawab Mamak dengan wajah sendu.


"Mamak tidur di sini saja ya," ia pun mencoba membujuk Mamak. "Temani aku sama Aran."


"Cak...eh, Agam biar tidur di sofa," ujarnya sambil tersenyum-senyum sendiri. Membayangkan Cakra benar-benar tereliminasi dari tempat tidur mereka dan harus puas bermalam di atas sofa.


"Boleh," Mamak mengangguk. "Tapi nanti tunggu kabar dari Pocut dulu."


Ia pun mengangguk setuju.


Dan sejak saat itu Mamak kembali melanjutkan dzikirnya di atas sajadah. Sampai sekarang jelang waktu Isya. Sampai seseorang terdengar mengetuk pintu kamar. Kemudian disusul dengan munculnya Cakra dari balik pintu.


Berjalan dengan langkah panjang mendekatinya. Lalu mencium keningnya dalam-dalam.


"Kamu udah tahu?" bisiknya demi melihat ekspresi wajah Cakra yang sedikit gugup.


"Dikasih tahu sama Teh Dara di depan," jawab Cakra balas berbisik.


Ia pun hanya bisa memberi tatapan penuh penyesalan, "So sorry....."


"Mainan jungkat-jungkit itu memang udah terlalu tua," ujarnya sungguh-sungguh.


"Banyak bagian yang udah berkarat dan...."


Tapi Cakra justru menggeleng. Lalu memintanya untuk berhenti mengatakan hal seperti tadi dengan menggunakan isyarat.


Ia hanya memberengut melihat Cakra. Yang kini tengah mengusap pipi Aran dengan lembut.


Sementara Aran yang masih mencecap dengan penuh semangat langsung melepaskan diri. Seolah tahu jika Ayahnya sudah pulang. Dan bermaksud untuk menyambutnya.


"Nen lagi....nen lagi....," seloroh Cakra seraya menyentuh dirinya agar Aran kembali menyesap ASI.


"Ish!" ia mendelik sebal tapi sedetik kemudian tersipu malu. Dasar Cakra mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Cakra masih mengu lum senyum mendapati reaksinya seraya menunjuk ke arah Mamak.


Ia pun mengangguk tanda mengerti.


Kemudian Cakra beranjak mendekati Mamak. Mendudukkan diri dengan lengan merengkuh bahu Mamak.


Cakra terlihat berbisik di telinga Mamak. Yang dijawab Mamak dengan anggukan kepala berkali-kali.


Sementara ia tersenyum sembari menyusut sudut mata demi melihat pemandangan yang terasa sangat menyentuh.


Sasa sayang, semoga kamu baik-baik saja, bisik hatinya dengan penuh harap.


***


Keterangan :


Gambar ilustrasi luka yang dialami oleh Sasa (skip jika kurang berkenan) :



sumber : dari Boulas HJ, Amputations of the fingers and hand


Sepsis. : terjadi ketika bahan kimia yang dilepaskan di dalam aliran darah untuk melawan infeksi memicu peradangan di seluruh tubuh. Dapat menyebabkan berbagai perubahan yang merusak beberapa sistem organ, menyebabkan kegagalan organ, terkadang bahkan mengakibatkan kematian


Gejalanya meliputi demam, sulit bernapas, tekanan darah rendah, denyut jantung cepat, dan kebingungan mental (sumber : mitra keluarga dan lainnya)


Ucapan terimakasih tak terhingga untuk Mom Dyani 🤗 readers tersayang yang telah bersedia menjadi narasumber 🤗 terutama dalam menjelaskan detail luka yang dialami oleh Sasa menurut bahasa medis 🤗 hingga author bisa menuangkan ke dalam bentuk tulisan.


BIG HUG 🤗