
Cakra
"Kamu nggak apa-apa?"
Ia bahkan kehilangan semua pilihan kata dan hanya bisa melontarkan sejenis pertanyaan bodoh. Demi melihat wajah sembab Anja dan tatapan mata kosong yang berhasil mengaduk seluruh emosinya.
Kemudian segera berlutut dan meraih tubuh mungil itu ke dalam rengkuhan. Menenggelamkan wajahnya ke dalam perut buncit Anja hingga telinganya yang menempel di dada bisa mendengar degup jantung yang tengah berkejaran.
"Aku di sini....," gumamnya pelan sembari mengusap punggung yang bergerak naik turun dengan hebatnya akibat isak tangis.
"Aku di sini....," ulangnya lagi seraya mengeratkan rengkuhan.
Kini entah sudah berapa lama ia berlutut sembari mendekap Anja. Berusaha meyakinkan jika mereka akan selalu bersama menghadapi setiap rintangan yang ada. Seberat apapun itu.
Perlahan namun pasti, suara isakan Anja mulai melemah. Dan getaran di bahu mungil itu sedikit berkurang. Membuatnya merenggangkan pelukan untuk kemudian mengulurkan tangan guna menghapus air mata yang masih menganak sungai.
Ia mencoba tersenyum sambil terus menyusut air mata yang membanjiri wajah sehalus pualam itu sembari berkata, "Maaf terlambat."
Tapi Anja justru memberengut seraya memukuli bahunya berkali-kali. Perilaku khas Anja yang membuat senyumnya kian merekah meski hati terasa begitu pedih.
Sekilas telapak tangannya menyempatkan diri untuk mengusap perut Anja yang membuncit. Meski tak terlalu kentara karena terhalang oleh cardigan warna pink yang memang sengaja dikenakan Anja guna menyamarkan kondisi.
Sebelum akhirnya berdiri dan menarik kursi lain yang berada dalam jangkauan. Mendudukkan diri di sana sembari lengannya meraih kepala Anja yang masih saja terisak ke dalam rengkuhan.
"Kamu bisa nangis sepuasnya," gumamnya pelan seraya mengusap bahu Anja.
"Sampai ngerasa enakan."
"Aku bakalan tetap di sini nemenin kamu."
"Nggak akan kemana-mana."
Namun Anja justru kembali terisak dalam rengkuhannya. Kali ini lebih hebat dibanding yang pertama. Membuat lehernya ikut terasa basah akibat lelehan air mata yang menganak sungai.
Ia bahkan menghitung dalam hati sampai dengan angka ke 123. Tapi tangis Anja tak kunjung reda. Bahkan makin sesenggukan hingga ia harus mendekap bahu yang terus saja naik turun tanpa henti.
Membuatnya kembali bergumam pelan, "Semua akan baik-baik saja, Ja."
"Kamu nggak usah khawatir."
"Kita akan melaluinya sama-sama."
Kemudian memberanikan diri untuk mengecup kening yang terasa sedingin es itu. Berharap bisa mengikis sedikit dari sekian banyak kekhawatiran yang sedang melingkupi hati Anja. Berusaha terus meyakinkan jika mereka akan baik-baik saja.
Dan lambat laun intensitas isakan perlahan mulai berkurang. Kemudian berhenti sama sekali. Disusul oleh hembusan napas hangat yang meniup-niup lehernya dengan ritme teratur.
Membuatnya menundukkan kepala untuk memastikan keadaan Anja. Yang berhasil membuatnya tersenyum lega. Demi melihat mulut setengah terbuka yang menjadi penanda jika Anja telah terlelap.
"Semua akan baik-baik saja, Ja," bisiknya pelan seraya kembali mengecup kening sedingin es itu.
***
Anja
Aroma tubuh Cakra entah mengapa selalu berhasil menenangkan dirinya. Keharuman maskulin yang meruar memenuhi rongga hidung tiap kali mereka berdekatan, senantiasa berhasil mengendurkan simpul syaraf yang menegang akibat situasi tak mengenakkan yang dalam beberapa kurun waktu terakhir seringkali menyambanginya.
Ia bahkan sengaja menghirup napas dalam-dalam. Agar paru-parunya bisa menampung sebanyak mungkin volume udara memabukkan yang berasal dari keharuman milik Cakra.
Hingga berhasil mengurai ketakutan dan ketegangan yang sebelumnya begitu membelenggu. Melegakan perasaan yang penuh sesak dengan sampah emosi. Sekaligus menentramkan hati yang gundah gulana tak tentu arah.
Tapi lama kelamaan kepalanya mulai terasa kebas. Entah sudah berapa lama ia berada dalam posisi yang sama.
Menyender di leher Cakra hingga hidungnya bahkan bisa menyentuh sepasang tulang selangka milik si empunya. Jawaban pasti dari pertanyaan tentang aroma maskulin Cakra yang terasa begitu kuat menguar.
Dan semua kenyamanan ini disempurnakan dengan lengan kokoh yang merengkuhnya dalam-dalam. Mengusap bahunya perlahan hingga menghantarkan kedamaian yang kian menenteramkan.
Namun ketika lehernya terasa sedikit pegal, ia pun mulai beringsut. Bersamaan dengan suara adzan yang sayup-sayup terdengar berkumandang dari kejauhan. Membuatnya mengernyit heran dengan tata waktu saat ini.
"Jam berapa sekarang?" tanyanya bingung seraya melepaskan diri dari rengkuhan lengan Cakra.
"Kok udah adzan?"
"Atau aku salah dengar?"
Namun Cakra hanya tersenyum simpul, sama sekali tak berniat menjawab kebingungannya. Justru mengulurkan tangan guna menangkup wajahnya dengan telapak yang besar juga hangat.
"Udah enakan?" tanya Cakra seraya mengusap lembut pipinya.
Namun ia hanya bisa meringis malu sambil menggigit bibir dengan gelisah. Demi mengingat lintasan kejadian mengerikan beberapa saat yang lalu.
"Mau pulang sekarang?" tanya Cakra lagi sembari merapikan beberapa anak rambutnya yang berjatuhan menutupi kening hingga terlihat tak beraturan.
"Pulang?" ia justru balik bertanya. Matanya refleks melihat pergelangan tangan kiri dimana jam tangannya berada.
"Ya ampun, sekarang jam dua belas siang?!" pekiknya kaget.
"Itu barusan adzan Dzuhur?!?"
Cakra menganggukkan kepala dengan senyum di ku lum.
"Simulasi kamu?!?" ia tiba-tiba teringat sesuatu. "Kamu dari tadi duduk di sini?!?"
Lagi-lagi Cakra menganggukkan kepala.
"Kamu bukannya ikut sesi ketiga yang jam sebelas?!?" tanyanya lagi dengan nada tak sabar.
"Harusnya baru selesai jam setengah satu nanti. Tapi kenapa kamu malah ada di sini?!?" pekiknya panik.
Tapi Cakra justru kian mengu lum senyum.
"Kamu nggak ikut simulasi?!?" tuduhnya cepat.
Cakra hanya mengangkat bahu dengan ekspresi tak peduli.
"Ya ampun," ia mendadak diliputi oleh perasaan bersalah.
Pikirannya mulai bekerja mengurutkan kronologi. Semua berawal dari petaka selebaran warna pink dan puluhan poster dengan tulisan paling mengerikan yang terjadi tepat setelah ia keluar dari ruang ujian. Itu berarti sekitar pukul 08.30 an.
Kemudian ia sempat mengalami kepanikan di selasar Lab Komputer hingga Lab Bahasa bersama Bening. Mungkin memakan waktu kurang lebih 10 menit an.
Setelah itu ia berjalan cepat berusaha menjauh dari arena penghakiman massal. Hingga akhirnya terdampar di gudang ini.
Lalu menangis sesenggukan sampai kesulitan tak bisa bernapas akibat hidung yang tertutup ingus. Dengan pipi yang juga semakin kaku akibat terlalu lama menangis.
Baru setelah ia merasa kelelahan, Cakra muncul di depan pintu gudang dengan napas tersengal. Dan langsung berlari menghampiri, memeluknya, hingga ia merasa aman dan nyaman.
Dan sekarang adzan Dzuhur?!? Berarti selama hampir tiga jam Cakra duduk menemaninya di sini sampai-sampai tak mengikuti simulasi UNBK?! Ya ampun.
"Kamu jadi nggak ikut simulasi gara-gara aku," gumamnya sedih dengan wajah tertunduk. Merasa bersalah sekaligus tak enak.
"Simulasi nggak penting," jawab Cakra dengan nada yang terlalu tenang.
"Yang penting sekarang, kamu mau pulang atau masih betah di sini?"
Namun ia mendadak teringat sesuatu, "Pak Cipto?! Pak Cipto masih nungguin di tempat parkir dong dari tadi?! Aduh, kasihan."
Tapi Cakra justru tersenyum, "Pak Cipto udah pulang duluan."
Matanya membelalak tak percaya.
"Tadi, begitu kamu ketiduran," terang Cakra sembari merapikan beberapa helai rambutnya yang menjadi kusut akibat terlalu lama bersandar di leher Cakra.
Membuatnya menghembuskan napas lega. Namun sejurus kemudian kembali memucat, "Aku takut pulang."
"Kenapa?"
"Harus lewatin koridor yang....yang....," ia tak mampu melanjutkan kalimat. Bayangan tentang selebaran warna pink yang berterbangan di sepanjang selasar seketika membuat tubuhnya menggigil.
"Kan ada aku," Cakra meraih tangannya lalu menggenggam erat-erat.
"Lagian jam segini pasti sepi," lanjut Cakra dengan ekspresi santai.
"Yang simulasi belum keluar. Sementara anak kelas X dan XI lagi jam pelajaran."
Namun ia menggelengkan kepala kuat-kuat, "Aku takut."
Membuat keheningan serta merta menyeruak. Namun sejurus kemudian Cakra bertanya dengan nada tak meyakinkan, "Kalau keluar lewat jalan pintas, mau?"
"Jalan pintas?" tanyanya tak mengerti.
Dan yang dimaksud dengan jalan pintas oleh Cakra ternyata adalah pintu keluar tersembunyi yang hanya diketahui oleh segelintir siswa. Dan sebagai mantan berandal sekolah, Cakra menjadi salah satu siswa yang mengetahui rahasia ini.
"Dulu, kalau kabur lewat sini," seloroh Cakra bangga. Dengan lengan yang diposisikan sedemikian rupa agar ia bisa berpegangan dan berjalan menerobos rumput setinggi paha orang dewasa.
"Bahaya nggak nih?!" tanyanya ragu sambil menengok ke kanan dan ke kiri.
"Ntar ada ular lagi?!" sungutnya dengan mimik ngeri membayangkan apa yang ada di balik ilalang setinggi ini.
"Palingan juga ular jali apa ular pucuk."
"Cakra, ih!!" ia pun buru-buru memukul punggung Cakra dengan kesal. "Orang lagi takut malah jadi tambah takut!!"
"Tenang aja, nggak berbisa," lanjut Cakra tak mempedulikan ketakutannya.
"Lebih berbisa gigitan Abang," seloroh Cakra yang tiba-tiba membalikkan badan hingga ia menabrak dadanya.
"Males deh ah!" ia langsung memukul lengan Cakra yang tergelak karena berhasil menakut-nakuti dirinya.
"Berdoa aja biar perjalanan kita ke gerbang belakang nggak diganggu oleh makhluk lain, baik yang kasat mata ataupun tidak."
"CAKRA?!?" bentaknya marah karena Cakra tak berhenti menggodanya.
"Mendingan aku lewat di koridor yang aman, tenteram, damai meski malu sama orang-orang! Daripada harus harap-harap cemas bisa ketemu ular apa hantu di sini!!" cerocosnya kesal.
Kali ini Cakra tak lagi berseloroh. Tapi tersenyum seraya mengusap pipinya lembut, "Jangan takut, kan ada aku."
Dan perjalanan menuju gerbang belakang pun kembali dilanjutkan. Tapi ia harus berpegangan erat-erat di lengan Cakra agar tak tersandung akar pohon atau rumput keras.
"Kok bisa ada kebun seseram ini sih di belakang sekolah?" tanyanya heran ketika matanya mulai menangkap tembok berwarna putih kusam yang mengelilingi bagian belakang.
"Makanya jadi tempat ideal buat anak-anak yang kelebihan energi," seloroh Cakra.
Membuatnya mencibir sebal. Tapi juga memancing keingintahuannya. "Ini tembusnya ke mana?"
"Ada perkampungan padat penduduk di belakang sekolah," jawab Cakra seraya menyebut nama kampung tersebut.
"Nanti begitu keluar gerbang, kita mesti nyeberangin sungai. Terus jalan sedikit. Sampai deh di belakang ruko BSL," lanjut Cakra dengan mimik meyakinkan.
"Ya ampun, sampai tembus ke sana?" tanyanya tak percaya. Ruko BSL adalah sederet kompleks pertokoan dan gedung perkantoran yang berjarak kurang lebih 4 Km dari gerbang utama Pusaka Bangsa.
"Begitulah," seloroh Cakra sambil tertawa.
"Eh, tapi sungainya ada jembatannya nggak?!" sergahnya curiga. "Nanti jangan-jangan kita harus naik rakit lagi?!"
Tapi kekhawatirannya jelas tak beralasan. Karena begitu mereka sampai di ujung jalan. Tepat di depan tembok keliling yang dihiasi oleh banyak lumut. Cakra langsung mendorong pintu gerbang besi yang sudah karatan.
Terlihat lumayan berat. Cakra bahkan sampai harus mengumpulkan tenaga dan mendorong beberapa kali hingga akhirnya gerbang berwarna cokelat tua itu bisa terbuka.
"Wah, bisa jadi jalan maling masuk ke sekolah nih," komentarnya heran. Demi mengetahui begitu mudahnya akses masuk ke Pusaka Bangsa melalui jalur tersembunyi.
"Kan sekolah dikelilingi CCTV," jawab Cakra yakin. "Lagian setoran sekolah ke centeng kampung belakang pasti lancar. Bikin nggak ada maling yang minat masuk lewat sini."
Tapi ia lebih tertarik membahas yang pertama, "Di belakang sini ada CCTV nya juga?!"
"Iya," jawab Cakra ringan. "Kenapa?"
"Jadi sekarang kita lagi kerekam CCTV dong?" tanyanya cemas.
"Pastinya," jawab Cakra sambil tergelak.
Membuatnya buru-buru mendorong punggung Cakra agar segera berjalan keluar melewati gerbang besi berwarna cokelat tua itu. Dan begitu ia berhasil keluar, Cakra langsung menutup pintu gerbang seperti semula.
Setelah itu mereka mulai berjalan menyusuri pinggiran sungai yang tak terlalu lebar. Hingga menemukan jembatan sederhana yang terbuat dari bambu dan kayu.
Ia pun kembali harus berpegangan erat-erat pada lengan Cakra. Saking takutnya akan terpeleset lalu jatuh ke dalam sungai yang airnya berwarna hitam dan menguarkan bau tak sedap itu.
Ia baru bisa bernapas lega setelah menginjakkan kaki di seberang. Yaitu sebuah gang kecil yang berada di bagian depan sebuah perkampungan padat penduduk.
"Anjani keren," Cakra mengacungkan jempol seraya tersenyum lebar. "Sukses melewati petualangan pertama."
Namun ia hanya mencibir dan berjalan di depan mendahului Cakra. Agar bisa menyembunyikan wajah memerahnya akibat tersipu barusan.
"Eh, Ja!" Tapi Cakra menahan langkahnya. "Bukan ke sana, tapi ke sana," tangan Cakra menunjuk ke arah yang berlawanan dari tempatnya berdiri.
Membuatnya buru-buru menghampiri Cakra untuk mendorong bahunya kesal.
Kini mereka tengah berjalan dengan bergandengan tangan menyusuri gang yang lumayan sepi. Hanya satu atau dua motor yang kebetulan lewat. Membuat mereka sesekali harus menghentikan langkah kemudian minggir untuk memberi kesempatan pada motor yang akan lewat.
"Motor kamu jadi ditinggal di sekolah," ujarnya sambil terus berjalan.
"Motor gampang," jawab Cakra dengan gaya yang terlalu santai. "Bisa diambil besok."
Dan setelah berjalan cukup jauh. Sampai kakinya mulai merasa pegal. Tibalah mereka di ujung gang. Yang terletak tepat di belakang pertokoan dalam kompleks ruko BSL.
Begitu melangkahkan kaki di halaman depan ruko, Cakra menarik tangannya untuk memasuki sebuah minimarket waralaba yang berasal dari Paman Sam. Dengan ciri khas warna merah dan kuning, yaitu Circle-E.
Cakra bahkan langsung berjalan menuju lemari pendingin. Kemudian mengambil dua botol air mineral.
"Lapar nggak?" tanya Cakra yang kini beralih menuju rak makanan.
Namun sebelum ia menjawab, Cakra telah mengambil sebungkus wafer yang langsung diambilnya.
"Kenapa?" tanya Cakra heran.
Ia hanya mencibir seraya mengembalikan wafer ke tempat semula. Kemudian menggantinya dengan sebungkus cracker favorit. Membuat Cakra tersenyum mengangguk.
Kini mereka telah memiliki sekeranjang penuh makanan dan minuman. Termasuk dua buah es krim rasa Crunch. Sedang berdiri mengantre di depan kasir.
Setelah transaksi pembayaran selesai, kemudian Cakra mengajaknya untuk duduk di sederet kursi yang ada di teras minimarket. Menikmati es krim Crunch yang lezat sembari memperhatikan kesibukan di jalan raya.
Ia masih menjilati sisa cokelat leleh yang menempel di atas stik es krim, ketika Cakra mengambil ponsel dari dalam saku karena ada panggilan masuk.
Dan Cakra langsung memandangnya begitu melihat layar ponsel.
"Siapa?" tanyanya ingin tahu.
"Mas Tama," jawab Cakra dengan wajah gugup. Sembari memperlihatkan layar ponsel yang menyala dengan tulisan,
Mas Tama Calling