Beautifully Painful

Beautifully Painful
94. Miss You Like Crazy



Anja


Semalam ia baru bisa tertidur nyenyak setelah mendengarkan podcast berjudul Cakradonya yang sengaja diputar berulang kali.


Dan pagi ini ia bahkan sudah mati gaya tak tahu lagi harus melakukan atau mengerjakan apa untuk mengisi waktu.


Kemarin ia sempat melakukan video call. Meminta Hanum dan Bening untuk tidur di rumahnya selama Cakra training di Cileungsi. Tapi tak mendapat hasil yang diinginkan.


Karena Hanum semingguan ini bakalan tinggal di Bogor. Menemani Mamanya yang sedang merawat nenek Hanum akibat komplikasi sakit diabetes.


Sementara Bening sedang menikmati liburan bersama keluarga Bumi ke Raja Ampat.


"Wah, bentar lagi serius mau dijadiin mantu nih, udah jalan bareng sama keluarga?" seloroh Hanum yang diiyakan olehnya.


"Refreshing bentar gengs, sebelum berpusing ria ikut Simak (seleksi masuk)," kilah Bening yang menganggap kepergiannya ikut rekreasi ke luar pulau bersama keluarga Bumi adalah hal biasa.


"Yah, gue nggak ada teman dong," ia mendadak malas ketika membayangkan empat hari ke depan. Yang pastinya sunyi sepi sendiri.


Membuatnya memutuskan untuk pergi saja ke tempat yang bisa memberinya keramaian. Tempat mana lagi yang akan ia dituju kalau bukan pergi ke,


"Pak Cipto, tolong anterin ke rumah Cakra dong."


"Siap, Neng."


"Nanti Pak Cipto langsung pulang aja. Soalnya aku mau tidur di sana."


"Baik, Neng," Pak Cipto menganggukkan kepala tanda mengerti.


"Besok-besok kalau mau pulang ke sini tinggal telepon ya, Neng. Biar saya jemput."


Kali ini giliran ia yang mengangguk. "Tapi kita mampir ke Minimarket dulu ya, Pak."


Pak Cipto mengantarkannya sampai ke depan pintu rumah Cakra. Sekalian membantu membawakan seabrek makanan, cemilan, dan snacks yang sempat dibelinya di Minimarket.


"Bapaknya biar makan dulu, Anjani," begitu kata Kak Pocut yang kebetulan masih berada di rumah. Baru hendak berangkat ke keude.


Namun pak Cipto menolak dengan halus. "Terimakasih Bu dan Neng Anja. Tadi saya sudah sempat sarapan di rumah."


Membuat Kak Pocut berinisiatif membungkus beberapa potong ayam tangkap untuk dibawa pulang oleh Pak Cipto.


"Wah, terimakasih banyak," ujar Pak Cipto ketika menerima sebungkus ayam tangkap yang masih panas. Sekalian pamit pulang.


"Kakak mau pergi ke keude," kata Kak Pocut sambil membereskan barang-barang yang akan dibawa. "Anjani mau ikut atau nunggu di sini?"


Ia berpikir sebentar. Rumah Cakra terasa sepi karena Umay dan Sasa masih di sekolah. Sementara Icad baru saja pamit pergi bermain dengan temannya.


Jadi kalau sekarang Kak Pocut pergi ke Keude, maka ia hanya bisa duduk menunggu seorang diri di rumah Cakra. Wah, ini sih namanya pindah dari tempat sepi ke tempat sepi lainnya. Padahal tujuan utama pergi ke rumah Cakra agar bisa berada di keramaian.


"Aku ikut deh, Kak," pada akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti Kak Pocut pergi ke Keude.


"Tapi kalau jalan kaki lumayan jauh," Kak Pocut terlihat berpikir.


"Keude nya di dekat pasar kan, Kak? Aku pernah jalan kaki sampai ujung pasar sama Cakra."


Kini ia dan Kak Pocut telah berjalan beriringan menyusuri gang yang tak terlalu ramai. Hanya dijumpai beberapa ibu yang sedang menyuapi anaknya di teras rumah.


Sesekali juga Kak Pocut harus menghentikan langkah untuk sekedar menjawab sapaan orang-orang yang mereka lewati.


"Siapa, Cut?"


"Istrinya Agam, Cing."


"Jago bener si Agam cari bini."


Atau,


"Cut, itu bini si Agam bukan?"


"Lagi bunting?"


"Masih kecil udah mau punya anak. Gimana ceritanya?!"


Membuat Kak Pocut melihat ke arahnya dengan pandangan tak enak hati, "Jangan diambil hati ya, Anjani."


"Ibu-ibu di sini memang gaya bicaranya ceplas ceplos," lanjut Kak Pocut sambil mengusap lengannya.


Tapi ia hanya tersenyum, "Nggak apa-apa, Kak. Udah biasa."


Setelah berjalan kaki selama hampir 15 menit. Sampailah mereka di depan sederet bangunan semi permanen yang terletak di pinggiran pasar. Sebagian besar bangunan tersebut berjualan makanan matang. Mulai dari warteg, warung nasi, sampai toko kue.


Keude tempat Mamak dan Kak Pocut berjualan berada di bagian tengah bangunan. Bersebelahan dengan warteg dan toko kue.


"Anjani kapan kesini? Sama siapa?" sapa Mamak yang terkejut melihat kemunculannya di depan pintu Keude.


"Baru datang diantar Pak Cipto," jawab Kak Pocut yang langsung membereskan barang-barang bawaan.


Sementara ia hanya tersenyum seraya meraih tangan Mamak dan menciumnya takzim. "Apakabar, Mak?"


"Alhamdulillah, baik," Mamak mengusap lengannya lembut.


"Anjani apakabarnya?" Mamak balik bertanya sambil mengusap perutnya yang membuncit. "Sehat?"


Ia tersenyum mengangguk. Mereka memang cukup lama tak bertemu. Terakhir di hari ulang tahunnya hampir dua bulan lalu. Ketika untuk pertama kali ia menginap di rumah Cakra.


Setelah itu mereka mulai disibukkan oleh serangkaian ujian hingga terakhir SBMPTN kemarin.


"Wah, Neng cantik lagi di sini," sapa Cing Ella yang datang tergopoh-gopoh dari bagian belakang Keude.


"Iya, Cing," ia tersenyum mengangguk sambil menyalami Cing Ella.


"Neng sekarang jadi tambah geulis (cantik)," ujar Cing Ella sambil mengelus pipinya hingga ia bisa mencium aroma bawang merah yang cukup menusuk. "Mencrang (terang bersinar) kieu."


Ia hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum geli.


"Utunnya perempuan pasti, Mak," ujar Cing Ella lagi kali ini ke arah Mamak. Sembari mengusap perutnya.


Namun setelah mengusap perutnya Cing Ella mengernyit. "Tapi perutnya bulet gini bentuknya. Bagus banget."


"Ini sih utunnya jelas laki-laki."


Sementara Mamak dan Kak Pocut hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.


"Laki-laki perempuan sama saja. Yang penting sehat dan selamat," sahut Mamak yang kini tengah melayani seorang pembeli.


"Wah, siapa itu Mak?" tanya orang yang sedang membeli sambil menunjuk ke arahnya. "Keude Mak Agam lagi kedatangan artis?"


"Bukaan," justru Cing Ella yang menjawab. "Ini istrinya Agam."


"Wah, si Agam jago bener cari bini," ujar orang tersebut sambil terus melihat ke arahnya dengan sorot kagum.


"Agamnya juga cakep gitu," sahut Cing Ella cepat. "Wajar lah istrinya cantik."


"Iya, dari dulu si Agam seleranya yang bening-bening," orang tersebut kembali melihatnya dengan tatapan menyelidik. "Tapi kalau yang ini sih keterlaluan beningnya."


Membuatnya hanya bisa meringis bingung. Tak tahu bagaimana harus berkata atau memberi komentar apa. Hingga Kak Pocut berinisiatif memintanya untuk duduk saja, "Duduk di sini Anjani."


Ia pun langsung menurut. Duduk di sebuah kursi yang terletak di sudut ruangan. Sedikit terhalang oleh kulkas usang berwarna hijau. Hingga ia tak harus malu karena menjadi pusat perhatian para pembeli keude.


"Kalau kepanasan ada kipas angin," ujar Kak Pocut sambil meletakkan kipas angin kecil di hadapannya.


"Atap keude terbuat dari asbes. Jadi kalau siang panasnya masuk ke dalam semua. Gerah," terang Kak Pocut sembari menunjuk langit-langit keude yang tak memiliki eternit. Membuat matanya langsung bisa menangkap lembaran asbes yang berfungsi sebagai penutup atap.


"Makasih, Kak," ia tersenyum mengangguk.


"Kakak ke depan dulu ya," Kak Pocut menunjuk ke arah Mamak dan Cing Ella yang sedang sibuk melayani pembeli. "Jam segini lagi ramai-ramainya. Biasa orang cari sarapan."


"Iya, Kak," lagi-lagi ia menganggukkan kepala.


Begitu Kak Pocut menghampiri Mamak, Cing Ella kembali beranjak ke bagian belakang Keude yang berfungsi sebagai dapur. Menyelesaikan masakan yang sempat tertunda.


Ia pun mulai memperhatikan sekeliling keude. Bangunan semi permanen berukuran kurang lebih 5x5 M ini tampak penuh sesak dengan rak berisi makanan yang dijual. Serta sebuah meja dan dua bangku panjang untuk pembeli yang ingin makan di tempat.


Selain itu di salah satu sudut terdapat sebuah lemari kayu kecil dan kulkas usang berwarna hijau. Yang cukup bisa menghalanginya dari pandangan menyelidik para pembeli. Serta tiga buah kursi lipat warna merah yang sudah sobek disana-sini. Dan satu meja kecil berisi beberapa piring kosong.


Karena Mamak dan Kak Pocut masih saja sibuk melayani pembeli. Ia mencoba mengisi waktu dengan bermain ponsel. Menscroll sosmed berusaha mencari sesuatu yang menarik.


Namun timeline nya kebanyakan berisi tentang liburan, hang out ke tempat hits, atau kumpul-kumpul dengan teman. Terlihat sangat membosankan.


Membuatnya iseng beralih melihat-lihat isi galeri. Mencoba mencari apakah ada foto Cakra di sana. Hmmm. Ia segera menggelengkan kepala. Baru juga ditinggal Cakra pergi selama 2 hari, rasanya sudah seperti bertahun-tahun lamanya. Sungguh tak mengenakkan.


Dan isi galeri ponsel menyadarkannya jika ia sama sekali tak memiliki foto Cakra. Kecuali foto pernikahan mereka yang dikirimkan oleh Teh Dara melalu email beberapa waktu lalu.


Sementara Cakra terdeteksi tak memiliki akun sosmed apapun. Membuat chanel referensinya akan foto Cakra sangat tipis.


Namun ia jelas selalu memiliki jalan keluar. Dibukanya situs resmi Pusaka Bangsa. Kemudian men screenshot pasfoto Cakra di laman alumni.


Tak apalah, daripada tak ada foto sama sekali. Karena ia belum punya nyali untuk memasang foto pernikahan di sosmed. Jadi pasfoto sudah cukup mewakili.


Sambil tersenyum-senyum sendiri ia pun memberanikan diri untuk memposting screenshot pasfoto Cakra, dengan caption,


Miss you like crazy.


Kemudian sent.


Dan beberapa detik kemudian puluhan komentar mulai membanjiri postingan terbarunya.


'Go public nih, Ja?'


'Wah, udah terang-terangan ini sih.'


'Time will tell 🙄.'


'Ditinggalin ke mana, Ja?'


Sementara Hanum dan Bening kompak memberi komentar yang sama,


'Laf...laf Anjađź’—Cakra.'


Ia masih tersenyum-senyum sendiri membaca komentar anak-anak. Ketika seorang cewek yang sedang menggendong anak kecil usia kurang dari satu tahun tiba-tiba masuk ke dalam keude.


"Assalamualaikum, Mak, ini pesanan tahunya," ujar cewek tersebut yang langsung berjalan mendekati meja bermaksud meletakkan bungkusan tahu. Namun urung begitu melihatnya sedang duduk.


"Oh, ya, bentar, Mai," jawab Kak Pocut yang bersama Mamak masih melayani beberapa orang pembeli yang tengah mengantre. "Duduk dulu."


Cewek (cantik) yang menggendong anak kecil itu tersenyum kaku ke arahnya. Kemudian dengan suara setengah berteriak menjawab Kak Pocut, "Iya, Kak."


Lalu meraih sebuah kursi lipat, membukanya, dan mendudukkan diri di sana.


Ia pun hanya bisa membalas dengan senyum kaku juga. Kemudian berusaha tak peduli dengan kembali memusatkan perhatian ke arah layar ponsel.


"Aduh...si cantik ikut ini?" sapa Cing Ella yang muncul dari arah dapur sambil meraih anak kecil dalam gendongan.


"Lagi nggak ada yang jaga," jawab cewek tersebut sembari membuka kain gendongan agar anak kecil bisa diangkat oleh Cing Ella.


"Cilla cantik....iya....," ujar Cing Ella sambil menciumi anak kecil yang memang cantik itu.


"Si Hengky kemana? Udah dapat kerjaan?" tanya Cing Ella sambil bermain cilukba dengan Cilla. "Baa....ci...luk...baa...."


"Hekhekhekhek.....," Cilla terkekeh-kekeh geli sambil memukul-mukul wajah Cing Ella.


"Lagi jalan," jawab cewek tersebut sambil sesekali melirik ke arahnya. Namun ia pura-pura tak mengetahuinya.


"Ngojek sekarang?" tanya Cing Ella lagi.


Sementara Cilla makin tergelak-gelak.


"Kemarenan baru di verifikasi akunnya sama ojek online," jawab cewek tersebut sambil terus mencuri pandang ke arahnya.


"Syukur deh. Susah sekarang ya. Nunggu verifikasi aja lama."


"Tuh si Toni tetangga sebelah, nggak di verifikasi verifikasi. Entah salah dimananya tuh."


"Cari kerja makin susah."


"Si Hengky nggak nyoba ngelamar kerja di pabrik, Mai?"


"Noh si Agam, sekali ngelamar langsung lolos."


"Sekarang lagi training di Cileungsi."


"Lumayan gajinya kalau kerja di pabrik Axtra."


"Coba si Hengky suruh ngelamar. Siapa tahu bisa masuk."


Sebelum cewek tersebut menjawab sederet kalimat yang dilontarkan Cing Ella, Kak Pocut sudah datang menghampiri.


"Wah, Cilla cantik ikut sayang?" ujar Kak Pocut sambil mengusap kepala Cilla yang masih saja tergelak-gelak karena diajak bermain oleh Cing Ella.


"Mon tok badannya sekarang, Mai. Doyan makan?" seloroh Kak Pocut sambil memegang paha Cilla. "Nih, keras begini."


"Iya, Kak, Alhamdulillah. Lagi doyan banget makan nasi tim hati ayam sama bayam. Bisa nambah berkali-kali."


"Bagus makannya nasi tim. Sehat," ujar Kak Pocut yang sedang membuka lemari untuk mengambil dompet. "Berapa semua, Mai?"


"60.000, Kak."


Dari sudut mata ia melihat Kak Pocut menyerahkan uang sebesar Rp 70.000. Namun ketika cewek yang dipanggil Mai tersebut berniat memberi uang kembalian, Kak Pocut menolak.


"Nggak usah kembalian."


"Nggak bisa gitu, Kak."


"Nggak usah," Kak Pocut tetap menolak lembaran 10.000 an yang disodorkan oleh Mai.


"Buat jajan Cilla yaaa...," kali ini Kak Pocut mengusap kepala Cilla yang sedang digendong Cing Ella. Tak lagi tergelak-gelak seperti tadi.


"Jadi nggak enak ini, Kak," Mai terlihat sungkan. "Tiap ngantar ke sini selalu dilebihin uangnya."


"Ssstttt!" Kak Pocut menggelengkan kepala meminta Mai agar tak melanjutkan kalimatnya.


"Makasih banyak, Kak," Mai akhirnya mengalah dengan kembali memasukkan uang 10.000 ke dalam dompet.


"Nyak sehat, Mai?" Mamak ikut datang menghampiri setelah semua pembeli terlayani.


"Alhamdulillah sehat, Mak," Mai langsung bangkit dari duduk dan mencium tangan Mamak.


"Wah, udah gede Cilla?" kali ini Mamak ikut merubung Cilla yang sedang menebar senyum pada semua orang. Benar-benar bayi cantik yang murah senyum. Ia jadi tertarik untuk memperhatikan Cilla lekat-lekat.


"Kak Pocut, lagi ada tamu ya?" bisik Mai pelan pada Kak Pocut. Namun masih bisa didengar dengan baik oleh telinganya.


"Oh," Kak Pocut tertawa. "Sampai lupa. Ini kenalin, Anjani, istrinya Agam."


Ia tersenyum mencoba bersikap ramah.


"Anjani, ini Maimuna, dari kampung sebelah," terang Kak Pocut. "Dulu teman SD nya Agam. Bareng sama Salma juga ya?"


Maimuna mengangguk, "Salma, Agam, Andri, Iyan...."


"Berapa bulan?" tanya Maimuna sambil menunjuk ke arah perutnya.


"Tujuh mungkin," jawabnya sambil meringis.


Maimuna tersenyum sambil mengusap perutnya, "Wah, ini sih bakalan ganteng kayak papanya."


"Tuh kan, aye bilang juga utunnya laki. Ya, Mai? Kelihatan dari bentuk perutnya yang bulet," sahut Cing Ella cepat.


Sementara ia hanya meringis bingung.


'Ganteng kayak papanya?' kalimat yang cukup singkat namun terdengar sangat menggelitik.


Setelah kembali mengobrol dengan Mamak dan Kak Pocut, tak lama kemudian Mai dan Cilla pamit pulang. Dan keude mulai ramai dikunjungi oleh pembeli yang hendak makan siang.


Membuat Mamak dan Kak Pocut kembali sibuk di depan. Sementara Cing Ella, setelah menyimpan dua bungkus tahu susu yang baru saja diantarkan oleh Mai ke dalam kulkas. Kemudian membawa sisa bungkusan tahu ke dapur untuk segera digoreng.


Namun sebelum Cing Ella beranjak, ia memberanikan diri untuk bertanya. "Mai itu siapa, Cing?"


"Oh, Maimuna yang tadi?"


Ia menganggukkan kepala.


"Cakep ya mirip artis Arumi Bachsin," seloroh Cing Ella membuatnya tertawa. Iya, Mai memang cantik, akunya dalam hati.


"Mai itu bunganya kampung sini," terang Cing Ella dengan wajah serius. "Tapi sayang, gaulnya nggak bener."


"Dari SMP udah pinter pacaran. Cowoknya gonta-ganti. Maklum, orang cantik mah bebas ya."


"Akhirnya bunting sama anak Pak Lurah, yang namanya Hengky Hengky itu."


"Dua-duanya putus sekolah. Nggak mau lanjut. Malu mungkin."


"Si Mai sekarang jualan tahu susu. Kalau Hengky tadi katanya ngojek."


"Yah, begitu kalau jiwa muda nggak dipikir dulu. Main bunting aja. Repot kan sekarang?"


"Masih umur belasan udah punya anak yang harus dikasih makan. Mana jaman sekarang susah cari kerja."


"Duh, amit-amit jabang bayi. Jangan sampai anak cewek aye MBA kayak Ma...."


Cing Ella mendadak tersedak ludahnya sendiri karena sadar telah terlalu banyak bicara. Kemudian menatap wajahnya dengan perasaan takut-takut.


"Maaf, Neng Anja. Bukan maksud a...."


"Nggak apa-apa, Cing," ia tersenyum samar. Karena lebih tertarik dengan hal lain. Yaitu, "Jadi cewek barusan namanya Maimuna?"


"Iya," Cing Ella menganggukkan kepala masih dengan wajah takut-takut. Namun sejurus kemudian kembali berseloroh, "Sama teman-temannya sering diplesetin jadi Maemunah Maemunah....."


Sounds familiar? batinnya mencoba mengingat sesuatu.


"Kalau gitu, aye ke dapur dulu, Neng. Mau goreng tahu," ujar Cing Ella yang langsung berjalan cepat ke dapur bahkan sebelum ia sempat memberi jawaban.


Karena otaknya kini tengah berusaha keras mengingat sesuatu.


Dan sekelebatan kejadian di malam nahas mulai berputar di kepala. Ketika Cakra berniat mengantarkannya pulang ke rumah Om atau Tante. Yang ia jawab dengan jujur jika rumah Om dan Tantenya ada di Dago dan Sentul. Namun Cakra justru memakinya dengan kalimat,


"Eh, Maemunah! Lo main-mainin gua?!?"


Juga yang ini,


"Heh Maemunah! Duit di ATM gue cuma cukup buat nginep di tempat kek gini. Jangan ngarep nginep di hotel bintang lima!"


Dan ini,


"Enak aja! Eh, Maemunah!" Cakra mendelik marah. "Gua mau turun di tempat tadi," Cakra mulai menyalakan mesin. "Motor gua disana!"


Apakah kata Maemunah yang diucapkan Cakra hanya sebatas kata makian? Atau merujuk pada seseorang?


Seseorang yang pernah bermakna di masa lalu mungkin? Yang belum diketahuinya.