Beautifully Painful

Beautifully Painful
152. The Luckiest Guy (2)



Cakra


"Lho?" Anja makin mengernyit. "Orang Cakra udah beli tiket kereta kok Ma."


"Yang jadwal keberangkatan jam sepuluh malam," lanjut Anja sambil menatapnya tak mengerti.


"E....," ia harus menelan saliva terlebih dahulu. Kemudian berkata sambil menggaruk kepala dengan canggung, "Saya pikir diantar Pak Cipto hanya sampai Stasiun saja, Ma."


Mama justru tertawa, "Diantar sampai Bandung, Cakra."


"Perjalanan malam begini. Mana besok pagi-pagi sudah harus ke Kampus kan?" sambung Mama seraya tersenyum.


"Kalau tahu Cakra mau diantar Pak Cipto sih aku ikut, Ma," Anja merengut.


"Kalau gitu aku ikut aja ya Ma, nganterin Cakra ke Bandung," Anja tiba-tiba saja sudah menghambur ke dalam pelukan Mamanya. Sedang mencoba untuk merayu pastinya.


"Jadwal Ospek masih minggu depan ini, Ma," lanjut Anja lagi. "Boleh ya...."


Tapi kali ini Mama Anja menggeleng, "Aran belum genap 40 hari, sayang."


"Sebisa mungkin jangan keluar rumah jauh-jauh dulu."


"Besok kalau sudah 40 hari kita yang nyusul ke Bandung," sambung Papa Anja ikut menambahkan.


Membuat Anja yang sudah berbinar-binar kembali merengut.


"Memang kamu nggak ada tugas yang harus dikerjakan untuk Ospek?" tanya Mama Anja menyelidik.


"Itu Ceu Rita bilang, dari kemarin Dipa udah riweuh ngerjain tugas buat Ospek," lanjut Mama Anja lagi.


"Mama....tugas sih gampaang. Tenang aja," sungut Anja dengan gaya yang tentu saja Anja banget, batinnya geli. Padahal bisa dipastikan di detik-detik terakhir Anja akan kelimpungan sendiri jika tugasnya belum selesai.


"Nanti...," ucap Papa berusaha menengahi. "Kalau Aran sudah 40 hari kita semua pergi ke Bandung."


Meski masih cemberut, tapi Anja bergerak maju untuk memeluk Papa.


"Janji ya, Pa," gumam Anja sambil merebahkan kepala di dada Papa. Yang langsung dijawab dengan anggukan kepala.


Namun ia harus segera pergi.


Mama Anja kembali memeluknya. Sementara Papa Anja menepuk bahunya berkali-kali. Lalu Anja....


Ia meraih Anja ke dalam rengkuhan. Tanpa sanggup mengatakan sepatah katapun. Sebab suaranya mendadak tercekat, tenggorokannya tiba-tiba terasa kering kerontang, lidahnya teramat pahit, sementara bibirnya terkunci rapat.


Ia sempat mengecup kening Anja sekilas. Dan sebelum benar-benar kehilangan kendali terhadap diri sendiri, ia buru-buru melepas rengkuhan. Dengan dada sesak segera berbalik menuju ke mobil. Tanpa berusaha untuk menoleh lagi.


Sebab jika menoleh, ia tahu akan kembali meraih Anja ke dalam rengkuhan. Dan tak ingin melepaskan. Lalu yang lebih buruk lagi, ia akan melihat wajah Anja yang dipenuhi oleh air mata.


Tidak. Ia tak ingin pergi dengan dihantui oleh bayangan wajah sedih Anja.


Dengan langkah kaku yang seolah melayang di udara, ia masuk ke dalam mobil. Lalu menutup pintunya rapat-rapat.


"Berangkat sekarang, Den?" tanya Pak Cipto yang telah siap di belakang kemudi.


"Iya, Pak," jawabnya dengan lidah kelu.


Namun sebelum mobil benar-benar melaju, gerak refleks mendorongnya untuk menoleh ke belakang. Melalui kaca jendela yang masih terbuka lebar.


Dan di belakang sana, terlihat Anja sedang melambaikan tangan tinggi-tinggi sembari menggigit bibir.


Ya, tentu saja wajah cantik itu telah dipenuhi oleh air mata.


Ia sempat tertegun sejenak. Sebelum akhirnya balas melambaikan tangan sembari berjanji dalam hati, "I'll be back (aku akan kembali)...."


***


Begitu mobil yang dikendarai oleh Pak Cipto keluar dari gerbang utama kompleks rumah Anja, ia langsung merogoh saku guna mengambil ponsel. Berniat untuk membatalkan pemesanan tiket kereta api melalui aplikasi online.


Namun sayangnya tak bisa dilakukan. Sebab pembatalan tiket kereta api melalui aplikasi online, hanya bisa dilakukan maksimal 24 jam sebelum waktu keberangkatan.


Jadi, mau tak mau tiket keretanya pun harus direlakan alias hangus.


Sepanjang perjalanan ia mengisi waktu dengan mengobrol. Pak Cipto bahkan sesekali melempar canda yang membuat mereka berdua tertawa bersama.


Tapi begitu memasuki Cipularang, ia mulai menguap. Melewati ruas jalan tol yang panjang cenderung lurus membuatnya tak mampu menahan kantuk.


"Tidur saja, Den," seloroh Pak Cipto demi melihatnya terkantuk-kantuk.


"Maaf ya, Pak Cipto," ujarnya merasa tak enak. Tapi serangan kantuk yang melanda benar-benar sudah tak tertahankan lagi.


***


Ia tersentak kaget ketika kepalanya menghantam kaca di samping kiri.


Matanya sontak menyipit sebab terkena sorot lampu mobil dari arah yang berlawanan.


"Sudah di Bandung ini, Pak?" tanyanya sambil memperhatikan jalanan di depan yang tak terlalu padat. Paling terdapat satu dua mobil yang lewat.


"Selamat datang di Bandung ibukota Priangan," seloroh Pak Cipto yang sedang melajukan kemudi melewati sebuah pintu gerbang kokoh berwarna cokelat.


Ia kembali menyipitkan mata memperhatikan sekitar. Bersamaan dengan Pak Cipto yang membelokkan kemudi ke sebelah kiri, tepat di seberang papan besar bertuliskan NuArt Sculpture Park.


Tak lama kemudian, Pak Cipto telah mengarahkan kemudi menuju ke sebuah rumah. Dengan tanpa membunyikan klakson, pintu gerbang bercat cokelat itu telah terbuka dari arah dalam. Membuat Pak Cipto dengan leluasa bisa segera memasuki halaman rumah.


"Sudah sampai, Den."


"Makasih, Pak," ucapnya sebelum membuka handle pintu dan melangkah turun.


Begitu menjejakkan kaki di luar, ia langsung menghela napas panjang. Saat menyadari jika bangunan rumah yang didatangi saat ini, tak kalah megah dibandingkan dengan tempat tinggal Anja di Jakarta.


"Assalamualaikum, Den. Nepangkeun abi Juju (perkenalkan saya Juju)," sambut seorang wanita dengan senyum terkembang. Yang memiliki garis wajah perpaduan antara Mang Jaja dan Bi Enok.


"Cakra," ia tersenyum sambil mengulurkan tangan.


Seorang pria yang berdiri di sebelah Teh Juju juga ikut mengulurkan tangan.


"Upami ieu caroge (kalau ini suami saya)," ujar Teh Juju berusaha menjelaskan.


"Ujang."


"Cakra."


"Kalau ngomong sama Den Cakra pakai bahasa Indonesia aja, Teh," seloroh Pak Cipto yang sedang menurunkan barang dari dalam bagasi.


Membuatnya buru-buru ikut membantu menurunkan barang dari bagasi. Termasuk Mang Ujang.


"Iya, Teh," sambungnya sambil tersenyum. "Saya nggak bisa bahasa Sunda."


"Oh, gampil eta mah (gampang itu)," Teh Juju terkekeh. "Ngke lamun tos lami calik didieu ge tiasa (nanti kalau sudah lama tinggal di sini juga bisa)."


Ia hanya meringis sebab tak mengerti maksud dari kalimat yang diucapkan oleh Teh Juju.


Ia pun mengikuti langkah Mang Ujang dan Pak Cipto masuk ke dalam rumah melalui garasi.


"Kamarnya sudah saya bereskan semua, Den," ucap Teh Juju ketika ia sedang khusyu memandangi langit-langit ruang tengah. Dimana menggantung lampu kristal berwarna putih yang sangat elegan.


"Silakan pilih kamar yang mana saja," lanjut Teh Juju yang mulai membongkar isi kardus pemberian dari Mama Anja.


Ia masih memperhatikan sekeliling ruang tengah dengan takjub. Termasuk piano berwarna cokelat yang berada tepat di bawah tangga.


"Kalau kamar Neng Anja yang mana, Teh?" tanyanya kemudian.


"Yang itu, Den," jawab Teh Juju sembari menunjukkan sebuah pintu berwarna cokelat yang tepat berada di samping ruang tengah.


"Saya pakai kamar Neng Anja," lanjutnya sambil menarik travel bag menuju ke kamar yang dimaksud oleh Teh Juju.


"Mangga (silakan), Den."


Ia baru hendak membuka handle pintu, tapi urung keburu Pak Cipto memanggil.


"Den Cakra!"


Ia menoleh, "Kenapa Pak?"


"Khawatir besok saya lupa," ujar Pak Cipto sambil mengangsurkan kunci mobil padanya.


"Kenapa dikasih ke saya?" tanyanya tak mengerti. "Dipegang sama Pak Cipto aja."


Tapi Pak Cipto menggeleng, "Besok saya pulang Subuh, Den."


"Naik travel dari Pasteur. Sudah dipesankan tiketnya sama Bu Iren."


Ia semakin mengernyit tak mengerti, "Lho, Pak Cipto ke Jakarta nggak bawa mobil?"


Pak Cipto kembali menggelengkan kepala, "Bapak bilang, mobil ditinggal di sini, Den."


Membuatnya terpaksa menerima kunci dari tangan Pak Cipto. Meski penuh dengan tanda tanya.


"Sama ini, Den, sekalian," kini giliran Mang Ujang yang mengangsurkan sebuah kunci beserta secarik kertas yang dilipat menjadi dua bagian.


"Titipan dari Mas Tama."


"Mas Tama?" keningnya semakin berkerut-kerut tak mengerti.


"Muhun (iya), Den," Mang Ujang mengangguk mengiyakan.


"Kira-kira seminggu yang lalu, Mas Tama nyuruh saya beli motor ke dealer. Ini kuncinya."


"Pas banget baru diantar tadi sore," lanjut Mang Ujang sambil terkekeh. "Harus indent dulu di dealernya."


"Masih opang, Den," Mang Ujang masih terkekeh. "STNK baru jadi dua minggu lagi cenah (katanya)."


"Oh ya," gumamnya yang masih diliputi oleh kebingungan. "Makasih banyak, Mang."


"Sawangsulna (kembali)," Mang Ujang tersenyum mengangguk.


Namun belum juga berhasil meraih handle pintu, seseorang kembali memanggil namanya.


"Den Cakra!"


"Ini ada amplop nyelip di dalam kardus," ujar Teh Juju yang tergopoh-gopoh menghampirinya. Seraya mengangsurkan sepucuk amplop berwarna cokelat.


"Ada tulisan nama Den Cakranya di amplop," lanjut Teh Juju sembari memperlihatkan namanya yang tertulis besar-besar di bagian depan amplop.


***


Ia memandangi tiga buah benda yang sengaja diletakkan di atas nakas dengan masygul.


Ia hanya bisa menghela napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Sambil terus menggelengkan kepala.


Memutuskan untuk memilih kuliah daripada bekerja jelas menjadi keputusan terberatnya. Sekarang ditambah dengan limpahan fasilitas dari keluarga Anja.


Apa yang harus kulakukan?


Diliriknya pergelangan tangan kanan, yang kini telah menunjukkan pukul 23.20 WIB.


***


Anja


Ia sudah berjanji pada diri sendiri tak akan menangis saat melepas kepergian Cakra. Toh cuma pergi ke Bandung ini. Bukan mau mengarungi samudera tiada bertepi.


Tapi reaksi tubuhnya jelas-jelas di luar kendali. Terlebih ketika Cakra merengkuhnya dalam-dalam. Kemudian mengecup keningnya sekilas. Bendungan yang sejak awal ditahan-tahan langsung jebol tanpa ampun.


Dan malam pertama tanpa Cakra di sisi membuatnya mengalami kesulitan untuk terlelap. Sedari tadi mencoba memejamkan mata namun selalu gagal.


Aran juga. Biasanya tiap malam hanya terbangun setiap dua jam sekali. Kini hampir satu jam kurang sekali Aran sudah merengek lalu menangis.


"Aran kenapa?" tanya Mama yang tergopoh-gopoh menghampiri. Mungkin karena mendengar suara jerit tangis Aran yang lumayan kencang.


"Nggak tahu, Ma," ia menggelengkan kepala tak mengerti. Sebab baru setengah jam yang lalu Aran nen.


"Mungkin pospak (popok sekali pakai)nya udah harus diganti," gumam Mama yang segera mengganti pospak Aran dengan yang baru.


Tapi ini sama sekali tak membantu. Karena setengah jam kemudian, Aran kembali menjerit entah menginginkan apa.


"Aran sayang mau tidur sama Uti, iya?" tanya Mama yang kembali menghampirinya di dalam kamar.


"Kayaknya Aran tahu kalau baru ditinggal pergi sama Ayahnya," gumam Mama sambil menatapnya.


Ia hanya bisa mengangkat bahu.


"Aran sayang....," Mama kembali menenangkan Aran yang kini sedang merengek-rengek.


"Sedih ya ditinggal Ayah ke Bandung?"


"Di sini kan masih ada Bunda, Akung, Uti yang nemenin Aran...."


"Jangan sedih sayang...."


Ia hanya bisa menghembuskan napas panjang. Jangankan Aran. Ia saja yang sudah sebesar ini merasa kehilangan ditinggal Cakra pergi ke Bandung.


Setelah di buai sembari diperdengarkan sholawat oleh Mama, Aran akhirnya kembali terlelap.


"Mama tidur di sini, Ja?" tanya Mama usai menidurkan Aran.


"Nggak apa-apa, Ma," ia mencoba tersenyum. "Mama temani Papa aja."


"Nanti kalau Aran nangis lagi gimana?"


"Nanti aku nen in Arannya."


Mama tersenyum menatapnya, "Ya udah, nanti Mama kesini lagi kalau Aran bangun."


Ia kembali menghembuskan napas panjang.


"Oya," sebelum beranjak Mama teringat sesuatu.


"Coba kamu tanya, Cakra sudah sampai apa belum. Mungkin Aran gelisah karena Ayahnya masih di perjalanan."


"Nyetrum hatinya."


Ia mengangguk, "Ya, Ma."


Setelah Mama menutup pintu kamar, dilihatnya jam Mickey Mouse telah menunjukkan pukul 23.20 WIB. Jam segini apakah Cakra sudah sampai di Bandung atau belum?


***


Cakra


Ia menatap layar ponsel dengan perasaan harap-harap cemas. Dan ketika tampilan layar berubah memperlihatkan wajah seseorang, ia pun bisa tersenyum lega.


"Belum tidur?"


"Udah sampai?"


Menjadi kalimat yang sama-sama mereka ucapkan dalam satu waktu.


"Aran bangun?"


"Sampai jam berapa?"


Mereka kembali mengucapkan kalimat dalam waktu yang bersamaan.


Sontak membuat mereka berdua tertawa.


Namun sedetik kemudian, mereka sama-sama menghentikan tawa.


Ia menatap Anja dalam-dalam.


Anja juga menatapnya lekat-lekat.


"Kangen kamu sama Aran," ucapnya sungguh-sungguh.


"Makanya Aran rewel."


Ekspresi Anja yang bersungut-sungut sontak membuatnya tertawa.


"Aran rewel kenapa?"


Anja mengangkat bahu.


"Nangis terus?"


"Nggak sih," jawab Anja. "Cuma setengah jam sekali kebangun. Nangis terus minta nen."


"Biasanya kan dua jam sekali," lanjut Anja sambil kembali mengangkat bahu.


"Sekarang Arannya lagi bangun?" tanyanya ingin tahu.


Anja tak menjawab. Tapi mengarahkan layar ponsel ke tempat tidur dimana Aran berada.


"Tahu kali Ayahnya udah nyampai Bandung, jadi sekarang bisa tidur nyenyak," ujar Anja dengan ekspresi yang membuatnya kembali tertawa.


"Miss you so bad (sangat merindukanmu)," gumamnya sungguh-sungguh.


Tapi Anja justru mencibir, "Gaje ih kamu sekarang. Gombal banget."


Lagi-lagi ia tertawa.


Lalu mereka hanya saling berpandangan melalui layar ponsel. Tanpa seorangpun yang bersuara.


Ia tersenyum.


Anja juga tersenyum.


Entah berapa lama mata mereka saling bertautan tanpa mengucapkan komunikasi verbal sama sekali.


Namun hanya dengan pandangan mata, mereka seolah sedang saling bicara satu sama lain. Dari hati ke hati.


"Besok Pak Cipto pulang nggak bawa mobil," ujarnya ingin menuntaskan rasa ingin tahu.


Anja tersenyum lebar.


"Kamu tahu?"


"Tahu apa?"


"Mobil bakal ditinggal di Bandung."


Tapi Anja tak menjawab sepatah katapun. Hanya mengangkat bahu dengan ekspresi wajah yang sangat tak meyakinkan.


Ia lalu meraih kunci motor, "Mas Tama ngasih ini."


Anja kembali tersenyum lebar.


"Kamu tahu?"


Anja mengendikkan bahu dengan wajah mengkerut.


"Terus ini," kini ia meraih kartu Platinum berwarna hitam.


Dan senyum Anja semakin lebar begitu mengetahuinya.


"Ja?" ia mengernyit.


"Aku nggak tahu apa-apa," jawab Anja ketus sambil mengangkat bahu dengan kening mengkerut.


"Ini semua...too much (terlalu berlebihan)," gumamnya tak setuju.


"Don't care (tak peduli)," jawab Anja sambil mencibir.


"What am i supposed to do (apa yang harus kulakukan)?" tanyanya sambil menghembuskan napas panjang.


"Sleep tight (tidur nyenyak)," jawab Anja sambil tersenyum manis.


"Besok kamu mesti ke Sabupa pagi-pagi," lanjut Anja.


"Mana belum hapal jalan. Hayo!" seloroh Anja dengan senyum terkembang.


Mata mereka kembali saling bertautan sebelum menyudahi panggilan video.


"Ja...," ia menatap Anja dalam-dalam. "Once again (sekali lagi)...."


"Definitely...i'm the luckiest guy in the whole wide world (sungguh...aku adalah orang yang paling beruntung di seluruh dunia)."


Anja tersenyum, "You deserve it all (kamu pantas mendapatkan semuanya)."


***


Keterangan :


Sabupa. : sasana budaya ganapati, nama gedung pertemuan yang ada di kampus Ganapati