
Cakra
Pagi ini ia mendapati Anja tiba-tiba meringis kesakitan.
"Kenapa?" tanyanya gugup.
"Sakit," jawab Anja yang sedang mengASIhi Aran.
"Keras banget nih," lanjut Anja seraya menunjuk miliknya yang tengah di nen oleh Aran.
"Mana pedih lagi. Adududuh...ssshhhh....."
Ia hanya bisa memperhatikan Anja dengan bingung. Tak tahu harus melakukan apa untuk membantu meringankan rasa sakit.
Tapi ketika Anja terus mendesis kesakitan. Bahkan hampir menangis selama Aran menyusu. Ia segera meminta Anja untuk memindahkan Aran.
"Jangan dipaksa," ujarnya semakin bingung. "Coba nen nya pindah ke sebelah."
Dengan terpaksa Anja menghentikan kegiatan Aran. Membuat bayi berpipi bulat itu protes keras dengan mengeluarkan suara tangis yang cukup kencang. Sebab merasa keasyikannya terganggu.
Ia pun segera membantu mengangkat Aran. Lalu memposisikannya untuk menghadap sumber kehidupan yang satu lagi. Sementara Anja masih terus menggigit bibir menahan rasa sakit.
"Masih sakit?" tanyanya harap-harap cemas. Ketika Aran mulai menyambut sumber kehidupannya lagi dengan teramat rakus.
Anja menggeleng, "Kalau yang ini nggak sakit."
Ia mengangguk dengan perasaan lega.
Namun selama Aran mengisap sumber kehidupan. Bagian tubuh Anja yang tadi sempat dikeluhkan sakit dan mengeras, ternyata juga turut mengeluarkan ASI. Bahkan terus menetes hingga merembes membasahi kain baju bagian luar yang dikenakan oleh Anja.
"Kok keluar ASI dua-duanya, Ja?" tanyanya benar-benar tak mengerti campur keheranan.
"Panggilin Mama dong," pinta Anja. "Terasa sakit lagi nih."
Ia pun buru-buru beranjak keluar kamar. Dan mendapati Mama Anja tengah mengupas apel di meja makan. Sepertinya tengah mempersiapkan sarapan untuk Papa Anja.
"Ma...ini Anja sakit," dengan gugup ia menunjuk bagian dadanya sendiri.
Mama Anja segera menghentikan kupasan apelnya.
"Meradang?" tanya Mama Anja. "Atau bengkak?"
Ia menggeleng tak mengerti.
"Tolong kupasin satu apel lagi sama jeruk," ujar Mama Anja sambil mencuci tangan di wastafel.
"Nanti langsung kasih ke Papa di teras samping ya," lanjut Mama sembari berjalan menuju ke kamar Anja.
Ia pun mengangguk tanda mengerti. Segera mencuci tangan dan mulai mengerjakan permintaan Mama.
"Sudah libur kerja?" tanya Papa Anja ketika ia meletakkan sepiring potongan apel dan jeruk ke atas meja.
"Sudah, Pa," ia tersenyum. "Sudah bukan pekerja pabrik lagi."
"Kapan ke Bandung?"
Ia mendudukkan diri di seberang Papa Anja sebelum menjawab pertanyaan.
"Antara tanggal 28 malam atau 29 pagi."
Papa Anja yang mulai menyantap potongan apel mengernyit, "Daftar ulang kapan?"
"Tanggal 29."
"Nggak mepet waktunya?"
Ia tertawa, "Masih mau menemani Anja sama Aran di sini, Pa."
"Masih mau mengantar Anja registrasi di tanggal 28 nya."
Papa Anja tersenyum mendengar penuturannya. Lalu kembali menikmati potongan buah yang ada di dalam piring. Membuatnya pamit untuk kembali masuk ke dalam rumah.
Ketika sampai di kamar, dilihatnya Anja tengah dikompres oleh Mama. Dengan menggunakan botol yang berisi air hangat. Sambil memijat-mijat bagian yang mengeras.
"Ini karena yang sering dipakai nen cuma sebelah," gumam Mama Anja sembari terus memijit. "Jadi keras begini."
"Aduuuh...sakit, Ma....," rengek Anja. "Pelanin dikit mijitnya Ma."
"Kalau bisa, nennya seimbang antara sebelah kanan dan kiri," lanjut Mama Anja tak menghiraukan rengekan Anja.
"Kalau nggak...lama-lama bisa meradang atau malah mastitis."
"Ini alhamdulillah ASI masih bisa ngalir keluar, belum tersumbat."
"Pedih, Ma," rengek Anja lagi.
"Iya...ini sekalian di pompa ASI nya biar nggak tumpah-tumpah terus."
"Nanti kalau nen in, sambil dipompa yang sebelah," lanjut Mama. "Biar nggak netes kemana-mana."
Mama masih memijiti Anja yang terus mendesis-desis kesakitan. Sementara ia memilih untuk bermain-main dengan Aran. Yang ternyata tak tertidur, justru sedang membelalakan mata lebar-lebar.
Ia masih melakukan permainan berebut jari dengan Aran, ketika Mama berkata, "Cakra, tolong panggilkan Teh Cucun."
"Matahari lagi bagus-bagusnya. Waktunya Aran berjemur."
Ia menyempatkan diri untuk mengerling ke arah Aran yang tengah mengejar jari telunjuknya. Sebelum akhirnya menjawab, "Biar Aran berjemur sama saya, Ma."
Sebelum berjemur, Mama terlebih dahulu mengganti baju Aran dengan yang kainnya lebih tipis. Mengambilkan topi, kacamata bayi bentuk bando dan selembar kain bedong halus sebagai alas.
"Cukup sepuluh sampai lima belas menit," ujar Mama mewanti-wanti.
Ia mengangguk tanda mengerti. Lalu segera mengangkat Aran yang telah siap memakai kostum berjemur. Menidurkannya di atas stroller. Dan mendorongnya keluar kamar.
Ia memilih menyimpan stroller di tengah lapangan basket. Dimana pancaran sinar matahari terasa hangat maksimal menyentuh kulit.
Kemudian mulai memposisikan stroller dan kanopi seapik mungkin. Agar kehangatan sinar matahari bisa maksimal mengenai kulit tangan dan juga kaki Aran.
Ia memandangi Aran yang tetap tenang meski berada di bawah sinar matahari langsung. Memperhatikan bagaimana kulit di sekujur tubuh Aran semakin memerah sebab terpapar hangatnya mentari.
Lalu wajah mungil yang hanya menyisakan pipi bulat akibat tertutup kacamata bando. Tangan kecil namun memiliki lengan kokoh. Serta paha dan kaki yang mulai menggempal. Menjadi pemandangan paling menghangatkan hati di pagi yang cerah ini.
Usai berjemur, Aran sempat merengek kehausan. Yang langsung disambut dengan sukacita oleh Anja.
"Ulu ulu ulu...haus ya sayang?" seloroh Anja riang. "Habis main basket sama Ayah berapa set?"
Sementara Mama Anja dengan dibantu oleh Teh Cucun, terlihat tengah sibuk mempersiapkan peralatan mandi untuk Aran.
"Biar saya yang mandiin, Ma."
Mama Anja kemudian mengajarinya tentang bagaimana cara memandikan Aran. Mulai dari menyiapkan perlengkapan dan peralatan mandi. Menuang air hangat dan mengukur suhunya.
Lalu sebelum Aran benar-benar mandi, ia terlebih dahulu harus membersihkan mata, kening, dan bagian belakang telinga Aran menggunakan bola kapas.
Disusul cara memandikan. Memakaikan sabun. Membilas. Menengkurapkan Aran agar ia bisa membersihkan bagian punggung dengan lembut. Dan memastikan tubuh Aran telah bersih.
Kemudian mengeringkan tubuh Aran. Memberi minyak telon. Sampai memakaikan baju.
Mama Anja mengajarinya dengan telaten dan sabar. Sambil sesekali bercanda. Terlebih ketika mendapati gerakannya yang masih sangat kaku. Sebab baru kali ini memegang bayi.
Bayinya sendiri. Putra kesayangannya, batinnya bangga.
Sementara Anja, memperhatikan setiap geriknya sambil tersenyum menahan tawa.
Dan sejak saat itu, rutinitas hariannya adalah menjemur, memandikan, dan bermain-main dengan Aran sepuasnya.
"Mungkin kalau kamu bisa kasih nen, kamu bakalan lebih sering nen nin Aran dibanding aku," cibir Anja ketika pagi ini, ia bisa memandikan Aran tanpa bantuan dari Mama Anja.
Ia hanya tertawa, "Puas-puasin sebelum jauhan."
Namun cibiran Anja langsung berubah menjadi tatapan sendu begitu mendengar jawaban yang diucapkannya.
***
Sore ini, ia kembali mengantar Sasa menemui dokter Rahadi. Karena setelah perban dibuka, bekas luka Sasa justru berair dan mengeluarkan nanah.
Namun kali ini ada yang berbeda. Sebab Icad dan Umay ikut mengantar Sasa pergi ke dokter.
"Dua hari lagi aku ke Bandung," begitu ia memberi alasan pada Kak Pocut. Yang mau tak mau akhirnya menyetujui idenya untuk mengajak anak-anak singgah ke restoran cepat saji sepulang dari Rumah Sakit.
"Bukan karena disuruh dia kan, Gam?" tanya Kak Pocut dengan tatapan penuh selidik.
"Dia siapa?" ia tertawa sumbang.
Tapi Kak Pocut tak menjawab. Justru memasang wajah murung.
"Sakit nggak Sasa?" tanya dokter Rahadi ingin tahu.
Tapi Sasa menggeleng, "Nggak sakit, Om. Tapi gatal."
"Kalau malam masih terasa pedih dan nyeri, Dok," sambung Kak Pocut berusaha melengkapi.
"Baik....," dokter Rahadi mengangguk-angguk.
"Sebentar lagi Om pinjam jari Sasa lagi ya," lanjut dokter Rahadi yang meminta perawat untuk segera mempersiapkan alat.
"Jari Sasa mau diapakan lagi, Om?" tanya Sasa curiga dengan wajah cemas.
Dokter Rahadi tertawa, "Enggak di apa-apakan."
"Om cuma mau ambil sampel nanah di bekas luka Sasa," terang dokter Rahadi. "Boleh?"
"Nggak disuntik kan, Om?"
Lagi-lagi dokter Rahadi tertawa, "Enggak Sasa. Om cuma ambil sedikiiiit aja."
Sasa terlihat berpikir sebentar. Sebelum akhirnya mengangguk sebagai tanda persetujuan.
"Sasa anak pintar," puji dokter Rahadi. Membuat Sasa yang awalnya terlihat sedikit ketakutan, bisa kembali menyunggingkan senyum.
"Bu...," kali ini dokter Rahadi melihat ke arah Kak Pocut. "Sekarang saya perlu mengambil sampel nanah di bekas luka Sasa."
"Untuk diperiksa kultur atau biakan kumannya. Agar kita bisa mengetahui bakteri penyebab luka bernanah."
"Sekaligus menentukan antibiotik yang tepat bagi Sasa."
Kak Pocut mengangguk tanda mengerti, "Baik, Dok."
Setelah proses pengambilan sampel nanah selesai. Dokter Rahadi mulai membersihkan luka bekas operasi di jari manis Sasa. Kemudian mengolesinya dengan salep. Untuk menjaga supaya luka tetap bersih dan kering.
"Kita tunggu hasil uji sampel," ujar dokter Rahadi kemudian.
"Lukanya sudah mau sembuh. Nanah ini nanti akan mengering, lalu mengelupas saat kulit baru sudah terbentuk."
"Sabar sedikit lagi ya Sasa...."
Sasa tersenyum mengangguk. Tak lagi terlihat takut atau kesakitan seperti saat tiga pemeriksaan sebelumnya.
"Nanti mungkin Sasa agak sedikit takut untuk menggerakkan jari...."
"Iya, Dok," jawab Kak Pocut. "Sampai sekarang Sasa masih takut untuk menggerakkan jari."
"Tidak apa-apa, pelan-pelan saja," dokter Rahadi mengangguk tanda mengerti tentang kekhawatiran yang dirasakan oleh Kak Pocut.
"Tapi kalau dalam waktu satu sampai dua bulan, jari belum bisa berfungsi dengan baik. Atau belum bisa ditekuk. Bahkan belum mampu menggenggam."
"Nanti akan kita lakukan observasi lebih lanjut lagi."
"Terimakasih banyak, Om," ucap Sasa sebelum mereka pergi meninggalkan ruangan dokter Rahadi.
"Sama-sama Sasa," jawab dokter Rahadi yang kali ini kembali memberikan hadiah untuk Sasa berupa sebuah mainan lucu.
"Salam buat Ayah ya...."
"Iya, Om," jawab Sasa riang.
Saking penasaran dengan sosok Ayah yang sering disebut-sebut oleh dokter Rahadi. Ia pun berniat menanyakannya pada Kak Pocut.
Namun segera diurungkan, begitu mendapati wajah murung Kak Pocut yang seolah memasang pemberitahuan 'jangan pernah bertanya.'
Baiklah, mungkin di lain waktu ia bisa mengetahui, tentang siapa sosok Ayah yang dimaksud oleh dokter Rahadi.
Dari Rumah Sakit, ia segera melajukan kemudi menuju restoran cepat saji, yang dalam waktu singkat telah menjadi tempat favorit Sasa.
"Yeeee....kita ke sini lagi."
"Makasih banyak Yah Bit!!" seru Sasa riang sambil berusaha untuk memeluknya.
Namun karena ia masih memegang kemudi, sedang mencari tempat parkir yang kosong. Maka ia hanya bisa meraih Sasa dengan sebelah lengannya.
"Sama-sama, Sasa....sama-sama...."
"Beberapa hari lagi Yah Bit mau pindah ke Bandung," lanjutnya sambil memarkirkan kendaraan.
"Jadi nggak bisa sering-sering main ke rumah Nenek lagi."
"Nggak bisa ajak Sasa ke sini lagi."
"Kecuali kalau Yah Bit lagi pulang ke Jakarta."
"Dekgam juga pindah ke Bandung??" tanya Sasa dengan kening mengernyit. "Sasa nggak bisa ketemu Dekgam lagi??"
Ia tersenyum sembari mengusap puncak kepala Sasa, "Dekgam sama Tante Anja masih di sini. Nggak ikut ke Bandung."
"Kalau gitu Sasa masih bisa ketemu Dekgam?" seru Sasa dengan memasang wajah penuh harap.
Ia mengangguk, "Masih."
"Asyiiik....Sasa masih bisa ketemu sama Dekgam!!" sorak Sasa riang.
"Nanti Sasa sering main ke rumah Akung Aran ya. Biar Dekgam sama Tante Anja nggak kesepian," ujarnya sambil tersenyum.
"Rumah Akung Aran....," namun Sasa mendadak mengernyit dengan wajah murung demi mendengar ia menyebut rumah Akung Aran.
Dan sejurus kemudian Sasa menggelengkan kepala lemah.
Membuatnya kembali mengusap puncak kepala Sasa, "Kalau gitu...biar Dekgam saja yang ke rumah Nenek. Biar bisa main sama Popoya."
Kali ini Sasa langsung menganggukkan kepala berkali-kali dengan senyum merekah.
"Yah Bit, kita sudah boleh turun?!" tanya Umay yang duduk di belakang dengan nada suara tak sabar.
"Boleh," jawabnya yang masih mendengarkan Sasa berceloteh tentang bagaimana Popoya akan main bersama Dekgam.
"Langsung ke pinggir Umay!" seru Kak Pocut begitu Umay membuka pintu mobil dan melesat keluar.
"Icad, tolong jaga Umay jangan sampai lari-larian di tempat parkir. Bahaya kalau ada mobil lewat!"
"Iya, Ma," jawab Icad yang baru hendak turun dari mobil.
Dan di restoran cepat saji, ia membebaskan anak-anak untuk memesan menu sesuai dengan selera masing-masing.
"Jangan kau turuti semua keinginan anak-anak," bisik Kak Pocut yang protes keras sebab anak-anak memesan menu double.
"Tak apa Kak," jawabnya tenang. "Tak setiap hari ini."
Tapi Kak Pocut justru memberinya tatapan tak setuju.
Ia juga sempat memotret kebersamaan Kak Pocut, Icad, Umay, dan Sasa. Kemudian mengirimkannya ke nomor ponsel Mas Tama. Sekedar memberi kabar, jika ia telah menunaikan janji. Tanpa pernah memikirkan kemungkinan lain.
***
Begitu sampai di rumah, ia menyempatkan untuk makan malam terlebih dahulu. Sebab ingin menikmati masakan Mamak. Yang mungkin tak akan bisa sering-sering dirasakannya lagi jika sudah tinggal di Bandung.
Ia juga sempat mengobrol lama dengan Mamak dan Kak Pocut. Tentang banyak hal. Semua mereka bicarakan. Tak ada yang luput barang satupun. Terutama tentang segudang nasehat kebaikan untuk dirinya.
Dan sebelum ia benar-benar beranjak pulang ke rumah Anja, Mamak sempat memeluknya. Agak lebih lama dibanding biasanya. Yang entah mengapa, berhasil membuat hatinya terasa mencelos berkali-kali.
"Jaga diri baik-baik," bisik Mamak dengan suara bergetar.
"Jangan lupa berdoa."
"Sebab doa adalah senjata orang beriman."
"Anjani dan Aran akan baik-baik saja di sini."
"Kami semua akan membantu menjaganya."
***
Keterangan :
Day by day. : hari demi hari
Mastitis. : peradangan pada jaringan pa yu dara. Gejalanya antara lain : pa yu dara memar kemerahan, terasa gatal, terasa perih saat menyusui, terdapat benjolan/bisul, ukuran salah satu pa yu dara lebih besar karena pembengkakan, pu ting mengeluarkan nanah, demam, sering merasa lelah, terdapat pembesaran kelenjar getah bening di ketiak (sumber : alodokter.com)
Ucapan terimakasih tak terhingga untuk Mom Dyani 🤗 readers tersayang yang telah bersedia menjadi narasumber 🤗 terutama dalam menjelaskan detail perawatan luka yang dialami oleh Sasa menurut bahasa medis 🤗 hingga author bisa menuangkan ke dalam bentuk tulisan.
BIG HUG 🤗