Beautifully Painful

Beautifully Painful
51. Terima Kasih : Satu Tanda Syukur



Cakra


Tadi, sembari duduk menunggu Anja di ruang VVIP Rumah Sakit ketika Anja masih mempersiapkan diri hendak pulang ke rumah. Ia memberanikan diri untuk mengirim pesan chat ke nomor Bapak Reserse pengemudi mobil yang pernah memberinya sebungkus nasi Padang saat ia tertahan di Polres.


Nomor yang sengaja disimpan baik-baik. Agar sewaktu-waktu jika ada kesempatan, ia bisa menyampaikan terima kasih atas semua kebaikan yang pernah diberikan oleh Bapak Reserse pengemudi mobil tersebut. Dan sekaranglah saat yang tepat.


Cakra. : 'Selamat sore, Pak. Saya Cakra yang dulu ditahan di Polres titipan dari Pak Tama.'


Cakra. : 'Apa hari ini saya bisa menemui bapak? Terima kasih.'


Namun baru mendapat balasannya sekarang, setelah Anja yang memasang wajah kesal karena mengantuk masuk ke ruangan dalam.


Pak Reserse : 'Bisa. Saya ada di kantor.'


Ia pun memutuskan segera memesan Ojek online untuk pergi ke Polres Metro sebelum nantinya pulang ke rumah mengambil beberapa barang pribadi juga motor miliknya.


Kemudian ia sempatkan mengambil dua kotak bingkisan yang masih tertumpuk di ruang tengah. Serta beberapa box cake dan makanan dari acara pernikahannya tadi siang. Yang tentunya masih utuh, sama sekali belum tersentuh.


Begitu Ojek online pesanannya menginformasikan telah sampai di depan gerbang rumah Anja, ia langsung berpamitan dengan Mang Jaja, "Nanti saya kesini lagi. Tapi agak malam."


"Siap, Den," jawab Mang Jaja. "Tadi sore Mas Sada sudah briefing kami semua yang ada di rumah termasuk Satpam, kalau Aden mau tinggal disini."


"Makasih, Mang. Tolong panggil saya Cakra saja."


Dan sebelum keluar gerbang, ia sempatkan untuk menyapa security yang sedang bertugas, "Nanti saya pulangnya agak malam."


"Siap, Den," jawab security dengan emblem nama bertuliskan Karman itu.


"Makasih Pak Karman. Tapi, panggil saya Cakra saja."


"Wah, Aden bisa tahu nama saya?" wajah Pak Karman sedikit terkejut berubah sumringah.


Sementara ia hanya tersenyum sambil menunjuk papan nama yang tersemat di dada sebelah kanan baju safari warna gelap yang sedang dikenakan oleh Pak Karman.


Membuat Pak Karman terbahak, "Oh, iya lupa kalau saya pakai nama. Hahaha...."


"Hati-hati, Den," lanjut Pak Karman.


"Cakra saja, Pak," ujarnya sungguh-sungguh.


"Wah, ya jangan," Pak Karman menggeleng tak setuju.


"Lho, nggak bawa mobil?" tanya Pak Karman keheranan demi melihatnya meraih helm yang diangsurkan oleh driver Ojek online.


"Enggak, Pak. Saya mau ambil motor."


"Oh...," Pak Karman menganggukkan kepala meski dengan wajah bingung.


Dua puluh menit kemudian motor yang ditumpanginya telah berhenti di halaman kantor Polres Metro. Ia pun langsung memasuki gedung bercat dominasi warna cokelat itu. Dengan perasaan yang sedikit gugup karena ingatannya kembali melayang pada malam hari ketika ia harus berjalan jongkok dengan tangan terikat di belakang punggung.


Namun kekhawatirannya tak terbukti, karena begitu memasuki lobby gedung, matanya langsung disambut oleh satu set meja furniture resepsionis yang juga bercat cokelat, dengan tulisan besar-besar di bagian dindingnya,


...POLRES METRO...


...JAKARTA...


...SENTRA...


...PELAYANAN KEPOLISIAN...


Dan Pak Reserse pengemudi mobil sedang duduk di salah satu kursi yang berada di balik meja resepsionis tersebut. Tengah berbincang dengan dua rekan lainnya.


"Selamat malam, Pak," ia tersenyum menyapa.


Tapi yang menjawab justru petugas di balik meja resepsionis, "Malam. Ada yang bisa dibantu?"


"Saya mau bertemu dengan bapak itu," tunjuknya kearah Pak Reserse pengemudi mobil yang belum menyadari kehadirannya.


"Pak Imam?" tanya petugas di balik meja resepsionis dengan nada tak percaya.


Ia mengangguk. Sejujurnya ia belum sempat mengetahui nama bapak tersebut. Tapi bisa dipastikan saat ini ia tak sedang salah orang.


"Pak Imam, ada yang nyari nih," begitu kata petugas membuat Pak Reserse pengemudi mobil menoleh kearahnya.


Ia pun langsung tersenyum sembari mengangguk, namun Pak Reserse pengemudi mobil justru mengerutkan kening tanda berpikir.


"Nyari saya?" tanya Pak Reserse pengemudi mobil dengan wajah ingin tahu.


Membuat senyumnya makin lebar, "Lupa, Pak? Saya Cakra yang minggu lalu pern...."


"Cakra?!" mata Pak Reserse pengemudi mobil melotot terkejut. "Kamu Cakra?!?"


"Iya, Pak. Saya Cakra," jawabnya sembari tersenyum lebar.


"Luar biasa?! Luar biasa?!" begitu komentar Pak Reserse pengemudi mobil sembari menepuk-nepuk bahunya. "Ayo ke ruangan saya."


"Belum tahu nama saya kan?" tanya Pak Reserse pengemudi mobil ketika mereka berjalan beriringan menuju ruang Satreskrim.


"Panggil saja Imam."


"Saya Cakra, Pak."


"Iya, sudah tahu."


Kemudian mereka berdua tertawa.


"Memang ya, pakaian itu bisa merubah penampilan seseorang," ujar Pak Imam sembari mereka berjalan melewati lorong dan selasar yang kosong sekaligus sepi. Juga ruangan kantor yang hanya menyisakan meja dan kursi tak berpenghuni. Ya tentu saja, ini malam hari. Sudah diluar jam kerja waktu normal.


Dan ia hanya tersenyum mendengar kalimat yang diucapkan oleh Pak Imam.


"Lihat kamu pakai jas begini, jadi seperti lihat artis-artis yang ada di TV itu lho," imbuh Pak Imam tertawa sambil menggelengkan kepala.


"Pangling saya. Benar-benar nggak tahu kalau itu kamu," lanjut Pak Imam lagi bersamaan dengan sampainya mereka di depan pintu warna cokelat bertuliskan Satreskrim.


"Duduk," Pak Imam mempersilakannya untuk duduk di kursi yang sama seperti saat ia menyantap nasi Padang beberapa hari lalu.


"Sepi, Pak?" tanyanya basa-basi sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Hanya ada mereka berdua.


"Udah malam ya sepi," Pak Imam tertawa.


"Sebagian lagi operasi," lanjut Pak Imam. "Kalau saya pas kebetulan baru selesai tugas tadi. Jadi bisa ketemu sama kamu."


Ia tersenyum mengangguk, "Terima kasih, Pak, sudah meluangkan waktu."


Pak Imam kembali tertawa, "Ada perlu apa kesini? Nggak bermasalah lagi sama Pak Tama kan?"


Ia ikut tertawa, sejurus kemudian meletakkan satu dari dua buah Tote bag berukuran besar yang dibawanya. Berisi bingkisan pernikahan dan box cake.


"Tolong diterima, Pak. Sebagai ucapan terima kasih atas kebaikan Bapak selama ini."


Pak Imam mengerutkan dahi, "Apa ini?" lalu membuka Tote bag yang diulurkannya dan mengambil kertas yang tersemat di bagian atas bingkisan pernikahan.


Thank You


The Wedding Celebration


Anja & Cakra


15 Maret


"Kamu...," kerut di dahi Pak Imam semakin bertambah.


"Iya, Pak. Saya baru menikah tadi siang. Ini belum sempat ganti baju," jawabnya sambil tertunduk malu.


"Maaf nggak mengundang Bapak. Karena hanya acara keluarga," lanjutnya sembari terus menunduk.


"Tapi semoga ini bisa sedikit mewakili ucapan terima kasih saya."


Pak Imam serta merta memukul lengannya keras-keras untuk memberi ucapan selamat. Namun sembari menggelengkan kepala dengan wajah yang tak kunjung percaya.


"Kamu akhirnya nikah sama adiknya Pak Tama yang dibawa kabur malam itu?!" tanya Pak Imam lagi berusaha meyakinkan.


"Bukan dibawa kabur, Pak," ralatnya. "Ada sedikit salah paham yang sulit untuk dijelaskan."


"Jadi, sekarang kamu adik iparnya Pak Tama?!" Pak Imam kembali bertanya dengan mimik aneh.


"Secara teknis begitu, Pak," jawabnya sambil meringis kaku.


Membuat Pak Imam lagi-lagi menggelengkan kepala. Namun lima belas menit kemudian mereka telah berbincang dengan akrab. Membicarakan banyak hal terutama tentang silsilah keluarga Anja yang bahkan baru diketahuinya saat ini.


"Kamu pasti punya sesuatu sampai keluarga seperti mereka mau menerima dengan tangan terbuka. Menikah muda pula."


Namun ia hanya tersenyum getir. Ia jelas punya sesuatu yang sangat berharga, benih di rahim Anja. Alasan yang sangat mencengangkan bukan?


"Pak Yuwono itu mantan Wakapolri era nya Pak Puguh."


Ia mengangguk mengerti dan mulai memahami jalinan persahabatan antara Papa Anja dan Pak Puguh.


"Orangtuanya Pak Yuwono pengusaha sukses Surabaya. Yang punya Madangkara group. Tahu kan?"


Namun ia menggelengkan kepala, karena benar-benar belum tahu.


"Masih keturunannya klan Prajogi, yang punya Harum Kudus."


Ia lagi-lagi menggelengkan kepala mendengar penuturan Pak Imam. Sejauh ini yang diketahuinya tentang Anja hanyalah anak orang berada yang manja, berisik, sekaligus memiliki bahu indah seputih susu. Very well Cakra, this is so damn true.


"Saudara-saudara Pak Yuwono banyak yang jadi pejabat di Jawa Timur. Paling terkenal ya kakaknya Pak Yuwono sendiri, yang mantan Gubernur dua periode itu."


Ia hanya bisa menelan ludah.


Membuatnya kembali menelan ludah. Kali ini sebanyak tiga kali hanya dalam waktu dua detik. Nervous.


"Keluarga Bu Yuniar banyak yang jadi pejabat di pemerintahan. Beberapa yang saya tahu di Kejakgung sama MA."


"Jampidsus (jaksa agung muda bidang tindak pidana khusus) sekarang itu kalau nggak salah adiknya Bu Yuniar."


"Jampidsus yang di berita televisi kemarin rame disebutkan sebagai calon kuat pengganti jaksa agung yang hampir pensiun."


Kini ia tak mampu lagi berkata-kata.


"Kamu beruntung bisa masuk ke keluarga mereka," Pak Imam tersenyum. "Harus bisa membawa diri."


Kali ini ia mengangguk setuju. Meski sama sekali tak yakin.


"Tapi, udah nggak bermasalah sama Pak Tama kan?" seloroh Pak Imam.


Membuatnya tertawa getir.


"Pak Tama itu termasuk rising star di korps kami. Ya sangat masuk akal dengan background keluarga yang seperti itu."


"Punya banyak link, chanel, kolega."


"Karier mulus lancar jaya."


"Direskrimum (direktur reserse kriminal umum) paling muda sepanjang sejarah."


Ia mengangguk mengerti. Tak diragukan lagi bagaimana sepak terjang Mas Tama. Jelas terpancar dari karakteristik kepribadian dan pembawaan Mas Tama. Sangar.


"Satu atau dua tahun lagi kemungkinan besar sudah bisa jadi Kapolda atau ditarik ke Mabes," lanjut Pak Imam yakin. "Kita lihat saja."


Ia tak bisa membayangkan seorang Mas Tama dalam waktu dekat akan memiliki kekuasaan sedemikian besar. Bisa dipastikan ia harus memantaskan diri secepat mungkin jika masih ingin bertahan di sisi Anja.


Tapi dengan cara apa?


Keseimbangan materi jelas jauh panggang dari api, alias bagai pungguk merindukan bulan. Ia dan silsilah keluarganya, bahkan keluarga besar dari Ayah, Mamak, jika ditarik tiga generasi sebelumnya pun bisa ditebak takkan mampu menandingi silsilah keluarga Anja yang memang sudah berpunya sejak dari beberapa generasi sebelumnya. Jauh sekali. Kesenjangan yang nyata.


Jadi, kira-kira hal apa yang paling memungkinkan bisa dilakukannya untuk memantaskan diri? Yang tak membutuhkan modal materi. Ya, tentu saja, karena ia tak memilikinya.


"Terus sekolah kalian gimana kalau sudah menikah begini?" Pak Imam mengernyitkan dahi.


"Sekolah lanjut, Pak. Doakan bisa lulus tahun ini," jawabnya sungguh-sungguh.


"Biar bisa cepat kerja untuk menghidupi keluarga," sambungnya tak kalah sungguh-sungguh.


Tapi Pak Imam justru tertawa, "Jadi mantu Pak Yuwono ya tinggal ambil satu usahanya buat diteruskan. Gampang itu."


Namun ia menggeleng, "Enggak, Pak. Doakan saya bisa usaha di atas kaki sendiri."


Pak Imam mendadak terdiam dan menatapnya tanpa ekspresi. Membuatnya gugup dan khawatir telah mengatakan hal yang keliru.


Namun Pak Imam justru beranjak kearah lemari. Masih lemari yang sama dimana Pak Imam mengambil kantong kresek berisi baju ganti dan peralatan mandi untuknya tempo hari.


Sempat terdiam sebentar di depan lemari, sejurus kemudian Pak Imam sudah kembali mendudukkan diri di hadapannya. Lalu mengangsurkan sebuah bingkai foto yang terbuat dari kayu berplitur. Dengan gambar seorang anak laki-laki di dalamnya.


"Ini anak sulung saya," gumam Pak Imam hampir tak terdengar.


"Yang kaosnya kemarin dipakai sama kamu."


Ia mengangguk sambil berucap, "Mirip dengan Bapak."


Pak Imam tertawa getir, "Namanya Tangguh. Karena saya ingin dia tumbuh menjadi laki-laki yang tangguh."


"Yang kuat berdiri di atas kaki sendiri mengarungi gemerlapnya dunia."


"Tadi kamu ngomong begitu, saya jadi ingat sama anak."


Ia tersenyum mengangguk, "Tangguh pasti bangga punya orangtua seperti bapak."


Pak Imam tersenyum samar, "Berapa umurmu?"


"Sembilan belas, Pak."


"Benar berarti seumur sama anak saya," lanjut Pak Imam pelan. "Kalau masih ada."


Ia mengernyit bingung. Namun sebelum sempat menanyakan maksud dari kalimat yang diucapkan, Pak Imam lebih dulu menyahut,


"Sebagai anak pertama, besar harapan kami sebagai orang tua, kalau dia mau mengikuti jejak saya."


"Jadi petugas pengayom negara."


"Tapi Tangguh nggak mau."


"Mungkin karena lihat kerjaan bapaknya seperti ini."


"Bersahabat dengan maut dan bahaya."


Pak Imam terdiam sebentar sebelum kembali berkata, "Tangguh mau jadi ilmuwan katanya."


"Dari SD sudah sering ikut lomba fisika."


"Terakhir sempat ikut Olimpiade sains tingkat Propinsi."


"Cuma masuk lima besar."


"Tapi anaknya sudah seneng banget dengan pencapaian segitu."


Ia masih diam mendengarkan.


"Waktu awal-awal kelas 3 SMA, masih saya bujuk-bujuk dia buat daftar Akpol."


"Tapi anaknya tetap nggak mau."


"Tanpa sepengetahuan saya dan istri, ternyata Tangguh sudah daftar SNMPTN ke Ganapati."


"Pilihannya FTI (fakultas teknologi industri)."


"Karena ingin ambil jurusan teknik fisika."


Pak Imam terdiam sejenak, "Dan Tangguh diterima di FTI Ganapati."


Matanya berbinar karena ikut merasa senang, "Selamat, Pak."


"Tepat seminggu setelah pengumuman SNMPTN," mata Pak Imam mendadak menerawang. "Habis Maghrib, anak saya yang kedua, adiknya Tangguh, tiba-tiba demam tinggi."


"Sementara saya lagi ada operasi. Sudah tiga hari nggak pulang ke rumah."


"Jadi istri saya minta tolong ke Tangguh untuk belikan obat penurun panas di apotek."


"Apoteknya dekat. Nggak terlalu jauh dari rumah."


"Naik motor cukup lima menit sampai."


Sampai disini ia masih tak mengerti kearah mana perbincangan ini akan bermuara. Ia pun masih diam mendengarkan.


"Tapi nggak tahu kalau di jalan raya lagi ada tawuran antar supporter sepakbola."


"Tangguh yang malam itu kebetulan memakai jaket berwarna sama dengan salah satu tim yang sedang ricuh...."


"Kena sasaran amuk massa karena lewat di area tim lawan."


Ia kini mulai mengerti.


"Tangguh anak Inkai. Dari SMP sudah ikut karate."


"Tapi massa terlalu banyak," suara Pak Imam mulai tersendat.


"Rata-rata bawa senjata."


"Batu, celurit, parang," Pak Imam menggelengkan kepala. "Ya semua senjata yang biasa dibawa anak-anak muda kalau lagi tawuran."


Spontan ia mengeraskan rahang, guna bersiap mendengarkan kisah dari Pak Imam selanjutnya.


"Saya malam itu lagi ikut operasi gabungan penggrebekan centeng tanah sengketa yang melibatkan oknum aparat."


"Nggak bisa nolongin anak sendiri."


Ia mengangguk-angguk mengerti dengan perasaan yang tak terdefinisikan.


Pak Imam terdiam selama hampir lima menit. Kemudian berkata pelan, "Itu kejadian tiga tahun yang lalu."


"Tapi seperti baru kemarin."


"Saya masih suka bawa beberapa bajunya untuk disimpan di kantor."


"Waktu malam itu lihat kamu, saya langsung ingat sama Tangguh."


Kini ia paham kenapa sikap Pak Imam terhadapnya jauh berbeda dibanding reserse lain yang ikut menggiringnya untuk dibawa ke kantor polisi. Kini ia tahu darimana sikap baik dan welcome Pak Imam berasal. Karena terkadang, kemiripan fisik seseorang bisa membangkitkan kenangan kita pada beberapa orang terdekat yang telah tiada.


"Terakhir saya lihat Tangguh ya seusia kamu ini," lanjut Pak Imam. "Tapi Tangguh lebih gempal. Dan kamu sudah pasti lebih tinggi dari anak saya."


"Tapi sekilas mirip."


"Saya turut berduka cita, Pak," gumamnya dengan suara serak.


Pak Imam tersenyum, "Belajar yang rajin. Jangan kecewakan orangtua. Semoga di masa depan, saya bisa lihat kamu berdiri di atas kaki sendiri."