
Tama
Ia hanya bisa saling berpandangan dengan sang adik. Karena sepanjang perjalanan pulang menuju ke rumah, Papa terus saja menanyakan hal yang sama.
"Di mana Papa pernah bertemu anak itu?"
"Wajahnya terlihat tak asing."
"Papa ingat betul pernah bertemu dengan anak itu. Tapi di mana?"
Sementara dari pantulan rear vission mirror terlihat Mama berkali-kali memijat pangkal hidung sembari menghembuskan napas panjang. Wajah Mama bahkan tak lagi secerah tadi. Ketika mereka pertama kali menginjakkan kaki keluar gate.
"Ingat kata dokter Lee, Pa," ujar Mama seraya mengusap lengan Papa.
"Jangan terlalu memaksakan diri."
"Papa masih dalam masa pemulihan."
Tapi Papa sama sekali tak mempedulikan ucapan Mama. Terus bergumam sendiri, "Papa ingat wajah itu."
"Papa ingat."
"Tapi di mana dan siapa? Papa lupa."
Untung saja adiknya memiliki inisiatif untuk memisahkan Cakra dari rombongan mereka. Karena jika tidak, ia benar-benar tak mampu mengantisipasi kemungkinan (buruk) yang bisa terjadi.
Dan dengan pulihnya ingatan Papa usai menjalani rehabilitasi intensif pasca terkena serangan stroke. Memastikan bahwa ia dan seluruh anggota keluarga yang lain sudah harus bersiap sejak dini.
Tentang reaksi Papa sekaligus efek terburuk yang bisa ditimbulkan. Begitu Papa mengetahui asal usul Cakra.
Meski ia masih sangat berharap. Jika kenyataan tentang siapa Ayah Cakra, takkan mempengaruhi kesehatan Papa. Apalagi memperburuk kondisi fisiologis Papa yang saat ini masih dalam masa pemulihan panjang.
"Hari Jum'at besok mau sekalian reunian nggak sama sahabat-sahabat Papa?" selorohnya berusaha mengalihkan topik.
Tapi justru Mama yang menjawab, "Nanti malam kita bicarakan sama-sama."
"Sekalian acara aqiqah Aran dan nikah ulangnya Anja."
"Reuni?" tanya Papa tertarik.
"Syukuran kepulangan Papa ke rumah. Sampai sesehat ini dan bisa beraktivitas," jawab Mama seraya kembali mengusap lengan Papa.
"Kalau begitu, undang semua teman Papa," seru Papa antusias. "Tama?"
"Ya, Pa," jawabnya cepat. "Sebagian sudah dihubungi dan bersedia hadir."
"Tinggal beberapa yang belum," lanjutnya sambil membuka layar ponsel. Mulai memeriksa daftar nama kolega Papa yang belum sempat dihubunginya.
Begitu Sada membelokkan kemudi memasuki halaman rumah. Terlihat Dara dan ketiga anaknya, Anja, Mang Jaja serta Bi Enok telah berdiri menunggu kedatangan mereka di teras depan.
"Papa jalan saja," begitu kata Papa ketika Sada membukakan pintu mobil. Berniat membantu Papa untuk duduk di kursi roda yang telah disiapkan.
Dengan dibantu oleh Mama, secara perlahan Papa mulai melangkahkan kaki memasuki teras.
"Akuuungng!!"
Seru ketiga anak Sada begitu melihat Papa keluar dari mobil. Ketiganya bahkan langsung menubruk Papa yang tertawa-tawa senang dikerubuti oleh para cucu.
"Kita ketemu lagi....," seloroh Papa sambil mengusap punggung ketiga cucu yang sedang memeluknya erat-erat.
"Akung...Akung...," Lana tiba-tiba menarik-narik celana Papa.
"Tante Anja punya baby...."
"Lucuuuuu....."
"Oya?" Papa mengusap puncak kepala Lana yang kini sedang melompat-lompat kegirangan.
"Lihat deh Akung....lihat....," tunjuk Lana ke arah Anja yang masih berdiri mematung sambil menggendong Aran. Sekilas ia menangkap setetes air jatuh membasahi pipi adik kecilnya itu.
"Baby nya mungiiiillll...."
"Tapi pipinya bulaaaat...."
"Kalau baby lagi ngulet, pasti sambil ken tut....Hihihihi...."
Semua orang tertawa mendengar celotehan Lana yang seolah tidak ada habisnya. Kecuali Arka yang langsung mengingatkan Lana.
"Buang angin, De....buang angin...."
Tapi Lana tentu saja tak peduli. Karena bagi Lana, ken tut adalah jenis kata unik yang menarik dan terdengar lucu untuk diucapkan berkali-kali.
"Akung sama Uti mau cuci tangan dulu ya sayang," ujar Mama sambil menuntun Papa masuk ke dalam rumah.
"Kenapa harus cuci tangan?" tanya Lana yang ikut menjajari langkah Mama dan Papa.
"Apa Akung sama Uti mau langsung makan jadi cuci tangan?"
Mama tersenyum sambil mengusap rambut Lana, "Akung sama Uti baru pulang dari jauh. Bawa banyak kuman dan debu."
"Nanti kasihan kalau debu dan kumannya kena baby yang masih mungil," tunjuk Mama ke arah Aran dalam buaian Anja yang sedang sibuk menyusut sudut mata.
"Ayo...ayo....kita tunggu Akung sama Uti cuci tangan dan ganti baju dulu yaa," Dara langsung menghalau ketiga anaknya yang masih mengerumuni Papa dan Mama.
Ketika semua orang sudah masuk ke dalam rumah. Dan ia tengah merapikan posisi kendaraan. Mobil yang dikendarai Cakra mulai memasuki halaman.
Langsung disambut oleh Mang Jaja dan Bi Enok. Yang dengan cekatan ikut membantu menurunkan barang-barang. Lalu memasukkannya ke dalam rumah.
Kini ia sudah mencuci tangan di kran air yang terdapat di halaman. Lalu masuk ke dalam rumah melalui teras samping. Dimana semua orang telah duduk berkumpul di ruang tengah.
"Anja kangen sama Papa....," isak Anja yang kini tengah memeluk Papa.
"Papa juga kangen," Papa mengusap rambut Anja dengan penuh sayang. "Kangen sekali."
Sementara Aran tengah digendong oleh Mama. Dengan Dara yang sibuk memegangi Lana karena ingin ikut menggendong Aran.
"Mau gendong baby...."
"Mau pegang baby...."
"Teh Lana sudah bisa gendong adik Aran gitu?" seloroh Mama sambil pura-pura menyerahkan Aran untuk digendong oleh Lana.
"Bisa....bisa....," Lana menganggukkan kepala berkali-kali.
"Coba....," Mama tertawa. "Kuat nggak gendong baby...."
Lana langsung mengulurkan kedua lengan untuk menerima Aran. Namun baru juga Mama (berpura-pura) menyimpan Aran di lengan Lana.
Lana sudah berseru, "Baby berat..."
"Baby ndut...."
"Nggak kuat kan Teteh?" seloroh Mama. "Baby nya tiga kilo sayang, jadinya berat."
"Jadi....," Mama mendudukkan diri di sofa sambil menggendong Aran sekaligus memangku Lana.
"Yang boleh gendong baby siapa?"
"Tante Anja," Lana langsung menunjuk Anja yang masih berpelukan dengan Papa.
"Betul seratus," Mama mengacungkan jempol. "Jadi, yang boleh gendong baby itu Tante Anja, Bunda Lana, Uti, siapa lagi ya?"
"Om Cakraaa...," seru Lana antusias.
"Oh iya Om Cakra," Mama terkekeh. "Terus Ayah Lana, Pakde Tama," ujar Mama sambil menunjuk dirinya yang juga telah duduk di sofa.
"Bi Enok juga boleh," sambung Mama lagi.
"Kalau Teteh Lana, Mas Arka, A Yasa....belum boleh gendong yaaa....," kini Mama menggoyangkan jari telunjuk tanda tak membolehkan.
"Cium boleh. Ajak main bareng boleh. Tapi gendong....no no no...."
Lana ikut tergelak sambil menggoyangkan telunjuk persis seperti yang Mama lakukan, "No no no...."
"Nanti kalau anak kecil yang gendong, bisa nggak kuat....terus baby Aran jatuh....nanti baby Aran merasa sakit....nangis deh jadinya.....," terang Mama berusaha menjelaskan kepada Lana.
"Nangis deh baby.....," seru Lana lagi sambil tergelak.
"Berisik banget sih!" sungut Arka sambil mengucek rambut Lana yang sedang tergelak-gelak di pangkuan Mama.
"Dia sih emang hobinya ngomong," balas Yasa yang tengah asyik memainkan kubus rubik.
Namun rupanya Lana tak peduli meski dua kakaknya bersungut-sungut sebal mendengar ocehannya. Justru memanggil dengan riang.
"Mas....Aa....lihat baby Aran mulai ngulet...."
"Bentar lagi pasti ken tut...."
"Jorok ih Dede," gerutu Yasa yang telah berhasil membuat setiap sisi kubus rubik memiliki satu warna. Sekaligus warna yang berbeda dengan sisi lain.
"Buang angin, De. Buang angin...," Arka kembali mengingatkan Lana tentang pilihan kata yang lebih sopan. Karena mereka sedang berkumpul dengan orang-orang yang lebih tua.
Tapi Lana mana peduli.
"Tuh kan bener ken tut!" pekik Lana kegirangan ketika terdengar suara Aran buang angin usai meregangkan tubuh.
"Ih!" Yasa ikut manyun melihat kehebohan adik perempuannya untuk satu hal yang sama sekali dianggapnya tak lucu.
"Wilujeng (selamat) Bapak," sapa Bi Enok yang muncul dari arah dapur membawa nampan berisi beberapa gelas es jeruk.
"Sudah bisa pulang ke rumah lagi."
Papa tersenyum seraya melepaskan pelukan dengan Anja. Lalu dengan gerakan perlahan dan dibantu oleh Anja, Papa mendudukkan diri di sofa. Tepat di sebelah Mama.
"Aman Bapak," Bi Enok mengacungkan jempol. "Sudah berkali-kali panen. Hasilnya bagus terus."
"Alhamdulillah," Papa tersenyum senang.
"Bi, ngke (nanti) mah Bapak nggak perlu disiapkan kopi atau teh. Cukup air putih saja ya," ujar Mama menginformasikan minuman yang boleh dikonsumsi Papa.
"Unggal dinten (setiap hari), Bu?"
"Nya (iya)," Mama mengangguk. "Tos teu kenging (sudah tidak diperbolehkan) konsumsi nu kitu (yang begitu) teh."
"Muhun (baik), Bu," Bi Enok mengangguk tanda mengerti.
"Marangga (mari semuanya), Bibi ke belakang lagi," pamit Bi Enok.
Namun sebelum beranjak, keburu Sada berseru sambil mengangkat segelas es jeruk yang baru saja dihidangkan oleh Bi Enok, "Ditampi ah, Bi."
"Mangga (silakan), Den," jawab Bi Enok sambil tersenyum.
Sementara dari tempat duduknya, terlihat Cakra dan Mang Jaja masih menurunkan barang-barang dari dalam mobil. Membuatnya mengikuti jejak Sada dengan meraih segelas es jeruk untuk melepas dahaga.
"Tuh...alisnya baby Aran mirip Akung," ujar Mama riang.
"Kalau rambutnya tebal kayak Bunda ya," sambung Mama seraya membelai rambut lebat Aran.
"Tapi wajah plek ketiplek Ayahnya," seloroh Mama sambil tersenyum.
Papa memperhatikan Aran dengan seksama, lalu bertanya, "Papa pergi berapa lama? Sampai Anja bisa menikah dan punya bayi?"
-Semenjak terkena serangan stroke iskemik, Papa sempat mengalami demensia vaskular (demensia yang terjadi setelah stroke).
Namun setelah dilakukan terapi intensif untuk membantu mengembangkan ingatan. Kemampuan mengingat dan ingatan Papa bisa kembali seperti semula. Meski terkadang masih sering mengalami disorientasi tempat, keadaan, dan waktu. Seperti saat ini.-
"Lama banget," jawab Mama setengah berseloroh.
"Makanya Mama selalu bilang, ayo Pa cepet sembuh...biar kita bisa ngumpul lagi di rumah," lanjut Mama sambil menatap Papa. Yang sepertinya masih merasa kebingungan dengan semua hal baru yang terjadi. Terutama tentang Anja yang tiba-tiba telah menikah sekaligus memiliki seorang bayi.
"Berarti Papa pergi bertahun-tahun?" tanya Papa tak mengerti.
"Ya....," Mama tertawa sumbang. "Nggak sampai bertahun-tahun, Pa."
Papa terlihat mengkerut dan berpikir. Ketika Anja yang duduk sambil menyenderkan bahu ke pundak Papa. Tiba-tiba mengatakan hal yang membuatnya dan Sada ketar-ketir.
"Papa udah ketemu sama suami aku belum?"
"Sudah, tadi di bandara," Mama yang menjawab.
Anja tersenyum senang, "Gimana menurut Papa?"
"Gimana apanya?" Mama kembali menjawab sembari bersenandung untuk Aran yang sedang menguap.
Tapi Anja tak menjawab. Justru meraih lengan Papa dan memeluknya. Sembari menyunggingkan senyum penuh arti.
"Siapa nama suami Anja tadi Ma?" Papa malah balik bertanya pada Mama.
Namun Anja lebih cepat menjawab, "Cakra."
Papa menganggukkan kepala sebanyak dua kali, "Cakra?"
"Iya," gumam Anja.
"Kamu ketemu sama Cakra di mana?"
"Sekolah."
"Satu sekolah?"
Anja mengangguk.
"Orang mana dia?"
"Ehek...ehek...eaaaaa...eeeaaaaakkkk....."
Suara keras tangis Aran tiba-tiba pecah memekakkan telinga. Membuat Anja buru-buru melepas pelukan dari lengan Papa untuk melihat keadaan Aran. Yang hingga kini masih berada dalam buaian Mama.
"Oh, pipis.....," Mama tertawa riang begitu menyadari alasan dibalik pecahnya tangis Aran.
"Dingin ya sayang....," Mama mengangkat tubuh Aran sembari memasang wajah lucu.
"Uti baru datang langsung dipipisin sama Aran? Iya?" tanya Mama tepat di hadapan wajah Aran yang tengah menangis kencang.
"Eeaaaa...eaaaaa...eeeaaaaakkkk....."
"Mau nen juga kayaknya, Ma," Anja mengusap-usap pipi bulat Aran yang terus saja menangis. "Terakhir nen tadi udah agak lama."
"Ayo....ayo....kita salin dulu ya....," Mama segera membereskan kain bedong yang telah basah di pangkuan.
Melipatnya di bagian yang basah, lalu kembali menempatkan Aran di atas kain bedong yang masih kering. Kemudian menggendongnya.
"Aran mau ganti popok sama Uti? Iya?" tanya Mama lagi sembari menciumi pipi Aran.
"Sama Teteh! Sama Teteh!" Lana kembali melonjak-lonjak kegirangan ingin ikut ambil bagian.
"Ayo....siapa takut...," seloroh Mama yang memasang mimik lucu.
"Teteh Lana mau ikut bantuin adik Aran ganti popok?" Iya?"
"Iya! Iya!" jawab Lana semakin kegirangan.
Sementara tangis Aran semakin bertambah kencang. "Eeaaaa...eaaaaa...eeeaaaaakkkk....."
"Wah, Teteh Lana sayang ya sama adik Aran? Sampai mau ikut bantuin ganti popok?" tanya Mama sembari bangkit dari duduk.
"Sayaaaaang setinggiiiii langiiiit....," jawab Lana dengan kedua lengan diangkat tinggi-tinggi ke atas.
Lalu Mama segera melangkah menuju ke kamar Anja. Dengan diikuti oleh Lana yang terus saja berceloteh.
"Nanti aku yang ambil popoknya ya Uti."
"Boleh," Mama mengangguk setuju.
"Nanti habis pakai popok baru, aku boleh gendong sebentar nggaaak?"
"Eits," Mama menggeleng. "Gendong....no no no...."
Sementara ia dan Sada hanya bisa menghembuskan napas panjang melihat keriuhan yang terjadi. Sedangkan Dara telah beranjak ke ruang makan. Hendak memotongkan buah naga seperti yang baru saja diminta oleh Yasa.
"Pa," Anja kembali memeluk Papa sekilas. "Aku nen in Aran dulu ya. Nanti ke sini lagi ngobrol sama Papa."
Papa mengangguk.
Dengan kepergian Anja ke kamar, tinggallah mereka bertiga. Sada terlihat khusyu memperhatikan layar ponsel. Sementara ia memilih untuk melemparkan punggung ke sandaran sofa dan memperhatikan langit-langit ruangan dengan tanpa tujuan.
"Siapa yang jadi wali nikah Anja?" pertanyaan Papa memecah kesunyian yang tiba-tiba melanda ruang tengah.
"Aku," jawabnya seraya menegakkan punggung.
"Kapan?"
"Nikahnya?" ia mencoba memperjelas pertanyaan Papa.
"Ya."
"Waktu Papa masih di ICU," jawabnya sambil mengerutkan dahi. "Bukannya Mama udah berkali-kali cerita tentang pernikahan Anja, Pa?"
"Kita juga udah sering membahas ini waktu Papa masih di sana," timpal Sada yang kini telah meletakkan ponsel di atas meja.
"Iya ya?" Papa justru balik bertanya dengan wajah bingung.
"Kadang Papa lupa kalau sudah pernah tahu," lanjut Papa.
Ia tersenyum mengangguk, "Iya, Pa. Pelan-pelan aja Pa."
"Dia orang mana?" tanya Papa lagi.
"Cakra?" ia hanya ingin memastikan. "Orang Jakarta."
"Asli Jakarta? Orang Betawi?"
"Bukan," gelengnya malas.
"Asli mana?"
Namun untuk yang satu ini, tak seorangpun berminat menjawab pertanyaan mengundang (masalah) dari Papa.
Ia kembali melemparkan punggung ke sandaran sofa dengan penat. Sementara Sada buru-buru mengambil ponsel yang baru saja diletakkan ke atas meja.
***
Keterangan :
Stroke iskemik. : terjadi ketika pembuluh darah mengalami sumbatan (sumber : klikdokter.com)
Stroke hemoragik. : terjadi ketika pembuluh darah di otak pecah (sumber : klikdokter.com)
Demensia. : demensia bukan penyakit spesifik, tetapi merupakan sekelompok kondisi yang ditandai dengan penurunan setidaknya dua fungsi otak, seperti hilangnya memori dan kemampuan menilai.
Gejala termasuk mudah lupa, keterampilan sosial yang terbatas, dan kemampuan berpikir sangat terganggu sehingga mengganggu fungsi sehari-hari.
Gangguan ini ditandai dengan penurunan daya ingat atau kondisi di mana seseorang kesulitan untuk mengingat sesuatu dari memorinya (sumber : klikdokter.com)