Beautifully Painful

Beautifully Painful
40. Terrible Things



Anja


Sekitar jam 4 sore, Hanum dan Bening benar-benar datang menjenguknya. Sambil tersenyum lebar mereka memasuki ruang perawatan dengan membawa buket bunga yang terbuat dari beberapa batang cokelat merk favoritnya.


"Makasih," ujarnya saat menerima buket cokelat tersebut.


"Ya ampuuuun, Ja," Hanum langsung memeluknya erat. "Lo kemana aja sih? Kita sampai ketakutan lo kenapa-napa."


Ia tersenyum sambil menepuk-nepuk punggung Hanum dengan sebelah tangan, "Gue baik-baik aja kok. Lagi males ke sekolah aja."


"Males ke sekolah gimana?!" Bening menatapnya curiga. Dari tiga serangkai, Bening memang yang paling aware dengan something fishy. Hidung Bening seolah memiliki kemampuan mumpuni dalam mengendus hal-hal mencurigakan yang sengaja ditutupi. Bacaan favoritnya saja Alfred Hitchcock. Watchout, Anja!


"Orang kita lagi getol-getolnya TO (try out)," sungut Bening sembari mendudukkan diri di atas tempat tidur, tepat di sampingnya.


"Minggu depan malah udah simulasi UNBK," tambah Bening yang kini beralih merangkul pundaknya. "Lo kenapa sih, Ja?"


"Eh, iya, UNBK tanggal 23 ya?!" potong Hanum seraya mengingat sesuatu. "Pas banget habis birthday lo."


"Lo lagi ada masalah?" tanya Bening lagi. "Nggak biasanya tingkah lo aneh begini."


"Eh, mau dirayain dimana?" Hanum kembali menginterupsi. "Sama kayak waktu sweet seventeen lo kemarin nggak?"


"Lo jadi sering sakit, kurus, pucat," Bening masih tetap konsisten membahas hal yang sama. "Kalau ada apa-apa tuh cerita, Ja. Jangan dipendam sendiri. Ntar jadi jerawat lho!"


"Seru tuh! Kalau iya, jangan lupa undang Faza ya," sementara Hanum masih sibuk mengurusi hari ulang tahunnya. "Gue bakal bikin dia terpesona sampai tak mampu berpaling."


Membuatnya tertawa, "Enggak, Num."


"Hah?!" Hanum terbelalak. "Enggak apa? Nggak ngundang Faza?! Yah, elo gimana sih kan gu...."


"Nggak ada party-party," jawabnya sambil menggelengkan kepala.


"Kok....gitu?!" Hanum mengkerut.


Membuatnya tersenyum, "Bokap gue masih sakit. Bentar lagi mau dirawat di luar," ujarnya memberi alasan. "Ya masa gue mesti party pas bokap sakit sih?"


"Oh iya ya," Hanum menepuk keningnya sendiri. "Sori, Ja."


Namun sejurus kemudian, "Eh, kita rayain bertiga aja yuk?" ujar Hanum dengan mata berbinar.


"Girls night gitu. Pajamas party. Di rumah lo aja, Ja. Kan kita bisa seru-seruan tuh. Sebelum hari Seninnya kita ikut simulasi. Mantaaapppp!" sambung Hanum cepat sambil mengacungkan jempol.


"Eh, gue lagi nanya serius lo malah ngomongin party!" sungut Bening yang merasa spotlight di dominasi oleh Hanum.


"Iya, sori....," Hanum mencibir. "Itu sebagai tanda kalau gue nggak pernah lupa tanggal ultah kalian berdua."


"Jadi, lo kemarin kemana?" Bening tak menggubris cibiran Hanum dan kembali konsentrasi padanya.


"Senin, Selasa, Rabu," Bening menghitung dengan jari. "Ya ampun, tiga hari bayangin gue sama sekali nggak bisa hubungin elo!"


Hanum mengikuti jejak Bening dengan duduk di atas tempat tidur. Membuatnya kini diapit oleh mereka berdua.


"Iya, Ja," Hanum menimpali. "Bahkan Dipa aja nggak tahu lo dimana."


Ia menghela napas perlahan, "Gue tidur di rumah sakit nungguin bokap. Ponsel gue non aktifin. Secara di ICU kan ngg..."


"Kalau lo di rumah sakit, kok waktu kita nengok bokap lo, nggak lihat elo?!" kernyit Bening heran.


"Kan Mama lo bilang ke gue sama Bening, kalau elo lagi istirahat di rumah gara-gara pingsan?" Hanum ikut mengernyit heran.


"Nah!" Bening meliriknya tajam. "Lo pingsan lagi kan? Nggak selang lama dari pingsan lo waktu syuting."


"Ya....karena....kita simpangan jalan aja," jawabnya dengan nada tak meyakinkan.


"Waktu kalian jenguk bokap di rumah sakit, gue emang lagi di rumah," lanjutnya dengan leher tercekik. "Nah, waktu kalian ke rumah, gue baru aja pergi ke rumah sakit. Gitu."


"Dan anehnya nih, Ja," Bening sama sekali tak puas dengan jawaban -bohong- yang diberikannya. "Pas lo nggak masuk, kenapa Cakra juga nggak masuk?!"


"Ih, apa hubungannya sama Cakra?!" justru Hanum yang menjawab. "Lagian lo kok bisa tahu kalau Cakra nggak masuk? Sejak kapan lo perhatian sama berandal macam dia?"


Percakapan Hanum dan Bening membuat kepalanya mulai berdenyut tak karuan.


"Nggak penting gue tahu darimana kalau Cakra juga bolos," Bening mencibir.


"Yang pasti gue nemuin benang merah disini," lanjut Bening dengan nada suara penuh keyakinan.


"Benang merah apaan?!" suara Hanum jelas ingin tahu. Sementara kepalanya mulai pening memikirkan jenis jawaban paling masuk akal seperti apa yang bisa membuat Bening berhenti menguliti dirinya.


"Arin sama Siera lihat lo masuk ke Retrouvailles," ujar Bening dengan mimik meyakinkan. "Sementara Cakra kerja di Retrouvailles."


"Terus, Aldi lihat Cakra masuk ke hotel sama cewek," lanjut Bening dengan mata membulat. "Yang kata Aldi kemarin, ceweknya miriiiip banget sama elo."


Glek!


Ia mulai tak bisa berkonsentrasi mencari alasan paling make sense.


"Ah, yang bener lo!" sembur Hanum tak percaya. "Cumi aja kali, cuma mirip."


Tapi Bening tak menghiraukan Hanum, justru menatap matanya lekat-lekat, "Dan kata Bi Enok kemarin, ada cowok yang tiga kali datang ke rumah elo. Sampai nganterin bokap lo ke rumah sakit."


"Dipa kali?!" serobot Hanum.


Namun, lagi-lagi, Bening tak menghiraukan Hanum. "Kata Bi Enok namanya Cakra."


Ucapan Bening sontak membuat Hanum terkesiap, "Ya ampuun? Anja?!"


Ia sampai harus menelan ludah berkali-kali sebelum akhirnya berkata, "Lo ngomong apa sih?! Gue nggak ngerti."


Berpura-pura bodoh -untuk saat ini- jelas emergency exit paling aman karena keadaan yang masih serba tak jelas. Belum ada ujung pangkal. Belum ada kepastian. Meski tadi Mama bilang mereka -ia dan Cakra- sudah harus menikah sebelum Papa dirawat di Singapura. Namun ia tak yakin kedua kakaknya akan langsung menyetujui usulan Mama begitu saja. Dan menikah? Dengan Cakra?! Itu ibarat ia mendengar seseorang berkata, "Selamat Anjani, Anda diterima di Harvard Medical School." Alias halu tingkat dewa.


"Sorry nih, Ja," Bening kembali menatapnya lekat-lekat. "Don't get mad."


"Kalau ternyata sakitnya elo, pingsannya elo, ada hubungannya sama Cakra....," lanjut Bening yang kembali merangkul bahunya. "Lo nggak usah malu sama kita."


"Kalau emang lo suka sama dia, ya udah sih....namanya juga rasa suka....nggak ada yang bisa maksa apalagi ngelarang."


"Nggak usah lo sembunyiin sampai bikin lo sakit trus pucat gini."


"Bikin hati tertekan nggak sih?"


"Lagian itu juga hak elo pribadi. Kita berdua nggak akan musuhin hanya gara-gara lo suka sama Cakra."


"Apa banget deh."


Ia balas menatap Bening dengan masygul. Jadi, Bening mengira ia suka sama Cakra? Sedangkal itu?! Damned Bening, gue bahkan lagi mengandung anaknya Cakra! Darah dagingnya Cakra! batinnya miris.


"Hah?" Hanum ikut meraih bahunya. "Lo suka sama Cakra?!"


Ia mendecak sambil melepaskan diri dari rangkulan mereka berdua, "Kalian ngomong apa sih?!"


Namun Bening justru tersenyum, "Lo nggak tahu ya, Ja, kalau Cakra itu anak OSN?"


Ia pura-pura merengut.


"Hah?!" Hanum melotot kaget. "Yang bener?! Cakradonya?!?"


"Gold medal nasional," tambah Bening dengan senyum yang makin lebar.


"Kata siapa?!" Hanum masih saja melotot. "Dia kan penghuni tetap rangking terakhir kelas paralel?! Kok bisa anak OSN itu gimana ceritanya?!"


"Lumayan sih anaknya kalau gue bilang," Bening kini meraih tangannya. "Nggak malu-maluin meski punya image hancur."


"Nih ya, kalau dia stylish dikit aja...," Bening jelas sengaja menggantung kalimat. "Deretan cowok-cowok keren PB sih...lewaaaat."


"Dipa, Nigel, Dave, Faza....tebaaas habis!" lanjut Bening dengan mata berbinar.


"Kok Faza dibawa-bawa?!" Hanum jelas tak setuju. Tapi tak ada yang menghiraukan protesnya.


"Enggak!" jawabnya sambil mengkerut. "Gue nggak suka sama Cakra. Apaan sih kalian bisa nuduh gue begitu?!"


Ia pikir sekarang bukan saat yang tepat untuk menceritakan keadaan sebenarnya pada Hanum dan Bening. Selain karena situasi yang masih belum jelas, ia sendiri tak yakin dengan apa yang akan terjadi di masa depan.


Kalau memang Mas Tama dan Mas Sada menyetujui keputusan Mama, ia menikah dengan Cakra, apakah secara resmi atau bawah tangan? Karena mereka berdua bahkan masih berstatus sebagai pelajar.


Kalau memang akhirnya mereka benar-benar menikah, apakah akan di publikasikan? Apakah untuk selamanya? Apakah mereka nanti akan hidup normal seperti layaknya orang-orang yang sudah menikah pada umumnya? Tapi bagaimana dengan kuliahnya? Cita-citanya?


Aaarrgrgrgrhhh! Kepalanya hampir meledak demi memikirkan semua keruwetan ini.


Jadi yang paling aman untuk saat ini adalah bersikap seolah tak ada apa-apa, tak tahu apa-apa, dan tak mengerti apa-apa.


"Kelak....kalau semua udah jelas, gue bakal jujur kok sama kalian," batinnya seraya tersenyum kearah Hanum dan Bening yang masih menatapnya tak percaya.


Tak lama setelah Hanum dan Bening pamit pulang, seseorang mengetuk pintu ruang perawatannya, disusul dengan kemunculan wajah murung Dipa.


"Ini titipan dari Bunda," ujar Dipa sembari menyerahkan kantong plastik putih besar yang ternyata berisi kotak berwarna oranye kekuningan favoritnya, tentu saja di dalamnya terdapat chocolate almond cinnamon.


"Makasih," ia tersenyum senang. "Bunda lo tahu aja makanan kesukaan gue."


Tapi Dipa tak membalas senyumnya, justru berdiri mencangkung dengan ekspresi paling menyedihkan.


"Kejadiannya waktu Final West Region?" tanya Dipa dengan rahang mengeras.


Membuatnya menyimpan kantong plastik putih ke atas nakas, kemudian mulai menundukkan kepala sambil menjalin jemari. Karena merasa takut sekaligus malu.


"Waktu lo bilang cinta ke gue?"


Ia masih menyibukkan diri dengan saling menjalin jemari yang kini mulai basah karena mengeluarkan keringat dingin.


"Karena sikap brengsek gue, lo marah, terus lari hujan-hujanan?"


"Sampai akhirnya lo berteduh di Cafe apalah itu namanya?"


"Terus lo di sepikin sama si brengsek itu!"


"Sampai akhirnya Aldi lihat kalian masuk ke hotel?!"


Ia semakin keras menggelengkan kepala.


"My God, Anja?!?" Dipa memegang kepala dengan kedua tangan tanda tak habis pikir.


"Fucking hell!!" gumam Dipa dengan suara bergetar. Membuat kedua matanya mulai memanas.


"Lo tahu kan kalau gue pasti bakalan ngejar lo malam itu?!"


"Kenapa lo nggak nunggu gue datang?"


"My God, Anja?!" Dipa menghembuskan napas panjang sambil berjalan mendekatinya yang masih saja menundukkan kepala.


"Gue ngejar lo tapi nggak ada jejak."


"Lo seperti hilang ditelan bumi."


"Dan gue emang bo doh!" Dipa tertawa sumbang. "Bo doh banget karena mengira semua baik-baik saja. Tapi ternyata?!?"


Dipa kini mulai meraih kedua lengannya, "Lo tinggal bilang ke gue," kedua mata Dipa menatapnya lekat-lekat, hingga membuat kepala tertunduknya mulai terangkat. Namun hanya sanggup bertahan selama beberapa detik, karena ia tak mampu menantang nyala di kedua mata Dipa.


"Si brengsek itu nyakitin elo?!"


"Ngancam elo?!"


"Maksa elo?!


"Jawab Anja!!" gumam Dipa dengan suara bergetar. "Biar gue punya alasan jelas buat hantam dia!!"


Namun ia hanya bisa menggelengkan kepala dengan air mata berlinang.


"Dia bikin lo pingsan?!"


"Lo dikasih minuman apa sama dia?!


"Lo nggak dikasarin sama dia kan?!"


"Jawab, Anja!!!"


Tapi lagi-lagi ia hanya mampu menggelengkan kepala sembari terisak.


Perlahan Dipa mulai melepaskan cengkeraman di bahunya, namun tak lama berselang justru mengangsurkan sebuah kotak berwarna merah yang dihiasi pita cantik.


"Hari Rabu sepulang dari rumah elo, gue nemenin Bunda ke Mall."


"Disana gue lihat Tiara jalan sama cowok lain."


Kalimat Dipa membuat kepalanya terangkat.


"Iya," Dipa tersenyum namun dengan ekspresi menyedihkan. "Dia selingkuh."


Kali ini mata penuh airnya yang membelalak. My God.


"Kamis sore, kami berdua resmi putus."


Ia mulai menyusut sudut mata dengan menggunakan punggung tangan.


"Ya udah sih," Dipa menggelengkan kepala. "Udah nasib gue mau gimana lagi."


"Mending ketahuan sekarang daripada nanti. Sama aja nggak enaknya."


"Malamnya gue langsung ingat sama elo, Ja."


Membuat keningnya mengernyit heran.


"Ini pasti hukuman buat gue karena udah nyia-nyiain lo."


"Padahal selama ini lo selalu baik sama gue. Baik banget malah."


"Tapi sikap gue ke elo...."


Dipa menghentikan kalimat untuk menunjuk kotak merah yang kini berada di pangkuannya.


"Malamnya gue begadang nyari foto kita berdua."


"Ternyata susah buat nyari yang bagus, karena saking banyaknya foto kita berdua."


Membuatnya tersenyum.


"Semuanya bagus-bagus. Memorable. Lo ingat waktu Ayah gue sama Papa lo sok sok an bikin taman sendiri di belakang rumah lo?"


"Yang Ayah lo kena sengat lebah, terus Papa gue kena ulat bulu sampai bentol-bentol segede gaban?" tebaknya sambil menahan tawa diantara napas yang tersedu sedan akibat habis menangis.


"Iya, yang itu!" Dipa ikut tersenyum. "Itu ada foto kita berdua lagi sama-sama mangap, kayaknya nggak sengaja kejepret sama Mama lo waktu Ayah gue kesengat lebah."


Membuat mereka berdua sama-sama menahan tawa demi mengingat kejadian menggelikan hampir sepuluh tahun yang lalu.


"Atau waktu syukuran sunatan gue?"


Ia mencibir sambil tertawa.


"Itu ada foto kita berdua. Waktu lo nongkrongin gue seharian gara-gara kepingin makan bekakak ayam kampung yang dimasakkin spesial sama Enin (nenek) gue."


"Oh, ya ampun," ia tertawa malu. "Lo masih ingat aja yang itu."


"Lo sampai ikut tiduran di samping gue sampai-sampai digendong sama Papa lo buat dibawa pulang gara-gara ketiduran beneran."


"Jahat ih! Gue beneran nggak dibagi ayamnya!" cibirnya mengingat kejadian waktu itu.


"Itu kan emang khusus buat yang sunat," Dipa balas mencibir. "Nggak boleh dimakan sama sembarang orang, apalagi sama cewek. Pamali."


"Ih, aturan darimana tuh!" sungutnya sambil menimang-nimang kotak berwarna merah yang terasa sangat ringan itu. "Ini isinya apa?"


"Buka aja," Dipa tersenyum.


Dengan suka cita ia pun menarik pita yang mengikat sekeliling kotak, setelah terlepas barulah membuka penutup kotak yang ternyata isinya adalah....


Ia tersenyum senang seraya mengambil bingkai bergaya futuristik yang berisi foto mereka berdua saat piknik ke Disneyland California beberapa tahun silam.


Foto mereka berdua tengah bergandengan tangan diantara kerumunan pengunjung dengan latar belakang pertunjukan kembang api tepat di depan Sleeping Beauty Castle.


"Lo punya foto ini?" tanyanya takjub. Ia bahkan lupa dimana tempat Mama menyimpan foto-foto masa kecilnya.


"Hasil ngubek gudang semalaman."


Jawaban Dipa membuat mereka berdua saling melempar tawa. Namun sedetik kemudian sama-sama terdiam dengan wajah kaku.


"Jum'at pagi....iya, tadi pagi...gue mulai yakin, kalau elo....," Dipa menghela napas sebentar. "Maksudnya kalau gue...harus minta maaf ke elo atas semua sikap dan perbuatan gue selama ini."


Ia menggigit bibir dan tak tahu harus berkata apa untuk menjawab Dipa. Hanya bisa menunduk sambil memandangi foto di depan Sleeping Beauty Castle yang membuat hatinya mencelos.


Saat itulah matanya menemukan benda lain di sudut kotak. Sebuah jepit rambut cantik berwarna silver yang berkilauan.


"Itu buat ganti jepit rambut lo dulu yang gue patahin."


Ia tersenyum sambil mengusap jepit rambut cantik tersebut. "Lo masih ingat kejadian itu?"


"Gue ingat semua kejadian tentang kita, Ja."


Kalimat Dipa membuat hatinya semakin mencelos. Kenapa semua kebahagiaan ini datangnya terlambat? Setelah ia....setelah keadaan tak lagi sama seperti sebelumnya.


"Gue pakaiin sini," tanpa menunggu jawabannya Dipa telah meraih jepit rambut dari tangannya, untuk kemudian memakaikan di rambut sebelah kiri.


"Lo paling suka pakai jepit di sebelah kiri kan?" ada senyum dalam ucapan Dipa.


"Makasih," jawabnya sembari mengusap jepit yang kini telah menempel sempurna di rambutnya.


"Gue minta maaf, Ja," Dipa mengusap pipinya lembut. "Gue minta maaf selama ini udah bersikap buruk ke elo."


"Semua yang menimpa elo sekarang....," Dipa menatapnya dengan penuh penyesalan. "Salah satunya karena kesalahan gue."


Tapi ia menggelengkan kepala.


"Harusnya gue bisa ngelindungin elo dari ba jingan itu!"


Ucapan Dipa membuatnya makin menggelengkan kepala keras-keras. "Enggak, Dip. Bukan salah elo....," ujarnya dengan mata memanas.


"Gue mesti melakukan apa, Ja, biar kita bisa balik kayak dulu lagi?"


Ia masih menggelengkan kepala ketika dengan gerakan halus Dipa merengkuh bahunya lembut ke dalam pelukan.


"Gue sayang elo, Ja."


"Gue nggak terima lo diginiin."


"Gue nggak terima lo jadi kayak gini."


Ia hanya bisa menggigit bibir menahan air mata yang kembali berlesakan memaksa ingin keluar.


Entah berapa lama ia menyembunyikan diri di dalam rengkuhan Dipa, ketika perlahan sebuah tangan mulai mengusap kepalanya.


"Apa kita masih bisa sama-sama, Ja?"


Kali ini menggigit bibir sama sekali tak efektif, karena isakan kecil telah lolos dari mulutnya.


Ia masih terisak-isak di dada Dipa ketika suara terkejut Teh Dara mendadak mampir di telinganya, "Lho, Cakra?! Kenapa berdiri di depan pintu?! Masuk aj...."


Namun kalimat Teh Dara terpotong di udara. Pasti karena melihatnya tengah berada dalam rengkuhan Dipa.


Terrible things.