Beautifully Painful

Beautifully Painful
60. Love Has No Reason (5)



Anja


"Cieee.....yang udah dijemput duluan," seloroh Hanum dan Bening bersamaan ketika ia masih mengerjakan soal intensifikasi tambahan yang diberikan oleh Mr. Danny, guru Kimianya. Gara-gara selama intensifikasi tadi, ia berkali-kali kedapatan melamun dan tak memperhatikan pembahasan soal.


Membuatnya mendongak ke arah pintu dimana Dipa telah berdiri di sana sembari tersenyum.


"Karena udah ada Dipa....," begitu Hanum mengerling ke arahnya.


"Jadi, kita cabut sekarang ya," imbuh Bening seraya mencangklong tas dan bersiap untuk pergi.


Hanum dan Bening yang sedari tadi sengaja belum pulang agar bisa menemaninya mengerjakan soal-soal tambahan, tiba-tiba pergi meninggalkan ruangan kelas tanpa menunggu persetujuan darinya terlebih dahulu. Aduh.


"Kenapa, Ja?" Dipa berjalan mendekat.


"Errr...ini," ia mengangkat bahu sembari meringis. "Soal Kimia tambahan."


Sontak membuat Dipa tersenyum, "Kenapa? Melamun pasti."


Sudah menjadi rahasia umum di seantero PB jika Mr. Danny paling tidak menyukai siswa yang kedapatan melamun di pelajaran Kimia. Pasti akan langsung mendapat ganjaran dengan tugas tambahan mengerjakan soal sekian puluh nomor. Seperti dirinya saat ini.


"Dapat berapa nomor?"


Ia menunjukkan kertas soal yang berjumlah 30 nomor.


"Gila!" Dipa menggelengkan kepala. "Eksploitasi ini sih!"


Kalimat yang diucapkan Dipa sontak memancing tawa sumbangnya, "Banget," keluhnya diantara rasa gemas karena baru bisa mengerjakan 5 soal, sekaligus cemas karena pasti sebentar lagi Cakra akan mendatangi kelasnya. Sementara sekarang ia sedang bersama Dipa. Another part of benang kusut.


"Perlu bantuan?"


Ya, tentu saja. Bagi Dipa yang sudah menjadi calon kuat mahasiswa FKU, soal Kimia sesulit apapun pasti mampu dilahapnya.


Namun ia menggelengkan kepala, "Makasih, Dip. Biar gue kerjain sendiri."


"Elo....mmm....maksud gue," ia harus menelan ludah sebanyak beberapa kali sebelum akhirnya memberanikan diri berkata, "Apa nggak sebaiknya lo pulang duluan?"


"Kenapa?" Dipa mengernyit heran.


"Gue masih lama. Ntar lo kelamaan lagi nunggu di sini," selorohnya sembari meringis bingung.


"Ah, kayak sama siapa aja," Dipa tertawa sambil mendudukkan diri di kursi yang berada tepat di hadapannya.


"Santai, gue bakal nungguin sampai lo selesai."


Membuatnya menghembuskan napas panjang karena usaha memulangkan Dipa gagal. Yang berimbas pada terganggunya konsentrasi. Hingga hanya bisa menatap kosong ke arah lembaran soal Kimia.


"Kalau cuma dilihatin doang nggak bakalan selesai, Ja," seloroh Dipa yang kini mulai mencondongkan badan untuk melihat lembaran soal miliknya.


"Sini," kini Dipa berinisiatif untuk mengambil alih bolpennya secara paksa.


Bersamaan dengan munculnya seseorang di depan pintu kelas, Cakra. Yeah, the real part of benang kusut dimulai, batinnya pasrah.


Sementara Dipa yang juga menengok ke arah pintu terlihat langsung mengeraskan rahang ketika menyadari yang muncul adalah Cakra. Suasana kaku dan menegangkan mendadak menyeruak di seluruh ruangan.


Mereka bertiga bahkan sama-sama terdiam selama hampir beberapa menit lamanya. Membuatnya jadi tak enak hati terhadap Dipa. Karena secara tak langsung telah menyetujui ajakan pulang bersama.


Namun ia tentu tak bisa menolak permintaan Cakra bukan? Karena mereka bahkan pulang ke tempat yang sama, yaitu rumahnya. Dan jujur saja, ia sangat senang bisa pulang sekolah bersama Cakra untuk pertama kalinya. Ah, entahlah. Mungkin kali ini ia yang telah keterlaluan pada Dipa.


"Jadi ini alasan lo nyuruh gue pulang duluan?" Dipa lebih dulu bersuara seraya melihat ke arahnya dengan tatapan tak percaya.


So sorry, Dip, ia bahkan hanya bisa menundukkan kepala tak mampu menjawab apapun.


"Oke," tiba-tiba Dipa tertawa sumbang. Yang baginya terdengar begitu menyayat hati. Sorry again, Dip.


Dipa segera bangkit dan bersiap untuk beranjak. Namun sebelum benar-benar melangkah, lebih dulu berkata, "Masih ingat ucapan gue tadi pagi, Ja?"


Ketika ia masih mengernyit bingung, Dipa kembali bicara, "Kalau suatu saat lo butuh bantuan. Jangan ragu bilang ke gue."


Kalimat yang Dipa ucapkan membuatnya menganggukkan kepala beberapa kali.


"Gue bakal bantuin lo kapanpun dan dimanapun," pungkas Dipa seraya tersenyum kaku.


Lagi-lagi ia menganggukkan kepala. Sementara sudut matanya dengan gugup menangkap bayangan sosok Cakra yang masih berdiri mematung di depan pintu.


"Oke, Ja," Dipa tersenyum masam dan mengangkat tangan tanda hendak berpisah. "See you again. Soon."


Dan langsung beranjak pergi begitu mengucapkan kalimat terakhir. Sama sekali tak menghiraukan Cakra ketika berjalan melewati pintu. Dua cowok itu bahkan sama-sama saling membuang muka.


Syukurlah. Meski terasa tak mengenakkan hati, namun keadaan seperti ini jelas jauh lebih baik. Daripada Cakra dan Dipa harus berkelahi seperti waktu di Rumah Sakit tempo hari. Yang akan menambah ruwet benang yang telah kusut masai.


"Masih ada tugas?" begitu Dipa keluar ruangan, Cakra berjalan menghampiri kemudian mendudukkan diri di hadapannya. Di bekas kursi yang tadi di duduki oleh Dipa.


"Sampai jam segini masih di kelas?" tanya Cakra lagi.


Ia pun menunjuk lembaran soal Kimia sambil mengkerut, "Gara-gara kamu nih!"


Sontak memancing tawa Cakra, "Aku?"


"Gara-gara ketahuan melamun jadi dapat tugas segambreng!" sungutnya sebal.


"Oh," kini Cakra balik terkekeh. "Ngelamunin siapa sih, Neng Anja?" seloroh Cakra seraya mengambil lembaran soal dari tangannya.


Namun ia hanya mencibir, sama sekali tak berminat untuk menjawab. Pura-pura sibuk mencorat-coret kertas.


"Tinggal berapa nomor?" Cakra mengintip ke arah kertas jawabannya. "Baru Lima?!?"


"Eh!" bentaknya gusar. "Tolong nada suara dikondisikan ya! Nggak usah ngejek begitu!"


"Iya...tahu...tahu...yang anak OSN!" sungutnya cepat merasa sebal setengah mati.


Inilah keanehan lain tiap kali berdekatan dengan Cakra. Suasana hatinya akan mudah berubah bak rollercoaster. Kadang kegembiraan yang tengah dirasakan dalam sekejap tiba-tiba berubah menjadi kekesalan. Begitu juga sebaliknya. Aneh tapi nyata.


"Siapa yang ngejek, Ja? Aku kan cuma nanya," Cakra kembali terkekeh.


"Udah! Udah! Sini ah!" ia hendak merebut kembali lembaran kertas soal dari tangan Cakra. Tapi keburu dijauhkan oleh Cakra, hingga ia tak mampu untuk menjangkaunya.


"Cakra!" salaknya marah. "Siniin nggak?!?"


"Mau dibantuin nggak?" Cakra tersenyum sembari meletakkan lembaran kertas soal di atas meja lalu meraih bolpen dari tangannya.


"Soal nomor enam sekarang?" tanya Cakra yang kali ini mengambil kertas coretan. Dan mulai menuliskan sesuatu di sana.


Ia tersenyum-senyum sendiri menatap Cakra yang kepalanya setengah menunduk karena sedang menulis di kertas coretan. Memperhatikan bagaimana pemilik alis tebal dan hidung runcing itu berubah menjadi serius ketika mengerjakan soal. Sungguh pemandangan yang sangat menarik.


"Kamu mau pasrah gitu aja atau mau ngerjain bareng?" tiba-tiba Cakra mengangkat wajah hingga menangkap basah dirinya yang masih saja tersenyum-senyum simpul sembari memandangi wajah Cakra.


Membuatnya mengerucutkan bibir untuk mengusir rasa malu karena ketahuan, "Aku udah cape. Nggak bisa mikir!"


Namun Cakra justru bangkit dan menarik sebuah kursi dari meja sebelah agar bisa duduk tepat di sampingnya.


"Kita kerjain bareng. Biar kamu tahu langkah-langkahnya," ujar Cakra yang tanpa menunggu jawaban darinya mulai menerangkan jawaban soal nomor 6.


Diketahui dua ion A2+ dan B- memiliki lintasan elektron sebagai berikut:


[gambar]


Jika unsur A mempunyai jumlah neutron 12 dan unsur B mempunyai jumlah neutron 18 pasangan data yang tepat adalah?


"A2+ punya sepuluh elektron," begitu Cakra mulai menulis ilustrasi di kertas coretan.


"A keadaan netral sama dengan 10 + ......"


Ia memperhatikan penjelasan Cakra dengan seksama. Hingga dalam kurun waktu kurang dari satu menit Cakra telah berkata,


"Jadi hasilnya unsur B, golongan VII-A, periode-3,...."


"Ternyata segampang ini?" tanyanya tak percaya sekaligus lega. Merasa heran Cakra bisa dengan mudah dan cepat mengerjakan soal yang menurutnya sekilas tadi begitu membaca soal, akan memakan waktu cukup lama untuk mengetahui jawabannya. Tapi ternyata? Hanya kurang dari satu menit. Luar biasa.


"Oh, kalau gini doang sih aku juga bisa," sesumbarnya penuh keyakinan.


Yang memancing senyum simpul di wajah Cakra.


Hingga 10 menit kemudian, entah sudah berapa kali ia memekik heran,


"Hah? Ternyata begini?"


"Ya ampun? Aku baru tahu kalau caranya sesimple ini?"


"Kalau tahu caranya begini sih gampaaaang."


"Etdah, kenapa Mr. Danny menjelaskannya harus muter-muter dulu sih? Bikin bingung kan? Kalau kayak gini sih aku ngerti."


"Ya ampun, udah selesai?!?" untuk yang terakhir ini ia benar-benar tak dapat menyembunyikan ketakjubannya. Ingin langsung menubruk Cakra untuk mengucapkan terima kasih, tapi untungnya masih bisa ditahan. Tenang, Anja, tenang. Inhale...exhale....Sembari hidungnya mekar karena merasa bangga memiliki suami secerdas Cakra. Eh, wait, what?


"Aku kumpulin dulu ke Mr. Danny di ruang guru," ujarnya cepat sambil beranjak.


"Nggak di teliti dulu?" seloroh Cakra.


Ia menggelengkan kepala keras-keras, "Kalau ada yang salah, itu tanggung jawab kamu!" cibirnya yang melangkah panjang-panjang menuju pintu keluar.


Membuat Cakra tertawa.


***


Cakra


Sebelum bel pulang terdengar mengalun melalui sistem audio sekolah yang terdapat di Perpustakaan, ia telah berhasil menyelesaikan misi dengan sempurna. Hingga bisa bergegas keluar untuk menunggu Anja di tempat favoritnya, yaitu di bawah pohon Johar.


Ia bahkan baru menyandarkan punggung ke batang pohon Johar yang berkayu keras ketika bel tanda pulang sekolah terdengar mengalun memenuhi udara di seluruh langit sekolah.


Namun ia masih duduk menunggu di bawah pohon sembari memperhatikan pintu kelas XII IPA2. Membiarkan seluruh siswa IPA2 keluar kelas dan pulang terlebih dahulu. Baru setelah itu ia akan memberanikan diri menghampiri Anja.


Namun hingga setengah jam kemudian, dari tempatnya menunggu, masih terlihat beberapa siswa IPA2 di dalam kelas. Salah satunya adalah sahabat Anja yang berambut panjang, entah siapa namanya. Ia hapal betul karena sering melihatnya bersama Anja, baik di sekolah maupun saat kegiatan ekstra.


Ia hampir mengirim pesan chat pada Anja. Sekedar bertanya apakah sudah siap untuk pulang atau belum. Ketika matanya tak sengaja menangkap bayangan sosok Dipa yang tengah berjalan dari arah Laboratorium kemudian melewatinya.


Ia tentu saja tak peduli dengan Dipa. Namun pendiriannya langsung goyah dalam hitungan detik tatkala melihat Dipa berjalan memasuki pintu ruang kelas XII IPA2. Disusul dengan keluarnya dua sahabat Anja dari dalam kelas. Tertawa-tawa sambil berjalan menuju pintu gerbang sekolah, sepertinya untuk pulang ke rumah masing-masing.


Jadi, Anja sekarang masih berada di dalam kelas. Dan hanya berdua dengan Dipa?


Ya, tentu saja. Itu tak menjadi masalah bukan? Toh mereka berdua bukanlah rival. Kini ia bahkan sudah resmi suami Anja. Namun entah mengapa seluruh fungsi gerak tubuhnya justru memiliki pendapat yang bertolak belakang. Karena kini, tanpa disadari, ia tengah berjalan dengan langkah memburu menuju kelas XII IPA2.


"Sini."


Ia sampai di depan pintu ruang kelas XII IPA2 bersamaan dengan gerakan Dipa yang mengambil alih bolpen dari tangan Anja secara paksa. Anja bahkan langsung menyadari kehadirannya.


Disusul dengan Dipa yang juga menoleh ke arah pintu. Mungkin menyadari kehadiran orang lain alias dirinya yang membuat mulut Anja melongo karena terkejut.


Suasana kaku dan menegangkan pun tak bisa dihindari. Mereka bertiga bahkan sama-sama terdiam selama hampir beberapa menit lamanya.


"Jadi ini alasan lo nyuruh gue pulang duluan?" Dipa lebih dulu bersuara dengan nada penuh kekecewaan. Sementara Anja hanya diam dan menundukkan kepala. Mungkin merasa tak enak hati. Membuatnya memutuskan untuk menunggu.


"Oke," tiba-tiba Dipa tertawa sumbang dan segera bangkit dari hadapan Anja yang terus saja menundukkan kepala. Tidak, Anja, tegakkan kepalamu.


Namun sebelum benar-benar melangkah pergi, Dipa lebih dulu berkata, "Masih ingat ucapan gue tadi pagi, Ja?"


"Kalau suatu saat lo butuh bantuan. Jangan ragu bilang ke gue."


"Gue bakal bantuin lo kapanpun dan dimanapun," pungkas Dipa seraya tersenyum kaku.


Ia bahkan bisa mendengar dengan jelas jika kalimat itu sebenarnya ditujukan untuknya, bukan Anja. Tapi ia tetap berusaha tenang dan tak terpancing. Pengalaman membuktikan, tindakan emosional hanya akan berujung petaka. Ia bahkan sudah pernah jatuh berkali-kali ke dalam lubang yang sama. Tidak lagi!


"Oke, Ja," suara Dipa terdengar semakin mengesalkan di telinganya. Namun ia masih mencoba bertahan.


"See you again. Soon."


Dipa langsung beranjak pergi begitu mengucapkan kalimat terakhir. Membuatnya dengan sengaja memalingkan kepala agar tak harus bertatap muka dengan Dipa di depan pintu. Tindakan ini jauh lebih aman daripada harus berhadapan langsung, yang ia sendiri tak yakin apakah masih bisa bertahan atau justru akan membuka konfrontasi terlebih dahulu.


"Idih, malah ngelamun!"


Sebuah suara merdu mendadak mampir di telinga dan membuyarkan lamunannya.


"Kita pulang naik apa?"


Kini Anja telah berdiri sambil berkacak pinggang di depannya. Memakai cardigan hijau pupus dan mencangklong backpack berwarna pink.


"Taxi," jawabnya sambil bangkit.


"Emang kamu punya uang buat ongkos Taxi?"


Ia tersenyum mengangguk.


"Kalau gitu kamu pesan dulu aja deh," ujar Anja yang kembali mendudukkan diri di kursi.


"Nanti kalau Taxi nya udah di depan gerbang, baru kita kesana."


"Masih banyak anak IPA1 sama IPA3 yang belum pulang soalnya," imbuh Anja dengan mimik khawatir. "Aku nggak mau mereka salah sangka kalau lihat kita jalan berdua."


Kelas IPA1 dan IPA3 memang berada paling dekat dengan kelas IPA2. Beberapa diantara mereka bahkan pernah sekelas dengannya ketika kelas X. Jadi, ia pun bisa memahami kekhawatiran Anja.


"Kalau gitu, aku jalan dulu ke depan," ia mendadak menemukan jalan keluar. "Nanti kalau Taxi nya udah datang aku telepon kamu."


Anja langsung tertawa senang seraya memandangnya dengan mata berbinar, "Kamu ternyata solutif juga."


Namun ia hanya tersenyum sembari menggelengkan kepala, "Nanti jalannya hati-hati. Nggak usah buru-buru. Taxi nya nungguin kok."


Dalam sekejap senyum Anja berubah menjadi cibiran. Membuatnya ingin mengulangi hal yang pernah dilakukan di Perpustakaan tadi. Yaitu mengusap pipi seputih susu yang terasa selembut kulit bayi itu.


Tapi untung saja akal sehatnya masih mendominasi. Melakukan hal menyenangkan di tempat seterbuka ruang kelas, itu sama artinya dengan bunuh diri. Jadi, ia cukupkan hanya dengan tertawa. Dan langsung melangkah pergi sebelum keputusannya berubah.