Beautifully Painful

Beautifully Painful
63. You and Me Against The World



Cakra


Pikirannya masih belum bekerja secara normal karena keburu shock -campur excited- mendengar permintaan Anja. Dan memutuskan untuk mendekati tempat tidur setelah sebelumnya menutup pintu kamar rapat-rapat. Tak ingin Bi Enok atau Mang Jaja mendengar adu argumen antara dirinya dan Anja yang bisa dipastikan akan berlangsung alot.


Namun sama sekali tak pernah menyangka jika Anja bahkan telah rebah di atas tempat tidur, diam tak bergerak sedikitpun. Alias sudah tertidur.


"Anja...Anja....," ia hanya bisa menggelengkan kepala sebagai luapan ekspresi perasaan lega campur geli. Karena kepala peningnya sedetik yang lalu bahkan sudah memikirkan akan melakukan tindakan yang iya iya. Namun langsung terhempas begitu saja karena si pemilik ide sudah terlelap tak berdaya.


"Eh!" salak Anja dengan suara berat setengah tertidur. "Nggak usah ngetawain!"


Ia kembali menggelengkan kepala sembari menarik selimut guna menutupi kaki jenjang Anja yang terekspose sedemikian rupa akibat babydoll warna ungu muda yang dikenakan tertarik lumayan tinggi ke atas. Tak ingin melakukan kebodohan -menyenangkan- kali kedua hanya gara-gara melihat kaki jenjang seputih susu yang begitu menggoda jiwa kelelakiannya.


***


Anja


Ia benar-benar mengantuk berat. Bahkan kedua mata seolah digelayuti oleh pendulum berbobot puluhan kilo yang membuatnya kesulitan untuk tetap terjaga. Ditambah pegal-pegal di sekujur tubuh yang akhir-akhir ini sering menyambangi tiap malam menjelang. Menjadikannya terbuai di atas tempat tidur yang menguarkan aroma khas maskulin milik Cakra.


Telinganya masih bisa menangkap tawa kecil lolos dari mulut Cakra. Mungkin karena melihatnya telah terlelap dalam waktu singkat. Hingga memancingnya untuk menggerutu meski dengan mata tetap terpejam.


"Eh! Nggak usah ngetawain!"


Namun selimut halus nan hangat yang seolah bergerak sendiri melingkupi tubuhnya berhasil membuat hasrat untuk terlelap tak tertahankan lagi.


"Selamat malam, Anja," telinganya masih bisa menangkap sekelebatan suara Cakra yang menggumam pelan. Disusul dengan sentuhan lembut di kening. Ketika perlahan namun pasti kesadarannya mulai menghilang. Dan ia benar-benar terbuai ke alam mimpi. Dimana lagi-lagi Cakra tengah menyambutnya dengan senyum terkembang dan uluran tangan terbuka,


"Anja, you and me against the world?"


Ia tak langsung menjawab ataupun menubruk dada Cakra seperti yang ia lakukan di mimpi sebelumnya. Kali ini ia justru termangu sembari bergumam pelan, "Again?"


***


Cakra


Ia sama sekali tak bisa memejamkan mata barang sedetik pun. Sepanjang malam hanya bisa nyalang memandangi wajah polos Anja yang tertidur pulas dengan mulut setengah terbuka. Berhasil memancing senyum dan menggelitiknya untuk kembali mengulurkan tangan guna mengusap lembut pipi sehalus pualam itu.


Dan menatap wajah Anja kembali mengingatkannya pada masa depan. Masa depan seperti apakah yang akan mereka jalani? Masa depan bagaimanakah yang bisa ia persembahkan untuk Anja? Dan, apakah kelak mereka akan mampu bertahan meski badai menghadang?


Karena sejak awal, Mas Tama dan Mas Sada bahkan telah membuat keputusan sepihak untuknya. Belum dengan semakin pulihnya kondisi Papa Anja, yang kemungkinan besar akan mempercepat realisasi keputusan sepihak Mas Tama dan Mas Sada.


Kini jalan yang terbentang di hadapannya bukan saja tak terlihat. Namun benar-benar gelap gulita. Tanpa menyisakan secercah cahaya atau satu pun petunjuk bagi dirinya.


Membuatnya kian memandangi wajah Anja lekat-lekat. Seraya berbisik dalam hati, "Anja, you and me against the world?"


"Will you?"


***


Anja


Pagi hari ia terbangun dalam keadaan segar. Sepertinya benar kata Cakra jika selama ini ia kurang tidur karena sering terlelap di larut malam. Menjadikannya lemas dan mudah lelah di sepanjang siang.


"Tuan putri udah bangun?" seloroh Cakra yang keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada dan rambut basah seperti habis keramas. Beberapa titik air bahkan jatuh membasahi leher dan bahu Cakra. Definisi nyata dari indahnya kesegaran pagi. Apa? Tunggu! Pasti otaknya sudah konslet.


Membuatnya hanya mencibir, sama sekali tak berminat menanggapi selorohan Cakra. Lebih tertarik untuk mengomentari, "Sepagi ini udah mandi?"


Selintas kemudian di kejauhan sayup-sayup mulai terdengar Adzan Shubuh berkumandang.


"Kan mau sholat, jadi harus mandi," jawab Cakra yang dengan penuh percaya diri tetap bertelanjang dada kemudian berjalan kesana kemari mengelilingi seantero kamar.


Ya, tentu saja tidak! Cakra hanya berjalan menuju salah satu sisi kamar dimana terdapat lemari built-in setinggi langit-langit. Mengambil sebuah kemeja lalu memakainya. Ish, kenapa ia mesti memperhatikan seluruh gerik Cakra? Seraya menggerutu ia pun kembali merebahkan diri di atas tempat tidur.


Tapi satu hal masih menggelitik rasa ingin tahunya, "Kenapa mau sholat mesti mandi?" tanyanya heran.


"Salah satu syarat sah sholat kan bersuci alias wudhu," lanjutnya dengan kening mengkerut. "Bukannya mandi!"


Ia memang bukan anak Rohis atau selevel akhwat shalihah seperti Farhana, teman sekelasnya. Namun ilmu dasar seperti ini tentu saja ia tahu.


Cakra tak langsung menjawab keheranannya. Tapi justru aroma harum maskulin yang mampir di membran hidungnya. Semerbak khas Cakra, batinnya dengan mata terpejam saking menikmati keharumannya.


"Kalau punya hadas besar kan harus mandi, Ja," jawab Cakra yang kini sedang merapikan sarung. "Nggak cukup pakai wudhu."


Ia masih mengernyit tak mengerti, ketika Cakra kembali bicara dengan senyum di ku lum, "Jangan tanya kenapa bisa punya hadas besar."


Ia yang masih saja tak mengerti sudah membuka mulut hendak menyahut, namun Cakra lebih dulu bersuara, "Cewek secantik kamu ternyata gaya tidurnya nggak banget."


"Orangnya kemana, selimut kemana," lanjut Cakra dengan wajah menggoda. "Belum kepala jadi kaki, kaki jadi kepala."


"Jangan salahin aku kalau lama-lama nggak bisa nahan diri."


"Kali ini untung cuma dalam mimpi."


"Besok-besok nggak bisa janji."


BUG!


Refleks ia bangkit dan segera melempar bantal yang tepat mengenai dada Cakra.


"Dasar mesum!" gerutunya dengan wajah merah menahan malu.


Namun Cakra justru tergelak. Seolah tak mempedulikan kekesalannya. Sibuk memakai kopiah hitam sembari mematut di depan cermin. Sepintas membuat hatinya makin berdesir.


"Mau titip doa nggak?" tanya Cakra seraya tersenyum.


Tapi ia justru kembali melempar bantal ke arah Cakra. Namun kali ini tak mengenai sasaran karena targetnya keburu menghindar dan keluar dari dalam kamar dengan tawa tergelak.


"Idih!" desisnya sebal. "Dasar!"


Namun sedetik kemudian, entah inisiatif dari mana ia pun sungguh tak mengerti. Hatinya perlahan berbisik lirih, "Titip doa....bisa melalui you and me against the world."


***


Cakra


Apalagi dua hari ke depan adalah jadwalnya menjadi kurir inval di ekspedisi jasa pengiriman milik Bang Fahri. Dan bekerja menyusuri jalanan dengan kuda besi jelas tak memungkinkan baginya untuk menerima telepon setiap waktu. Belum lagi rencananya untuk berburu kado ulang tahun Anja. Yang makin membuat jam pulangnya kian larut. Untung saja podcast sudah bisa menyelesaikan hampir sebagian besar permasalahan peliknya.


Namun peribahasa dalam hidup pasti selalu ada masalah, karena kalau tak ada masalah itu artinya kita tak lagi hidup, benar-benar nyata dialaminya. Karena kini, setiap hari Anja tidur di kamarnya.


"Tidur doang nggak boleh?!" salak Anja marah ketika ia mengeluhkan pilihan tidur di kamarnya.


Karena semalaman ia merasa sangat tersiksa akibat godaan menggiurkan di depan mata yang -benar kata Dipa tempo hari- hanya bisa dilihat tanpa bisa disentuh sangat merongrong hasratnya. Hingga setiap pagi ia harus mandi besar akibat selalu terbawa mimpi. Please, Ja.


"Aku nggak bisa tidur kalau di kamar sendiri!"


"Nggak suka aku tidur di sini?!"


Dan setelah mereka bertengkar -bukan bertengkar. Lebih tepatnya Anja yang marah-marah- malam ini ia tak lagi mendapati Anja terlelap di atas tempat tidurnya. Pun suasana kamar Anja telah temaram. Menandakan si pemilik telah terlelap.


Satu sisi ia merasa ada yang kurang. Karena tak lagi mendapati wajah polos Anja tertidur nyenyak di dalam kamarnya. Tapi di sisi lain ia sedikit bernapas lega. Karena tak harus menahan diri sampai terbuai mimpi akibat selimut yang tak sengaja tersingkap memperlihatkan kemolekan tubuh Anja yang sangat mengusik keseluruhan diri.


Namun kelegaannya bersifat fana. Karena dini hari secara mengejutkan lengannya menyentuh kulit halus seseorang.


"Hah!" ia sampai terperanjat bangun saking kagetnya demi mendapati Anja telah terlelap di sampingnya dengan memeluk Nemo dan -lagi-lagi- baju tidur yang tersingkap hingga di atas lutut.


Tidak, Anja!


Saking sudah tak mampu menahan diri, karena setiap malam harus terlelap di sisi tubuh mo lek yang tak bisa disentuhnya. Maka ketika mereka sarapan pagi hendak berangkat ke sekolah. Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian ia berkata, "Kamu....masih nggak bisa tidur di kamar sendiri?"


Anja hanya menganggukkan kepala.


"Hari ini aku selesai kerja jam 7," lanjutnya sembari menatap Anja baik-baik guna menebak reaksi yang akan diterimanya.


"Jadi, aku bisa bacain cerita sebelum tidur."


"Oke," Anja tersenyum senang.


Ia pun bernapas lega karena semua berjalan sesuai rencana. Namun pada kenyataannya, justru di malam hari ia yang tertidur di kamar Anja. Saking lelahnya setelah dua hari terakhir hunting kado ulangtahun.


Dilihatnya jam dinding Mickey Mouse menunjukkan pukul 23.30 WIB. Dengan Anja yang terlelap sembari memeluk Nemo. Wajah cantiknya polos seperti bayi. Membuatnya tersenyum seraya menarik selimut agar melingkupi tubuh Anja dengan baik. Kemudian melakukan rutinitas menyenangkan selama beberapa hari terakhir, yaitu mencium kening Anja.


"Sweet dreams," bisiknya dengan kepala dipenuhi rencana untuk memberi surprise tepat pukul 00.00 beberapa menit ke depan.


Setengah jam lebih dari cukup baginya untuk mempersiapkan kejutan menyenangkan bagi Anja. Ulang tahun pertama dengan status mereka sebagai suami istri. Sungguh sangat menyenangkan.


Ia pun melangkah keluar kamar sembari tersenyum-senyum sendiri membayangkan kejutan manis yang akan dipersembahkan. Ketika seseorang tiba-tiba menjerit begitu ia membuka pintu kamar Anja.


"AAAAA?!?!?"


Matanya langsung beradu dengan tatapan shock seseorang yang mulutnya menganga lebar-lebar.


"KENAPA LO ADA DI SINI?!?"


***


Hanum


Ulang tahun Anja kali ini ia pastikan akan menjadi yang terbaik, terheboh, paling bermakna dan penuh kejutan. Selain karena kemungkinan besar ini adalah kali terakhir mereka merayakan ulang tahun dalam kebersamaan. Tak lain dan tak bukan karena sebentar lagi mereka lulus sekolah dan sangat mungkin akan melanjutkan kuliah di tempat yang berbeda. Jadi, kesempatan terakhir ini haruslah menjadi momen paling spesial.


Ia dan Bening pun menyusun rencana. Jika surprise party jam 00.00 Anja di tahun-tahun sebelumnya hanya diikuti oleh mereka berdua juga Dipa. Kali ini sedikit berbeda. Karena selain dirinya, Bening, Dipa. Masih ada beberapa anak Cinema seperti Yasser, Marshall, dan yang lain. Belum Faza, Aldi, anak-anak English Club, Agung si ketua kelas IPA2, dan beberapa anak IPA2 lainnya.


Benar-benar surprise party yang dipastikan akan sangat meriah.


Bahkan sejak pukul 23.00 mereka sudah mendatangi rumah Anja. Siap mempersembahkan surprise party paling bermakna. Namun sempat tertahan sebentar di depan gerbang oleh sekuriti yang berjaga. Sampai harus menunggu Mang Jaja datang menghampiri dan mempersilakan mereka masuk.


Anak-anak pun berkumpul di ruang tamu mempersiapkan segalanya. Sementara ia dan Bening dengan dibantu Bi Enok, kebagian mondar-mandir ke dapur dan bagian belakang rumah Anja guna mengambil bahan dan peralatan yang kurang.


"Dipa mana?" tanya Yasser heran karena tak menjumpai sosok Dipa.


"Oh, nyusul katanya," jawab Bening. "Barusan ngechat ntar kesini pas jelang 00.00."


Yasser mengangguk-angguk mengerti dan kembali sibuk menyusun balon berbentuk huruf yang berbunyi Happy Birthday, Anja, bersama anak-anak yang lain.


"Gunting dong," pinta Agung membuatnya kembali beranjak ke bagian belakang rumah Anja untuk meminjam gunting lagi pada Bi Enok. Karena dua gunting yang telah dipinjam sebelummya tengah dipakai oleh yang lain.


"Tunggu bentar," jawabnya sembari berjalan cepat ke arah dapur. Namun baru juga sampai di depan kamar Anja, tiba-tiba seseorang membuka pintu dari arah dalam kemudian melangkah keluar.


Sempat mengira yang keluar adalah Anja. Dan hampir menyesali diri karena itu berarti surprise yang mereka rencanakan jauh-jauh hari gagal total karena keburu ketahuan oleh birthday girl. Namun justru ia yang terkejut setengah mati. Demi mendapati orang yang keluar dari dalam kamar Anja adalah....


"AAAAA?!?!?"


Kedua bola matanya seakan meloncat keluar begitu beradu pandang dengan tatapan terkejut Cakra.


"KENAPA LO ADA DI SINI?!?"


"SATPAAAAAM!!!!" teriaknya panik.


Membuat semua anak yang tengah sibuk di ruang tamu langsung menyerbu mendekat. Termasuk Mang Jaja, Bi Enok, dan wajah mengantuk Anja yang menyembul dari balik pintu kamar.


"KENAPA, HAN?!?" tanya anak-anak khawatir.


"Aya naon (ada apa) Eneng?? Meuni ngareureuwas (membuat takut saja)??" Bi Enok dan Mang Jaja menatapnya bingung.


"Ada apa sih rame banget?!" gerutu Anja sembari menguap malas.


Sementara ia tak lagi mampu berkata apa-apa selain menunjuk-nunjuk Cakra dengan mata melotot, "D-dia?! E-elo k-kenapa bisa ada disini?!?!"


"CAKRA?!?!" desis anak-anak serempak. Gabungan antara ekspresi terkejut, bingung, dan sama sekali tak mengerti. Bening bahkan harus berpegangan ke lengan Bumi saking lemasnya akibat shock.


"Ada apa nih ribut-ribut?!" suara Dipa mendadak menyeruak diantara anak-anak yang tengah terlolong saking terkejutnya melihat keberadaan Cakra di dalam rumah Anja.


***


Keterangan :


Hadas. : menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah keadaan tidak suci pada diri seorang muslim yang menyebabkan ia tidak boleh salat, tawaf dan lain sebagainya