
Readers tersayang 🤗,
Mohon maaf jam up nya random banget 🤧 🙏
Beginilah nasib makemak motor matic sign kiri belok kanan 🤧🙏 manajemen waktunya random abis 🤧🙏
Semoga berkenan
Happy reading 🤗🤗
---------------
Cakra
"Perkenalkan nama saya Alen, maba dari Takengon, Aceh Tengah."
"Mungkin Mas Dio bisa memberikan tips bagaimana cara membagi waktu yang efektif dan efisien agar bisa produktif?"
"Antara kuliah, belajar, mengikuti kegiatan kampus, sekaligus meng up grade diri ," menjadi pertanyaan entah untuk yang ke berapa kalinya untuk Dio. Sebab saking banyaknya orang yang mengangkat tangan di sesi tanya jawab.
Dan atas desakan dari audiens pula, duet MC Zyan Amar bahkan harus menambah waktu sesi tanya jawab. Molor jauh dari waktu yang telah dijadwalkan sebelumnya.
"Karena dari cuplikan curriculum vitae yang tadi sempat dibacakan oleh MC, Mas Dio pernah menjadi ketua himpunan, aktif di organisasi kepemimpinan ekstra kampus, tapi bisa lulus tepat waktu dan langsung memperoleh beasiswa master."
"Ditambah berhasil mendirikan perusahaan start up."
"Itu...gimana cara bagi waktunya?"
"Seperti yang mission impossible (misi yang mustahil) bagi kami para maba."
"Yang pasti nih...siapa tadi namanya?" Gerry tiba-tiba memotong.
"Alen...."
"Yang pasti Alen, tolong dengar baik-baik...Dio itu nolep (no life, tak memiliki kehidupan)," seloroh Gerry membuat suasana hall mendadak pecah tak terkendali.
"No time for love-love an," lanjut Gerry yang semakin membuat gaduh suasana. "Lempeng pakai kacamata kuda. Focus...focus...and focus...."
Sementara Dio hanya menggelengkan kepala sambil tertawa sumbang mendengar ocehan Gerry.
Alen yang sedang memegang microphone pun ikut tertawa, "Karena yang saya tahu dan banyak beredar selama ini...kuliah di Ganapati tuh susah."
Kali ini giliran Yoga, kating jurusan Teknik Elektro yang ikut angkat bicara, "Intinya sih gini, temen kamu yang gagal masuk Ganapati baik lewat jalur SNM ataupun SBM, kemungkinan besar bakalan nangis tiga hari tiga malam karena nggak keterima."
"Tapi kamu...yang berhasil masuk ke Ganapati," Yoga tersenyum sembari menggelengkan kepala. "Bakalan nangis selama tiga sampai empat bahkan lima tahun."
"Karena begitu kalian masuk ke sini, susah untuk keluarnya."
Suasana hall kembali riuh rendah. Seluruh speaker yang duduk di atas panggung bahkan langsung tergelak.
"Curhat nih curhat....," Haidar yang merupakan speaker paling kalem, bahkan tergoda untuk turut berseloroh.
Lagi-lagi Alen tertawa tepat di depan microphone, "Sesusah itu ya Kak?"
"Kami baru masuk jadi maba...udah dibikin insecure begini Kak?" Alen masih tertawa.
"Jadi begini....," Dio mulai mengambil alih suasana audiens yang riuh rendah. "Hal paling pertama ha...."
Dan jawaban yang disampaikan oleh Dio, terdengar bersamaan dengan suara getaran ponsel dari dalam sakunya.
Mas Tama Calling
Ia mengernyit begitu melihat nama yang terpampang di layar ponsel.
Ia pun segera berdiri dan melangkah menuju ke pintu keluar hall.
"Halo, Mas?" sapanya dengan kening masih mengernyit. Mencoba menebak kira-kira ada keperluan apa sampai Mas Tama meneleponnya.
"Kamu lagi di mana ramai banget?"
Ia buru-buru membuka pintu keluar hall bersamaan dengan suasana di dalam ruangan yang kembali gaduh sebab suara teriakan dan sorakan yang riuh rendah.
"Lagi gathering maba, Mas."
"Oh."
Ia kini telah berjalan menjauh dari pintu keluar hall. Berusaha mencari tempat yang lebih sepi. Agar bisa berkomunikasi melalui sambungan telepon dengan lebih jelas lagi.
"Sejak ke Bandung belum pernah pulang ke Jakarta?"
"Belum, Mas. Ada apa ya Mas?" ia benar-benar tak bisa menebak arah pembicaraan Mas Tama.
"Oh...ini....," Mas Tama terdengar menghela napas panjang.
"Sekarang aku kebetulan lagi dinas ke Jakarta," lanjut Mas Tama.
"Itu...Sasa...luka bekas operasinya udah sembuh?"
"Oh....," ia bernapas lega begitu mendengar alasan Mas Tama meneleponnya.
"Jadwal kontrol ke dokter udah habis?"
"Mungkin masih satu atau dua kali lagi, Mas," ia mencoba mengingat.
"Karena waktu terakhir kontrol, luka bekas operasi Sasa bernanah."
"Keluar nanah?!"
"I-iya, Mas," jawabnya gugup. Demi mendengar nada suara tinggi Mas Tama.
"Kok bisa keluar nanah itu gimana?! Tambah sakit dong?!" suara Mas Tama terdengar sangat cemas. Entahlah. Mungkin hanya perasaannya saja.
"Waktu terakhir periksa, sama dokter sudah diambil sampel nanahnya, Mas."
"Untuk diperiksa di lab."
"Kalau nggak salah....," ia mencoba mengingat kembali. "Untuk mengetahui bakteri penyebab luka bernanah."
"Sekaligus menentukan antibiotik yang tepat."
"Tapi setelah itu saya nggak tahu lagi, karena keburu berangkat ke Bandung."
***
Tama
Sejak tadi pagi ia sudah berada di Jakarta. Karena sedang bertugas mendampingi Kapolda yang akan melakukan rapat terbatas dengan jajaran PJU (pejabat utama) di lingkungan Polri.
Terkait rencana Kapolri dan Panglima TNI yang akan berkantor di Makodam (Markas Komando Daerah Militer) Cendrawasih, Jayapura, selama satu minggu ke depan. Sebagai bukti keseriusan pemerintah pusat dalam usaha menciptakan situasi yang kondusif pascarusuh di Papua beberapa waktu lalu. ©©
Dan siang jelang sore, seluruh rangkaian tugasnya dalam mendampingi Kapolda telah selesai. Mereka dijadwalkan pulang ke Surabaya melalui penerbangan pada pukul 18.00 WIB.
"Kamu ndak nengok orangtua?" tanya Pak Kapolda ketika mereka sedang berada di sebuah tempat makan.
"Mumpung lagi selo (santai). Mulai sesuk wis akeh gawean (mulai besok banyak kerjaan). Angel nggolek wektune (susah mencari waktu -untuk silaturahim dengan orangtua-)."
Ia hampir menolak tawaran yang diberikan. Selain karena Papa dan Mama dipastikan sedang sehat dan dalam keadaan baik-baik saja. Ia juga merasa tak enak jika harus pulang terpisah dari rombongan.
Tapi ingatannya mendadak tertuju pada seseorang. Dan dalam sekejap berhasil membuat mulutnya mengatakan hal yang jauh berbeda dibandingkan dari yang sudah direncanakan sebelumnya.
Ia akhirnya memisahkan diri dari rombongan.
Sempat menelepon Mama. Sekedar memastikan jika Mama dan Papa memang dalam keadaan sehat dan baik-baik saja.
"Nggak mampir ke rumah nggak apa-apa, Tama," begitu kata Mama melalui sambungan telepon.
"Lain waktu saja kalau luang."
"Alhamdulillah Mama dan Papa sehat semua."
"Kamu juga jaga kesehatan ya."
"Jangan lupa makan teratur, banyak minum air putih, kurangi merokok."
Setelah memastikan ia berhasil memperoleh tiket pulang di jam penerbangan terakhir menuju ke Surabaya, ia pun segera memesan Taxi menuju ke suatu tempat.
Entahlah.
Semoga saja niat baiknya membuahkan hasil yang baik pula.
***
Mamak Cakra
Hari ini ia sengaja memasak dengan jumlah yang lebih sedikit dibandingkan hari-hari biasanya. Sebab berniat untuk menutup keude lebih awal. Karena sore nanti adalah jadwal terakhir Sasa kontrol ke dokter.
Dan sudah sejak Ashar, Pocut juga Sasa telah bersiap untuk pergi. Memang sengaja berangkat lebih awal dibandingkan saat kontrol sebelumnya jika diantar oleh Agam. Sebab Pocut tentu harus memperhitungkan dengan cermat waktu yang ada. Agar jangan sampai terlambat tiba di Rumah Sakit tempat Sasa biasa memeriksakan bekas luka operasi.
"Nenek nggak ikut, Ma?" tanya Sasa ketika Pocut berpamitan padanya.
"Nenek jaga rumah sama Abang Icad dan Umay," jawabnya sambil mengusap rambut Sasa.
"Sasa baik sama Mama ya di jalan," ucapnya seraya tersenyum.
Sasa menganggukkan kepala berkali-kali, "Iya, Nek. Sasa nanti bakalan nurut sama Mama."
Sepeninggal Pocut dan Sasa, ia kembali ke dapur. Membereskan barang-barang bawaan dari keude, mencuci loyang bekas menyimpan lauk, sekaligus memasak pesanan ayam tangkap untuk diambil nanti malam.
Ia baru saja selesai menyusun loyang yang telah dicuci di belakang rumah. Dianginkan agar cepat kering. Lalu mulai memilih bumbu untuk membuat ayam tangkap. Ketika terdengar suara ketokan pintu dari arah ruang tamu.
"Assalamualaikum."
Ia mendengar suara seorang pria memberi salam. Namun sama sekali tak mengenal jenis suaranya. Yang pasti bukan Cang Romli ataupun Anwar.
Ketika ia baru hendak bangkit, Umay tergopoh-gopoh mencarinya di dapur.
"Nek! Nenek! Ada tamu!" seru Umay dengan napas tersengal.
"Siapa?"
"Nggak tahu," jawab Umay sambil mengangkat bahu. "Kayak pernah lihat tapi lupa."
Ia pun buru-buru mencuci tangan di dalam baskom. Yang memang selalu tersimpan di dapur untuk mencuci tangan. Lalu mengeringkannya dengan kain lap.
"Permisi, Bu...."
Ia sempat mengernyit tanda berpikir keras. Sebab kurang bisa mengenali pria bertubuh tegap yang kini sedang berdiri di depan pintu rumahnya.
Pria berkemeja warna putih itu tersenyum mengangguk, "Saya Tama, Bu. Kakaknya Anja."
Saat itu juga ia tertawa, "Oh, mari...mari silakan masuk."
"Saya kira siapa," ucapnya sembari bernapas lega.
Sebab awalnya sempat khawatir jika diantara mereka ada yang terlibat masalah. Sampai rumahnya didatangi oleh seorang pria parlente. Yang dari tampilannya bisa langsung ditebak, jika pria tersebut adalah seorang aparatur negara.
"Tama yang tinggal di Surabaya bukan?" ia berusaha mengingat dua sosok kakak lelaki Anjani.
"Kalau yang di Jogja itu adik saya. Sada namanya."
Ia tersenyum mengangguk, "Wajahnya lumayan mirip. Saya masih sering tertukar."
Tama tersenyum sopan.
"Ini sengaja datang dari Surabaya?" ia kembali mengernyit.
"Hari ini kebetulan sedang ada tugas di Jakarta, Bu."
"Oh," ia mengangguk mengerti. Lalu bangkit untuk mengambil air minum, "Sebentar."
Namun Tama segera mencegahnya, "Nggak usah repot-repot, Bu. Saya di sini cuma sebentar."
"Nggak repot," ia tetap bangkit dan berjalan menuju ke dapur. Sebab sesebentar apapun tamu, tetap harus dijamu meski hanya dengan segelas air putih.
"Terimakasih," ujar Tama begitu ia meletakkan segelas air putih di atas meja.
Ia tersenyum mengangguk.
Namun sejurus kemudian hatinya kembali bertanya-tanya. Karena Tama terlihat sangat gelisah. Sambil sesekali melihat ke arah dapur. Sekaligus mengedarkan pandangan ke seantero ruang tamu.
"Ada yang bisa dibantu?" tanyanya hati-hati.
Tama berdehem sebentar, kemudian berkata dengan suara yang kurang meyakinkan, "Kok sepi, Bu? Sasa mana?"
"Tadi saya hanya lihat kakaknya Sasa main di depan rumah."
Ia tersenyum, "Sasa sedang pergi kontrol ke dokter."
"Sekarang?!" suara Tama mendadak terdengar menuntut.
"Iya," ia mengangguk. "Baru berangkat beberapa menit yang lalu."
"Naik apa ke dokternya, Bu?"
"Tadi Pocut sudah pesan Taxi online."
Tama jelas terlihat semakin gelisah.
Dan dari sudut mata pun ia sudah bisa menebak. Jika orang yang sebenarnya dicari oleh Tama bukanlah Sasa. Tapi ibunya.
***
Pocut
Ia memperhatikan dokter Rahadi yang tengah membuka perban di jari manis Sasa dengan penuh kehati-hatian.
"Wah, lihat....," seru dokter Rahadi gembira. "Cantik kan?"
Sasa yang tengah duduk dengan tegak dan gagah berani. Bahkan sejak awal pemeriksaan sama sekali tak bersembunyi di balik ketiaknya. Ikut tersenyum senang.
"Masih terasa sakit nggak Sasa?" tanya dokter Rahadi ingin tahu.
Sasa menggelengkan kepala.
"Alhamdulillah. Bagus," dokter Rahadi tersenyum senang. "Sekarang...coba jari manisnya digerakkan?"
Sasa sempat mengkerut, namun beberapa saat kemudian mulai menggerakkan jari bekas operasi.
"Keren Sasa!" dokter Rahadi mengacungkan jempol dengan penuh antusiasme.
"Pas tadi digerakkan, terasa sakit nggak?"
Sasa kembali menggelengkan kepala.
Dokter Rahadi mengangguk-angguk seraya tersenyum senang saat mengetahui jawaban yang diberikan oleh Sasa.
"Sekarang coba jarinya ditekuk," pinta dokter Rahadi lagi.
Kali ini tanpa mengkerut dan tanpa jeda, Sasa langsung menekuk jari bekas operasi.
"Sakit nggak?"
Sasa menggelengkan kepala berkali-kali.
"Alhamdulillah. Akhirnya Sasa sudah sembuh," seru dokter Rahadi sambil mengusap puncak kepala Sasa.
Ia pun ikut tersenyum lega mengetahui jika Sasa telah sembuh total.
"Ibu, berkat ketelatenan ibu dalam mengurus luka Sasa. Dan Sasa juga mau meminum semua obat yang diresepkan. Sekarang luka Sasa sudah sembuh dan pulih. Siap untuk kembali beraktivitas," ucap dokter Rahadi padanya.
"Luka sudah mengering dan menutup sempurna," lanjut dokter Rahadi.
"Tinggal dijaga selama sebulan ke depan, agar tidak terdapat luka baru lagi."
"Nanti kalau misal, di bekas operasi kulitnya agak rapuh. Atau mudah terluka. Ibu bisa datang ke sini lagi."
"Tapi semoga saja tidak ya Sasa," seloroh dokter Rahadi. "Ini yang terakhir."
"Sehat terus ya Sasa."
"Terimakasih banyak atas bantuannya selama ini, dok," ia tersenyum mengangguk sebelum pergi meninggalkan ruangan dokter Rahadi.
"Sama-sama, Bu," dokter Rahadi balas tersenyum. "Oya, Sasa...sebentar nak...."
Dokter Rahadi terlihat mencari-cari sesuatu di dalam laci mejanya. Sejurus kemudian telah mengeluarkan sebuah celengan berbentuk ba bi yang sangat lucu.
"Hadiah buat anak pintar," seru dokter Rahadi sembari menyerahkan celengan tersebut ke arah Sasa.
"Rajin dikasih makan ya...biar nggak kelaparan."
Sasa terkikik senang menerima celengan berwarna pink dari dokter Rahadi. Lalu berucap gembira, "Terimakasih banyak, Om."
"Sama-sama Sasa. Sehat-sehat ya. Salam buat Ayah."
Ia keluar dari ruangan dokter Rahadi dengan kening mengkerut. Merasa sangat keberatan dengan sikap dokter Rahadi yang selalu menitip salam pada (yang dianggap) Ayah. Sebab ia jelas takkan bisa menyampaikan amanah tersebut. Dan tak menyampaikan amanah jelas bukanlah hal yang terpuji.
"Ma, kenapa sih Om dokter selalu titip salam sama Ayah?" tanya Sasa ketika mereka meninggalkan pintu ruangan dokter Rahadi. Lalu berjalan menuju ke arah lobby, untuk menunggu kedatangan Taxi online yang baru akan dipesannya.
"Apa memang Om ganteng itu Ayah Sasa, Ma?"
"Hush!" ia buru-buru menghardik Sasa. "Kenapa Sasa ngomong begitu?!"
"Sasa mau sih Ma...punya Ayah kayak Om gan...."
"Sasa!" ia kembali menghardik Sasa. Berusaha keras memikirkan jawaban yang paling tepat agar Sasa tak lagi "mengelukan" Om ganteng nan baik hati. Sebab mereka jelas berada di belahan bumi yang berbeda.
Namun, belum juga otaknya berhasil menemukan jawaban, orang yang paling tak ingin ditemuinya justru sudah berdiri tepat di hadapan. Dengan napas tersengal dan kening berkeringat.
"OM!!" teriak Sasa senang. "Itu ada Om, Ma!"
"Om datang mau jemput Sasa ya Om?!"
Ia mendadak mengalami kesulitan bernapas. Dengan kedua kaki yang tiba-tiba seolah melayang di udara. Demi melihat Mas Tama langsung berjongkok di hadapan Sasa, dengan bertumpu pada lutut kanan. Sembari tersenyum dan berkata,
"Sasa udah selesai diperiksanya?"
Sasa menganggukkan kepala dengan sangat mantap berkali-kali, dan senyum lebar dari telinga ke telinga.
"Alhamdulillah," Mas Tama jelas sedang bernapas lega. "Om kira Om datang terlambat."
"Mana lukanya? Udah sembuh?"
Sasa langsung memperlihatkan jari manis bekas operasi amputasi dengan bangga. Lalu menggerakkan dan menekuknya berkali-kali.
"Alhamdulillah!" seru Mas Tama lagi sambil mengusap puncak kepala Sasa. "Hebat Sasa udah sembuh."
"Nangis nggak tadi waktu diperiksa sama dokter Rahadi?"
Sasa terkikik sambil menutup mulut dengan tangan. Lalu menggelengkan kepala sebanyak dua kali.
"Kereeeen," kini Mas Tama mengacungkan dua jempol sekaligus.
"Aku dapat ini Om, dari Om dokter," ujar Sasa yang dengan hidung terkembang memamerkan celengan berbentuk ba bi pada Mas Tama.
"Wah, Om dokter baik sekali."
Sasa mengangguk-angguk, "Kalau Om, mau kasih hadiah apa buat Sasa?"
***
Cakra
Suasana hall sudah sepi. Usai ditinggalkan oleh seluruh peserta gathering. Tinggal tersisa beberapa panitia yang sedang berkemas.
Termasuk dirinya. Yang saat ini masih duduk berkumpul bersama Adit, Daniel, Gerry, Dio, dan Nata. Tengah terlibat perbincangan yang cukup seru tentang dinamika kehidupan kampus dan perkuliahan.
Ketika ponsel di sakunya bergetar tanda ada panggilan masuk.
Ia langsung mengernyit ketika melihat nama yang tertera di layar ponsel,
Kak Pocut Calling
Ia pun meminta ijin untuk keluar dari arena perbincangan.
"Assalamualaikum, Kak?"
"Agam! Kamu yang ngasih tahu Mas Tama kalau hari ini Sasa jadwal periksa ke dokter?!" suara Kak Pocut di seberang sana jelas terdengar sedang tak ingin berbasa-basi. Cenderung kesal malah.
"Enggak!" ia mengernyit bingung. "Kenapa gitu, Kak?"
"Lain kali kalau Mas Tama nanya-nanya tentang Sasa, nggak usah dijawab!"
"Bikin repot saja!"
Klik.
Ia memandang ponsel yang layarnya mendadak mati sebab Kak Pocut telah memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Benar-benar tak mengerti mengapa ia justru menjadi sasaran kekesalan Kak Pocut.
Am i do something wrong (apa aku melakukan hal yang salah)? batinnya semakin bingung.
Di saat ia masih kebingungan dengan sikap tak biasa Kak Pocut, seseorang berteriak memanggilnya.
"Cakra!!"
Ia pun langsung menyimpan ponsel ke dalam saku. Lalu berjalan menghampiri Adit yang baru saja memanggilnya.
"Bang Gerry sama Mas Dio mau pulang nih."
***
Keterangan :
©©. : dikutip dari berita di kompas.id tanggal 2 September 2019