Beautifully Painful

Beautifully Painful
115. "Apa Kita Pernah Bertemu Sebelumnya?"



Cakra


"Kerjaan siapa nih?!"


Suara menggelegar seorang teknisi mendadak memenuhi udara di atas line. Menyaingi suara-suara mesin robot dan desing bahan logam spare part yang sedang dipasang.


"Saya, Bang," jawabnya sambil menghembuskan napas berat.


Ini menjadi kali ketiga ia mendapat teguran dari teknisi dalam kurun waktu satu jam.


Sebuah prestasi.


Karena ia menjadi orang pertama yang berhasil meraih gelar pemegang rekor dengan human error terbanyak hanya dalam waktu singkat.


"Ulang!" perintah teknisi cepat.


Ia mengangguk dan mengambil kembali part yang menjadi tanggungjawabnya. Karena ada sub part yang belum terpasang.


"Bisa kerja nggak sih lu?!" sungut teknisi yang baru saja menegurnya. Karena ia untuk yang ke sekian kali kembali melakukan kealpaan fatal.


"Jangan nyusahin yang lain dong!"


"Kerja yang bener!"


Ia kembali mengangguk dan segera berlalu untuk menyelesaikan tugasnya.


"Konsentrasi!" kini suara Bang Nugie yang terdengar.


"Zero error!" seru Bang Nugie lagi sebelum melanjutkan pemeriksaan ke tempat lain.


"Kenapa lu?" Sarip yang berdiri di depannya menatap curiga. Dengan tangan tetap bergerak lincah memasang screw tapping. Terlihat sangat terlatih.


"Kacau banget lu hari ini," timpal Sidik yang berjarak dua orang di belakangnya. "Parah."


"Teknisinya udah empet banget tuh sama lu!" sungut Sarip lagi.


"Lagian lu nggak biasanya banyak error begini?!" Sidik ikut menggerutu.


"Awas jangan sampai kena SP (surat peringatan)!" timpal Theo yang sedang tangkas memasang cushion.


Namun ia pura-pura tak mendengar. Sama sekali tak berminat untuk menjawab. Tetap melakukan tugasnya memasang sub part yang tadi sempat terlupa.


Begitu waktu shift selesai, Bang Nugie menghampiri.


"Dipanggil Mas Abeng."


Ia mengangguk lemah.


Sementara Sarip, Theo dan Sidik yang juga sedang berkemas, hanya bisa memandangnya iba.


"Di bagian produksi memang rawan human error," Mas Abeng sama sekali tak berniat untuk berbasa-basi.


"Umum itu. Namanya manusia."


"Tapi kalau sampai ada part yang nggak terpasang. Dan bisa lolos ke konsumen."


"Kamu langsung dapat SP."


Ia mengangguk.


"Kamu masih baru di sini. Jangan sampai menunjukkan kinerja yang buruk."


Ia menelan ludah.


"Kalau ada masalah di kerjaan. Bisa langsung dikomunikasikan dengan saya. Atau Nugie sebagai checkman."


"Tapi kalau ada masalah di luar pekerjaan," Mas Abeng menatapnya tajam.


"Tolong kamu tinggalkan dulu begitu masuk line."


"Jangan dibawa-bawa."


Ia kembali menelan ludah melewati tenggorokan yang kering sebelum berkata, "Baik, Mas."


Dengan langkah gontai ia segera keluar dari ruangan Mas Abeng. Berjalan melewati lorong menuju ke tempat parkir motor. Dengan kepala dipenuhi oleh bayangan wajah Anja yang semalam berulangkali mengatakan,


"Kamu harus kuliah."


"Jangan menyia-nyiakan kesempatan."


"Nggak usah mikir biaya."


"Yang penting kuliah dulu."


"WWOOIIII!!"


Lamunannya mendadak buyar ketika teriakan yang cukup keras menggema di area parkir yang sunyi. Pasti teriakan itu ditujukan padanya. Karena tak ada orang lain selain dirinya.


"DI SINIII!"


Ia melihat Theo melambaikan tangan dari kejauhan.


Ternyata pikiran yang terlalu dijubeli oleh banyak hal berhasil membuatnya mengalami disorientasi. Sampai lupa tempat memarkirkan motor sendiri.


"Ngelamun aje!"


"Nape lu?!"


"Ada masalah nih pasti."


Ia hanya tertawa sumbang mendengar sambutan yang diberikan oleh Sarip, Theo, dan Sidik begitu ia sampai di depan motornya.


"Dipanggil Mas Abeng kenapa?"


"Bukan dikasih SP kan?"


"Udah gua bilang," Theo mencibir. "Jadi anak baru harus bisa bawa diri."


"Belum dua bulan masa udah dapat SP."


"Parah ini sih."


Namun ia sama sekali tak berniat untuk mempedulikan ocehan Sarip, Theo, dan Sidik. Segera memasukkan kunci motor dan bersiap untuk pulang.


"Woi, elah! Kita dicuekin."


"Parah lu!"


Ia tetap tak bergeming. Terus melanjutkan aktivitasnya memakai helm. Lalu berkata, "Hari Jum'at, gua undang kalian bertiga buat datang ke rumah mertua gua."


"Ada apa?"


"Acara apa?"


"Lu nggak lagi ada masalah sama mertua lu kan?"


Ia hanya bisa tertawa sumbang mendengar kecurigaan Sarip yang hampir mendekati kebenaran. Namun sejurus kemudian kembali berkata,


"Sabtu kemarin bini gua baru lahiran. Hari Jum'at besok aqiqahnya. Datang ya."


"Oh, jadi lu bengong seharian di line, sampai ditegur berkali-kali sama teknisi, trus dipanggil Mas Abeng, gara-gara bini lu habis lahiran?!"


"Bingung pasti lu?!"


"Nggak bisa bayar biaya melahirkan lu?!"


"Perlu open donasi dari kita bertiga nggak?"


"Dari semua lah yang ada di line."


"Leh uga."


"Kuy bergerak."


Ia kembali tertawa, "Nggak usah. Makasih."


"Biaya persalinannya kemarin udah digratisin sama Bu Bidan."


Ucapannya sontak membuat Sarip, Theo dan juga Sidik terbelalak.


"Sumpeh lu?!"


"Hoki banget lu!"


"Selamat deh kalau gitu."


Ia mengacungkan jempol dan mulai menstater motor.


"Jangan lupa share loc alamat rumah mertua lu!"


Ia mengangguk, "Beres."


"Gua ajak cewek gua ya," seru Theo sumringah.


"Ajak gebetan ah," timpal Sidik ikut senang.


"Lu udah punya cewek?" Sarip memandang Theo tak percaya.


"Lu juga punya gebetan?" Sarip beralih memandang Sidik curiga.


"Terus gua ajak siapa dong?" gerutu Sarip dengan wajah sebal.


Namun ia keburu melajukan motor meninggalkan mereka bertiga yang masih meributkan tentang siapa mengajak siapa.


Dari Sunter ia langsung pulang ke rumah Anja. Dimana Mamak tengah bersiap-siap untuk pulang ke rumah.


"Istirahatlah dulu. Makanlah dulu," ujar Mamak ketika melihatnya masuk melalui teras samping yang ramai dengan celotehan Arka, Yasa, juga Lana.


Ia tersenyum mengangguk.


Sekarang baru jam delapan lebih. Ia masih memiliki waktu luang selama kurang lebih dua jam. Sebelum nanti harus pergi ke bandara.


Setelah mencuci tangan dan kaki. Barulah ia memasuki kamar. Dimana Anja tengah duduk memangku Aran yang sedang menyusu.


"Eh, udah pulang," sapa Anja riang begitu melihatnya datang.


Ia balas tersenyum. Lalu segera mengganti baju seragam kerja dengan kaos dan celana rumah.


"Wah, kita berdua belum punya nama panggilan nih," Anja mengerling ke arahnya yang baru saja selesai berganti baju.


"Kamu mau dipanggil apa sama Aran? Papa? Ayah?"


Sejak dulu, ia selalu ingin memanggil seseorang dengan sebutan Ayah. Terdengar begitu hebat dan penuh makna.


Namun karena Ayah telah wafat semenjak ia masih berusia kurang dari setahun. Membuat keinginannya yang satu ini tak pernah terkabul.


"Ayah," jawabnya sambil mendudukkan diri di sebelah Anja. Memperhatikan Aran yang tengah getol menyusu.


"Halo Ayah," Anja tersenyum lebar. "Wah, Ayah baru pulang kerja nih Aran."


"Ayo bangun nak," kini Anja mengusap lembut pipi bulat Aran. "Say hi ke Ayah."


Dan aroma keharuman khas bayi yang menenangkan terasa menguar memenuhi udara di seantero kamar. Berhasil memancingnya untuk mengusap lembut rambut lebat Aran.


"Harum begini. Aran udah mandi?"


Anja mengangguk, "Udah dong. Lengkap dari sun banthing, mandi, nen...."


"Kan mau menyambut kedatangan Akung (eyang kakung, bahasa Jawa) sama Uti (eyang putri)," lanjut Anja sumringah.


Ia pun tersenyum. Seraya meletakkan telunjuk di sela-sela jari Aran. Dan tangan mungil itu langsung menyambutnya dengan menggenggam jarinya erat-erat. Seolah tak ingin melepaskan.


"Kamu udah jago mandiin?"


Anja tertawa, "Mamak lah yang mandiin."


"Aku masih takut pegang punggung Aran yang lunak dan lembut," Anja menggeleng. "Takut licin kena baby wash. Bisa-bisa kepleset trus jatuh."


Membuatnya ikut tertawa.


"Besok giliran Uti yang mandiin."


"Atau kalau enggak Uwa Dara."


"Kamu kapan?" selorohnya.


Anja hanya mengernyit, "Ntar kalau udah berani."


"Sekarang masih takut."


Ia tersenyum sambil meletakkan dagu di bahu Anja. Sementara telunjuknya masih dipegang erat-erat oleh tangan mungil Aran.


"Kalau begitu, mulai besok aku yang mandiin Aran," bisiknya di telinga Anja.


"Bisa gitu?" Anja mencibir. "Ini bayi manusia lho. Bukan boneka."


Ia tertawa, "Pasti bisa."


"Kayaknya kamu harus dikasih training dulu deh sama Teh Dara."


"Mandiin anak doang pakai training segala."


"Ntar salah malah berabe," decih Anja tak setuju.


Ia kembali tertawa. Lalu berbisik, "Bunda Aran yang cantik udah makan belum?"


Anja mencibir mendengar pertanyaan yang dilontarkannya. Namun sedetik kemudian tertawa.


"Tuh, udah habis segitu banyaknya," Anja menunjuk meja belajar yang telah dipenuhi oleh deretan makanan, cemilan, dan minuman yang berfungsi sebagai mood booster ASI.


Dimana terdapat tumpukan plastik bekas kemasan oat cookies dan dua jar kosong bekas overnight oats kesukaan Anja.


"Belum telur rebus buatan Mamak," kali ini Anja menunjuk mangkuk berisi telur rebus yang belum dikupas kulitnya.


"Sama ramuan yang....," Anja memberi ekspresi wajah seperti mau muntah.


Membuatnya terkekeh.


"Aku gendutan deh kayaknya ya? Ngemil melulu."


Namun ia kembali terkekeh. Karena penampilan Anja sama sekali tak seperti orang yang baru saja melalui proses persalinan.


(Baginya) Anja tetap terlihat ramping dan cantik. Bertambah cantik malah. Sekaligus menarik. Karena beberapa bagian penting Anja menjadi semakin matang dan juga menantang.


"Kamu kan lagi menyusui Aran," bisiknya di telinga Anja. "Memang harus banyak makan."


"Habis ini kita makan berdua ya."


Ia dan Anja masih bermain-main dengan Aran. Yang tiap kali mereka bergantian bersuara. Aran akan langsung merespon dengan membelalakkan mata lebar-lebar atau menyunggingkan senyum. Membuatnya takjub sekaligus gemas. Sungguh permainan yang sangat menyenangkan.


Ketika Mamak masuk ke dalam kamar dan berkata, "Kalian makanlah dulu."


Setelah makan berdua dengan Anja, ia langsung pamit pada Mas Sada.


"Mas, saya antar Mamak pulang dulu. Habis itu langsung ke bandara."


"Ya."


Dan oleh-oleh segunung yang dibawakan Teh Dara untuk Mamak. Membuatnya harus membantu Mamak membawa barang-barang sampai ke rumah. Hingga ia memutuskan untuk menumpang parkir di pekarangan milik H. Murod.


Karena jalan raya di depan gang menuju rumahnya tak terlalu lebar. Dengan ia parkir di pinggir jalan, tentu akan membuat arus lalu lintas menjadi macet dan tersendat.


"Titip bentar, Cup," sapanya pada Ucup yang sedang berjaga.


"Antar Mamak dulu."


"Bereees, Gam," Ucup mengacungkan jempol.


Namun ketika ia baru selesai parkir dan berniat untuk mematikan mesin, Mamak lebih dulu berkata,


"Semalam Anjani bilang kau diterima kuliah."


Membuatnya mengurungkan niat untuk mematikan mesin.


"Di Bandung?"


Ia mengangguk lemah.


"Anjani meminta Mamak untuk membujuk."


"Jadi Mamak sekarang sedang membujukku?" tanyanya tak percaya.


Namun Mamak menggeleng, "Hanya bertanya."


"Aku mau kerja dulu," jawabnya pelan. "Belum ada rencana untuk kuliah."


"Berdo'alah memohon petunjuk," Mamak menatapnya dalam-dalam.


"Karena kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan."


Ia menghembuskan napas panjang.


"Boleh jadi kau membenci sesuatu, padahal amat baik bagimu." **


"Dan boleh jadi kau menyukai sesuatu, padahal amat buruk bagimu." **


Ia makin menghembuskan napas panjang.


"Aku tak mau merepotkan orang lain. Terutama keluarga Anja."


Mamak tersenyum menenangkan, "Memang sudah seharusnya begitu."


"Kau ini lelaki. Sekarang sudah jadi kepala keluarga."


"Harus punya prinsip kuat yang bertanggungjawab."


"Aku harus bagaimana?" tanyanya gelisah.


"Berdo'alah."


"Memohon petunjuk."


"Agar kau bisa membuat keputusan yang tepat."


"Dan keputusan yang kau pilih itu adalah yang terbaik."


"Untuk kau sendiri dan keluarga kecilmu."


"Untuk agamamu, kehidupanmu, jalan hidupmu selanjutnya ke depan." ##


"Kalau Mamak sendiri ingin aku bagaimana?" tanyanya sedikit memaksa. Karena apapun perkataan Mamak, akan ia kerjakan.


Mamak tersenyum samar, "Mamak ingin kau tumbuh menjadi suami dan ayah yang bertanggung jawab."


Ia menggelengkan kepala tanda tak setuju, "Kalimat Mamak tak bisa kumengerti."


Mamak menghela napas, "Mamak hanya bisa mendo'akan yang terbaik."


"Kau sendiri yang harus berusaha."


"Kau tentu lebih paham dan lebih tahu ilmunya dibandingkan Mamak."


"Tentang sebab akibat menurut pemikiran terbatas kita sebagai manusia."


"Jika kau memilih A. Apa saja kemungkinan yang bisa terjadi kemudian."


"Apakah kau bisa menjalani semuanya dengan baik dan benar?"


"Apakah kelak kau tak menyesal dengan pilihan yang sudah kau ambil?"


"Apakah pilihanmu membawa kemaslahatan (kebaikan) atau justru kemudharatan (keburukan)?"


"Tentu kau lebih memiliki informasi yang cukup banyak dibanding dengan yang Mamak ketahui."


"Begitupula jika kau memilih B."


"Pikirkan. Renungkan. Selalu memohon petunjuk."


Kalimat panjang namun beragam makna yang diucapkan Mamak membuatnya kembali menghembuskan napas panjang.


Bahkan sepanjang perjalanan menuju ke bandara, pikirannya terus bekerja mengolah nasehat panjang yang Mamak berikan.


Meski hati kecilnya terus berbisik, jika ia akan tetap bekerja. Karena melanjutkan kuliah tak harus tahun ini. Toh ia masih memiliki dua kali kesempatan untuk mengikuti SBMPTN lagi.


Atau kalau tidak, ia bisa kuliah di tempat lain. Tak harus PTN (perguruan tinggi negeri). Asalkan biayanya terjangkau. Syukur-syukur bisa mendapat dana beasiswa. Meski entah dari mana.


Ia bahkan masih terus berpikir. Meski kini tengah berjalan dengan langkah tergesa dari area parkir lantai 1 menuju west lobby di terminal 3 kedatangan internasional.


Dimana Mas Sada telah menunggunya. Tengah duduk di sebuah kedai kopi.


"Udah lama nunggu, Mas?" sapanya basa-basi.


Arus lalu lintas yang cukup padat, membuatnya sedikit terlambat sampai di bandara dari waktu yang telah dijanjikan sebelumnya.


"Baru," jawab Mas Sada singkat.


Ia mengangguk. Lalu mengambil duduk di hadapan Mas Sada.


"Mereka juga baru landing, masih nunggu bagasi," lanjut Mas Sada lagi sambil menyesap kopi.


Terhitung beberapa kali Mas Sada mengajaknya bicara. Bukan pembicaraan penting memang. Salah satunya menawarkan untuk memesan minuman.


Namun ia tak sepenuhnya berkonsentrasi. Ucapan Mas Sada hanya masuk telinga kanan lalu keluar telinga kiri. Ia bahkan tak memesan minuman seperti yang ditawarkan oleh Mas Sada.


Karena pikirannya masih melanglangbuana. Penuh sesak dijejali oleh opsi antara tetap bekerja atau mengikuti keinginan Anja untuk melanjutkan kuliah.


"Anja bilang kamu masuk Ganapati?"


Pertanyaan Mas Sada membuatnya tergeragap, "Oh, iya, Mas."


"Selamat ya."


Ia sempat tertegun sebentar memandangi Mas Sada yang berbicara dengan nada santai cenderung tulus.


"Makasih, Mas," jawabnya sedikit gugup. "Tapi nggak akan saya ambil."


"Kenapa?" wajah Mas Sada mendadak keruh. Kembali ke setelan awal.


"Saya mau kerja dulu, Mas," gumamnya dengan nada suara yang sangat tidak meyakinkan. "Baru tanda tangan kontrak sebulan lalu."


"Nggak mungkin saya tinggal."


Mas Sada sudah membuka mulut entah mau mendampratnya atau memberi petuah. Namun tertahan oleh suara getaran ponsel tanda ada panggilan masuk.


"Ya?" ujar Mas Sada menerima panggilan.


"Oke," lanjut Mas Sada mengiyakan.


Kemudian segera menyimpan ponsel dan beranjak. "Mereka udah keluar."


Ia pun bangkit mengikuti langkah Mas Sada. Menuju tempat keluar para penumpang pesawat.


Matanya langsung bisa mengidentifikasi sosok tegap yang cukup familiar, yaitu Mas Tama. Tengah mendorong dua buah troli sekaligus berisi segunung barang bawaan.


Dengan Mama Anja berjalan di samping Mas Tama. Sedang mendorong kursi roda elektrik yang diduduki oleh Papa Anja.


Mas Sada langsung menghampiri Mama dan Papa Anja. Mencium tangan dan saling berpelukan.


Lalu mengambil alih kursi roda dari tangan Mama Anja. Dan mendorongnya lebih ke pinggir. Agar mereka tak menghalangi jalan keluar dan sedikit terhindar dari lalu lalang orang.


Ia yang tak tahu harus berbuat apa akhirnya berinisiatif untuk menyalami Mas Tama. Lalu mengambil alih satu dari dua troli yang ada.


Namun sebelum ia mendorong troli menuju ke tempat parkir, Mama Anja keburu melambaikan tangan ke arahnya.


"Cakra....sini....."


Dengan gugup ia segera melepas troli. Lalu berjalan menghampiri Mama Anja.


"Selamat ya Cakra....sudah jadi Papa," seloroh Mama Anja. "Papa atau Ayah atau apa nih manggilnya?"


Ia menyalami Mama Anja sambil tersipu malu. "Ayah, Ma."


"Woo...ayah....," Mama Anja tertawa sambil menepuk lengannya.


Sementara Mas Tama dan Mas Sada hanya berdiri mematung.


"Pa....ini nih, Cakra....," ujar Mama Anja seraya mendekatkan diri ke arah Papa Anja.


"Suaminya Anja."


"Yang sering Mama ceritain."


"Inget kan?"


"Ini dia nih anaknya....."


Papa Anja yang sekilas secara fisik tak terlihat jauh berbeda dari waktu pertama kali mereka bertemu. Kini memandanginya lekat-lekat.


"Cakra?"


Ia tersenyum mengangguk. Lalu meraih tangan Papa Anja untuk memberi salam.


"Suaminya Anja?"


Lagi-lagi ia mengangguk.


Sejenak Papa Anja terlihat berpikir. Lalu kembali menatapnya lekat-lekat.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"


Mama Anja mendadak tertawa, "Ya pernah, Pa. Waktu dulu pas hari Minggu kan Cakra pernah ke rumah nyariin Anja."


Namun Papa Anja menggelengkan kepala, "Bukan."


"Bukan di rumah."


Mama Anja masih tertawa, "Ya kalau nggak di rumah. Berarti Papa ingat wajah Cakra di foto nikahnya Anja. Yang sering Mama kasih lihat ke Papa itu loh."


"Bukan dari foto," lagi-lagi Papa Anja menggelengkan kepala.


"Di tempat lain."


Ia hanya bisa meringis bingung. Sementara sudut matanya dengan lugas menangkap ekspresi cemas di wajah Mas Tama dan Mas Sada.


"Kita pasti pernah bertemu sebelumnya," gumam Papa Anja yakin.


Mama Anja kembali tertawa, "Ya sudah. Kita ingat-ingat sambil pulang."


"Sudah mau sore lho ini."


"Mama udah kangen mau ketemu cucu-cucu."


"Udah nggak sabar mau lihat cucu baru."


"Papa apa nggak kangen sama cucu-cucu kesayangan?" seloroh Mama Anja dengan riang.


Tapi lagi-lagi Papa Anja bergumam, "Kita pasti pernah bertemu sebelumnya."


"Kita memang pernah bertemu sebelumnya," ulang Papa Anja berkali-kali meski Mas Sada telah mendorong kursi roda Papa keluar dari lobby.


***


Keterangan :


**. : penggalan dari arti surat Al Baqarah ayat 216


##. : penggalan dari arti do'a setelah shalat istikharah


Sumber ttg aktivitas kerja operator produksi :


Sahabat yang berprofesi sebagai operator produksi 🤗 Terimakasih Kak, sudah bersedia menjadi narasumber 🤗


##jika ada kekeliruan penulisan atau kesalahan dalam menerjemahkan kehidupan seorang operator produksi, feel free untuk PC author ya readers tersayang 🤗 dengan senang hati akan author revisi