Beautifully Painful

Beautifully Painful
127. Rewriting (2)



Cakra


Suasana di dalam rumah semakin ramai dengan kedatangan para tamu baru. Ada sekitar tiga keluarga sekaligus yang berkunjung.


Dua diantaranya baru pernah ia temui kali ini. Sementara yang satu lagi adalah Om Raka. Yang juga menjabat sebagai Direktur Utama Selera Persada, perusahaan kuliner milik Mama Anja.


Mereka semua saling menyapa, bertukar kabar, berbincang, tertawa, dan bercanda.


"Maune arep teko sesuk, tapi mesti uakeh tamu. Saiki wae meh sisan (tadinya mau datang besok, tapi pasti banyak tamu. Jadi sekarang saja sekalian)," seloroh Lek Priyo, adik bungsu Papa Anja.


Sementara anak-anak kecil berlarian ke sana kemari dengan riangnya. Mereka terlihat berkali-kali mencomot kue favorit yang terhidang di atas meja. Bermain petak umpet. Atau duduk di kursi sembari mengobrolkan banyak hal seru.


Ia masih mengobrol dengan Lek Priyo, Pak Poh (Pakde) Harjo, dan Mas Tama ketika Anja memberi kode padanya agar mendekat.


"Kenapa?"


"Aku mau nen in di kamar aja deh, di sini rame banget," ujar Anja sambil menunjuk Aran yang mulai merengek di atas bouncer.


Ia mengangguk dan segera mengangkat bouncer yang berisi Aran ke dalam kamar. Sementara Anja mengikutinya di belakang.


"Lhoo, cah ganteng mau kemana ini?" seloroh istri Lek Priyo ketika mereka berpapasan di ruang makan.


"Mau Nen di kamar, Bi," jawab Anja.


"Oh, iyo, nang njobo rame yo Le (oh, iya, di luar ramai ya nak)," istri Lek Priyo mengangguk setuju. "Bobok nang kamar wae (tidurnya di kamar saja)."


Begitu ia meletakkan bouncer di dalam kamar, Anja langsung meraih Aran yang telah menangis kencang. Lalu segera mengasihinya.


Ia pun duduk di sebelah Anja. Memperhatikan Aran yang tengah mencecap dengan rakus.


"Lapar bos?" ia tak kuasa menahan tawa demi melihat kerakusan Aran.


"Hampir...," Anja melihat ke arah jam dinding Mickey Mouse. "Tiga jam lebih nggak nen."


"Tadi terakhir sebelum aku di touch up kan?" gumam Anja seraya mengusap pipi bulat Aran.


"Kasian...Aran lapar ya sayang?"


"Nen yang banyak."


"Biar cepat besar."


Senyumnya makin terkembang demi melihat interaksi alamiah yang sangat manis antara Anja dan Aran.


We'll never know, batinnya sambil menghela napas panjang. Cewek berisik yang hobinya membentak dan memukuli orang lain itu, kini telah berubah menjadi begitu lembut dan menyenangkan.


Such a miracle.


Hampir 15 menit lamanya Aran mengisi ulang energi. Selama itu pula ia hanya diam memperhatikan. Sembari sesekali mengusap pipi, paha, atau jemari mungil Aran.


"Kamu harus banyak makan," gumamnya serius. Demi melihat Aran nen bolak balik dari sebelah kanan ke sebelah kiri tak kunjung selesai.


"Ini juga udah lapar lagi," Anja tertawa.


"Mau makan apa?" ia menatap Anja. "Aku ambilin."


Tapi Anja menggeleng, "Nunggu Aran bobo deh."


"Tadi Mamak sengaja bawain makanan spesial buat aku," lanjut Anja seraya mengarahkan dagu ke atas meja belajar. Dimana terdapat rantang aluminium empat susun yang sangat dikenalnya.


"Kamu nggak boleh minta," cibir Anja. "Itu khusus buat ibu menyusui."


Ia langsung tertawa, "Oke, habis ini kita makan bareng."


Begitu Aran melepaskan diri, ia segera menyampirkan kain ke bahu Anja. Lalu Anja pun memposisikan tubuh Aran untuk bersendawa. Tepat di atas kain yang baru disampirkannya.


Setelah menunggu beberapa menit, dan yakin Aran telah menyelesaikan sendawanya. Dengan penuh kehati-hatian Anja membaringkan Aran di atas tempat tidur. Menyelimuti, mencium kening, lalu beranjak untuk menutup kelambu.


Namun sebelum sempat melangkah pergi, ia telah lebih dulu meraih bahu Anja.


"Tadi ada yang lupa," ujarnya seraya tersenyum.


"Apa?" tanya Anja tak mengerti.


Ia segera menarik Anja ke dalam rengkuhan. Lalu mencium dalam-dalam puncak kepala Anja, sembari membisikkan doa yang baru dihapalnya kemarin siang.


"Allahumma inni as'aluka min khairiha wa khairi ma jabaltaha 'alaihi. Wa a'udzubika min syarriha wa syarri ma jabaltaha 'alaihi." **


"Allaahumma baarik lii fii ahlii wa baarik li ahlii fiyya." ##


Namun meski telah selesai mengucap doa, ia justru semakin menenggelamkan wajah ke puncak kepala Anja. Hingga hidungnya dipenuhi oleh aroma mild keharuman Lavender yang menenangkan.


Ketika tiba-tiba terdengar suara teriakan tertahan Lana dan Sasa dari lantai atas. Membuatnya merenggangkan rengkuhan terhadap Anja. Dan mulai menajamkan telinga.


"Wah, ada apa di luar?" kening Anja mengernyit.


Ia menggeleng.


Suara teriakan anak-anak dan kepanikan orang dewasa terus terdengar. Jelas berasal dari sisi jendela kamar Anja.


"Dari lantai dua," ujar Anja dengan kening yang terus mengernyit.


Ia mengangguk. Lalu segera melangkah menuju jendela lebar yang terletak di samping meja belajar.


Jendela kamar berukuran lebih dari 2x2 M itu bisa dengan leluasa dilewati oleh tubuh orang dewasa.


Tanpa kesulitan berarti, ia telah membuka jendela dan berhasil keluar melewatinya. Lalu menengadahkan kepala ke atas.


Dimana matanya bisa menangkap bayangan seorang gadis cilik, yang tengah duduk sembari mengayunkan kaki. Tepat di sisi terluar pagar yang membatasi balkon di lantai dua.


***


Anja


Ia ikut melongokkan kepala keluar jendela. Ingin mengetahui apa yang sedang terjadi. Lalu menyusul Cakra melewati jendela.


Tepat ketika Cakra menengadahkan kepala ke atas balkon lantai dua. Dimana suara Lana dan Sasa masih terdengar berteriak-teriak histeris. Sementara Om Raka, Mas Sada, dan Teh Dara tengah berusaha membujuk seorang anak yang....


Ya ampun.


Ia hanya bisa menutup mulut dengan kedua tangan saking terkejutnya.


"Shaina!! Ke sini! Nanti jatuh!"


"Ayo ke sini!!"


Teriak Lana dan Sasa berulang kali.


"Kita mainnya di sini aja!"


"Jangan ke situ!! Nanti jatoooh!!"


"Shaina! Lihat Papa sayang!" seru Om Raka. Berusaha mendekati gadis cilik yang kini tengah duduk sembari mengayunkan kaki di luar pagar balkon.


Sementara Teh Dara terlihat meraih Lana dan Sasa agar sedikit mundur ke belakang. Lalu memeluk mereka berdua.


"Shaina! Tidak boleh duduk di sana!" seru Om Raka lagi.


"Bahaya."


"Kalau Shaina jatuh, nanti sakit."


Namun gadis cilik berambut panjang itu sama sekali tak menghiraukan siapapun.


"Shaina!" ulang Om Raka. "Sayang....mundur nak...."


"Jalan ke Papa."


Gadis cilik itu bahkan tak mendengarkan seruan Om Raka. Terlihat asyik dengan dunianya sendiri.


"Mundur, Shaina," seru Om Raka pantang menyerah.


"Mundur."


"Jalan ke Papa."


"Aaaaaa!!!!" tiba-tiba terdengar teriakan Lana dan Sasa.


Disusul suara makian Om Raka, "Astaga! Sial!"


Sementara ia hanya bisa memejamkan mata kuat-kuat, ketika tubuh mungil gadis cilik berambut panjang itu telah jatuh meluncur ke bawah tanpa ampun.


"CAKRA!!!" teriak Mas Sada panik.


Ia baru memberanikan diri membuka mata, ketika tak terdengar suara benda jatuh apapun. Namun justru suara tangis dan teriakan marah seorang gadis cilik.


Yang kini tengah digendong oleh Cakra. Sambil berteriak-teriak dan memukuli Cakra dengan membabi buta.


Sementara beberapa orang dewasa lainnya mulai berhamburan ke halaman samping dengan wajah cemas.


"Ada apa?"


"Kenapa?"


Tapi Cakra tak bisa menjawab. Karena tengah kerepotan menenangkan gadis cilik yang semakin memberontak, berusaha melepaskan diri dari gendongan Cakra.


"Shaina...Shaina....Shaina....," seru Om Raka dengan napas tersengal setelah berlari dari lantai dua.


"Ini Papa sayang," Om Raka segera meraih gadis cilik yang masih terus memberontak memukuli Cakra.


"Ini Papa," kini Om Raka telah memeluk gadis cilik yang tak lagi memukul membabi buta. Namun masih menangis dengan suara yang cukup keras.


Sementara ia hanya menggelengkan kepala, ketika Cakra melihat ke arahnya dengan mata penuh tanya.


***


Cakra


Dengan bergegas ia membantu membuka pintu kamar tamu lebar-lebar. Lalu merapikan bantal di atas tempat tidur. Agar bisa langsung dipakai dengan nyaman.


Sementara Om Raka menggendong gadis cilik yang bernama Shaina. Dan segera masuk ke dalam kamar. Disusul oleh Teh Dara yang membawa segelas air putih. Dan Mas Sada yang masuk terakhir untuk menutup pintu.


"Shaina minum dulu sayang," ujar Teh Dara lembut.


Namun Shaina tak bergeming. Terus saja terisak-isak.


Setelah beberapa menit berlalu, barulah Shaina tenang. Tak lagi menangis, dan mau meminum segelas air putih.


"Shaina ngantuk sekarang?" tanya Om Raka yang duduk dengan bertumpu pada kedua lutut agar bisa sejajar dengan mata Shaina.


"Shaina mau tidur ya?" lanjut Om Raka.


Shaina sama sekali tak mengangguk ataupun menggeleng. Hanya menatap lurus jauh ke depan.


"Shaina tidur ya," Om Raka kembali berkata sambil menepuk bantal di atas tempat tidur.


"Ditemani Papa."


"Tidur sayang," ulang Om Raka lagi.


Sejurus kemudian, Shaina mulai merebahkan kepala ke atas bantal. Lalu dengan penuh kelembutan, Om Raka membelai kepala gadis cantik bermata indah itu hingga akhirnya terlelap.


"Makasih banyak," ujar Om Raka seraya menepuk bahunya usai menyelimuti Shaina.


Ia mengangguk.


"Kalau nggak ada kamu di bawah. Aku nggak tahu gimana....," Om Raka menghela napas panjang.


Ia tersenyum sambil terus menganggukkan kepala.


"Shaina masih diet kan Om?" tanya Teh Dara sambil mengernyit. ©©


"Terakhir kita ketemu beberapa bulan lalu, Shaina manis banget," lanjut Teh Dara. "Lana sampai kangen mau main sama Shaina lagi."


"Iya," timpal Mas Sada. "Sepanjang perjalanan pulang ke Jogja, yang diobrolin Shainaaa terus."


Om Raka tertawa, "Gara-gara Susternya cuti lebaran nih, aku jadi kewalahan."


"Kacau semua jadwal diet dan terapi," sambung Om Raka dengan wajah menyesal.


"Biasanya kalau lebaran pakai suster inval kan?" Teh Dara semakin mengernyit. "Memang suster yang biasa ngurus Shaina, cuti berapa lama Om?"


Tapi Om Raka menggeleng, "Kemarin sempat ambil suster baru. Sampai dua kali ganti malah. Tapi dua-duanya Shaina nggak cocok."


"Daripada dipaksain malah jadi berabe," Om Raka mengangkat bahu.


"Makanya buruan cari istri, Om," seloroh Mas Sada. "Anak-anak service di restoran kan banyak tuh."


"Rata-rata mahasiswi part time bukan kalau yang di outlet Mall?"


Namun Mas Sada langsung menghentikan tawanya karena keburu dicubit oleh Teh Dara.


Dan sebelum Om Raka membalas selorohan Mas Sada, ia buru-buru berkata, "Saya keluar dulu...."


Mas Sada mengangguk. Sementara Teh Dara tersenyum, "Makasih ya, Cakra."


Tapi Om Raka menahannya, "Cakra, sebentar."


"Ya Om?"


"Nanti biar Ibu sama Kakak kamu pulang sama saya aja. Searah kan?"


"Oh," ia mengangguk.


"Udah...biar sama Pak Cipto aja, Om," sergah Mas Sada. "Nanti Om malah muter lebih jauh. Searah gimana?"


"Ish," seru Mas Sada tertahan karena Teh Dara kembali mencubit perutnya.


"Lho, bener kan, Om jadi jauh?" Mas Sada masih ngotot.


"Kebetulan nanti aku ada janji ketemu sama orang di sekitaran daerah dekat rumah Cakra," jawab Om Raka mencoba meyakinkan.


"Nggak kok, nggak muter. Nanti pulangnya bisa langsung lewat tol dalam kota," lanjut Om Raka lagi.


"Baik, Om," ia buru-buru mengangguk dan segera beranjak keluar kamar. Karena khawatir Anja telah menunggu lama.


Namun sebelum menutup pintu kamar tamu, ia masih sempat mendengar Mas Sada bertanya keheranan, "Nanti Shaina gimana kalau ada orang asing?"


"Shaina nggak masalah," jawab Om Raka tenang.


"Udah kenal kok sama ibu dan kakaknya Cakra. Udah pernah ketemu juga waktu kita meeting di kantor."


"Oh My, Shaina sampai dibawa ke kantor?"


"Parah ini sih. Udah urgent butuh istri."


"Aduh?"


Ia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Itu pasti suara mengaduh Mas Sada yang dicubit oleh Teh Dara.


Dan begitu keluar dari kamar tamu, ia langsung mendapati Anja tengah duduk di meja makan.


"Aduh, maaf ya," Anja menatapnya sembari meringis. "Aku makan dulu. Habis lapar banget."


"Makan yang banyak," ia balas tertawa seraya mengambil piring kosong. Dan mulai mengisinya dengan nasi dan lauk.


Sementara suara orang saling berbincang dan bersenda gurau masih terdengar dari arah ruang tengah juga ruang tamu.


"Gimana Shaina?" tanya Anja sambil mengisi piring yang telah kosong dengan sesendok nasi lagi.


"Barusan udah tidur."


"Sedih kalau lihat Shaina," gumam Anja. Kali ini sembari mengambil lauk spesial kiriman dari Mamak. Lalu menyimpannya di atas piring.


"Mamanya meninggal waktu melahirkan."


"Istri Om Raka?"


Anja mengangguk, "Terus sama dokter, Shaina divonis autisme."


Ia sampai menghentikan kunyahan untuk mendengarkan kalimat Anja selanjutnya.


"Biasanya kalau lagi kumpul keluarga, Shaina manis kok," lanjut Anja dengan mulut penuh mengunyah makanan.


"Seringnya didampingi sama Suster. Nggak tahu tuh, kenapa hari ini cuma datang berdua aja sama Om."


Ia masih mendengarkan Anja yang menceritakan tentang Shaina dan Om Raka. Ketika Mas Sada dan Teh Dara keluar dari kamar tamu. Kemudian bergabung dengan mereka di meja makan.


Obrolan pun kian mengalir. Meski ia lebih banyak menjadi pendengar setia. Memperhatikan Mas Sada, Teh Dara, dan Anja saling bercerita sambil sesekali tertawa.


Ketika tiba-tiba Mas Tama, yang entah muncul dari mana, datang dan langsung mendudukkan diri di sebelah Mas Sada. Mengambil piring, kemudian mulai mengisi dengan lauk.


Ia masih menjadi pendengar setia kakak beradik itu saling bercanda. Sampai Mas Tama berbicara ke arahnya, "Pak Cipto lagi keluar disuruh Papa."


"Jadi nanti, ibu sama kakak kamu pulangnya sama aku."


Ia bengong sebentar, sebelum teringat dengan, "Makasih, Mas. Tapi Mamak nanti mau bareng sama Om Raka."


Kini Mas Tama yang gantian bengong, "Oh, sama Om Raka ya?"


Ia mengangguk.


Sementara Mas Sada, entah mengapa langsung terbahak dengan puasnya. Bahkan sampai seluruh wajah Mas Sada berubah menjadi merah padam.


"Kurang gercep bos," ujar Mas Sada disela tawa yang tak berkesudahan.


Sedang Mas Tama hanya memasang wajah masam, sembari melanjutkan mengunyah makanan. Sama sekali tak mempedulikan Mas Sada yang terus saja terbahak.


***


Papa Anja


Dengan penuh kehati-hatian, dibukanya kertas sampul cokelat yang menjadi pembungkus. Seketika terlihatlah sebuah buku yang sangat dikenalnya.


Buku salinan BAP.


Yang ia letakkan di lantai meseujid. Sesaat sebelum pergi ke Langsa.


Kedua tangannya mendadak gemetaran. Sementara Niar sedari tadi mengusap punggungnya dengan perlahan. Mencoba memberi kekuatan.


Setelah menghela napas beberapa kali, dibukanya lembar pertama buku bersampul cokelat yang telah lusuh itu. Lembaran kertas bukunya bahkan telah menguning dan kaku. Banyak huruf yang tak bisa terbaca. Akibat tinta yang telah lebur dengan kertas. Hingga hanya membentuk bayang-bayang.


Matanya langsung mendapati sepucuk amplop di lembar ketiga. Yang warnanya juga telah berubah kekuningan akibat dimakan usia. Jenis amplop yang ia ingat betul banyak beredar di akhir tahun 80an.


Ia bahkan harus meneguhkan hati terlebih dahulu sebelum mengambil kertas yang tersimpan di dalam amplop.


Terasa sedikit lembab dan agak sulit untuk dibuka. Dengan lipatan yang terlalu lekat menempel satu sama lain. Mungkin karena belum pernah dibuka sejak pertama melipatnya.


 ----------


Assalamualaikum,


Terimakasih banyak atas seluruh bantuan yang telah diberikan.


Tapi aku harus menyelesaikan sendiri apa yang telah kumulai.


Mohon maaf atas semua kesilapan.


Semoga seluruh anak keturunanmu senantiasa berada dalam lindungan Allah Ta'ala.


Wassalamualaikum,


Hamzah Ishak


 ----------


Kini air matanya tak tertahankan lagi.


Dengan Niar yang semakin mempererat pelukan mereka berdua.


"Beristirahatlah dengan tenang di sisi-Nya," bisiknya dalam hati.


Kini kepalanya mendadak dipenuhi oleh sekelebatan berita. Tentang tersangka 1 yang tewas ditusuk oleh orang tak dikenal di sebuah diskotik di Jakarta.


Lalu tersangka ke 2 yang meninggal dunia tak lama setelah mengalami kecelakaan lalu lintas yang cukup parah.


Tersangka ke 3, belasan tahun kemudian, anak semata wayangnya menjadi korban pemerkosaan dan pembunuhan sesama orang Indonesia yang tinggal di Amerika.


Sementara tersangka ke 4 dan ke 5, meski berhasil memiliki jabatan tinggi dan memperoleh kehidupan nyaman penuh kelimpahan materi.


Namun ia yakin, mereka hanya sedang menunggu waktunya tiba.


Karena tak akan ada yang luput.


Sebab balasan dari keburukan hanyalah keburukan pula.


Dengan tangan yang masih gemetaran, dilipatnya kertas berwarna kekuningan itu. Memasukkannya perlahan ke dalam amplop. Kemudian menutup buku bersampul cokelat. Sembari hatinya melantunkan doa untuk Hamzah,


"Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu."


"Ya Allah, ampunilah dia, berilah dia rahmat, berilah dia kesejahteraan, maafkanlah kesalahannya”.


***


Keterangan :


**. : doa setelah akad nikah yang dianjurkan dilakukan oleh suami terhadap istri.


Yang artinya : "Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan yang Engkau tetapkan atas dirinya."


##. : doa memohon keberkahan dalam rumah tangga.


Yang artinya : "Ya Allah, berkahilah istriku untukku dan berkahilan aku untuk istriku."


©©. : diet di sini adalah untuk anak dengan autisme. Yaitu :


1. Diet gula dan turunananya (sugar free termasuk madu dan kurma)


2. Diet terigu (segala macam bahan terigu dan turunannya (termasuk gandum)


*3. Cassein free (susu dan turunananya, keju, yogurt)



Buah dan sayur fenol tinggi. Seperti : wortel, kentang, tomat, segala macam cabe, kangkung, bayam, dan masih banyak lagi.


Buah seperti pisang, apel, semua jenis anggur, semua jenis jeruk, salak, semua jenis beri, dan masih banyak lagi


5. Diet 4 P (pewarna, perasa, pemanis, pengawet*)



Jika penyandang autisme tidak melakukan diet ketat, maka bisa dimungkinkan akan mengalami tantrum atau efek psikologis lainnya.


Autisme. : gangguan perkembangan serius yang mengganggu kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi. Rentang dan keparahan gejala dapat bervariasi. Gejala umum berupa sulit berkomunikasi, sulit berinteraksi sosial, minat yang obsesif, dan perilaku repetitif.


Ucapan terimakasih tak terhingga untuk Mam Reni 🤗 readers tersayang 🤗 Haturnuhun pisan Mam sudah bersedia menjadi narasumber 🤗 terutama dalam membantu menerjemahkan segala seluk beluk dan karakteristik ABK (anak dengan kebutuhan khusus) terkhusus autisme ke dalam bentuk tulisan 🤗 BIG HUG 🤗