Beautifully Painful

Beautifully Painful
179. Time After Time (4)



Cakra


Ia dan Anja menjalani kehidupan long distance marriage dengan ritme naik turun.


Komunikasi dan kejujuran jelas menjadi pondasi utama.


Tapi tetap saja, prakteknya jauh panggang dari api.


Entah sudah berapa puluh kali mereka bertengkar akibat salah paham. Mulai dari hal paling remeh dan sepele sampai hal yang cukup prinsipil.


Namun yang paling menyedihkan dari perjalanan LDM adalah ketika Aran jatuh sakit. Sementara ia tak bisa langsung pulang ke Jakarta. Sebab banyaknya tugas kuliah yang menumpuk.


Dan dari seluruh perjalanan suka duka menjalani kehidupan terpisahkan jarak, yang paling membekas tentu saja saat Aran harus opname di Rumah Sakit akibat disentri amoeba.


Dalam waktu yang sama Anja juga harus menjalani kuretase, karena terindikasi mengalami blighted ovum (kehamilan kosong).


Sementara ia sendiri justru sedang berada di Jepang. Tak bisa mengajukan perpulangan mendadak saat pertengahan waktu. Sebab tengah mengikuti program Toshiba global internship selama 4 minggu penuh.


Maka minatnya untuk segala sesuatu yang berhubungan dengan studi ke luar negeri sudah menguap, pergi entah ke mana.


Karena tak ingin kejadian yang sama kembali terulang. Saat dimana Anja dan Aran membutuhkan kehadirannya. Tapi ia justru sedang berada di belahan bumi yang berbeda.


Menyedihkan dan benar-benar tak mengenakkan.


Namun pesan chat yang dikirim oleh Pak Warman, dosen pembimbing TA nya dua hari lalu. Ternyata tak bisa diabaikan.


Pak Warman. : 'Hari Jum'at jam 2, datang ke ruang rapat multimedia. Ada pertemuan dengan pihak Fulbright.'


Pak Warman. : 'Saya tunggu.'


Di sana ia bertemu dengan wajah-wajah yang cukup familiar. Mulai dari sesama mahasiswa tingkat akhir sampai beberapa dosen muda.


"Oi, Cakra," seseorang menepuk bahunya.


"Wah, Mas?" ia tertawa begitu menyadari kehadiran Mas Hilmi Azid, salah satu dosen muda paling hits yang ada di jurusannya.


Sambil menunggu acara dimulai, mereka pun berbincang tentang banyak hal. Mulai dari perkembangan TA nya, Fulbright, sampai membahas keluarga masing-masing.


Ya, Mas Hilmi baru saja menempuh hidup baru. Beliau adalah suami dari Saliha. Temannya di keluarga 151 saat OBKM (Orientasi Belajar Keluarga Mahasiswa) dulu.


Namun perbincangan mereka harus terinterupsi. Sebab Mas Hilmi dipanggil ke depan oleh Pak Warman. Bersamaan dengan kehadiran pihak Fulbright.


Begitu Mas Hilmi berlalu, seseorang kembali menepuk bahunya. Kali ini lebih keras.


Ketika menengok ke belakang, sederet wajah familiar lainnya sedang tersenyum lebar.


"Haish," ia tertawa karena mendapati Adit berada di antara Faza dan anak FTMD.


"Udah mutusin mau ke mana?" kini Adit telah pindah duduk di sebelahnya.


Tapi ia menggeleng. Benar-benar tak memiliki gambaran apalagi tujuan.


Berbeda dengan Adit. Bahkan sebelum timeline Fulbright rilis, sudah tahu Universitas mana yang akan dituju.


Ya, hampir semua orang tahu. Sejak masa TDB (Tahap Dasar Bersama), Adit sudah memiliki peta perjalanan hidup sebagai kompas masa depan.


Dan salah satu main goalnya adalah, menyamai pencapaian seorang Dio Kamadibrata. Role model dan kiblat utama Adit dalam meraih cita-cita. Luar biasa.


 ----------------------------------


Ketika orang-orang sibuk menyiapkan berkas seleksi administratif beasiswa. Ia justru berkonsentrasi penuh menyelesaikan TA (Tugas Akhir).


"Surat rekomendasi mau diambil kapan?" tanya Pak Warman melalui sambungan ponsel.


"Sekalian bikin draft untuk rekomendasi kedua dan ketiga," lanjut Pak Warman yakin.


"Nanti tinggal minta tanda tangan Pak Danang sama Pak Marcus."


Ia menelan saliva. Ketika Pak Warman menyebut nama Dekan dan seorang alumni sukses. Sambil memandangi form bertuliskan Fulbright Master's Degree Programs yang masih kosong melompong.


"Lho?" Pak Warman berkali-kali menggelengkan kepala. Ketika mengetahui ia sama sekali belum menyiapkan berkas administrasi.


"Deadlinenya sepuluh hari lagi dari sekarang," Pak Warman masih menggelengkan kepala.


"Ini Pak Danang sama Pak Marcus sudah oke. Tinggal kamu datangi beliau berdua untuk minta tanda tangan."


Ia menelan saliva sebelum menjawab dengan suara tak meyakinkan, "Saya belum memutuskan, Pak."


"Lho?!" Pak Warman semakin terkejut.


"Belum memutuskan gimana?!"


"Essay, proposal riset, semua sudah ada?!"


"Sudah, Pak. Tapi...."


Sejujurnya ia berat untuk mengambil kesempatan studi di luar negeri. Meski baru tahap seleksi administrasi. Belum tentu juga lolos. Apalagi beasiswa Fulbright terkenal cukup bergengsi dan agak sulit untuk ditembus.


Tapi ia tetap harus mendiskusikannya terlebih dahulu dengan Anja. Meski baru tahap mengirimkan syarat administratif.


Apalagi dua bulan ke depan, Anja sudah mulai coas. Lalu berencana melanjutkan ke spesialis.


Jadi, jika ia memasukkan aplikasi beasiswa ini lalu diterima, bisa dipastikan Anja dan Aran tak bisa ikut bersamanya.


Bandung-Jakarta saja sudah membuatnya angkat tangan. Apalagi US-Jakarta.


Pastinya akan jauh lebih sulit.


"Aku lagi jalan ke Jakarta," ucapnya melalui sambungan ponsel.


Terdengar suara terkesiap dari seberang. Dan ini membuat tersenyum senang.


"Abang kebiasaan deh!" gerutu Anja sebal. "Pulang mendadak nggak bilang-bilang!"


Membuatnya membayangkan wajah mengkerut Anja sambil mengu lum senyum.


"Memang Neng cantik masih di RSGM (Rumah Sakit Gigi dan Mulut)?"


"Masih lah!" sungut Anja. "Nih lagi megang pasien!"


"Siapa pasiennya?" ia sontak tertawa. "Kok nggak marah dokternya main ponsel?"


"Ish!" Anja kembali menggerutu.


"Gue pasiennya, Cak!" seru seseorang dari kejauhan. "Gue!"


"Nih gue dibayar berapa yak, mau maunya jadi kelinci percobaan gini," sungut seseorang itu lagi.


Ia pun tergelak. Itu jelas suara Hanum.


"Ketemuan yuk," ia tersenyum sendiri demi membayangkan wajah Anja.


"Masih ada pasien satu lagi!"


"Kalau gitu aku jemput ke sana."


"Memang Abang udah sampai mana?"


Ia melihat ke depan. Di mana terdapat rambu penunjuk jalan, "Bentar lagi keluar Pondok Gede."


"Ya ampuuuun!!" Anja terdengar semakin menggerutu.


"Ini sih bukan lagi jalan!" sungut Anja. "Tapi udah mau nyampai! Ish, dasar! Sukanya ngagetin!"


Ia tergelak, "Aku ke sana?"


"Ke rumah aja, Bang. Aran pasti seneng ayahnya tiba-tiba datang."


Ia tersenyum, "Need to talk (perlu ngobrol)."


Suara di seberang mendadak sepi. Bahkan helaan napas halus pun sama sekali tak bisa terdengar.


"Me too (aku juga)," jawab Anja akhirnya dengan suara ragu.


"Oya?!" matanya langsung membulat. "Pas banget dong kalau gitu."


"Neng cantik mau ngobrol di mana?"


Anja terdengar menghela napas, "Our favorit place (tempat favorit kita)?"


Ia mengernyit, lalu tergelak, "Terakhir kali kamu bilang tempat favorit, aku salah jalan."


"Dasar nggak peka!" rutuk Anja namun masih bisa terdengar oleh telinganya.


"Woiii, Cakra! Buruan ngobrolnya!" seruan Hanum seakan terdengar dari kejauhan. "Mulut gue udah kering nih dari tadi mangap mulu!!"


Ia tergelak, "Pasien ngamuk."


"Ho oh," Anja ikut tertawa.


Lalu berkata dengan riang, "Oke, Abang. Our favorit ya. See you there."


Ia tersenyum sambil mengangguk-angguk. Favorit place huh?


 ------------------------------------------


Tubuhnya seperti dilempar ke masa lalu.


Ketika melihat Anja turun dari Taxi Online dengan langkah tergesa. Mengenakan dress bermotif bunga-bunga kecil warna gelap, dipadu dengan cardigan warna coral. Secara keseluruhan penampilan Anja berhasil membuatnya terpukau. She's beautiful.


Tapi dalam sekejap, kesadarannya kembali terlempar ke masa kini.


Karena Anja tak turun dari Taxi Online, tapi mobil yang dikendarai oleh Pak Cipto. Mengenakan celana panjang dipadu dengan blouse dusty yang cantik, tanpa cardigan untuk menyamarkan kondisi perut seperti waktu dulu.


Namun secara keseluruhan, penampilan Anja terlihat sangat mempesona. She's my wife.


"Tahu juga our favorit tuh di mana," seloroh Anja begitu mendapatinya sudah duduk menunggu di tempat legend.


Yap. Meja yang sama seperti bertahun-tahun lalu. Saat mereka hendak membicarakan tentang kehamilan tak terduga Anja.


Time flies so fast (waktu berlalu begitu cepat).


Tempat yang sama, dengan orang yang sama, namun suasana yang jauh berbeda.


Yeah, kali ini terasa lebih menyenangkan. Jauh berbeda dengan suasana bertahun lalu, yang dipenuhi ketegangan juga ketakutan.


Mereka bahkan tanpa sadar memesan makanan yang sama persis.


"Orange juice dan strawberry pancake," ucap seorang pegawai Cafe sambil menyimpan makanan di hadapan Anja.


"Lemon ice tea dan macaroni schotel," kali ini untuk dirinya.


Begitu pegawai tersebut berlalu, mereka hanya saling berpandangan sambil mengu lum senyum.


Mereka tetap saling menatap dengan senyum tertahan.


"Kali ini aku bener kan tentang our favorit?" ia tak lagi bisa menahan diri.


Anja tetap tersenyum tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Miss you (merindukanmu)," membuatnya mengulurkan tangan untuk mengusap lembut pipi Anja.


Hampir tiga minggu tak bertemu karena kesibukannya menyelesaikan TA, membuat rasa rindu benar-benar menggumpal.


Anja masih tersenyum. Lalu memejamkan mata dan berbisik, "Miss you too (merindukanmu juga)."


Cafe di pinggiran kota di antara deretan pertokoan tua ini masih sama seperti bertahun lalu. Sepi dan minim pengunjung. Satu pembeda mungkin hanya hiburan live music yang sesiang ini sudah tersaji. Berhasil menambah semarak suasana.


Di atas panggung kecil yang dulu hanya ramai di kala malam hari. Kini tengah menampilkan seorang kakek bertopi pet yang sedang menggesek biola dengan segenap hati. Mendayu hingga merasuk ke sukma.


'Lama sudah aku mencari


Ketenangan di dalam diri


Atau tempat pautan hati


Kala ku sendiri'


(Mutiara yang Hilang, Ciptaan : Yessy Wenas dan Dodo/1956)


"Abang mau ngobrol apa?" tanya Anja sambil menyantap strawberry pancake dengan lahap.


"Kamu juga mau ngobrol?" ia balik bertanya.


Anja mengangguk.


"Kalau gitu Neng cantik duluan."


"Curang ih."


Ia tertawa, "Nanti kalau aku duluan, Neng cantik nggak bisa protes lagi."


"No way out (tak ada jalan keluar)," sambungnya sembari menghela napas.


Anja mencibir.


"Serius nih aku duluan?"


Ia mengangguk.


Sementara kakek bertopi pet masih memainkan biola dengan penghayatan penuh.


'Dikaulah mutiara yang lama ku cari


Sekarang berjumpa


Mutiara yang hilang hanyalah kiasan


Tapi dikau orangnya'


(Mutiara yang Hilang, Ciptaan : Yessy Wenas dan Dodo/1956)


Anja terlihat mengambil sesuatu dari dalam tas. Lalu meletakkannya ke atas meja.


Ia mengernyit memandangi kotak kecil berpita kuning yang tersimpan di hadapannya.


"Siapa yang ulang tahun?" tebaknya seraya tersenyum.


Tapi Anja menggeleng, "Nope. Bukan ulang tahun."


Ia mengangkat bahu tanda tak mengerti.


"Coba Abang buka."


Sambil mengernyit, tertawa kecil, sekaligus menggelengkan kepala. Ia meraih kotak tersebut lalu menarik simpul pita.


Dan kernyitan di kening semakin bertambah ketika melihat isinya.


Sebuah print out USG serta kotak kecil berwarna biru yang bagian tengahnya memperlihatkan tanda (+).


Ia memandangi dua benda tersebut dan wajah Anja secara bergantian.


"Finally, our third (anak kita yang ketiga)?" bisik Anja dengan senyum diku lum.


"Udah pakai IUD sekian lama ternyata bisa tembus juga," lanjut Anja setengah menggerutu.


"Gimana kalau nggak pa...."


Anja tak melanjutkan ucapan, karena ia keburu meraih ke dalam rengkuhan.


'Kini aku telah bertemu


Dia yang t'lah lama ku cari


Mutiara yang hilang dulu


Jumpa lagi'


(Mutiara yang Hilang, Ciptaan : Yessy Wenas dan Dodo/1956)


"Abang....," setelah beberapa menit, Anja berusaha untuk melepaskan diri. "Malu dilihat orang."


Ia menengadah menatap mata Anja yang dipenuhi binar bahagia, "I love you."


Tapi Anja justru mengendikkan bahu, "Malu, Abang ih."


"Kamu pergi ke dokter sendiri?" tanyanya setelah kembali duduk.


Anja menggeleng sambil memotong pancake di atas piring, "Ditemani sama Kak Pocut."


Ia tersenyum mengangguk, "Berapa bulan?"


Anja balas tersenyum, "Enam minggu."


"Sekarang tujuh lebih," lanjut Anja cepat.


Ia kembali mengangguk.


"Sekarang giliran Abang," Anja tersenyum menatapnya. "Ada hal penting apa sampai pulang mendadak?"


Ia tergeragap. Lalu berusaha tersenyum, "Cuma mau bilang....."


Ia menelan saliva sebentar.


"TA ku hampir beres. Kemungkinan bisa ikut wisuda April."


Mata Anja membulat, "Alhamdulillah. Senangnyaaa."


"Selamat, Abang."


Ia tersenyum mengangguk.


"Terus?" Anja menatapnya penuh selidik.


"Terus?" ia justru mengulangi kalimat Anja dengan gugup.


"Terus apalagi?" Anja semakin menatapnya curiga.


Ia berdehem dan menelan saliva dalam waktu singkat, "Udah. Itu aja."


 ----------------------------------------


Pak Warman mengerutkan dahi dan menatapnya tak percaya, "Yakin nggak akan ambil Fulbright?"


Ia mengangguk, "Yakin, Pak."


"Mohon maaf sebelumnya untuk surat rekomendasi yang sudah Bapak berikan."


"Nggak masalah itu," Pak Warman menepiskan tangan.


"Saya hanya menyayangkan kesempatan yang terbuka lebar justru nggak kamu ambil."


Ia mengangguk mengerti, "Saya nanti ambil yang dari Ristek Dikti saja, Pak."


"Nggak mau keluar?" suara Pak Warman meninggi.


"Jepang mungkin. Apa Jerman?"


"Untuk rekomendasi nanti saya kasih lagi."


"Termasuk dari Pak Danang sama pak Marcus."


Ia tersenyum untuk sopan santun, "Untuk saat ini, saya...ambil master yang di dalam negeri saja, Pak."


***


Keterangan :


(Tanya) : Mengapa Anja sudah memakai IUD tapi bisa hamil?


(Jawab) : Dalam mencegah kehamilan, IUD memiliki tingkat kegagalan kontrasepsi kurang dari 1%, artinya hanya 1 dari 100 wanita pakai KB spiral yang bisa hamil setiap tahunnya.


Sayangnya, meski tergolong sangat jarang, seorang wanita bisa hamil. Dan dapat terjadi pada wanita yang sedang pakai IUD, baik hormonal maupun non-hormonal.


Risiko hamil atau tidak menstruasi setelah memakai IUD bisa terjadi pada tahun pertama pemasangan. Kondisi ini dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti:


1. Posisi IUD bergeser


2. IUD hormonal belum mulai berfungsi


3. IUD telah melewati batas kadaluwarsa


4. Pabrikan/kit insert (produk gagal) 1 dari 125


Intinya alat kontrasepsi tidak 100% efektif. Sekitar 98-99% efektif mencegah kehamilan. Ini termasuk untuk pemakaian pil, susuk, suntik, dan pengaman.


Dan kasus tembusnya IUD (bisa hamil) itu 1 banding 100. Jadi, kebanyakan aman/berhasil. So, don't worry untuk memakai alat kontrasepsi ya readers tersayang 🤗.


(Sumber : seorang bidan merangkap dosen, situs hellosehat.com).


Ucapan terimakasih tak terhingga untuk Mom Dyani 🤗 readers tersayang yang telah bersedia menjadi narasumber.


BIG HUG 🤗