
( III )
Cakra
Ia sedang merapikan barang-barang pribadi miliknya. Memasukkan seluruh barang tersebut ke dalam dua buah box warna cokelat pemberian dari Rival.
Satu box berisi tumpukan map dan file penting terkait dengan pekerjaan. Sementara box lainnya berisi sajadah, seperangkat alat tulis kantor, buku agenda, frame bergambar lukisan foto keluarga, mug favorit, dan cenderamata pribadi pemberian dari para rekanan.
"Yang ini jangan ketinggalan, Bang," Rival mengangkat sebuah plakat berlogo University of Tokyo. Yang menuliskan nama lengkapnya di sana.
Kenang-kenangan ketika mengikuti kerjasama riset dengan beberapa ilmuwan dari Tokyo Uni.
Ia menerima plakat dari tangan Rival. Lalu memasukkannya ke dalam box. Memastikan itu adalah barang pribadi terakhirnya di ruangan ini.
"Saya tunggu di luar, Bang," Rival menunjuk tangan ke arah pintu keluar. "Kali-kali Abang mau privat farewell."
Ia tertawa, "Oke, Val."
Begitu Rival menutup pintu. Ia kembali mengambil duduk. Di atas kursi kerjanya selama dua tahun terakhir.
Diedarkannya pandangan ke seluruh ruangan. Masih seperangkat sofa yang sama seperti kali pertama ia masuk ke ruangan ini.
Termasuk layout ruangan, furniture pelengkap, hiasan dinding, dan detail kecil lainnya.
Yang membedakan hanyalah seperangkat alat multimedia dan elektronik paling mutakhir. Berfungsi sebagai penunjang utama dalam melakukan tugas dan pekerjaannya.
Kini matanya tertumbuk pada bingkai yang menggantung di salah satu sisi dinding ruangan. Berisi foto dan daftar nama pengampu jabatan deputi dari waktu ke waktu.
Membuat ingatannya melayang pada pertemuan dengan Dio di sebuah tempat makan, hampir tiga atau empat bulan yang lalu.
Dio, meskipun mereka telah saling mengenal sejak duduk di bangku kuliah. Namun posisi di tempat kerja, secara struktural hanyalah sebagai pimpinan dan staf.
Mereka hanya bertemu ketika rapat terbatas, rapat koordinasi, rapat kerja, dan rapat-rapat lainnya.
Namun Dio yang terkenal sangat tertutup untuk urusan di luar pekerjaan. Tiba-tiba memintanya untuk bertemu secara pribadi.
"Ini bukan keputusan mudah."
"Tapi pilihan hanya satu."
Ia mengangguk mengerti. Mereka berdua termasuk jenis orang yang sama. Meletakkan kepentingan keluarga di strata tertinggi.
Hanya tak pernah menduga. Keputusan yang Dio ambil akan secepat dan seekstrim ini. Termasuk pernyataan Dio selanjutnya yang cukup mengejutkan.
"Pak Presiden meminta beberapa nama kandidat."
Dio tersenyum, "Ini hak prerogatif sebenarnya. Saya nggak ada kewajiban untuk memberitahu yang bersangkutan."
"Tapi kamu perkecualian."
"Saya sangat berharap, kamu mulai menyiapkan diri dari sekarang."
Ia menghembuskan napas panjang. Demi mengingat perjalanan napak tilas karier sebagai seorang peneliti. Yang dimulai dari tingkatan paling bawah. Merangkak sampai bisa menduduki jabatan struktural. Mulai dari Kabid (Kepala Bidang). Kemudian Kapus (Kepala Pusat).
Lalu ditarik ke Jakarta sebagai Direktur Riset. Hingga sekarang menjadi Deputi.
Meskipun banyak suara sumbang di luaran. Mengomentari tentang jenjang karier strukturalnya yang melampaui pencapaian rekan satu angkatan.
"Rasanya koneksi paling penting."
Begitu yang sering ia dengar.
"Struktural kan bukan jabatan keilmuan. Bukan ilmiah. Dimana saja sama saja."
"Even orang yang nggak kompeten juga bisa duduk di sana."
Sejujurnya, ia sama sekali tak memiliki koneksi di lembaga tempatnya kini bernaung. Meskipun ia memang mengenal baik dengan beberapa peneliti utama yang menduduki jabatan struktural. Tapi hanya karena mereka berasal dari almamater yang sama.
"Bang!" kepala Rival menyembul dari balik pintu. Sekaligus membuyarkan lamunannya.
"Jangan lupa janji jemput Kak Anjani di Klinik."
Ia melihat pergelangan tangan kanan, "Oke, Val. Thank you."
Rival jelas aspri paling cekatan yang telah menjadi kepercayaannya selama dua tahun terakhir. Ia bahkan sudah mempertimbangkan masak-masak untuk membawa serta Rival pindah ke lantai 25. Ke ruangan kantornya yang baru.
"Val?" namun sebelum Rival menutup pintu untuk yang kedua kali, ia lebih dulu memanggil.
"Ya?"
"Saya sendiri yang jemput istri. Kamu boleh pulang."
"Baik, Bang. Makasih."
"Oya, tahu rute paling cepat ke Klinik yang lewat toko florist nggak?"
***
Anja
Ia tersenyum lebar ketika mendapati kepala Cakra yang muncul dari baik pintu.
"Dokter gigi Anjani Prameswari?" ucap Cakra dengan jenis suara dalam dan berat. Yang bahkan telah menjadi favoritnya sejak kali pertama.
"Apaaa?" cibirnya sambil terus membereskan tumpukan kertas laporan.
Tapi Cakra tak langsung mendekat. Tetap berdiri di balik pintu dengan senyum terkembang.
"Masih sibuk, Neng?"
Ia tertawa. Dengan tangan masih bergerak aktif mengelompokkan laporan sesuai dengan peruntukannya.
"Siniiii....," ia kembali mencibir namun dengan senyum diku lum.
"Di depan...kok rame banyak yang antre?" tangan Cakra menunjuk ke arah ruang tunggu.
"Tapi segar bugar nggak kelihatan sakit."
Ia tertawa, "Biasa itu."
"Biasa gimana?" Cakra mengernyit sambil memasuki meeting room. Lalu menutup pintu dan menguncinya.
Klik.
"Korban viral sosmed," ia menggelengkan kepala.
"Ada orang yang ngirim foto Janardana pakai baju ijo ke akun sosmed."
"Trus dikasih caption, dokter ganteng," ia kembali tertawa sambil menggelengkan kepala.
"Jadi viral deh. Tiap hari banyak yang datang ke sini cuma buat ngecengin Janardana."
Cakra mengernyit lalu tertawa, "Janardana bukannya adik tingkat kamu?"
Ia mengangguk, "Tadi udah pesen ke yang jaga di depan. Kalau bukan mau berobat nggak akan dikasih masuk."
Ia hampir menyelesaikan tumpukan kertas yang terakhir. Ketika Cakra mendekat. Lalu membungkuk di hadapannya. Seraya mengulurkan tangan kanan. Yang sejak awal memasuki meeting room selalu tersembunyi di belakang punggung.
Mengangsurkan setangkai mawar merah yang masih segar padanya.
Ia mencibir, menggelengkan kepala, tersipu malu, sekaligus tertawa hanya dalam waktu singkat.
Tapi sambil meraih mawar tersebut dari tangan Cakra yang tersenyum simpul.
"Makasih," gumamnya setengah mencibir.
Cakra, meskipun selalu bersikap baik padanya. Jelas bukan tipikal romantis yang mendayu mengharu biru.
Selama hampir lima belas tahun menikah, bisa dihitung dengan jari berapa kali Cakra pernah menghadiahinya bunga.
Kebanyakan terjadi di masa kuliah sarjana. Ketika mereka masih sering bertengkar hanya karena hal remeh dan miskomunikasi sepele. Maka Cakra akan meluluhkannya dengan segepok bunga dan sedikit sentuhan manis.
Trik yang so yesteryear, right?
Tapi of course, it's always work.
Namun ketika Cakra sudah mulai bekerja di Lembaga Sains. Disibukkan dengan berbagai riset dan penelitian. Terkadang sampai harus melakukan kunjungan ke luar negeri selama jangka waktu tertentu.
Sementara ia sendiri tengah sibuk menjalani coas di RS Bhayangkara Kartika, Bandung. Dilanjutkan dengan mengambil program spesialis. Mengharuskan mereka kembali menjalani long distance marriage Jakarta-Bandung.
Keromantisan dan segala turunannya sudah tak lagi menjadi prioritas baginya.
Terlebih saat ia mengadu pada Teh Dara jika sedang bertengkar dengan Cakra. Tapi Teh Dara justru membisikinya dengan hal-hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.
"Setelan laki-laki dan perempuan itu sudah beda dari sananya, Ja," begitu kata Teh Dara.
"Jadi mau segimana romantisnya atau selama apapun hubungan kita sama pasangan, miskomunikasi itu pasti akan tetap ada."
"Sampai kapanpun."
"Hanya kadarnya yang berbeda."
"Bagi pasangan yang sama-sama mau belajar dan bertumbuh. Miskomunikasi di tahun pertama dan miskomunikasi di tahun ke sepuluh, pasti rasanya akan jauh berbeda."
"Beda dari cara menyikapinya. Menyelesaikannya. Mengclearkannya."
"Kalau di tahun-tahun pertama mungkin kita akan ngambek marah-marah. Ujung-ujungnya bertengkar sama pasangan."
"Wajar ya namanya masa adaptasi. Masih menyesuaikan diri dengan pribadi yang pastinya jauh berbeda."
"Tapi nanti, di tahun kelima atau keenam dan seterusnya. Kalau memang hubungan yang kita jalani sehat dan seimbang. Reaksi yang muncul biasanya akan berbeda."
"Jadi lebih ke yang...oh, oke, masih bisa dimaklumi."
"Atau yang...ini harus dibicarakan dari hati ke hati nih sampai tuntas. Biar nggak jadi masalah lagi di kemudian hari."
"Nanti kamu pasti akan ngerasa bedanya. Feel dan intuisi kamu akan terasah dengan sendirinya. Kapan harus anggap angin lalu atau deep talk.
"Ja, selama Cakra bersikap baik dan bertanggung jawab sama kamu dan anak-anak."
"Selama Cakra nggak melakukan hal yang mencederai janji pernikahan."
"Selama Cakra bisa berlaku layaknya sebagai seorang pemimpin dalam rumah tangga."
"Itu sudah memenuhi level tertinggi sikap seorang pria dalam berumahtangga."
Jadi, ketika sekarang Cakra kembali memberinya setangkai bunga mawar yang indah dan segar. Bisa dipastikan Cakra sedang berada dalam suasana yang luar biasa.
"Mau dibantuin nggak?"
Pertanyaan Cakra yang kini telah duduk di sampingnya berhasil membuyarkan angan tak berujung.
Ia tersenyum, "Mau dibawa pulang ke rumah."
Cakra mengernyit, "Baru tahu kalau dokter juga ngerjain laporan keuangan."
Ia tertawa. Karena Cakra berhasil membaca judul laporan, yang berada di tumpukan paling atas.
"Ini buat dikirim ke Dikara. Sebelumnya selalu aku cek ricek dulu. Khawatir ada yang kurang atau terlewat."
"Nggak ada auditor intern? Minimal orang keuangan."
Ia mendesis, "Iya. Iya. Ada."
"Nah," Cakra tersenyum penuh kemenangan.
"Tapi aku harus mastiin sendiri ka....," ia tak melanjutkan kalimat.
Karena kini Cakra tengah menatapnya tajam. Namun dengan senyum diku lum. Ciri khas Cakra jika sedang membujuknya.
"Iya deh, iya," desisnya setengah mencibir. "Nanti aku kirim ke orang keuangan buat di cek."
Cakra menganggukkan kepala dengan senyum terkembang, "That's my girl (itu gadisku)."
Ia kembali mencibir. Tapi sambil menciumi setangkai mawar segar pemberian dari Cakra. Yang mengeluarkan aroma harum penuh kesegaran.
"Harusnya aku yang ngasih Abang hadiah."
"Noted," Cakra mengangguk. "Tonight (malam ini)?"
Membuatnya tertawa seraya memukul lengan Cakra. Mereka sudah belasan tahun menikah, tapi pesona dewa angin puyuh tetap tak terbantahkan. Luar biasa.
"Selamat ya, Bapak Kepala BRTN," kerlingnya sambil terus menghirup keharuman bunga mawar segar.
"You deserve it aaaalllll (kamu pantas mendapatkan semuanya)."
"Sekarang saatnya mengenang malam-malam panjang aku sendiriiii....," ia menirukan nada lagu lawas yang sangat hits pada jamannya.
"Gara-gara dicuekin di depan laptop....," sambungnya cepat
Membuat Cakra sontak tergelak.
"Minggu-minggu sepi karena Abang harus riset, pelatihan, whatever you name it di belahan dunia nun jauh di sana."
Cakra kembali tertawa.
"Juga gosip yang beredar...kalau Abang bisa duduk di struktural karena koneksi."
Cakra menggeleng. Tapi sambil meraih tangannya lalu menggenggam erat.
Hingga sentuhan telapak tangan lebar dan besar itu, dalam sekejap telah berhasil menyebarkan rasa hangat, ke seluruh bagian tubuhnya tanpa kecuali.
"I love you....," bisik Cakra sembari menatap kedua matanya lekat-lekat.
"Terimakasih banyak Anjani Prameswari...."
"Sudah datang ke Retrouvailles malam itu."
Ia mendadak tercekat mendengar kalimat yang Cakra ucapkan.
"Terimakasih banyak sudah membuatku jatuh cinta."
"Terimakasih banyak untuk kesabaran dan pengertiannya selama ini."
Kedua matanya bahkan sudah memanas tanpa bisa dicegah.
"Terimakasih banyak untuk wajah asem, manyun, ngamuk-ngamuk...."
Ia memukul dada Cakra sambil setengah menangis.
"Terimakasih untuk kado terindahnya. Aran, Ankaa, Ei, Eltan...."
"New baby soon to be (bayi baru dalam waktu dekat)?" imbuh Cakra cepat setengah berseloroh setengah memohon.
Membuatnya kembali berniat untuk memukul dada Cakra. Namun sebelum tangannya terayun, Cakra telah lebih dulu meraihnya ke dalam rengkuhan.
"Thanks for being mine (terimakasih telah menjadi milikku)....," bisik Cakra seraya mencium keningnya dalam-dalam.
------------------------------------
Ia memperhatikan seantero ruang tengah rumah Mas Tama dengan mata menghangat.
Dari tempat duduknya bisa terlihat dengan jelas. Mas Tama, Mas Sada, dan Cakra, tengah mengobrol sambil sesekali tertawa lepas.
Pemandangan menyenangkan yang sebenarnya sudah sering dilihatnya sejak bertahun-tahun silam.
Meski di awal, ia bukannya tak tahu, jika Mas Tama dan Mas Sada belum sepenuhnya bisa menerima keberadaan Cakra di keluarga mereka. Entah apa alasannya. Ia pun tak pernah bisa memahaminya.
Tapi sejak Cakra mengalami kecelakaan motor di Bandung. Disusul kehilangan terbesar dengan perginya pahlawan keluarga.
Kemudian sesudahnya, kesedihan dan masalah seolah terus saja datang silih berganti menimpa mereka tiga bersaudara. Ditambah kejadian tak terduga yang baginya cukup menakutkan.
Sikap Mas Tama dan Mas Sada terhadap Cakra berangsur membaik. Ia bahkan tak lagi bisa mengingat, kapan tepatnya Mas Sada bisa mengobrol dan terbahak bersama Cakra di teras samping rumah. Atau Mas Tama yang selalu mempercayakan setiap urusan penting keluarga kepada Cakra.
Ia kembali memandangi dua kakak laki-laki terhebat, yang selalu hadir di momen penting kehidupannya. Dengan penuh atensi tengah mendengarkan Cakra, yang sedang berbicara secara berapi-api. Namun sedetik kemudian, tiga pria tercintanya itu telah tergelak bersama. Dengan gaya khas Mas Tama jika sedang membalas selorohan orang lain.
Tanpa sadar, seulas senyum merekah dengan sendirinya.
Terlebih ketika ia melempar pandangan ke sisi lain ruang tengah. Dimana istri Mas Tama dan Teh Dara sedang asyik mengobrol sembari tertawa riang.
Secara refleks membuat matanya terpejam dengan sendirinya. Kemudian menarik napas dalam-dalam. Mengisi rongga dada dengan udara yang diselimuti aroma kebahagiaan. Berusaha menahannya selama mungkin. Lalu menghembuskannya secara perlahan.
Seraya membisikkan doa terbaik untuk Papa dan Mama.
Karena berkat kelapangan hati beliau berdualah mereka bisa menikmati kebahagiaan ini. Senantiasa bersabar dalam mendampingi dirinya, Mas Tama, juga Mas Sada. Melalui lika liku kehidupan yang tak selamanya indah dan menyenangkan.
"Anjani?"
Ia membuka mata dan melihat istri Mas Tama telah duduk di sebelahnya.
"Ada yang mau ngobrol sama Tante kesayangannya tuh," istri Mas Tama tersenyum seraya menunjuk pada putri Mas Tama. Yang tengah berdiri menunggunya seraya menyunggingkan seulas senyum.
"Tante Anja...kita ngobrol di atas yuk. Ada banyaaaaak yang mau aku tanyain."
Ia menyusut sudut mata sebentar. Lalu tersenyum mengangguk, "Ayo. Siapa takut."
Lalu meraih putri Mas Tama ke dalam rengkuhan. Sama-sama berjalan ke lantai atas.
"Mau nanya apa sih?" tanyanya penasaran.
"Ada deh, Tan. Aku udah bikin listnya."
"Kereeen ... sampai dibikin list segala?" ia tertawa.
Putri Mas Tama mengangguk dengan penuh keyakinan, "Iya dong. Tante Anja kan idolaku dari dulu."
"Aiiiih....," tawanya kian meledak.
Ya. Mereka memang baru saja membicarakan tentang rencana pernikahan putri Mas Tama. Yang akan dilangsungkan bulan depan. Menjadi alasan utama Mas Tama dan istri memintanya, Cakra, Mas Sada juga Teh Dara untuk berkumpul.
Mendadak?
Pastinya.
Karena, putri Mas Tama yang cantik dan salihah. Yang senantiasa menjaga diri dan nama baik keluarga. Telah dipinang oleh seorang pemuda bertanggungjawab yang juga pandai menjaga diri.
Pernikahan harus segera dilakukan. Karena dalam jangka waktu empat bulan ke depan, kedua mempelai sudah harus terbang jauh ke negeri Paman Sam. Sebab sang pemuda akan melanjutkan studi di negara adidaya tersebut.
Sungguh kisah cinta yang indah bukan?
Seindah kebahagiaan tak bertepi, yang kini tengah memenuhi tiap relung hatinya.
------------------------------------
"Demi Allah, saya bersumpah bahwa saya, akan setia kepada UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945, serta akan menjalankan segala peraturan perundang-undangan, dengan selurus-lurusnya, demi darma bakti saya kepada bangsa dan negara."
"Bahwa saya dalam menjalankan tugas-tugas dan jabatan, akan menjunjung tinggi etika jabatan, bekerja dengan sebaik-baiknya, dengan penuh rasa tanggung jawab." ©©
Ia merasa sedang jatuh cinta lagi. Bahkan berkali lipat. Pada sosok tegap berdasi merah dan berjas hitam, yang baru saja mengucapkan sumpah jabatan.
Setitik air mata kembali lolos tanpa bisa dicegah. Demi teringat kilasan satu tangan kokoh dengan jemari panjang, yang seakan bergerak slow motion. Meletakkan piring berisi sandwich tuna, yang masih mengeluarkan asap dan wangi bawang di hadapannya.
"Ini pesanannya. Sandwich tuna dan teh chamomile hangat."
"Lo kenapa basah kuyup begini? Kehujanan?"
"Keberatan gue duduk di sini?"
Ia bahkan hampir terisak. Andai saja tak ada seseorang yang bicara padanya.
"Bu Anjani, silakan bergabung dengan Bapak. Untuk menerima ucapan selamat."
Usai pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan, ia mendampingi Cakra melakukan seremoni serah terima dengan pejabat sebelumnya.
Dilanjutkan dengan acara ramah tamah di lingkungan BRTN.
Bukan hal baru memang. Karena Cakra sudah berkantor di sini sejak empat tahun yang lalu. Ruang kerja Cakra bahkan hanya berpindah dari lantai 20 ke lantai 25.
-------------------------------
Ia menyapukan pandangan ke seluruh sudut halaman belakang rumahnya yang tak terlalu luas, dengan hati meluap-luap.
Hampir seluruh keluarga, sahabat, dan teman baik saat ini tengah berkumpul.
Suara obrolan dan gelak tawa orang dewasa. Juga teriakan anak-anak yang berlarian dengan riang gembira kesana kemari. Kian menambah semarak suasana.
Di kursi teras duduk Mamak yang senantiasa menebar senyum penuh kebahagiaan.
Sementara di sudut sebelah sana ada Mas Tama dan Mas Sada sekeluarga. Tengah berbincang dan tertawa dengan saudara, sepupu, dan kerabat.
Lalu di sudut lainnya berkumpul teman-teman sekolahnya. Ada Bening yang sedang hamil besar dan selalu mengomeli suaminya.
"Kan aku udah bilang suruh bawa kipas elektrik!" sungut Bening. "Panas tahu kalau kelamaan di luar."
"Kamu sih! Apa-apa lupa! Selalu lupa!"
"Sama istri sendiri jangan-jangan lupa lagi!"
"Iya, Ma. Aku beliin yang baru ya. Tunggu!" jawab suami Bening yang dengan sigap langsung melesat keluar.
Diam-diam ia berdoa, semoga suami Bening bisa menemukan apa yang dicari. Serem juga jika melihat cara mengomel Bening pada suaminya.
"Kuat dia," seloroh Cakra yang rupanya juga sedang memperhatikan Bening dan sang suami.
"Jagoan. Tahan banting."
"Udah bucin akut."
Ia hanya tertawa sambil menggelengkan kepala, "Ngenes banget sih yang jadi suami si Bening. Diomelin mulu."
Selain Bening, juga ada Hanum dan suami, Dipa dan istri, yang baru saja dikaruniai putri kedua. Cantik sekali putri Dipa. Ia jadi ingin terus menggendongnya.
"Dip, pinjem baby lo buat tidur di rumah gue ya," selorohnya tiap kali berpapasan dengan Dipa.
Tak ketinggalan trio Sunter. Sidik yang jauh-jauh datang dari Garut. Karena sekarang menetap dan memiliki usaha di tanah kelahiran sang istri.
Juga Theo yang...wow, dengan penuh percaya diri membawa serta dua istrinya sekaligus.
"Abang!" ia memperingatkan Cakra. "Lain kali tolong kasih tahu Theo. Nggak usah propaganda di acara orang lain."
Cakra hanya terkekeh, "Biarin. Kita lihat sampai mana dia kuat jabanin dua istrinya sekaligus."
Ia mencibir sebal.
Suasana semakin meriah dengan kehadiran teman-teman Cakra. Teman dekat saat kuliah, teman kerja, teman riset.
Termasuk teman-temannya beserta pasangan dan keluarga masing-masing. Airin, Nessa, Tamim cs, teman-teman dari Klinik. Juga rekanan dari Rumah Sakit tempat ia memiliki jadwal praktek.
Teh Juju sekeluarga yang sengaja datang dari Bandung. Juga Teh Cucun sekeluarga, yang sejak pagi telah berjibaku mempersiapkan semuanya untuk menyambut para tamu. Tak ketinggalan Ucup ikut membawa serta istri dan anaknya.
Semua berkumpul dalam suasana penuh suka cita.
Ia masih menyapukan pandangan ke tiap sudut halaman belakang. Ketika Cakra meraih bahunya dan berbisik, "Sekarang?"
Ia tersenyum mengangguk.
Ting! Ting! Ting!
Cakra memukulkan sendok ke sisi gelas hingga menimbulkan suara berdenting. Berhasil menghentikan keriuhan hanya dalam hitungan detik.
Kini Cakra tersenyum seraya meraih tangannya lalu menggenggam erat. Sementara ia sambil menggendong Eltan. Dengan Aran, Ankaa, dan Ei yang berdiri di depan mereka.
"Untuk seluruh keluarga, sahabat, rekan, kerabat....," begitu Cakra mulai berbicara.
"Saya, Teuku Cakradonya Ishak, beserta istri tercinta...."
"Anjani Prameswari," sambung Cakra seraya tersenyum memandangnya.
"Juga keempat putra putri kami," kini sebelah lengan Cakra memeluk Aran dari belakang.
"Putra pertama kami, Teuku Aldebaran Ishak."
"Putri kedua kami, Cut Ankaa Adara," sambung Cakra seraya mengusap kepala Ankaa dengan penuh sayang.
"Putri ketiga, Cut Seika Aludra," Cakra juga mengusap kepala Ei yang tengah memamerkan senyum merekah pada semua orang.
"Dan putra keempat kami, Teuku Eltanin Ishak," Cakra mencium pipi bulat Eltan yang seperti tomat.
"Mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas seluruh support, dukungan, dan semua kebaikan yang telah diberikan pada keluarga kami."
"Dari lubuk hati yang paling dalam, kami senantiasa berdoa, semoga semua yang ada di sini, berada dalam lindungan dan limpahan kebahagiaan."
"Aamiin....," gumam hampir semua yang hadir.
"Sekali lagi terimakasih....," kini Cakra menangkupkan kedua tangan di depan dada seperti orang sedang memberi salam.
Yang diikuti oleh anak-anak.
Kemudian Cakra melambaikan tangan kepada semua yang hadir.
Pun diikuti oleh anak-anak.
"Sampai jumpa di lain waktu. Yang pastinya tak kalah membahagiakan dari saat ini."
Dalam sekejap, suara tepuk tangan terdengar bergemuruh memenuhi udara di halaman belakang rumah.
Diselingi dengan suitan dari teman-teman Cakra yang lumayan bocor.
Cakra masih melambaikan tangan pada semua orang.
Lalu menoleh ke arahnya seraya tersenyum penuh arti, "I love you."
"Love you more," bisiknya cepat dengan air mata berlinang.
---------------------END-------------------
***
Keterangan :
©©. : lafal sumpah menteri. Dikutip dari Gatra.com
Arti dari nama anak-anak Anja-Cakra bisa dilihat di Bab From Cakra ❤️Anja with love 🤗.