Beautifully Painful

Beautifully Painful
59. Love Has No Reason (4)



Anja


Cakra menatapnya dengan ekspresi paling aneh yang pernah ada. Gabungan antara kaget, tak menyangka, surprise, namun juga ingin tertawa. Semua campur-campur menjadi satu.


"Kenapa?!" tanyanya cemberut demi melihat reaksi Cakra yang jauh diluar ekspektasinya. Sama sekali tak romantis. Cenderung gugup malah.


"Kok bisa sampai sini?"


See?! Cakra bahkan mengulangi pertanyaan yang sama. Benar-benar tak memiliki kreativitas sama sekali. Huh!


"Ya bisa lah!" sungutnya mulai kesal. "Aku kan punya mulut! Bisa nanya!"


Sontak membuat Cakra tertawa demi mendengar jawaban judesnya.


"Maksudnya....ini kan di sekolah?" Cakra mengernyit heran.


"Emang kenapa kalau di sekolah?!" salaknya sengit.


"Kamu bukannya nggak mau rahasia kita terbongkar?" kali ini Cakra mengucapkan kalimat dengan setengah berbisik.


"Kalau teman-teman kamu tahu, sekarang kita lagi di Perpus cuma berdua begini, bisa bisa...."


"Bisa bisa apa?!" salaknya lagi. Untung saja di ruangan audio visual hanya ada mereka berdua. Jadi, ia tak perlu merasa khawatir ada orang lain yang merasa terganggu dengan suara penuh emosionalnya.


"Eh! Kamu tahu nggak sih?!!" sambungnya cepat masih dengan nada menghentak. "Aku tuh perjuangan banget bisa sampai disini!"


Kedua bola mata Cakra sontak membulat begitu mendengar penuturan berapi-apinya.


"Mesti nanya ke Gamal yang lagi duduk-duduk di sarang penyamun!" sungutnya sebal.


"Itu tuh kebiasaan cowok IPA6 yang bikin selasar jadi rasa gang senggol!"


Membuat Cakra mulai mengu lum senyum.


"Terus habis itu nanya ke Pak Mukti!" ia memberengut. "Sampai harus bohong segala!"


Kening Cakra mengernyit, "Bohong kenapa?"


Tapi ia tak menjawab. Lebih memilih untuk menuntaskan kekesalan. "Tapi begitu nyampai ke Aula," ia semakin mengerucutkan mulut. "Eh, kalian malah udah pada pergi!"


Cakra tak lagi mengernyit, justru kembali mengu lum senyum.


"Untung aja ketemu Juna di kantin!"


"Jadi tahu kalau kamu di sini!"


"Kalau enggak, mungkin sampai besok juga aku nggak bakalan bisa ketemu sama kamu!" pungkasnya jelas sedang hiperbola.


Namun Cakra tak berkomentar apapun, terus saja mengu lum senyum mungkin sampai akhir dunia.


Membuatnya makin memandang sebal ke arah Cakra, "Eh, begitu ketemu orangnya malah diketawain!"


"Siapa yang ngetawain, Ja?" Cakra mulai angkat bicara. Ya, tentu saja sambil tetap tersenyum. Apa namanya kalau bukan ngetawain?


"Itu!" tunjuknya gusar ke wajah Cakra. "Bukannya lagi ngetawain?!"


"Ja?" Cakra menggelengkan kepala.


"Ternyata semua usaha yang kulakukan sia-sia!" desisnya semakin meradang. "Tahu gitu nggak usah nyariin kamu!"


Dengan gerakan yang sama sekali tak terduga, Cakra mengulurkan tangan kemudian menangkup sebelah pipinya lembut, "Makasih udah nyariin."


Sontak membuat besi panas yang menghiasi kepalanya mendadak meleleh tanpa ampun. Merubah air mendidih yang meletup-letup dalam sekejap menjadi dingin dan menyejukkan.


Ajaib memang, karena sentuhan lembut Cakra secara kilat berhasil menghilangkan amarah sekaligus menenangkan dirinya. Oh My!


"Sampai muterin satu sekolah," Cakra menggelengkan kepala tanda tak setuju.


Sembari mengusap pipinya halus melalui ujung jempol, dengan empat jari Cakra lainnya mengelus bagian belakang telinga dan lehernya. Sungguh gerakan yang sangat manis.


Sejak awal ia bahkan sama sekali tak menolak sentuhan lembut yang berasal dari telapak tangan lebar dan besar milik Cakra di pipinya. Terasa begitu hangat dan menenangkan. Sekaligus menghantarkan sengatan arus listrik tegangan tinggi yang menggelenyarkan seluruh sel-sel dalam dalam tubuhnya. Deeply.


Seketika menimbulkan rasa senang, damai, sekaligus menentramkan bagi keseluruhan dirinya. Ibarat semua nuansa positif berkumpul menjadi satu kemudian membuncah. Sungguh membuatnya benar-benar menikmati momen langka dan menentramkan seperti yang sedang terjadi sekarang ini.


Hmm, bisakah usapan lembut ini berlangsung selamanya?


Pastinya tidak.


Jelas-jelas semua harapan semu ini hanya khayalannya belaka. Yang benar saja. Mereka bahkan tengah berada di dalam Perpustakaan yang dikelilingi oleh CCTV di tiap sudutnya. Akan sangat riskan jika Cakra terlalu lama menyentuhnya. Bisa menimbulkan kesalahpahaman bagi siapapun yang melihat mereka saat ini. Dan pastinya berujung menjadi benang kusut. Ruwet untuk diluruskan.


Kenyataan ini membuatnya memutar bola mata sambil mencibir. Sekedar untuk mengalihkan konsentrasinya agar tak merealisasikan keinginan gila menahan telapak tangan Cakra untuk selama mungkin berada di pipinya. Insane, Anja!


Dan begitu Cakra melepaskan sentuhan, dalam sekejap telah meninggalkan satu ruang kosong di hatinya. Well done, Anja!


"Maaf, tadi pagi aku nggak bilang dulu kalau mau pulang."


Ia mengangguk mengerti, "Babe Syafi'i meninggal kenapa?" tanyanya turut bersimpati. "Waktu hadir di acara pernikahan kita kelihatan masih segar bugar."


"Menurut diagnosa dokter serangan jantung," jawab Cakra.


"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un," gumamnya sedih.


"Kalau cerita dari Ustadz Arif, Babe mau baca Al-Qur'an di Masjid jam tiga an."


"Yang suka disiarin pakai speaker Masjid buat bangunin orang-orang itu."


Ia mengangguk mengerti.


"Tapi baru mau ke tempat microphone, Babe kesandung karpet. Arah jatuhnya terjembab ke depan, pas kena dada."


Keningnya kembali mengernyit sedih.


"Sebenarnya pasca jatuh Babe masih sadar, masih bernapas meski berat dan satu-satu."


"Tapi saking paniknya, orang-orang di Masjid mutusin buat nelentangin Babe di lantai Masjid."


"Niatnya mau menolong. Tapi nggak ada yang tahu ilmu tentang pertolongan medis pertama untuk cedera akibat kecelakaan jatuh yang dialami Babe."


"Sampai akhirnya Babe kehabisan napas."


"Mungkin karena shock juga."


"Terus meninggal."


Ia menganggukkan kepala berkali-kali tanda mengerti dengan ekspresi penuh penyesalan.


"Kok tahu kalau aku telat?" kali ini tatapan Cakra melembut.


Membuatnya mengerucutkan bibir sembari menundukkan kepala. "Aku lihat kamu lagi dorong motor."


"Dimana?" kening Cakra mengernyit. Sambil meraih botol minuman isotonik yang tadi disimpannya di atas meja.


"Di deretan ruko dekat BLI," jawabnya dengan bibir yang masih cemberut.


"Oh," Cakra mengangguk. "Tapi aku nggak lihat mobil kamu?"


"Padahal di depan BLI agak macet kan tadi?" Cakra mengernyit.


Ia kembali mengerucutkan bibir, "Aku nggak berangkat sama Pak Cipto."


"Emang Pak Cipto kemana?"


"Kata Bi Enok, habis kamu pulang ke rumah, Pak Cipto dapat telepon dari keluarganya. Kalau ibunya masuk ICU. Jadi langsung pulang ke Rangkas."


Cakra menghembuskan napas, "Innalilahi."


"Terus kamu tadi berangkat sama siapa?"


"Dipa."


Suasana mendadak sunyi. Hanya terdengar suara udara berhembus halus yang berasal dari AC di ruangan seluas 100 meter persegi ini. Kebisuan yang tiba-tiba membuat otak jahilnya kumat.


"Kenapa diam?" tantangnya sambil mencibir. "Nggak boleh berangkat sama Dipa?!" tanyanya dengan gaya menyebalkan.


Namun Cakra hanya tersenyum seraya menggelengkan kepala, "Boleh."


"Hah?!" kini ia justru melotot kaget. "Kok cuma gitu sih jawabannya?!"


"Cuma gitu gimana?" Cakra mengernyit tak mengerti.


"Padahal aku sengaja bilang biar kamu marah!" sungutnya sebal karena tujuan utama gagal total.


"Tapi kamunya malah cuek begitu!" ia memberengut kesal.


Membuat Cakra kembali mengusap pipinya lembut. Yes! It's work! Kepala berasapnya dalam sekejap berubah menjadi sesejuk udara pagi.


"Marah juga percuma, Ja."


"Kenapa percuma?!?"


"Kamu juga semalam nggak marah waktu aku bilang habis nganterin Salma."


"Eh!" ia melotot marah. "Jangan mengalihkan pembicaraan!"


"Kita lagi bahas jawaban kamu! Bukan bahas aku!"


"Lagian pede banget nebak semalam aku nggak marah?!" sungutnya sebal. "Aku marah banget tahu!"


"Aku juga barusan mau marah," ujar Cakra cepat. "Tapi kan udah lewat kejadiannya. Percuma marah juga. Nggak bakal bikin kamu cancel berangkat sama Dipa."


Ia sudah mau membuka mulut untuk menyahut, namun Cakra telah lebih dulu kembali berkata, "Lagian kalau kamu nggak berangkat bareng Dipa, malah bisa telat ke sekolah."


"Mau? Dijemur di lapangan basket sama bersihin Aula yang luasnya sealaihim gambreng?"


Ia hanya tertawa sumbang mendengar penuturan Cakra. "Tahu ah! Sebel!"


Namun Cakra justru tersenyum seraya mengangkat botol minuman isotonik kearahnya. "Two in one nih?"


"Bisa nemuin aku sekaligus nyelundupin minuman ke dalam Perpus?"


"Ketahuan Miss Agnetta bisa di setrap kamu."


Ia hanya mencibir, "Kalau yang tugas jaga Perpus Kak Surya sama Kak Acha sih cincai. Miss Agnetta siang-siang begini sih lagi sibuk sendiri."


Memancing tawa Cakra yang sedang meneguk minuman isotonik hingga tersedak dan terbatuk-batuk.


Ia pun kembali mencibir, "Makanya, kalau minum jangan sambil ketawa!"


Cakra mengusap mata yang berair akibat tersedak barusan sambil berkata, "Makasih minumannya."


Tapi ia masih saja cemberut. Bersamaan dengan terdengarnya alunan instrumental piano Fur Elise dari audio Perpustakaan, tanda jika waktu istirahat telah usai.


Cakra tersenyum menatapnya, "Udah masuk."


"Terus?!" tanyanya menantang.


"Kamu harus balik ke kelas, Ja."


Tapi diluar kesadaran diri, ia justru menggelengkan kepala, "Males ah! Tadi aja dua intensifikasi nggak konsen!"


"Mendingan di sini!" ujarnya sambil mengedarkan pandangan ke seantero ruang audio visual yang terasa nyaman.


Namun Cakra menghembuskan napas panjang sembari mengulurkan tangan untuk mengusap pipinya perlahan, yang lagi-lagi tak ditolaknya.


"Kamu siswa baik, Ja. Nggak boleh alpa."


"Ayo ke kelas sekarang juga."


Membuatnya melotot marah.


"Atau mau kutemenin jalan ke kelas?" tawar Cakra seraya mengerling.


"Iya! Iya!" sungutnya sebal karena kalah telak. Diantar ke kelas oleh Cakra sama saja dengan bunuh diri. Bisa-bisa gossip tentang mereka berdua langsung menyebar di seantero sekolah. Jangan sampai!


Ketika ia hendak bangkit dari duduk, Cakra tersenyum senang lalu berkata, "Nanti pulangnya aku tungguin."


"Kamu nggak kerja?"


Cakra menggeleng, "Libur."


"Tumben libur?" ia mencibir. "Bukannya lagi ngejar absensi biar nggak banyak yang bolong?"


"Motor barusan diambil sama orang bengkel langganan dekat rumah. Nggak tahu beres kapan."


"Lagian anak-anak lagi full team. Jadi aku ijin juga nggak ngaruh."


"Terus, dua hari ini kamu tidurnya selalu tengah malam. Nggak baik buat orang hamil," gumam Cakra dengan suara lirih.


"Jadi, malam ini kita mau latihan. Kalau kamu bisa tidur sendiri tanpa nungguin aku pulang."


"Idih, amit-amit!" semburnya sebal. "Siapa juga yang nungguin kamu pulang?!?"


"Ge-er banget sih jadi orang!"


Namun Cakra hanya tersenyum simpul menanggapi kekesalannya. Membuatnya buru-buru bangkit dari duduk dan berjalan ke luar. Namun sebelum menutup pintu kaca ruang audio visual masih sempat mendengar suara Cakra berkata,


"Hati-hati, Ja."


"Jalannya lihat ke depan."


"Awas kesandung."


Awalnya ia menggerutu panjang pendek begitu mendengar ucapan Cakra yang gaje. Tapi lama kelamaan justru tersenyum-senyum sendiri. Sampai-sampai membuat beberapa siswa yang kebetulan juga hendak keluar dari Perpustakaan menengok heran kearahnya.


***


Cakra


Begitu Anja keluar dari ruang audio visual, ia langsung tersenyum-senyum sendiri sembari menggelengkan kepala.


"Anja...Anja....," gumamnya dengan hati membuncah.


Bisa berubah sikap 180° hanya dalam waktu kurang dari sehari. Keajaiban dalam semalam. Padahal ia masih bisa mengingat kemarahan Anja tadi malam. Yang terus saja menggerutu tak tahu juntrungan.


 ----------


"Kamu tuh bikin mood aku jadi jelek tahu nggak sih?!"


"Udah mau tidur juga bukannya ngomong yang indah indah malah cerita yang begituan!"


"Kalau aku jadi makin susah tidur gara-gara cerita barusan, kamu mau tanggung jawab?!"


"Ya udah, sekarang kamu maunya gimana?" tannyanya dengan kepala hampir meledak.


"Kamu tuh!" Anja justru makin gusar begitu mendengar pertanyaannya. "Kebiasaan malah balik nanya!"


"Aku kan nggak tahu mesti ngapain, Ja," gumamnya sudah kehabisan akal.


Ingin rasanya berteriak marah lalu pergi menjauh. Namun begitu mengingat ada seorang makhluk mungil tak berdosa yang tanpa sengaja telah ia titipkan di diri Anja. Juga pesan Mamak dan Kak Pocut yang seakan kuat terpatri di dalam kepala, "Perlakukan Anjani dengan baik." Maka ia pun mencoba untuk menahan diri.


"Makanya, aku tuh nanya karena nggak tahu kamu maunya apa," ujarnya berharap bisa sedikit mengurangi kemarahan Anja.


"Kamu kalau ditelepon atau di chat, balas dong!" bentak Anja gusar.


"Ponsel seharian di loker, Ja."


"Kalau mau pulang telat tuh kasih kabar dulu kek! Biar nggak nunggu-nunggu!" lanjut Anja lagi tak kalah gusar.


"Tadi aku udah nelpon tapi kamunya reject terus."


Anja tiba-tiba terdiam tapi dengan wajah tetap cemberut. Membuatnya inisiatif bertanya, "Jadi dibacain cerita?"


Namun Anja tak menjawab, justru turun dari tempat tidur.


"Mau kemana?" tanyanya heran.


"Makan!" jawab Anja ketus. "Lapar banget."


Ia pun berjalan mengikuti Anja dari belakang.


"Biiii!" teriak Anja begitu mereka keluar dari dalam kamar.


"Eh," cegahnya kaget. "Kenapa manggil Bibi?"


Anja melotot kesal, "Aku kan mau makan! Emang siapa yang mau bikinin kalau bukan Bi Enok?!"


"Aku," jawabnya cepat. "Aku mau bikinin kamu makan."


Namun Anja mendengus tak percaya.


"Mau dibikinin apa?" tanyanya sungguh-sungguh.


Dan lima belas menit kemudian ia sudah berada di dapur tengah memanaskan macaroni bolognese dan bakso goreng request Anja.


Untungnya hanya tinggal memanaskan, tak harus membuat terlebih dahulu. Karena kulkas setinggi badan orang dewasa yang ada di dapur rumah Anja ternyata tak lebih dari gudang penyimpanan makanan siap saji.


Disana terdapat bertumpuk-tumpuk box mulai dari makanan khas beberapa daerah yang cukup terkenal di Indonesia sampai jenis makanan Eropa yang sulit pengucapannya.


Isi kulkas di rumah Anja bahkan bisa dihidangkan untuk menjamu orang se RT karena saking banyaknya.


Setelah acara panas memanaskan beres, ia segera membawa sepinggan macaroni bolognese dan sepiring bakso goreng yang menguarkan aroma lezat ke arah meja makan. Namun ternyata Anja sedang duduk di sofa ruang tengah sembari menggonta-ganti chanel televisi.


Begitu ia menyimpan makanan di atas meja, Anja langsung mengambil sebutir bakso goreng sebesar kepalan tangan orang dewasa dan melahapnya.


"Makasih," ujar Anja tetap cemberut.


"Lapar beneran?" tanyanya heran. "Tadi udah makan malam belum?"


Namun Anja hanya mencibir sambil terus melahap bakso goreng, sama sekali tak terlihat akan menjawab pertanyaannya.


"Kamu suka sama semua hal yang berbau bakso ya?" tanyanya benar-benar ingin tahu.


Tapi lagi-lagi Anja tak menjawab. Bertepatan dengan habisnya sebutir bakso goreng. Kini Anja tengah menyesap air putih yang dibawanya. Kemudian beranjak pergi.


"Eh?" membuatnya terperanjat. "Udahan?" tanyanya heran.


"Kenyang."


"Ini masih banyak?" tunjuknya ke arah sepinggan macaroni bolognese yang masih mengepulkan asap dan tiga butir bakso goreng. "Siapa yang makan??"


"Kamu!" jawab Anja sambil memberengut. "Udah ah, aku mau tidur!"


Sambil berdecak kesal diambilnya semua makanan dari atas meja, bermaksud memasukkannya kembali ke dalam kulkas.


"Masih mau dibacain cerita nggak?" teriaknya sembari berjalan ke dapur.


Yang dijawab dengan anggukan kepala Anja.


 ----------


Kini ia kembali tersenyum sendiri demi mengingat Anja yang langsung terlelap setelah ia membacakan dua halaman di Bab 26. "Satu-satunya yang kuinginkan!"


 ----------


"Mereka lucu-lucu ya!" Totto-chan merasa belum pernah melihat binatang yang begitu lucu dan menggemaskan. Ia pun berjongkok di dekat kotak itu.


Ditatapnya wajah damai Anja yang telah terlelap sembari menggelengkan kepala. Apa selalu sesulit ini menghadapi kamu? batinnya lelah.


Saking lelahnya ia pun memutuskan untuk beristirahat sejenak. Meletakkan kepala yang terasa berat di sisi tempat tidur Anja. Merasakan betapa halus dan lembutnya kain bed cover milik Anja. Sekaligus menghirup keharuman aroma khas yang sering ia jumpai ketika berdekatan dengan Anja. Aroma harum vanila yang memabukkan.


Tak pernah mengira akan tertidur di sisi Anja hingga esok pagi. Harus terbangun akibat getaran ponsel yang menggelepar-gelepar tanda ada panggilan masuk.


Kak Pocut Calling


Dengan gugup diangkatnya telepon, "Ya Kak?"


Kak Pocut memberitahukan berita duka tentang meninggalnya Babe Syafi'i. Membuatnya harus bergegas untuk pulang ke rumah. Agar bisa ikut menyolatkan namun tak harus terlambat masuk sekolah.


Tapi sayang beribu sayang. Motor tuanya tak bisa diajak untuk bekerja sama sampai di sekolah tepat waktu. Tiba-tiba mogok hampir empat kilometer sebelum ia sampai di sekolah. Nasib.


Setelah meminggirkan motor, ia sempatkan untuk memeriksa bensin dan kompresi. Dua-duanya aman. Namun ketika mengecek busi, membuatnya kehilangan semangat. Karena tak keluar percikan api sama sekali. Padahal kemarin ia sempat memeriksa, busi masih melentikkan percikan warna merah (masih dalam toleransi). Dan sangat berharap bisa bertahan minimal sampai akhir bulan. Tapi ternyata tidak.


Mengharuskannya mendorong motor sejauh hampir empat kilometer jauhnya hingga sampai di sekolah. Yang akhirnya sudah bisa ditebak, ia terlambat masuk sekolah dan mendapat hukuman.


Tapi tentu tak ada kejadian yang sia-sia di dunia ini. Ia boleh saja kehilangan satu hari tak dapat mengikuti intensifikasi. Namun ia justru bisa mengerjakan sesuatu yang lain. Yang lebih penting.


Seperti sekarang ini. Ia tersenyum puas menatap layar flat panel yang tengah menampilkan sebuah situs.


Masih ada waktu kurang lebih dua jam ke depan hingga bel pulang sekolah berbunyi. Masih banyak kesempatan baginya untuk menyelesaikan misi.