Beautifully Painful

Beautifully Painful
176. Time After Time



Readers tersayang 🤗,


(maapkeun author nongol lagi 😁✌️, semoga enggak bosan 😁🙈 salim atu atu 🙏)


Saat ini, ibaratnya kita sedang berada di akhir sebuah film. Tengah menayangkan beberapa potongan kecil scene yang menggambarkan perjalanan menuju epilog.


Seperti inilah gambaran dari beberapa bab terakhir 🤗.


Tadinya mau dijadikan 1 bab.


Tapi ternyata kurang enjoy waktu di reread 😁. Asa kumaha kitu 🤔.


Mungkin karena time line yang meloncat-loncat jauh dan tidak saling berkaitan satu sama lain.


Jadi, author putuskan untuk dipisah per scene saja ya.


Dan karena ini hanyalah potongan story, jadi harap maklum 🤗....kalau jumlah katanya pendek. Tak sepanjang bab utama 😇.


Semoga masih bisa dinikmati.


Dan tetap berkenan di hati 🤗.


Happy reading 🤗.


***


...Setelah musim berganti,...


...waktu terus berjalan.......


Cakra


Ia menundukkan kepala dalam-dalam dengan rahang kaku dan mengeras.


Sementara Anja, sejak awal Papa bercerita, bahkan sudah terisak-isak dalam pelukan Mama.


"Sekarang...Papa sudah lega."


"Ibaratnya...hutang Papa sudah lunas...."


Ia menelan saliva, yang terasa sedang meluncur melewati tenggorokan penuh onak dan duri.


"Sudah tenang kalau sewaktu-waktu Papa pergi...."


"Papa....," Anja langsung menghambur ke dalam pelukan Papa. Demi mendengar Papa mengucapkan kalimat yang sama secara berulang.


Seolah itu merupakan isi hati Papa yang terdalam. Pertanda tak mengenakkan.


"Papa masih sehat," bisik Anja di sela isakan. "Katanya Papa ingin kita sekeluarga umroh sama-sama."


"Papa harus sehat," bisik Anja lagi.


Ia pun kembali menelan saliva dengan hati bergemuruh.


Tentang ayah yang tak pernah ia ingat sosoknya. Tentang ayah yang bahkan begitu ia benci ketika masa pencarian jati diri.


Karena selama ini ia berpikir, semua keburukan yang menimpa diri dan keluarganya adalah buah dari perbuatan ayah di masa lalu. Yang memilih jalan menjadi seorang pengkhianat negara.


Tapi tanpa dinyana. Kisah yang baru saja Papa Anja ceritakan, justru membuat pandangannya terhadap ayah berbalik 180 derajat.


Bahkan dalam sekejap, telah berhasil menumbuhkan rasa cinta yang begitu mendalam.


Cinta yang sejatinya sudah ada sejak dulu, namun terhalang oleh rasa marah.


Cinta dari seorang anak untuk ayahnya.


Kini ia memberanikan diri untuk menatap Papa Anja.


"Kamu beruntung Cakra, menjadi anak dari seorang Hamzah Ishak."


Lagi-lagi ia harus menelan saliva, demi menahan agar genangan di pelupuk mata tak berubah menjadi linangan.


"Karena kamu, benar-benar mewarisi hati dan jiwa seorang pejuang tangguh seperti Hamzah."


Kepalanya sontak tertunduk demi mendengar kalimat yang diucapkan oleh Papa Anja. Lengkap dengan setetes air mata yang berhasil lolos sebab tak bisa tertahan lagi.


Sungguh ia merasa tak pantas untuk disejajarkan dengan ayah. Yang memiliki kisah hidup jauh lebih mengenaskan, lebih tragis, dan lebih bergelimang luka dibandingkan dirinya.


"Tapi...di balik semua musibah yang menimpa Anja....," Papa mengusap kepala Anja dengan penuh kasih sayang.


"Papa bersyukur karena orang itu adalah kamu, Cakra."


Ia memandang Papa Anja tak mengerti.


"Karena Papa yakin, Anja bersama orang yang tepat."


Kalimat sarat makna yang Papa Anja ucapkan hampir membuat bendungan air matanya jebol. Menjadikannya harus berusaha keras menguatkan diri dan hati agar tak turut larut dalam suasana.


"Terimakasih sudah datang di kehidupan kami," kini suara Papa Anja terdengar lebih dalam dibandingkan sebelumnya.


"Papa titip Anja...."


"Tolong jaga Anja dan Aran baik-baik...."


"Papa percayakan mereka berdua sama kamu."


Ia mengangguk dengan hati bergejolak tak karuan. Seraya memandangi Anja yang masih terisak dalam pelukan Papa.


Sementara Mama yang tengah mengusap lengan Anja, tersenyum sambil menganggukkan kepala ke arahnya.


***


Keterangan :


Time after time. : dari waktu ke waktu