
........Flashback........
Cut Sarah
Air matanya mengalir deras bak air bah. Mulutnya bergetar ketakutan sembari terus menggumamkan dzikir.
Ketika mobil mendadak berhenti. Lalu pria yang mengancam lehernya dengan belati menarik tubuhnya dengan kasar agar segera keluar dari mobil. Kemudian tiga pria sekaligus menyeret paksa dirinya memasuki sebuah rumah.
Ia ingin berteriak sekencang-kencangnya melampiaskan amarah. Tapi yang keluar dari mulut hanya suara lirih yang gemetaran sebab ketakutan.
"A-apa...y-yang...s-sedang...k-kalian...l-lakukan?!"
"A-aku...t-tak a-ada...s-salah...a-apapun!"
"DIAM!!" bentak pria yang menyeret lengan kanannya.
"Kau memang tak ada salah, cantik," seloroh pria yang berjalan paling depan. Mendadak membalikkan badan hanya untuk mencekik lehernya.
"Hanya ingin tahu...."
"Abang kau yang terkenal itu....
"Yang sok jagoan...."
"Apa bisa menyelamatkan adik bidadarinya ini...," ucap pria tersebut sembari meludah ke sembarang arah.
"Dan Abang kau yang sok jago itu!" kini pria lain ikut mendesak ke arahnya dengan mata penuh amarah.
"Apa bisa melawan kami?! Hahahahaha....."
Lalu tubuhnya didorong ke sudut ruangan dengan kasar hingga membentur dinding. Dengan lima pria asing yang berdiri menjulang mengelilinginya.
"Cut Sarah....," pria bertubuh tegap yang tadi menyetir mobil menjadi orang pertama yang melangkah maju mendekatinya.
"Gadis secantik bidadari...."
"Kau milikku sekarang!"
Saat ini ia adalah domba lemah yang tersudutkan, rapuh, tak berdaya sekaligus dicekam ketakutan.
Tengah menunggu datangnya algojo. Untuk menariknya memasuki masa paling kelam.
Dan ketika binatang buas lagi ganas, jelmaan iblis paling jahanam mulai menerkamnya.
Kelopaknya mendadak terpejam. Sementara deraian airmata penuh amarah campur kesedihan terus mengalir.
Bibirnya tiada henti memohon perlindungan. Menggumamkan kalimah suci meminta pembelaan.
Sementara benaknya dipenuhi oleh bayangan wajah almarhum Ayah yang sedang tersenyum penuh keteduhan. Tengah mengajarinya membaca kitab berbahasa Melayu dengan aksara Arab.
Namun wajah teduh Ayah mendadak menghilang. Berganti dengan rasa sakit yang teramat sangat. Membuatnya berusaha menggelengkan kepala keras-keras. Tapi,
PLAK!
Rasa pedas dan sakit tiba-tiba mendera pipi kanannya.
"DIAM!!" teriak binatang buas yang kini tengah menguasai dirinya.
"JANGAN RUSAK KESENANGANKU DENGAN TANGISANMU!!!"
Ia domba terluka sekarang. Sakit, pedih, dan terhina.
Ia hanya bisa memejamkan mata erat-erat. Tak sudi menyaksikan kebejatan para binatang berwujud manusia yang sedang menggagahinya.
Lalu sebuah bayangan lain kembali memenuhi benaknya. Mengisi relung hati dengan segenap rasa.
"Kaleu pajoh bu (sudah makan belum)?" menjadi pertanyaan yang paling sering Mamak lontarkan.
"Jak pajoh bu (ayo makan)."
Tapi kenyataan justru kembali menghempaskannya pada rasa sakit tak tertahankan. Bagai tercerabutnya kuku-kuku secara perlahan dari tiap jemari.
Namun lagi-lagi seraut wajah kembali memenuhi benaknya.
"Adek lon sayang (adikku sayang)," begitu Bang Hamzah biasa memanggilnya.
"A-abang....," bisiknya di sela rasa sakit dan derai air mata.
***
Teuku Hamzah Ishak
Hari sudah gelap. Ia baru pulang dari Meseujid (masjid) usai mengikuti sholat Maghrib berjama'ah. Ketika Ida menyambut di depan pintu dengan raut cemas.
"Sarah belum balik."
Membuat Mamak yang sedang mengaji di ruang tamu menghentikan bacaan Qur'annya.
"Mungkin diantar Teungku Imum dan adiknya sebentar lagi," seru Mamak berusaha menenangkan. Lalu kembali melanjutkan bacaan Qur'annya.
Ia menatap Ida yang menggelengkan kepala dengan wajah memohon sembari berbisik, "Perasaanku tak enak. Tolong susullah dia."
Dan ketika 15 menit kemudian Sarah tak kunjung pulang. Ia segera menyambar itangen (sepeda) warna hitam dengan tulisan Phoenix di rangkanya peninggalan almarhum Ayah.
Dengan tergesa dikayuhnya itangen menembus kegelapan malam.
"Ho jak (mau ke mana)?!" seru beberapa orang ketika mereka berpapasan di jalanan yang sepi.
"Meunasah Teungku Imum," jawabnya sembari mempercepat kayuhan pada pedal itangen. Melewati ladang yang luas dan gelap gulita. Lalu deretan sawah yang sunyi sepi. Hanya terdengar suara binatang malam dan hembusan semilir angin.
Namun ketika ia sampai di meunasah,
"Sarah sudah pulang dari senja tadi," jawab Teungku Imum dengan wajah bingung.
"Sarah belum sampai di rumah kah?!" tiba-tiba istri Teungku Imum menyeruak keluar.
"Belum," jawabnya dengan hati was-was. "Jam berapa Sarah balik?"
"Usai mengajar langsung balik," jawab istri Teungku Imum dengan wajah pias. "Sekitar jam lima lebih, hampir setengah enam."
Ia melihat pergelangan tangan kanan tempat arloji terpasang. Sekarang jam 18.50 WIB. Sudah terlalu lama jaraknya dari jam setengah enam sore. Dan seharusnya Sarah sudah sampai di rumah sejak sejam yang lalu.
"Sudah kularang dia untuk jalan pulang sendiri," ujar istri Teungku Imum dengan nada penuh penyesalan. "Karena hari sudah hampir gelap."
"Biar nanti selepas Maghrib diantar oleh Abang dan Dekgam," lanjut istri Teungku Imum sambil menghela napas.
"Tapi Sarah mau cepat-cepat balik ke rumah."
"Katanya rindu ingin segera bertemu denganmu."
Ia menelan ludah yang mendadak terasa pahit. Dua hari lalu ketika pergi ke Darulaman untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan. Ia memang tak sempat berpamitan pada Sarah. Karena keburu dijemput oleh Umar dan Azis.
Tanpa berkata Teungku Imum segera masuk ke dalam rumah.
"Mau apa, Bang?" tanya sang istri bingung.
"Kita harus cari Sarah," jawab Teungku Imum cepat. "Ini sudah tak wajar."
Teungku Imum segera meraih bambu sepanjang tiga ruas yang telah diisi minyak tanah dan disumpal sabut kelapa sebagai sumbu. Kemudian menyalakannya dengan menempelkan sumbu pada obor yang telah menyala di depan rumah.
"Kita berpencar!" ujar Teungku Imum sambil menyerahkan obor padanya yang mendadak gugup.
"Aku kumpulkan warga di meunasah dulu!" lanjut Teungku Imum sembari meraih tak-tok (kentongan) yang tergantung di samping pintu. Lalu memukulnya keras-keras sebanyak dua kali secara berulang-ulang. Pukulan tak-tok jika terjadi pencurian atau perampokan.
"Na pu (ada apa)?!" seru para warga yang mulai berdatangan dan berkumpul di depan meunasah.
"Mana pencurinya?!?"
"Bukan pencuri," jawab Teungku Imum lantang. "Tapi orang hilang."
Jantungnya langsung berdegup kencang dan hatinya mendadak tercabik begitu mendengar kalimat yang diucapkan oleh Teungku Imum.
Ada orang hilang.
Sarahnya hilang. Adek lon sayang.
Ia dan beberapa orang termasuk Azis kebagian mencari ke arah barat. Menyusuri sepanjang jalan utama menuju rumahnya.
Sementara Teuku Imum dan kelompoknya menembus ladang gelap di sebelah utara. Sedangkan dua kelompok lain mencari ke arah timur dan utara.
Sambil terus memukul tak-tok, mereka meneriakkan nama Sarah berkali-kali. Berharap dengan cara ini Sarah bisa segera mereka ketemukan.
TOK! TOK! TOK! TOK! TOK! TOK! TOK! TOK!
"SARAH!!! DIMANA KAU!!"
TOK! TOK! TOK! TOK! TOK! TOK! TOK! TOK!
"SARAH!!!"
TOK! TOK! TOK! TOK! TOK! TOK! TOK! TOK!
"SARAH!!! KAMI DATANG MENCARIMU!!"
***
Teungku Imum
Semalaman mereka mencari keberadaan Cut Sarah. Menembus ladang yang gelap, menyusuri area persawahan yang membentang luas, memutari jalan utama hingga berkali-kali. Tapi tetap tak berhasil menemukan keberadaan Cut Sarah.
Menjelang Subuh mereka akhirnya menyerah. Namun bertekad untuk melanjutkan pencarian keesokan hari. Sekaligus melapor ke petugas di Polsek Idi Rayeuk.
Kini para warga yang membantu pencarian telah kembali ke rumah masing-masing. Sementara ia masih menunggu di rumah Hamzah. Sembari berharap keajaiban akan datang. Yaitu Cut Sarah pulang ke rumah dalam keadaan sehat dan selamat.
Ia menganggukkan kepala ketika menerima segelas air yang diulurkan oleh Hamzah. Sementara Cut Kak Ida mendampingi Ma Wa Ruqoyya (Mamak Hamzah) yang terus menangis sepanjang malam. Sembari lisannya tak lepas menggumamkan dzikir.
"Astaghfirullahal'adzim......"
"Astaghfirullahal'adzim......"
"Lā haula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil azhīmi..." ##
"Aku takkan bisa memaafkan diri sendiri jika sesuatu yang buruk terjadi pada Sarah," gumam Hamzah dengan rahang mengeras.
"Kita berdoa yang baik-baik saja. Dan berharap semoga segera Allah kabulkan," jawabnya dengan suasana hati yang tak menentu.
Selepas Subuh, ketika ia hendak pamit pulang. Sebelum nanti kembali melakukan pencarian. Tiba-tiba seorang warga berlari ke rumah Hamzah sambil menunjuk-nunjuk ke arah utara.
"Ada yang datang!"
Dari kejauhan terlihat sekitar empat sampai lima orang pria sedang menarik gerobak kayu yang biasa dipakai untuk membawa hasil panen.
"Dekat pematang sawah di Alue Dalam."
"Awalnya kami tak bisa mengenali. Tapi di dalam tas yang tergeletak tak jauh dari gadis itu....."
"Ada sebuah buku bersampul yang di dalamnya tertulis nama Teuku Hamzah Ishak."
"Jadi kami bawa kemari."
"Mungkin ada hubungannya dengan Hamzah."
Dengan setengah berlari ia segera mendekati gerobak kayu yang baru saja memasuki halaman rumah Hamzah. Tapi langsung memalingkan muka begitu mengetahui isinya.
"Astaghfirullahal'adzim."
"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un....."
***
Setyo Yuwono
Hari Sabtu
Hari keempat mereka berdinas di Banda Aceh. Dari rencana awal enam hari yang telah dijadwalkan. Pimpinan tiba-tiba memerintahkan mereka untuk segera pulang ke Idi Rayeuk.
"Kita pulang malam ini."
"Ada kasus baru yang mendesak."
Dan diantara mereka tak ada satupun yang berani bertanya perihal kasus apa yang terdengar begitu mendesak. Hingga mereka harus pulang malam ini juga. Terlebih ketika mendapati ekspresi wajah pimpinan yang tegang sepanjang perjalanan pulang menuju ke Idi Rayeuk.
"Kasus tak main-main pasti," bisik Hatta yang hanya dijawab dengan anggukan kepala olehnya.
-------
Hari Minggu Malam
Ia sama sekali tak pernah menyangka. Sesampainya mereka di Idi Rayeuk, pimpinan meminta Syamsul untuk mengarahkan kemudi menuju ke rumah Hamzah. Bukannya ke Aspol atau kantor.
"Kenapa pula kemari?" bisik Hatta ke arahnya.
"Terlebih dahulu kita ucapkan belasungkawa untuk keluarga Hamzah," ujar pimpinan begitu Syamsul mematikan mesin kendaraan.
"Setelah itu langsung bergerak."
"Maaf, Pak," ia memberanikan diri untuk bertanya. "Mengapa kita harus mengucapkan belasungkawa pada keluarga Hamzah?"
Pimpinan menghembuskan napas panjang lagi berat seraya berkata, "Hari Jum'at pagi, adik perempuan Hamzah ditemukan tewas di pinggir jalan dekat area persawahan." ®®
Ia terkejut bagai disambar petir di siang bolong.
Lalu pimpinan menatap mereka berempat secara bergantian, "Hamzah sudah sangat sering membantu tugas kita."
"Kini giliran kita membantunya."
"Kita harus bisa menyelesaikan kasus ini hingga tuntas."
"Kejar sampai dapat!"
"Siap!" jawab mereka serempak.
Dengan wajah kuyu dan letih usai menempuh perjalanan sejauh hampir 400 Km, mereka mengetuk pintu rumah Hamzah yang tertutup rapat.
Tapi begitu pintu dibuka, ternyata ada banyak orang di dalam rumah. Terhitung ada beberapa pria dan wanita dewasa. Tengah duduk melingkar di atas tikar daun pandan yang sengaja digelar memenuhi ruang tamu. Sementara kursi dan meja ditumpuk di salah satu sudut.
Namun ia tak menemukan sosok Mamak Hamzah ataupun Hamzah diantara orang-orang yang tengah duduk melingkar.
"Ma Wa sedang kurang sehat," terang Teungku Imum. Pria yang sering menjadi Imam maupun khatib sholat Jum'at di surau dekat kantor.
"Dalam sehari bisa puluhan kali pingsan kalau mengingat tentang Sarah," lanjut Teungku Imum dengan wajah murung.
Ketika pimpinan masih bercakap-cakap dengan Teungku Imum dan beberapa pria yang merupakan kerabat dari keluarga besar Hamzah. Ia beringsut keluar saat melihat istri Hamzah dan beberapa wanita pergi ke samping rumah.
"Di mana Hamzah?"
Dengan mata memerah akibat terlalu banyak menangis. Istri Hamzah mengarahkan telunjuk ke sebelah timur. Dimana meseujid berada.
Ia mengangguk dan berterimakasih. Lalu bergegas menuju ke meseujid yang hanya berjarak puluhan meter dari rumah Hamzah.
Setelah melepas sepatu dan mencuci kaki di kolam depan meseujid, ia memberanikan diri untuk masuk ke dalam. Dimana sesosok punggung tengah terpekur menghadap kiblat. Ia pun mengambil duduk tepat di belakangnya.
"Kami pasti akan membantumu," ujarnya pelan.
Namun Hamzah tak bergeming. Tetap menghadap kiblat. Sama sekali tak menghiraukannya.
"Pelaku perbuatan biadab ini pasti akan kami temukan," lanjutnya lebih kepada diri sendiri.
Ketika ia merasa Hamzah benar-benar tak mengharapkan kehadiran orang lain. Ia pun bangkit dan berbalik pergi.
Namun sebelum ia berhasil mencapai pintu, Hamzah berkata dengan suara yang hampir tak terdengar, "Kau berjanji?"
"Apa?" ia membalikkan badan agar bisa menghadap ke arah Hamzah.
"Kau berjanji akan menyeret mereka semua ke meja hijau?!"
Ia menatap mata Hamzah yang penuh luka akibat diliputi kesedihan teramat sangat sekaligus amarah. Lalu mengangguk dengan sangat yakin, "Aku berjanji."
"Mereka semua akan mendapat hukuman yang setimpal."
----------
Seminggu kemudian.....
Pimpinan langsung membentuk tim khusus untuk menangani kasus ini.
Pimpinan bahkan ikut terjun langsung ke lapangan guna melakukan penyidikan dan olah TKP.
Kasus tragis yang menimpa Cut Sarah tak ayal juga mendapat perhatian dari Kapolda. Yang menginstruksikan kepada seluruh anggota tim khusus agar bertindak cepat dan mengusut tuntas tragedi ini.
Namun kenyataan di lapangan terkadang jauh dari apa yang diharapkan. Karena tiba-tiba saja di tengah proses penyidikan berlangsung, pimpinan berkata dengan sangat lugas,
"Perlu diketahui, bahwa kita tidak gentar menghadapi siapa pun. Kita hanya takut kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi siapapun dia, kalau salah tetap kita tindak!"©© tegas pimpinan.
Bertepatan dengan hasil sementara penyidikan yang mengarah pada keterlibatan anak-anak tokoh berpengaruh dan putra salah seorang pejabat militer.
"Ba ji ngan biadab!" desis Hatta tiap kali mereka menemukan fakta baru dalam perkembangan kasus.
Tentang kemungkinan bagaimana Cut Sarah dicegat oleh sebuah mobil di tengah area persawahan yang sepi.
Tentang kira-kira berapa lama waktu yang dibutuhkan para pelaku untuk menyeret paksa Cut Sarah masuk ke dalam mobil. Hingga mematahkan dan menjatuhkan gelang yang dikenakan oleh Cut Sarah. Bukti kuat yang berhasil mereka temukan di hari ketiga olah TKP.
Juga tentang ke mana para pelaku membawa Cut Sarah. Lalu menggagahinya secara bergiliran.
Hingga menimbulkan luka pada diri Cut Sarah. Yang tak bisa berhenti mengeluarkan darah.
Kemudian para pelaku berusaha menghilangkan jejak dengan membuang tubuh Cut Sarah yang terluka parah ke area persawahan pinggir sungai di jalan utama dari Idi Rayeuk menuju ke Darulaman. Tepatnya di gampong Alue Dalam.
Sampai akhirnya tubuh Cut Sarah yang sudah tak bernyawa lagi berhasil ditemukan oleh warga Alue Dalam yang kebetulan melintas hendak menunaikan sholat Subuh di surau.
"Satu kata," desis Hatta berulang kali dengan mata penuh amarah. "Biadab!"
"Bidadari secantik Cut Sarah harus mengalami hal setragis ini," sesal Syamsul dengan wajah mengeras.
Namun di hari ke 13 penyidikan berlangsung, ia mendapati wajah pimpinan seolah semakin keruh tiap harinya. Membuatnya memutuskan untuk diam-diam menyalin berkas BAP (berita acara pemeriksaan) ke dalam sebuah buku. Termasuk mencatat nama-nama terduga pelaku yang berjumlah sekitar lima orang.
Dan hari ini, tepat di hari ke 15 penyidikan. Tim khusus akhirnya berhasil menetapkan nama-nama para tersangka utama pelaku pemerkosaan yang berujung pada pembunuhan Cut Sarah.
Namun usai jam dinas berakhir, pimpinan tiba-tiba memanggil seluruh anggota tim khusus ke dalam ruangan kepala. Hanya untuk berkata dengan wajah kaku,
"Atas instruksi dari pimpinan, tim ini resmi dibubarkan."
"Kelanjutan kasus Cut Sarah akan ditangani langsung oleh Polda."
Ia hampir menggebrak meja yang ada di ruang pimpinan.
Ia bahkan ingin merobohkan semua lemari dan barang-barang yang ada di sana.
Darahnya mendadak menggelegak akibat amarah yang tak terbendung.
Namun semua tak ada artinya.
Mereka jelas kalah.
Kalah telak.
Dan tak mampu berbuat apapun.
Seluruh anggota tim khusus akhirnya dipindahtugaskan keluar dari Idi Rayeuk.
Termasuk dirinya yang dikembalikan ke Polres Langsa.
Pimpinan bahkan diturunkan pangkatnya sekaligus dipindahtugaskan ke daerah yang lebih terpencil.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidup. Ia menyaksikan seorang pemimpin yang tegas dan memiliki integritas tinggi, menangis akibat amarah.
"Kita masih terlalu kerdil," ujar pimpinan dengan wajah mengeras.
"Masih bisa dibeli oleh manusia lain."
"Lebih memilih kehidupan duniawi daripada menegakkan kebenaran dan keadilan."
***
Keterangan :
**. : adikku sayang, adikku malang
Itangen. : dari asal kata kreta angin alias sepeda
##. : Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung
®®. : sebagian terinspirasi dari kisah tragis Priya Puspita Restanti tahun 2013 (dari berbagai sumber)
©©. : kalimat yang disampaikan oleh Kapolri Jenderal Hoegeng pada kasus Sum Kuning (sumber : merdeka.com)
Ucapan terimakasih tak terhingga untuk Mom Siska 🤗 readers tersayang yang asli Aceh 🤗 Teurimong gaseh Mam sudah menjadi narasumber 🤗 terutama dalam menterjemahkan bahasa Aceh 🤗 BIG HUG 🤗
##jika ada kekeliruan penulisan atau kesalahan dalam menerjemahkan realita sejarah dan lain-lain, feel free untuk PC author ya readers tersayang 🤗 dengan senang hati akan author revisi