
Cakra
Ia sengaja berhenti sejenak di lapak penjual Sostel yang sesiang ini masih mangkal di dekat Halte sekolah. Sedang dikerumuni oleh para siswa yang sepertinya selalu merasa lapar.
"Tiga, Bang. Nggak pakai micin," ujarnya di antara kerumunan para pembeli.
"Siap!" jawab Abang Sostel. "Tapi antri nggak apa-apa? Ini masih lima lagi."
Ia menganggukkan kepala, "Nggak apa-apa." Sembari memesan Taxi melalui aplikasi ponsel. Berharap semua bisa tepat waktu. Pas Sostel matang, pas Taxi pesanannya datang.
Namun lima menit kemudian Taxi pesanannya sudah keburu menghampiri. Sementara Sostel belum matang. Membuatnya mengetuk jendela kaca pengemudi Taxi dan berkata, "Tunggu sebentar, Pak."
Pengemudi Taxi menganggukkan kepala tanda mengerti.
Sembari menunggu Sostel pesanannya matang, ia pun memperhatikan sekeliling Halte yang kini sudah tak terlalu ramai. Hanya terdapat satu dua siswa PB yang tengah menunggu dan dua orang pembeli Sostel. Membuatnya dengan yakin mulai mendial angka 1,
Calling Anja
"Kamu jalan ke Halte, Ja," ujarnya begitu panggilan telepon diterima. "Taxi udah ada."
Bersamaan dengan munculnya Anja di pintu gerbang sekolah, Sostel pesanannya pun matang. Membuatnya menunjuk satu-satunya kendaraan yang terparkir di Halte sekolah, agar Anja bisa langsung menaiki Taxi tanpa harus berbicara dengannya terlebih dahulu.
Suasana Halte memang sepi, namun tetap menuntut tingkat kewaspadaan yang tinggi. Karena mereka masih berada di lingkungan sekolah. Probabilitas terpergok oleh orang-orang yang mengenal mereka pastinya sangat besar. Ia jelas tak mau berjudi dengan hal-hal riskan seperti ini.
Dan begitu Anja masuk ke dalam Taxi, barulah ia menyusul.
"Nih," ujarnya sembari meyerahkan sebungkus Sostel ke arah Anja yang tengah membungkam mulutnya sendiri dengan kedua tangan.
"Kenapa ketawa?" tanyanya heran.
Namun Anja tak menjawab, hanya menggelengkan kepala sembari terus tertawa.
Membuatnya memutuskan untuk menyerahkan sebungkus Sostel lainnya pada pengemudi Taxi, "Silakan, Pak."
"Buat saya?" kali ini gantian pengemudi Taxi yang terheran-heran.
"Iya."
"Wah, terima kasih."
Ia hanya tersenyum sembari melirik Anja yang masih saja tertawa. Entah menertawakan apa.
"Jalan sekarang?" tanya pengemudi Taxi kemudian.
"Iya, Pak."
Begitu Taxi mulai melaju, ia kembali mengalihkan perhatian pada Anja yang masih tersenyum-senyum sendiri.
"Ada yang lucu?"
Anja tersenyum simpul dan menatapnya dengan mata berbinar, "Kita kayak lagi main petak umpet nggak sih? Kucing-kucingan?"
"Gara-gara takut ketahuan anak-anak," tambah Anja sambil terus tersenyum.
Sontak berhasil memancing tawanya, "Kan kamu yang nggak mau kita ketahuan."
"Emang kamu udah siap kalau anak-anak tahu tentang kita?!" gerutu Anja yang dalam sekejap suaranya berubah menjadi kesal. Oh, My Anja.
Ia menggelengkan kepala seraya tersenyum. Memilih mengatakan hal lain, "Makan Sostelnya, keburu dingin."
Membuat Anja mencibir sebal. Namun meski begitu, dilahap juga Sostel yang masih hangat itu. Begitu juga dirinya. Mereka saling berdiam diri, sibuk mengunyah Sostel masing-masing.
Begitu Anja menyelesaikan makannya, ia segera mengangsurkan sebotol air mineral yang tadi ditinggalkan di meja ruang audio visual.
"Punya aku yang tadi ya?" tanya Anja.
"Iya."
Setelah menyesap setengah isinya, Anja mengembalikan botol sembari berkata, "Makasih."
Namun ia tak sempat menjawab, karena langsung meminum sisa air di dalam botol akibat haus yang melanda usai melahap sebuah Sostel.
"Kamu nggak jijik minum pakai bekas orang?" kening Anja mengernyit heran begitu ia menghabiskan seluruh air di dalam botol.
Yang hanya ia balas dengan senyum simpul, "Karena minum dari bekas kamu, terasa lebih enak."
"Idih!" tanpa siapapun bisa menduga, Anja telah melayangkan pukulan lumayan telak ke lengannya.
"Aduh," membuatnya mengaduh akibat pukulan mengejutkan Anja.
"Itu beresiko tahu nggak sih?!" Anja mencibir sebal.
"Ada banyak jenis kuman, virus, dan bakteri yang jadi penyebab penyakit menular itu hidup di ludah (saliva)."
"Kalau kamu pakai alat makan gantian sama orang lain, kamu berisiko terjangkit banyak virus yang nempel di alat makan itu."
"Termasuk bibir botol bekas aku tadi!"
Tapi ia justru meraih tangan Anja lalu menggenggamnya erat dan meletakkan di dada, "Baik Neng Anja yang hobinya nasehatin orang, tapi sendirinya nggak pernah mau dinasehatin."
"Cakra ih!" Anja menyentakkan tangan yang tengah di genggamnya dengan marah. "Aku tuh serius tahu nggak?!?"
"Iya, tahu...tahu...," ia terkekeh sambil tetap menggenggam tangan Anja meski si empunya terus memberontak berusaha untuk melepaskan diri.
Namun sejurus kemudian Anja tak lagi memberontak. Mungkin karena sudah lelah. Dan membiarkannya terus menggenggam tangan mungil itu tanpa protes sedikit pun.
Mereka kemudian hanya saling berdiam diri. Masing-masing sibuk mengawasi padatnya arus lalu lintas di siang yang cukup terik ini dari dalam Taxi. Anja bahkan beberapa kali menguap bosan dan mulai terlihat mengantuk. Yang memancing refleksnya untuk berinisiatif meraih bahu Anja agar bisa bersandar di lengannya.
***
Sore hari jelang petang, ketika ia sedang mencuci tangan di samping rumah setelah membantu Mang Jaja memanen Alpukat Mentega edisi terakhir yang pohonnya terletak di belakang rumah, telinganya sayup-sayup mendengar suara dentingan musik piano dari dalam rumah.
"Den," panggil Mang Jaja. "Ini saya pisahkan buat di rumah Aden," sambil menunjuk sebuah kardus bekas Mie instan yang telah diikat dengan tali rafia.
"Oh, nggak usah, Mang," tolaknya halus. "Buat di sini aja."
"Disini nggak bakalan kemakan, Den," seloroh Mang Jaja. "Tiap panen mah sama Bapak seringnya dibagiin. Yang buat di rumah secukupnya."
"Itu juga ada bagian buat semua Satpam sama Pak Cipto," tutur Mang Jaja sembari menunjuk deretan kantong kresek warna putih lainnya yang berderet di samping kardus bekas Mie Instant.
"Ya deh, makasih, Mang," ia tersenyum mengangguk. Teringat Sasa yang sangat menyukai juice Alpukat. Mungkin besok ia bisa mengantarkannya ke rumah.
"Sama Sirsak mau, Den?" tawar Mang Jaja lagi ketika ia tengah mengeringkan tangan dengan handuk kecil yang tersedia.
"Ada beberapa yang udah matang pohon," lanjut Mang Jaja sambil menunjuk ke arah halaman belakang. "Nanti Mamang ambilkan."
"Sekalian buat diantar ke rumah Pak Hartadi," imbuh Mang Jaja. "Beliau paling suka Sirsak hasil panen dari rumah ini."
"Oh, iya," ia kembali menganggukkan kepala. "Makasih, Mang."
"Perlu bantuan nggak, Mang?" tanyanya sungguh-sungguh.
"Nggak usah, Den," tolak Mang Jaja. "Biar sama saya saja."
Ia pun mengangguk dan memilih untuk memasuki rumah melalui halaman samping. Yang langsung tembus ke ruang tengah, dimana ia menangkap bayangan sosok Anja tengah duduk memainkan piano. Dimana kerangkanya terbuat dari bahan kayu yang kokoh, berwarna cokelat dan terdapat ukiran bertuliskan Steinwey & Sons di dalamnya.
Ia sengaja tak bersuara. Hanya berdiri mencangkung memperhatikan punggung cantik dengan rambut tergerai yang tengah asyik memainkan jari jemari di atas tuts piano. Menghasilkan alunan nada suara yang terdengar begitu menyenangkan di telinga.
Tapi rupanya Anja mengetahui keberadaannya. Terbukti dengan suara tawa Anja yang memintanya untuk mendekat.
"Bisanya stalking dari belakang. Sini kalau berani."
Membuatnya tertawa dan memutuskan untuk berjalan mendekat.
"Kamu jago main piano," ucapnya sungguh-sungguh. Tarian jemari Anja di atas tuts piano benar-benar melenakan.
"Coba tebak," namun Anja tak menanggapi pujiannya. "Lagu apa ini?"
Anja kembali memainkan jari dengan lincah di atas piano.
"Bel tanda masuk sekolah?" tebaknya antusias.
"Ih!" tapi Anja justru melotot marah. "Ini Fur Elise nya Beethoven!"
"Nama populer untuk Bagatelle in A Minor," lanjut Anja sambil terus bersungut-sungut. "Mendiang Beethoven bisa nangis darah kalau dengar tebakan kamu barusan!"
"Lho, nggak salah kan?" ia tentu mengelak. "Ini memang bunyi bel masuk sekolah."
"Ih!" Anja kembali melotot sebal. "Kalau ini apa?"
Kini Anja mulai memainkan alunan nada yang berbeda. Terdengar mendayu dan sangat romantic. Membuatnya teringat pada lagu-lagu barat jaman dulu. Tapi tentu saja ia tak tahu judulnya.
"Time, I've been passing time watching trains go by, all of my life," Anja memberi clue dengan menyanyikan sebait lirik. Sungguh, suara Anja terdengar begitu merdu.
"Apa coba judulnya?!"
Namun ia masih saja terbengong-bengong menatap Anja saking terpesonanya.
"Wishing there would be someone waiting home for me...."
"Pass," ia menggelengkan kepala tanda menyerah namun sambil terus menatap Anja penuh kekaguman.
"Something's telling me it might be you...."
"It's telling me it might be you..."
"All of my life...."
"All of my life!" tebaknya dengan mata tak berkedip menatap Anja.
Tapi diluar dugaan, Anja justru memukul tangannya yang bersandar di sisi piano.
"Ngaco tuh kira-kira!" salak Anja marah.
"Lho, kan disuruh nebak?" ia balik bertanya tak mengerti.
"Biasanya judul lagu kan ada di lirik terakhir dan ngena banget?" ia memberi alasan yang pastinya membuat Anja makin jengkel.
"Dasar nggak punya selera musik!" gerutu Anja. "Masa lagu gini doang nggak ngerti sih?!"
"Ini tuh terkenal banget tahu! Emang di Retrouvailles nggak pernah ada live acoustic lagu western? Bohong banget deh!?!" sungut Anja sambil meliriknya sebal.
"Sampai It Might be You nya Stephen Bishop aja nggak ngerti! Ini tuh lagu wajib untuk suasana romantis tahu!"
Membuatnya tertawa, "Ya...aku kan anak kampung," ujarnya kembali memberi alasan tak masuk akal. "Mana ngerti musik beginian."
"Di Retrouvailles juga karena kerja," lanjutnya membela diri. "Bukan pengunjung yang bisa menikmati live acoustic."
Namun Anja hanya mencibir dan kembali memainkan jari di atas tuts piano, "Kalau yang ini....semua anak kampung pasti tahu!"
Kali ini alunan nada yang dihasilkan jemari Anja terdengar cukup menghentak.
Ia yang awalnya tergelak mendengar sindiran Anja, selintas kemudian berteriak senang menyanyikan sebuah lirik yang sesuai dengan alunan nada, "Detak jantungku seakan ikut irama. Karena terlena oleh pesona alunan kopi dangdut!"
"Giliran dangdut aja hapal!" sungut Anja sembari menggelengkan kepala.
"Kan udah dibilang kalau aku anak kampung," selorohnya penuh kemenangan. "Jadi, satu...satu nih?"
Tapi lagi-lagi Anja tak menjawab, kembali memainkan alunan nada lain yang terdengar begitu familiar diputar di banyak keramaian yang sering dikunjungi orang kebanyakan seperti dirinya.
"Begadang jangan begadang!" tebaknya setengah berteriak saking excited nya.
"Kalau tiada artinya," lanjutnya cepat mengikuti alunan denting piano yang dimainkan oleh Anja.
"Begadang boleh saja...Kalau ada perlunya...," pungkasnya sembari tertawa penuh kemenangan. "Dua....satu!"
"Jangan senang dulu!" gerutu Anja yang kembali memainkan nada lain. Kali ini yang terdengar jelas lagu tempo dulu.
"Jangan susah susah dong," protesnya tak setuju. "Pilih lagu yang merakyat."
Tapi Anja tak peduli, terus saja menarikan jemari di atas tuts piano sembari kepalanya bergerak ke kanan dan kiri mengikuti irama.
"Dengarin baik-baik!" sungut Anja. "Ini lagu familiar kok!"
Sejurus kemudian ia berteriak senang, "Hello, is it me you're looking for?"
"I can see it in your eyes...," sambung Anja sembari tersenyum senang.
"I can see it in your smile....," gumam Anja lagi kali ini seraya mengerling ke arahnya.
"You're all I've ever wanted, (and) my arms are open wide....," tambahnya melanjutkan lirik lagu yang baru saja diucapkan Anja.
Hatinya bahkan mendadak berdebar bukan kepalang demi menunggu lirik selanjutnya yang sangat mewakili perasaan.
'Cause you know just what to say
And you know just what to do
And I want to tell you so much, I love you ... '
(Lionel Richie, Hello)
Namun Anja keburu menghentikan tarian jarinya di atas tuts piano.
"Kok berhenti?!" tanyanya heran. "Kan belum selesai?"
"Dua...dua...," jawab Anja sambil mengacungkan dua jari dengan wajah sumringah. Membuat kecantikannya kian terpancar.
"Lanjutin yang barusan dong," pintanya sungguh-sungguh.
Namun Anja menggelengkan kepala, "Skip skip next."
Sontak membuatnya mencibir, "Lagunya belum selesai lho."
"Kita ke lagu berikut!" sahut Anja cepat. "Pastiin kamu tahu! Kalau nggak didenda!"
Membuatnya menggelengkan kepala dan terbahak, "Aku ambil ponsel dulu deh. Biar bisa ikut nyanyi. Kamu pasti mau mainin lagu western kan?"
"Pakai ponselku aja!" potong Anja cepat. "Keburu waktu habis!"
"Tuh ambil di meja!" dagu Anja mengarah ke atas meja sofa ruang tengah, dimana tergeletak ponsel canggih berwarna putih yang iklannya baru beredar di banyak media belum lama ini.
"Oke," ia menurut dan mengambil ponsel Anja di atas meja.
"Ada passwordnya nggak nih?" tanyanya ingin tahu. "Atau pakai face id?"
"051017," jawab Anja cepat.
Membuatnya mengernyit heran, "Kode apaan nih?" Jelas bukan tanggal lahir Anja, apalagi hari pernikahan mereka.
"Nggak usah bawel!" salak Anja cepat. Membuatnya terbahak.
Kini Anja mulai memainkan jemari lentiknya di atas piano. Memperdengarkan alunan nada yang cukup familiar.
"Aku cari liriknya dulu," ujarnya cepat.
"Judulnya dulu tahu nggak?" Anja balik bertanya.
"If I had to live my life without you near me....," gumamnya mengikuti alunan denting piano yang dimainkan oleh Anja. "Yang itu kan?"
"Nothing's gonna change my love for you," jawab Anja cepat.
Membuatnya dengan cepat berselancar di mesin pencari, and gotcha!
"Hold me now, touch me now....," ia pun mulai membaca lirik yang terpampang di dalam layar ponsel.
"I don't want to live without you..."
"Nothing's gonna change my love for you..."
"You oughta know by now how much I love you...," lanjutnya sambil melirik ke arah Anja yang tetap konsentrasi dengan pianonya. Sama sekali tak melihat ke arahnya.
Look at me, Ja, batinnya sambil terus membaca lirik dengan sepenuh hati.
***
Dipa
Meski Anja sudah menikah secara resmi dengan Cakra, namun sesungguhnya ia sangat berharap masih memiliki kesempatan. Apalagi ia tahu pasti jika Mas Tama dan Mas Sada sama sekali tak menyukai Cakra. Ini tentu menjadi keuntungan baginya. Untuk tetap memiliki asa bisa bersama Anja di suatu waktu kelak, meski entah kapan.
Tapi kenyataan pahit yang harus diterima tadi siang jika keberadaannya secara telak tereleminasi karena Anja lebih memilih untuk pulang sekolah bersama Cakra, membuat sudut hati terasa nyeri. This is no good. Bahasa tubuh Anja dan Cakra bahkan sama-sama menyiratkan kedekatan.
Tapi ia tak boleh patah semangat bukan? Karena sesuatu yang diraih dengan perjuangan akan terasa lebih berharga. Maka, ketika Bunda meminta Bi Nah untuk mengirim seloyang Pie Apple yang baru keluar dari oven ke rumah Anja. Maka dengan sukarela ia pun menawarkan diri untuk mengantarkannya.
"Aku aja, Bun. Sekalian nanya soal intensifikasi ke Anja," ujarnya memberi alasan palsu.
"Kamu yakin?" Bunda menatapnya dengan penuh kekhawatiran. Bunda tahu pasti kekecewaannya ketika Anja menikah dengan Cakra. Bunda always knows.
Ia mengangguk sembari meraih Pie Apple yang masih mengepulkan asap. Meruarkan aroma keharuman yang begitu lezat menggoda.
"Anja ada Pak?" tanyanya pada Pak Karman yang kebagian berjaga sore ini.
"Ada di dalam, Den," jawab Pak Kaan sambil membukakan pintu gerbang untuknya. "Silakan masuk."
Sembari tersenyum-senyum sendiri ia berjalan menyusuri halaman depan rumah Anja yang asri dan ditumbuhi banyak pohon serta tanaman bunga.
Jika perkiraannya benar, Cakra sedang tak di rumah saat ini. Maka ia bisa dengan leluasa bercakap-cakap dengan Anja.
Begitu sampai di teras, telinganya langsung menangkap alunan denting piano yang berasal dari dalam rumah. Tengah memainkan Hello nya Lionel Ritchie. Sontak membuat senyuman kian terkembang.
Pasti Anja yang sedang bermain piano, batinnya gembira. Kesempatan bagus baginya untuk kembali bermain piano bersama Anja. Hal yang sudah sangat lama tak dilakukannya.
Dan untuk menyempurnakan kejutan, ia pun memutuskan untuk berbelok ke halaman samping. Berniat memasuki rumah Anja melalui pintu samping yang berada tepat di ruang tengah, dimana piano kesayangan Anja berada.
Kini ia melangkahkan kaki panjang-panjang melewati halaman samping rumah Anja. Sembari kepalanya dipenuhi oleh rencana tentang lagu apa yang akan mereka mainkan berdua. Ketika matanya justru menangkap pemandangan yang paling tidak diinginkan.
Dari tempatnya berdiri saat ini, terlihat jelas suasana ruang tengah rumah Anja yang memang dikelilingi oleh kaca. Dimana Anja tengah memainkan piano dengan Cakra bersandar di salah satu sisi piano sembari memegang ponsel. Mereka berdua terlihat bercakap-cakap dengan begitu akrab. Memancing kembali rasa nyeri di sudut hati.
Sekarang Anja mulai memainkan nada yang begitu dikenal. Membuat rasa nyeri semakin bertalu-talu memenuhi keseluruhan dirinya.
"Hold me now, touch me now...."
"I don't want to live without you...."
Telinganya bisa mendengar dengan jelas bagaimana Anja dan Cakra bernyanyi bersama sembari sesekali saling melempar tatapan penuh arti.
"Nothing's gonna change my love for you
You oughta know by now how much I love you
One thing you can be sure of
I'll never ask for more than your love...."
(George Benson, Nothing's gonna change my love for you)
Pemandangan paling menyakitkan yang pernah dilihatnya. Membuat tubuhnya sedikit demi sedikit mulai terhisap oleh bebatuan yang menghiasi halaman samping rumah Anja.
Kini bahkan Anja dan Cakra terlihat saling melempar tawa bahagia. Dengan tangan Cakra yang terulur mengusap pipi Anja. Semakin menenggelamkan keseluruhan dirinya ke dalam lapisan inti bumi.
Namun meski semua terasa sangat menyakitkan, hatinya masih berbisik, nothing's gonna change my love for you, Anja. I promise.